MENYOAL Aqidah QADHA & QADAR Hizbut TAHRIR Vs AHLUS Sunnah

QADHA & QADAR Hizbut TAHRIR Vs AHLUS Sunnah


Termasuk salah satu kekeliruan Hizb dalam perkara aqidah adalah pemahaman atas Qadha dan Qadar, dan hal ini meskipun telah banyak dibahas oleh banyak pihak namun kiranya masih ada yang menginginkan untuk dibahasnya masalah ini di blog yang mubarokah ini, insyaAllah.
Sekaligus untuk menjawab keinginan dari beberapa pihak yang meminta Tim KomaHT melakukan diskusi copy darat dengan aktivis HT maka berikut ini kami sajikan bahasan Qadha dan Qadar ini dalam bentuk file audio (.mp3) rekaman diskusi antara salah satu kontributor kami dengan seorang aktivis HTI (al akh Roni) yang sampai saat terakhir kami berdiskusi beliau masih aktif di Hizbut Tahrir Indonesia.

Dan kami mohon maaf apabila hasil audio rekaman kurang bersih mengingat diskusi dilakukan oleh salah satu kontributor kami langsung di sebuah masjid selepas sholat Isya’ berjama’ah saat masih banyak kaum muslimin bercengkerama disana.

Satu hal yang ingin ditunjukkan bahwa diskusi tidaklah membuat pertikaian atau saling laknat (mubahalah) bahkan kontributor kami berhasil menjauhi debat kusir, sehingga kekhawatiran kaum muslimin bahwa aktifitas Tim Koma-HT hanya akan membuat ummat kafir senang hal itu tidak benar, bahkan justru kami berhasil menunjukkan betapa Islam mampu membangun sebuah diskusi dan debat ilmiyah antar pemeluk dengan damai, tidak seperti agama lain yang terkadang melarang berfikir dan berdiskusi ilmiyah disisi lain terkadang justru saling hantam dengan kekerasan antar sekte satu dan sekte lain, dan ini kita jumpai pada agama diluar Islam, adapun Islam mengajarkan diskusi Ilmiyah dalam pencarian kebenaran tanpa kekerasan maupun pertengkaran, walhamdulillah.

Dari hasil diskusi tersebut kesimpulan yang diambil adalah :

1. Pemahaman Hizbut Tahrir atas Qadha dan Qadar berbeda dengan Ijma’ Ahlus Sunnah, dalam hal ini HT menganggap Ijma’ Ahlus sunnah keliru.
2. Menurut HT kehidupan manusia terbagi dua : Pertama, Hal-hal yang telah ditentukan Allah, yaitu yang terjadi pada manusia tanpa disengaja, misal kecelakaan. Kedua, Hal-hal yang tidak ditentukan Allah dan murni manusia sendiri yang menciptakan terjadi tidaknya hal tersebut, misal manusia tidak ditentukan masuk surga atau neraka akan tetapi manusia sendiri yang menentukan ia akan menjadi ahli surga atau neraka dengan melakukan amalan sholih atau maksiyat, sehingga amal sholih dan maksiyat manusia yang menentukan manusia masuk surga dan neraka adalah murni manusia sendiri yang menciptakan terjadinya sedangkan Allah tidak menentukannya.

Berikut link download file diskusi tersebut :

http://www.ziddu.com/download/10310136/DiskusiQadhaQadarHizbutTahrir.mp3

Semoga menjadi nasihat berharga untuk kita semua.
Barakallahufikum.

1.012 responses to “MENYOAL Aqidah QADHA & QADAR Hizbut TAHRIR Vs AHLUS Sunnah

  1. Saudara sesama muslim yang diberkahi Allah,

    Dalam perkara amal sholih dan amal maksiyat maka Hizbut Tahrir meyakini hal itu murni diciptakan manusia dan tidak ditentukan Allah. Sehingga dalam hal ini Hizbut Tahrir bisa dikategorikan Qadariyyah atau menolak ketetapan Allah. Wallahul musta’an.

    • Mr. Ashobiyah

      Buseeet dah apa lg ni, mengapa oh mengapa seperti ini…
      Kacau,kacau,kacauuuu….

