Komunitas Mantan Hizbut Tahrir

DAN TAQIYYUDDIN PUN TERNYATA MASIH HIDUP HINGGA KINI

2 Juni 2009 · & Komentar

Taqiyyuddin an Nabhani Masih Hidup ?


Salah satu ciri kebenaran Islam yang tidak dimiliki oleh agama selainnya adalah terjaganya riwayat riwayat agama dari segala macam bentuk gubahan baik tambahan maupun pengurangan maupun riwayat riwayat palsu yang baru dan diada adakan, sementara agama selain Islam telah rusak riwayat riwayat ajaran agamanya, telah ditambahi, dikurangi, disembunyikan, disamarkan, dan digubah sesuai dengan keinginan dan pemikiran penggubahnya kemudian di nisbahkan kembali kepada Allah dan Rasul Nya seakan akan itu wahyu padahal buatan tangan mereka belaka.

Alloh berfirman yang artinya :

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: ini dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

Islam memiliki para ahlul hadits yang dari fajar hingga senja menyibukkan diri meneliti jalannya riwayat sebuah wahyu, berjalan ribuan kilometer demi memastikan wahyu tersebut asli tidak ada satu hurufpun yang tercecer atau terpalsukan, menyibukkan diri dalam mencari, menghafal, meneliti, dan mengajarkan riwayat riwayat wahyu yang benar-benar berasal dari lisan dan perbuatan utusan Alloh. Mereka inilah sebenar benar penjaga agama Alloh, pejuang syari’at sejati.

Bagi Islam kejujuran atsar adalah utama, dan kebohongan atsar meskipun itu demi kebaikan tetaplah tercela selamanya. Meskipun demikian banyak ditemukan para pemalsu riwayat dalam tubuh kaum muslimin, dan sebagian besar dari mereka memalsukan riwayat dengan alasan demi kebaikan kaum muslimin, dan demi kemuliaan Islam.

Ibnu Mahdy pernah bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi, “Dari mana kamu dapatkan hadits “Barang-siapa yang membaca ini maka akan begini?” Ia menjawab. “Aku memalsukannya untuk menyemangati manusia.”

Bahkan sebagian dari kaum Karamiyyah ada yang berkata: “Kami tidak berdusta atas nama Rasulullah, tapi kami berdusta untuk kepentingan Rasulullah”

Mereka membuat riwayat baru atau menggubah redaksi riwayat lama dengan tujuan menyemangati manusia untuk berbuat baik, atau memperingatkan mereka agar tidak berbuat kemungkaran, sungguh tujuan mulia namun cara yang dilakukan sangatlah tercela disisi Alloh dan Rasul Nya.

Rasul bersabda :

“Barangsiapa menyampaikan suatu perkataan dariku yang telah diketahui bahwa itu adalah kedustaan yang dibuat-buat, maka ia termasuk salah seorang pendusta.” (HR. Muslim)

Namun betapapun banyak para pemalsu riwayat tak kan lepas mereka dari kejaran ahlul hadits yang senantiasa menjaga agama ini dalam kemurniannya, dan tiap 100 tahun Alloh hadirkan seorang mujadid ahlul hadits yang akan memurnikan kembali ajaran Islam dari kejahilan para pemalsu riwayat.

Sabda Rasulullah, dari Abu Hurairah:
“Alloh mengutuskan pada ummat ini di setiap awal 100 tahun, orang yang akan memperbaharui urusan agama-Nya (mujaddid)”
Dari Sunan Abu Dawud, Kitab 37, Al Malahim.

Sungguh segala puji bagi Alloh yang telah menjaga al Qur’an dan Sunnah dari kejahilan para pemalsu riwayat dengan menurunkan para ahlul hadits.

Sungguh ummat Islam harus terus menjaga kemurnian agamanya, sebab inilah bukti kebenaran Islam. Sungguh ummat Islam harus berlatih untuk jujur pada agamanya, mengatakan sesuatu dan menyandarkan sesuatu jelas pada sumber yang sebenarnya.

Namun meskipun al Qur’an dan as Sunnah terjaga kemurniannya akan tetapi tidak halnya dengan kalam para ulama besar Islam yang hingga kini kian banyak disimpangkan, digubah sesuai dengan keinginan dan pemikiran masing-masing, dan alangkah mudahnya kita menemukan perbedaan kalam ulama yang sama dalam kitab yang sama namun berbeda isi disebabkan penerbit yang berbeda, waliyaudzubillah.

Bahkan saat ini orang tidak bisa berpatokan pada judul dan ulama pengarang sebuah kitab, namun mesti melihat juga siapa penerbitnya dan kapan diterbitkannya karena beda penerbit dan beda tahun terbit berarti beda isi meskipun kitabnya sama.

Inilah kecelakaan terbesar bagi ummat Islam, dan inilah perilaku kaum musyrikin yang mulai diikuti oleh sebagian besar kelompok Islam, wallahul musta’an.

Salah contoh yang cukup mengagetkan yang saya temukan adalah perilaku Hizbut Tahrir Indonesia yang menggubah kitab kitab lama mereka sehingga tahun demi tahun terjadi kian banyak perubahan namun tetap disandarkan pada ulama yang menulis pertama kali, seakan akan ulama tersebut masih hidup dan merevisi kitabnya sendiri saat ini.

Puluhan tahun lalu ketika saya masih aktif di Hizbut Tahrir saya memiliki sebuah kitab rujukan dengan spesifikasi sebagai berikut :

Peraturan Hidup Dalam Islam
Judul Asli : Nizhamul Islam
Penulis : Taqiyyuddin An Nabahani
Al Quds 1372 H – 1953 M
Penerjemah : Abu Amin, dkk
Penyunting : A.R. Nasser, Ir. A. Saifullah
Penata Letak : N. a. Rasyid
Penerbit : Pustaka Thariqul ‘Izzah Indonesia
Cetakan II (revisi)
April 1993

Kemudian baru baru ini saya memperoleh kitab dengan judul dan pengarang yang sama dengan spesifikasi sebagai berikut :

Judul Asli: Nizham Al-Islam
Pengarang: Taqiyuddin An-Nabhani
Dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir
Cetakan ke-1: 1953 M/ 1372 H
Cetakan ke-6: 2001 M/ 1422 H
Edisi Mu’tamadah
Edisi Indonesia
Penerjemah: Abu Amin, dkk
Penyunting: Tim HTI-Press
Penata Letak: Anwari
Desain Sampul: Hanafi
Penerbit: Hizbut Tahrir Indonesia, Gedung Anakida Lt.7 Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet, Jakarta Selatan, Telp. 021-8353254

Dan pada mulanya saya beranggapan kitab tersebut pastilah sama isinya karena judul kitab dan pengarangnya jelas sama, namun ketika saya cek ternyata sungguh diluar dugaan bukan hanya tata bahasanya yang diubah namun banyak hal-hal baru yang berbeda sama sekali dari kitab asalnya.

Dan yang sangat menyedihkan ternyata kitab baru tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya seorang yaitu Taqiyyuddin an Nabhani yang telah wafat puluhan tahun yang lalu.

Sehingga kaum muslimin yang baru mengenal kitab tersebut pasti akan beranggapan kitab tersebut adalah asli tulisan Taqiyyuddin an Nabhani apa adanya sebagaimana ia tulis puluhan tahun yang lalu.

Contoh gubahan kitab tersebut misalnya pada bab Jalan Menuju Iman terdapat perkataan pada kitab lama sebagai berikut :

yaitu apa-apa yang telah ditetapkan oleh al Qur’an dan hadits mutawatir.

Namun pada kitab baru tertulis sebagai berikut :

yaitu apapun yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan hadits qath’i -yaitu hadits mutawatir-.

Dapat dilihat pada kata hadits mutawatir yang di buku lama adalah tulisan asli namun dibuku baru hanyalah sebuah penjelasn yang diapit tanda strip sementara kata aslinya diubah menjadi hadits qath’i.

Gubahan diatas memang tidaklah terlalu mencolok dan mungkin bisa ditolerir meskipun secara kaidah sudah tidak boleh dinisbahkan pada penulis lamanya.

Namun terdapat gubahan yang benar benar mencolok yaitu pada Bab Rancangan Undang-undang Dasar yang di buku lama terdiri dari 187 Pasal RUUD namun pada buku yang baru terdapat 190 Pasal RUUD dan inipun dinisbahkan pada penulis lamanya.

Berikut beberapa contoh gubahan isi kitab Nidzamul Islam karya Taqiyyuddin yang kitab hasil gubahan tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya juga yaitu Taqiyyuddin saja :

Pada Nidzamul Islam cetakan ke-2 tertulis :

Pasal 33
Tata cara pengangkatan khalifah adalah sebagai berikut :
(a) Anggota majlis ummat dari kalangan kaum muslimin mengajukan beberapa calon untuk kedudukan ini, lalu nama-nama mereka diumumkan, dan kaum muslimin diminta untuk memilih salah satu diantaranya.
(b) Hasil pemilihan diumumkan, sehingga kaum muslimin mengetahui siapa yang mendapat suara terbanyak dari para calon.
(c) Anggota majlis ummat tersebut segera membaiat siapa yang mendapatkan suara terbanyak sebagai khalifah untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
(d) Setelah pelaksanaan bai’at sempurna, diumumkan kepada khalayak siapa yang menjadi khalifah kaum muslimin, sehingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh ummat, dengan mengumumkan namanya dan sifat-sifat yang menjadikannya pantas untuk diangkat sebagai kepala negara.

Namun pada Nidzamul Islam cetakan ke-6 tertulis :

Pasal 33
Diangkat amir sementara untuk menangani urusan kaum Muslim dan melaksanakan proses pengangkatan Khalifah yang baru setelah kosongnya jabatan Khilafah sebagai berikut:
a. Khalifah sebelumnya, ketika merasa ajalnya sudah dekat atau bertekad untuk mengundurkan diri, ia memiliki hak menunjuk amir sementara
b. Jika Khalifah meninggal dunia atau diberhentikan sebelum ditetapkan amir sementara, atau kosongnya jabatan Khilafah bukan karena meninggal atau diberhentikan, maka Mu’awin yang paling tua usianya menjadi amir sementara, kecuali jika ia ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah, maka yang menjabat amir sementara adalah Mu’awin (Mu’awin Tafwidl, pen.) yang lebih muda, dan seterusnya.
c. Jika semua Mu’awin ingin mencalonkan diri maka Mu’awin Tanfizh yang paling tua menjadi amir sementara, jika ia ingin mencalonkan diri maka yang lebih muda berikutnya, dan demikian seterusnya.
d. Jika semua Mu’awin Tanfizh ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah maka amir sementara dibatasi pada Mu’awin Tanfizh yang paling muda.
e. Amir sementara tidak memiliki wewenang melegislasi hukum.
f. Amir sementara diberikan keleluasaan untuk melaksanakan secara sempurna proses pengangkatan Khalifah yang baru dalam tempo tiga hari. Tidak boleh diperpanjang waktunya kecuali karena sebab yang memaksa atas persetujuan Mahkamah Mazhalim.

Dapat kita lihat betapa isi pasal 33 pada cetakan ke-2 berbeda 100% dengan isi pasal 33 pada cetakan ke-6.
Rupanya pasal 33 pada cetakan ke-2 digeser menjadi pasal 34 pada cetakan ke-6,
namun setelah dilihat ternyata isi pasal 33 cet-2 dengan isi pasal 34 cet ke-6 pun berbeda 99%,
sebagaimana berikut :

Pasal 34
Metode untuk mengangkat Khalifah adalah baiat. Adapun tata cara praktis untuk mengangkat dan membaiat Khalifah adalah sebagai berikut :
a. Mahkamah Mazhalim mengumumkan kosongnya jabatan Khilafah
b. Amir sementara melaksanakan tugasnya dan mengumumkan dibukanya pintu pencalonan seketika itu.
c. Penerimaan pencalonan para calon yang memenuhi syarat-syarat in’iqad dan penolakan pencalonan mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat in’iqad ditetapkan oleh Mahkamah Mazhalim.
d. Para calon yang pencalonannya diterima oleh Mahkamah Mazhalim dilakukan pembatasan oleh anggota-anggota Majelis Umah yang muslim dalam dua kali pembatasan. Pertama, dipilih enam orang dari para calon menurut suara terbanyak. Kedua, dipilih dua orang dari enam calon itu dengan suara terbanyak
e. Nama kedua calon terpilih diumumkan. Kaum Muslim diminta untuk memillih satu dari keduanya.
f. Hasil pemilihan diumumkan dan kaum Muslim diberitahu siapa calon yang mendapat suara lebih banyak.
g. Kaum Muslim langsung membaiat calon yang mendapat suara terbanyak sebagai Khalifah bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kitabullah dan sunah rasul-Nya.
h. Setelah proses baiat selesai, Khalifah kaum Muslimin diumumkan ke seluruh penjuru sehingga sampai kepada umat seluruhnya. Pengumuman itu disertai penyebutan nama Khalifah dan bahwa ia memenuhi sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk menjabat Khilafah.
i. Setelah proses pengangkatan Khalifah yang baru selesai, masa jabatan amir sementara berakhir.

Dan perubahan signifikan seperti ini pun masih disandarkan pada penulis lama yang sudah lama wafat.
Apakah Taqiyyuddin saat ini masih hidup hingga bisa merubah isi kitabnya ini ?.
Siapa yang bertanggung jawab atas perubahan kitab Taqiyyuddin ini ? Dan seperti apa kitab yang benar benar asli Tulisan Taqiyyuddin ?
Sungguh budaya seperti ini jika dibiarkan dapat merusak orisinalitas kitab-kitab agama Islam.


Belum lagi isi dari pasal RUUD yang banyak mengalami gubahan namun tetap saja disandarkan pada penulis lama yang telah lama wafat.

Seandainya Taqiyyuddin masih hidup hingga kini apakah rela ia melihat kitab karangannya diubah-ubah kemudian dinisbahkan pada dirinya ?

Apakah perubahan besar-besaran pada isi RUUD kemudian dinisbahkan ke taqiyyuddin tersebut sesuai dengan maksud dan pemikiran taqiyyuddin sebelumnya ?

Bagimana mungkin penulis yang telah wafat bisa mengubah pasal RUUD yang dulunya hanya 187 pasal kini di kitabnya yang dicetak ulang menjadi 190 pasal ?

Kenapa kitab yang telah berubah drastis isinya ini tetap dikatakan sebagai tulisan Taqiyyuddin an Nabhani sebagai satu satunya penulis ?

Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali Taqiyyuddin an Nabhani masih hidup hingga kini.

Alloh berfirman yang artinya :

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (An Nahl 105)

Semoga kebiasaan menggubah kalam ulama ini tidak diteruskan oleh Hizbut Tahrir sebab akan menyebabkan rusaknya banyak warisan ilmu ulama yang mereka berjuang tak kenal lelah memurnikan ajaran agama demi kejayaan Islam.

Dan kebiasaan ini apabila diteruskan bukan tidak mungkin akan menyebabkan kerusakan agama yang lebih besar apalagi jika bukan hanya kitab kitab ulama Hizbut Tahrir namun juga kitab kitab ulama besar Islam yang wajib kita jaga orisinalitasnya pada akhirnya terkena gubahan yang disesuaikan dengan agenda dan kepentingan kelompok.

Semoga Hizbut Tahrir bisa menghentikan kebiasaan yang sangat merusak ini, dan semoga agama ini terjaga kemurniannya selamanya.

Berikut beberapa contoh gubahan isi kitab Nidzamul Islam karya Taqiyyuddin yang kitab hasil gubahan tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya juga yaitu Taqiyyuddin saja :

Pada Nidzamul Islam cetakan ke-2 tertulis :

Pasal 33
Tata cara pengangkatan khalifah adalah sebagai berikut :
(a) Anggota majlis ummat dari kalangan kaum muslimin mengajukan beberapa calon untuk kedudukan ini, lalu nama-nama mereka diumumkan, dan kaum muslimin diminta untuk memilih salah satu diantaranya.
(b) Hasil pemilihan diumumkan, sehingga kaum muslimin mengetahui siapa yang mendapat suara terbanyak dari para calon.
(c) Anggota majlis ummat tersebut segera membaiat siapa yang mendapatkan suara terbanyak sebagai khalifah untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
(d) Setelah pelaksanaan bai’at sempurna, diumumkan kepada khalayak siapa yang menjadi khalifah kaum muslimin, sehingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh ummat, dengan mengumumkan namanya dan sifat-sifat yang menjadikannya pantas untuk diangkat sebagai kepala negara.

Namun pada Nidzamul Islam cetakan ke-6 tertulis :

Pasal 33
Diangkat amir sementara untuk menangani urusan kaum Muslim dan melaksanakan proses pengangkatan Khalifah yang baru setelah kosongnya jabatan Khilafah sebagai berikut:
a. Khalifah sebelumnya, ketika merasa ajalnya sudah dekat atau bertekad untuk mengundurkan diri, ia memiliki hak menunjuk amir sementara
b. Jika Khalifah meninggal dunia atau diberhentikan sebelum ditetapkan amir sementara, atau kosongnya jabatan Khilafah bukan karena meninggal atau diberhentikan, maka Mu’awin yang paling tua usianya menjadi amir sementara, kecuali jika ia ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah, maka yang menjabat amir sementara adalah Mu’awin (Mu’awin Tafwidl, pen.) yang lebih muda, dan seterusnya.
c. Jika semua Mu’awin ingin mencalonkan diri maka Mu’awin Tanfizh yang paling tua menjadi amir sementara, jika ia ingin mencalonkan diri maka yang lebih muda berikutnya, dan demikian seterusnya.
d. Jika semua Mu’awin Tanfizh ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah maka amir sementara dibatasi pada Mu’awin Tanfizh yang paling muda.
e. Amir sementara tidak memiliki wewenang melegislasi hukum.
f. Amir sementara diberikan keleluasaan untuk melaksanakan secara sempurna proses pengangkatan Khalifah yang baru dalam tempo tiga hari. Tidak boleh diperpanjang waktunya kecuali karena sebab yang memaksa atas persetujuan Mahkamah Mazhalim.

Dapat kita lihat betapa isi pasal 33 pada cetakan ke-2 berbeda 100% dengan isi pasal 33 pada cetakan ke-6.
Rupanya pasal 33 pada cetakan ke-2 digeser menjadi pasal 34 pada cetakan ke-6,
namun setelah dilihat ternyata isi pasal 33 cet-2 dengan isi pasal 34 cet ke-6 pun berbeda 99%,
sebagaimana berikut :

Pasal 34
Metode untuk mengangkat Khalifah adalah baiat. Adapun tata cara praktis untuk mengangkat dan membaiat Khalifah adalah sebagai berikut :
a. Mahkamah Mazhalim mengumumkan kosongnya jabatan Khilafah
b. Amir sementara melaksanakan tugasnya dan mengumumkan dibukanya pintu pencalonan seketika itu.
c. Penerimaan pencalonan para calon yang memenuhi syarat-syarat in’iqad dan penolakan pencalonan mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat in’iqad ditetapkan oleh Mahkamah Mazhalim.
d. Para calon yang pencalonannya diterima oleh Mahkamah Mazhalim dilakukan pembatasan oleh anggota-anggota Majelis Umah yang muslim dalam dua kali pembatasan. Pertama, dipilih enam orang dari para calon menurut suara terbanyak. Kedua, dipilih dua orang dari enam calon itu dengan suara terbanyak
e. Nama kedua calon terpilih diumumkan. Kaum Muslim diminta untuk memillih satu dari keduanya.
f. Hasil pemilihan diumumkan dan kaum Muslim diberitahu siapa calon yang mendapat suara lebih banyak.
g. Kaum Muslim langsung membaiat calon yang mendapat suara terbanyak sebagai Khalifah bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kitabullah dan sunah rasul-Nya.
h. Setelah proses baiat selesai, Khalifah kaum Muslimin diumumkan ke seluruh penjuru sehingga sampai kepada umat seluruhnya. Pengumuman itu disertai penyebutan nama Khalifah dan bahwa ia memenuhi sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk menjabat Khilafah.
i. Setelah proses pengangkatan Khalifah yang baru selesai, masa jabatan amir sementara berakhir.

Dan perubahan signifikan seperti ini pun masih disandarkan pada penulis lama yang sudah lama wafat.
Apakah Taqiyyuddin saat ini masih hidup hingga bisa merubah isi kitabnya ini ?.
Siapa yang bertanggung jawab atas perubahan kitab Taqiyyuddin ini ? Dan seperti apa kitab yang benar benar asli Tulisan Taqiyyuddin ?
Sungguh budaya seperti ini jika dibiarkan dapat merusak orisinalitas kitab-kitab agama Islam.

Kategori: Tentang HIZBUT TAHRIR

219 tanggapan so far ↓

  • Farid Al Fajri // 2 Juni 2009 pada 17:01 | Balas

    Subhanalloh, pembahasan yang pas. Saya sendiri juga sudah merasakan hal ini sejak lama, terkait dengan penerbitan buku-buku HT. Setelah mengetahui ada buku terbitan tahun 1993 dibandingkan dengan buku terbitan tahun 2003 serta dengan buku baru terbitan tahun 2007. Pertama saya mengira cuma masalah fontasi ternyata tata bahasa yang digunakan sudah ada yang dirubah, sehingga membuat makna semakin bias dari asalnya (sesuai apa yang dipahami oleh penulis waktu membuat buku tersebut) . Cek komentar saya diblog mas Hanif Agung.
    http://hanichi.wordpress.com/2008/03/20/pendapat-imam-yusuf-al-qardhawiy-dan-syaikh-dr-al-buthi-tentang-hadits-ahad-dalam-aqidah/#comment-819

    Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita dan Alloh selalu memberi hidayah kepada kita serta menetapkan diri-diri kita tetap istiqomah di jalanNYA yang lurus.
    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

  • cahyo // 2 Juni 2009 pada 23:46 | Balas

    hmm…saya baru tersadar… separah itu ya mereka….

    subhanallah… kok semua pengikutnya diam seribu bahasa…. menyedihkan…

  • Andreas // 3 Juni 2009 pada 11:21 | Balas

    Setiap pejuang tidak lah bisa mengira-mengira untuk men generalisir suatu permasalahan, nampak betul penyakit hati itu mencuat. Kami tidak dian seribu bahasa, kami berdikusi dan berdialog. Namun disetiao tabayun yang kami terima. Kami tetap sadar ada yang harus diperbaiki. Tetapi permasalahan kami dan saudara kami yang lain adalah umur ini cukup tidak untuk terus berjuang mendirikan Khilafah, dan memperjuangkannya.Anda tidak mengerti apa permasalahan kaum muslimin. Dan anda mengada-ada, dari mana anda tahu kitab-kitab yang lain juga diubah. Anda sungguh menyedihkan. Cahyo, dan Juga penulis Word Press ini.

    • zul // 4 Juni 2009 pada 19:19 | Balas

      tuk andreas:

      wah ente kayaknya lebih paham ya,ngga ilmiah banget ente debat dengan jawaban seperti itu,bukti apa yg ente kasih tuk membantah tentang artikel ini,jangan hanya bisa arogan dg meng-under estimate orang lain tanpa menunjukan kesalahan dan kebenaran yg ada maksud kepada mereka

  • Andiy QUTUZ // 4 Juni 2009 pada 20:36 | Balas

    blog yang aneh….penulisnya juga sangat jauh dari penulisan ilmiah…
    hari gini masih ada yg ngaku MANTAN HIZBUT TAHRIR !
    emangnya HT tu skolahan?
    ga usah jauh jauh mendebat artikel ga bermutu ini…(baca : artikel SAMPAH)
    bikin aja sekalian REUNI MANTAN SKOLAH HT…jangan lupa saya udangannya :)

    • zul // 4 Juni 2009 pada 23:37 | Balas

      he..he..HTIer’s yg kehilangan kesadaran,fanatik buta dan menjadikan HT sebagai akidah,siapa yg goblok siapa yg ngga ilmiyah kita sudah bisa ambil kesimpulan

  • boy // 5 Juni 2009 pada 04:20 | Balas

    gpp lah rubah2 demi kepentingan..hizb, masalah amanat ilmiah mah belakangan aja hehe

  • Andiy QUTUZ // 5 Juni 2009 pada 19:56 | Balas

    IMAM SYAFI’I pernah menyampaikan apabila kalian bertemu dengan orang -orang BODOH (mengaku islam tapi justru memfitnah pada saudara islam yg lain, seperti yang bikin BloG ini dan kroni2nya…maka PERCUMA saja melayani perdebatan karena itu lebih baik TINGGALKAN SAJA mereka dengan kebodohannya :)

    Allah SWT -lah sebaik-baik pembuat MAKAR ! kelak kalian akan dihisab atas perbuatan kalian ini………ALLAHU AKBAR !!!

    NB: kepada ikhwani wa akhwati fillah salah satu ciri orang yang BODOH adalah:
    apabila saya meninggalkan/posting nasehat ini mereka tidak segera sadar dan istighfar tapi justru malah memperpanjang lagi perdebatan ini dengan memberikan balasan yang sangat KEJI/LICIK dan CULAS…mari segera kita buktikan saudara saudaraku komentar mereka setelah ku ini……

  • Fey // 5 Juni 2009 pada 21:04 | Balas

    Mas Andi, anda juga akan di hisab..ingat itu..ciri kebodohan itu adalah menghindari diskusi ilmiah..sedangkan mengumpat orang dengan kata KEJI, LICIK dan CULAS adalah tanda kecelakaan..

    “Celakalah orang-orang yang mengumpat…” (Al-Humazah)

    Jadi sebagai muslim tolong adab dan etika yang diajarkan al-Quran tetap dijaga walaupun anda sudah sangat berilmu tinggi di HT. Saya tidak pernah mendapati penulis blog ini membalas dengan kata-kata keji kepada siapa pun.

    Terserah jika anda menganggap balasan saya ini sebagai KEJI, LICIK dan CULAS.

  • Fey // 6 Juni 2009 pada 21:18 | Balas

    Mas Andi Qetuz, anda memasang komentar jebakan di tiap artikel.. saya hanya mengingatkan anda supaya lebih beretika..eh anda malah senang karena sudah menunjukan pada orang2 bahwa saya licik, lha liciknya dimana????

    Saya yakin anda belum membaca seluruh artikel di blog ini..

  • Fey // 6 Juni 2009 pada 21:30 | Balas

    Mas Andi Qetuz, mudah2an akhlak anda tidak mewakili akhlak anggota HTI keseluruhan..sebab apabila seluruh anggota HTI seperti anda, apa kata dunia???…mas Arie kemana neh? tolong diajari akhlak aja dulu nih rekan seperjuangannya.

  • Andiy QUTUZ // 6 Juni 2009 pada 22:39 | Balas

    IMAM SYAFI’I pernah menyampaikan apabila kalian bertemu dengan orang -orang BODOH (mengaku islam tapi justru memfitnah pada saudara islam yg lain, seperti yang bikin BloG ini dan kroni2nya)…maka PERCUMA saja melayani perdebatan mereka… karena itu lebih baik TINGGALKAN SAJA mereka dengan WAJAH kebodohannya :)

    Allah SWT -lah sebaik-baik pembuat MAKAR ! kelak kalian akan dihisab atas perbuatan kalian ini memulai pertamakali menghina/memfitnah saudara kalian se-ISLAM………ALLAHU AKBAR !!!

    NB: kepada ikhwani wa akhwati fillah salah satu ciri orang yang BODOH adalah:
    apabila saya meninggalkan/posting nasehat ini mereka tidak segera sadar dan istighfar tapi justru malah memperpanjang lagi perdebatan ini dengan memberikan balasan yang sangat KEJI/LICIK dan CULAS…PENUH DENGAN KEDENGKIAN TAPI SEBENARNYA PENGECUT … TAJAMNYA LIDAH KALIAN TIDAK PERNAH dipake UNTUK MUSUH MUSUH ALLAH spti AMERIKA DAN ISRAEL tapi justru pada saudara saudaranya sendiri,…inikah yg kalian katakan AKHLAK MUSLIM????

    :) mari segera kita BUKTIKAN saudara saudaraku komentar mereka setelah ku ini……
    ===
    Perhatian untuk Mas Andi Qutuz … anda tidak usah bawa2 nyatut nama organisasi lain… karena anda berdusta atas nama orang lain…. Coba lihat ini

    IP Address antara Andi Qutuz dan Aktifis PMII sama

    aktifis PMII
    yahoo.com
    gantengmacho@gmail.com
    125.164.64.99

    Andiy QUTUZ
    quthuzainjalood.blogspot.com
    qubahgallery@gmail.com
    125.164.64.99

    • pengelola // 7 Juni 2009 pada 00:53 | Balas

      kalo anda kehabisan hujjah lebih baik tidak usah memperbanyak sampah di blog ini…

      atau saya delet!

  • pengelolakomaht // 7 Juni 2009 pada 00:01 | Balas

    Serulah (manusia) pada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (an-Nahl : 125).

    “….‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’.” (Al-A’raf: 79)

  • Andiy QUTUZ // 9 Juni 2009 pada 13:50 | Balas

    PERCUMA saja diskusi sama kalian…..kalian punya cara untuk character assasinatiom bila sudah KALAH berdebat :)
    semoga Allah SWT membalas kalian atas FITNAH yang kalian timpakan pada saudara2 semuslim

  • Ana hawa // 12 Juni 2009 pada 12:56 | Balas

    Asslm.af1 ana skrg mnjadi bagian dr Ht,cos obviously ana tahu wjb jd bagian sbuah jama’ah.ghiroh inilah yg ana rasain mgkn sama keu2hnya spt wktu mantan2 ht jd bagìan ht(dulu).so lets build dialog..not monolog.ana yakin mantan2 ht resign with honour(masuk baik2,keluar jg baik2)..skarang pun ttp brgabung dg jama’ah with the same goal,fikroh&thoriqoh..with dalil2 rujukn y >kuat.please bacanya ga smbil marah2. Peace ;->salam ukhuwah akh&ukh mantan Ht..

    • msitompul2008 // 15 Juni 2009 pada 14:47 | Balas

      Kenapa harus minta maaf, emang ada yang perlu dimaafkan? ndak usah pura-pura lah, bukankah si embak sebelum meninggalkan goresan-goresan lucu di blog ini sudah lama menjadi kader hti?

      gaya marketing klasik euy he…he….

  • pengelolakomaht // 12 Juni 2009 pada 18:31 | Balas

    Dari Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabul fitannya,

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    “… Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama‘ah dan imam kaum Muslimin.” Kemudian Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan imam lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “fa’tajil tilka firoqo kullaha Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.”

  • msitompul2008 // 15 Juni 2009 pada 14:44 | Balas

    Coba diperiksa juga donk mas edisi pertama dari buku tsb, kira-kira ada yang berbeda jauh juga ga? jadi penasaran…????

  • pengelolakomaht // 16 Juni 2009 pada 12:54 | Balas

    Saudara sitompul yang budiman,

    Saya tentunya kesulitan memperoleh cetakan pertama karena cetakan kedua saja waktu itu belum dipublikasikan secara umum (khusus aktifis HT). Apalagi cetakan I tentunya jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin sengaja ditarik dan dimusnahkan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

  • Ibnu yusuf // 21 Juni 2009 pada 20:42 | Balas

    Parah bener ahlak simpatisan HT yang bernama Andiy Qutuz saking fanantik butanya sampai segitunya hiiiiiii serem banget :-) ..naudzubillah semoga kaum muslimin Indonesia dijauhkan dari pemahaman Tahriri.

