Pengantar:
Ketika menyimak diskusi pada blog ini, terungkap bahwa ada oknum-okum HT yang menggunakan kekerasan / teror kepada orang-orang yang “menyerang” sepak terjang HT selama ini, utamanya kepada mereka yang pernah berada dalam lingkatan HT.
Beberapa aktivis HTI (syabab/daris) membantah hal tersebut, dan mengatakan bahwa HT/I mengharamkan kekerasan dalam dakwahnya!
Tapi sekali lagi itu hanya bantahan saja!
Fakta dilapangan berkata lain!
Kalau anda pernah menyimak diskusi di blognya O Solihin – seorang syabab HTI yang didepak oleh pengurus HTI karena dikenal kritis terhadap pola kepengurusan dan kepemimpinan HTI saat ini – akan mendapati bahwa dia juga mendapatkan ancaman dan teror, bahkan sampai orang-orang yang bermuamalah dengannya mendapatkan teror juga.
Untuk itu O Solihin dalam blognya sampai menurunkan artikel khusus yang menyatakan bahwa teman-temannya tidak ada sangkut pautnya dengan “pertikaiannya vs pengurus HTI”
(mohon maaf tidak kami link tulisanya, tetapi bisa anda cari sendiri di blognya di atas)
Hal ini tentu sangat ironi, di satu sisi HT/I mengklaim tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam dakwahnya tetapi sekali lagi fakta di lapangan berkata lain.
Memang bisa saja berdalih “itu khan hanya oknum! Bukan HT/I secara organisasi” karena HT/I tetap mengharamkan dakwah dengan kekerasan.
Tentu analogi itu jadi rancu manakalah HT/I tidak melakukan apa-apa terhadap oknum-oknum tadi, bahkan terkesan membiarkan saja.
Hal ini sama dengan ketika banyak yang mengkritik HT/I yang menghalalkan melihat gambar-gambar porno tetapi selalu dijawab “ itu bukan pendapat resmi yang ditabbani (adopsi) oleh HT/I, itu pendapat individu dari anggota HT/I “
Bahkan salah satu syabab HTI yang memfatwakan bolehnya melihat gambar porno pernah berkomentar di blog ini dan mengatakan hal tersebut di blognya.
Nah, ternyata tindakan kekerasan yang dilakukan oknum HT tidak bersifat lokal di Indonesia saja, baru-baru ini di Pakistan, diberitakan seorang anggota HT Inggris menyerang Majid Nawaz , seorang mantan anggota senior HT Inggris yang keluar dan berkampanye tentang toleransi beragama.
Pelajaran yang kita ambil adalah, bahwa seruan HT/I yang selama ini bersifat kekerasan verbal (melalui tulisan) dan bersifat agitasi terhadap pendapat yang dilawannya, lambat laun nampak menuju ke arah kekerasan.
Apakah ini sebuah kebetulan atau hanya sekedar ekses?
Silahkan pembaca nilai sendiri!
wallahu’lam bishhsowab
Catatan:
Dengan menerjemahkan artikel di bawah ini BUKAN BERATI saya setuju dengan apa yang disampaikan Quilliam Foundation, tetapi hal yang menjadi fokus dari bahasan ini adalah KEKERASAN FISIK ITU MEMANG DILAKUKAN oleh anggota HT!
Link asli dari artikel itu ada disini.
Press Release: Direktur Quilliam, Maajid Nawaz diserang di Pakistan!
Pada tanggal 14 Mei 2009, Quilliam mengeluarkan press release sebagai berikut:
Tadi malam, Maajid Nawaz, diretur dari yayasan Quilliam, diserang secara fisik oleh anggota Hizbut Tahrir (HT), sebuah kelompok islam global, di Lahore Pakistan. Maajid adalah mantan anggota senior HT, yang saat itu berkeliling di kampus-kampus universitas di Pakistan untuk memberikan ceramah mengenai toleransi beragama dan kemajemukan politik.
Maajid saat itu ada di sebuah restoran di Lahore dengan teman-temannya ketika dia diserang oleh seseorang yang diidentifikasikan sebagai Tayyab Muqeem, seorang muslim Inggris yang dikirim ke Pakistan oleh HT cabang Inggris untuk mencari kader orang-orang Pakistan menjadi anggota HT.
Muqeem, seorang mantan petinju dari Stroke, menunggu Majiid meninggalkan teman-temannya di restoran kemudian memukulnya tepat di wajahnya ketika Maajid menjawab salam seorang muslim “Assalamualikum” atau “kedamaian bagi mu” kepada teman-temannya. Pukulan yang keras menyebabkan Maajid tersungkur di atas tanah.
Saksi mata mengatakan Maajid segera berdiri dan mengucapkan “salam” atau “perdamaian” pada penyerangnya. Muqeem kemudian merengsek ke depan dan meneruskan serangannya pada Maajid tetapi staf restoran dan yang lainnya mencegahnya. Pada saat dipaksa keluar Muqeem mengancam Maajid dengan perkataan, “Ini hanya sebuah pukulan kecil dibandingkan dengan apa yang akan saya lakukan terhadap kamu”
Ed Hussain, wakil direktur Quilliam mengatakan:
“Maajid seorang pemberani, seorang Muslim sejati yang tidak gentar dengan intimidasi kekerasan oleh aktivis Islam – serangan yang baru saja terjadi adalah menggambarkan kekuatan dan akibat dari kerjanya. Amir Hizbut Tahrir, Ata Abu Ristha, telah melarang anggotanya untuk berbicara/berhubungan kepada Maajid Nawas dan teman-temannya. Nampaknya beberapa anggota HT telah mengambil keputusan untuk melakukan penyerangan secara fisik.
“Sekali lagi, kami mengajak Abu Ristha dan anggota partainya untuk melakukan debat terbuka dan menyerukan mereka menghentikan kekerasan. Faham islam adalah ideologi yang bangkrut, dan mengadposi kekerasan dalam islam adalah bukti kegagalan mereka untuk memenangkan pertarungan pemikiran (ide). Sebagai ganti atas pemahaman islam (yang mereka anut), kami menantang para aktivis Islam untuk berargumen secara pemikiran (ide-ide) daripada menggunakan jalan kekerasan. Kami sangat percaya bahwa agama Islam mewariskan pluralisme yang nanti akan membuktikan hal itu akan mengalahkan faham-faham islam.”
Penjelasan Rinci:
Penyerang: Penyerang, Tayyeb Muqeem, adalah mantan petinju dan pekerja muda dari Stroke, yang saat ini mengajar dan menjalankan sebuah agensi di Pakistan yang mengirim mahasiswa Pakistan untuk belajar di universitas-universitas di Inggris. Seperti anggota HT yang lain, Muqeem dikirim dari Inggris ke Pakistan untuk menyebarkan pesan-pesan kebencian dari HT, sparatisme religius dan ekspansi negara islam serta melakukan perekrutan terhadap orang-orang pakistan ke dalam HT. Sebuah Video tentang aktivitas dari Muqeem bis dilihat di Youtube.com berikut:
Hizb ut-Tahrir di Pakistan: HT di Pakistan dibentuk oleh anggota HT Inggris dengan perintah dari Amir HT ketika Pakistan menjadi adidaya nuklir pada tahun 1998. Kegiatan HT di Pakistan dibiayai oleh aktivisinya di Inggris.
Quilliam in Pakistan: adalah sebuah tim dari staff Quilliam, yang dipimpin Maajid Nawaz, yang telah menyelenggarakan kegiatan di hampir 30 univeritas di seluruh penjuru Pakistan selama bulan terakhir. Kegiatan itu, dihadiri ribuan orang mahasiswa Pakistan(penjelasan secara rinci akan dipublikasikan setelah kegiatan-kegiatan di universitas tersebut selesai)
Catatan untuk editor:
1. Kegiatan-kegiatan Quilliam di Pakistan adalah bagian dari rangkaian kegiatan global kami di negara-negara kunci untuk mengurangi arus pemikiran ekstrim antara Pakistan dan Inggris, dan menyampaikan toleransi beragama dan pluralitas politik.