    • Muktazilah memang sering disebut Qadariah,karena gagasannya tentang qadar,yang menolak dikaitkannya perbuatan manusia dengan takdir.Menurut mereka,manusia itu bebas berkehendak untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan;manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya,bahkan termasuk khasiat suatu benda yang terkait dengan perbuatannya.Misalnya,memukul dengan alat pemukul adalah perbuatan manusia,termasuk rasa sakit yang ditimbulkan dari pukulan yang menggunakan alat pemukul tadi.
      Pandangan inilah yang menyeret Ahlussunnah dan kelompok-kelompok lain.Dari sinilah kemudian berkembang apa yang kemudian dikenal dengan istilah Qadha’ dan Qadar.
      Kesalahan yang paling fatal dalam konteks ini adalah karena masing-masing pihak yang terlibat dalam polemik tersebut tidak pernah memisahkan:perbuatan,di satu sisi,dan efek yang ditimbulkan oleh perbuatan,di sisi lain.Kesalahan yang kedua,mereka mengaitkan pembahasan perbuatan manusia tersebut dengan perbuatan Allah.
      Ketika melihat faktanya seperti ini,HT kemudian memisahkan antara fakta perbuatan dan efek yang dihasilkannya,melalui alat yang digunakannya.Kemudian mendudukkan pembahasan tersebut hanya membahas obyek yang bisa dijangkau oleh akal manusia,yaitu perbuatan manusia.Maka disimpulkan,bahwa perbuatan manusia itu ada dua kategori:
      Pertama,yang tidak bisa dipilih oleh manusia;posisi manusia berada dalam lingkaran yang menguasai dirinya.Di sini,manusia tidak memiliki peran apa-apa,Inilah yang disebut qadha’.Dalam hal ini,baik dan buruknya sepenuhnya dinisbatkan kepada Allah.Dalam konteks seperti ini manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada Hari Akhirat kelak.Manusia,misalnya,tidak akan dihisab oleh Allah karena gempa atau tsunami yang telah menimpanya,yang menghancurkan harta dan menghilangkan jiwanya;ia juga tidak akan dihisab oleh Allah karena tiba-tiba mobilnya mogok di tengah jalan,tanpa dia sendiri kuasa mengatasinya,sehingga menimbulkan kemacetan total dan tentu saja merugikan orang banyak.
      Kedua,yang bisa dipilih oleh manusia;posisi manusia berada dalam lingkaran yang dia kuasai.Di sini,manusia bisa berperan apa saja.Tentu ini bukan wilayah qadha’,sehingga tidak bisa menisbatkan semuanya kepada Allah.Sebaliknya,baik dan buruknya sepenuhnya merupakan pilihan manusia.Maka,manusia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di Akhirat.Manusia beriman atau kafir,misalnya;duduk atau berdiri; makan minum yang halal atau yang haram;menikah atau berzina;menerapkan hukum Allah atau hukum manusia;dan sebagainya;semua itu berada dalam pilihan manusia sepenuhnya.Karena itu,pilihan manusia dalam pilihan ini akan dihisab di hadapan Allah kelak pada Hari Akhir.
      Itu di satu sisi,tentang fakta perbuatan manusia.Di sisi lain,fakta perbuatan manusia juga tidak bisa dilepaskan dari alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan.Dan dengan menggunakan alat tersebut,muncullah efek perbuatan,seperti rasa sakit yang diakibatkan oleh pukulan yang menggunakan kayu.Apa yang oleh Muktazilah disebut “perbuatan dan efek yang ditimbulkan perbuatan” itu dianggap keliru oleh HT.Sebaliknya,yang tepat adalah “khasiat benda”,karena faktanya memang demikian.Inilah yang kemudian disebut oleh HT dengan menggunakan istilah qadar.
      Khasiat itu sendiri adalah karakteristik khas yang dimiliki oleh benda sebagai ciptaan Allah.Contoh:api mempunyai karakteristik khas bisa membakar dan panas;sementara air mempunyai karakteristik khas bisa membasahi dan memadamkan api.Begitu seterusnya.Semua potensi itu adalah ciptaan Allah yang melekat pada sesuatu sebagai sunatullah.Manusia tidak akan dihisab oleh Allah berkaitan dengan semua karakteristik yang telah diciptakan Allah pada benda,termasuk pada dirinya sendiri.
      Yang dihisab oleh Allah,dalam konteks khashiyat adalah pemanfaatan manusia atas khasiat-khasiat itu.Contoh:manusia tidak akan dihisab Allah karena memiliki hasrat seksual;yang akan dihisab adalah pemanfaatan hasrat seksual tersebut,apakah di jalan yang halal dengan cara menikah atau di jalan yang haram dengan cara berpacaran,berzina,atau melacur.
      Dari sini tampak jelas bahwa HT sangat berbeda dengan Muktazilah.Bahkan bisa dikatakan,HT melakukan koreksi atas kesalahan Muktazilah,termasuk Ahlussunnah,sekaligus memberikan solusi yang benar atas persoalan qadha’ dan qadar yang diperdebatkan oleh para mutakallimin sejak Abad I Hijriah itu.
      Jadi,HT tidak bisa disamakan dengan Muktazilah,keduanya sangat jauh berbeda.Karena itu,tuduhan bahwa HT adalah Muktazilah,Neo-Muktazilah,dan Qadariah merupakan tuduhan yang sangat keliru dan menyesatkan.Ini juga membuktikan,bahwa tuduhan tersebut sekaligus membuktikan kebodohan pihak penuduh terhadap fakta Muktazilah,Qadariah dan HT,atau karena faktor lain,yaitu su’an-niyyah (berniat jahat).

      • HT memang bukan mu’tazilah murni atau qadariyah murni, namun yang jelas HT juga bukan ahlus sunnah.
        HT merupakan sekte baru yang memiliki pemahaman baru dan beberapa cara-cara berislam baru yang tidak pernah ada dizaman pendahulu Islam.

      • Saya kembalikan semuanya kepada Allah SWT semata.Diterima tidaknya apa yang telah saya disampaikan sudah bukan urusan saya lagi.Kebenaran hanya milik Allah SWT semata.Kesalahan adalah dari saya pribadi.Mohon maaf lahir dan bathin.

      • Anda mengatakan “HT melakukan koreksi atas kesalahan Muktazilah,termasuk Ahlussunnah,sekaligus memberikan solusi yang benar atas persoalan qadha’ dan qadar yang diperdebatkan oleh para mutakallimin sejak Abad I Hijriah”

        Maka benarlah HT itu Neo muta’zillah (sebab mengkoreksi muta’zilah) dan bukan Ahlu Sunnah (sebab mengkoreksi Ahlu Sunnah),

        Ahlu Sunnah itu adalah Rosulullah dan para shahabatnya, Lebih baik mana HT atau para shahabat?

    • Bismillah…..
      afwan akhi fillah…., mngkin antum bisa krmkan pesan ttg alamat e-mail antum ke e-mail: benny.chain@yahoo.com, krn ada yg ingin sy diskusikan secara pribadi. Barakallahu fiik…!