  • yusuf // 22 Juni 2009 pada 14:34 | Balas

    salam ya akhki,

    setiap komentar harus didatangi dengan bukti-bukti yang jelas, kena buat tahkek al manat, nyatakan satu persatu berbezaan, lihat membawa maksud yang berlainan atau hanya gaya ayat sahaja yang bezanya. Usahlah bertikaman sesama muslim, kepada ahli HT ana nasihatkan duduk berbincang bersama tuan empunya bloq, pada tuan empunya bloq ; sebenarnya apa tujuan enta selaku xHT[baca : bekas ahli HT] adakan bloq ini ? melagakan sesama muslim ? ana masih kabur dengan tujuan enta , adakah HT menyerua pada sekutunya Allah ? KHILAFAH apa nya bersatunya umat, mana rugi nya Islam disini ? sila perjelaskan yar…

    • zul // 22 Juni 2009 pada 16:03 | Balas

      tuk pakcik yusuf,andai pakcik mengerti HT sesiapa dan apa HT seperti xHT mengerti,boleh jadi pakcik memahami maksud utama dari adanya blog ini,keberadaanya adalah ishlah dan hujjah bagi hal-hal yg tak sesuai dalam perjalanan HT,dan itu maklum kerna sesiapa sahaja diHT tuh manusia macam kita yg boleh khilaf dan bersalah

  • bobby jogja // 23 Juni 2009 pada 09:37 | Balas

    saya yakin pengelola blog ini orang salafy dg alasan:
    1. Tidak setuju dg berkelompok
    2. membela saudi sbg institusi yang benar
    3. tidak paham istilah2 syabab, darisin, hizbiyyin

    ok ,saya tak buat blog mantan salafy ya…
    tapi apa saya sejelek itu, lagi pula salafy sendiri yang benar2 salaf yang mana? wong sudah dipecah belah oleh kekakuan mereka sendiri, dan mungkin sebagai akibat dari tindakan mereka sendiri yang menjelek2 semua kelompok. Anda telah dipecah oleh Allah.
    lagi pula nanti ditanya anda mantan salafi dari “kelompok” yang mana? jadi bingung deh..

    • cahyo // 23 Juni 2009 pada 12:07 | Balas

      @ boby –> he-he… saya kira masalahnya bukan salafi atau tidak… permasalahannya pemahaman kita sudah seusai dengan al quran dan assunnah atau belum?

      selanjutnya… masalah kelompok… emang di akhirat nggak akan ditanya… kamu dari salafi, HTI, PKS, atao tabligh… yang di tanya ya seberapa taat kita pada ajaran AL quran dan as shunnah… bukan pada ajaran orang apalagi sampai mengkultuskan seperti yang dilakukan HT/I pada Nabhani

      mengapa mengkultuskan?

      karena sampai saat ini setahu saya… BELUM ada satupun pernytaan HT/I yang mengkritisi pemikiran Nabhani

  • pengelolakomaht // 23 Juni 2009 pada 15:17 | Balas

    Saudaraku kaum muslimin yang berbahagia,

    Berikut komentar salah seorang syabab HT (Titok Priastomo) pada saat saya sampaikan kritikan atas gubahan kitab mereka yang gubahan tersebut tetap mereka sandarkan pada penulis lama :

    Syabab HT tersebut berkata :
    - – - – - — – - – - – - –
    “Heh, itu sih karena anda tidak tahu apa yang direvisi. Kalo sekedar menambah takhrij hadits dan sedikit redaksi, seperti yang ada pada nidzomul islam dan syakhshiyyah terbitan 2002, ya tidak perlu menggganti nama pengarang.”
    - – - – - — – - – - – - –

    Maka sungguh jelas betapa saudara kita ini meremehkan penjagaan atas orisinalitas kitab kitab ulama.
    Padahal sebagaimana saya uraikan bahwa dalam nidzamul Islam terdapat perubahan signifikan dari 187 Pasal RUU menjadi 190 Pasal.

    Dan dengan lantangnya sang syabab HT ini berkata bahwa itu tidak perlu mencantumkan siapa yang menambahkannya.
    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

  • prabu // 24 Juni 2009 pada 08:55 | Balas

    Kalau perubahannya hanya dari segi ‘bagaimana’ komunikasi,bahasa,dan pembuatan makna itu di bentuk,kan tidak apa-apa?karena makna informasi itu memang bisa berubah terkait dengan kondisi jaman dan metoda perjuangan itu sendiri.Selama sandarannya tidak bertentangan dengan hadist dan Qur’an itu sendiri.
    Jadi sebenarnya malah lucu,yang mengaku mantan HT,tapi tidak faham strategi komunikasi? bukankah HT itu partai politik?

  • pengelolakomaht // 24 Juni 2009 pada 14:46 | Balas

    Saudara prabu yang diberkahi Alloh,

    Saya yakin anda belum membandingkan sendiri perbedaan dua cetakan tersebut sehingga mengira perubahan hanya dari segi bahasa.

    Padahal perubahannya sangat signifikan.
    Tidak hanya redaksi atau kata belaka, bahkan banyak tambahan tambahan baru yang bertentangan dengan kitab lama.

    Apakah dari 187 pasal berubah jadi 190 pasal itu hanya perubahan redaksi ?
    Sepertinya anda perlu teliti lagi dua cetakan itu.
    Atau anda tidak memilikinya ?
    Maka insyaAlloh akan saya usahakan dalam waktu dekat ini untuk mengupload sebagian kitab Nidzamul Islam versi lama, doakan ya.

  • bobby jogja // 25 Juni 2009 pada 08:32 | Balas

    mengapa repot dg perubahan, apakah karena prinsipnya harus nyalaf kemudian tdk boleh ada pendapat baru? justru ketika ada pendapat lebih kuat secara nash dan istimbath kita harus berpegang kepada yang lebih kuat? bukankah talfiq sesuatu yang haram? salafy sendiri terpecah banyak pendapat akhirnya berkelompok lebih dari 9 yang semuanya mengaku salafy. apa itu bukan pembaruan internal? ato malah ada yang suka menyebut perpecahan karena tindakan mereka sendiri? ayo lanjutkan…

  • msitompul2008 // 25 Juni 2009 pada 14:17 | Balas

    bobby..bobby….
    saya perhatikan, hal yang paling pertama dan utama diberikan kepada para kader-kader hti adalah latihan bagaimana agar bisa selalu nyambung dengan pembicaraan orang lain. selain titok cs, hari ini tambah atu lagi deh member “suka ga nyambung grup” hehehe…

    masalah yang dilontarkan mas pengelola ini adalah masalah penambahan jumlah pasal dari 187 ke 190 kenapa tetap dinisbhakan kepada orang yang sudah meninggal. aturan seperti itu boleh ga dilakukan dalam dunia tulis menulis?
    disini tidak dipermasalahkan mengenai kebolehan sesuatu hal yang baru itu syar’i atau tidak…(itu hal lain yang butuh penjelasan lain lagi)

    klo mo bantah (jangan melantur kemana-mana kayak gitu donk), bantahlah jika memang penambahan tsb tidak merubah sesuatu yang esential…selesai tho?

    klo memang benar seperti tulisan pengelola di atas. untuk hal-hal kecil saja tidak mau jujur, bagaimana bisa mengemban hal-hal yang lebih besar…

  • pengelolakomaht // 25 Juni 2009 pada 14:30 | Balas

    Saudaraku yang dirahmati Alloh,

    Berikut beberapa contoh gubahan isi kitab Nidzamul Islam karya Taqiyyuddin yang kitab hasil gubahan tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya juga yaitu Taqiyyuddin saja :

    Pada Nidzamul Islam cetakan ke-2 tertulis :

    Pasal 33
    Tata cara pengangkatan khalifah adalah sebagai berikut :
    (a) Anggota majlis ummat dari kalangan kaum muslimin mengajukan beberapa calon untuk kedudukan ini, lalu nama-nama mereka diumumkan, dan kaum muslimin diminta untuk memilih salah satu diantaranya.
    (b) Hasil pemilihan diumumkan, sehingga kaum muslimin mengetahui siapa yang mendapat suara terbanyak dari para calon.
    (c) Anggota majlis ummat tersebut segera membaiat siapa yang mendapatkan suara terbanyak sebagai khalifah untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
    (d) Setelah pelaksanaan bai’at sempurna, diumumkan kepada khalayak siapa yang menjadi khalifah kaum muslimin, sehingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh ummat, dengan mengumumkan namanya dan sifat-sifat yang menjadikannya pantas untuk diangkat sebagai kepala negara.

    Namun pada Nidzamul Islam cetakan ke-6 tertulis :

    Pasal 33
    Diangkat amir sementara untuk menangani urusan kaum Muslim dan melaksanakan proses pengangkatan Khalifah yang baru setelah kosongnya jabatan Khilafah sebagai berikut:
    a. Khalifah sebelumnya, ketika merasa ajalnya sudah dekat atau bertekad untuk mengundurkan diri, ia memiliki hak menunjuk amir sementara
    b. Jika Khalifah meninggal dunia atau diberhentikan sebelum ditetapkan amir sementara, atau kosongnya jabatan Khilafah bukan karena meninggal atau diberhentikan, maka Mu’awin yang paling tua usianya menjadi amir sementara, kecuali jika ia ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah, maka yang menjabat amir sementara adalah Mu’awin (Mu’awin Tafwidl, pen.) yang lebih muda, dan seterusnya.
    c. Jika semua Mu’awin ingin mencalonkan diri maka Mu’awin Tanfizh yang paling tua menjadi amir sementara, jika ia ingin mencalonkan diri maka yang lebih muda berikutnya, dan demikian seterusnya.
    d. Jika semua Mu’awin Tanfizh ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah maka amir sementara dibatasi pada Mu’awin Tanfizh yang paling muda.
    e. Amir sementara tidak memiliki wewenang melegislasi hukum.
    f. Amir sementara diberikan keleluasaan untuk melaksanakan secara sempurna proses pengangkatan Khalifah yang baru dalam tempo tiga hari. Tidak boleh diperpanjang waktunya kecuali karena sebab yang memaksa atas persetujuan Mahkamah Mazhalim.

    Dapat kita lihat betapa isi pasal 33 pada cetakan ke-2 berbeda 100% dengan isi pasal 33 pada cetakan ke-6.
    Rupanya pasal 33 pada cetakan ke-2 digeser menjadi pasal 34 pada cetakan ke-6,
    namun setelah dilihat ternyata isi pasal 33 cet-2 dengan isi pasal 34 cet ke-6 pun berbeda 99%,
    sebagaimana berikut :

    Pasal 34
    Metode untuk mengangkat Khalifah adalah baiat. Adapun tata cara praktis untuk mengangkat dan membaiat Khalifah adalah sebagai berikut :
    a. Mahkamah Mazhalim mengumumkan kosongnya jabatan Khilafah
    b. Amir sementara melaksanakan tugasnya dan mengumumkan dibukanya pintu pencalonan seketika itu.
    c. Penerimaan pencalonan para calon yang memenuhi syarat-syarat in’iqad dan penolakan pencalonan mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat in’iqad ditetapkan oleh Mahkamah Mazhalim.
    d. Para calon yang pencalonannya diterima oleh Mahkamah Mazhalim dilakukan pembatasan oleh anggota-anggota Majelis Umah yang muslim dalam dua kali pembatasan. Pertama, dipilih enam orang dari para calon menurut suara terbanyak. Kedua, dipilih dua orang dari enam calon itu dengan suara terbanyak
    e. Nama kedua calon terpilih diumumkan. Kaum Muslim diminta untuk memillih satu dari keduanya.
    f. Hasil pemilihan diumumkan dan kaum Muslim diberitahu siapa calon yang mendapat suara lebih banyak.
    g. Kaum Muslim langsung membaiat calon yang mendapat suara terbanyak sebagai Khalifah bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kitabullah dan sunah rasul-Nya.
    h. Setelah proses baiat selesai, Khalifah kaum Muslimin diumumkan ke seluruh penjuru sehingga sampai kepada umat seluruhnya. Pengumuman itu disertai penyebutan nama Khalifah dan bahwa ia memenuhi sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk menjabat Khilafah.
    i. Setelah proses pengangkatan Khalifah yang baru selesai, masa jabatan amir sementara berakhir.

    Dan perubahan signifikan seperti ini pun masih disandarkan pada penulis lama yang sudah lama wafat.
    Apakah Taqiyyuddin saat ini masih hidup hingga bisa merubah isi kitabnya ini ?.
    Siapa yang bertanggung jawab atas perubahan kitab Taqiyyuddin ini ? Dan seperti apa kitab yang benar benar asli Tulisan Taqiyyuddin ?
    Sungguh budaya seperti ini jika dibiarkan dapat merusak orisinalitas kitab-kitab agama Islam.

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

  • sunardin palu // 27 Juni 2009 pada 10:29 | Balas

    alhamdulilah akhi mengaku mantan HT, ana saudara muslimmu sempat kaget baca blog ini, yang ana sukurin dan doa~ in semoga akhi g buat lagi blog baru berjudul mantan muslim… ha ha…. bercanda boleh kenal lebih dekat nggak? istiqomah dalam dakwah……ana ada undangan buat akhi tanggal 17 ,18, 19 juli 2009 di bumi serpong damai BSD jakarta di sana ada acara yang bisa di sebut,… Muktamar internasional istilah di muhammadiah,… konferensi khilafah istilah di HT…, ana undang akhi pesertanya semua umat muslim dari seluruh dunia…. seluruh shabab HT juga boleh ikut… kitakan saudara.. sukran

  • Jangan Tulalit !!! // 27 Juni 2009 pada 22:24 | Balas

    boleh bawa kompor akh sunardin palu.?? kalau boleh entar ana dikabarin ya.

    • sunardin palu // 29 Juni 2009 pada 10:01 | Balas

      boleh knapa tidak, ana tunggu,, di medan ijtima…tepatnya di blok jamaah indonesia,tenda sulawesi tengah,petak kab. donggala halaqoh sindue, di sana akhi akan lihat wujud nyata cikal bakal lahirnya khilafah,yang selama ini di dengungkan banyak orang, ,disana berkumpul semua umat muslim dari seluruh penjuru dunia, berkasih sayang dalam ikatan ukhuwa tak ada yang dilebihkan atau di rendahkan.insya Allah ,,, ingat akhi ..khilafah adalah hadiah dari Allah untuk umat muslim ketika mereka berkasih sayang dan tak meremehkan saudaranya ..by saudaramu

  • pengelolakomaht // 28 Juni 2009 pada 11:11 | Balas

    Saudaraku yang bijak,

    Sebelumnya minta maaf karena saya sendiri sudah bosan dengan kegiatan seperti itu, kegiatan yang hanya membuka pintu syaitan dengan mengghibah para penguasa muslim, kegiatan yang tidak diisi dengan tarbiyah ilmu agama dan hanya orasi yang mempermainkan perasaan & emosi, kegiatan yang tidak berisi muhasabah apa saja kekeliruan HT yang harus diperbaiki namun justru sebaliknya kegiatan tersebut berisi kebanggaan HT atas da’wahnya, kebanggaan atas ide dan metode yang dianggap terbaik dan paling patut diacungi jempol.

    Saya bukan hanya pernah menjadi bagian kegiatan2 itu namun saya pun pernah menjadi orang seperti anda yang diagendakan untuk mengundang sasaran sasaran target da’wah baik dari kalangan awam maupun tokoh masyarakat.

    Jika boleh saya hanya menyumbang saran saja, bahwa kegiatan tersebut harus benar benar jauh dari ikhtilat, jauh dari ghibah, dan harus berisi tarbiyah ilmu agama, serta agendakanlah untuk melakukan muhasabah atas kekeliruan HT selama ini, tentunya dengan niatan ikhlas untuk memperbaiki diri.

    Jika bisa seperti itu kegiatannya maka tanpa diundangpun insyaAlloh saya datang,
    tapi kalo masih seperti yang dulu-dulu, jangankan sekedar diundang, di ongkosi pun saya ogah :)

  • sunardin palu // 30 Juni 2009 pada 07:30 | Balas

    ibnu tayyimiah berkata..sesekali berjalanlah dengan tidak seperti biasanya….kalaulah kita mencoba melakukannya maka yang kita temukan adalah teramat banyak saudara muslim kita yang jauh dari sentuhan agama…bukan karna mereka tidak mau taat, tapi tidak adanya orang yang mengajak mereka untuk taat..jadi hari ini meluangkan waktu untuk berdebat dengan anda sama halnya menzalimi saudara muslim kita yang ada di pedalaman sana yang butuh untuk di kunjungi setiap saat untuk mengenalkan apa itu islam… dipedalaman sana misionaris kristen telah mengakar rumput,sementara orang-orang alimnya islam asik berkutat dengan kitab berorasi di belakang mikrofon hanya untuk mengatakan kami yang benar.. itulah kenyataan hari ini ….

  • msitompul2008 // 30 Juni 2009 pada 16:32 | Balas

    sunardin, pasti dari jamaah jt ya? bsd itu bukan di Jakarta lho tapi di tangerang. setau saya acaranya di laksanakan di gading serpong, daerah sekitar sk keris…

    semua kelompok punya fungsi, peran dan kelebihan sendiri-sendiri. tidak pada tempatnya lagi anda memperkeruh diskusi disini dengan klaim-klim (yang sama) sebagai yang paling berjasa dsb..oke…

  • pengelolakomaht // 30 Juni 2009 pada 23:28 | Balas

    Saudara Sunardin palu yang diberkahi Alloh,

    Mencegah saudara sesama muslim dari perbuatan salah merupakan bukti wala’ (loyalitas) seorang muslim terhadap saudaranya, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya di surat At Taubah:71 :

    و المؤمنون و المؤمنات بعضهم أوليآء بعض، يأمرون بالمعروف و ينهون عن المنكر
    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” [At Taubah : 71]

    Mari kita nasehati saudara kita di Hizbut Tahrir dan diri kita sendiri agar tidak terlena dalam kemunkaran, insyaAllah

  • KangBoed // 9 Juli 2009 pada 13:00 | Balas

    SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG SAHABATKU

  • pengelolakomaht // 9 Juli 2009 pada 22:58 | Balas

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Kang Boed…

  • tung-tung // 10 Juli 2009 pada 10:53 | Balas

    Assalamu’alaikum, wahai saudara seiman…
    perjalanan masih panjang… so nikmatilah perjuangan ini… ok! jangan asobiyah kelompok dong, dong, donk-donk!
    ======

    Hal yang sama juga berlaku bagi HT

  • ababil aqsho // 10 Juli 2009 pada 10:58 | Balas

    HT kerjanya komentar melulu, hamas aja di jelek-jelekin, padahalkan mereka udah berjuang bersimbah darah mempertahankan bumi palestina di garis depan…

  • hafez // 10 Juli 2009 pada 11:02 | Balas

    Asalamu’aklaikum…
    saudaraku yang dari HT, apa benar kalian tidak mempercayai hadis Ahad tolong jawab? karena perjuangan harus di mulai dengan landasan yang benar dari Al-Qur’an dan Hadis, pada hal mayoritas ulama yang sudah kita kenal keilmuannya, dan kesolehannya, mengakui hadis Ahad… tolong jawab
    di tujukan untuk Kader-kader HT…
    Skrn

  • pengelolakomaht // 13 Juli 2009 pada 14:15 | Balas

    Saudaraku hafez yang diberkahi Alloh,

    Masalah ini sudah didiskusikan pada tema “Hizbut Tahrir & Aqidah-aqidah Nabi yang Diragukannya”, dan sudah banyak para syabab HT yang ikut berdiskusi disana.
    Intinya masing-masing syabab sedikit berbeda dalam hal ini namun secara umum mereka mengatakan khabar ahad dalam kondisi apapun tidak qath’i sehingga tidak bisa dijadikan sandaran aqidah.
    Untuk lebih jelasnya silahkan di simak di : http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/

  • mujahid muda // 17 Juli 2009 pada 21:16 | Balas

    ni statement HT pada HAMAS..
    Fatah dan Hamas tidak mencerminkan Islam dan kaum Muslim. Keduanya hanyalah sekelompok kecil dari rombongan kafilah yang menyimpang dari jalan. Adapun Palestina, ia merupakan bumi Islam yang penuh berkah milik umat Islam…..
    perhatikan kata kata SEKELOMPOK KECIL DARI ROMBONGAN KAFILA YANG MENYIMPANG DARI JALAN ALLAH…maaf nih emang yang udah dilakukan HTI apa????sampai bisa mengatakan fitnah seperti itu…..

  • pengelolakomaht // 19 Juli 2009 pada 17:00 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Alloh,

    Terbukti bahwa HT pun bersikap selalu membela pendapat kelompok sendiri dan menyalahkan pendapat kelompok lain, dan itu dibuktikan oleh kutipan buletin al islam nomor 462 terbitan 26 Juni 2009 pada paragraf ke-9 sebagaimana dikutip diatas oleh saudara mujahid muda.

    Terlepas dari benar tidaknya ijtihad hamas dalam konflik palestina tentunya kini HT tidak boleh melarang pihak lain mengkritisi HT sebagaimana blog ini yang dituduh sebagai blok intelejen antek kafir oleh para aktifis HT.
    Bagaimana mungkin khilafah HT bisa berdiri bersama al haq jika kondisi HT seperti ini.

  • abu syifa' // 24 Juli 2009 pada 15:27 | Balas

    saya kira semua aktifis HT kenal dengan KH.Abdullah bin Nuh yg membawa ustad Abdurrahman al-bagdady ke Indonesia. Coba tiru akhlak beliau (ABN) baik ara aktifis HT atauun mantan. maluuu dong saling membongkar aib…

  • mas tung-tung // 25 Juli 2009 pada 08:58 | Balas

    assalamlkm, koma ht emang mantab g’ seperti blog lainnya, di sini kita bisa langsung komentar dan langsung terkirim komentar kita apa adanya, kalau blognya ht/hti berbeda di moderai dulu baru di tampilin, g’ enak bangeTKAN pada hal kita ingin berdiskusi secara baik… ia kalau di tampilin komentar kita… ini membuktikan koma ht memang jujur dalam memberikan nasehat dan pencerahan bagi yang mau baca, sekali lagi g’ kayak blog tukang kritik yang lainnya…. Siipppp untuk koma ht maju terus… ALLAHUAKBAR

  • زهير // 26 Juli 2009 pada 00:58 | Balas

    Kang, kalau teks bahasa Arab-nya gimana? Ada perbedaan juga, gak?

    Oya kang, saya lihat banyak komentar yang gak sesuai dengan topik artikel. Saran saya sih yang seperti itu tidak perlu ditampilkan..

  • pengelolakomaht // 30 Juli 2009 pada 14:01 | Balas

    Saudaraku yang baik,

    Melihat perbedaannya dari segi jumlah pasal yang bertambah banyak maka saya yakin versi arabnya sama juga berbeda. Namun sayang saya kesulitan memperoleh versi arab dalam cetakan lama yang ada paling cetakan baru.

  • Anakingusan // 6 Agustus 2009 pada 00:34 | Balas

    Boleh dong buku2 ht d revisi? Boleh dong ada prubahan yg tkait dg kpmimpinan ht yg dah bganti2 dan pmimpinnya mtabanni lalu masukin d ktb tp bliau bkeinginan g mau namanya d masukin jd salah 1 pngarang? Sah2 aja lg..dlm ht g ada kultus indvdu, mkanya ide ust taqy bs d tambh atau d koreksi..la wong bliau man biasa bkn nabi..
    Ht g blh msalahkn grakan yg salah? Truz grakan laen blh bwt blog and nyalah2in ht? Nt g fair bung.

  • noe // 6 Agustus 2009 pada 15:24 | Balas

    kalau memang niaknya menyalahkan & membunuh karakter .. apapun bakal bisa dilakukan.

    tidak ingatkah bahwa Abu Huroiroh pun pernah mengcancel pendapatnya? Tidak ingatkan bahwa Imam Syafi’i juga punya qoul qodim dan qoul jadid ?

    bukankah selama ini banyak koreksi internal dan internal, lha kok setelah dikoreksi masih saja di caci maki .. emang maunya loe apa ?

    • pengelola2 // 7 Agustus 2009 pada 07:51 | Balas

      Mas Noe… inti dari permasalahan ini adalah bukan masalah boleh tidaknya merevisi kitab… tapi seperti yang dijelaskan oleh mas pengelola di bawah!

      saran saya .. baca dulu dengan hati dingin baru komentar… dan hilangkan taashub dan taklid…

      begitu ya!

  • pengelolakomaht // 6 Agustus 2009 pada 15:56 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Alloh,

    Orang yang masih hidup merevisi pendapatnya itu memang hal yang wajar, namun apakah wajar jika taqiyyuddin sudah mati puluhan tahun lalu kok masih saja merivisi kitab2nya ? (masih disandarkan pada taqiyyuddin saja)

    Sebelum taqiyyuddin meninggal di kitabnya ditulis RUU khilafah ada 187 pasal, namun setelah meninggal puluhan tahun kemudian dikitabnya ditulis RUU khilafah ada 190 pasal dan inipun isi pasalnya berbeda.

    Siapa yang mengganti RUU khilafah ini tidak ada keterangannya, yang ada justru tertulis disana bahwa ini tulisan taqiyyuddin.

    Apakah boleh kitab bukhari muslim kita tambahi lagi haditsnya kemudian kita edarkan ke orang-orang dengan mengatakan ini kitab bukhari muslim yang benar sekarang tanpa menyebutkan bahwa tambahan hadits hadits itu dari kita ?

  • Anakingusan // 7 Agustus 2009 pada 21:43 | Balas

    D revisi o internal spt amir ht, tanpa m’nambah nama bliau d ktb dg alasan apapun sah aja..toh pmkrn pnerus ide ust taqy bnyk d ambil jg dr ust taqy sndr. .

  • pengelolakomaht // 8 Agustus 2009 pada 17:06 | Balas

    Saudara yang baik,

    Menambah, mengurangi, atau mengubah isi karangan orang itu ada aturannya. Paling tidak sebagai berikut :

    Pertama, harus seizin pengarang atau pemegang hak penulisannya. (untuk hal ini saya yakin HT punya)
    Kedua, harus menjelaskan mana tulisan pengarang asli dan mana yang bukan tulisan pengarang. (untuk hal ini tidak dilakukan HT)
    Ketiga, harus mencantumkan identitas siapa yang memberi tambahan atau yang merubah itu. (untuk hal ini pun tidak dilakukan HT)

    Sehingga anda salah jika mengatakan itu sah, yang benar itu tidak sah dan merupakan kebohongan publik.

    Meskipun yang merubah itu murid taqiyyuddin atau bahkan anak kandungnya sendiri maka wajib dijelaskan.

    Apakah jika kitab bukhari muslim ditambahi lagi haditsnya oleh murid atau anak mereka kemudian diedarkan ke orang-orang dengan mengatakan ini kitab bukhari muslim yang asli, apakah boleh demikian?.

  • Anakingusan // 15 Agustus 2009 pada 02:27 | Balas

    Haknya ada d amir ht donk..

    • pengelolakomaht // 18 Agustus 2009 pada 12:48 | Balas

      Meskipun yang merubah itu murid taqiyyuddin atau bahkan anak kandungnya sendiri maka wajib dijelaskan.

      Apakah jika kitab bukhari muslim ditambahi lagi haditsnya oleh murid atau anak mereka kemudian diedarkan ke orang-orang dengan mengatakan ini kitab bukhari muslim yang asli, apakah boleh demikian?.

  • abdul ghani // 15 Agustus 2009 pada 08:47 | Balas

    asslkm wahai saudaraku se muslim,dari pada kita terusmenerus saling menghujat dan mencaci satu sama lain lebih baik kita berlomba-lomba dalam kebaikan toh yang memberikan surga bukan anda atau kita semua…? yang pasti ALLOH SWT yang berhak memberikan surga dan neraka..,tinggal apa usaha kita untuk mendapatkan itu..,sementara umat sudah sangat meradang dan butuh satu kepemimpinan mari kita berjuang habis-habisan menggunakan semua harta dan tenaga kita untuk memperjuang syariat islam ini bisa tegak dibumi ini.janganlah kita merasa paling benar sebab kebenaran hanya milik ALLOH SWT..,yang bisa kita usahakan adalah sajauhmana kita menolong agama ALLOH,apabila kita menolong agama ALLOH maka ALLOH pun akan menolong kita..,bersukurlah kita ada dalam agama ini semoga ALLOH memberi Hidayah kepada kita semua dan bersatu dalam menegakan agama ISLAM.dengan perasaan yang sangat mendalam marilah kita kembali kepada keridhoanNYA…!!

    • pengelolakomaht // 18 Agustus 2009 pada 12:45 | Balas

      Saudara abdul ghani yang diberkahi Allah,

      Blog ini adalah nasihat, bukan hujatan atau makian.
      Kebenaran memang milik Allah, namun Allah sangat bermurah sehingga seluruh kebenaran telah diturunkan pada manusia lewat al Qur’an dan as Sunnah.
      Menolong agama Allah adalah dengan cara menda’wahkan kebenaran, menunjukkan yang salah itu salah dan yang benar itu benar, termasuk menunjukkan kesalahan kesalahan Hizbut tahrir adalah bagian dari menolong agama Allah, agar khilafah yang tegak nantinya bukan khilafah yang bertentangan dengan syariat namun khilafah ala manhaj nubuwwah yang sesuai syariat.

  • uut // 15 Agustus 2009 pada 19:34 | Balas

    Perbedaan Antara Memberi Nasehat Dengan Menjelekkan Orang Lain
    Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, selalu ada kelemahan dan kekurangannya. Setiap manusia mesti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik mereka adalah yang bertaubat kepada Allah, menyadari akan kesalahannya, lalu menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

    Oleh karena itu nasehat menasehati menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasehati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi, pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.
    http://almalanji.wordpress.com/2007/03/27/22/

  • Hamba Alloh // 18 Agustus 2009 pada 22:20 | Balas

    Perbedaan Antara Memberi Nasehat Dengan Menjelekkan Orang Lain
    Diantara metode nasehat yang baik adalah memberi nasehat kepada orang lain … yaitu bahwa nasehat itu dengan cara rahasia sedangkan menjelek-jelekkan itu …
    http://almalanji.wordpress.com/2007/03/27/22/

  • abdul ghani // 19 Agustus 2009 pada 07:50 | Balas

    Apa tidak lebih baik itu langsung dipaparkan kepada para pemimpin HTI di indonesia karena blog ini pasti bukan orang muslim saja yang membaca tapi dari kalangan orang2 kafir,munafik, islam liberal dan dari kalangan yang tidak suka dengan syariah dan khilafah.. apabila tidak dipublikasikann dan langsung disampaikan itu insyaalloh akan lebih baik dan mengena pada sasaran,daripada dipublikasikan apabila memang menurut antum ini kurang tepat.,takutnya mereka yang awalnya suka dengan syariah dan khilafah karena membaca blog ini akhirnya dia tidak mencintai bahkan memusuhinya ini akan malapetaka buat kita semua yang mencintai syariah dan khilafah bisa tegak di bumi ini…,berarti ada kontribusinya dari antum…,afwan

  • pengelolakomaht // 19 Agustus 2009 pada 11:29 | Balas

    Saudara abdul ghani yang diberkahi Alloh,

    Sebelum membuat blog ini perjalanan panjang dalam menasehati HT sudah saya tempuh dan setelah semua yang terjadi saya memilih menyampaikan via blog mengingat kebenaran tidaklah perlu dikuatirkan atau ditutup tutupi, toh apa yang saya sampaikan justru menumbuhkan pengertian pada masyarakat tentang penerapan syariah Islam yang sebenarnya sehingga mereka tidak lagi mencibir Islam, tidak lagi salah paham pada Islam.

    Selain itu justru saya mendapat tantangan dari berbagai oknum HT yang menantang debat terbuka dan saya tahu tujuan debat terbuka selalu untuk mencari kemenangan dan menjatuhkan lawan, jadi hal itu tiada guna dan manfaat.

    Saya juga mencoba intensif terus berdiskusi dengan syabab HTI termasuk diantaranya saudara Titok namun apa yang terjadi justru saya sering dicurangi dengan berbagai cara dan teknik, bahkan koment saya yang terakhir tidak pernah dimunculkan dan beberapa koment juga dihilangkan, sehingga darisini saya melihat secara organisasi HT pun mendukung oknum mereka dalam upaya menjegal saya dan menganggap nasihat yang saya sampaikan tidak perlu diperhatikan, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka semua. Wallahul musta’an.