2. Ke depan, Quilliam akan menerbitkan materi-materi yang disampaikan di Pakistan dan ancaman dari ekstrimisme, yang berhubungan dengan Inggris.
[Selesai Terjemahan]
Naskah Asli dari sini
Press Release: Quilliam Director Maajid Nawaz attacked in Pakistan
On 14th May 2009, Quilliam issued the following press release:
Last night Maajid Nawaz, the Director of the Quilliam Foundation, was physically attacked by a British member of Hizb ut-Tahrir (HT), a global Islamist organisation, in Lahore in Pakistan. Maajid, a former senior member of HT, is presently touring university campuses in Pakistan to promote religious tolerance and political pluralism.
Maajid was in a restaurant in Lahore with friends when he was attacked by a man subsequently identified as Tayyab Muqeem, a British Muslim who was sent to Pakistan by the British branch of HT in order to recruit Pakistanis into HT.
Muqeem, a former boxer from Stoke, waited for Maajid to stand up to leave the restaurant and then punched him in the face while Maajid was exchanging the Muslim greeting of ‘salaam alaikum’ or ‘peace be with you’ with his friends. The severe blow knocked Maajid to the ground.
Eyewitnesses say Maajid promptly stood up and offered ‘salam’ or ‘peace’ to his attacker. Muqeem then lunged forward to continue his attack on Maajid but restaurant staff and others physically stopped him. As he was forcibly removed, Muqeem threatened Maajid, saying ‘this is only a slap compared with what I am going to do to you’.
Ed Husain, co-director of Quilliam said:
“Maajid is a brave, sincere Muslim who will not be cowed by Islamist violence – this latest attack on Maajid only illustrates the power and impact of his work. Hizb ut-Tahrir’s global leader, Ata Abu Rishta, has forbidden his members from speaking to Maajid Nawaz and others. It appears that some HT members have now taken the decision to carry out physical attacks.
“Again, we challenge Abu Rishta and his party’s members to an open debate and call on them to abandon violence. Islamism is a bankrupt ideology, and Islamists’ adoption of violence is proof of their failure to win the battle of ideas. As defectors from Islamism, we challenge Islamists to meet ideas with ideas rather than with violence. We are confident that Islam’s inherent pluralism will, inevitably, triumph over Islamism.”
Further details:
The attacker: The attacker, Tayyab Muqeem, a former boxer and youth worker from Stoke, currently teaches and runs an agency in Pakistan that sends Pakistani students to study in British universities. Like many other HT members, Muqeem was sent from the UK to Pakistan to spread Hizb ut-Tahrir’s messages of hate, religious separatism and an expansionist Islamist state and to recruit Pakistanis into the group. A Youtube video of Muqeem is available here.
Hizb ut-Tahrir in Pakistan: Hizb ut-Tahrir in Pakistan was set up by British HT members under instruction from the global leader of Hizb ut-Tahrir when Pakistan became a nuclear power in 1998. Many of HT’s operations in Pakistan are funded by their activists in the UK.
Quilliam in Pakistan: A team of Quilliam staff, led by Maajid Nawaz, has been holding events in nearly 30 universities across Pakistan during the last month. Thus far, the events have been attended by thousands of Pakistani students (further details will be made publicly available upon the conclusion of the university tour).
Notes to editors
1. Quilliam’s events in Pakistan are part of our Global Affairs Unit’s series of events in key countries to disrupt the extremist thought traffic between Britain and Pakistan, and promote religious tolerance and political pluralism.
2. At a later date, Quilliam will publish material on Pakistan and the threat of extremism, linked to Britain.
53 tanggapan so far ↓
dudu satriaji // 1 Juni 2009 pada 08:02 |
kalau dari diskusi memang kadang agak kasar, walaupun tidak semuanya.
Hamba Allah // 1 Juni 2009 pada 20:58 |
Mudah-mudahan Allah membersihkan &meluruskan saya dan kaum muslimin kalau jika ada yang keliru, dan menetapkan saya dan kaum muslimin dijalan yang benar yg sudah saya dan kaum muslimin yakini dan lalui sampai maut menjemput.baik itu dia HT, mantan HT, non HT, dan yg berasal dari harakah2 lain di bumi Allah ini. Amin. Dan kita terhindar dari berpecah belah serta di adu domba sesama muslim.
lets back to alquran n sunnah…
Andreas // 3 Juni 2009 pada 10:53 |
Nampak sekali pembuat KOMA-HT adalah antek kaum kafir dan penjajah, kenapa bukan kesaksian anda yang mengatakan bahwa Syabab HT melakukan kekerasan, cerita terlalu mudah di wacanakan sayang sekali anda menyebarkan fitnah. Belum ada sejarahnya HT melakukan kekerasan, justru para polisi dan kaum kafir dan antek-anteknyalah yang sering melakukan
kekerasan.
Selamat berdakwah saudaraku di HT.
pengelolakomaht // 3 Juni 2009 pada 14:39 |
Saudaraku yang diberkahi Alloh,
Sungguh alangkah mudahnya lisan anda menuduh saudaranya sesama muslim sebagai antek kafir, terlepas dari berita diatas yang anda tolak keabsahannya, pasti ada penjelasan yang masuk akal kenapa O Sholihin sendiri juga mengatakan adanya teror dan kenapa hal itu saya alami sendiri.
Saya juga mantan aktifis HT dan saya tahu bahwa secara umum kebijakan organisasi HT melarang adanya kekerasan, tapi hal ini pun adalah klaim umum semua organisasi, namun dibalik itu apakah benar benar lajnah qiyadah tidak memiliki tim khusus dan anggota anggota fanatik tertentu yang dirahasiakan aktifitasnya yang dibuat untuk menangani musuh musuh organisasi yang sangat membahayakan organisasi.
Meskipun teror yang saya alami sifatnya hanya ancaman dan itupun oleh pihak yang mengaku bukan dari HT namun karena saatnya bertepatan dengan aktifitas saya dalam meluruskan kesalahan HT dan memperingatkan kaum muslimin dari kekeliruan HT maka tidak ada jaminan itu bukan teror yang dirancang HT.
Wallahul musta’an.
zul // 4 Juni 2009 pada 23:35 |
he..he..HTIer’s yg kehilangan kesadaran,fanatik buta dan menjadikan HT sebagai akidah,siapa yg goblok siapa yg ngga ilmiyah kita sudah bisa ambil kesimpulan
boy // 5 Juni 2009 pada 04:25 |
wajar lah di ht khan gak ada pelajaran adab, yg ada yg penting khilafah dan kekuasaan…gak percaya cari aj di bukunya syeikh nabhani…ada ga pentingnya belajar adab?
Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 14:34 |
Ini org yang tahu kulitnya dan nggak tahu isinya, sudah cuap2
Abdul manaf // 24 Juni 2009 pada 03:22 |
Bismillah..
Kpd saudara2 muslim yg sedang/pernah mengalami teror atau gangguan dr firqah2/sekte atau hizb atau manusia zhalim, hendaklah bersabar &slalu bertaqwa mengharapkan pertolongan dari Allah, bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dgn fisik&terkadang dgn fitnah,tuduhan dusta,isu negatif dsb.
Memang didlm mendakwahkan al-haq pasti akan ada slalu para penentangnya hal itu pun dialami oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersama para shahabatnya radhialahu anhum&jg oleh para ulama setelahnya
Abdul manaf // 24 Juni 2009 pada 03:38 |
Sebagai contoh bentuk2permusahan firqah2 / hizb yg menyimpang thdp para penyeru al-haq adalah pembunuhan
thd syaikh Ikhsan Ilahi Dzahir rahimahullah ketika membuka kedok firqah yg meyimpang.