    • malikkhan kali-qhye

      assalamualaikum.. saya cuman mau kataan kalau..menurut saya akhi yg klolah blog ini salah memahami pmbhasan Qadha n Qadhar Hizib.. syukrhn

    • Ente Se-deng alias saraffff

    • 1. Firman Allah :
      وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
      Artinya: “Allah menciptakan kalian dan Apa-apa yang kamu perbuat (QS As Shaffat :96)

      Memang benar Allah yang menciptkan semuanya termasuk perbuatan
      akan tetapi dalam hal perbuatan (amal) ada pilihan yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk

      2. Sabda Nabi :
      مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
      Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan :’Apakah kita tidak pasrah saja pada ketetapan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang dipermudah (menuju ketetapannya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramalah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”). Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”
      [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

      dihadits pun dijelaskan Rasulullah yaitu beramalah…..beramal (perbuatan)
      pasti ada pilihannya yaitu baik dan buruk…. baik balasannya syurga buruk balasannya neraka.

      3. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab menerima seorang pencuri yang berhak dipotong tangannya. Beliau memerintahkan agar dipotong tangannya. Pencuri berkata : tunggu dulu, Amirul Mukminin, aku mencuri ini hanya karena takdir Allah. Umar pun menjawab : demikian kami potong tanganmu juga hanya karena takdir Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

      disini dijelaskan juga mencuri itu adalah perbuatan buruk…. tetapi si pencuri bisa memilih agar tidak mencuri….

  2. orang2 nya kok itu2 aja

  3. diterangkan juga donk gimana pendapat aswaja

  4. Pendapat ahlus sunnah sudah diterangkan oleh kontributor kami dalam diskusi tersebut tepatnya diakhir sesi diskusi, sengaja kontributor kami di awal diskusi hanya mendengarkan saja, adapun di akhir diskusi baru disampaikan pendapat ahlu sunnah berdasar dalil :
    1. Firman Allah :
    وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
    Artinya: “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)
    2. Sabda Nabi :
    مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
    Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan :’Apakah kita tidak pasrah saja pada ketetapan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang dipermudah (menuju ketetapannya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramalah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”). Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”
    [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].
    3. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab menerima seorang pencuri yang berhak dipotong tangannya. Beliau memerintahkan agar dipotong tangannya. Pencuri berkata : tunggu dulu, Amirul Mukminin, aku mencuri ini hanya karena takdir Allah. Umar pun menjawab : demikian kami potong tanganmu juga hanya karena takdir Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

    • Mochamad efendi

      Dalam Surat As-saffat memang dijelaskan “padahal Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian buat sebagai bantahan terhadap kaum nabi Ibrahim yang membuat patung-patung dan menjadikan mereka sebagai sesembahan mereka. Mereka bisa membuat patung atas izin Allah. Jadi pada hakikatnya patung yang mereka buat adalah juga ciptaan Allah melewati tangan-tangan manusia. Ini tidak bisa digunakan sebagai dasar bahwa manusia tidak mempunyai kehendak untuk memilih surga atau neraka sementara di dalam surat (al-Balad (90):10), Allah telah menunjukkan pada manusia jalan yang baik dan buruk. Maka Allah jadikan di dalam akal itu kemampuan untuk menimbang-nimbang mana perbuatan maksyiat dan mana perbuatan yang baik. Sebagaimana firman-Nya: “lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang takwa”, di dalam surat (asy-Syams (91):8).

  5. kasian..dech ngaku mantan HT padahal sudah jelas antum al baniyyun.atau wahabiun..hee..heee

    • ya mending al-baniyyun dan wahabiyun daripada nabhaniyun atau qodimiyun, apalagi kalo ismailyun dan sidiqiyun aljawiyun(“ulama besar” hizbut tahrir indonesia)(setidaknya kedua nama pertama pakar hadis abad ini dan pembaharu islam dalam pemberantasan bid’ah juga pakar hadis kalangan hambaly)

    • Wah saya baru tahu kalo albani pendapatnya seperti itu, apa benar?
      Takutnya nanti para pengagum albani marah lho…

    • akhi fillah, masya Alloh…
      Bukankah apa yang disampaikan di atas adalah Qolalloh, Qola Rosul, serta pemahaman sabahat umar? Lalu agama seperti apa yang akhi inginkan? kl Qolalloh, Qola Rosul, serta pemahaman sabahat akhi tolak? kl akhi berbeda pendapat dng tiga sumber trsbt, mungkin mungkin akhi yg keliru, oleh karena itu bukankah kita dianjurkan untuk memohon petunjuk kpd Alloh? ataukah kita terlalu sombong sehingga kita merasa selalu diatas kebenaran dan meremehkan pendapat orang lain, jelas akhi fillah… jika perbedaan antara ulama yg satu dngn yang lain itu wajar, ikhtilaf namanya selama masih berdasar Qur’an, Sunnah, dan pemahaman sahabat. Nah bila yg terjadi adalah perbedaan pemahaman dengan Qur’an, Sunah dan pemahaman para sahabat maka inilah yg disebut menyimpang atau SESAT… Semoga Alloh memberikan Taufik pada kita semua…

    • @abu : kasian deh antum…. ciri2 hizbi itu mencela ulama…. hehehe

      • dan ciri2 orang yang mencela saudaranya sendiri adalah orang yang tidak disukai islam karena sesama muslim haram mencela sesamanya………hizbi tidak pernah mencela ulama manapun asal saudara tau……kalu anda mengatakan begitu silahkan saudara ikut acara hizbi……jangan membeli kucing dalam karung…….

      • Ahlu Sunnah tidak mencela ulama melainkan mencela ahli bid’ah, seperti halnya Allah juga mencela ahlu kesesatan.

        Hizbiyunn bukan hanya mencela ulama, bahkan ada yang mengkafirkan. Ane denger sendiri.

  6. ibnu Pemberantas oreg munafik

    orang oran antek ameika seperti yang pnya blok ini,bknya membantu saudara memprjuangkan agama Allah,mlah membuatcerai berai,saling mnyalahkan seakan akan golngnya yg pling benar. .jgn fanatik dgn golangan.anda tk bedanya dg orang yahudi.ngakunya mantan aktivis HT(cra orng yahudi menipu manusia)atau anda ini org JIL.