  • abdul ghani // 19 Agustus 2009 pada 15:08 | Balas

    Kalo saya lebih cenderung terus melakukan lobi dengan HTI apabila antum lebih mencintai persatuan umat,kalo bisa dengan jubir yang saya tahu di media adalah pak ismail yusanto.,daripada kita membongkar kelemahan2 saudra2 kita untuk memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah , itu apabila menurut antim merupakan kelemahan,karena rasa cinta kita kepada sesama muslim akan mengalahkan semua perdaan yang ada.,daripada dikemudian hari akan banyak bahkan multi tafsir dari berbagai kalangan yang berakibat kurang baik terhadap ISLAM sendiri….,dan mungkin saja akan dijadikan propaganda orang2 yang tidak suka tegaknya Khilafah..,karena semua perbuatan baik lisan maupun tulisan akan dicatat disisi ALLOH,tergantung niat kita apakah menulis disini untuk kebaikan umat atau sebaliknya..,kalo menurut antum yang paling benar untuk menegakkan Khilafah siapa dan dari harokah mana kalo HTI menurut antum sudah tidak sesuai…?soalnya saya belum menemukan yang lain….,

  • pengelolakomaht // 19 Agustus 2009 pada 21:02 | Balas

    Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Alloh,

    Tiada kurang upaya saya melobi HT dan kesimpulannya HT tidak akan mengapresiasi nasihat saya secuilpun.
    Hanya ada satu pilihan yang diberikan oleh HT bagi para aktifis HT dalam mensikapi nasihat saya yaitu terus ta’ashub pada HT atau keluar dari HT.
    Bahkan di daerah saya ini para daris HT sudah diintruksikan oleh syabab dan musyrifnya untuk tidak berdiskusi dengan saya dan apabila saya memaksa berdiskusi maka mereka diminta mengatakan silahkan temui pimpinan kami saja.
    Ini membuktikan bahwa HT telah berupaya menjauhkan nasihat untuk masuk ke daris daris nya, dan membatasi pertemuan saya hanya pada musyrif dengan maksud agar celotehan saya hanya akan menjadi angin lalu saja sebab tidak ada pihak lain yang mendengar.
    Wallahul musta’an.
    Sungguh agama ini adalah nasihat, semoga kaum muslimin senantiasa saling menasehati satu sama lain, semoga Alloh memberkahi kita semua.

  • abdul ghani // 20 Agustus 2009 pada 07:01 | Balas

    Saudaraku dalam berdakwah baik sesama muslim atau kepada non muslim kita harus bersabar karena yang memberikan Hidayah hanya ALLOH SWT saja bukan kita,saya hanya seorang pengusaha yang ingin kembali kepada aturan2 yang benar yaitu aturan ISLAM dulu pernah mengalami hal2 yang tdk sesuai dengan Syariah Islam ternyata Alloh memberikan petunjuk keada saya dengan sesuatu yang tidak terduga.,saya bukan aggota HTI tapi saya sering diundang dan ikut acara2 mereka syubhanalloh banyak dari mereka yang betul2 IKHLAS dalam memperjuangkan Tegaknya SYRIAH dan KHILAFAH dengan mengorbankan harta dan tenaga mereka tanpa lelah,apakah terbesit dalam pemikiran antum :
    1. Apakah antum sudah siap nanti dihadapan ALLOH apabila ternyata tulisan antum ini digunakan oleh yg tidak suka dengan islam menjadi Hujjah meraka untuk melemahkan saudara kita.
    2. Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata membuat segelintir orang menjadi tidak suka dengan saudara muslim lainnya.
    3. Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata ada yang tidak suka dengan Syariah dan Khilafah.
    4.Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata menghambat penerapan Syariah dan Khilafah yang sekarang sedang menggelinding terus menerus..,
    o ya antum belum sebutkan yang paling bagus menurut antum selain HTI apa..,

  • uut // 20 Agustus 2009 pada 07:14 | Balas

    saya bukan aggota HTI tapi saya sering diundang dan ikut acara2 mereka syubhanalloh banyak dari mereka yang betul2 IKHLAS.

    Lho dari mana Sdr Gani mengetaui keiklasan sseseorang?bukankah iklas ada dalam hati?

  • Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 10:17 | Balas

    Apa salahnya dg perubahan, bukankah Syaikh an-Nabhani bukan seorang Nabi yg bisa jadi saat menulis kitab ada yg Beliau alfa-kan. Kemudian para ulama pengikut Beliau menyempurnakan, menambah rujukan hadits, memperbaiki tata letak, melengkapi syarh. Anda fikir kitab mutabanat sama spt al-Quran sehingga tidak boleh di ubah.

    Wong HP zaman jadul aja segede batu bata, sekarang anda lihat sendiri kecanggihan HP terbaru. Ini bukti bahwa pemikiran manusia berkembang, kecuali anda punya pikiran sempit dan tdk mau menerima perkembangan zaman.

    Jadi, lemparkan tempurung di kepala anda dan lihatlah betapa luasnya dunia.

  • pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 13:10 | Balas

    Saudaraku abu rifa yang dikasihi Alloh,

    Tampak sekali lagi bahwa anda tidak membaca artikel yang saya tulis dengan saksama.
    Yang saya salahkan disini adalah sikap mengubah isi kitab dengan tetap disandarkan pada penulis kitab yang lama, hal ini mirip dengan perilaku pendeta nashrani, yang mengubah kitab tulisan murid murid Isa alaihisalam kemudian disandarkan pada murid murid Isa kembali.

    Jika memang kitab tulisan Taqiyyuddin diubah maka wajib disebutkan pada pembacanya bahwa ada pengubahan kata ini dan kalimat ini oleh fulan sehingga tambahan atau ubahan itu bukan dari taqiyyuddin.
    Meskipun yang merubah itu murid taqiyyuddin atau bahkan anak kandungnya sendiri maka wajib dijelaskan dan jangan disandarkan lagi kitab itu pada taqiyyuddin karena kitab itu bukan lagi karangan taqiyyuddin yang sebenarnya.
    Faktanya kitab tersebut tetap disebut dan disandarkan pada Taqiyyuddin sebagai penulisnya padahal yang sama hanya judulnya adapun isinya telah diubah-ubah. Maka menyandarkan pada taqiyyuddin inilah yang saya katakan salah karena hal ini berarti kedustaan yang nyata.

    Apakah boleh jika kitab bukhari muslim ditambahi lagi hadits-haditsnya oleh muridnya dari yang asalnya 10 ribu-an hadits menjadi 15 ribu hadits, kemudian diedarkan ke orang-orang dengan mengatakan ini kitab bukhari muslim yang asli, apakah boleh demikian?.

  • Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 14:05 | Balas

    Analogi yg kacau dan keliru, mosok anda samakan perubahan kitab Syaikh Taqi dg perubahan injil atau perubahan sahih Bukhari. Ini tdk sepadan bung, injil adalah kitab suci, hadits ahih Bukhari adalah wahyu Alah swt melalui lafadz Muhammad saw.

    Syaikh Taqi adalah manusia biasa bukan Nabi, bisa saja salah dan alfa, anda fikir syabab HT mengkultuskan Syaikh Taqi sebagai sorang Nabi, atau malah anda sendiri yg mengkultuskan sehingga kitab2-nya tdk boleh di ubah.

    Mantan HT juga

  • pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 14:21 | Balas

    Saudara abu puari yang dikasihi Allah,

    Subhanallah, sungguh hidayah hanya milik Allah semata, mohon dipahami dahulu apa yang saya sampaikan, dan mohon jangan dengan emosi.
    saya tidak mengatakan injil namun saya katakan kitab karya murid Isa alaihissalam, saya juga tidak mengatakan hadits dalam shahihain yang dirubah haditsnya namun saya katakan ditambahi hadits lain yang juga shahih atau dikurangi jumlah haditsnya, jadi tidak ada wahyu yang diubah seperti asumsi anda tersebut.

    Jadi masalahnya bukan perubahannya namun penyandarannya pada penulis lama, misalnya shahih bukhari yang berisi 3000-an hadits diringkas menjadi 1000-an hadits lalu disebarluaskan dengan mengatakan inilah shahih bukhari karya imam bukhari, maka hal itu kedustaan.
    Meskipun tidak berdosa meringkas shahih bukhari namun menjadi berdosa jika hal itu disandarkan pada Imam Bukhari karena itu kedustaan.

  • Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 15:06 | Balas

    And masih berkilah, sebetulnya yg mau anda katakan bahwa injil sekarang telah di ubah & di tambah oleh tangan2 jahat. Kemudian anda analogikan dg kitab Syaikh Taqi, tentu nggak sepadan. Yang satu kitab suci wahyu Allah swt yg di acak2 manusia, yg lain kitab karangan manusia biasa (bukan Nabi).

    Jujurlah sebagai muslim.

  • pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 15:22 | Balas

    Saudaraku yang budiman,

    Saya tidak ada niat berkilah, silahkan anda cek ulang tulisan saya sebelumnya,
    perlu anda ketahui bahwa bible bukanlah injil karena injil diturunkan pada Nabi Isa sementara bible adalah disandarkan pada tulisan tokoh tokoh yang dianggap sebagai murid yesus termasuk paulus yang sebenarnya murid palsu.

    Kitab kitab yang diklaim tulisan murid Isa ini yang sebenarnya juga bukanlah injil ternyata masih diubah lagi oleh para pendeta zaman konstantin namun perubahannya tetap disandarkan pada murid murid Isa.

    Nah yang saya maksudkan adalah pengubahan terakhir inilah yang serupa dengan apa yang dilakukan HT.

    Alhamdulillah setelah keluar dari HT saya sedikit mempelajari kristologi, mengingat anda juga mengaku mantan HT mungkin bisa anda coba juga mempelajarinya agar lebih nyambung berdiskusi dengan saya :)

  • Abu Rifa al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 15:43 | Balas

    Hihihi.. injil adalah translasi dari bahasa inggris bible, yg diyakini oleh kaum nasrani sebagai kitab suci. Anda harus lihat perspektif mereka dong..

    Nah ketika injil/bible yg asli di ubah dan di tambah oleh mereka, ini anda permasalahkan dan anda analogikan dg kitab Syaikh Taqi, jelas nggak sepadan. Kok masih berkelit?

  • pengelolakomaht // 20 Agustus 2009 pada 16:04 | Balas

    Saudaraku abu rifa yang diberkahi Allah,

    Perspektif kaum kristen yang salah itu masak kita jadikan acuan ?
    Yang benar bible itu bukan injil namun hanyalah hasil karya tokoh tokoh yang diklaim sebagai murid Isa. Ini yang disebut perjanjian baru, adapun yang disebut perjanjian lama adalah klaim bahwa itu taurat.
    Jadi Injil dan bible itu sama sekali berbeda.

    Jika anda membaca bible anda akan temukan ayat ayat yang tidak mungkin itu wahyu yang diturunkan pada Isa maupun Musa. Jadi bible bukan injil yang diubah namun bible adalah kitab kitab yang sama sekali berbeda.

    Kitab kitab yang diklaim tulisan murid Isa ini ternyata masih diubah lagi oleh para pendeta zaman konstantin namun perubahannya tetap disandarkan pada murid murid Isa.

    Nah yang saya maksudkan adalah pengubahan terakhir inilah yang serupa dengan apa yang dilakukan HT.
    Semoga Alloh memudahkan anda memahami kekeliruan HT yang mengubah hasil karya orang lain namun masih disandarkan pada pengarang lama.

  • Abu Rifa Al-Puari // 20 Agustus 2009 pada 20:56 | Balas

    Sekarang begini, anda tanyakan sama orang kristen Amerika apa kitab mereka, jawabannya bible. Anda tanyakan sama cina kristen apa kitab mereka, jawabannya injil. Bedanya dimana, kalau bukan hanya sekedar translasi?

    Saya yakin anda menyadari hal ini, hanya ego menang2-an yg membuat anda tdk mengakuinya. Sama ketika ego anda bermain dalam mengkritik HT, entah diperlakukan apa anda selama di HT sehingga begitu besar kebencian anda sama HT.

    Saya juga mantan HT, tetapi saya berlapang dada dalam menerima perbedaan, di tambah fikiran positif saya bahwa setiap manusia punya kelemahan termasuk petinggi HT. Dengan demikian tdk akan timbul kebencian.

    Kebencian akan merusak jiwa/emosi anda sendiri, begitu kata psikolog. Anda bisa lihat acara ust Danu di TPI setiap Sabtu & Ahad pagi, salah satu nasehatnya agar penyakit sembuh adalah hilangkan kebencian dan dendam.

    Hati2 anda bisa stroke nanti.

  • msitompul2008 // 21 Agustus 2009 pada 10:33 | Balas

    Abu Rifa wrote:

    Apa salahnya dg perubahan, bukankah Syaikh an-Nabhani bukan seorang Nabi yg bisa jadi saat menulis kitab ada yg Beliau alfa-kan. Kemudian para ulama pengikut Beliau menyempurnakan, menambah rujukan hadits, memperbaiki tata letak, melengkapi syarh. Anda fikir kitab mutabanat sama spt al-Quran sehingga tidak boleh di ubah.

    komen:
    Perubahannya sih tidak salah, apalagi kalau perubahan tata letak. tapi coba perhatikan pernyataan mas pengelola ini apakah perubahan itu hanya sekedar tata letak itu???

    Bagaimanapun juga mengubah sesuatu sperti artikel ilmiah milik syaihk taqi tsb dengan menambah rujukan, menambah pasal tetap tidak bisa dibenarkan apalgi begitu saja dinisbahkan tanpa penjelasan apa-apa. Saya justru curiga, tindakan tsb adalah untuk memaksakan “kesucian” kitab tsb sehingga tetap diakui (tidak dikritisi) oleh para anggota-anggotanya. Mungkin jadi lucu kali ya, jika pada kitab yang ditulis seorang syaikh dikoreksi oleh kader-kader ht yang konon katanya minus syaikh or ulama hehehe…

    abu rifa said:
    Wong HP zaman jadul aja segede batu bata, sekarang anda lihat sendiri kecanggihan HP terbaru. Ini bukti bahwa pemikiran manusia berkembang, kecuali anda punya pikiran sempit dan tdk mau menerima perkembangan zaman.

    komen:
    analogi yang lebih ngawur lagi Bung. tulisan ideologis disamakan dengan kemajuan teknolgi. Saya lebih setuju dengan analogi mas mantan pengelola ini karena di lapangan memang saya lihat orang-orang ht terkadang menganggap tulisan-tulisan syaikh taqi juga seperti kitab suci juga he..he..he…

    abu rifa said:
    Jadi, lemparkan tempurung di kepala anda dan lihatlah betapa luasnya dunia..

    komen:
    emang anda sudah melemparkan tempurung di kepala anda? Datang-datang langsung memvonis begini dan begitu. Oya mas, perlu anda ketahui apa yang dilakukan oleh mas pengelola ini masih jauh lebih sopan dibandingkan dengan tulisan-tulisan kader2 ht yang sering saya jumpai bertebaran di internet..

    • Abu Rifa Al-Puari // 21 Agustus 2009 pada 18:46 | Balas

      Bang situmpul, mudah2-an bukan berotak tumpul :)

      Justru dipermasalahkan kitab nggak boleh diubah, emang kitab suci.

  • msitompul2008 // 21 Agustus 2009 pada 10:46 | Balas

    Abu Rifa Al-Puari:

    Sekarang begini, anda tanyakan sama orang kristen Amerika apa kitab mereka, jawabannya bible. Anda tanyakan sama cina kristen apa kitab mereka, jawabannya injil. Bedanya dimana, kalau bukan hanya sekedar translasi?

    komen:
    ah masa sih hanya sekeder masalah translasi? Coba deh, tanya temanmu yang kristen, benar ga dugaanmu itu?

    sebagai contoh saja. saya pernah dengar ada berbagai macam versi injil. ada injil markus, injil barnabas dan injil lain-lain. pernakah kamu mendengera ada bibble markus, bible barnabas dll? kalo tidak kenapa??

    salam eyel-eyelan.

    • Abu Rifa Al-Puari // 21 Agustus 2009 pada 18:49 | Balas

      Orang batak kan banyak kristen bang, tanya aja ndiri..

      Lantas bang tumpul menamai injil dalam bahasa Inggris?

  • pengelolakomaht // 21 Agustus 2009 pada 13:56 | Balas

    Saudaraku abu rifa yang dikasihi Allah,

    Perlu anda ketahui bahwa kristen menyebut kitab mereka dengan alkitab dan inilah transliterasi yang benar karena isi alkitab bukanlah injil namun dua hal yaitu perjanjian lama dan perjanjian baru.
    Tapi saya menyadari ketidak mengertian anda mungkin karena anda belum pernah mempelajari kristologi, saya berlapang dada atas semua ini, semoga suatu saat nanti anda bisa mengerti.

    Namun intinya yang ingin saya sampaikan bukanlah masalah perubahannya NAMUN PENYANDARAN PADA PENULIS LAMA SETELAH KITAB ITU DIUBAH UBAH OLEH ORANG SESUDAHNYA.

    Semoga anda mengerti apa yang saya maksudkan, semoga Allah memudahkan kita semua, Barokallahufikum.

    • Abu Rifa Al-Puari // 21 Agustus 2009 pada 18:52 | Balas

      Hehehe.. kesombongan anda makin tampak, padahal mungkin baru baca kitab Ahmed Deedat doang. Sekarang anda berkelit dg injil perjanjian lama dan baru, padahal sebelumnya debat kita antara injil dan bible.

      Pertanyaan yg sama buat anda spt kepada si tumpul, apa anda sebutkan injil dalam bahasa Inggris?

      • pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:12

        Saudaraku yang diberkahi Allah,

        Justru andalah yang berkelit dengan memulai memperdebatkan injil, padahal saya tidak mengkritik perubahan kitab namun yang saya kritik adalah PENYANDARAN PADA PENULIS LAMA SETELAH KITAB ITU DIUBAH UBAH OLEH ORANG SESUDAHNYA.

        Untuk masalah injil silahkan anda melihat dari perspektif umat kristen bahwa bible (alkitab) itu inijil, sedangkan saya melihat dari perspektif kristolog muslim bahwa bible (alkitab) itu bukan injil yang diturunkan pada nabi Isa.
        Untuk masalah ini saya tidak akan koment lagi karena akan jauh dari tema dan maksud saya.

        Saya tekankan sekali lagi bahwa apa yang saya bahas disini bukanlah masalah perubahan kitabnya NAMUN PENYANDARAN PERUBAHAN ITU PADA PENULIS LAMA SETELAH KITAB ITU DIUBAH UBAH OLEH ORANG SESUDAHNYA.

        Barokallohufikum.

  • faraby almakassary // 21 Agustus 2009 pada 14:47 | Balas

    cariki yang otentik dr riwayat atau yang pas silsilah keluarganya,gituan kok REPOT-REPOT…..
    HAI ORANG-ORANG BERIMAN TOLONGLAH AGAMA ALLAH NISCAYA ALLAH AKAN MENOLONGMU terutama dari koma aneh

    salam dari sodaramu faraby dr HIZBUT-TAHRIR MAKASSAR

  • abdul ghani // 21 Agustus 2009 pada 20:14 | Balas

    untuk sdr/sdri uut ini sebagian kecil saja yang saya ungkapkan ada saudara saya yang beliau pimpinan pesantren yang sudah 2 tahun lebih 3 tahun kurang aktif di HTI..,saya sering melihat beliau mengajar para anggota HTI pagi/siang sampe malam selama 2 atau 3 tahun,biasanya kalo beliau mengajar ditempat lain pulang diberi ongkos saya tanya apa di HTI juga dibayar…?beliau hanya tersenyum dan hanya menjawab kita harus banyak investasi untuk di AKHERAT kelak…,selama 2 atau 3 tahun apa sdr/sdri mau mengajar diberbagai tempat menggunakan ongkos/bensin dari uang anda sendiri…???tanpa menerima upah sedikitpun…??? apakah beliau tipe orang yang gila harta/materi atau mencari ridho ALLOH IKLAS dalam beramal…???tidak lama berselang ternyata benar dalam ALQUR’AN,Apabila kita menolong agama ALLOH maka ALLOH pun akan menolong kita,beliau tidak punya rumah.,ngontrak rumahpun dengan kondisi yang sangat sederhana sekali…,tapi apa yang terjadi malam kurang lebih jam 21:00 ada tamu dari kalimantan tanpa tahu siapa dia dan darimana dia diskusi mengenai ISLAM sampai -/+ jam 24:00,sebelum pulang tamu yg dari kalimantan bilang “saya tahu ustad butuh tempat tinggal ustad jangan menolak rizqi dari ALLOH.,saya ada sedikit rizqi supaya ustad punya rumah sendiri”..,bisa anda bayangkan nilainya sampe 100jt lebih lho..,apakah menurut sdr/sdri uut ini bukan imbalan yang telah ALLOH berikan kepada hambanya yang IKHLAS…????saya sendiri masih belum tergambar apa saya kuat hampir 3 tahun terus berdakwah seperti beliau..,tapi mudah2 aja saya bisa mengikutinya walau dalam persi lain…,ini baru sebagian yang sangat kecil belum yang lainnya…,semoga anda maklum

    • zul // 21 Agustus 2009 pada 22:00 | Balas

      jumhur ulama mengatakan syarat amal disebut amal sholih itu ada 2:

      1.niat ikhlas karena Allah
      2.sesuai dg ketentuan syariat

      masalah keikhlasan dalam beramal aliran2 sesat seperti Ahmadiyah,LDII,lia eden dan yg lainya,jangan pernah menganggap bahwa mereka tidak punya keikhlasan dalam menyebarkan fahamnya,karna dengan modal keikhlasan pula mereka bisa meraih simpatik pengikutnya,tapi apakah itu cukup? anda juga pasti sepakat untuk mengatakan bahwa mereka menyalahi ketentuan syariat, nah untuk itulah adanya diskusi membedah fikroh HTI ini adalah untuk menguji kesesuaiannya dengan syariat,yaitu dengan cara memberikan hujjah yg relevan entah anda sebagai pihak yg merasa bertanggung jawab meluruskan fikroh HTI,ataukah anda berada dipihak yg bertanggung jawab untuk meluruskan pemahaman KOMA HT,dan tidak dg mengait-ngaitkan hubungan2 yang tidak relevan,toh kasus yg anda kemukakan itu juga seringkali terjadi diharokah lain,bahkan aliran sesatpun demikian,jadi landasan diskusi kita adalah penalaran bukan penerawangan.

    • pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:22 | Balas

      Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Allah,

      Siapa saja yang yakin bahwa ia benar tentu akan mempertahankan dan menda’wahkan pemahamannya sekuat tenaga bahkan dengan taruhan nyawa.
      Siti Jenar saja sampai rela dihukum mati dan para teroris juga rela hidup sebagai pelarian, bersembunyi, dan terlunta lunta seumur hidup asalkan bisa terus mengajarkan paham terorisnya.
      Begitu pula para misionaris salibis sangat istiqomah dalam da’wah kufur mereka.
      Sehingga tak heran jika banyak aktifis HT yang berda’wah dengan ikhlas untuk menyebarkan pemahamannya semisal saudara anda yang pimpinan pesantren yang sudah 2 tahun lebih 3 tahun kurang aktif di HTI tersebut.
      Saya sendiri selama aktif di HT dulu bahkan melakukan lebih dari itu mengingat saya aktif di HT saat kroni orba masih kuat. Namun setelah tahu kekeliruan HT hal itu bukan menjadi kebanggaan bagi akan tetapi menjadi tangis penyesalan saya kepada Allah subhanahu wata’ala.

  • abdul ghani // 21 Agustus 2009 pada 20:32 | Balas

    Untuk saudaraku pengelolakomaht tidak ada tanggapan dari apa yang saya paparkan…?? apa memang tujuannya untuk itu…??karena tidak ada tanggapan jadi bisa multi tafsir donk..??,lebih baik kita banyak bertobat aja karena sekarang bulan Rhamadahan dan saya anjurkan tetap yang paling baik adalah berkonsultasi dengan sesama muslim jangan saling membongkar kelemahan muslim satu dengan lainnya…,jangan sampai setelah KOMA baru kita sadar oh yah perbuatan saya salah….,segala tindakan ada balasannya dari ALLOH……,

    • pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:42 | Balas

      Saudaraku abdul ghani,

      Semua efek negatif yang anda tuliskan itu hanyalah was-was dan yang meniupkan was-was ke dada manusia adalah syetan.
      Bicara yang lebih dari HTI maka jawabannya adalah mereka yang tidak ikut menjadi anggota HTI, insyaAllah.

  • uut // 21 Agustus 2009 pada 21:25 | Balas

    untuk sdr Gani

    semua apa yang anda sampaikan bentuk dari perbuatan dhohir dari yang kalian ketaui,namun dalam masalah niat kita tidak mengetaui apakah mereka berniat karena Alloh atau camkan wahai saudaraku…

    Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ’sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ’semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)

    agar lebi tau tentang iklas
    http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/05/17/anda-ingin-ikhlas/

  • zul // 21 Agustus 2009 pada 21:29 | Balas

    memang ngga ada yg beda tipikal kader2 HTI tuh,ngga asna,ngga arie.andy qutuz nambah lagi sekarang Abu Rifa’,Allah ya Robb,ngga aneh kalo HTI sulit tuk memikat hati objek dakwah.

  • abdul ghani // 21 Agustus 2009 pada 23:15 | Balas

    untuk sdr/sdri uut
    ini yang sdr/sdri maksud
    Banyak Berdoa
    Menyembunyikan Amal Kebaikan
    Memandang Rendah Amal Kebaikan
    Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
    Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
    Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
    Ingin Dicintai, Namun Dibenci

    saya yakin beliau sudah melampauinya dengan beliau tidak menyebut2 kebaikan yg sudah beliau lakukan sudah ada tanda2nya..,beliau terlihat masih merasa kurang padahal saya lihat amalanya begitu banyak,dan banyak lagi yang itu tidak beliau sebutkan itu saya sendiri yang memperhatikan beliau..,harus donk kita melihat orang2 yang amalanya lebih dari kita bukan hanya mencari-cari kesalahan saja…,

    • pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:32 | Balas

      Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Allah,

      Siapa saja yang yakin bahwa ia benar tentu akan mempertahankan dan menda’wahkan pemahamannya sekuat tenaga bahkan dengan taruhan nyawa.
      Siti Jenar saja sampai rela dihukum mati dan para teroris juga rela hidup sebagai pelarian, bersembunyi, dan terlunta lunta seumur hidup asalkan bisa terus mengajarkan paham terorisnya.
      Begitu pula para misionaris salibis sangat istiqomah dalam da’wah kufur mereka.
      Sehingga tak heran jika banyak aktifis HT yang berda’wah dengan ikhlas untuk menyebarkan pemahamannya semisal saudara anda yang pimpinan pesantren yang sudah 2 tahun lebih 3 tahun kurang aktif di HTI tersebut.
      Saya sendiri selama aktif di HT dulu bahkan melakukan lebih dari itu mengingat saya aktif di HT saat kroni orba masih kuat. Namun setelah tahu kekeliruan HT hal itu bukan menjadi kebanggaan bagi akan tetapi menjadi tangis penyesalan saya kepada Allah subhanahu wata’ala.

      • pengelolakomaht // 22 Agustus 2009 pada 08:45

        Saudaraku abdul ghani,

        Semua efek negatif yang anda tuliskan (kalo tidak salah ada empat) itu hanyalah rasa was-was dan ketahuilah bahwa yang meniupkan was-was ke dada manusia adalah syetan.
        Adapun pertanyaan terakhir anda,
        Bicara yang lebih dari HTI maka jawabannya adalah mereka yang tidak ikut menjadi anggota HTI, insyaAllah.

  • abdul ghani // 22 Agustus 2009 pada 11:11 | Balas

    tidak ikhlas donk karena antum sebut2 amal yang sudah dilakukan “Saya sendiri selama aktif di HT dulu bahkan melakukan lebih dari itu mengingat saya aktif di HT saat kroni orba masih kuat”
    Pertanyaan itu bukan waswas”
    1. Apakah antum sudah siap nanti dihadapan ALLOH apabila ternyata tulisan antum ini digunakan oleh yg tidak suka dengan islam menjadi Hujjah meraka untuk melemahkan saudara kita.
    2. Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata membuat segelintir orang menjadi tidak suka dengan saudara muslim lainnya.
    3. Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata ada yang tidak suka dengan Syariah dan Khilafah.
    4.Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila tulisan antum ternyata menghambat penerapan Syariah dan Khilafah yang sekarang sedang menggelinding terus menerus..,”

    Bicara yang lebih dari HTI maka jawabannya adalah mereka yang tidak ikut menjadi anggota HTI, insyaAllah.
    Berarti menurut antum lebih baik JIL/Jaringan Islam Liberal dari pada HTI ….?????????????

    • pengelolakomaht // 24 Agustus 2009 pada 10:59 | Balas

      Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Saya tidak menyebut amal saya namun saya hanya mengatakan dulu saya lebih dari itu, lebih apa ? dan amalan apa? tidak saya sebutkan. Tidak seperti saudara yang justru menyebut-nyebut amalan kakak saudara itu. Dan jika anda katakan tidak ikhlas memang betul karena saya berharap justru apa yang dulu pernah saya lakukan untuk HT tidak pernah terjadi.

      Pertanyaan anda tersebut jelas was was mengingat probabilitas hal negatif itu terjadi sangat kecil namun dibesar-besarkan oleh syaitan agar saya berhenti menyerukan nasihat pada HT.

      Kalo bicara JIL maka jawabannya adalah lebih baik mereka yang tidak ikut JIL daripada yang ikut JIL.

  • FARABY ALMAKASSARY // 22 Agustus 2009 pada 12:31 | Balas

    UNTUK PENGELOLA KOMA ANEH ,pernyataannya sering ANEH ,ia sendiri punya niat yang aneh dengan masih memendam iri,dengki&dendam. kemudian mengaplikasikannya dengan membaca buku HTI sepotong sepotong sesuai kepentingan mereka ,sy sarankan hilangkan dulu niat aneh antum, lalu baca buku hati dengan cara menyeluruh, baru antum tentukan mana yang benar HTI ang punya konsep atau antum yang mengoreksi tanpa ada solusi konsep yang jelas

    SALAM DARI FARABY HIZBUT TAHRIR MAKASSAR UNTUK pengelola KOMA ANEH

    • zul // 22 Agustus 2009 pada 14:29 | Balas

      @faraby:

      kedengkian justru ada pada ungkapan kata2 anda,MAS KOMA HT membedah fikroh HT dengan argumentasi ilmiyahnya,bila memang mas KOMA HT keliru maka sajikanlah hujjah yang ilmiyah juga,tidak dengan mengaitkan sangkaan yg tidak ada kaitannya dengan etika diskusi

    • pengelolakomaht // 24 Agustus 2009 pada 11:06 | Balas

      Saudara faraby yang diberkahi Allah,

      Mungkin saudara berminat berdiskusi dengan saya tentang tema-tema yang sudah saya tulis, silahkan.
      Hatu burhanakum in kuntum shodiqien.

  • abdul ghani // 24 Agustus 2009 pada 13:44 | Balas

    tidak ada komentar yang memuaskan atas 4 pertanyaan saya padahal sangat simpel YA atau TIDAK dan ini jawan dari antum “Bicara yang lebih dari HTI maka jawabannya adalah mereka yang tidak ikut menjadi anggota HTI, insyaAllah.” merupakan jawaban yang tidak bertanggunng jawab karena menjadi banyak penafsiran…..,harusnya antum tunjukan ini harokah yang menurut antum paling benar nanti bisa didiskusikan lagi…,itu kalo antum punya satu pendirian

  • pengelolakomaht // 24 Agustus 2009 pada 14:05 | Balas

    Saudara abdul ghani yang diberkahi Allah,

    Semua pertanyaan anda sama intinya yaitu : Apakah antum sudah siap dihadapan ALLOH apabila ada efek negatif dari blog ini.

    Dan jawabannya siap tidak siap semua yang kita lakukan harus dipertanggung jawabkan di yaumul mizan kelak termasuk kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan HT selama ini.
    Tentunya dosa saya akan lebih besar apabila saya berhenti menasehati HT sebab itu kewajiban saya sebagai saudara sesama muslim.

    Tentang harokah pendirian saya tidak pernah berubah yaitu semua punya potensi berbuat salah.

    Dalam hal ini marilah kita merujuk kepada hadits dari Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabul fitannya,

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    “… Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama‘ah dan imam kaum Muslimin.” Kemudian Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan imam lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “fa’tajil tilka firoqo kullaha Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.”

  • msitompul2008 // 24 Agustus 2009 pada 15:33 | Balas

    abdul gani,

    hhmmm pertanyaan yang sangat bagus, apalagi klo 4 pertanyaan tsb ditujukan kepada diri sendiri (internal HT) dulu sebelum ditanyakan ke pada yang lain….

    btw, ada yang tau ga sih, katanya (dari web site hti sih) kenapa ada 200 aktifitas ht di Turki pada ditangkapin? bukankah pemeritntahan turki yang skr digawaingi erdogan adalah aktifis islam? kira-kira kenapa ya? berita benar or hanya sensasi memojokkan kelompok lain or adu domba dari pihak-pihak tertentu?

  • abdul ghani // 24 Agustus 2009 pada 16:26 | Balas

    untuk msitompul2008
    dibaca semuanya yah…,itu dari webnya

    Pernyataan Hizbut Tahrir: Penguasa Turki Telah Kehilangan Syaraf Malunya

    بسم الله الرحمن الرحيم

    «إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

    Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Apa Saja Sesukamu

    Penguasa Turki Benar-benar Telah Kehilangan Syaraf Malunya,

    Sehingga Tidak Lagi Punya Rasa Malu!!