Dan jg pembunuhan thdp ulama ahlussunah Syaikh Mujahid Jamilurrahman rahimahullah di Afghanistan oleh aktivis firqah Ikhwanul Muslimin brnama Abu Abdilah Ar-Rumi
Demikian sebagian kecil contoh permusuhan hizb thdp para penyeru al-haq.
bobby jogja // 25 Juni 2009 pada 08:37 |
bagaimana dengan FKAWJ yang riil mengangkat senjata di Ambon? apa itu hanya kekerasan, intimidasi pendapat? sudah fisik kang. pertanyaanya semua salafi setuju nggak dengan tindakan FKAWJ tsb? beda2 kok. berarti salafy tidak bisa disebut anti kekerasan ataupun menyetujui kekerasan, wong diantara mereka berbeda2 sendiri
zul // 25 Juni 2009 pada 18:58 |
tuk BOBBY:
perlu diperjelas lagi bahwa salafy itu adalah suatu gerakan yg ingin meneladani kehidupan generasi pertama umat islam dalam menjalankan agamanya,jadi bukan sebuah jamaah yg anda maksud apalagi memiliki organisasi/tanzim sehingga salah alamat ketika ada fenomena beberapa organisasi anda alamatkan kepada gerakan salafy sedangkan salafy sendiri andi tahazub (berpartai/organisasi) karena adalah implementasi dari berpecahnya hati umat yg tidak bersatu,ada pun KOMA HT ini sepanjang yg saya amati adalah aktifis yg beraliran Zhahiry atau aliran tekstual yg memahami islam,dan orang salafy sesungguhnya sangat malu menyebut diri mereka salafy karena merasa belum mampu menyamai kehidupan generasi awal islam
pengelolakomaht // 25 Juni 2009 pada 14:21 |
Wah baru tahu nih info seperti ini, gimana saudara saudara di salafy bisa kasih koment or klarifikasi ? Sebenarnya saya penasaran dengan dongengan saudara bobby ini, tapi tentunya akan lebih baik jika hal ini dibahas di blog blog para aktifis salafy saja, tidak di blog ini, syukron.
budi // 27 Juni 2009 pada 12:58 |
ya baru tau juga, coba tanyakan, sbg info ke lik salafi,mungkin ada jawaban
http://abusalma.wordpress.com/links/
sunardin palu // 1 Juli 2009 pada 14:02 |
di zaman Nabi hanya ada dua kelompok,organisasi,partai, pergerakan,dan atau sebutan apa yang cocok dengan zaman ini ,yaitu Muhajirin-dari mekkah dan Ansar-di madinah,…..Allah telah meridhoi mereka yaitu orang-orang muhajirin , ansor,dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ikhsan…posisi kita hari ini tinggal bagaimana mencontoh kehidupan mereka sejak dari tidur hingga tidur lagi,hari ini banyak orang hanya mau mencontoh sholat Nabi, tapi mencontoh cara dakwa Nabi di zaman ini di anggap tidak lagi pas udah ketinggalan,…yaitu dengan mengirim rombongan dakwa ke berbagai negri,naik dari satu rumah kerumah lain,dan mengeratkan silaturahmi/mempersaudarakannya tanpa harus merasa diri lebih baik dari yang lainnya …. seperti yang telah di lakukan Nabi dan sahabat ra…..setiba di madinah al munawarah tempat lahirnya khilafah pertama …
salafy // 2 Juli 2009 pada 20:44 |
INI BLOG SAMPAH.. TEMAN2 NDAK USAH SERIUS MENAGGAPI..
pengelolakomaht // 3 Juli 2009 pada 00:03 |
Saudaraku yang baik,
Da’wah Islam ada yang dengan cara mendatangi ada yang menetap dan ada yang didatangi, dan itu semua ada contohnya dari para pendahulu Islam yang sholih.
Tapi itu semua teknis da’wah didunia nyata, lantas bagaimana dengan da’wah didunia maya ?
InsyaAlloh dengan membuat blog blog da’wah seperti ini, wallahu ta’ala a’lam
SALAFY // 4 Juli 2009 pada 05:20 |
Ana kira jawaban dari orang yang paling berkompeten ngomong atas nama HT sudah cukup menunjukkan siapa orang dibalik BLOG ini..!! YAITU ANTEK-ANTEK LIBERALIS yang tidak ingin ISLAM TEGAK, SIMAK TULISAN ERIKUT:
Catatan Untuk Buku “The Islamist”: Ed Husain, Pengembara Yang Sia-sia
Buku The Islamist, yang edisi bahasa Indonesianya diberi judul Matinya Semangat Jihad – Catatan Perjalanan Seorang Islamis (Alvabet, 2008), ditulis oleh Ed Husain. Dalam buku ini, Ed Husain menggambarkan dirinya sebagai aktivis gerakan Islam, termasuk Hizbut Tahrir Britain (HTB) di London Inggris. Tapi setelah mengalami berbagai fase peristiwa, akhirnya ia memutuskan meninggalkan semua aktivitas itu dan memilih jalan spiritual sufi. Fase-fase peristiwa, khususnya semasa kurun 2 tahun ia bersama HTB, itulah yang menjadi isi utama dari buku ini. Jadi, buku The Islamist boleh juga disebut sebagai biografi spiritual atau cerita perjalanan spiritual dari seorang anak muda keturunan imigran muslim Pakistan yang hidup di negeri Barat. Tapi lebih dari sekedar cerita perjalanan spiritual, buku ini sesungguhnya juga sarat kritik intelektual terhadap berbagai gerakan, khususnya terhadap HTB – sesuatu yang kemudian menjadi alasan Ed Husain meninggalkan semua gerakan-gerakan itu. Sebagai sebuah kritik, tentu buku ini sangat dipengaruhi oleh subyektifitas penulis, termasuk tingginya kadar emosi dari seorang anak muda dan rendahnya pengetahuan ke Islaman penulis yang memang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang memadai mengingat ia bukanlah berlatar pendidikan tsaqafah Islam.
Pada awalnya Ed Husain adalah pemuda yang penuh semangat. Pada usianya yang masih 16 tahun sudah terlibat dalam kegiatan dakwah, menjadi anggota gerakan yang ia sebut “Islam fundamentalis’, atau “Islamist” pengikut gerakan ‘ekstrimis’ dan ‘Islam politik’ seperti al-ikhwan al-Muslimun, Hizb ut-Tahrir, dan Jamat-e-Islami. Ed juga menyebut Young Muslim Organisation UK (YMO), Islamic Forum Europe (IFE), Dawatul Islam, Islamic Society of Britain (ISB), Islamic Foundation in Leicester dan Muslim Council of Britain (MCB) sebagai kelompok Islamist. Dalam perjalanannya, Ed kemudian ”melihat” kesalahan-kesalahan dari gerakan Islamis, dan menjadi sadar untuk kembali ke pangkuan ‘Islam Moderat.’ Melalui buku ini, Ed ingin menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ‘Islamist’ adalah ancaman yang jelas berbahaya terhadap negaranya. Ed berusaha menunjukkan bagaimana awal ketertarikannya pada ‘pemikiran ekstrimis’, bagaimana kaum fanatik memasuki komunitas muslim dan agenda mereka dalam merusak peradaban Barat dan Islam moderat.
Ia mengakui bahwa istilah ‘Islamisme’ sebenarnya bisa bermakna bermacam-macam. Ia menunjuk Sayyid Abu’l-A’la Mawdudi, Sayyid Qutb dan Taqi al-din Nabhani sebagai tokoh Islamisme. Nampaknya ia memaksudkan tokoh ‘Islamisme’ sebagai tokoh ‘Islam Politik’, yaitu mereka yang menginginkan Islam sebagai faktor penentu dalam ordo politik. Di akhir bukunya, Husain menolak pemikiran tentang ‘Islam Politik’ dengan berkata, ”Agama bukan milik pemerintah, atau negara. Ia adalah milik individu. Negara boleh membantu warganya dalam menunaikan ibadahnya, namun pemerintah Negara tersebut tidak boleh dan tidak semestinya menyatakan keyakinan agama tertentu.” Dengan kata lain, Ed Husain adalah sepenuhnya seorang sekuler.