    • @ibnu: ente tahu hadis

      أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

      “Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya: ‘Wahai orang kafir’ mk tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya.”

      kalo emang ada artikel yang keliru,ente tunjukkan kekeliruannya,bukan dengan sembarangan nyebutin orang lain antek amerika dan JIL, emangnya orang2 HTI maksum dari dosa dan salah apa? DASAR FANATIK BEBAL

    • Sudah saya tegaskan bahwa saya muslim tulen, apa perlu saya syahadat lagi disini ?
      Jika ada nasihat saya yang tidak benar silahkan tunjukkan yang mana dan silahkan bantah dengan dalil al Qur’an dan as Sunnah,
      Jangan langsung tuding antek amerika atau JIL dong, lantas apa bedanya anda dengan kelompok yang suka membid’ahkan orang yang nggak sefaham dengannya.
      Anda malah lebih parah lagi tidak hanya membid’ahkan malah mengkafirkan orang yang tidak sefaham dengan anda.
      Sebab bagi saya antek amerika dan JIL itu kafir.

      • Disinilah masalahnya debat kusir yang nggak pantas….HT..menganggap sangat
        banar menjalankan aqidahnya..tapi sebenarnya nggak pernah mengenal dirinya terlebih dahulu sehingga sombong menentukan “QADAR”, apalagi mengenal yg bernama “Allah” Kok sudah merasa paling benar.. Ingatlah saudaraqu… merampas hak Allah adalah Fasik yang Jahil.
        Tidak akan bergerak sebutir debupun tanpa izin Allah (QS..carilah)
        Apalagi menentukan, sayang kalau rahmat didiri yg penuh kebaikan padahal salah satu tipu daya Syaithan… agar merasa lebih benar dalam pemahaman dan menjalankan Dinnul Islam, padahal masih hanya mendapat merek islam sedang Din NYA nggak di ketahui apalagi dimiliki… Berhentilah berdebat kusir…. apalagi merasa benar… padahal masih sesat..Belajarlah.. belajarlah.. belajarlah dan coba buka mata hati telinga hati.. karena seluruhnya urusan Dien adalah hati Qalbu yg di Ridhoi, jangan sampai mendapat hukuman Khatamallahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’alaa abshaarim… Ghisawatu walahum azaabun ‘aliiem.

      • liem hoolay

        sy ae7 banget AS = super kafir dan JIL = antek AS berkedok muslim, ini lebih membahayakan, tapi mengapa pengelola blok tdk copy darat aja dg HT biar tdk seru begini dan sy kawatir akan menelorkan fitnah satu dg yg lain.

      • Menurut hemat saya, hadiri Muktamar 2013, lalu kita bahas dalam sebuah diskusi online.

    • kalo memang benar seperti itu, ya cobalah diperbaiki secara internal dulu. Jangan saling memfitnah saja.
      Ana kira apa yang disampaikan di blog ini menjadi introspeksi bagi HT.
      Coba kita lihat ulama-ulama hadits, tidak segan2 untuk mengatakan ulama A pendusta, atau hadits dhoif kalo memang dia menemukan secara ilmiah kelemahan hadits tersebut.

    • @ibnu : ana baru thu HT mmperjuangkan islam ? tpi knyataan kesimpulan dialog di atas malah HT yg mruntuhkan islam yg murni….

      Yahudi atau JIL…?? bantah dgn dalil….

    • @ibnu Pemberantas oreg munafik
      yakin ini blok yang punya adalah antek amerika ? pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?
      Yuk, kita bantu memurnikan dan membersihkan penyimpangan pemikiran dari Agama ini, Agama yang dibawa dan ajarkan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam
      sama ketika Nabi berdakwahpun, dianggap mencerai beraikan kaumnya, memecah belah kaumnya, menyalahkan kaumnya. pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?
      tapi fanatiklah dengan pemahaman yang diajarkan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, fanatiklah terhadap Alquran dan Assunnah dengan pemahaman yang BENAR
      menganggap pemilik ini sama dengan orang Yahudi ? Yahudi = Kafir.
      tk bedanya artinya : sama dengan , astaghfirulloh. pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?
      Sangat berbeda apabila Anda menyatakan perbuatan seperti bla bla adalah perbuatan orang Yahudi, janganlah kita melakukan bla bla tersebut.

      • @ibnu Pemberantas oreg munafik

        __orang oran antek ameika seperti yang pnya blok ini,__
        yakin ini blok yang punya adalah antek amerika ? pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?

        __bknya membantu saudara memprjuangkan agama Allah,__
        Yuk, kita bantu memurnikan dan membersihkan penyimpangan pemikiran dari Agama ini, Agama yang dibawa dan ajarkan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam

        __mlah membuatcerai berai,saling mnyalahkan seakan akan golngnya yg pling benar. __
        sama ketika Nabi berdakwahpun, dianggap mencerai beraikan kaumnya, memecah belah kaumnya, menyalahkan kaumnya. pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?

        __jgn fanatik dgn golangan.anda__
        tapi fanatiklah dengan pemahaman yang diajarkan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, fanatiklah terhadap Alquran dan Assunnah dengan pemahaman yang BENAR

        __tk bedanya dg orang yahudi.__
        menganggap pemilik ini sama dengan orang Yahudi ? Yahudi = Kafir. Pengkafiran = menggolongkan seorang muslim kedalam kekafiran,
        tk bedanya artinya : sama dengan , astaghfirulloh. pernyataan Anda, dibangun diatas ilmu-yakin ? sebagaimana akidah Anda ?
        Sangat berbeda apabila Anda menyatakan perbuatan seperti bla bla adalah perbuatan orang Yahudi, janganlah kita melakukan bla bla tersebut.