    Penguasa Turki mengatakan di leaflet-leaflet pemerintah dan media massa mereka bahwa juru bicara resmi Hizbut Tahrir menjalin kontak dengan salah seorang agen Mosad!

    Penguasa Turki mengatakan bahwa Hizbut Tahrir menginginkan dari konferensinya yaitu konferensi Khilafah yang direncanakan pada tanggal 26 Juli 2009, melakukan aksi pemboman, aksi terorisme…!!

    Penguasa Turki mengatakan bahwa Hizbut Tahrir ingin membunuh Erdogan, demi kepentingan Yahudi dan dengan sponsor dari Yahudi!

    Penguasa Turki berkata dan mengatakan …!

    Begitulah mereka berkata!

    Penguasa Turki, ahli waris dari penjahat Yahudi Mushthafa Kamal, yang dahulu telah melaksanakan rencana-rencana Inggris dan Yahudi untuk menghancurkan Khilafah, yang kemudian menambahnya dengan rencana-rencana Amerika dengan ketulusan untuk Yahudi dan memerangi Khilafah; mengatakan bahwa Hizbut Tahrir yang tiada henti siang malam terus menerus berjuang untuk mengembalikan Khilafah, beraktivitas demi kepentingan Yahudi!

    Penguasa Turki yang menonjol dengan kelancangannya terhadap agama Allah dan telah memberi pengakuan kepada Yahudi perampas tanah Palestina sejak berdirinya, mengatakan tentang Hizbut Tahrir yang berjuang untuk mendirikan Khilafah yang akan mencabut institusi Yahudi, bahwa Hizb beraktivitas demi kepentingan Yahudi dan bahwa juru bicaranya menjalin kontak dengan salah seorang agen Mosad!

    Para penguasa Turki yang melampaui pihak yang dekat maupun yang jauh dalam mengikat kesepakatan-kesepakatan militer dan keamanan, dan melakukan manuver-manuver militer gabungan dengan institusi Yahudi, mengatakan tentang Hizbut Tahrir yang mencap kesepakatan dan manuver itu sebagai kejahatan di dalam Islam, bahwa Hizb berinteraksi dengan Mosad!

    Penguasa Turki, khususnya Erdogan, sponsor pengaturan perundingan khianat antara rezim Suria dengan institusi Yahudi yang merampas Palestina, mengatakan tentang tentara-tentara Khilafah yang mengawasi setiap pengkhianat yang berunding dengan institusi Yahudi, bahwa mereka bekerja untuk kepentingan Yahudi dan menjalin kontak dengan agen-agen Mosad!

    Penguasa Turki, khususnya Erdogan yang ditanya oleh salah seorang yang terpedaya oleh ucapa Erdogan di Davos di mana ia menampakkan keterguncangannya terhadap permusuhan Yahudi atas Gaza, kenapa ia tidak memutuskan hubungan diplomasi dengan institusi Yahudi? Erdogan menjawab bahwa tetap adanya hubungan dengan institusi Yahudi adalah lebih baik daripada memutuskannya! Mereka para penguasa itu mengatakan tentang Hizbut Tahrir yang meneriakkan kebenaran dengan lantang bahwa hubungan dengan Yahudi merupakan pengkhiatan kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukmin; bahwa Hizbut Tahrir menjalin kontak dengan agen Yahudi!

    Penguasa Turki, khususnya Erdogan, yang mengerahkan segenap daya upayanya dalam memberi perusahaan Israel hak eksploitasi tanah Turki di perbatasan dengan Suria, mengatakan tentang tentara khilafah yang membongkar upaya Erdogan menyerahkan pengekploitasian tanah tersebut kepada institusi Yahudi, bahwa Hizbut Tahrir beraktivitas untuk kepentingan Yahudi dan menjalin kontak dengan salah seorang agen Mosad!

    Begitulah, penguasa Turki telah kehilangan rasa malu! Sungguh benar Engkau ya Rasulullah SAW, di dalam hadismu yang mulia yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dari jalur Abu Mas’ud Uqbah bin Amir al-Anshari al-Badri ra., ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

    «‏إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

    Sesungguhnya di antara manusia yag paling memahami perkataan kenabian yang pertama, jika tidak punya rasa malu maka perbuat apa saja semaumu

    Wahai Kaum Muslim

    Sungguh penguasa Turki telah kehilangan syaraf malunya. Mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk memahami. Mereka memiliki pendengaran namun tidak digunakan untuk mendengar, memiliki mata namun tidak digunakan untuk melihat. Sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada. Sesungguhnya mereka telah menyaksikan dengan mata kepada sendiri, dukungan kaum muslim Turki kepada syabab Hizbut Tahrir yang ditangkap karena mereka ingin menyelenggarakan konferensi khilafah di Islambul. Ketika mereka melihat masyarakat berkumpul di Mahkamah meneriakkan takbir dan meneriakkan kalimat kebenaran menentang tindakan penguasa yang melampaui batas dengan menangkapi syabab disebabkan perjuangan mereka untuk mendirikan khilafah. Masyarakat yang berkumpul di Mahkamah itu meneriakkan tuntutan untuk membebaskan tentara khilafah… Hingga mereka berhasil mengeluarkan sejumlah orang dari syabab (dari hukuman). Ketika penguasa Turki melihat hal itu dan mengetahui bahwa Khilafah tertancap kuat di dalam hati kaum muslim yang menanti kembalinya dengan penuh kesabaran; maka penguasa mencari-cari perkataan bohong yang mereka tuduhkan kepada syabab mukmin lagi bertakwa. Maka setan mereka telah menuntunnya kepada tuduhan ini… Mereka lupa bahwa syabab Hizb dikenal di daerah-daerah mereka akan kekuatan dan ketakwaan; dan bahwa para syabab terus mengawasi para pembuat kebohongan. Mereka juga lupa bahwa perkataan bohong akan kembali kepada pemiliknya lebih cepat dari dugaan pemiliknya sendiri. Dan sesungguhnya esok hari itu begitu dekat.

    Wahai Kaum Muslim

    Sesungguhnya Hizbut Tahrir memuji Allah atas kenyataan bahwa yang mendatangkan perkataan bohong tentang Hizb adalah para penguasa yang bau busuk kerusakan mereka begitu menusuk hidung, dan aib hubungan pengkhianatan mereka dengan institusi Yahudi telah tersingkap. Hizbut Tahrir memuji Allah atas kenyataan bahwa media-media massa yang mengulang-ulang perkataan bohong itu adalah media-media massa yang dzimmah mereka telah hancur sejak beberapa waktu dulu dan ia mengangkat perkataan bohong sehingga umat meludahkannya sejak dulu. Selama mereka yang melemparkan tuduhan keadaannya seperti itu, baik penguasa maupun media massa, maka mereka tidak akan dicatat di dalam sejarah bahwa kehidupan mereka untuk Islam dan kaum muslim yang bisa mereka sebutkan di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Siapa saja yang dituduh oleh orang-orang yang kondisinya seperti itu, hendaklah dia tenang-tenang saja dalam hidupnya dan setelah matinya. Ada teladan bagi kita dalam apa yang dinukil oleh Ibn Sa’ad di dalam ath-Thabaqât al-kubrâ dari Umar ra. Ketika ia mengetahui bahwa orang yang menikamnya adalah seorang majusi kafir yang tidak bersujud kepada Allah, yang bisa ia jadikan argumentasi pada hari kiamat kelak; maka ia memuji Allah SWT. Begitulah keadaan setiap orang yang dilempari tuduhan, jika orang yang menuduh termasuk mereka yang terkategori sampah, maka hendaklah ia memuji Allah SWT.

    Sesungguhnya Hizbut Tahrir, dengan izin Allah, merupakan ilmu yang melekat di tulang dan kebaikan yang di kepalanya adalah api, hari ini atau besok akan membakar lisan orang-orang yang melemparkan tuduhan palsu dan lisan-lisan mereka yang menyebarkan perkataan bohong. Sebagaimana Allah al-Muntaqim al-Jabbâr telah berfirman sebelumnya:

    وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

    Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS al-Qamar [54]: 51)

    Akan tetapi yang demikian itu lewat begitu saja dari mereka, sehingga tidak ada dari mereka satu orang pun yang mengambil pelajaran atau mengambil ibrah! Namun yang pasti bagi mereka ada janji di sisi Allah yang tidak akan pernah diingkari.

    وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

    Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (QS Yûsuf [12]: 21)

  • anwar ibarahim // 24 Agustus 2009 pada 17:00 | Balas

    “takut dosa” adalah kebiasaan orang-orang salafi bertutur agar kelihatan santun, agar tidak kelihatan jika ia sedang MENGHUJAMKAN PISAU KEDENGKIAN kepada sodara se muslim LAYAKNYA ORANG KAFIR

  • abdul ghani // 24 Agustus 2009 pada 19:28 | Balas

    untuk pengelolakoma
    menurut saya lebih besar madhrotnya apabila blog ini terus berlanjut karena tidak menyentuh kepada inti permasalahan yang ada hanya membeberkan kekurangan itupun menurut antum merupakan kekurangan padahal belum tentu menurut hti..,yang terjadi adalah menjelekan saudara muslim yang lain,tetap segalanya bisa diusahakan dengan jalan silaturahmi,kecuali kalau antum sudah sangat meradang kepada hti sampai antum nauzhubillah jangan sampai mencap kafir.., jadi kesimpulan antum sekarang sama sekali tidak ada harokah yang baik kecuali antum sendiri…….??

    • pengelolakomaht // 25 Agustus 2009 pada 13:20 | Balas

      Saudara abdul ghani yang dimuliakan Allah,

      Sebelum menasehati orang biasanya memang syetan akan membisikkan ke dada kita madharat madharat yang akan terjadi jika kita melakukan itu sehingga kita mengurungkan diri menasehati orang lain.
      Tapi bisikan bisikan itu hanya was-was belaka adapun kebenaran tetap wajib disampaikan. Alhamdulillah sampai saat ini semua berjalan dengan baik bahkan beberapa sudah mulai tersadar dan mencoba mengkaji kembali kekeliruan yang dilakukannya.

      Blog ini alhamdulillah juga diikuti oleh para aktifis HT yang ingin mengkonfirmasi ataupun mendebat dan ini semakin membuktikan bahwa blog ini sangat bermanfaat bagi kaum muslimin karena mereka melihat HT bukan hanya dari versi saya namun juga versi pihak HT sendiri.

      Meskipun selama ini saya tidak pernah mencap kafir bahkan saya tidak pernah menyesatkan HT namun sungguh sayang dari pihak oknum HT sendiri yang sering mencap saya antek kafir yang bodoh. Dan inilah faktanya sehingga apa yang anda katakan bahwa saya mencap kafir itu sungguh bagian dari fitnah yang nyata untuk menjegal da’wah nasihat yang tulus ini.

      Saya tidak pernah juga menyimpulkan seperti yang anda katakan, kesimpulannya sudah terdapat dalam hadit shahih dari Nabi yang diriwayatkan Hudzaifah dalam shahihain diatas, silahkan disimak kembali.

      • pengelolakomaht // 25 Agustus 2009 pada 13:39

        Sedikit tambahan yang perlu saya sampaikan tentang madharat yang muncul menurut saya akan lebih besar bila blog ini tidak ada yaitu banyaknya pemuda muslim dan masyarakat yang terpengaruh dengan kekeliruan pemahaman HT sehingga semakin rusaklah pemahaman masyarakat terhadap Islam. Wallahul musta’an

      • pengelolakomaht // 25 Agustus 2009 pada 13:40

        Jika blog ini tidak ada maka kapan HT akan tahu kesalahannya ?

  • uut // 24 Agustus 2009 pada 20:34 | Balas

    Jeleknya Berdebat dan Berbantahan Mengenai Agama
    Abul Harits berkata, saya mendengar Imam Ahmad (Abu Abdillah) berkata :
    “Apabila kamu lihat seseorang suka berdebat maka jauhilah dia.”
    Dan diceritakan kepadaku tentang Abu Imran Al Ashbahani ia berkata, saya mendengar Imam Ahmad berkata : “Jangan duduk dengan orang yang suka berdebat meskipun untuk membela As Sunnah sebab sesungguhnya yang demikian tidak akan berubah menuju kebaikan.”
    Maka jika ada yang berkata : “Anda telah memperingatkan kami agar menjauhi perbantahan, percekcokan, debat dan berdiskusi dan kami tahu ini adalah kebenaran dan merupakan jalannya ulama dan para shahabat serta orang-orang yang berakal dari kaum Mukminin dan ulama yang berpandangan tajam (memiliki bashirah). Seandainya seseorang mendatangi saya dan menanyakan suatu perkara dari ahwa ini yang telah nyata dan tentang madzhab-madzhab rusak yang telah tersebar dan ia mengajak dialog dengan sesuatu yang menuntut jawaban dari saya sedangkan saya termasuk orang yang dianugerahi Allah Yang Maha Mulia ilmu dan bashirah untuk menjawab dan membongkar syubhatnya itu. Apakah saya harus tinggalkan dia mengatakan apa yang dia inginkan dan tidak dijawab dan saya biarkan dia dengan hawa nafsunya serta bid’ahnya itu dan saya tidak membantah ucapannya yang rusak tersebut?”
    Maka saya katakan di sini : “Ketahuilah saudaraku –semoga Allah merahmatimu- -. Sesungguhnya ujian yang kamu hadapi dari orang yang seperti ini tidak terlepas dari salah satu dalam tiga hal :
    Bisa jadi ia seorang yang Anda kenal baik jalannya, madzhabnya, dan kecintaannya kepada keselamatan dan keinginannya untuk menuju sikap istiqamah hanya saja ia biarkan telinganya mendengar ucapan orang-orang yang hati mereka dihuni oleh para syaithan dan berbicara dengan berbagai ucapan kekafiran lewat lisan mereka dan ia tidak mengetahui jalan keluar dari bencana yang menimpanya itu maka bisa jadi pertanyaannya adalah pertanyaan yang menginginkan bimbingan lalu ia mencari jalan keluar dari apa yang dialaminya dan mencari obat untuk mengobati sakitnya dan bisa jadi Anda rasakan ketaatannya dan aman dari penentangannya maka orang yang seperti inilah yang wajib bagimu menghentikannya dan membimbingnya menjauhi jaring-jaring tipu daya para syaithan dan hendaknya bekalmu membimbing daan menyelamatkannya itu bersumber dari Al Quran dan As Sunnah dan atsar yang shahih dari ulama ummat ini dari kalangan shahabat dan tabi’in yang tentunya semua itu harus dilakukan dengan Al Hikmah dan mau’izhah (nasihat) yang baik. Jauhilah olehmu sikap takalluf (memberat-beratkan) terhadap perkara yang tidak kamu kenal lalu kamu bawakan pendapatmu (ra’yu) dan berbelit-belit dalam pembahasan. Jika kamu lakukan maka perbuatanmu ini adalah bid’ah meskipun kamu dengan perkataanmu itu ingin (membela) As Sunnah. Karena keinginanmu menuju Al Haq akan tetapi tidak melalui jalan yang Haq merupakan kebathilan. Sedangkan ucapanmu tentang As Sunnah tapi tidak denngan tuntunan As Sunnah adalah bid’ah maka janganlah kamu carikan obat untuk shahabatmu dengan sakitnya jiwamu dan jangan harapkan keselamatannya dengan kerusakan dirimu. Maka sesungguhnya tidak dinasihati manusia itu oleh orang yang menipu dirinya sendiri. Barangsiapa yang tidak memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri maka ia tidak akan dapat memberikan kebaikan kepada orang lain. Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah berikan ia taufiq dan Allah luruskan dia dan siapa yang bertaqwa maka Allah akan menolong dan memenangkannya.” (Al Ibanah 2/540-541 nomor 679)

    Dari Abu Aly Hanbal bin Ishaq bin Hanbal ia berkata, seseorang menyurati Imam Ahmad minta izin untuk menulis kitab menerangkan bantahan terhadap ahli bid’ah dan berdialog dengan mereka untuk membantah mereka maka Imam Ahmad membalasnya :
    “Semoga Allah memperbaiki akhir hidupmu, menghindarkanmu dari hal yang tidak disenangi dan dihindari. Sebagaimana yang kita dengar dan kita dapatkan dari para Ahli Ilmu bahwa sesungguhnya mereka tidak suka berdebat dan duduk bersama ahli zaigh (yang condong kepada kesesatan, ahli bid’ah). Bahwasanya perkara agama ini adalah menerima dan kembali (merujuk) kepada apa yang diterangkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bukan duduk bersama ahli bid’ah dan ahli zaigh untuk membantah mereka karena sesungguhnya mereka akan mengelabui kamu (dalam perdebatan itu) sedangkan mereka tetap tidak akan kembali. Maka yang selamat –Insya Allah– adalah menjauhi majelis mereka dan tidak memperdalam pembahasan (bersama mereka) tentang bid’ah dan kesesatan mereka. Oleh sebab itu hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah dan kembali kepada apa yang memberi manfaat baginya pada masa mendatang (yakni akhirat) berupa amalan shalih yang ia usahakan untuk dirinya dan hendaknya janganlah ia termasuk orang yang mengada-adakan urusan karena ketika perkara baru itu keluar darinya ia membutuhkan hujjah dan berarti ia membawa dirinya kepada sesuatu yang mustahil dan ia mencarikan hujjah bagi perkara yang ia ada-adakan itu dengan sesuatu yang haq dan yang bathil agar ia dapat menghiasi bid’ahnya dan apa yang ia ada-adakan itu. Dan yang lebih berbahaya lagi dari itu semua adalah kalau ia menuliskannya dalam sebuah kitab yang memuat perkara tersebut, ia akan menghiasinya dengan perkara yang haq dan bathil walaupun Al Haq itu telah jelas dan bukan seperti itu. Dan kami memohon kepada Allah agar memberi taufiq untuk kami dan kamu, Wassalamu’alaika.” (Al Ibanah 2/471-472 nomor 481)

    Dari Yahya bin Sa’id ia berkata, Umar bin Abdul Aziz berkata :
    “Siapa yang menjadikan agamanya bahan perdebatan dan perbantahan maka ia adalah orang yang paling sering berpindah-pindah (pemikirannya).” (Asy Syari’ah 62 dan Ad Darimy 1/102 nomor 304)

    Dari Abdus Shamad bin Ma’qil ia berkata, saya mendengar Wahb mengatakan :
    “Tinggalkanlah percekcokan dan perdebatan dalam urusanmu karena sesungguhnya kamu tidak mungkin melemahkan salah satu dari dua lawanmu yaitu seorang yang lebih alim darimu maka bagaimana mungkin kamu membantah dan mendebat orang yang jelas lebih alim dari kamu? Dan seorang yang kamu lebih alim dari dia maka apakah pantas kamu membantah dan mendebat orang yang lebih bodoh dari kamu? Sedangkan ia tidak akan mentaati kamu, putuslah yang demikian atasmu.” (Asy Syari’ah 64)

    Dari Ma’n bin Isa ia berkata, pada suatu hari Jum’at Imam Malik bin Anas keluar dari mesjid sambil bersandar ke lenganku, seseorang bernama Abul Huriyyah menyusulnya –ia diduga seorang Murjiah– katanya :
    “Hai Abu Abdillah, dengarkanlah! Saya mengajakmu bicara tentang sesuatu. Dan saya akan membantahmu dan mengeluarkan pendapatku kepadamu.”
    Beliau berkata : “Kalau kamu mengalahkanku bagaimana?” Orang itu berkata : “Kalau aku menang kamu ikut saya.” Kata beliau lagi : “Bagaimana jika datang seseorang lalu mengajak kita berdebat dan mengalahkan kita?” Laki-laki itu menjawab : “Kita ikuti dia.” Maka berkatalah Imam Malik rahimahullah :
    “Hai hamba Allah! Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membawa agama yang satu tapi saya melihat kamu selalu berpindah dari satu agama ke agama yang lain.” (Ibid 62)

    Imam Abu Bakr Al Ajurri berkata :
    Jika ada yang berkata : “Apabila seseorang telah diberi iilmu oleh Allah Azza wa Jalla lalu seseorang mendatanginya bertanya tentang agama ini, orang itu membantah dan mendebatnya. Bagaimana pendapat Anda bolehkah ia mendebat orang itu sampai ditegakkan hujjah dan dibantah ucapannya?”
    Katakan kepadanya : “Inilah yang dilarang kita melakukannya dan inilah yang telah diperingatkan para imam kaum Muslimin yang terdahulu.”
    Oleh sebab itu jika ada yang berkata : “Lalu apa yang harus kita perbuat?”
    Katakan kepadanya : “Jika ia menanyakannya kepadamu dengan pertanyaan untuk mencari petunjuk kepada jalan yang haq tanpa ingin berdebat maka tunjukilah dia dengan tuntunan yang berisi keterangan ilmu dari Al Quran dan As Sunnah serta pendapat para shahabat dan para imam kaum Muslimin. Adapun jika ia ingin berdebat denganmu dan ia membantahmu maka inilah yang tidak disukai ulama untukmu maka jangan kamu berdialog dengannya dan berhati-hatilah terhadapnya dalam agamamu.”
    Kemudian jika ada yang berkata : “Apakah kami biarkan mereka berbicara dengan kebathilan dan kami berdiam diri dari mereka?”
    Katakan kepadanya : “Diamnya kamu dari mereka (tidak memperdulikan mereka), menyingkirnya kamu dari mereka jauh lebih menyakitkan bagi mereka daripada kamu berdiskusi dengan mereka, demikianlah yang dikatakan Salafus Shalih.”

    http://www.google.com/cse?cx=009661486473400383057%3Ahqzodltpki4&q=Hizbut+Tahrir&sa=Telusuri&cof=FORID%3A0

  • abdul ghani // 24 Agustus 2009 pada 21:27 | Balas

    ini tanggal 24 perlu saya komentari karena antum selipkan diatas tanggal 22

    “Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Saya tidak menyebut amal saya namun saya hanya mengatakan dulu saya lebih dari itu, lebih apa ? dan amalan apa? tidak saya sebutkan. Tidak seperti saudara yang justru menyebut-nyebut amalan kakak saudara itu. Dan jika anda katakan tidak ikhlas memang betul karena saya berharap justru apa yang dulu pernah saya lakukan untuk HT tidak pernah terjadi.

    Pertanyaan anda tersebut jelas was was mengingat probabilitas hal negatif itu terjadi sangat kecil namun dibesar-besarkan oleh syaitan agar saya berhenti menyerukan nasihat pada HT.

    Kalo bicara JIL maka jawabannya adalah lebih baik mereka yang tidak ikut JIL daripada yang ikut JIL.”

    saya sedang memaparkan saudara dalam berdakwah demikian siang malam tanpa ada satu rupiahpun yang mengalir kemudian antum jawab “selama aktif di HT dulu bahkan melakukan lebih dari itu mengingat saya aktif di HT saat kroni orba masih kuat”ini jelas amalannya adalah dakwah bahkan antum lebih dari itu jadi disini jelas antum memaparkan amalan dakwah antum,berarti tidak ikhlas kan amal baik tu bagusnya disembunyikan jangan di ungkapkan..,kalo saudara saya wajar saya sebutkan karena beliaupun tidak tahu..,toh kita harus mencontoh kalo ada yang baik dari orang lain dan boleh di informasikan sama yang lain.,bukan kejelekan yang di umbar malah jadi ghibah nantinya.,
    kalo saling nasehat-menasihati sangat dianjurkan tapi yang sesuai syariat donk
    perbanyak silaturahmi,tidak mengexpose sama orang lain selain yang kita nasehati tujuannya kita mau nasihati tapi malah diumumkan di publik itu sudah salah kaprah,jangan terlalu membeci karena suatu saat akan jadi sahabat,jangan terlalu mencintai karena suatu saat bisa menjadi musuhmu,jadikanlah cinta itu karena ALLOH bertemu dan berpisahpun karena ALLOH,semoga ALLOH melindungi dari sifat iri dan dengki..,
    dan perlu diingat saya tidak ngobrol sama syetan,dampak kecil atau besar tetap akan dipertanyakan dihadapan ALLOH apalagi ternyata dampaknya sangat besar..,semoga ini menjadi renungan

    • pengelolakomaht // 25 Agustus 2009 pada 13:35 | Balas

      Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Allah,

      Apa yang saya sampaikan tentang aktifitas saya di HT bukanlah kebanggaan akan tetapi justru penyesalan dan saya anggap saya telah membuka aib saya bukannya memamerkan amalan. Dan sungguh masa masa itu adalah masa paling menyedihkan dalam kehidupan agama saya. Semoga Allah mengampuni saya.

      InsyaAllah saya menasehati dengan dasar hujjatain dan untuk silaturahim perlu diketahui saya telah dicekal sehingga para daris HT didaerah saya tidak diijinkan ketemu saya, bahkan ketika saya coba via telfon atau sms pun mereka menolak dan selalu mengatakan untuk saya hanya boleh ditemui pimpinan DPD HTI, bagaimana dengan iktikad seperti ini ?

  • msitompul2008 // 25 Agustus 2009 pada 13:17 | Balas

    Abu Rifa Al-Puari said:

    Bang situmpul, mudah2-an bukan berotak tumpul :)

    Justru dipermasalahkan kitab nggak boleh diubah, emang kitab suci.

    komen:
    ciri-cir khas kader hti ya begini ini. pantas aja hti kagak maju-maju..

  • msitompul2008 // 25 Agustus 2009 pada 13:47 | Balas

    Kader HTI “Abu Rifa Al-Puari ” yang tidak tumpul,

    Memang bible tidak sama dengan injil. Injil hanya sebuah bagian dari keseluruhan bibble. jadi emang apa yang sudah dijelaskan oleh pengelola ini sudah benar cuma anda saja yang masih ngeyel (ciri-ciri kader hti deh yang suka overdosis ngeyelnya) hehehe…

    Bible = Alkitab yang berisi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

    Perjanjian Lama berisi Kitab Taurat , Zabur (Mazmur) dan Kitab Lainya.
    Dalam Perjanjian Lama umatNya berada di bawah Hukum Taurat.

    Perjanjian Baru berisi Kitab Injil. Kitab Wahyu
    Dalam Perjanjian Baru, umatNya berada di bawah Hukum Kasih Karunia Tuhan…

    oya mungkin abu rifai belum mudheng ya. nih tak kasih contoh yang lebih sederhana deh. jika bible diibaratkan sebagai manusia secara keseluruhan maka injil hanya tangan pada tubuh manusia tsb. Pertanyaanya apakah manusia sama dengan tangan? ya ndak sama tho?? katanya kader ht, kok gitu aja ndak tau sih hehehe…

    oya injil dalam bahasa inggrisnya sering diterjemahkan sebagai gospel. cuma memang sih untuk pemahaman umum dan orang awam (kamus bahasa inggris umum) sangat sering diartikan bahwa injil = bible…nah kayaknya ripai ini pengikut yang umum-umum deh hehehe…

  • msitompul2008 // 25 Agustus 2009 pada 13:59 | Balas

    Kader HTI “Abu Rifa Al-Puari ” yang sombong said:

    Hehehe.. kesombongan anda makin tampak, padahal mungkin baru baca kitab Ahmed Deedat doang. Sekarang anda berkelit dg injil perjanjian lama dan baru, padahal sebelumnya debat kita antara injil dan bible.

    komen orang tumpul:
    bagi saya kitab ahmed deedat lebih dari cukup untuk mempelajari kristologi secara baik dan maximal..

    lagian saya setuju dengan pengelola ini. ente itu kagak nyambung. disini yang dipermasalahkan adalah kejujuran bung atas boleh tidaknya mengubah buku karya orang lain seenak perutnya bukan pada maslah baru yang anda lontarkan yang ga jelas nyambung-nyambungnya…

    hhmmm..list ku mengenai kader hti yang suka tidak nyambung jadi bertambah deh..

    hey…Titok..muncul donk!! katanya kader hti dan ingin mengklarifkasi pemahaman yang salah mengenai hti…”berjihad (baca: klarifikasi”) donk hehehe…

  • msitompul2008 // 25 Agustus 2009 pada 14:18 | Balas

    abdul ghani said:s

    untuk msitompul2008
    dibaca semuanya yah…,itu dari webnya

    Pernyataan Hizbut Tahrir: Penguasa Turki Telah Kehilangan Syaraf Malunya

    ————cut———————
    komen:

    Yee..klo itu mah ane dah baca semua..
    justru itu yang saya tanya adalah mengenai kebenarannya he..he..he…soale dah bukan hal baru klo ht itu suka yang heboh-heboh he..he….

    kira-kira klo baca dari sumber yang non ht, isinya bagaimana ya? soale di dunia ini sekarang ini suka banyak yang simpang siur he…he…ada yang punya referensi lain?

    coba perhatikan nukilan yang saya cut ini:

    “Penguasa Turki, ahli waris dari penjahat Yahudi Mushthafa Kamal, yang dahulu telah melaksanakan rencana-rencana Inggris dan Yahudi untuk menghancurkan Khilafah, yang kemudian menambahnya dengan rencana-rencana Amerika dengan ketulusan untuk Yahudi dan memerangi Khilafah; mengatakan bahwa Hizbut Tahrir yang tiada henti siang malam terus menerus berjuang untuk mengembalikan Khilafah, beraktivitas demi kepentingan Yahudi!”

    setau saya yang tumpul ini sih, pemerintahan turki yang sekarang ini terpilih melalui pemilu yang demokratis, kok bisa-bisanya sih divonis sebagai ahli waris penjahat yahudi sih..apa tulisan itu ndak dirasa terlalu vulgar dan kok rada-rada ga islami sih?

    yang masih bertanya-tanya?

  • abdul ghani // 25 Agustus 2009 pada 15:03 | Balas

    untuk penngelolakoma
    itu tolong dilanjutkan ke DPD karena mereka membuka diri untuk jalan silaturahmi dan peluang antum untuk saling nasehat-menasehati,itu peluang emas saya sarankan bisa bersilaturahmi ke DPD apalagi antum dijogya bisa ketemu ustad muhammad syiddiq al jawi,jangan tinggalkan silaturahmi karena itu jalan yang paling baik buat umat islam..,saya yakin mereka bisa menerima antum dengan baik..,

  • pengelolakomaht // 25 Agustus 2009 pada 15:21 | Balas

    Saudaraku abdul ghani yang dimuliakan Allah,

    Sekali lagi saya katakan bahwa saya sudah pernah mencoba bertemu dengan pimpinan DPD dengan tempat pertemuan di sebuah musholla tepat disebelah rumah kontrakan pimpinan DPD tersebut tapi tidak berhasil.
    Dan saya juga sudah sangat banyak menerima teror ancaman dari pihak non HT namun membela HT bahkan mereka memata matai semua kegiatan saya sehingga akhirnya mereka tahu alamat saya, nama orang tua dan anak anak saya, juga alamat kerja saya, dan semua itu dikirimkan via sms ke saya sehingga saya harus mengganti nomor HP saya. Mereka meminta saya datang ke sebuah alamat untuk berdiskusi dengan mereka seorang diri atau saya akan dijemput paksa ditengah perjalanan kerja saya. Wallahul musta’an.
    Alhamdulillah setelah teror itu Allah memberikan pertolongan dengan terbitnya surat pindah kerja saya sehingga saya sekeluarga kini pindah domisili dan nomor HP pun saya ganti dan saya rahasiakan.

    Dan anda dengan ringannya menyalahkan saya karena saya anda anggap tidak mau silaturahim ke pihak HT.
    MasyaAllah, sungguh anda tidak tahu apa yang saya alami saudaraku, maka insyaAllah blog ini akan selalu hadir untuk menasehati saudara-saudara aktifis HT dan semoga dengan blog ini HT tersadar atas kekeliruannya selama ini.