Dalam usahanya mendekonstruksi Nabhani, Ed menuding bahwa Nabhani mengambil ide dari Rousseau bahwa Tuhan menurunkan seperangkat hukum bagi manusia. Tapi definisi dan penolakan Ed Husain terhadap apa yang ia sebut sebagai ‘Islam politik’ menurut Andrew Booso – seorang kritikus buku The Islamist yang paling keras, ternyata tidak didukung oleh karya tokoh yang ia banggakan sebagai salah satu tokoh ‘Islam moderat’ yaitu Nuh Keller, yang menulis terjemahan dari ‘Reliance of the Traveler’ (’Umdat al-Salik). Buku ini mendapatkan sertifikasi dari Al Azhar dan menurut Ed Husain buku ini juga merupakan ‘buku tafsir kitab suci umat Islam’ yang sangat dihormati. Dalam buku ‘Reliance’ ini, Nuh Keller menambahkan satu bab tambahan yang tidak ada dalam manuskrip aslinya yaitu bab tentang ‘al Khilafah’. Nuh Keller menjelaskan tambahan ini sebagai berikut:
Bab ini merupakan penambahan dari penerjemah (yaitu Nuh Keller) karena keberadaan Khilafah adalah kewajiban tersendiri dan juga merupakan prasyarat dari pelaksanaan ratusan peraturan atau hukum Islam yang ALLAH telah tentukan dan berfungsi sebagai tuntunan kehidupan beragama umat Islam.’
Oleb sebab itu, Mawdudi, Qutb, dan Nabhani tidak bisa dituduh sebagai kaum ekstrimis, hanya karena mereka ternyata meyakini dan menyebarluaskan suatu konsep yang sudah diakui kebenarannya oleh ahli hukum Islam di masa lalu. Di samping itu, Husain juga salah mengutip kata-kata Hamza Yusuf yang konon berkata bahwa ‘tidak ada negara Islam’. Padahal yang terjadi adalah Yusuf hanya mengatakan bahwa kata ‘Negara’ dalam bahasa Inggris tidaklah tepat dalam menjelaskan konsep khilafah, dan juga Yusuf juga tidak pernah bermaksud untuk menafikan Islam sebagai faktor penentu dalam suatu ordo politik.
Tentang rendahnya taraf penguasaan tsaqafah Islam Ed Husian ditunjukkan oleh Adrew Booso. Kata Booso, ”Meskipun Ed Husain menggarisbawahi perjalanan keilmuan Islam selama 1400 tahun melalui sistem periwayatan (isnad), dan juga dengan kemampuan Ed untuk menghafal tidak kurang dari separuh Al Quran, Ed Husain ternyata memiliki kelemahan pengetahuan tentang teologi dan Hukum Islam sebagaimana yang dibangun oleh para ulama. Dalam salah satu bagian dari bukuknya, Ed berkata, “Selama ini tidak pernah terbersit di benakku, apabila isu pemerintahan Islam sebegitu pentingnya, mengapa tidak satupun teks atau literatur klasik Islam menaruh pembahasan tentang ini?”
Untuk menanggapi klaim Ed Husain ini, Booso mengajak untuk mencermati tulisan Nuh Keller, yaitu seorang tokoh yang Ed sangat banggakan, menerjemahkan karya ulama klasik. Dalam karya terkenalnya yang berjudul al-Qawanin al-fiqhiyyah ternyata memiliki satu bab tersendiri yang secara khusus membahas tentang ‘al-imamah’, dimana ia uraikan beberapa prasyarat tradisional [ash-shurut]. Ini semua menunjukkan bahwa istilah-istilah ‘Islamist’, ‘Islamisme’ dan ‘politic Islam’ menjadi tidak bermakna karena apa yang dituduhkan oleh Ed Husain ternyata ditemukan pada karya ulama klasik.
Islam menyerukan agar Islam harus mengatur kehidupan publik dan kehidupan privat manusia, artinya Islam menolak sekularisme karena di dalam Islam tidak ditemukan prinsip yang biasa ditemukan dalam Kristen,”… Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan.”
Kelemahan Ed Husain dalam pemahamannya tentang hukum dan studi teologi Islam juga terlihat dalam gayanya yang berlagak sebagai ulama dalam menyikapi penggunaan kata ‘kafir’ (bentuk jamaknya kuffar atau kafirun/kafirin). Padahal, Nuh Keller dalam menerjemahkan buku ‘Umdat Salik’ (The Reliance), ia menggunakan kata ‘kafir’ untuk mendeskripsikan umat non-muslim. Anehnya, Husain yang menganggap Nuh Keller sebagai tokoh moderat justru menuduh kaum ‘Islamist’lah yang pertama kalinya menggunakan kata kafir untuk mengidentifikasi non-muslim. Menurut opini Ed Husain, Quran menggunakan kata ‘kafir’ hanya diperuntukkan bagi kaum non-muslim penyembah berhala yang menindas umat Islam. Lebih jauh lagi, Ed Husain mengatakan bahwa kaum Yahudi dan Kristen tidak tepat dipanggil sebagai ‘kafir’, tetapi lebih cocok sebagai ‘ahli kitab’. Pemahaman Ed Husain seperti ini sayangnya justru menunjukkan keterbatasan pengetahuannya.
Buku ini memang mendapatkan sambutan dan banyak pujian, khususnya dari media dan komunitas Barat. Diantaranya, kolumnis The Daily Mail dan pengarang buku Londonistan, Melanie Phillips memuji habis buku ini. Dia tanpa sungkan menyatakan bahwa Ed Husain harus mendapatkan aplaus untuk keberaniannya menunjukkan kejujuran dan ketekunan intelektual.
Selain pujuan, juga tidak sedikit yang mengkritik habis. Diantaranya, Ziauddin Sardar melalui koran The Independent, memprotes yang apa yang telah ditulis Ed Husain. sebagai “reductive extremist” activity. Ia kemudian menolak buku Ed Husain ini dengan mengatakan “The Islamist seems to have been drafted by a Whitehall mandarin as a PR job for the Blair government.”
Dalam blognya, peneliti masalah-masalah ke Islaman, Yahya Birt mengkritik buku ini karena melakukan penyimpulan secara umum dari keadaan sekarang berdasarkan realitas di awal tahun 90-an, itupun dalam konteks keterlibatan Ed Husain dalam gerakan Islam dalam kurun yang sangat pendek. Meski dia sendiri tidak menolak perlunya membaca buku yang menawarkan sebuah pandangan insider’s view, tapi dia menolak saran Ed untuk melarang Hizbut Tahrir.
Kritik tajam juga datang penulis muslim, Andrew Booso yang menilai Ed Husain sebagai anak muda yang miskin pengetahuan agama, tapi berlagak seperti ulama. Katanya, “he shows a serious inadequacy of knowledge regarding theology and Sacred Law as expounded by the masters through the ages.” Salah satu yang membuat Booso berang adalah kritik Ed Husain terhadap ide khilafah yang dikatakan tidak memiliki landasan teologis apa pun. Dengan lugas Booso mengatakan bahwa kewajiban syar’iy dari tegaknya kekhilafahan adalah keyakinan standar yang telah disepakati oleh para ulama di sepanjang waktu.
Ada yang mencurigai, apa yang dilakukan oleh Ed Husain adalah demi kepentingan Partai Buruh. Dan kecurigaan ini belakangan terbukti. Kini, setelah mempelajari sufi hingga ke Syria, alih-alih Ed Husain menjadi muslim kaffah pembela kepentingan Islam, ia malah menjadi muslim liberal. Ia berpendapat wanita muslim boleh menikah dengan orang kafir, perempuan muslim tidak harus memakai jilbab, ia juga mendukung keterlibatan Inggris dalam perang Irak. Ia kini juga menjadi aktifis Partai Buruh dan menjadi bagian penting dari organisasi neokonservativ bernama the Center for Social Cohesion yang dipimpin Douglas Murray yang menolak adanya hari libur agama, menyerukan penutupan masjid-masjid dan pelarangan secara total imigrasi muslim di seluruh Eropa.