  7. Setiap manusia bisa memilih, menilai sesuatu,menghukumi sesuatu, tergantung kpd femahamannya. Ketika dia memahami islam sbg standar, maka dia akan bersikap/bertigkah laku, sesuai islam, begitu jg sebaliknya.Manusia ko bs memilih dia mau iman atau kafir, pdahal Allah telah memberikan petunjuk kpada manusia?Nah ini nih,kan tergantung kpd manusia, dia mau mengambil petunjuk itu atau tidak. kita tau jalan masuk surga harus taat ma perintah Allah, tapi ada aja yg ga taat, buat maksiat lah dll,trus kita ingatkan, tapi tetap aja buat maksiat,knp manusia bisa kaya itu?ya..karna dia g mau mikir, akalnya g dipake untuk memahami islam. Masalh ginian manusia bisa ngelakuin, karna manusia bisa nentuin, milih n hukumi sndri tergantung pemahamannya. Kalo masalah kita nantinya masuk surga ato g, itu masalah gaib hny Allah yg tau,gt jg masalah rizki,ajal, n jodoh, atau HASIL dari setiap usaha yg manusia lakukan, krn masalah ini mslah gaib,jd manusia g bisa mikirinnya n hnya Allah yg maha tau. Jadi apa yg disampaikan HT ga salah.

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Ahlus sunnah juga MEYAKINI MANUSIA itu BISA & HARUS MEMILIH lho,
      tapi ahlus sunnah juga meyakini kalo sebenarnya pilihan itupun yang menciptakan juga Allah bukan manusianya sendiri.

      Itulah kenapa saya katakan HT salah dan HT = Qadariyyah (meski bukan qadariyah murni),
      karena HT mengatakan bahwa manusia lah yang murni memilih sendiri melakukan suatu amal perbuatan atau tidak, dan amal perbuatan ini bukanlah hal yang telah ditetapkan Allah sebelumnya, misalkan manusia memilih mencuri daripada sholat maka menurut HT manusia memilih mencuri itu murni manusia sendiri yang menentukan dan bukan Allah yang telah menetapkan sebelumnya.

      Padahal Allah berfirman :
      وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
      Artinya: “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)

      Selain itu Allah itu Maha Mengetahui, jadi anda akan mencuri atau akan sholat itu Allah sudah tahu sebelum anda melakukannya,
      Jika Allah saja sudah tahu maka kesimpulannya Allah juga sudah menetapkan jauh hari sebelum kita ini melakukannya.

      Begitu pula anda terlahir itu sudah ditentukan nasib anda kelak masuk surga atau neraka, dengan kata lain Allah juga sudah menentukan jalan apa yang anda pilih entah itu jalan kebaikan atau jalan keburukan, anda akan menjadi penjahat atau orang baik itu sudah ditentukan Allah karena surga dan neraka anda sudah ditentukan, anda akan mencuri atau akan sholat itu sudah ditentukan Allah karena surga dan neraka anda sudah ditentukan juga, inilah korelasi yang tidak bisa kita pungkiri.

      Coba simak sabda Nabi yang jelas dan shahih ini :

      Sabda Nabi :
      مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
      Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.

      [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

      Inilah yang membedakan Ahlus sunnah dengan Jabbariyyah, sebab ahlussunnah memerintahkan untuk ikhtiar dan amal, sementara Jabbariyyah hanya berserah diri dan pasrah belaka.

      • malikkhan kali-qhye

        masya Allah……… antum mengambil sptong pemahaman Hizb trus antum tafsirkan mnrut pemahaman antum sendiri..apa antum tau betul apa yang sbenarnya di maksud oleh penulis buku??
        memang betul mafahum hizb bahwa manusialah yg mutlak/murni memilih sendiri melakukan suatu amal perbuatan sekalipun perbuatan itu dan pilihan itu Allah SWT yg menciptakannya, Hizb tidak menafikan perkara itu akhi.. hizb mngakui bahwa perkara prbuatan dan pemilihan untuk melakukan suatu amal perbuatan itu adalah Allah SWT yg mnciptkannya. akan tetapi Allah SWT tidak mnciptakan kduanya itu dalm sifat memaksa.. Allah menciptakan pilihan, namun apakah Allah memaksa antum untuk memilih yg A atau yg B ? Allah juga menciptakan prbuatan, namun apakah Allah SWT juga memaksa antum untuk melakukan suatu prbuatan yg baik atau buruk ???
        kalau betul Allah SWT telah memaksa kita dalam memilih untuk melakukan suatu amal perbuatan, lalu untuk apa surga dan neraka itu??
        coba antum jawab ini………

      • Ikut nimbrung yee???
        yang saya baca di al-qu’an surat Al Insan ayat 2 adalah: “Sungguh kami telah menciptakan manusia dari setets mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.
        sedangkan di suarat Al-mudatstir ayat 38 adalah ” setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.
        Sooo…, kalao menurut saya nih ya…, kalo aorang itu taat pada perintah Allah maka dia akan dapat reward(hadiah) dari Allah berupa pahala yang akan membawanya ke surga dan dan jika dia mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah maka dia akan dapat punisment (sanksi) yaitu dosa yang dapat mengantarkannya ke neraka.
        kenapa tiap orang harus harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya seperti dalam surat Al mudatstir ayat 38?? karena manusia diberi kelebihan oleh Allah berupa akal sehingga manusia bisa memilih mana yang benar menurut Allah dan mana yang salah menurut Allah, ato manusia akan mengikuti hawa nafsunya. dan ketika mausia melakukan suatu perbuatan apakah dia mau mencuri ato tidak tentu manusia tersebut berpikir terlebih dahulu, hanya saja mana yang didahulukan, ketaatannya pada Allah sebagai makhluk Allah ato keingkarannya terhadap larangan Allah.
        oleh karena itu, Allah menguji manusia dengan larangan dan perintah. kalo manusia sudah punya ketetapan akan masuk surga/ato tidak lalu buat Allah mengadakan ujian seleksi masuk surga???
        jika kejadian yang menimpa manusia diluar kuasa manusia maka manusia tersebut tidak akan mintai pertanngung jawaban atas kejadian tersebut.
        Peace… jika pendapat kurang berkenan mohon dimaafkan ya??? karena kebenaran datangnya hanya dari Allah. dan saya sebagai manusia ada batasannya karena saya hanyalah makhluk Allah yang sulit menghindari kesalahan, maklum cuma makhluk. lemah euy.