  • abdul ghani // 25 Agustus 2009 pada 18:49 | Balas

    jangan satu kali aja coba hubungi DPD saya sering bergaul sama mereka tidak ada indikasi suka neror dan saya juga pernah ketemu sama mantan ht 2 orang mereka berdua biasa2 aja g ketakutan kaya antum.,kalo sesama muslim itu maksimal 3 hari bermusuhan g boleh lebih dosa lho..,rencana pertemuan sama DPD tahun berapa..,kalo antum ikhlas demi untuk menegakkan Khilafah ala minhajjinnubuwwah yang paling pokok adalah persatuan umat islam bukan untuk memecah belah umat,jadi hemat saya terus usahakan untuk silaturahmi jangan dulu aja sekarangpun harus tetap berlanjut..,kalo antum mau boleh saya anter ke DPP juga bisa, saya sudah 3 kali kekantor DPP,saya yang bukan anggota aja bisa dan enjoy ramah2 lho disana.,

    • zul // 26 Agustus 2009 pada 02:09 | Balas

      @abdul ghani:

      kenapa tidak anda saja yg merekomendasikan ustad2 DPD HT yg silaturahim keblog ini,urusan mendesak apa sehingga KOMA HT berkewajiban untuk mendatangi DPD HT,sudah jelas bahwa memang sudah tidak ada lagi kesepahaman fikroh antara HT dan KOMA HT,adanya blog ini jelas menunjukan pemahaman yg berseberangan antara keduanya,jika yg anda inginkan andalah tuk meyakinkan lagi KOMA HT tentang fikroh HT,maka sajikanlah argumen yg tak bisa terbantahkan,ataupun meminta ustad2 HT tuk meluruskanya diblog ini,dijamin pasti akan dibuat dan tidak akan didelet tidak sebagaimana situs res HTI yg tak pernah menampung koment yg berseberangan,atau blog aktifis HT semisal titok.wordpress.com setidaknya ini wujud nyata keterbukaan dalam berdialog dari KOMA HT, jadi pertemuan langsung ataupun tidak selama tamanya adalah diskusi tak ada bedanya,waLlahu a’lam

  • msitompul2008 // 26 Agustus 2009 pada 10:23 | Balas

    @abdul gani,

    ente pasti belum pernah baca blog-nya o solikhin ya? saya saja (yang lumayan pemberani) setelah membaca blog itu jadi bergidik, kok bisa ya…padahal katanya kan dia kader yang bertujuan baik untuk meluruskan yang menurut dia tidak lurus…coba apa pendapatmu mengenai hal itu?

  • banghas // 26 Agustus 2009 pada 10:51 | Balas

    orang2 kafir dan munafiq pun bertepuk tangan, tertawa, girang, senang….

    Hahaha…liat tuh kaum muslimin saling ejek, saling perang, saling menyalahkan…..biarkan, biarkan saja….

    kita tetap dengan agenda….
    HANCURKAN ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN…..

  • pengelolakomaht // 26 Agustus 2009 pada 12:32 | Balas

    Saudaraku semua yang diberkahi Allah,

    @ Abdul ghani :
    Saya telah sampaikan bahwa yang menteror saya bukan dari HT namun pihak lain yang mendukung HT, entah pihak mana ia tidak menyebutkan secara pasti.
    Sehingga benar yang dikatakan saudara Zul bahwa sebaiknya para pimpinan HT bisa ikut berdiskusi disini untuk mengklarifikasi ataupun membantah sebab dengan berdiskusi disini akan didapat manfaat :
    1. Tidak ada kemungkinan saling teror atau takut karena identitas terjaga.
    2. Bisa disimak kaum muslimin lainnya sehingga tidak ada manipulasi hasil pertemuan dan kaum muslimin bisa menilai sendiri hasil pertemuan secara obyektif.
    3. Pihak HT bisa leluasa mengklarifikasi ataupun membantah dengan baik.

    @ Banghas

    Umat muslim dilarang berkelahi atau saling perang oleh Rasulullah, namun diperintahkan berpikir dan berdiskusi dengan hujjah yang baik.
    Tidak seperti kaum kristen atau kaum kafir lain yang satu sekte dengan sekte lain saling bunuh.

  • banghas // 26 Agustus 2009 pada 13:18 | Balas

    maksud hati tuk coba menghentikan diskusi….
    karena bagaimana pun dan sampai kapan pun gak akan kelar neh…
    wis mben…aku rep dadi penonton wae….

  • pengelolakomaht // 26 Agustus 2009 pada 14:21 | Balas

    Saudara banghas yang budiman,

    Diskusi ini selalu terbuka untuk koment baru dan peserta baru, jadi memang tidak mungkin kelar.
    Kalopun saya kalah hujjah pasti akan ada lagi orang lain yang muncul, jadi mending dinikmati aja, lagian diskusi ini adalah fakta yang selama ini tidak diketahui banyak kaum muslimin, insyaAllah bisa lebih menyadarkan kaum muslimin terhadap kondisi realitas yang ada.

  • abdul ghani // 26 Agustus 2009 pada 15:22 | Balas

    to pengelolakoma
    ini tulisan antum sudah berbeda dengan tulisan lainnya,.
    “Sedikit tambahan yang perlu saya sampaikan tentang madharat yang muncul menurut saya akan lebih besar bila blog ini tidak ada yaitu
    banyaknya pemuda muslim dan masyarakat yang terpengaruh dengan kekeliruan pemahaman HT sehingga semakin rusaklah pemahaman masyarakat terhadap Islam. Wallahul musta’an”disini kesimpulannya PEMAHAMAN HT YG RUSAK

    dari antum juga
    “Meskipun selama ini saya tidak pernah mencap kafir bahkan saya tidak pernah menyesatkan HT”…disini antum jelas menyatakan TIDAK MENYESATKAN HT

    ini jelas tidak konsisten,satu saat antum tidak bilang menyeasatkan HT lain waktu antum bilang PEMAHAMAN HT yg RUSAK,ini merupakan tulisan yang tidak bisa dibenarkan plinplan gimana situasi dan disini paling banyak GHIBAH,antum sendiri tahukan dosa GHIBAH, ini tulisan antum tanggal 19 “Saya juga mencoba intensif terus berdiskusi dengan syabab HTI termasuk diantaranya saudara Titok namun apa yang terjadi justru saya sering dicurangi dengan berbagai cara dan teknik, bahkan koment saya yang terakhir tidak pernah dimunculkan dan beberapa koment juga dihilangkan, sehingga darisini saya melihat secara organisasi HT pun mendukung oknum mereka dalam upaya menjegal saya dan menganggap nasihat yang saya sampaikan tidak perlu diperhatikan, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka semua. Wallahul musta’an.” …ini jelas merupakan GHIBAH padahal antum pingin meluruskan perjuangan HT supaya sesuai dengan sunah nabi..,ternyata antum sendiri yang tidak sesuai dengan Syariat..,saya tidak tahu namanya titok tapi antum khabarkan ke saya..,dan perlu antum camkan saya tidak pernah menyebutkan kafir..”coba simak tulisan saya..”kecuali kalau antum sudah sangat meradang kepada hti sampai antum nauzhubillah jangan sampai mencap kafir” apakah silaturahmi itu salah,nabi Muhammad jelas memerintahkan kita untuk silaturahmi..,
    ini salah satu dampak dari blog antum ”

    orang2 kafir dan munafiq pun bertepuk tangan, tertawa, girang, senang….

    Hahaha…liat tuh kaum muslimin saling ejek, saling perang, saling menyalahkan…..biarkan, biarkan saja….

    kita tetap dengan agenda….
    HANCURKAN ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN…..”
    jadi yang senang itu orang2 diluar ISLAM..,saya tetap sarankan hayo banyak2 silaturahmi..,rekatkan persatuan umat jangan mau di adu domba yakinlah ISLAM PASTI JAYA..,

    • zul // 26 Agustus 2009 pada 22:14 | Balas

      @abdul ghani:

      menilai adanya kesalahan dalam metodologi da prioritas dakwah tidak sama dengan menyesatkan pemikiran,perkara pertama masih debatable,artinya masih terbuka diskusi,sedangkan perkara yg kedua haruslah berasal dari legitimasi yg jelas dan mumpuni seperti qualifikasi ilmu dalam berijtihad dan kredibilitas diri sebagai seorang mufti,hingga tidak terjebak pada pengkafiran sebagaimana yg diwanti oleh rasuluLlah agar tidak mengkafirkan sesama muslim atau dirinya sendiri yg terkafirkan.

      KOMA HT hanya sebatas menilai adanya kesalahan atau yg melenceng dari fikroh HT dari interaksi beliau selama diHT atau dari apa yg dia kaji tentang HT,tidak menyesatkanya karena memang bukan itu kapasitasnya,masalah kredibel atau tidak,mari kita buktikan dengan diskusi2 sehat kita.waLlahu a’lam

  • pengelolakomaht // 26 Agustus 2009 pada 22:06 | Balas

    Saudaraku abdul ghani yang dimuliakan Allah,

    Pemahaman HT memang ada yang keliru dan inilah kenapa blog ini hadir, yaitu untuk menasehati HT atas kekeliruannya.
    Jadi saya selalu katakan bahwa HT memiliki kekeliruan, memiliki kesalahan, tapi saya tidak pernah mengatakan HT sesat atau kafir.

    Mohon masalah bahasa seperti ini jangan selalu diputar balikkan. Yang terpenting adalah apabila menurut anda HT tidak memiliki kekeliruan maka silahkan tunjukkan dalam hujjah dan bukti yang kuat.
    Bukan hanya menyuarakan ketidak setujuan anda pada blog sementara anda sama sekali tidak memiliki hujjah yang membantu membenarkan HT sehingga kesimpulannya hingga kini masih belum ada yang mampu membantah isi blog ini.

    Munculnya orang orang yang kontra pastilah banyak namun tidak lebih banyak dari orang yang kontra pada da’wah Nabi di Makkah dan semua itu adalah sunnatullah bahwa Islam muncul dari keterasingan.
    Sudah biasa kebenaran itu ditentang, bukankan hal itu juga dialami HT sehingga sempat bertikai dengan warga NU pendukung gus dur?.

    Apapun resikonya prinsipnya adalah “Kulil haq walaw kana muron”.
    Dan saya tetap wajib terus menyuarakan kebenaran apapun resikonya sebab itulah perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

  • abdul ghani // 27 Agustus 2009 pada 23:27 | Balas

    to pengelolakoma
    saya tidak punya kapasitas untuk menerangkan HTI karena saya bukan anggota HT,saya seorang pengusaha yang peduli terhadap penerapan syariah islam yang sekarang digalakan oleh HTI,dan ternyata mereka sudah didukung oleh puluhan ribu ulama indonesia untuk menerapkan syariah dan khilafah pada saat muktamar ulama.,saya baca di blog ini yang ada hanya menyalahkan dan menjelekan HT contohnya “Sedikit tambahan yang perlu saya sampaikan tentang madharat yang muncul menurut saya akan lebih besar bila blog ini tidak ada yaitu
    banyaknya pemuda muslim dan masyarakat yang terpengaruh dengan kekeliruan pemahaman HT sehingga semakin rusaklah pemahaman masyarakat terhadap Islam. Wallahul musta’an”.. dan suka ghibah contohnya “Saya juga mencoba intensif terus berdiskusi dengan syabab HTI termasuk diantaranya saudara Titok namun apa yang terjadi justru saya sering dicurangi dengan berbagai cara dan teknik, bahkan koment saya yang terakhir tidak pernah dimunculkan dan beberapa koment juga dihilangkan, sehingga darisini saya melihat secara organisasi HT pun mendukung oknum mereka dalam upaya menjegal saya dan menganggap nasihat yang saya sampaikan tidak perlu diperhatikan, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka semua. Wallahul musta’an.”…saya tidak memutar balikan bahasa inikan tulisan antum mana yang menjelekan dan mana yang ghibah….,padahal dalam berdakwah antaralain :
    “Barang siapa yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran (menegakkan amar maruf nahi mungkar), maka sepatutnya dia itu :
    (1) seorang yang alim (berilmu) terhadap apa yang dia suruh, berilmu terhadap apa yang dia larang;
    (2) seorang yang berlemah-lembut pada apa yang dia suruh dan berlemah-lembut pada apa yang dia larang;
    (3) seorang yang bijaksana pada apa yang dia suruh dan bijaksana pada apa yang dia larang.

    Maka berilmu sebelum menyuruh, dan berlemah-lembut itu di waktu menyuruh, serta bijaksana setelah menyuruh. Kalau seandainya dia tidak seorang yang alim, tidak boleh untuk mengikuti apa yang tidak ia ketahui. Kalau seandainya dia itu seorang yang alim, tetapi tidak berlemah-lembut maka dia seperti dokter yang tidak mempunyai sikap lemah-lembut, maka dia bersikap kasar terhadap pesien sehingga pasien pun tidak menerimanya. Dan seperti seorang pendidik yang kasar, maka anak pun tidak bisa menerimanya. Sungguh Allah Taala telah berfirman kepada Musa dan Harun : [artinya] : ” Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (kepada firaun) dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut “.(Q.S. 20;44)

    maka sebetulnya blog ini tidak memenuhi syarat untuk berdakwah..,bagusnya berdakwah itu langsung kepada orangnya/lembaga/ormas tidak menjelekan di media masa/internet atau apapun untuk berupaya menjelekan muslim yang lain dan sebetulnya harus ada alternatif lain atau solusi nih harokah/jama’ah yang lebih bagus..,tapi yang ada antum hanya menjelekan satu jama’ah saja tanpa memberikan solusi/alternatif lain kalo ada harokah/jama’ah lain yang lebih bagus..,jadi sekali lagi saya bukan anggota HTI otomatis saya tidak punya hujjah untuk ini..,yang saya tekankan adalah tetap pada acuan kaum muslimin adalah izzatul islam walmuslimin berarti harus banyak silaturahmi yang sekarang terus menerus digalakan juga oleh HTI,oleh karena itu saya akan coba lebih memantapkan diri untuk bergabung dengan HTI..,karena mereka bersemangat dan konsisten dalam berjuang menerapkan syariah dan khilafah.,saya iri dengan mereka yang begitu tidak mengenal lelah siang ataupun malam berjuang untuk agama ini..,manusia hanya bisa melihat dhohir saja..,tapi inilah yang terjadi apakah saya harus memilih yang hanya diam saja dan menjelek2kan muslim yang lain..,sebetulnya saya pingin tahu dari antum bagaimana cara menerapkan syariah dan khilafah versi antum…,

    • pengelolakomaht // 28 Agustus 2009 pada 15:41 | Balas

      Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Beda antara menasehati dan menunjukkan kesalahan seseorang dengan menjelekkan seseorang hanyalah pada niatnya.
      Saya mengupas kekeliruan HT adalah dengan niat menasehati HT dan bukannya menjelek-jelekkan HT semata.
      Lantas bagaimana cara menasehati kekeliruan seseorang apabila kita tidak menunjukkan apa yang keliru darinya?

      Saya menyebut nama titok karena desakan dari HT sendiri yang selalu mengatakan semua tulisan saya fitnah dan tidak pernah ditabayunkan ke pihak HT, sehingga saya perlu menjawab fitnah tersebut dengan mencantumkan nama titok agar para aktifis HT bisa membuktikan sendiri dan menanyakan sendiri kepada titok apakah benar kejadiannya demikian.
      Hal ini juga mengingat saudara titok sebelum ini aktif membuat blog yang juga terbuka sehingga bisa diakses kaum muslimin lainnya, untuk itulah saya memilih saudara titok agar kaum muslimin bisa membuktikan dan bisa melihat dengan mata kepala sendiri dan menilai apakah yang saya sampaikan itu fitnah atau bukan.
      Walhamdulillah.

    • zul // 28 Agustus 2009 pada 23:39 | Balas

      @abdul gahni:

      Musyawarah Ulama Nasional 2009=Konferensi Khilafah internasional 2007,hanya sebagai even ajang unjuk eksistensi HTI,yg saya lihat hanya MUN 2009 ini follow up dari KKI 2007,same act with diffferent form,ulamaya pun saya sanksi itu adalah representsi dari ulama seluruh indonesia karen tak ada perwakilan dari 2 ormas terbesar ataupun MUI,malah yg ada ulama dari indonesia diwakili oleh ust.sidik al jawy yg berlatar belakang sarjana IPB,terus ada juga perwakilan dari ulama2 lain negara yg saya yakini itu adalah aktifis HT,dampak/pengaruh HTI pasca MUN 2009 ini pun saya pikir hanya akan seperti even sebelumnya KKI2007.

      anda telah paham bahwa seorang aktifis dakwah hendaknya beretika,anda silahkan bandingkan partisipasi kedua pihak yg berseberangan dalam blog ini,manakah yg paling memprihatinkan etikanya?

      anda menilai bahwa blog ini hanya membawa ghibah terhadap sesama muslim,lalu bagaimana pendapat anda tentang apa yg telah HT lakukan terhadap erdogan dan HAMMAs?bahkan tidakkah itu menjurus pada fitnah?jika anda menilai sikap itu adalah mengkoreksi dan menasihati,bandingkan manakah yg paling lebih baik caranya oleh HTI dan blog ini?

      anda menilai bahwa blog ini belum layak dan tak memenuhi syarat disebut blog dakwah,itumah subjektif tergantung siapa yg menilai,pastinya kalo menurut pandangan partisipan blog ini yg pro HT mereka akan berpendapat sama seperti anda,tapi tentunya hal itu berbeda jika yg ditanya adalah pendapat yg berada diluar HT,saya kira semua sepakat dalam diskusi ilmiyah ini hanya akan mengaitkan hal-hal yg berhubungan dg nalar saja,bukan hal yg abstrak ataupun penerawangan karena itu sifatnya subjektif.

      kalopun anda bersimpatik dan merasa iri terhadap aktivitas dakwah sebuah gerakan islam,alangkah tepatnya jika anda bersimpatik dg usaha2 kader HIDAYATULLAH dan jamaah tabligh dalam menyebarkan islam kedaerah terpencil bahkan primitif seperti papua

      semuanya pasti akan merasa tidak rela ketika ada saudaranya yg muslim ataupun sejamaah terzholimi walaupun oleh sesama muslim sendiri,tapi apakah itu pernah terbayangkan oleh HT ketika mereka berbuat yg sama terhadap muslim dijamaah lain seperti erdogan dan HAMMAS?ingatlah hadist :

      طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس
      “Sungguh bertuntung bagi orang yang selalu disibukkan untuk menyelidiki aib dirinya sendiri, sehingga tidak sempat untuk menyelediki aib orang lain”. (Ibn Abdil Barr, Al-Bazzar, Baihaqi, hadis hasan).

      bisakah anda jelaskan yg dimaksud dengan dakwah menerapkan syariah dan khilafah itu seperti apa? jika yg anda maksud adalah ta’lim keta’lim,halaqoh kehalaqoh,forum keforum,saya HT bukanlah satu2nya yg seprti itu,semuanya seperti itu,hanya pastinya referensi kitab saja yg berbeda,tentang siapa atau jamaah mana yg lebih baik dalam pengamalan amal islami dan capaian2 dakwahnya saya rasa HT pun masih jauh panggang daripada api

    • pengelola2 // 29 Agustus 2009 pada 09:26 | Balas

      @ abdul Ghani

      Maka berilmu sebelum menyuruh, dan berlemah-lembut itu di waktu menyuruh, serta bijaksana setelah menyuruh. Kalau seandainya dia tidak seorang yang alim, tidak boleh untuk mengikuti apa yang tidak ia ketahui. Kalau seandainya dia itu seorang yang alim, tetapi tidak berlemah-lembut maka dia seperti dokter yang tidak mempunyai sikap lemah-lembut, maka dia bersikap kasar terhadap pesien sehingga pasien pun tidak menerimanya. Dan seperti seorang pendidik yang kasar, maka anak pun tidak bisa menerimanya. Sungguh Allah Taala telah berfirman kepada Musa dan Harun :

      Saya jadi bertanya kepada anda… APakah standar yang sama juga anda katakan pada tulisan/tulisan HT/I — coba baca Al Islam… rasakan bahasanya… bahasa lemah lembutkah?

      Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu… ketika kaum muslimin di GAZA dibantai ISrael… ketika ada ulama saudi yang mengharamkan demo.. apa kata pimpinan HTI – Maghfur Mahcfudz a.k.a Hafidz Abdurrahman… dalam editorial Al Waie? Mahfud mendoakan ulama tersebut binasa.. anda bisa cek di AL wai’e kalo gak salah edisi pebruari atau maret 2009 dalam halaman editorial.

      Begitukah akhlaq pimpinan ormas yang mengaku pejuang syariah dan khilafah? Yang artinya bertentangan dengan ayat yang anda kutip

      bagaimana menurut anda, saudara Abdul Ghani?

  • uut // 28 Agustus 2009 pada 08:19 | Balas

    Untuk Saudara abdul ghani ada info bagi anda yang pengusaha kunjungi situs,

    http://www.pengusahamuslim.com/

  • uut // 28 Agustus 2009 pada 08:27 | Balas

    jika kita sedang mengikuti pembahasan tentang aliran, kelompok, jamaah bid’ah, sesat atau menyimpang dalam Islam. Adalah hal yang lumrah jika pembahasan tentang hal tersebut mengemuka karena mereka memang telah terbukti meresahkan umat. Walaupun demikian, tidak semua orang ternyata setuju dengan acara pembahasan semacam di atas.
    “Sudahlah, jangan mencela saudara sendiri. Ini kan memecah belah umat…”
    “Jamaah X toh juga berperang melawan Yahudi. Mengapa harus dikritik?”
    Sebagian respon berbunyi demikian. Acara kritik mengkritik memang rawan menimbulkan sentimen, sakit hati, dab bisa berlanjut perpecahan, di sisi lain, kritik suatu saat toh juga perlu. Bagaimana menyikapi fenomena di atas.

    http://maramissetiawan.wordpress.com/2007/09/30/mengapa-mengkritik-kelompok-kelompok-islam/

  • pengelolakomaht // 28 Agustus 2009 pada 15:32 | Balas

    Saudaraku semua yang diberkahi Allah,

    Justru dengan diskusi dan saling terbuka seperti ini insyaAllah dapat mencegah pertikaian sesama muslim.
    Apakah anda tidak ingat bagaimana massa NU gusdur pernah meradang pada HT karena tidak adanya komunikasi yang baik, bahkan terorisme makin berkembang karena umat Islam banyak yang menutup mata dan tidak mau memperdebatkannya di forum diskusi ilmiah.

    Jadi mari kita perbanyak diskusi ilmiah yang berdasarkan hujjah dan dalil yang ilmiyah sehingga kebenaran akan terdakwahkan dengan sendirinya.
    Janganlah ummat Islam ini berhenti untuk saling menasehati sesama muslim atas kesalahan-kesalahannya.
    Janganlah seperti agama kristen yang wajib menelan doktrin pemuka agamanya mentah mentah tanpa berani mendiskusikan kebenarannya.

  • muslim one // 29 Agustus 2009 pada 19:10 | Balas

    Assalamu’alaium,
    saya dulu aktifis ht juga, tapi saya sudah lama tidak mengikuti kegiatan hlq nya dikarenakan adanya jawaban2 yang tidak memuaskan atas pertanyaan yang saya ajukan. Namun walau begitu, saya tetap setuju dengan dakwah menegakkan khilafah. Karena ialah satu-satunya institusi yang diwajibkan harus ada bahkan lebih wajib daripada memakamkan rasulullah. Saya disini hanya ingin menyampaikan marilah kita bersama2 untuk tidak saling menghujat terhadap sesama muslim. Siapapun entah beliau mengaji di PKS, Salafi, HTI, atau bahkan yang tidak mengaji pun semuanya memiliki kewajiban yang sama. Syahadat, Shalat, zakat, puasa, haji, menyayangi sesama muslim dan masih banyak lagi. Tidakkah kita melihat bahwa musuh2 Islam telah merencanakan strategi 10 langkah lebih maju untuk menghancurkan Islam, bahkan untuk 100 tahun kedepanpun mungkin mereka sudah membuat plan A, B, C, D s.d Z. untuk menghancurkan Islam. tidak cukupkan darah syuhada di palestin, afganisthan, irak, serta negeri2 muslim lainnya yang terkoyak menjadi pelajaran bagi kita untuk membuat rencana besar mengalahkan strategi2 musuh2 Islam??? Mohon maaf kepada pembuat blog ini, saya sarankan lebih baik membuat blog yang bisa menyegarkan pemikiran ummat. Untuk masalah yang mungkin pribadi terhadap suatu gerakan silahkan selesaikan langsung secara administratif ke yang bersangkutan. sekiranya yang bersangkutan tidak menerimapun, biarlah Allah yang memberi petunjuk agar kita selalu berada di jalan yang lurus. Yang penting ukhuwah dan persatuan ummat tetap terjaga. Ya Allah satukanlah kami dalam barisan yang sama untuk memerangi kedzaliman dan menegakkan aturan-Mu. Amiin

  • HambaAlloh // 29 Agustus 2009 pada 19:33 | Balas

    Kapan Dibolehkan Keadaan Seseorang
    Atau Diwajibkannya Menerangkan

    Hamdun Al Qashshar ditanya : “Kapankah waktu membicarakan seseorang?”
    Ia menjawab : “Jika telah pasti baginya untuk menunaikan kewajiban Allah ini berdasarkan ilmunya atau ia khawatir orang banyak celaka karena bid’ah itu dan ia berharap agar Allah menyelamatkannya.” (Al I’tisham 1/127)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
    [Jika nasihat itu adalah kewajiban bagi kemaslahatan agama secara khusus maupun umum seperti penukilan hadits yang mereka bersalah atau berdusta sebagaimana kata Yahya bin Sa’id :
    Saya bertanya kepada Imam Malik dan Ats Tsauri dan Al Laits bin Sa’d --saya menduganya Al Auza’iy-- tentang seseorang yang tertuduh dalam periwayatan hadits atau tidak hafal. Mereka mengatakan :
    “Terangkan keadaannya itu.”
    Dan sebagian ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Sesungguhnya berat bagiku mengatakan bahwa Fulan begitu, Fulan begini.”
    Maka kata beliau : “Jika kamu dan saya diam dalam masalah ini maka kapan orang yang jahil itu tahu mana hadits yang shahih dan mana yang cacat?! Dan seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki berbagai pendapat dan ibadah yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah maka menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan manusia dari mereka adalah wajib berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin (Ahli Ilmu).”
    Sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Seseorang berpuasa, shalat, i’tikaf lebih Anda cintai ataukah jika ia menerangkan keadaan ahli bid’ah?”
    Beliau berkata : “Jika ia puasa, shalat, dan i’tikaf maka itu untuk dirinya sendiri sedangkan apabila ia menerangkan keadaan ahli bid’ah maka ini adalah untuk kebaikan kaum Muslimin dan ini lebih utama maka menerangkan perkara ini agar berguna bagi kaum Muslimin dalam agama mereka termasuk salah satu jihad di jalan Allah sebab membersihkan jalan Allah dan agama, manhaj, dan syariat-Nya serta menghalau kejahatan ahli bid’ah dan permusuhan mereka adalah Fardlu Kifayah menurut kesepakatan kaum Muslimin. Dan apabila tidak ada orang yang Allah bangkitkan untuk menolak bahaya ahli bid’ah ini benar-benar akan hancurlah agama ini. Dan kerusakannya jauh lebih besar daripada kerusakan akibat penjajahan musuh dari kalangan orang-orang yang kafir yang mesti diperangi. Sebab mereka ini jika berkuasa belum tentu mampu merusak hati manusia yang dijajahnya kecuali pada kesempatan berikutnya sedangkan ahli bid’ah ini jika mereka berkuasa akan merusak hati lebih dahulu.” ] (Majmu’ Fatawa 28/231 dan 232)

    Muhammad bin Abdullah Al Ghalabiy mengatakan :
    “Ahli bid’ah itu akan menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka).” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)

    Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id :
    “Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya.”

    Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :
    “Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung di atas apa yang pertama kali ia tumbuh dan dibentuk.” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)

  • abdul ghani // 31 Agustus 2009 pada 08:34 | Balas

    to pengelolakoma
    “Beda antara menasehati dan menunjukkan kesalahan seseorang dengan menjelekkan seseorang hanyalah pada niatnya”NIAT ITU ADA DALAM HATI, SAYA TIDAK TAHU NIAT ANTUM YANG SEBENARNYA…,
    “Saya mengupas kekeliruan HT adalah dengan niat menasehati HT dan bukannya menjelek-jelekkan HT semata”APAKAH MENASEHATI CUKUP DENGAN MENGUMBAR KEKURANGAN DI MEDIA…?
    “Lantas bagaimana cara menasehati kekeliruan seseorang apabila kita tidak menunjukkan apa yang keliru darinya?”YA DENGAN CARA SILATURAHMI DARI PIHAK SYABAB HT ADA YANG MENULISKAN NO HP TAPI TERNYATA TIDAK ADA APA DIHAPUS SAMA ANTUM..?? SAYA LIHAT DENGAN JELAS TANGGAL 27-08-2009 JAM 00:08 NAMA OJEX..,PERSIS DIBAWAH KOMENTAR SAYA ,TAPI SEKARANG TIDAK ADA DI KOMENTAR…??KEMANA YAH…??
    “Saya menyebut nama titok karena desakan dari HT sendiri yang selalu mengatakan semua tulisan saya fitnah dan tidak pernah ditabayunkan ke pihak HT, sehingga saya perlu menjawab fitnah tersebut dengan mencantumkan nama titok agar para aktifis HT bisa membuktikan sendiri dan menanyakan sendiri kepada titok apakah benar kejadiannya demikian.”GHIBAH LAGI TU SAUDARA TITOK FITNAH ANTUM..?”karena desakan dari HT sendiri yang selalu mengatakan semua tulisan saya fitnah”SAYA TIDAK YAKIN PIHAK HT SECARA LEMBAGA MENGOMENTARI ANTUM..,HT TU PUSATNYA ADA DI YORDAN APA MUNGKIN MENDESAK SAMA ANTUM..????JANGAN SUKA MELEBIH-LEBIHKAN YAH…,
    DI DUNIA INI ADA SIANG ADA MALAM,ADA BAIK ADA BURUK ADA YANG INGIN MEMPERSATUKAN UMAT SEPERTI HTI ADA JUGA YANG MEMECAH BELAH UMAT…,SIAPA TU???..,SAYA TANYA SEKALI LAGI JADI METHODE ANTUM UNTUK PENERAPAN SYARIAH DAN KHILAFAH SEPERTI APA..???

    TO ZUL
    “yg saya lihat hanya MUN 2009 ini follow up dari KKI 2007,same act with diffferent form,ulamaya pun saya sanksi itu adalah representsi dari ulama seluruh indonesia karen tak ada perwakilan dari 2 ormas terbesar ataupun MUI”ANTUM LIHAT DIMANA…,G KELIHATAN BANYAK YANG DARI MUI…??DARI NU,MUHAMMADIYAH,PERSIS,BAHKAN MUI ADA..,SAYA TIDAK LIHAT YANG JAUH YANG DEKET AJA DAERAH SAYA KEBETULAN SAYA DIUNDANG HADIR DIACARA SOSIALISASI MUKTAMAR ULAMA TERNYATA DARI PIHAK MUI DIAKHIR ACARA MINTA DIULANG KEMBALI SOSIALISASI MUKTAMAR..?KENAPA..?KARENA INGIN SEMUA STAF MUI KABUPATEN SAMPE TINGKAT KECAMATAN HADIR ..,INI YANG MENYELENGGARAKAN BUKAN HTI TAPI DARI MUI…,INI JELAS MERUPAKAN DUKUNGAN YANG NYATA…,OK ZUL…,

    TO PENGELOLA2
    “bagaimana menurut anda, saudara Abdul Ghani?”ANTUM TANYAKAN SAJA SAMA BELIU SAYA BUKAN ANGGOTA HTI DAN SAYA TIDAK MAU GHIBAH KAYA ANTUM…,OK
    AL ISLAM ADA BEBERAPA YANG SAYA BACA BAGUS JUGA MEMBANGUN OPINI UMAT TIDAK PERCAYA LAGI SAMA AMERIKA DAN KRONI2NYA..,APA ITU SALAH…???MENGUTUK KEKEJAMAN ISRAEL APA ITU JUGA SALAH..,
    SAYA JUGA PINGIN TAHU METHODE/CARA ANTUM MENERAPKAN SYARIAH DAN KHILAFAH DI BUMI ALLOH INI GIMANA YAH..???

    • pengelola2 // 31 Agustus 2009 pada 09:03 | Balas

      @ Abdul Ghani

      wah… anda tidak konsisten… anda meminta orang lain kalau menasehati untuk silaturahim ke yang bersangkutan, tapi ketika Mahfud (hafid abdurrahman) mencela ulama saudi… anda minta saya silaturrahim ke Mahfud… kok pake standar ganda.