Tentang keterlibatan Ed Husain dalam HTB mendapatkan klarifikasi oleh Imran Waheed (mantan media representative HTB). Melalui email kepada Jubir HTI, ia menegaskan bahwa Ed Husain tidak pernah menjadi anggota HTB. Ia hanya pernah menjadi daris (pelajar) kurang dari 2 tahun. Ia juga tidak pernah memegang posisi apapun dalam struktur HTB (maka sangatlah aneh kalau di Indonesia sini Ed Husain sering dikatakan sebagai pimpinan HTB). Ia juga menegaskan bahwa sebagaian besar dari buku Ed Husain itu penuh dengan kebohongan. Ia mencontohkan kasus anggota HTB bernama Isa, yang disebut Ed sebagai anggota al Qaeda yang sangat dicari CIA. Isa adalah anggota HTB dan tinggal di London. Ia orang bebas dan bebas pula dari segala keterkaitan seperti yang dituduhkan Ed.
Tentang kebohongan Ed Husain juga ditunjukkan oleh Kaashif Nawaz –saudara laki-laki dari Maajid Nawaz, anggota HTB yang pernah ditahan pemerintah Mesir. Diantaranya kasus pembunuhan di East – Ham College – yang membuat Ed Husain memutuskan keluar dari HTB karena menganggap HTB lah dengan doktrin-doktrinya yang telah mendorong terjadinya pembunuhan di sana. Kaashif Nawaz menegaskan bahwa orang yang terbunuh di sana bukanlah orang Kristen, melainkan orang yang tengah mabuk dan terlibat pertikaian dengan orang lain. Peristiwa itu juga sama sekali tidak melibatkan anggota HTB. Ia membenarkan bahwa periode di mana Ed Husain aktif dalam HTB sangat dipengaruhi oleh sosok Omar Bakri yang sangat keras. Tapi sepeninggal Omar Bakri, HTB berubah, kini tidaklah seperi yang diceritakan oleh Ed Husain. Maksudnya, HTB di masa lalu dinilai telah dibajak oleh Omar Bakri sehingga menyimpang dari warna yang semestinya ada. Ia juga menegaskan bahwa, berbeda dengan Syed Qutb or Maududi, Taqiudeen al-Nabhani adalah ulama yang alim, lulusan al Azhar dan Darul Ulum Kairo dan pernah menjadi profesor di Fakultas Shariah di Amman. Taqiyyuddin juga mempunyai latar belakang sufi melalui kakeknya Sufi Sheikh Yusuf al-Nabhani. Maksudnya, kalau sekiranya hanya jalan sufi yang dicari oleh Ed Husain, semestinya ia tidak perlu keluar dari HTB dan kemudian mencaci maki sedemikan rupa karena toh Hizbut Tahrir sesungguhnya juga menyediakan jalan itu. (Muhammad Ismail Yusanto )
SOURCE: http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/22/catatan-untuk-buku-%E2%80%9Cthe-islamist%E2%80%9D-ed-husain-pengembara-yang-sia-sia/
TULISAN DIATAS SUDAH CUKUP MEMBUNGKAM MULUTMU WAHAI PEMUJA LIBERAL..!!!
pengelola2 // 4 Juli 2009 pada 08:16 |
catatan untuk tulisan di situs HTI tersebut.. banyak link referensi yang tidak bisa dibuka .. bahkan tidak jelas… so perlu dipertanyakan juga keabsahannya
poin utamanya bukan masalah apa yang dilakukan Ed … tetapi HT/I (oknum) telah melakukan kekerasan .. titik!
pengelolakomaht // 4 Juli 2009 pada 20:03 |
Saudaraku SALAFY yang diberkahi Alloh,
Kekerasan itu tidak selalu dalam bentuk fisik, dan melihat bagaimana saudara saudara HT berkomentar di blog ini, komentar yang kasar, bahkan ada yang menuduh dengan antek kafir, bahkan anda sendiri pun dengan kasarnya menuduh kami pemuja Liberal, hal ini adalah wujud kekerasan anda di dunia maya, adapun di dunia nyata wallahu ta’ala a’lam.
Yang jelas saudara saya pengelola2 memposting artikel ini dalam bentuk kutipan berita dari sebuah media, jadi bukan opini pribadi saudara pengelola2, justru kami ingin melihat bagaimana sikap anda dan saudara aktifis HT terhadap pemberitaan itu.
Sungguh kasar kan ?
Pembaca bisa menilai lho…
fsiekonomi.multiply.com // 6 Juli 2009 pada 15:10 |
Sabar mas admin. Thanx atas info2nya. : )
pengelolakomaht // 6 Juli 2009 pada 15:58 |
Shodaqta ya akhil karim, Innallaha ma’a ash shobirin, Jazakumullah khairan ya akhi fsiekonomi.multiply.com
salafy // 7 Juli 2009 pada 20:58 |
SAYA SALAFY.. BUKAN HT..
pengelolakomaht // 9 Juli 2009 pada 22:56 |
Ya saudaraku,
anda seorang yang mengaku salafy namun mencela salafy (lihat isi blog anda) dan anda mengambil rujukan dari situs http://hizbut-tahrir.or.id.
Wallahul musta’an
salafy // 10 Juli 2009 pada 21:54 |
lho, katanya yg namanya SAlAFY itu bisa sapa aja..!!! coba liat : http://buletin.muslim.or.id/manhaj/salah-paham-tentang-salafi
“namun salafi adalah manhaj (metode beragama), sehingga semua orang di seluruh pelosok dunia di manapun dan kapanpun adalah seorang salafi jika ia beragama Islam dengan manhaj salaf tanpa dibatasi keanggotaan.”
Nah, apa salah saya ngaku salafy??!! HAH!!!
=======
salafy // 10 Juli 2009 pada 21:56 |
Tuh, saya juga nge-LINK ke situsnya “SALAFY” (muslim.or.id)..
apa salah saya juga nge-LINK ke situsnya HT.. lha wong yang kamu bicarakan itu orang2 HT ya kita boleh dong merujuk ke HT.. Hahahahaahaaa!!!
pengelolakomaht // 13 Juli 2009 pada 14:07 |
Saudaraku yang dikasihi Alloh,
Salah dan tidak itu adanya disisi Alloh dan RosulNya, saya hanya katakan bahwa anda seorang yang mengaku salafy namun juga mencela salafy dan mengambil fatwa2 Hizb sebagai hujjah.
Dimana posisi anda sungguh hanya Alloh yang tahu namun secara dzahir kaum muslimin sudah tahu tentang anda.
Semoga Alloh menjauhkan ummat ini dari fitnah. Wallahul musta’an.
Fey // 20 Juli 2009 pada 11:33 |
Kekerasan adalah sebuah keniscayaan.. seperti inikah masa depan perjuangan HTI ? :
http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/5052/jw-marriot-terorisme
banyak komentator di artikel tersebut membenarkan dan mendukung Bom di Indonesia sebagai amalan jihad untuk menegakan Khilafah yang wajib, tanpa memperhatikan fiqh dan hukum2 perang..
HT dan beberapa organisasi pergerakan Islam telah secara tidak langsung ikut andil menyebarkan paham kekerasan ini di Indonesia, setiap ada kejadian pemboman, HTI cs dan Hizb2 lain mengedepankan opini pemboman ini adalah ulah dan rekayasa Amerika Cs. Bisa saja benar, tapi bisa juga tidak.