      • @pi2t yang di kasihi Allah,
        Cukup menarik juga jawaban antum, saya jadi berpikir demikian: kenapa anak turun iblis nanti disiksa di neraka yang paling panas padahal mereka menjadi jahat itu memang taqdir mereka yang sudah ditentukan sejak sebelum mereka lahir ?
        Bisakah antum menjelaskan hal ini saudaraku ?

      • PengelolakomaHT: klo misalnya Alloh menetapkan antum masuk neraka,, buat apa antum masuk islam akhi….???

      • @ Erlangga yang dirahmati Allah :
        Karena Allah tidak pernah memberitahu hambaNya seperti apakah takdirnya kelak, karena Dia merahasiakan itu (walhamdulillah), maka kita wajib berikhtiar.

        Pertanyaan antum ini juga sudah pernah ditanyakan dulu di era Nabi :
        Sabda Nabi :
        مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
        Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.
        [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

    • dalam pemahaman ahli sunnah perbuatan manusia itu telah tersirat dalam lauhil mahfuz menurut taqdirnya, tapi segala ketentuan itu hanya Allah yang tahu dan manusia tidak mengetahuinya,inilah hikmah dari taqdir meskipun kita tahu bahwa Allah telah menentukkan taqdir kita tapi taqdir itu menjadi rahasia bagi kita agar kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. bayangkan jika setiap orang sudah tahu nasib dirinya kelak masuk neraka atau syurga apa mungkin masing2 kita akan tergugah untuk memperbanyak kebajikan. inilah makna dari taqdir tersebut,manusia bagaimanapun perbuatannya itu tak lepas dari rencana Allah

      مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
      Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.

      • liem hoolay

        dari hadits yg anda paparkan itu sdh tampak bahwa manusia “tetap hrs beramal” dan ttg tentang tertulisnya nasib manusia di lauhulmahfudz itu adalah suatu keniscayaan dari Allah, jadi anda jgn menyalahkan bahwa manusia itu hrs beramal. Menurut sy nasehat anda kok cenderung “hanya” utk membantah faham teman2 HT aja, kelihatan ngotot walau dg bahasa yg sangat santun.

    • Benar manusia bisa memilih Iman atau kafir, amal sholeh atau maksiat, namun pilihan manusia sudah Allah tentukan di lauhulmahfuzh, tidak ada yang meleset dari ketetapannya, bahkan sehelai daun di hutanpun sudah tertulis di lauhulmahfuzh kapan dia tumbuh dan gugur.

      Perbuatan manusia itu ciptaan Allah, namun yang berbuat itu tetap manusia, yang melakukan itu manusia dan dia manusia akan dihukumi atas perbuatannya.
      وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
      Artinya: “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)

      • liem hoolay

        mas salafi, tolong anda nasehati saja boss2 anda di Saudi Arab sana bagaimana mereka mempelakukan TKW kita dan nasehati mengapa mereka menjadi shohib AS yg jelas2 musuh umat islam, para penguasa dan kerabatnya suka berfoya2 di Thailand menikmati wisata sex di sana, Anda sekali2 pergilah ke thailand (ga perlu visa kok sebab sesama ASEAN), lihat perilaku boss2mu itu, mrk tdk segan pake atribut Arab sambil gandeng wanita2 penghibur di hotel2 mewah.

      • disinilah peran manusia untuk memilih, karena kalau pilihan manusia salah maka akan disiksa, untuk itu akal yg diberikan Allah SWT dipake untuk berfikir walaupun pilihan manusia itu sendiri adalah sudah diketahui dan ditetapkan Allah، tetapi Firman Allah dalam surat al Kahf
        وقل الحقّ من رّبكم فمن شاء فاليؤمن وّمن شآء فاليكفر انا اعتدنا للظالمين نار
        yang bisa memilih disini konteksnya adalah akal yg telah dberikan Allah, peran Allah yaitu mencakup telah memberikan akal dan hukum tentang perbuatan tersebut.

    • Apa yang akan Anda lakukan esok hari, apa yang belum Anda lakukan esok hari, apa yang akan Anda pilih adalah termasuk perkara “Ghoib”, Alloh juga Mengetahuinya sebelum Anda lakukan dan Alloh telah menetapkannya sebelum Anda memilih.
      ___
      Kalo masalah kita nantinya masuk surga ato g, itu masalah gaib hny Allah yg tau

  8. bener, sy dukung pendapat pengelolah koma ht,, lebih menentramkan hati dan memuaskan akal ini.. Alloh maha mengetahui apa yg akan terjadi.. apakah kalian berani mengingkari hal ini??

    • itu benar, tapi mosok manusia ga berupaya mas? menurut pendapat anda apakah akan sama akibatnya bila seseorang yg tetap berupaya/beramal walau dia tahu nasibnya telah tersurat dg seseorang yg krn sdh yakin nasibnya telah tertulis. trims

      • masalah manusia akan jadi ppenghuni surga dan neraka itu adalah rahasia Allah. manusia hanya wajib beramal dan ikhtiyar dengan akal untuk memilih mana yg baik dan buruk. karena…. kalau salah pilih akan dihukum. dan memilih adalah urusan akal yang diberikan Allah.