      Tentang al islam… anda bilang BEBERAPA artinya tidak SEMUA nah sisanya yang beberapa itu apa bukan menggibah Penguasa, harokah atau kelompok lain?

      sebut saja bagaimana HT/I mengkritisi HAMAS di Palestine… lha wong HAMAS di PALESTINA sana kok di kritiknya di INDONESIA trus apa kepentingannya?

      contoh Lagi, buletin Al Islam yang terakhir tentang TERORISME – yang menyalahkan kelompok lain yang mempunyai metode JIHAD… pertanyaannya adalah mengapa HTI tidak silaturrahim pada kelompok2 tesebut dan mejelaskan kesalahannya. Tapi kok malah mengkritiknya di al islam

      Nah bagiaman menurut anda… ayolah anda jangan… menerapkan standar ganda dalam menilai orang…

  • pengelolakomaht // 31 Agustus 2009 pada 11:46 | Balas

    Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Allah,

    Nasihat dengan silaturahim ke aktifis Ht sudah sering dilakukan baik melalui sms, email, maupun media lain yang sifatnya pribadi dan tertutup yang tidak diketahui orang lain, bahkan upaya bertemu langsung secara resmi pun pernah dilakukan, namun saya sampaikan kepada saudara bahwa semua nasihat itu tidak berhasil bahkan dari hasil percakapan dan nasihat tertutup lewat email diperoleh hasil bahwa mereka yang bertaubat dari kekeliruan HT langsung saja keluar dari interaksi dengan HT tanpa berani mengkritisi HT ataupun menentang kekeliruan HT dan saya memang tidak ingin memaksa mereka melakukan itu karena saya tahu itu berat bagi mereka (semoga Allah memudahkan mereka), adapun bagi mereka yang tidak taubat tetap saja asyik menyuarakan kekeliruan HT tersebut tanpa peduli dengan nasihat yang telah sampai padanya.
    Sementara disisi lain HT terus menerus menyebarkan kekeliruannya kepada para pemuda muslim sehingga pola menasehati pun menjadi berubah yaitu dengan terbuka agar kaum muslimin lainnya pun tahu kekeliruan HT dan agar mereka tidak terhasut untuk mengikuti kekeliruan tersebut. Wallahul musta’an.

  • abdul ghani // 31 Agustus 2009 pada 12:54 | Balas

    to pengelolakoma & pengelola2
    sebelum saya komentar tolong jawab dulu pertanyaan saya…??methode/cara antum untuk menerapkan syariah dan khilafah gimana sih…??

    • pengelolakomaht // 31 Agustus 2009 pada 13:17 | Balas

      Saudaraku yang dikasihi Allah,

      Bukankah sudah banyak yang dibahas di blog ini, silahkan dibaca ulang diskusi-diskusi sebelumnya. Semoga Allah memudahkan.

    • zul // 31 Agustus 2009 pada 18:30 | Balas

      @abdul ghani:

      saya ulangi pertanyaan saya:

      “bisakah anda jelaskan yg dimaksud dengan dakwah menerapkan syariah dan khilafah itu seperti apa? jika yg anda maksud adalah ta’lim keta’lim,halaqoh kehalaqoh,forum keforum,saya kira HT bukanlah satu2nya yg seprti itu,semuanya seperti itu,hanya pastinya referensi kitab saja yg berbeda,

      tentang siapa atau jamaah mana yg lebih baik dalam pengamalan amal islami dan capaian2 dakwahnya saya rasa HT pun masih jauh panggang daripada api”…..

      kalopun saya yg ditanya seperti pertanyaan anda diatas,saya akan menjawab saya bukanlah aktifis HT ,sehingga tak relevan jika anda bertanya seperti itu,kalopun anda bertanya metoda apa saya dalam berdakwah tanpa ad embel2 “syariah dan khilafah”maka saya akan menjawab,saya akan mengikuti apa-apa yg telah dilakukan oleh generasi pertama umat islam,tabiin dan tabiu tabiin(generasi2 salafu sholih),sebab tiga generasi tersebutlah yg RasuluLlah sebut sebagai generasi terbaik.

      sabda Rasul:

      خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم .

      “Sebaik-baik generasi adalah generasi di masa keberadaanku(NAbi dan para sahabat), kemudian generasi berikutnya(tabiin), kemudian generasi berikutnya(tabiu tabiin).” HR Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim).

  • pengelola2 // 31 Agustus 2009 pada 12:58 | Balas

    @ abdul ghani sebelum saya menjawab.. tolong baca dulu thread sebelumnya sudah dijawab :)

  • abdul ghani // 31 Agustus 2009 pada 17:46 | Balas

    tidak ada tuh..,tidak ada langkah2 dakwah yang harus dikerjakan,infonya hti ada 3 langkah untuk menerapkan syariah dan khilafah..,dari antum apa..?langkah2 berdirinya khilafah…,jangan cuma nunggu Al Mahdi..,untuk mendapatkan rizqi harus berdoa dan berusaha…,untuk khilafahpun sama berdoa dan berusaha mewujudkannya..,

    • pengelola2 // 1 September 2009 pada 08:32 | Balas

      @ abdul ghani… ayolah jangan malas membaca… kalau anda teliti ada di beberapa komentar di artikel yang lain :)

  • abdul ghani // 31 Agustus 2009 pada 17:53 | Balas

    RENUNGAN
    Ikhlas Berbuah Pengorbanan

    Muktamar Ulama Nasional (MUN) di Istora Gelora Bung Karno yang dihadiri lebih dari 7.000 ulama pada hari selasa (21/7) adalah momen penting. Sebab, para ulama sepakat untuk mendukung perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah sebagai upaya untuk menyelesaikan segala macam problem yang membelit bangsa ini. Dukungan para ulama yang dituangkan dalam Mitsâq al-Ulamâ’ (Piagam Ulama) adalah untuk mempertegas komitmen penyatuan visi dan langkah dalam usaha menerapkan kembali syariah Islam.

    Muktamar yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia ini, selain dihadiri oleh para ulama dari seluruh Indonesia, juga dihadiri para ulama dari berbagai negara antara lain India, Bangladesh, Pakistan, Asia Tengah, Turki, Mesir, Yaman, Libanon, Palestina, Syam, Sudan dan Inggris. Para ulama menyadari bahwa umat Islam, khususnya di Indonesia, menghadapi berbagai persoalan. Pangkal persoalan itu adalah tidak ada kehidupan Islam di mana di dalamnya diterapkan syariah Islam di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Karenanya penegakan syariah dan Khilafah adalah mutlak, sebab itulah jalan satu-satunya menuju terwujudnya ‘izzul Islâm wal-muslimîn. Maka dari itu, para ulama siap menjadi garda terdepan dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah serta membela para pejuangnya.

    Acara yang berlangsung penuh dengan gelora semangat dan meneguhkan tekad untuk kembali menegakkan syariah dan Khilafah ini tidaklah dengan mudah terselenggara. Berbagai kendala bukan saja menghadang sejak dari persiapan, namun juga hingga detik-detik terakhir penyelenggaraan. Hanya atas pertolongan Allah semata serta keikhlasan dalam beramallah yang menyebabkan acara Musyawarah Ulama Nasional bisa terselenggara dengan baik.

    Berikut ini berbagai kisah teladan bagi kita semua, semoga bisa diambil hikmahnya. Sebut saja Abdullah. Salah seorang syabab dari Kalimantan yang sangat antusias berkontribusi dalam penyelenggaraan Muktamar Ulama Nasional ini. Dengan ikhlas beliau mendanai beberapa ulama yang ingin berangkat bahkan ulama yang berasal dari daerahnya sendiri, yaitu Bima, Nusa Tenggara Barat. Seluruh biaya tiket pesawat pulang pergi dan akomodasi selama perjalanan ia tanggung; tentu bukan biaya yang kecil. Namun, biaya yang besar itu tidaklah menyurutkan beliau untuk menginfakkan hartanya di jalan dakwah ini.

    Walaupun ternyata banyak di antara para ulama yang tiba-tiba mengundurkan diri, hal itu tidaklah membuat patah semangat. Dicarilah ulama-ulama lainnya walau dari luar daerah sekalipun agar komitmen beliau untuk membiayai ulama yang ingin berangkat namun terhalang masalah biaya tetap terwujud. Tekadnya bulat, berkomitmen untuk memberangkatkan ulama ke acara MUN sebanyak-banyaknya. Beliau pun sempat berujar, “Masa tidak ada ulama yang mau berangkat untuk hal-hal yang penuh kebajikan ini.”

    Segala usaha pun ditempuh untuk mengajak para ulama agar hadir ke acara MUN ini. Dibuatlah acara ramah-tamah dan makan bersama di rumahnya, yang tentu seluruh biaya pelaksanaan tersebut beliau tanggung. Alhamdulillah, ada sekitar 20 ulama yang bersedia hadir dalam acara tersebut. Tujuan acara ramah-tamah sembari makan-makan ini selain ingin lebih mendekatkan diri kepada para ulama; tujuan yang lebih utamanya adalah menjelaskan kepada para ulama bahwa akan ada satu acara penting yang selayaknya diikuti oleh ulama, yakni Musyawarah Ulama Nasional. Alhamdulillah, berkat usaha dan keikhlasan amal Abdullah yang didukung penuh oleh syabab yang lain akhirnya ada ulama yang menerima tawarannya untuk berangkat ke acara MUN.

    Selain itu, ada juga kisah menarik yang dialami oleh ulama calon peserta MUN. Beliau adalah KH Muhammad Idris, Ketua MUI Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sedemikian besar keinginan beliau untuk dapat mengikuti muktamar tersebut, beliau memutuskan untuk mendelegasikan empat acara Isra’ Mikraj bagi masyarakat di Balikpapan kepada ustadz yang lain. Ketika ditanyakan alasannya, Beliau menyampaikan 3 hal: Pertama, komitmen yang telah diberikan sebelumnya untuk ikut pada acara MUN jauh-jauh hari sebelumnya walau kepastian hari H acara MUN belum ada konfirmasi. Kedua, beliau ingin memberikan kontribusi bagi penerapan syariah secara penuh di negeri ini, karena hal itu justru akan memberikan maslahat yang lebih besar bagi seluruh umat manusia. Ketiga, karena beliau telah mendelegasikan acara Isra Mikraj tersebut kepada ustadz yang lain sehingga paling tidak tanggung jawab serta perhatian beliau kepada masyarakat daerah tidaklah terabaikan.

    Kisah ibrah lainnya juga bisa kita teladani dari salah seorang ulama Kota Samarinda yang ingin sekali hadir tetapi tiba-tiba ada halangan mendadak. Ulama tersebut dengan keikhlasannya justru menginfakkan sebagian hartanya. “Semoga bisa bermanfaat untuk keperluan selama MUN,” katanya. Subhânallâh..

    Kisah pengorbanan yang lain juga diberikan oleh ulama asal Purworejo, Yogyakarta. Beliau adalah Kyai Mukhlas, staf pengajar Ponpes Al-Iman Bulus yang mempunyai santri lebih dari 1000 orang. Pada hari keberangkatan yang sedianya pukul 13.00, Kyai Mukhlas terpaksa ditinggal rombongan karena sampai waktu yang ditetapkan Beliau tidak muncul-muncul. Namun, apa yang terjadi, ketika rombongan sudah sampai Kabupaten Kebumen yang jaraknya kurang lebih 40 km dari tempat keberangkatan, Kyai Mukhlas menelepon panitia bahwa Beliau akan tetap ikut acara. Panitia kemudian bertanya bagaimana teknisnya? Dengan tegas Kyai Mukhlas menjawab, “Saya akan naik angkot mengejar rombongan.” Subhânallâh…Dengan susah payah akhirnya Kyai Mukhlas bisa bertemu dengan rombongan dari Yogya untuk kembali melanjutkan rombongan. Setelah bersama rombongan, beliau pun meminta maaf telah merepotkan dan bercerita kenapa sampai terlambat. Pagi sebelum berangkat, Kyai Mukhlas harus memberikan kajian keislaman di daerah puncak gunung yang letaknya jauh sekali dengan medan yang agak berat. Namun karena antusias jamaah yang begitu besar akhirnya waktu kajian ditambah untuk menjawab segala macam pertanyaan jamaah. Inilah yang menyebabkan Beliau terlambat. Namun, mengingat Musyawarah Ulama Nasional begitu penting bagi perjuangan ulama nasional mewujudkan syariah Islam dan Khilafah maka Beliau pun bertekad bagaimana caranya bisa ikut walau terlambat. Motivasi kuat inilah yang akhirnya dimudahkan oleh Allah sehingga bisa bertemu dengan rombangan di Kebumen walau sudah tertinggal jauh. Hal yang sama juga dialami oleh KH Mustofa Jufri (Ponpes Hidayatul Mubtadi’en Kemiri dengan santri kurang lebih 100 orang). Beliau pun harus mengejar dengan kendaraan sendiri hingga Kebumen agar bisa ikut bersama rombongan menuju Jakarta. Subhânallâh…

    Begitu besar perhatian dan pengorbanan para ulama guna meneguhkan sikap dalam perjuangan menegakkan syariah Islam dan Khilafah. Tentu masih banyak lagi kisah perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan dari para syabab dan ulama peserta MUN yang belum terekspos.

    Semoga keikhlasan dalam beramal ini menjadi wasilah bagi segera turunnya nashrullâh dengan tegaknya Khilafah Islamiyah.

    • zul // 31 Agustus 2009 pada 18:46 | Balas

      @Abdul ghani:

      saya tidak hendak mengkonfrontir fakta tentang MUN,waLlahu a’lam jika yg anda kisahkan tadi jika memang betul sah2 saja,hanya saja yg saya maksudkan itu adalah legitimasi yg utuh dan bukan sepihak.

      ,tak ada sambutan yg mewakili MUI pusat sebagai lembaga representatif ulama indonesia itu adalah fakta apalagi menyangkut agenda dakwah secara nasional dan ditambah dengan dibutuhkanya pengakuan deklarasi ulama yg akan menjadi agenda utama yg akan dibreak downkan secara nasional jika memang itu adalah kesepakatan ulama seluruh indonesia dan MUI sebagai lembaga representatifnya,kecuali deklarasi itu hanya deklarasi sepihak dari HT saja,kehadiran tokoh besar kedua ormas terbesar juga tak ada yg akan dianggap sebagai pengakuan dan dukungan terhadap acara tersebut jika memang deklarasi tersebut adalah agenda bersama.

      setidaknya KKI 2007 lebih baik dari MUN 2009 ,tapi sebagaimana KKI2007,saya rasa itu hanya akan menjadi even organiser HT saja sebagai unjuk gigi dari eksistensi HT.

  • abdul ghani // 31 Agustus 2009 pada 19:06 | Balas

    ulama yang hadir disana tu informasinya
    1. sudah sepakat dan mendatangani piagam ulama memperjuangkan syariah
    2.sudah sepakat dan menandatangani piagam ulama memperjuangkan Khilafah
    3.sudah sepakat mendukung Hizbut tahrir

    itulah keikhlasan para ulama kita mudah2an Alloh memberikan pertolongan kepada kita untuk segera terwujud khilafah ala minhajinnubuwwah..,amin…,semakin kuatlah tekad saya untuk bergabung dengan HTI..,semoga ALLOH memberi petunjuk kepada kita semua…

    • pengelola2 // 1 September 2009 pada 08:35 | Balas

      @ abdul ghani selamat bergabung dengan HTI semoga ALlah memberikan petunjuk kepada anda untuk tetap kritis terhadap organisasi yang anda ikuti, tidak hanya kepada yang lain

      Amiin

  • pengelolakomaht // 1 September 2009 pada 10:44 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Tidaklah berarti ulama yang tidak mau menghadiri acara tersebut tidak cinta syariah dan khilafah.
    Yang benar adalah mereka yang ikut kegiatan tersebut adalah mereka yang mendukung syariah versi HT sedangkan yang tidak ikut adalah mereka yang mendukung syari’ah namun bukan syari’ah versi HT.

    Adalah hal yang aneh jika anda mencita citakan khilafah ala manhaj nubuwwah sementara anda mendukung khilafah ala manhaj HT, padahal apabila anda menyimak rancangan sistem khilafah HT lalu anda bandingkan sistem khilafah di zaman khulafaur rasyidin ternyata sangat jauh berbeda.
    Misalnya khilafah HT mengadopsi sistem voting dalam proses pemilihan khalifah sementara di era khulafaur rasyidin tidak ada sistem voting yang ada adalah sistem syuro mufakat tanpa voting.

  • mas khalid // 2 September 2009 pada 11:12 | Balas

    Assalamu’alaikum…
    Wahai saudara2ku… maksud dari artikel diatas bukan menyamakan perubahan2 dan penambahan2 terhadap tulisan Taqiyuddin denga perubahan Injil atau taurat yang nggak boleh di ubah, tapi diubah oleh kaum Yahudi dan Nashrani,,, tapi, ingin memberitahukan bahwa, Tulisan Syaikh Taqituddin yang telah di Ubah itu SALAH… beliau tidak mempercayai hadis ahad (periwayatnya Tunggal) walaupun Sahih… ngerikan?
    nah ini sudak masuk wilayah aqidah Islam…ok!
    tetapi beliau hanya percaya pada hadis Mutawatir (periwayatnya banyak)…
    eh malah diubah sama pengikut2nya, biar orang masuk HT di ubah Mutawatir jadi Qath’i (Hadis yang Pasti)… jauh amat melencengnyakan? kalau Qath’i ya hadis sahih ahad juga Qath’i…
    supaya menutupi kesalahan Taqiyuddin dalam memahami dasar Islam Itulah makanya, oleh pengikut2nya di ganti jadi Qath’i…

    nah saudara2 yang sekarang bergabung di HT harus tahu bahwa pendiri HT keliru dalam memahami konsep ajaran Islam, jadi kalau tidak di ubah maka akan jelas terang bulannya… salah apa benar konsep HT gitu lhooo…
    nah biar HT di terima oleh kaum Muslimin khusunya di Indonesia, maka Tulisan nya ada yang di ubah, biar g’ memalukan…
    masak Tulisan Hadist Mutawatir di ubah Qath’i…
    Jadi mengenai khilafah Muslim sejati mana yang tidak mau menegakkannya?
    kalau tidak mau maka dia munafik…
    seluruh kaum muslimin yang kaffah akan setuju dan sepakat dengan khilafah islamiyah, nah jadi HT g’ perlu repot2 teriak khilafah ke kaum Muslimin yang sudah faham tetapi belum masuk HT…
    jika ada Buah
    maka Khilafah hanyalah kulitnya, dan isinya adalah Iman, Ilmu, dan amal… sudahkah kita faham dengan aqidah yang benar, sudahkah kita berakhlak mulia, begitujuga dengan keluarga, masyarakat, dan negara kita…
    nah yang menjadi masalah gimana dengan yang belum faham, kaum muslimin yang masih awwam…
    perlu kita bina kita Tarbiyah…
    oke perjalanan masih panjang, so gunakan sabuk pengaman (Al-Qur’an dan Hadis), dan nikmati perjalanan ini… walau kita tak nikmati kejayaan Islam palng tidak kita menjadi jalan untk itu…. yang jelas Al_HAq pasti menang…

  • abdul ghani // 5 September 2009 pada 10:27 | Balas

    to : mas khalid

    “beliau tidak mempercayai hadis ahad (periwayatnya Tunggal) walaupun Sahih… ngerikan?
    nah ini sudak masuk wilayah aqidah Islam…ok!
    tetapi beliau hanya percaya pada hadis Mutawatir (periwayatnya banyak)”

    mas khalid afwan jangan dulu menebar fitnah..,saya baru mengaji di HTI dan saya baca bukunya juga saya tanyakan sama mereka mengenai hadis ahad masyaAlloh mereka tidak menyangkal hadis ahad bahkan mereka juga banyak dalil-dalilnya menggunakan hadis ahad…,sebelum memberi komentar yang tidak baik konfirmasi dulu sama yang bersangkutan jangan langsung menjastifikasi ok…,

    • pengelola2 // 5 September 2009 pada 10:48 | Balas

      @ Abdul Ghani –> anda baca dulu artikel ini secara tuntas… setelah itu anda cross cek dengan syabab HT/I….

      sudah banyak yang mengritik hal ini.. cuman anggota / syabab HT yang jadi musyrif/ah sering berkelit-kelit… ketika ditanya hal ini…

      silahkaan anda googling di internet tentang hadist ahad dan kedudukannya dalam islam… jangan hanya bersumber dari HT/I yang suka bertaqiyyah dalam hal yang satu ini!

  • aa gerry // 5 September 2009 pada 14:42 | Balas

    hihihi….forum barisan sakit hati rupanyah….

    rugi buang2 waktu nih ane….

  • abdul ghani // 5 September 2009 pada 19:36 | Balas

    to pengelolakoma

    “Adalah hal yang aneh jika anda mencita citakan khilafah ala manhaj nubuwwah sementara anda mendukung khilafah ala manhaj HT”
    jadi menurut antum Khilafah ala manhaj nubuwwah itu seperti apa dan bagaimana membentuknya”’,setelah antum jawab baru akan saya komentari

    • pengelolakomaht // 7 September 2009 pada 11:32 | Balas

      Saudaraku abdul ghani yang diberkahi Allah,

      Tentunya butuh pembahasan lebih bahkan mungkin butuh blog baru untuk membahas bagaimanakah khilafah ala manhaj nubuwwah baik sistem pemerintahannya maupun tatacara penegakannya.
      Untuk itu pelan pelan dan satu persatu kita ambil sedikit contoh kasus saja untuk kita diskusikan bersama, dan diatas saya sudah ambilkan satu contoh mudah yaitu tentang penggunaan sistem voting (suara terbanyak) dalam pengangkatan khalifah, hal ini tidak sesuai dengan sistem pengangkatan khalifah di zaman khulafaur rasyidin, silahkan ini dulu dibahas sebelum lebih banyak lagi kekeliruan konsep khilafah ala manhaj HT yang dibahas.
      Wallahul musta’an

  • abdul ghani // 5 September 2009 pada 19:54 | Balas

    Banyak Tulisan HTI yang bagus”

    PENTINGNYA TETAP ISTIQAMAH DAN TAQARRUB KEPADA ALLAH SWT

    [Al-Islam 471] Pada bulan suci Ramadhan kali ini, umat Islam, selain sedang diuji kesabarannya dalam menjalani hari-hari puasanya sebulan penuh, juga sedang diuji kesabarannya menghadapi fitnah akibat isu terorisme yang akhir-akhir ini sengaja dimunculkan kembali, diekspos terus-menerus dan dikaitkan dengan Islam dan kaum Muslim. Ujian ini terutama menimpa para pengemban dakwah, baik individu maupun lembaga dakwah (pesantren).

    Menghadapi ujian ini seyogyanya setiap Muslim dituntut untuk tetap istiqamah di dalam ketaatannya kepada Allah SWT, tidak menyimpang sedikit pun dari jalan-Nya, dan malah harus semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Sebab, istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT dan taqarrub kepada-Nya akan menjadi pintu baginya untuk meraih sukses di dunia dan akhirat.
    Pentingnya Istiqamah

    Sejak Baginda Nabi saw. memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara—dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam—untuk menggagalkan dakwah Nabi saw. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad saw. adalah orang gila. Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad. Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami Baginda Rasulullah saw.

    Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalan dakwah, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad saw. dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang al-Quran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang al-Quran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).

    Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, kaum Kafir tidak mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam. Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi saw. oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu’ith, Adi bin Hamra‘ ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda‘ al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi saw. dengan isi perut domba yang baru disembelih saat beliau sedang shalat. Uqbah bin Abi Mu’ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi saw. Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi saw. Uqbah bin Abi Mu’ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia. Semua itu dialami Baginda Rasulullah saw., betapapun mulianya kedudukan dan kepribadian beliau di tengah-tengah masyarakat.

    Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumah—padahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnya—sampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat, lalu ia diserahkan kepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.

    Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra. meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya, Sumayyah (ibu ’Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. (Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hisyam, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, Fiqh as-Sîrah hlm. 82.

    Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang Kafir, Rasulullah saw. dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam, tetap bersabar dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT.

    Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air, sedang diuji dengan fitnah terorisme—dituduh mengancam negara, diawasi bahkan diperangi atas nama perang melawan terorisme—maka hal itu sebenarnya barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami Baginda Nabi saw. saat pertama kali. Artinya, jika pun ujian dakwah yang mereka alami jauh lebih sadis dari sekadar fitnah/tuduhan palsu, maka tak usah khawatir. Sebab, Nabi saw. dan para Sahabat pun—yang notabene para wali Allah sekaligus kekasih-Nya—pernah mengalaminya.

    Karena itu, istiqamah di jalan dakwah adalah hal yang sebetulnya wajar-wajar saja bagi para pendakwah. Bahkan hanya dengan tetap istiqamahlah segala permusuhan orang-orang kafir terhadap para pengemban dakwah—yang notabene adalah para wali (kekasih) Allah—akan bisa dikalahkan. Sebab, Allah SWT telah berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, bahwa Dia sendirilah yang akan memerangi orang-orang yang memerangi para wali (kekasih)-Nya:

    «مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ»

    Siapa saja yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka Aku memaklumkan perang terhadapnya (HR al-Bukhari).

    Jika Allah SWT telah memaklumkan perang, maka siapapun yang menjadi sasarannya pasti akan dikalahkan. Lebih dari itu, jika kaum Muslim dan para pengemban dakwah tetap istiqamah di jalan-Nya, maka segala makar orang-orang kafir dan antek-anteknya juga pasti gagal, dan kemenangan dakwah pasti dapat segera terwujud. Sebab, makar orang-orang kafir dan para pendukung kekufuran terhadap kaum Muslim pasti akan dibalas oleh Allah sendiri. Allah SWT berfirman:

    ]وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ[

    Orang-orang kafir itu membuat makar/tipudaya dan Allah membalas makar/tipudaya mereka itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipudaya (QS Ali Imran [3]: 54).

    Pentingnya Taqarrub ilâ Allâh

    Selain tetap istiqamah, setiap Muslim, khususnya para pengemban dakwah, seyogyanya terus berupaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Dalam lanjutan hadis qudsi di atas, Allah SWT berfirman:

    «وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي َلأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي َلأُعِيذَنَّهُ»

    Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar; menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat; menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika ia meminta perlindungan-Ku, pasti Aku lindungi (HR al-Bukhari).

    Dari hadis di atas, jelaslah bahwa secara tersurat, kunci bagi setiap Muslim, khususnya para pengemban dakwah, agar senantiasa permohonannya dikabulkan, juga agar senantiasa mendapatkan perlindungan Allah SWT, adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya.

    Hanya saja, pengertian taqarrub ini tidak boleh dipersempit hanya dalam tataran ritual atau spiritual semata; apalagi sekadar menjalankan yang sunnah-sunnah saja, sementara banyak kewajiban lainnya yang ditinggalkan. Sebab, makna syar’i dari taqarrub ilâ Allâh adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan (Fath al-Bâri, XXI/132; Syarh Muslim, IX/35; Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa`, 1/499; Syarh al-Bukhâri li Ibn Bathal, XX/72). Bahkan taqarrub dengan menjalankan seluruh kewajiban adalah lebih Allah sukai, apalagi jika ditambah dengan terus-menerus menjalankan hal-hal yang sunnah.

    Di antara kewajiban—sebagai bagian dari taqarrub yang lebih Allah sukai itu—adalah berdakwah sekaligus berjuang untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi. Para ulama bahkan menegaskan bahwa taqarrub ilâ Allâh mencakup menerapkan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) dengan melaksanakan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan. Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Wajib menjadikan kepemimpinan [imârah] sebagai bagian dari agama dan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, mendekatkan diri kepada Allah dalam urusan kepemimpinan dengan jalan menaati Allah dan Rasul-Nya termasuk taqarrub yang paling utama [min afdhal al-qurubât].” (Majmû’ al-Fatawa, VI/410),

    Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali juga menerangkan, “Termasuk kewajiban yang merupakan taqarrub ilâ Allâh adalah mewujudkan keadilan, baik keadilan secara umum sebagaimana kewajiban seorang penguasa atas rakyatnya, maupun keadilan secara khusus sebagaimana kewajiban seorang kepala keluarga kepada istri dan anaknya.” (Jâmi’ al-’Ulum wa al-Hikâm, XXXVIII/11).

    Berdasarkan hadis-hadis di atas, aktivitas menerapkan syariah secara adil yang dilakukan oleh Khalifah adalah bagian dari taqarrub ilâ Allâh. Bahkan seperti kata Ibnu Taimiyah di atas, menjalankan pemerintahan Islam termasuk taqarrub ilâ Allâh yang paling utama.

    Pernyataan Ibnu Taimiyah itu tidaklah mengherankan, sebab hanya dengan pemerintahan Islam sajalah umat Islam akan dapat menerapkan hukum-hukum syariah Islam secara kâffah (menyeluruh). Sistem pidana Islam, sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam dan sistem-sistem Islam yang lain tidak mungkin diterapkan tanpa adanya sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Walhasil, eksistensi Khilafah sangat vital, karena hanya dengan Khilafah taqarrub ilâ Allâh akan bisa terlaksana sempurna. Khilafah adalah kunci taqarrub ilâ Allâh secara kâffah.

    Karena itu, memperjuangkan kembali tegakknya Khilafah jelas sengat penting dilakukan oleh umat Islam, khususnya para pengemban dakwah, sebagai bagian dari taqarrub kepada Allah SWT.

    Lebih dari itu, saat seorang Muslim ber-taqarrub kepada Allah maka dia pasti akan dicintai Allah. Orang yang dicintai Allah akan mendapatkan berbagai balasan yang baik dari Allah, semisal keridhaan dan rahmat Allah; limpahan rezeki-Nya, taufik-Nya, pertolongan-Nya, dan sebagainya. (Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi’ al-’Ulm wa al-Hikâm, XXXVIII/10-12; Syarah Muslim, X/35).

    Walhasil, pada bulan Ramadhan yang mulia ini, marilah kita semua ber-ta­qarrub kepada Allah SWT dengan makna yang seluas-luasnya, sebagaimana terpapar di atas. Dengan semua itu, mudah-mudahan Allah SWT segara memberikan pertolongan-Nya kepada kita demi terwujudnya ‘Izzul al-Islâm wa al-Muslimîn. Amin.[]

    • zul // 5 September 2009 pada 21:51 | Balas

      @abdul ghani:

      tentunya kita semua tidak mempermasalahkan semua hal yg tidak kita pertentangkan,semua kebaikan dipihak manapun pasti akan menuai apresiasi,ajaran apapun yg menyuruh pada kebajikan pasti akan menuai simpatik.

      yg kami permasalahkan tentunya bukan itu semua,anda menuduh KOMA HT ghibah dan sejenisnya,tapi anda menutup mata pada apa yg telah HT perbuat dalam propagandanya,HT menuduh jamaah ini atau tokoh fulan itu zalim atau antek yahudi,maka sepantasnyalah reaksi keras jamaah lain yg juga ikhlas berjuang dijalan islam memandang ketidak etisan dan syubhat HT dalam bersikap dengan dalih tausiyah terhadap sesama muslim namun lebih terasa fitnah dan memicu kemarahan ketimbang dengan nuansa ukhuwah(setidaknya itu pasti diamini oleh orang yang objektif dalam meniai pernyataan mana yg provokatif dan tendensius).

      andai anda berpendapat bahwa HT tetap etis dalam apa yg dilakukannya itu sesuai dg tuntutan kaidah fikrohnya(walaupun secara objektif hal itu pasti banyak yg menilai bertentangan dg islam)lantas kenapa anda masih keberatan bahwa KOMA HT juga tetap etis dg apa yg dilakukannya dg blog ini sesuai dg tuntutan apa yg dipahaminya.waLlahu a’lam

  • abdul ghani // 9 September 2009 pada 22:48 | Balas

    to pekoma
    “Tentunya butuh pembahasan lebih bahkan mungkin butuh blog baru untuk membahas bagaimanakah khilafah ala manhaj nubuwwah baik sistem pemerintahannya maupun tatacara penegakannya.”
    saya sebagai pengusaha biasanya kalo menganggap ada yang kurang bagus kemudian saya paparkan nah ini yang lebih bagus..,kalo antum hanya memberikan contoh yang jeleknya aja..,tidak usah repot2 bikin blog baru lagi dengan minimal 500 katapun sudah bisa tertuang bagaimana menerapkan syariah dan khilafah kalo antum mau menerangkan disini..,kalo antum bilang cari didiskusi2 sebelumnya saya bukan orang yg punya banyak waktu..,tinggal copy dan paste disini sama antum..,g sulitkan

  • pengelolakomaht // 10 September 2009 pada 10:11 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Bukankah sudah saya postingkan satu contoh kecil sebagai langkah awal pembicaraan kita,
    bahwa khilafah HT menganut sistem voting sementara khulafaur rasyidin tidak.
    Jika anda tanya mana yang lebih baik tentu saja sistem khulafaur rasyidin yang terbaik yaitu musyawarah mufakat antara ahlul hall wal aqd yaitu para alim ulama Islam, bukannya sistem voting ala khilafah HT.
    Wallahul musta’an.