Jikalau memang ada sekelompok umat Islam yang berbuat kerusakan tanpa ilmu akankah kita benarkan? akankah kita membohongi nurani dan Agama dengan mengatakan bahwa pelaku syahid dengan berbagai dalil yang dipaksakan ?
mas tung-tung // 25 Juli 2009 pada 09:02 |
assalamlkm, koma ht emang mantab g’ seperti blog lainnya, di sini kita bisa langsung komentar dan langsung terkirim komentar kita apa adanya, kalau blognya ht/hti berbeda di moderasi dulu baru di tampilin, g’ enak bangeTKAN pada hal kita ingin berdiskusi secara baik… ia kalau di tampilin komentar kita… ini membuktikan KOMA HT memang jujur dalam memberikan nasehat dan pencerahan bagi yang mau baca, sekali lagi g’ kayak blog tukang kritik yang lainnya…. Siipppp untuk koma ht maju terus… ALLAHUAKBAR
masyarakat1 // 3 Agustus 2009 pada 10:27 |
aneh ya???hal ini koq bertentangan dengan apa yang terjadi pada saya selama ini. saya sering berdiskusi dg anggota2 HT, dan mereka selalu sopan terhadap saya. berbicaranya lugas dan tidak bertele-tele. kalaupun membongkar suatu pemikiran/fakta maka hal itu memang adalah sesuatu yang merusak masyarakat sehingga mereka mengungkapkan agar masyarakat berhati-hati. sehingga saya ragu terhadap tulisan saudara yang menghina anggota HT. jangan2 anda malah menjadi pelaku kekerasan???
zul // 3 Agustus 2009 pada 10:59 |
@masyarakat1:”mereka tuh umumnya sopan2 rata2 sama objek dakwah dan nonpartisan gerakan dakwah,kalo ente tuh dah ketahuan ikut gerakan tertentu paling cuma basa-basi dan ngga sehangat ketika ente masih non partisan,kata siapa sopan2,ditempat ane malah nyelonong masuk wilayah garapan dakwah yang kami mgarap tanpa permisi dan menikam kami dari belakang dengan berusaha mengambil alih lembaga yg telah kami garap,untuknya mereka main kasar sehingga ngga sulit meng counternya,kalo mereka bersikap lemah lembut seperti yg ente katakan mungkin kami ngga bakal tahu kalo ada udang di balik batu
Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 14:25
Bisa jadi da’wah anda tdk menarik dan jumud sehingga jama’ah pindah dg sendirinya :) Trus org lain yg disalahkan mengambil garapan anda, introspeksi dong…
pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 14:33
Saudaraku yang diberkahi Allah,
Sebenarnya agenda mengambil alih itu mungkin tidak ada, namun mengingat HT selalu memberikan target penguasaan masjid/ musholla pada para darisnya maka hal itu terjadi.
Memang salah satu cara da’wah HT adalah demikian, yaitu mendekati tokoh agama/ masyarakat setempat lalu berusaha menguasai masjid/ musholla dengan target minimal bisa memasang buletin al Islam secara rutin.
ghifary // 17 Agustus 2009 pada 12:06 |
Zul.apakah ini zul yang suka komentar di PKSWatch.salam kenal ja ya zul.hehe takut y karena kemarin suara pks turun.zul saya harap jangan ada fitnah.di tempat saya ht dan pks saling kerja sama.
Zul nulis
untuknya mereka main kasar sehingga ngga sulit meng counternya
maaf jangan seperti tu zul.bersatulah jangan saling mengejek
zul // 18 Agustus 2009 pada 15:12 |
wah maaf dengan segala kejujuran dan tanpa dusta entah anda percaya atau tidak saya bukan zul yang anda maksud,saya tahu blog itu,pernah singgah juga,tapi itupun hanya sekali dua kali.untuk konteks yg kita bicarakan tentunya yg saya sampaikan tuh adalah dalam konteks realitas muamalah merka didaerah saya,bukan daerah anda,lain halnya jika faktanya didaerah saya yg terjadi adalah seperti yg anda katakan tentunya sayapun sama memberikan apresiasi seperti anda,hanya saja tidak begitu keadaanya,dan bukan masalah takut atau tidak takut kehilangan anggota,sampai saat ini saya tidak pernah khawatir masalah kuantitas mereka(setahu saya stagnan) tapi etika yg manusiawi siapapun ngga berkenan bila ada batasan2 yg tak indahkan termasuk dalam hal mengelola lahan dakwah,kalo masalah mengejek merekalah yg paling jago kalo anda mau bersikap objektif
pengelolakomaht // 18 Agustus 2009 pada 12:33 |
Saudaraku yang diberkahi Alloh,
Doktrin HT kepada para anggotanya secar umum adalah ANTI KEKERASAN karena mereka hanya memperjuangkan pemikiran belaka.
Namun ternyata muncul kekerasan hal itu mungkin akibat nafsu pribadi dari beberapa anggota fanatiknya, dan semoga bukan nafsu para pemimpinnya yang merasa terancam eksistensinya. Yang pasti bukan kebijakan partai, insyaAllah.
Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 14:29 |
Saya tdk mengalami spt anda, justru hubungan baik masih terjalin hingga kini bahkan diantara petinggi HT. Justru anda yg melakukan kekerasan disini, dg kata2 kasar dan menyudutkan HT di blog ini.
Saya juga mantan HT, posisi saya terakhir sebagai musyrif dan Naqib. Tapi saya tetap menjalin ukhuwah dg para Ustadz2 di HT. Saya masih mengundang mereka di kantor dan mesjid saya. Saya masih berdiskusi dg bertemu muka atau melalui email.
HT-lah yg telah menunjukkan kepada saya cahaya Islam, ilmu2 dari kitab2 dan para Ustadz-nya telah memberikan pencerahan bagi saya serta memotivasi saya untuk selalu menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi).
Tidak spt yg anda lakukan, kesombongan dan kebencian anda terhadap harakah yg telah membesarkan anda sungguh memuakkan.
Manan HT juga
pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 14:45 |
Saudaraku abu rifa yang dikasihi Alloh,
Silahkan anda tunjukkan bukti saya melakukan kekerasan dengan perkataan kasar disini ?
Justru anda bisa melihat di blog ini yang sering berkata kasar adalah pihak HT bahkan termasuk anda sendiri yang menutup koment dengan kata “sungguh memuakkan”.
Apakah perlu saya sebutkan aktifis HT yang melakukan kekerasan kata disini seperti aljirbani dan andy qutuz yang memaki-maki saya ? wallahul musta’an
Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 15:32 |
Judul artikel anda yg tendensius dan menghina:
DAN TAQIYYUDDIN PUN TERNYATA MASIH HIDUP HINGGA KINI
Da’wah anda sebutkan pintu syaithan:
Sebelumnya minta maaf karena saya sendiri sudah bosan dengan kegiatan seperti itu, kegiatan yang hanya membuka pintu syaitan dengan mengghibah para penguasa muslim.
Kesombongan anda:
-serta agendakanlah untuk melakukan muhasabah atas kekeliruan HT selama ini
-Mari kita nasehati saudara kita di Hizbut Tahrir dan diri kita sendiri agar tidak terlena dalam kemunkaran
Su’dzon anda:
-Selain itu justru saya mendapat tantangan dari berbagai oknum HT yang menantang debat terbuka dan saya tahu tujuan debat terbuka selalu untuk mencari kemenangan dan menjatuhkan lawan, jadi hal itu tiada guna dan manfaat.
-Pelajaran yang kita ambil adalah, bahwa seruan HT/I yang selama ini bersifat kekerasan verbal (melalui tulisan) dan bersifat agitasi terhadap pendapat yang dilawannya, lambat laun nampak menuju ke arah kekerasan.
Fitnah anda:
-Sungguh sayang jika anda pada akhirnya tidak meyakini pertanyaan malaikat munkar nakir dalam kubur karena syaikh Taqiyyuddin (pendiri HT) mengharamkan meyakininya.
-Sungguh sayang juga jika anda iseng-iseng membaca dan melihat gambar porno karena HT tidak melarangnya dan beberapa syabab HT memubahkannya.
-Sungguh sayang jika akhirnya anda mendukung khilafah HT yang sistem pemerintahan nya berbeda dengan sistem pemerintahan para khulafaur rasyidin.
pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 15:56 |
Saudaraku yang budiman,
pertama :
Judul artikel tersebut selengkapnya :
DAN TAQIYYUDDIN PUN TERNYATA MASIH HIDUP HINGGA KINI, Taqiyyuddin an Nabhani Masih Hidup ?