  9. asbabunnujulnya dari QS As Shaffat :96 dan Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim apa mas?

    • Tentang As Shaffat : 96 ini Imam Ibnu Katsir menafsirkannya dengan mengutip hadits riwayat Bukhari dalam kitab Af’al al-Ibad yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’aala adalah pencipta setiap makhluk yang berbuat dan apa saja yang diperbuatnya.

  10. Mas,saya masih bingung yang mas jelaskan.Maksudnya perbuatan manusia adalah karna kehendak Allah ya mas?jadi kalo orang mau mencuri, atau berzina, korupsi dll, itu jg karna kehendak Allah ya mas,trus orang yg jadi kafir n muslim jg kehendak Allah ya mas?jadi untuk apa manusia ikhtiar ya mas kalo perbuatannya tergantung Allah,trus tujuan Allah nyiptakan manusia serta Allah nurunkan aturan dlm alquran untuk apa mas,kalo manusia sejak lahirnya udah ditetapkan Allah kelak masuk neraka ato syurga?mksh

    • nih saya tambahkan lagi dalil-dalil tentang taqdir/qodho dan qodar:

      Firman Allah s.w.t:

      إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

      “Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari kiamat. dan Dia lah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang apa yang ada dalam rahim (ibu Yang mengandung). dan tiada seseorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok (sama ada baik atau jahat); dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi amat meliputi pengetahuanNya”. [Luqman: 34]

      وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

      Maksudnya: “dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu Kami tuliskan satu persatu dalam Kitab (lauh mahfuz) yang jelas nyata”. [Yasin: 12]

      Berkata Ibn Kasir r.h: “Semua perkara yang akan terjadi telah ditulis (sebelum berlakunya) dalam kitab yang dibentang dan ditetapkan dalam Lauh Mahfuz dan maksud Imam Mubin dalam ayat ini adalah Ibu Kitab” [Ibn Kasir, 6/568]

      “كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة وعرشه على الماء”

      Maksudnya: “Allah s.w.t telah menulis takdir makhluk sebelum Dia mencipta langit-langit dan bumi dalam jarak 50 ribu tahun dan Arasy-Nya berada di atas air”. [Muslim].

      Imam al-Nawawi r.h dalam Syarah Muslim menjelaskan bahawa hadis ini menunjukkan peringkat penulisan Allah s.w.t terhadap takdir yang telah diketahuiNya sebelum itu lagi. [al-Minhaj, 16/203].

      Firman Allah s.w.t:

      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

      Maksudnya: “dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya)”. [al-Insan: 30].

      Dalam ayat ini, Allah s.w.t menjelaskan bahawa segala kehendak manusia itu bergantung pada kehendak Allah s.w.t. Jika kehendak mereka sesuai dengan kehendak Allah dan diizinkan Allah untuk berlaku maka barulah ia berlaku jika tidak maka sama sekali tidak akan terjadi.

      Firman Allah s.w.t dalam surah al-Takwir ayat 29:

      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

      Maksudnya: “dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu (mengenai sesuatupun), kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mengatur seluruh alam”.

      Dalam surah Hud ayat 34 Allah s.w.t berfirman menceritakan perkataan RasulNya yang pertama, Nuh a.s.:

      وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

      Maksudnya: “dan tidak ada gunanya nasihatku kepada kamu, jika Aku hendak menasihati kamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu (kerana kamu tetap berdegil); Dia lah Tuhan kamu dan kepadanya kamu akan kembali”.

      Ayat ini menunjukkan dengan jelas, baik dan buruk, Iman dan Kufur seseorang, semuanya berlaku dengan kehendak Allah s.w.t.

      hadis nabi :مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
      Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.

      adalah riwayat bukhary & muslim. untuk lebih jelasnya silahkan buka blog http://mashoori.wordpress.com/2009/02/23/beriman-kepada-qada-dan-qadar/

      disana dijelaskan macam-macam qodho dan qodar menurut ahlu sunnah

    • Sedangkan ayat-ayat lain yang terkait dengan qodho dan qodar diantaranya adalah:

      1. as-Saffat: 96

      وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

      “Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (as-Saffat: 96)

      2. al-Insan: 30

      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

      “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (al-Insan: 30)

      3. al-An’am: 111

      مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

      “Mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki.” (al-An’am: 111)

      4. al-Hadid: 22

      مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

      “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (al-Hadid: 22)

      hikmah dari ayat ini adalah:

      1. Manusia, lebih khusus setiap Muslim harus berusaha dan berjuang keras dalam segala aspek kehidupan untuk menggapai kesejehteraan hidup dalam rangka beribadah mengharapkan ridha Allah. Seperti dicontohkan Rasulullah saw. dalam asbabun nuzul ayat itu, yaitu dengan berperang di jalan Allah untuk mempertahankan keberlangsungan Islam, dalam rangka beribadah mengharap ridla Allah.
      2. Dalam usaha dan kerja kerasnya, manusia khususnya setiap Muslim harus meyakini bahwa ada qudrah dan iradah Allah di dalamnya. Ini juga berarti, bahwa setiap Muslim harus mengimani qadla dan qadar Allah. Dijelaskan oleh ayat itu, bahwa Allah-lah yang sejatinya melempar, memanah, membunuh musuh-musuh Allah ketika nabi saw. dan para sahabatnya melakukan peperangan.