  • abdul ghani // 10 September 2009 pada 17:51 | Balas

    maksudnya cara antum untuk menerapkan syariah dan khilafah bagaimnana..,

  • yahya abdullah // 11 September 2009 pada 16:12 | Balas

    Kalau memang KOMA-HT memperjuangkan Islam buatlah satu gerakan baru dengan fikrah dan thariqah yang jelas sehingga KOMA-HT bisa fokus pada thariqahnya. bukannya malah terus menerus menyalahkan gerakan lain (HTI). dan anda istiqomah dengan itu

  • uut // 11 September 2009 pada 20:23 | Balas

    Mengembalikan Kedaulatan Hukum Allah

    September 11, 2009 pada 10:09 am (Pemurnian Ajaran)
    Tags: Hadits Ahad, Hizbu Tahrir, Hukum Islam, Khilafah, Tauhid

    Sebuah Kritik Atas Ketidakkonsistenan Hizbu Tahrir

    Hizbu Tahrir bicara soal akidah
    Ketika berbicara tentang perbandingan antara Wahabi dan golongannya, Hizbu Tahrir berkata, “Betul, bahwa ada masalah dalam akidah umat Islam, tetapi tidak berarti mereka belum berakidah Islam. Bagi Hizb, umat Islam sudah berakidah Islam. Hanya saja, akidahnya harus dibersihkan dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh pengaruh kalam dan filsafat. Karena itu, Hizb tidak pernah menganggap umat Islam ini sesat. Hizb juga menganggap, bahwa persoalan akidah ini, meski penting, bukanlah masalah utama. Bagi Hizb, masalah utama umat Islam adalah tidak berdaulatnya hukum Allah dalam kehidupan mereka. Karena itu, fokus perjuangan Hizb adalah mengembalikan kedaulatan hukum Allah, dengan menegakkan kembali Khilafah.” (Hizbu Tahrir Bukan Wahabi)

    Mari bersihkan akidah umat!
    Kita akan mulai diskusi ini dengan perkara yang kita sepakati. Yaitu kita harus membersihkan akidah umat ini dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh pengaruh kalam dan filsafat. Maka marilah kita lihat ucapan Hizbu Tahrir tentang hadits ahad. Mereka berkata, “Dalam konteks akidah, hadits Ahad itu sendiri memang tidak bisa digunakan sebagai dalil. Pertama, fakta akidah itu sendiri yang harus qath’i, atau yakin seratus persen. Kedua, fakta hadits Ahad yang hanya bisa mengantarkan pada ghalabah adh-dhann (dugaan kuat). Artinya, fakta akidah seperti ini —yang nota bene harus yakin seratus persen— jelas tidak bisa dibangun dengan dalil yang hanya bisa mengantarkan pada keyakinan di bawah seratus persen, sementara yang dibutuhkan harus seratus persen. Jadi, masalahnya seperti itu. Bukan soal menerima atau menolak hadits Ahad.” (Hizbu Tahrir Menjawab Tuduhan Miring)

    Kalau memang benar bahwa hadits ahad memang tidak bisa digunakan sebagai dalil dalam masalah akidah lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus da’inya hanya seorang diri (sehingga haditsnya disebut hadits ahad, pen), sebagaimana kisah pengutusan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke Yaman yang sangat populer itu dan tercantum di kitab-kitab induk hadits dan disepakati keabsahannya oleh para ulama (Bukhari dan Muslim)?

    Perhatikanlah ucapan mereka bahwa hadits ahad tidak bisa digunakan sebagai dalil dalam masalah akidah. Tanyakanlah kepada mereka dari mana sumber keyakinan itu? Bukankah keyakinan bahwa hadits ahad tidak bisa dijadikan sebagai dalil dalam hal akidah itu sebenarnya perkara baru yang tidak dikenal di masa salaf yang baru muncul belakangan akibat pengaruh kalam dan filsafat [!!] (sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rays –hafizhahullah- dalam sebuah ceramahnya, silakan baca pula penjelasan panjang lebar oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah- dalam sebuah risalah beliau berjudul Wujubul akhdzi bil haditsil ahad).

    Kalau mereka memang mau jujur dengan ajakan untuk membersihkan akidah umat dari kotoran dan debu, maka semestinya akidah mereka itulah yang pertama kali harus dibersihkan. Pikirkanlah ucapanmu wahai saudaraku…

    Masalah akidah bukan masalah utama?
    Wah, sepertinya kita perlu mengoreksi anggapan ini. Bagaimana mungkin seorang muslim mengatakan bahwa masalah akidah bukanlah masalah utama yang dihadapi oleh umat ini? Seolah-olah dia tidak pernah mendengar dakwah Islam yang diserukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Bukankah dakwah yang pertama kali diserukan oleh Nabi adalah masalah akidah? Bukankah dakwah yang pertama kali diperintahkan Nabi untuk diserukan oleh para sahabatnya adalah masalah akidah, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal di atas?

    Mungkin mereka lupa kalau di masa Nabi dulu kaum kafir Quraisy tidak berhukum dengan hukum Allah dalam kehidupan mereka. Namun, di saat yang sama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memfokuskan perjuangannya untuk itu (baca: menegakkan khilafah). Beliau tetap mengutamakan pembenahan akidah. Bagaimana mungkin umat mau menerapkan hukum-hukum Allah sementara akidah mereka masih berantakan, mungkinkah? Kita tidak mengatakan bahwa umat Islam sekarang belum berakidah Islam, namun sebagaimana yang mereka akui sendiri bahwa akidah kebanyakan umat ini telah terkotori! Dan betapa banyak kotoran yang mencemari akidah umat ini! Bukti nyatanya adalah apa yang menimpa sebuah kelompok Islam yang mengaku ingin melanjutkan kehidupan Islam ini… Ambillah pelajaran wahai orang yang cerdas!

    Renungkanlah…
    Sepertinya kebenaran ini sudah terlalu terang bagimu, wahai saudaraku! Bagaimana pun kondisi umat ini dan seburuk apa pun kondisi mereka maka tetap saja pembenahan akidah merupakan prioritas utama.

    Tidakkah kita ingat tentang tujuan hidup kita? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Sebagaimana kita mengerti bahwa ibadah tidak sempit dalam masalah hukum saja, ibadah juga meliputi perkara-perkara lain dalam agama. Sementara kedudukan akidah yang benar merupakan sumber kebaikan dan kejayaan umat ini. Tidakkah kita ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung/hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Tidak mungkin seorang hamba mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dan hukum-hukum-Nya kecuali apabila di dalam hatinya telah tertanam akidah dan keimanan yang lurus kepada Rabbnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.” (QS. al-Hajj: 32). Oleh sebab itulah kita dapati segenap rasul memiliki sebuah misi yang sama yaitu mengajak umat manusia untuk mentauhidkan Allah dan menjauhi syirik. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36)

    Hukum Allah memang harus ditegakkan, dan yang pertama kali dan paling penting untuk ditegakkan adalah tauhid, sebab itulah asas dan pondasi agama. Tauhid itulah hukum paling agung dan perintah paling utama yang disyari’atkan oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Keputusan hukum itu hanyalah milik Allah, Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia…” (QS. Yusuf: 40). Bagaimana mungkin kita ingin berjuang menegakkan hukum Allah dengan mengesampingkan persoalan akidah? Sungguh ini adalah hal yang mustahil! Bagaikan seorang yang ingin menegakkan bangunan kokoh namun tanpa pondasi yang kuat, seperti orang yang ingin membangun istana megah namun di atas kepingan-kepingan kayu yang rapuh… laa haula wa laa quwwata illa billah!

    Renungkanlah perjalanan kalian, sebelum kalian menyesal di hari ketika tidak berguna lagi penyesalan… Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    Yogyakarta, 21 Ramadhan 1430 H

  • afandy // 14 September 2009 pada 15:37 | Balas

    salam

    subhanallah, membaca artikel ini plus komentar2 nya menghabiskan waktu hampir 3 jam sendiri, seolah tak rela melewatkan satu komentar pun.
    Bangga saya jadi umat muslim, ternyata banyak sekali sodara2 muslim yang sangat cerdas, berani saling berdebat dan saling menasehati…Semoga Allah ridho dengan kita semua..

    hanya ingin berpesan sebagai hamba yang masih terus belajar….MARILAH KITA MENJADI MUSLIM YANG KAFFAH, BERISLAM SECARA KAFFAH, BERAQIDAH, BERAKHLAQ DAN BERMUAMALAH SECARA KAFFAH….kebenaran hanya milik Allah….jika kita keliru terhadap pendapat dan cara pandang kita, katakan kita keliru, tak rugi mengakui kekeliruan, tak akan berkurang kemuliaan kita dimata Allah….jangan sampe semua keangkuhan kita menjadikan kita hina dihadapan Allah.

    Tak bermaksud membela…….

    hanya mencoba melihat dari sudut pandang pribadi saja…yang saya pahami dalam pembahsana ini adalah adanya kekeliruan dalam menuliskan suatu kitab yang itu akan berakibat buruk bagi pengikutnya, bukan mengatakan suatu pergerakan itu baik atau buruk benar atau salah karena itu hanya hak Allah semata.

    MAri kita pelajari lebih dalam ajaran Rasul kita agar kita tidak berada dijalan yang salah. jika ada perkebangan pemikiran, itulah karunia Allah atas hambaNya, namun jika semua itu menyimpang dari ajaran Rasul da sahabat, maka tinggalkanlah tidak perlu merasa takut…takutlah hanya pada Allah…karena hanya Dia yang maha memiliki hidup…..Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dunia……..

    yogyakarta, 24 Ramadhan 1430 H

  • jay // 14 September 2009 pada 22:52 | Balas

    HIZBUT TAHRIR bukanlah peletak dasar yang mengeluarkan pendapat bahwa Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Ketika HT lahir (1953), kedua pendapat itu sudah ada. HT hanya memilih diantara dua pendapat yang berbeda tersebut kemudian dijadikan / ditabani sebagai pendapat HT. Jadi Claim yang menyebutkan bahwa pendapat tersebut adalah hanyalah pendapat Nyleneh HIZBUT TAHRIR Insya Allah akan terbantah dengan sendirinya. Berikut pendapat ulama yang menyatakan bahwa Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dasar dalam masalah aqidah tetapi bisa digunakan dalam masalah hukum syariat.

    Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Quran menyatakan, bahwa, hadits ahad tidak bisa dijadikan sandaran (hujjah) dalam menerima masalah ‘aqidah. Al-Quranlah rujukan yang benar, dan kemutawatirannya adalah syarat dalam menerima pokok-pokok ‘aqidah .

    Imam Syaukani menyatakan, “Khabar ahad adalah berita yang dari dirinya sendiri tidak menghasilkan keyakinan. Ia tidak menghasilkan keyakinan baik secara asal, maupun dengan adanya qarinah dari luar…Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama. Imam Ahmad menyatakan bahwa, khabar ahad dengan dirinya sendiri menghasilkan keyakinan. Riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Hazm dari Dawud al-Dzahiriy, Husain bin ‘Ali al-Karaabisiy dan al-Harits al-Muhasbiy.’

    Prof Mahmud Syaltut menyatakan, ‘Adapun jika sebuah berita diriwayatkan oleh seorang, maupun sejumlah orang pada sebagian thabaqat –namun tidak memenuhi syarat mutawatir [pentj]—maka khabar itu tidak menjadi khabar mutawatir secara pasti jika dinisbahkan kepada Rasulullah saw. Ia hanya menjadi khabar ahad. Sebab, hubungan mata rantai sanad yang sambung hingga Rasulullah saw masih mengandung syubhat (kesamaran). Khabar semacam ini tidak menghasilkan keyakinan (ilmu) .”

    Beliau melanjutkan lagi, ‘Sebagian ahli ilmu, diantaranya adalah imam empat (madzhab) , Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’iy dan Imam Ahmad dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa hadits ahad tidak menghasilkan keyakinan.”

    Al-Ghazali berkata, ‘Khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan. Masalah ini –khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan—merupakan perkara yang sudah dimaklumi. Apa yang dinyatakan sebagian ahli hadits bahwa ia menghasilkan ilmu, barangkali yang mereka maksud dengan menghasilkan ilmu adalah kewajiban untuk mengamalkan hadits ahad. Sebab, dzan kadang-kadang disebut dengan ilmu.”

    Imam Asnawiy menyatakan, “Sedangkan sunnah, maka hadits ahad tidak menghasilkan apa-apa kecuali dzan ”

    Imam Bazdawiy menambahkan lagi, ‘Khabar ahad selama tidak menghasilkan ilmu tidak boleh digunakan hujah dalam masalah i’tiqad (keyakinan). Sebab, keyakinan harus didasarkan kepada keyakinan. Khabar ahad hanya menjadi hujjah dalam masalah amal. ”

    Imam Asnawiy menyatakan, “Riwayat ahad hanya menghasilkan dzan. Namun, Allah swt membolehkan dalam masalah-masalah amal didasarkan pada dzan….”

    Al-Kasaaiy menyatakan, “Jumhur fuqaha’ sepakat, bahwa hadits ahad yang tsiqah bisa digunakan dalil dalam masalah ‘amal (hukum syara’), namun tidak dalam masalah keyakinan…”

    Imam Al-Qaraafiy salah satu ‘ulama terkemuka dari kalangan Malikiyyah berkata, “..Alasannya, mutawatir berfaedah kepada ilmu sedangkan hadits ahad tidak berfaedah kecuali hanya dzan saja.”

    Al-Qadliy berkata, di dalam Syarh Mukhtashar Ibn al-Haajib berkata, “’Ulama berbeda pendapat dalam hal hadits ahad yang adil, dan terpecaya, apakah menghasilkan keyakinan bila disertai dengan qarinah. Sebagian menyatakan, bahwa khabar ahad menghasilkan keyakinan dengan atau tanpa qarinah. Sebagian lain berpendapat hadits ahad tidak menghasilkan ilmu, baik dengan qarinah maupun tidak.”
    Syeikh Jamaluddin al-Qasaamiy, berkata, “Jumhur kaum muslim, dari kalangan shahabat, tabi’in, dan ‘ulama-ulama setelahnya, baik dari kalangan fuqaha’, muhadditsin, serta ‘ulama ushul; sepakat bahwa khabar ahad yang tsiqah merupakan salah satu hujjah syar’iyyah; wajib diamalkan, dan hanya menghasilkan dzan saja, tidak menghasilkan ‘ilmu.”

    Dr. Rifat Fauziy, berkata, “Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang,dua orang, atau lebih akan tetapi belum mencapai tingkat mutawatir, sambung hingga Rasulullah saw. Hadits semacam ini tidak menghasilkan keyakinan, akan tetapi hanya menghasilkan dzan….akan tetapi, jumhur ‘Ulama berpendapat bahwa beramal dengan hadits ahad merupakan kewajiban.”

    Perlu diketahui, bahwa ulama-ulama di atas sepengetahuan kami bukan anggota HIZBUT TAHRIR. Jadi pendapat bahwa hadits Ahad tidak bisa digunakan untuk masalah Aqidah, tetapi hanya bisa digunakan untuk masalah syariat adalah pendapat para ulama2 di atas.

    Catatan kaki :

    Sayyid Qutub –> Sayyid Qutub, Fi Dzilalil Quran, juz 30, hal. 293-294

    Imam Syaukani –> Irsyaad al-Fuhuul ila Tahqiiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushuul, hal.48. Diskusi tentang hadits ahad, apakah ia menghasilkan keyakinan atau tidak setidaknya bisa diikuti dalam kitab Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, karya Imam al-Amidiy; [lihat Al-Amidiy, Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, juz I, Daar al-Fikr, 1417 H/1996 M, hal.218-223].

    Prof Mahmud Syaltut –> Islam, ‘Aqidah wa Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, hal. 63.

    Al-Ghazali –> Islam, ‘Aqidah wa Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal. 64

    Imam Asnawiy –> IIslam, ‘Aqidah wa Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal. 64

    Imam Bazdawiy –> IIslam, ‘Aqidah wa Syari’ah, ed.III, 1966, Daar al-Qalam, Hal. 64

    Al-Kasaaiy –> Al-Kasaaiy, Badaai’ al-Shanaai’, juz.I, hal.20

    Imam Al-Qaraafiy –> Imam al-Qaraafiy, Tanqiih al-Fushuul , hal.192.

    Al-Qadliy –> Syarh Mukhtashar Ibn al-Haajib

    Dr. Rifat Fauziy, –> Dr. Rifat Fauziy, al-Madkhal ila Tautsiiq al-Sunnah, ed.I, tahun 1978.

  • Khalid Bin Walid // 15 September 2009 pada 00:10 | Balas

    Assalamu alaikum….

    Pengelola web ini… saya mau bertanya… Apakah antum sepakat bahwa kondisi ummat Islam saat ini sangat membutuhkan Daulah Khilafah? Jika antum menjawab Ya, langkah strategis apa yang anda akan lakukan.

    Kami akan bergabung dengan organisasi Anda jika itu memang benar2 langkah strategi yang diambil sesuai dgn Syariah Islam dalam menegakkan Daulah Khilafah. Dan organisasi anda sdh menyiapkan apa-apa yang harus dikerjakan tatkala Daulah Khilafah telah tegak.

    Maka saran saya Antum tidak perlu berlebihan mendebat HT.

    Berikan solusi buat ummat ini. Lebih baik bentuk organisasi jika belum ada dan persiapkan segalanya organisasi itu untuk menegakkan Daulah Khilafah.

  • firmansyah Probolinggo // 15 September 2009 pada 14:36 | Balas

    Rujukan yang harus dipake’ tidak lain adl kitab2 klasik muktabar. sehingga qta bisa menerima kebenaran dan gemilangnya islam.

  • msitompul2008 // 15 September 2009 pada 15:04 | Balas

    Hhmmm..cuma penasaran saja, apakah pemahaman mengenai apakah hadist ahad yang dimaksudkan (ditabanni) oleh ht itu sama dengan yang dimaksudkan oleh beliau-beliau yang dimasukkan dalam referensi tsb..ada yang bisa memberikan pencerahan??

    btw, menurut ht, hadis ahad itu hadis apaan sih?

    jangan-jangan tidak sama lagi!!

  • uut // 15 September 2009 pada 20:08 | Balas

    POLEMIK HADITS AHAD

    (Bantahan Terhadap Surat Terbuka)
    http://abusalma.wordpress.com/2007/04/05/polemik-hadits-ahad-bantahan-terhadap-surat-terbuka/

  • jay // 16 September 2009 pada 08:56 | Balas

    msitompul2008 :

    Hhmmm..cuma penasaran saja, apakah pemahaman mengenai apakah hadist ahad yang dimaksudkan (ditabanni) oleh ht itu sama dengan yang dimaksudkan oleh beliau-beliau yang dimasukkan dalam referensi tsb..ada yang bisa memberikan pencerahan??

    btw, menurut ht, hadis ahad itu hadis apaan sih?

    jangan-jangan tidak sama lagi!!

    koment :

    Hati-hati bila memberi koment, kroscek (tabayyun) dulu kepada ybs, sebab bila tidak terbukti bisa menjadi fitnah dan akan di mintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh SWT kelak di hari kiamat, coba tanya dengan mantan HT ( kalau emang bener pernah ngaji di HTI) bagaimana HT memandang hadis ahad, apakah berbeda dengan ulama2 terdahulu.

  • msitompul2008 // 16 September 2009 pada 10:52 | Balas

    jay said:
    Hati-hati bila memberi koment, kroscek (tabayyun) dulu kepada ybs, sebab bila tidak terbukti bisa menjadi fitnah dan akan di mintai
    pertanggungjawaban di hadapan Alloh SWT kelak di hari kiamat, coba tanya dengan mantan HT ( kalau emang bener pernah ngaji di HTI) bagaimana HT memandang hadis ahad, apakah berbeda dengan ulama2 terdahulu.

    komen:
    kepriben tho mas, lha pertanyaaan saya itu emang bukan konfirmasi tho??

    klo emang sama, lalu kenapa permasalah ini muncul berulang kali ya diberbagai forum ya??

    sebagai kader ht, anda harus bisa menjelaskannya dong? ditunggu ya?

  • pengelolakomaht // 17 September 2009 pada 08:20 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Apabila masih ada yang ingin didiskusikan tentang hadits ahad silahkan dibaca dulu artikel saya dan diskusi-diskusi dibawahnya, dengan judul : HIZB DAN AQIDAH NABI YANG DIRAGUKANNYA
    Link : http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/

    InsyaAllah disana sudah lengkap dan sudah ada juga koment-koment dari pihak HT.
    Apabila masih ada syabab yang tidak terima atau penasaran silahkan koment disana insyaAllah akan kita diskusikan dengan baik.

  • jay // 17 September 2009 pada 09:27 | Balas

    @ msitompul2008 :
    btw, menurut ht, hadis ahad itu hadis apaan sih?

    “jangan-jangan tidak sama lagi!!”

    kepriben tho mas, lha pertanyaaan saya itu emang bukan konfirmasi tho??

    klo emang sama, lalu kenapa permasalah ini muncul berulang kali ya diberbagai forum ya??

    sebagai kader ht, anda harus bisa menjelaskannya dong? ditunggu ya?

    koment :

    antum mau konfirmasi tp udah su’udzan, yang buat masalah ini berulang2 diforum ya karna orang itu2 juga yang buat di forum. saya udah baca link yang mantan HT berikan dan semuanya cukup jelas, kesimpulan saya antum mengingkari apa yang telah diajarkan HT tentang hadis ahad. sebagai mantan kader HT(kalau benar) coba jawab pertanyaan msitompul bagaimana musyrif antum dulu menjelaskan hadis ahad ? apakah pernah waktu di HTI(kalau benar) diajarkan untuk mengingkari siksa kubur, dajjal, pertanyaan mungkar nakir dan dan segudang pertanyaan yang antum tuduhkan bahwa HT mengingkarinya ?? sampaikan di forum ini bahwa antum di HTI (kalau benar) tidak pernah di ajarkan untuk menolak hadis ahad.
    saya sedih akhi, antum begitu keluar justru menuduh kami dengan tuduhan yang tidak pernah kami lakukan. kalau emang antum punya pandangan berbeda tentang masalah aqidah dengan HT silahkan saja kalau menurut antum itu lebih baik, tapi tidak seperti ini. tidak hanya HT, tapi ulama2 terdahulu juga banyak yang memahami hadis ahad seperti itu. adakah kita lebih baik dari mereka ?

    • pengelolakomaht // 19 September 2009 pada 15:56 | Balas

      Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Saya tidak pernah menulis fitnah karena semua saya berikan rujukannya dari kitab kitab mutabanat HT.
      Saya juga tidak menulis HT mengingkari hadits ahad namun saya tulis HT meragukan aqidah dari hadits ahad yang shohih, dan ini hal yang berbeda satu sama lain.
      Namun justru saya mendapat klaim yang lebih parah dari para syabab yang pernah koment di sini di bawah artikel saya dan diskusi-diskusi dibawahnya, dengan judul : HIZB DAN AQIDAH NABI YANG DIRAGUKANNYA
      Link : http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/
      yaitu beberapa syabab justru terang -terangan mengatakan keingkarannya pada aqidah dari hadits ahad yang shohih.

      Jadi keingkaran itu bukan saya yang nulis karena saya hanya menulis keraguan bukannya keingkaran, sedangkan yang menulis dan mengakui keingkaran atas hadits ahad tersebut justru dari pihak syabab HT misalnya dari saudara Saif ayatullah baabduh dan anda bisa buka sendiri blog nya di http://saif1924.wordpress.com/

      Untuk itu saya simpulkan anda belum membaca dengan baik tulisan saya tentang hadits ahad dan komentar2 di bawahnya sehingga anda menuduh saya memfitnah HT padahal secuilpun saya tidak memfitnah HT dan keingkaran itu hanyalah pengakuan dari pihak syabab HT sendiri, wallahul musta’an.

  • firmansyah Probolinggo // 17 September 2009 pada 09:44 | Balas

    terkait dgn hadits ahad, ana sarankan sebelumnya untuk memahami sikap Ulama-ulama muktabar ttg hal ini. karena yang demikian lebih menjaga sikap, bukan malah justru mempruncing masalah tanpa memahami ulama klasik yang kuat keilmuannya dalam menyikapinya sehingga menjaga lisan dan hati.OK! Dan sesungguhnya jika ini diterapkan, sungguh jelas akhlak umat islam.

  • jay // 17 September 2009 pada 12:39 | Balas

    maksud saya aqidah dalam hadis ahad.

  • msitompul2008 // 17 September 2009 pada 13:55 | Balas

    mas jay yang cerdas,

    saya tidak butuh penjelasan lebih lanjut lagi mengenai hadis ahad ini dari pengelola ini, karena apa yang sudah disampaikan pengelola ini dilink mengenai hadis ahad itu sudah cukup jelas dan pasti tidak sama dengan pemahaman wong hti’ers (wong sudah terbukti dibahas berulang-ulang je..).

    yang saya butuhkan adalah penjelasan anda–sebagai kader ht sejati mengenai permasalahan ini, karena jika pendapat syeh taqi seperti yang dituliskan oleh pengelola ini memang seperti itu maka saya lebih sependapat dengan pendapat pengelola ini, kecuali pendapat syaih taqi yang dikutip tsb tidak seperti itu..

    saya juga pernah dengar sih katanya ht tidak mengimani hadis ahad, hanya sekedar percaya dan tidak menolak . iku maksute opo rek???

    kira-kira percaya doank, tidak menolak dan tidak membantah sama dengan mengimani ga??

  • firmansyah Probolinggo // 17 September 2009 pada 15:50 | Balas

    Assalamu’alykum…terkait dgn hadits ahad, ana sarankan sebelumnya untuk memahami sikap Ulama-ulama muktabar ttg hal ini. karena yang demikian lebih menjaga sikap, bukan malah justru mempruncing masalah tanpa memahami ulama klasik yang kuat keilmuannya dalam menyikapinya sehingga menjaga lisan dan hati.OK! Dan sesungguhnya jika ini diterapkan, sungguh jelas akhlak umat islam… Wassalamu’alaykum

  • jay // 17 September 2009 pada 21:03 | Balas

    @ msitompul2008 :
    saya juga pernah dengar sih katanya ht tidak mengimani hadis ahad, hanya sekedar percaya dan tidak menolak . iku maksute opo rek???

    koment :
    tuh kan..antum berati emang gak tau apa yang di pahami HT tentang hadis ahad, tapi udah koment yang macem2.
    antum tau gak apa itu hadis mutawatir dan apa itu hadis ahad ?? kalo gak tau tanya sama mantan HT suruh jelasin dulu, ok..

  • Pejuang Khilafah // 18 September 2009 pada 13:53 | Balas

    mengingatkan kembali ucapan Syaikh Abul A’la Al Maududi terhadap HT: “Janganlah mendebat mereka. Biarkanlah saja. sebab, hari-hari yang berlalu kelak akan mereka jumpai dengan kematian”

  • Brothers Muslim // 20 September 2009 pada 14:28 | Balas

    buat khalid bin walid
    Aslm………
    mas ada organisasi yang bagus tuh, yang perjuangan nya strategis, seperti ikhwan al-muslimin gitu…. pihak barat pada takut dengan nama itu karena ALLAH, sampai2 Pimpinannya Di bunuh Hasan Al-Bana dan Sayyid Qitb sehingga mereka Syahid… fakta menunjukkan di manapun ikhwanul muslimin ada di situ ada dinamika perjuangan Islam… di Palestina, Turki, Indonesia, Aljazair, Mesir, Checna, Afghanistan…. ALLAH adalah Tujuan Kami, Rasulullah Teladan kami, Al-Qur’an Pedoman hidup kami Jihad adalah jalan juang kami, mati di jalan ALLAH adalah cita2 kami tertinggi… Skrn tertarik mas?

  • andri // 22 September 2009 pada 16:33 | Balas

    kenapa anda mempersalahkan yang keliru sedikit, apa anda ingin mencari perhatian dari syabab hizbuttahrir diseluruh dunia, atau karena anda digaji oleh seseorang, bukankah kalau anda seorang muslim tentu anda akan berusaha menasihati dengan kata2 bijak bukan malah menghina dan menjatuhkan, apakah anda non muslim yg berusaha mencampakkan ajaran islam?

  • mas khalid // 23 September 2009 pada 10:17 | Balas

    permasalahannya tidak sedikit mas, menyangkut masalah aqidah dan persatuan umat…. dan saya rasa pengelola komaht telah sangat bijak menasehati dengan kata2 yang santun, kata2nya beda dengan syabab ht yang emosional…

  • aqse // 24 September 2009 pada 01:33 | Balas

    udeh.. udeh .. jangan pade brantem aje.

  • pengelolakomaht // 24 September 2009 pada 11:04 | Balas

    Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Apabila ada kata kata saya yang kurang berkenan di hati saat menasehati maka dengan tulus saya mohon maaf yang sebesar besarnya, namun insyaAllah bagi anda yang membaca blog ini dengan seksama akan mendapati bahwa saya tidak pernah kasar dalam berucap dan justru dari pihak HT lah yang seringkali kelepasan mengeluarkan komentar yang kurang pantas sebagai sesama muslim yang bersaudara.

    Perlu saya ingatkan kembali bahwa diskusi yang baik adalah mengedepankan dalil dan pemikiran ilmiyah untuk memperoleh kebenaran, dan diskusi adalah salah satu solusi agar tidak terjadi pertikaian dan perkelahian antar ummat Islam, maka insyaAllah diskusi dengan cara yang baik adalah salah satu bagian agama ini yaitu saling menasehati atas kekeliruan dan kekhilafan kita, dan ini telah dipraktekkan oleh para alim ulama besar Islam sebelum ini.

  • Rara // 24 September 2009 pada 18:08 | Balas

    sebagai orang awam…
    saya bingung, kenapa atuh pas bingung ttg ketidaksamaan itu nggak ditanya sama guru ngajinya?
    kan setahu saya ada tuh,yang namanya murabbi..
    krn kebanyakan orang yang nggak tahu,terus sok tahu, dan nggak mau cari tahu, biasanya membuat masalah baru yang seperti ini….
    pasti ada alasan kenapa ada perubahan seperti itu,dan utk itu musti tabayyun dan tidak langsung menjudge…

  • firmansyah Probolinggo // 26 September 2009 pada 09:23 | Balas

    sudahlah…. dan akhirilah… sangat jauh dari pemandangan ulama2 terdahulu dalam menyikiapinya. innalillahi wa’innailayhi rooji’un.

  • firmansyah Probolinggo // 26 September 2009 pada 09:24 | Balas

    sudahlah…. dan akhirilah… sangat jauh dari pemandangan ulama2 terdahulu dalam menyikapinya. innalillahi wa’innailayhi rooji’un.

  • msitompul2008 // 29 September 2009 pada 11:59 | Balas

    jay // 17 September 2009 pada 21:03 | Balas

    tuh kan..antum berati emang gak tau apa yang di pahami HT tentang hadis ahad, tapi udah koment yang macem2.
    antum tau gak apa itu hadis mutawatir dan apa itu hadis ahad ?? kalo gak tau tanya sama mantan HT suruh jelasin dulu, ok..

    komen;
    Hhmm sok tau loe, saya ndak ngerti apa itu hadis ahad atau apa itu hadis mutawatir.