Ini tidak menghina, darimana datangnya penghinaan itu ? anda bisa lihat tanda tanya yang saya cantumkan disana yang sifatnya adalah telaahan apakah benar demikian. Apakah sama dengan penghinaan andy qutuz (aktifis HT) yang membodoh-bodohkan saya dan kaum muslimin yang koment disini ?
Kedua,
Saya tidak mengatakan da’wah sebagai pintu syaitan karena sang pengundang tidak mengatakan bentuk kegiatannya sebagai kegiatan da’wah. Yang saya katakan pintu syaitan adalah kegiatan mengghibah para penguasa muslim, berikhtilat, dsb. Silahkan anda cek ulang percakapan tersebut.
Ketiga :
Meminta HT mengagendakan muhasabah anda katakan termasuk kesombongan ? Justru menurut saya ini masukan nasihat yang positif.
Keempat :
Saya tidak su’udzon jika bentuk acaranya tabayun bukannya debat terbuka, dimana-mana yang namanya debat terbuka itu tujuannya menjatuhkan lawan dan memenangkan kubunya, anda bisa melihat pada debat capres apakah mungkin bertujuan agar capresnya mundur dan bertaubat ? coba anda sebutkan debat terbuka mana yang hasilnya tidak untuk mencari kemenangan di mata publik ?
Kelima :
Apa yang saya sampaikan semuanya fakta dan bukan fitnah bahkan telah diskusikan di artikel yang terpisah, silahkan anda cek kembali hasil diskusi tema-tema tersebut.
Abu Rifa Al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 20:40 |
1. Judul termasuk tendensius, sekaligus telah menggambarkan isi tulisan apa yg akan anda sampaikan. Judul salah satu bentuk pelecehan anda terhadap ulama HT yg melakukan revisi kitab.
Berlagak ulama mujtahid, padahal baru sebatas muqallid.
2. Disamping penghinaan anda terhadap da’wah sebagai pintu syaithan, sekaligus buruk sangka anda terhadap acara tsb. Belum datang koq sudah tahu isinya ghibah, kecuali anda seorang dukun musyrik.
3. Kalimat kekeliruan HT dan terlena dg kemungkaran menunjukkan kesombongan anda bahwa anda merasa paling benar sendiri (salah satu karakter salafi). Jangan2 virus salafi telah meracuni anda sekeluar dari HT, dendam apa yg telah menggejolak di dada anda selama di HT sehingga berbuat spt ini.
4. Jelas su’udzon dong, belum mengalami sudah buruk sangka (idem poin 2). Pepatah Melayu: belum pergi sudah kembali.
5. Jelas ini fitnah, salah satunya sebutkan kitab Syaikh Taqi yg menyatakan haram meyakini siksa kubur.
pengelolakomaht // 21 Agustus 2009 pada 14:22 |
Saudaraku yang diberkahi Allah,
1. Judul tersebut bukan pelecehan, dimana letak pelecehannya ? bahkan dalam judul tersebut tidak ada klaim bahwa HT masih menganggap taqiyyuddin masih hidup.
Bahasa sastra seperti itu adalah lumrah digunakan, dan selama saya 4 (empat) tahun menjadi jurnalis gaya bahasa seperti itu tidak ada yang mempermasalahkan secara hukum maupun secara emosional seperti anda.
2. Yang saya katakan pintu syaitan adalah kegiatan mengghibah para penguasa muslim, berikhtilat, dsb, bukan kegiatan da’wahnya.
Silahkan anda cek ulang percakapan tersebut dan pahami dengan lebih sabar.
3. Anda menuduh saya sombong karena anda tidak lengkap dalam membaca tulisan saya, berikut saya cuplikkan tulisan saya silahkan dicermati :
“Mari kita nasehati saudara kita di Hizbut Tahrir dan diri kita sendiri agar tidak terlena dalam kemunkaran”
Lihat disana saya tulis juga “dan diri kita sendiri”,
Selain itu saya selalu mengatakan “kekeliruan HT” bukannya “kesesatan HT” namun sungguh sayang anda masih menuduh saya pengekor kelompok salafy, semoga Allah mengampuni kita semua.
3. Kalo acaranya debat terbuka itu sudah jelas saudaraku, kecuali kalo acaranya diskusi ilmiah atau tabayun, mungkin bisa lain persepsinya.
4. Saya sarankan anda mengikuti terlebih dahulu diskusi sebelumnya agar anda jelas, namun jika anda tidak berkenan akan saya ringkas secara simple bahwa taqiyyuddin memang tidak pernah mengatakan siksa kubur haram diyakini namun taqiyyuddin mengatakan hadits ahad haram diyakini, sehingga pada akhirnya jumhur para syabab HT mereka meragukan siksa kubur dan hal ini banyak disampaikan sendiri oleh para syabab HT yang ikut berdiskusi disini bahkan ada yang menolak eksistensi siksa kubur, silahkan anda merujuk ke blog seorang syabab HT senior yang bernama saif ayatullah yang sebelum ini juga ikut berdiskusi disini, agar anda tahu bagaimana sikap syabab HT yang ekstrim dalam masalah ini.
Abu Rifa Al-Puari // 21 Agustus 2009 pada 19:02 |
Halaah… yg namanya ego dikedepankan nggak mungkin mengaku salah. Mungkin saja anda melihat dari perspektif anda, coba anda posisikan anda pada org yg anda cela. Ulama yg anda yakini kemudian di cela2 dg dzalim, bagaimana perasaan anda.
Bandingkan tulisan anda berikut:
awalnya:
-Sungguh sayang jika anda pada akhirnya tidak meyakini pertanyaan malaikat munkar nakir dalam kubur karena syaikh Taqiyyuddin (pendiri HT) mengharamkan meyakininya.
setelah itu:
bahwa taqiyyuddin memang tidak pernah mengatakan siksa kubur haram diyakini
Fitnah yg telah anda lontarkan dg enteng anda ralat, emang tdk ada hisab di akhirat nanti.
Semua pembaca disini bisa menilai anda!, sombong, suka mencela dan merasa benar sendiri, khas salafi!
Makanya hati2 kalau menulis, tulisanmu harimaumu.
zul // 21 Agustus 2009 pada 21:41
sesungguhnya cara anda berdiskusi dg menggunakan argumentasi seperti ini adalah bukti ketidak tahuan anda tentang hal yg didebatkan,KOMA HT mungkin saja memaparkan pendapat menurut perspektifnya tapi yg dia paparkan adalah dalam bentuk ilmiah,sah saja dalam berdiskusi,andaipun anda tidak menerima argumen ilmiahnya maka berikanlah hujjah yg ilmiyah juga andai KOMA HT itu keliru,bukan dengan mengait-ngaitkan masalah perspektif dia sebagai orang non HTI,toh anda pun tidak bisa membuktikan bahwa KOMA HT itubukan mantan HT ataupun salafy,namun dalam hal ini anda sudah terjebak pada sikap memancing fitnah dan tuduh menuduh yg sebenarnya itu tidak dibutuhkan kalo hanya sekedar untuk membuktikan bahwa KOMA HT itu salah atau keliru,atau mungkin anda memang tak bisa membantah bukti ilmiah dari KOMA HT?berdikusilah dengan bijak,saya yakin dalam HT anda pernah diajarkan satu ayat dari surat an-nahl 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik…
pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:30
Saudaraku abu rifa yang diberkahi Allah,
Sekali anda tidak membaca dengan seksama,
perlu anda ketahui antara kasus PERTANYAAN MUNKAR NAKIR dengan kasus SIKSA KUBUR adalah dua hal yang berbeda pembahasannya.
Dan hal itu sudah dibahas dalam diskusi yang panjang yang saya yakin anda membacanya hanya sepintas lalu.
Jadi dua hal yang berbeda pembahasan tersebut jangan anda sama ratakan mengingat dalil-dalil yang diperdebatkan antara kasus Munkar Nakir dengan dalil-dalil kasus Siksa Kubur berbeda.