    Pusing deh diskusi dengan para hti’ers ini. ditanya malah balik bertanya. perasaan dari awal saya dah bertanya berbusa-busa mengenai defenisi hadist ahad itu menurut ht tapi belum satupun yang dijawab hti’esrs, tapi e malah sudah dituduh komen macam-macam. aya-aya wae..lagi pula semua pernyataan masih pada ruang lingkup PERTANYAAN kok…bukan pernyataan kesimpulan.Oke!!

    yang paling afdol menjawab hadis ahad menurut ht yang orang ht sendiri donk, bukan mantan ht, lha iki kok malah disuruh nanya pada orang yang jelas-jelas saja pendapatnya tidak sama (mas, jay klo dari awal koma ini sependapat dengan hti, dia tuh mah pasti masih di ht tok??)…ingat masalah hadist ht bkan maslah kecil lho!!!

    para pemirsa kan mau tahu jawaban perbandingan antara ht dan mantan-nya..gitu lho aa jay…atau klo belum bisa jawab, ndak usah macam-mcam dengan bertanya balik, pelajri dulu deh, ntar klo dah ngerti baru boleh deh dijawab..ojo muter-muter begono..

    ups, tapi hampir kelupaan..walaupun pendapat kita masih tidak sama, sesungguhnya kita semua masih saudaraan..sebelum saya lupa, saya ingin mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Minal Aidin wal Faidzin. Taqallahu minna wa minkum…

  • pengelolakomaht // 30 September 2009 pada 13:26 | Balas

    Khusus untuk saudaraku Firmansyah Probolinggo,

    Para ulama terdahulu hanya berselisih antara adanya dhon dan tidak dalam hadits ahad namun TIDAK ADA SATUPUN YANG MENGHARAMKAN AQIDAH DARI HADITS AHAD sebagaimana FATWA dari TAQIYYUDDIN.

    Silahkan tunjukkan fatwa satu saja dari ulama yang bunyinya SAMA dengan fatwa taqiyyudin bahwa semua yang berasal dari hadits ahad meskipun shahih HARAM diimani atau dengan kata lain BERDOSA mereka yang mengimaninya.

  • Prakasa // 4 Oktober 2009 pada 22:14 | Balas

    Sahabat KOMA met bJuang!!!
    bSabarlh dngn orng-orng yg blm Allah SWT berikn ptunjuk. Krn Hdyh hny dr Allah SWT, Qt hny bTugas mngingatkn ssama Muslim. Mg Shbt yg msh dHT/yg ngku dah kluar (tp msh taqlid kHT) smkn sadar tntng pntingny bAkhlak baik kpd Muslim lainny. Amin

  • jijah // 7 Oktober 2009 pada 08:28 | Balas

    wahai saudaraku….sudahlah ga usah berbantah-bantah yang hanya akan melemahkan kekuatan islam. orang-orang kafir pasti senang bukan kepalang membaca blog ini, ternyata sesama muslim suka berantem. ana bukan aktifis dari mana pun tapi saya banyak mengenal aktifis HTI, MMI, FPI, SALAFY, PKS. ayo brooo jaga ukhuwah islamiyah kita, perbedaan adalah suatu keniscayaan, bukan kah para sahabat sendiri juga saling berbeda pendapat? tapi mereka tidak pernah berantem. yang udah keluar dari HT ambil jalan dakwah sendiri kalo tidak puas dengan HT jangan malah menjelekkan. …biar waktu yang menjawab siapa yang benar dan siapa yang belum benar..

  • firmansyah Probolinggo // 7 Oktober 2009 pada 19:16 | Balas

    diam adalah lebih baik, jika berkomentar tanpa ilmu. dimohon untuk seluruhnya bersikap demikian.

  • Nama // 13 Oktober 2009 pada 12:16 | Balas

    saya hanya ingin menanggapi : blog2 seperti ini bukanlah GHIBAH bahkan sbg bentuk amar ma’ruf nahi munkar. klo yg sepeti ini ghibah maka Rasulullah melakukan ghibah kpd dzul khawaisirah sbg khawarij, para imam-imam salaf juga melakukan ghibah kpd jahm bin shafwan, nafi bin azraq, dn tokoh2 sesat lainnya.

    Dari Al A’masy dari Ibrahim ia berkata :
    “Bukanlah ghibah menceritakan keadaan ahli bid’ah.” (Al Lalikai 1/140 nomor 276)

    Al Hasan Al Bashry berkata :
    “Menerangkan keadaan ahli bid’ah dan kefasikan orang yang berbuat fasiq terang-terangan bukan perbuatan ghibah.” (Al Lalikai nomor 279-280)

    Dari Sufyan bin Uyainah berkata, Syu’bah pernah berkata :
    “Kemarilah kita (berbuat) ghibah di jalan Allah Azza wa Jalla.” (Al Kifayah 91 dan Syarah Ilal At Tirmidzy 1/349)

    Dari Abi Zaid Al Anshary An Nahwiy berkata, Syu’bah mendatangi kami pada waktu turun hujan dan berkata :
    “Ini bukanlah hari (pelajaran) hadits, hari ini adalah hari ghibah, marilah melakukan ghibah tentang para pembohong itu.” (Al Kifayah 91)

    Abdullah bin (Imam) Ahmad bin Hanbal berkata, Abu Turab An Nakhsyabi datang kepada ayahku lalu beliau mulai berkata : “Si Fulan dlaif, si Fulan tsiqah.”
    Berkatalah Abu Turab : “Wahai Syaikh, janganlah mengghibah ulama.”
    Ayahku segera menoleh ke arahnya dan berkata : “Celakalah kamu! Ini adalah nasihat bukan ghibah.” (Al Kifayah 92 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)

    Ismail Al Khathaby berkata, Abdullah bin (Imam) Ahmad menceritakan kepada kami bahwa ia berkata kepada ayahandanya :
    “Apa yang Anda katakan mengenai para rawi yang mendatangi seorang syaikh yang barangkali ia seorang Murjiah atau Syi’iy atau dalam diri syaikh itu terdapat perkara yang menyelisihi As Sunnah apakah ada kelonggaran buat saya untuk diam dalam hal ini ataukah saya harus memperingatkan manusia agar berhati-hati dari syaikh ini?”
    Ayahku menjawab : “Jika ia mengajak orang kepada bid’ah sedangkan dia adalah imam ahli bid’ah maka benar kamu harus memperingatkan manusia dari syaikh ini.” (Al Kifayah 93 dan Syarh Ilal At Tirmidzy 1/350)

  • jalaly // 18 Oktober 2009 pada 21:58 | Balas

    tuk pengelola….
    HT sgt terbuka terhadap masukan yg ikhlas dr saudaranya. Islam melarang kita ashobiyah, sbgmana antm sarankan kpd yg lain, namun maaf sy melihat antm jg ashobiyah(maaf klo sy salah). SALAFY,HT,JAT,MMI,JT semuanya merupakan harokah yg didlmnya adlh kumpulan org bukan kumpulan para malaikat yg tdk pernah salah dlm mentabanni suatu mslh, jd smua d mungkinkan ada kesalahan, sbgmana Taqiyuddin An Nabhani jg menyadari hal tsb,beliau terbuka atas argumen yg lbh kuat. Jadi silahkan mmberi masukkan bila ada hujah yg mnrt antm atau kelompok antm lbh kuat, namun spya benar2 itu ikhlas dan mengharap kebaikan terhadap HT(sbgmana katanya keinginan antm) mk datanggilah sekretariat pusat/DPP, sampaikan muhasabah antm scra lgsng atau gunakan forum yg sekiranya itu bisa efektif. Namun jika cr muhasabah antm sprti ini, sprtinya jauh pangang dr api,sehingga wajar kwn2 HT yg lain bersikap apriori trhd antm.

  • jalaly // 18 Oktober 2009 pada 21:59 | Balas

    Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kelompok menjadikan kamu tidak berlaku adil (QS Al-Ma-idah [5]: 8)

  • pengelolakomaht // 19 Oktober 2009 pada 10:06 | Balas

    Saudaraku jalaly yang diberkahi Alloh,

    Bukankah HT melakukan da’wah pengopinian ? dan blog ini muncul dengan metode da’wah yang diajarkan HT pada saya.
    Tapi tujuan dan caranya lebih baik dan lebih benar, insyaAllah.
    Silahkan mungkin saudara ada melihat tulisan saya yang keliru dan dalilnya lemah, silahkan dibantah secara ilmiyyah. Sebagai manusia biasa saya mungkin saja keliru.

  • maded // 19 Oktober 2009 pada 16:41 | Balas

    Assalamu alaikum…
    Mohon maaf sebelumnya, saya seorang muslim yg baru mulai mengaji mendalami Islam. Sebelumnya saya adalah orang yg berantakan. Tapi melihat para senior-senior yg sudah berilmu seperti ini malah pada berkelahi & saling menjelekkan, saya jadi bingung. Apa bedanya Anda-anda semua dgn saya waktu masih jadi bajingan? Maaf, opini saya ini mungkin mewakili jutaan anak muda yg baru mulai berniat bertobat seperti saya…
    Wassalamu alaikum…

  • uut // 19 Oktober 2009 pada 21:41 | Balas

    maded yang terhormat anda harus bs membedakan ,Antara Memberi Nasehat Dengan Menjelekkan Orang Lain
    http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=331
    sy cuplkan

    Nasehat para ulama tentang menasehati secara rahasia

    Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata yang artinya, “Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.”

    Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata yang artinya, “Saya berkata kepada Mis’ar, ‘Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?’ Maka ia berkata, ‘Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang’.”

    Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata yang artinya, “Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ‘Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?’ Ia berkata, ‘Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain’.”

    Imam Ibnu Hibban berkata yang artinya, “Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.”

    Imam Ibnu Hazm (wafat tahun 456H) berkata yang artinya, “Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Ini (-yakni memberi nasehat dengan syarat harus diterima-) bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan melainkan hukum rimba, bagaikan seorang penguasa dengan rakyatnya dan tuan dengan hamba sahayanya.”

    Imam Ibnu Rajab (wafat tahun 795H) berkata yang artinya, “Al Fudhail (wafat tahun 187H) berkata, ‘Seorang mukmin menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkannya’.”

    adapun tugas dari orang awam menuntut ilmu dari ahlinya,dan yang lebih penting jangan masuk dalam wilayah perselisihan/perdebatan yang kita masih jauh dari ilmu itu sendiri?

  • jalaly // 22 Oktober 2009 pada 17:28 | Balas

    Saudaraku jalaly yang diberkahi Alloh,

    Bukankah HT melakukan da’wah pengopinian ? dan blog ini muncul dengan metode da’wah yang diajarkan HT pada saya.
    Tapi tujuan dan caranya lebih baik dan lebih benar, insyaAllah.
    Silahkan mungkin saudara ada melihat tulisan saya yang keliru dan dalilnya lemah, silahkan dibantah secara ilmiyyah. Sebagai manusia biasa saya mungkin saja keliru.

    Tuk pengelolakomaht…
    menganggap “anda lebih baik dan benar dan menggangap org lain selalu salah” apa itu benar??
    apa itu tdk ashobiyah?
    padahal anda mewanti-wanti utk tdk ashobiyah.
    Para imam mahzab saja pendapatnya tdk demikian,mereka menggangap pendapat mereka benar, tp bisa jadi pendapat yg lain jg benar.
    Saya melihat seolah2 anda ini menggangap HT adlh harakah yg jauh dari pemahaman yg islami,shg spesialisasi anda adlh melakukan kritikan(maaf anda tdk termksd kategori org yg meneliti HT menrt sy,krn seorg peneliti akan bersikap obyektif trhdp apa yg di teliti, insya Allah byk hal2 yg baik yg tlah diperjuangkan HT dlm koridor amar ma’ruf nahi munkar, namun anda tdk pernah menyampaikan hal tsb sbgmna lazimnya peneliti yg obyektif). Shg kami menangkap anda menggangap pemikiran HT ini lbh menyimpang dari ahmadiyah,lebih menyimpang dari JIL.
    Yang haq akan slalu haq dihadapan Allah…

    ********************

    @ jalalay —> (maaf anda tdk termksd kategori org yg meneliti HT menrt sy,krn seorg peneliti akan bersikap obyektif trhdp apa yg di teliti, insya Allah byk hal2 yg baik yg tlah diperjuangkan HT dlm koridor amar ma’ruf nahi munkar, namun anda tdk pernah menyampaikan hal tsb sbgmna lazimnya peneliti yg obyektif)

    Ya … beginilah cara perpikir orang yang menutup mata hatinya dengan kebenaran sepihak

    coba apa yang anda sampaikan itu juga anda tujukan pada HT/I … Bukankah TIAP minggu HTI selalu mengkritik orang lain lewat buletin Al Islam..? (terutama pemerintah) kalau HT bersikap adil harusnya tidak hanya kejelekan pemerintah saja yang disebarkan ke seluruh di indonesia lewat buletin al islam – tapi juga “kebaikan-kebaikan” pemerintah atas dakwah islam di indonesia.. salah satunya : merestui dan melegalkan HTI sebagai ormas islam yang bebas menyerukan dakwahnya yang masih perlu banyak dipertanyakan kebenarannya

  • Hasan // 22 Oktober 2009 pada 20:05 | Balas

    @jalaly, lebih baik jangan memperkeruh suasana yang tidak perlu

    “Shg kami menangkap anda menggangap pemikiran HT ini lbh menyimpang dari ahmadiyah,lebih menyimpang dari JIL.”

    apa ini ? astagfirullahaladzim. Kalau anda bertanya pada saya mana yang lebih baik HT atau ahmadiyah bahkan JIL ? insyaallah HT lebih baik saya kira pemilik blog pun demikian.

    alangkah lebih baiknya mengmentari sesuai dengan judul artikel yaitu nisbat kepada Taqiyuddin meskipun kitabnya sudah direvisi banyak

    • pengelolakomaht // 23 Oktober 2009 pada 11:10 | Balas

      Saudaraku yang budiman,

      Mari kita tempatkan suatu permasalahan pada tempatnya, dan betul apa kata saudara Hasan jika HT dibandingkan ahmadiyah atau JIL tentu beda level dan kasusnya, bagaimanapun juga HT masih saudara sesama muslim, hanya saja ada beberapa kekeliruannya yang juga perlu diluruskan dengan cara yang baik.

  • jalaly // 30 Oktober 2009 pada 08:55 | Balas

    Hasan: alhmdlh klo antm msh menggap HT demikian. Ok sy membahas ttg judul.

  • jalaly // 1 November 2009 pada 16:14 | Balas

    Ok sy k topik pembahasan.
    Ada beberapa hal yg ingin sy smpaikan:
    1. Sy sempat membaca tulisan anda, namun sekarang tulisan trsbt hilang. Yg anda sampaikan trkait kitab revisi HT adlh kurang lbh..”saya coba mencari kitab yg pertama, namun tidak saya dapati lagi, saya tidak tau apakah HT bermaksud menghilangkan kitab awal tersebut supaya tidak diketahui perubahannya..”. Terkait komentar anda, ini termaksud apa, AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR atau FITNAH? Tidak perlu sy jelaskan haditsnya dosa orang yg memfitnah, sy kira anda tidak terlalu bodoh utk mengetahui hal tsb.
    2. “Seandainya Taqiyyuddin masih hidup hingga kini apakah rela ia melihat kitab karangannya diubah-ubah kemudian dinisbahkan pada dirinya ?”(tulisan anda)
    Komentar : Syeikh Taqiyyuddin adlh ulama yg ikhlas, beliau tdk seperti penulis buku (dlm konteks kekinian) yg mengharapkan royalti atas kitab yg dikarangnya, bisa jadi beliau sudah menyerahkan segalanya kepada hizb utk menambahkan/mengguranggi bila mana ada hujjah yg lbh kuat dlm setiap kitab yg dikarangnya. Dan dlm kitab tersebut HT jg telah menulis bahwa kitab itu adlh kitab revisi, bahkan menjadi aneh bagi seorang ulama jika tetap menggambil hujjah yg lemah padahal ada hujjah yg lbh kuat.
    Pola pikir anda ini adlh pola pikir yg dipaksakan agar sesuai kehendak anda, terlebih terlihat kebodohan anda dlm memahami suatu perkara,kerna tlah terbesit kebencian yg begitu dalam.
    3. “Gubahan diatas memang tidaklah terlalu mencolok dan mungkin bisa ditolerir meskipun secara kaidah sudah tidak boleh dinisbahkan pada penulis lamanya.” (tulisan anda)
    Komentar : kaidah apa yg anda maksudkan?? Apakah ada kaidah dalam Islam jika telah ditemukan hujjah yg lebih kuat maka kita tetap berpegang teguh pada pendapat yg lama sekalipun hujjah tsb tidak sekuat hujjah yg baru.
    Dalam Islam yg menjadi standart adalah syariat, bukan kaidah yg tidak distandartkan kepada syariat.

    Saya kira cukup sudah tanggapan2 kami terhadap tulisan2 anda, karena sy melihat anda tidak mustanir dalam berpendapat, kerna telah terbalut kebencian. Dan orang2 yg mau berfikir dan cerdas akan bisa mengetahui motif sebenarnya dlm tulisan anda dan kedangkalan pemikirannya.
    Bagi kami terlalu menyia2kan waktu utk seseorang yg hatinya telah membatu, masih banyak kaum muslim bahkan para ulama sekalipun yg menyambut seruan HT terkait perjuangan penerapan syariat dan khilafah. Dan hak anda pula untuk tidak menerima thoriqah dakwah HT, kerna siap amal akan mendapatkan ganjaran sesuai amal perbuatannya, Allah tidak akan pernah keliru menilai apakah perbuatan ini haq atau bathil.

  • Hasan // 1 November 2009 pada 18:01 | Balas

    @jalaly

    “Dan orang2 yg mau berfikir dan cerdas akan bisa mengetahui motif sebenarnya dlm tulisan anda dan kedangkalan pemikirannya.”

    apakah ini kapasitas ilmu mereka-mereka yang ada di HTI ? semoga saja tidak. Kok setiap saya melihat komentar-komentar para daris/syabab/pendukung HTI lebih banyak yang aneh. HTI sendiri suka mengajarkan untuk “TABAYYUN” cuma justru saya tidak melihat itu pada diri-diri para pendukung HTI yang ada disini. Yang ada malah emosi lah, langsung nuduh sana sini lah. Kalau melihat komentar anda tersebut berarti saya bukan orang yang berpikiian cerdas dong. Saya bukan orang yang semua pendapatnya sama dengan mantanht disini meskipun pada banyak hal kami memiliki kesamaan.

    kaidahnya sederhana aja mas jalaly, kita berbicara dengan ilmu. Kalau memang mantanht ada yang salah ya silakan dikomentari dengan ilmu salahnya dimana, jelaskan berdasarkan al qur’an dan sunnah bukan dikit-dikit ni orang tujuannya cuma membuat fitnah TABAYYUN ya akhi seperti yang pendukung HT gemborkan. apa sih susahnya berbuat seperti itu ? terus terang justru sebelum membaca tulisan mantanht persepsi saya terhadap HT tidak seburuk sekarang tapi melihat komentar-komentar dari pendukung HT yang tidak ilmiah justru saya malah skeptis. Banyak orang mengatakan HT tidak siap dengan perbedaan pendapat, oleh karena itu saya test komentar di website HTI (http://hizbut-tahrir.or.id) dan memang ternyata demikian adanya padahal dulu saya pikir cuma beberapa anggota aja yang kelakuannya seperti itu.

    coba cek http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/29/hizbut-tahrir-wahabi/, di website resmi aja bisa langsung main tuduh kalau raja abdul aziz itu antek inggris. berita dari mana ? khabar ahad dari hemper yang notabene orang kafir ? padahal khabar ahad dari orang yang sholeh, hafalannya kuat, terpercaya saja masih dipermasalahkan ini kabar ahad dari orang kafir yang masih sangat meragukan aja langsung dipakai hanya karena menyerang wahabi ?

    saya tidak mengatakan apa yang dilakukan raja saudi itu baik semua, terlalu naif. mereka pun banyak kekurangan melakukan hal yang tidak diridhoi Allah. Akan tetapi sampai pengetahuan saya kondisi keagamaan secara umum di negeri inilah yang terbaik yang saya ketahui.

    apakah anda tahu siapa yang menyerang india waktu masih dikuasai inggris, sepaham saya ya daulah suudiyah
    apakah anda tahu siapa yang pernah embargo minyak ke amerika ? sepaham saya ya raja Faisal bahkan beliau mengatakan nggak jual minyak kita masih bisa makan kurma

    semoga bisa menjadi masukan bagi para pendukung HTI agar tetep berada pada koridor ilmiah menyikapi permasalahan. let’s back to topic

    “Syeikh Taqiyyuddin adlh ulama yg ikhlas, beliau tdk seperti penulis buku (dlm konteks kekinian) yg mengharapkan royalti atas kitab yg dikarangnya, bisa jadi beliau sudah menyerahkan segalanya kepada hizb utk menambahkan/mengguranggi bila mana ada hujjah yg lbh kuat dlm setiap kitab yg dikarangnya”

    ini adalah pemikiran yang aneh sekali. Bagaimana mungkin alasan orang yang ikhlas pasti membolehkan kitabnya diganti-ganti isi kitabnya. wah kalau gitu saya ganti-ganti isi shahih bukhori dikit-dikit nggak apa-apa dong misal ada yang menurut saya tidak benar disana dan tetap saya sandarkan ke imam bukhari ? saya kira yang normal sepakat kesalahan fatal jika saya melakukan itu. saya yakin lho mas imam bukhari itu ikhlas nggak butuh royalti (emang dulu ada royalti ya ?).

    sebagaimana disebutkan bahwa seharusnya secara ilmiah kalau suatu kita seseorang direvisi tidak boleh dong pengarangnya dinistbatkan ke yang nulis awal. jadi kalau mau nistabt ya kitab yang awal tetep ditulis kemudian dikasih tambahan keterangan hal-hal yang salah disitu (penjelasan), nah kalau kayak gini khan tetep menjaga text asli dan dijelaskan siapa penjelasnya (bukan penerjemah lho tapi penjelas) jadi bisa tahu pendapat taqiyuddin gimana pendapat penjelasnya gimana.

    “kaidah apa yg anda maksudkan?? Apakah ada kaidah dalam Islam jika telah ditemukan hujjah yg lebih kuat maka kita tetap berpegang teguh pada pendapat yg lama sekalipun hujjah tsb tidak sekuat hujjah yg baru.”

    ucapan anda benar tapi salah alamat, semua juga sepakat jika ada hujjah baru yang lebih kuat selayaknya kita mengikuti hujjah yang kuat. Tapi ini urusan nistbat ke seseorang mas, artinya jika memang ada pendapat syaikh taqiyuddin salah ya katakan syaikh taqiyuddin berkata begini dan ini salah kurang tepat saya (penjelas) menjelaskan harusnya begini dan begitu bukan pendapat syaikh taqiyuddin ada yang salah/kurang tepat saya ubah ah kitabnya. kalau kayak gini semua bisa-bisa saya tidak tahu lagi walapun judulnya sama sebenarnya itu kitab pemikiran siapa ?. kecuali kalau syaikh taqiyuddinmasih hidup kemudian ada koreksi anda berikan ke syaikh taqiyuddin terus disetujui lain lagi ceritanya

  • fadh // 1 November 2009 pada 21:57 | Balas

    Allahu Akbar….siapapun antum, darimanapun antum,jgn pernah lelah utk menegakkan agama Allah ini…”Demi masa,sesunggauhnya manusia itu benar2 dalam kerugian,kecuali org2 yg beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran” (Al Ashr: 1-3). smg Blog ini dibuat utk saling bertabayun dan dalam jln kebenaran bukan untuk saling mencela sesama muslim. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. teruslah berjuang wahai para pejuang yang mukhlis.wassalam

  • Gus Fatih // 2 November 2009 pada 07:07 | Balas

    kalo anda kehabisan hujjah lebih baik tidak usah memperbanyak sampah di blog ini…
    Jangan suka nebar fitnah dengan hanya karena benci sama orang lain atau kelompok lain.

  • pengelolakomaht // 2 November 2009 pada 09:56 | Balas

    Saudaraku Jalaly yang diberkahi Allah,

    1. Tulisan tersebut tidak terhapus atau hilang, masih ada, anda kurang cermat dalam membaca sehingga tidak menemukan koment tersebut, dan anda salah dalam mencupliknya sehingga anda menuduh saya memfitnah padahal andalah yang memfitnah saya karena tulisan saya tidak seperti yang anda paparkan.

    Yang benar tulisannya demikian :

    pengelolakomaht // 16 Juni 2009 pada 12:54

    Saudara sitompul yang budiman,
    Saya tentunya kesulitan memperoleh cetakan pertama karena cetakan kedua saja waktu itu belum dipublikasikan secara umum (khusus aktifis HT). Apalagi cetakan I tentunya jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin sengaja ditarik dan dimusnahkan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

    2. Revisi wajib ada dan yang saya permasalahkan bukan boleh tidaknya merevisi. Tampaknya anda tidak cermat dalam membaca.
    Orang boleh saja merevisi sebuah karya orang lain, tapi harus menjelaskan kepada pembaca bahwa karya tersebut bukan karya asli penulis lama lagi namun karya yang sudah direvisi oleh fulan bin fulan dan bagian yang direvisi adalah bagian kadza wa kadza.
    Adapun HT menyebutkan nama Taqiyyuddin sebagai penulis buku tersebut dan hanya menulis bahwa kitab tersebut EDISI REVISI namun tidak menulis SIAPA SAJA yang merevisi dan APA SAJA yang direvisi.

    3. Sekali lagi anda menganggap saya menolak adanya revisi padahal kaidah yang saya maksud adakah “merevisi namun tidak mengatakan hal-hal yang direvisi”.
    Ini seperti menyampaikan sebuah fatwa ulama dari sebuah kitab dengan beberapa tambahan penjelasan agar mudah dipahami masyarakat namun mengatakan itu semua kalam ulama (termasuk penjelasannya) maka hal itu tidak boleh, karena masyarakat harus dijelaskan mana kalam ulama dan mana tambahan dari kita yang tidak termasuk kalam ulama yang tertera dalam kitab asli ulama tersebut.

  • Hasan // 2 November 2009 pada 21:50 | Balas

    @jalaly

    “Dan orang2 yg mau berfikir dan cerdas akan bisa mengetahui motif sebenarnya dlm tulisan anda dan kedangkalan pemikirannya.”

    apakah ini kapasitas ilmu mereka-mereka yang ada di HTI ? semoga saja tidak. Kok setiap saya melihat komentar-komentar para daris/syabab/pendukung HTI lebih banyak yang aneh. HTI sendiri suka mengajarkan untuk “TABAYYUN” cuma justru saya tidak melihat itu pada diri-diri para pendukung HTI yang ada disini. Yang ada malah emosi lah, langsung nuduh sana sini lah. Kalau melihat komentar anda tersebut berarti saya bukan orang yang berpikiian cerdas dong. Saya bukan orang yang semua pendapatnya sama dengan mantanht disini meskipun pada banyak hal kami memiliki kesamaan.

    kaidahnya sederhana aja mas jalaly, kita berbicara dengan ilmu. Kalau memang mantanht ada yang salah ya silakan dikomentari dengan ilmu salahnya dimana, jelaskan berdasarkan al qur’an dan sunnah bukan dikit-dikit ni orang tujuannya cuma membuat fitnah TABAYYUN ya akhi seperti yang pendukung HT gemborkan. apa sih susahnya berbuat seperti itu ? terus terang justru sebelum membaca tulisan mantanht persepsi saya terhadap HT tidak seburuk sekarang tapi melihat komentar-komentar dari pendukung HT yang tidak ilmiah justru saya malah skeptis. Banyak orang mengatakan HT tidak siap dengan perbedaan pendapat, oleh karena itu saya test komentar di website HTI (http://hizbut-tahrir.or.id) dan memang ternyata demikian adanya padahal dulu saya pikir cuma beberapa anggota aja yang kelakuannya seperti itu.

  • Hasan // 2 November 2009 pada 21:51 | Balas

    coba cek http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/29/hizbut-tahrir-wahabi/, di website resmi aja bisa langsung main tuduh kalau raja abdul aziz itu antek inggris. berita dari mana ? khabar ahad dari hemper yang notabene orang kafir ? padahal khabar ahad dari orang yang sholeh, hafalannya kuat, terpercaya saja masih dipermasalahkan ini kabar ahad dari orang kafir yang masih sangat meragukan aja langsung dipakai hanya karena menyerang wahabi ?

    saya tidak mengatakan apa yang dilakukan raja saudi itu baik semua, terlalu naif. mereka pun banyak kekurangan melakukan hal yang tidak diridhoi Allah. Akan tetapi sampai pengetahuan saya kondisi keagamaan secara umum di negeri inilah yang terbaik yang saya ketahui.

    apakah anda tahu siapa yang menyerang india waktu masih dikuasai inggris, sepaham saya ya daulah suudiyah
    apakah anda tahu siapa yang pernah embargo minyak ke amerika ? sepaham saya ya raja Faisal bahkan beliau mengatakan nggak jual minyak kita masih bisa makan kurma

    semoga bisa menjadi masukan bagi para pendukung HTI agar tetep berada pada koridor ilmiah menyikapi permasalahan. let’s back to topic

    • pengelola2 // 3 November 2009 pada 08:56 | Balas

      ya beginilah muqolidun HTI… kalo pembesarnya yang melakukan kesalahan seolah tutup mata… tapi kalau orang lain udah di tuduh macam-macam.. persis seperti yang sering terjadi di blog ini… yang suka menuduh pengelola blog ini adalah antek kafir!

  • Hasan // 2 November 2009 pada 21:51 | Balas

    “Syeikh Taqiyyuddin adlh ulama yg ikhlas, beliau tdk seperti penulis buku (dlm konteks kekinian) yg mengharapkan royalti atas kitab yg dikarangnya, bisa jadi beliau sudah menyerahkan segalanya kepada hizb utk menambahkan/mengguranggi bila mana ada hujjah yg lbh kuat dlm setiap kitab yg dikarangnya”

    ini adalah pemikiran yang aneh sekali. Bagaimana mungkin alasan orang yang ikhlas pasti membolehkan kitabnya diganti-ganti isi kitabnya. wah kalau gitu saya ganti-ganti isi shahih bukhori dikit-dikit nggak apa-apa dong misal ada yang menurut saya tidak benar disana dan tetap saya sandarkan ke imam bukhari ? saya kira yang normal sepakat kesalahan fatal jika saya melakukan itu. saya yakin lho mas imam bukhari itu ikhlas nggak butuh royalti (emang dulu ada royalti ya ?).

    sebagaimana disebutkan bahwa seharusnya secara ilmiah kalau suatu kita seseorang direvisi tidak boleh dong pengarangnya dinistbatkan ke yang nulis awal. jadi kalau mau nistabt ya kitab yang awal tetep ditulis kemudian dikasih tambahan keterangan hal-hal yang salah disitu (penjelasan), nah kalau kayak gini khan tetep menjaga text asli dan dijelaskan siapa penjelasnya (bukan penerjemah lho tapi penjelas) jadi bisa tahu pendapat taqiyuddin gimana pendapat penjelasnya gimana.

    “kaidah apa yg anda maksudkan?? Apakah ada kaidah dalam Islam jika telah ditemukan hujjah yg lebih kuat maka kita tetap berpegang teguh pada pendapat yg lama sekalipun hujjah tsb tidak sekuat hujjah yg baru.”

    ucapan anda benar tapi salah alamat, semua juga sepakat jika ada hujjah baru yang lebih kuat selayaknya kita mengikuti hujjah yang kuat. Tapi ini urusan nistbat ke seseorang mas, artinya jika memang ada pendapat syaikh taqiyuddin salah ya katakan syaikh taqiyuddin berkata begini dan ini salah kurang tepat saya (penjelas) menjelaskan harusnya begini dan begitu bukan pendapat syaikh taqiyuddin ada yang salah/kurang tepat saya ubah ah kitabnya. kalau kayak gini semua bisa-bisa saya tidak tahu lagi walapun judulnya sama sebenarnya itu kitab pemikiran siapa ?. kecuali kalau syaikh taqiyuddinmasih hidup kemudian ada koreksi anda berikan ke syaikh taqiyuddin terus disetujui lain lagi ceritanya

  • adminfsiekonomi.multiply.com // 3 November 2009 pada 08:59 | Balas

    aduh…pusing bacanya…

    keep united, eh, go unite!

    aamiin

  • mamadrahman // 3 November 2009 pada 20:29 | Balas

    sesungguhnya apa yang kita laksanakan hari ini atau detik ini semua pasti dimintai tanggungjawab di akhirat.
    hendaklah minta maaf dan perbaiki niat
    serta bertobat sebelum terlambat

    hendaklah minta maaf dan perbaiki niat
    serta bertobat sebelum terlambat

  • uut // 3 November 2009 pada 22:13 | Balas

    Fitnah dan Tuduhan Dusta Hizbut Tahrir Terhadap Dakwah Syaikh Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu

    http://abusalma.wordpress.com/2007/01/03/pembelaan-terhadap-syaikh-imam-muhammad-bin-abdul-wahhab/

    atau lebih lengkap
    http://abusalma.wordpress.com/maktabah-library/

Tinggalkan sebuah Komentar