Mohon dicermati dan dibaca dahulu agar anda tidak langsung memfitnah saya sebagai orang yang plin-plan padahal itu dua hal yang berbeda pembahasan sehingga kesimpulannya beda.
Kebanyakan syabab menganggap saya tidak konsisten padahal anggapan itu muncul karena mereka membaca koment saya hanya sepintas lalu dan memang karena tidak peduli dengan koment saya, sebagaimana yang terjadi pada anda saat ini yang akhirnya menyamakan kasus MUNKAR NAKIR dengan kasus SIKSA KUBUR.
pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 10:09
Sedikit tambahan untuk saudara abu rifa,
Apabila anda mengikuti diskusi sebelum ini tentang aqidah ahad maka akan jelas bahwa ternyata para senior syabab HT banyak yang menolak siksa kubur, untuk itu supaya lebih jelas silahkan anda ikuti dan baca dengan seksama koment-koment di blog ini sebelumnya.
faraby almakassary // 21 Agustus 2009 pada 14:31 |
asw KOMA HTI MEMPERJUANGKAN KHILAFAH ISLAMIAH dlm beberapa tulisannya,kalo begitu MAJU TERUS PEJUANG KHILAFAH,UMMAT ISLAM MERINDUKAN KHILAFAH ISLAMIYAH,ALLAH MERIDOI PEJUANG KHILAFAH……AMIN
salam dari saudaramu faraby dari Hizbut tahrir makassar
JIHAT JALAN TERUS // 29 Agustus 2009 pada 18:52 |
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9, Al-Taubah :24)
JIHAT JALAN TERUS // 29 Agustus 2009 pada 19:03 |
Sikap orang-orang munafik dalam menghadapi peperangan(ber JIHAD)
77. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
JIHAT JALAN TERUS // 29 Agustus 2009 pada 19:05 |
78. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan[319], mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).” Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
uut // 29 Agustus 2009 pada 19:43 |
Nah disini ada fikih jihad silahkan pahami
DOWNLOAD AUDIO:: ISLAM MEMBAWA KEDAMAIAN, BUKAN TEROR! (Fadhilatul Ustadz Dzulqornain)
http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/08/19/download-audio-islam-agama-kedamaian-bukan-teror-fadhillatul-ustadz-dzulqornain-penting/
Nama // 13 Oktober 2009 pada 12:18 |
saya hanya ingin menanggapi : blog2 seperti ini bukanlah GHIBAH bahkan sbg bentuk amar ma’ruf nahi munkar. klo yg sepeti ini ghibah maka Rasulullah melakukan ghibah kpd dzul khawaisirah sbg khawarij, para imam-imam salaf juga melakukan ghibah kpd jahm bin shafwan, nafi bin azraq, dn tokoh2 sesat lainnya.
Dari Al A’masy dari Ibrahim ia berkata :
“Bukanlah ghibah menceritakan keadaan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/140 nomor 276)
Al Hasan Al Bashry berkata :
“Menerangkan keadaan ahli bid’ah dan kefasikan orang yang berbuat fasiq terang-terangan bukan perbuatan ghibah.” (Al Lalikai nomor 279-280)
Dari Sufyan bin Uyainah berkata, Syu’bah pernah berkata :
“Kemarilah kita (berbuat) ghibah di jalan Allah Azza wa Jalla.” (Al Kifayah 91 dan Syarah Ilal At Tirmidzy 1/349)
Dari Abi Zaid Al Anshary An Nahwiy berkata, Syu’bah mendatangi kami pada waktu turun hujan dan berkata :
“Ini bukanlah hari (pelajaran) hadits, hari ini adalah hari ghibah, marilah melakukan ghibah tentang para pembohong itu.” (Al Kifayah 91)
Abdullah bin (Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, Abu Turab An Nakhsyabi datang kepada ayahku lalu beliau mulai berkata : “Si Fulan dlaif, si Fulan tsiqah.”
Berkatalah Abu Turab : “Wahai Syaikh, janganlah mengghibah ulama.”
Ayahku segera menoleh ke arahnya dan berkata : “Celakalah kamu! Ini adalah nasihat bukan ghibah.” (Al Kifayah 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)
Ismail Al Khathaby berkata, Abdullah bin (Imam) Ahmad menceritakan kepada kami bahwa ia berkata kepada ayahandanya :
“Apa yang Anda katakan mengenai para rawi yang mendatangi seorang syaikh yang barangkali ia seorang Murjiah atau Syi’iy atau dalam diri syaikh itu terdapat perkara yang menyelisihi As Sunnah apakah ada kelonggaran buat saya untuk diam dalam hal ini ataukah saya harus memperingatkan manusia agar berhati-hati dari syaikh ini?”
Ayahku menjawab : “Jika ia mengajak orang kepada bid’ah sedangkan dia adalah imam ahli bid’ah maka benar kamu harus memperingatkan manusia dari syaikh ini.” (Al Kifayah 93 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)
uut // 13 Oktober 2009 pada 19:34 |
menopang sdr Nama
Kapan Dibolehkan Keadaan Seseorang
Atau Diwajibkannya Menerangkan
Hamdun Al Qashshar ditanya : “Kapankah waktu membicarakan seseorang?”
Ia menjawab : “Jika telah pasti baginya untuk menunaikan kewajiban Allah ini berdasarkan ilmunya atau ia khawatir orang banyak celaka karena bid’ah itu dan ia berharap agar Allah menyelamatkannya.” (Al I’tisham 1/127)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
[Jika nasihat itu adalah kewajiban bagi kemaslahatan agama secara khusus maupun umum seperti penukilan hadits yang mereka bersalah atau berdusta sebagaimana kata Yahya bin Sa’id :
Saya bertanya kepada Imam Malik dan Ats Tsauri dan Al Laits bin Sa’d --saya menduganya Al Auza’iy-- tentang seseorang yang tertuduh dalam periwayatan hadits atau tidak hafal. Mereka mengatakan :
“Terangkan keadaannya itu.”
Dan sebagian ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Sesungguhnya berat bagiku mengatakan bahwa Fulan begitu, Fulan begini.”
Maka kata beliau : “Jika kamu dan saya diam dalam masalah ini maka kapan orang yang jahil itu tahu mana hadits yang shahih dan mana yang cacat?! Dan seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki berbagai pendapat dan ibadah yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah maka menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan manusia dari mereka adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin (Ahli Ilmu).”
Sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Seseorang berpuasa, shalat, i’tikaf lebih Anda cintai ataukah jika ia menerangkan keadaan ahli bid’ah?”
Beliau berkata : “Jika ia puasa, shalat, dan i’tikaf maka itu untuk dirinya sendiri sedangkan apabila ia menerangkan keadaan ahli bid’ah maka ini adalah untuk kebaikan kaum Muslimin dan ini lebih utama maka menerangkan perkara ini agar berguna bagi kaum Muslimin dalam agama mereka termasuk salah satu jihad di jalan Allah sebab membersihkan jalan Allah dan agama, manhaj, dan syariat-Nya serta menghalau kejahatan ahli bid’ah dan permusuhan mereka adalah Fardlu Kifayah menurut kesepakatan kaum Muslimin. Dan apabila tidak ada orang yang Allah bangkitkan untuk menolak bahaya ahli bid’ah ini benar-benar akan hancurlah agama ini. Dan kerusakannya jauh lebih besar daripada kerusakan akibat penjajahan musuh dari kalangan orang-orang yang kafir yang mesti diperangi. Sebab mereka ini jika berkuasa belum tentu mampu merusak hati manusia yang dijajahnya kecuali pada kesempatan berikutnya sedangkan ahli bid’ah ini jika mereka berkuasa akan merusak hati lebih dahulu.” ] (Majmu’ Fatawa 28/231 dan 232)
Muhammad bin Abdullah Al Ghalabiy mengatakan :
“Ahli bid’ah itu akan menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka).” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)
Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id :
“Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya.”
Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :
“Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung di atas apa yang pertama kali ia tumbuh dan dibentuk.” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)
adminfsiekonomi.multiply.com // 4 November 2009 pada 11:12 |
say no to kekerasan!