      Catatan Kaki
      [1] Asbabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat al-Qur’an. Edisi ke 2. Tim Editor: H.A.A. Dahlan, M. Zaka Alfarisi. Bandung: Penerbit Diponegoro, 2004. hal. 236.
      [2] Ibid.
      [3] Ibid.
      [4] Ibn Katsir. Tafsir Ibn Katsir. Dalam CD Holy Qur’an.
      [5] al-Qurthubi. Tafsir al-Qurthubi. Dalam CD Holy Qur’an.
      [6] Ibid.
      [7] Ibnu Katsir. Ibid.

      sumber http://ansori.multiply.com/journal/item/18

      • Zul: klo Alloh misalnya udah ngecap ente masuk neraka….???? buat apa ente dakwah kayak gini…..???

      • @ Erlangga yang dirahmati Allah :
        Karena Allah tidak pernah memberitahu hambaNya seperti apakah takdirnya kelak, karena Dia merahasiakan itu (walhamdulillah), maka kita wajib berikhtiar.

        Pertanyaan antum ini juga sudah pernah ditanyakan dulu di era Nabi :
        Sabda Nabi :
        مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
        Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.
        [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

      • Hamba Allah

        Sebenarnya apayang di sampaikan HT bukanlah hal baru..HT hanya memberi batasan pembahasan Qadla dan qadar sebatas yang bisa difahami akal. Yang dimaksud dengan Ahlussunnah oleh an nabani adalah asyariyyah. Menurut nabani asy ariyah telah terseret ke dalam pembahasan mutakalimin sehingga berusaha menjelaskan mekanisme qada dan qadar. menurut an nabhani, ketika berbicara tentang qadla dan qadar tidak serta merta dihubungkan dengan pertanyaan tentang perbuatan Allah dan perbuatan manusia. faktanya, manusia memang di beri hak dan kemampuan untuk memilih. Bahwa hakekatnya ikhtiar manusia adalah juga dari Allah(karena semuanya sudah tertulis di lauhil mahfudz) adalah ilmu Allah yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, karenanya kita tidak boleh mengira-ngira dan membahas bagaimana mekanismenya karena jelas hal itu di luar kemampuan akal.

        Dengan memisahkan antara alat pemukul, tindakan memukul dan hasil(rasa sakit) pada dasarnya HT jelas berbeda dengan mu’tazilah. Karena dengan kata lain HT percaya bahwa Allah jua yang menentukan hasil dari perbuatan manusia, sedangkan perbuatan manusia adalah memang berada dalam wilayah yang dikuasai manusia karena dia bisa memilih, meski begitu tentu saja masuk dalam iradah kekuasaan Allah, tetapi kita tidak akan bisa memahaminya karena itu di luar kemampuan akal. karena itulah masalah perbuatan Allah atau perbuatan manusia tidak seharusnya dijadikan perdebatan dalam bahasan qadla dan qadar.
        disaat Rasulullah menyebutkan tentang nasib manusia yang telah ditentukan, .para sahabat bertanya tidakkah sebaiknya pasrah saja..bukankah artinya manusia memang punya kekuasaan untuk pasrah ataupun berikhtiar? bahwa nasib manusia sudah ditentukan adalah suatu hal yang wajib di imani,tapi bukan berarti mengkaitkan perbuatan manusia dengan peruatan Allah dengan membahasnya menggunakan akal karena selamanya tidak akan ketemu.
        pembahasan ini sebenarnya mirip dengan pembahasan ‘Allah dilangit” ala salafy dan aswaja. Kedua2 nya berusaha untuk tidak menyamakanAllah dengan makhluk tetapi dengan jalan yang berlawanan.
        Jalan atau cara memahami memang beda, tetapi tujuannya sama..
        begitu juga dengan qadla dan qadar, ada banyak sekali perbedaan pembahasan. coba lihat pelajaran anak SD, pasti tidak akan ditemukan pembahasan seputar perbuatan manusia /perbuatan Allah dalam bahasan taqdir. ada yang membagi qadla menjadi 2, ada juga yang berpendapat nasib manusia sudah ditentukan tetapi bisa diubahdengan usaha dan doa. ada juga yang menganggap qadla seperti jalan yang bercabang dan lain sebagainya. mengapa pembahasan yang beragam seperti itu tidak dipermasalahkan?
        Hendaknya jangan terlalu mudah menarik kesimpulan bahwa HT ato kelompok lain tidak mengimani taqdir hanya karena perbedaan pembahasan. Bukankah rukun imanyang mereka percayai juga 6 sama dengan kita..beda dengan mu’tazilah yang memang jelas2 menyebut rukun iman cuma 5.

    • malikkhan kali-qhye

      mungkin mas pengelolah terlaluh jauh jangkauan brfikirnya sehingga beliau bingung sendiri………………………………………………………………………….
      terus untuk apa dia membuat blog ini untuk mengoreksi HT bukankah kalau dia mau jujur apa yg dia fahami tentang HT itu juga kehendak Allah uutk dirinya… kalo dia menganggap HT itu salah untuk apa dia repot-repot buat blog ini untuk koreksi HT bukankah dia sudah tau kalo smua itu telh dkhendaki Allah? knapa dia tidak koreksi aja dirinya sendiri biar dirinya di permudah menuju surga…

      • @ malikkhan kali-qhye yang dirahmati Allah,
        Jawabannya mudah sekali akhy, karena Rasulullah meskipun memiliki aqidah bahwa semua sudah ditentukan Allah namun beliau tetap memerintahkan beramal (berikhtiar). Dan inilah yang membedakan antara ahlus sunnah dengan Jabariyah.

        Silahkan anda simak hadits yang lebih jelas lagi dalam masalah ini :

        قال عمر يا رسول الله أرأيت ما نعمل فيه أمر مبتدع أو مبتدأ أو فيما فرغ منه ؟ فقال فيما قد فرغ منه يا ابن الخطاب وكل ميسر أما من كان من أهل السعادة فإنه يعمل للسعادة وأما من كان من أهل الشقاء فإنه يعمل للشقاء
        Artinya:
        “Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah yang kita lakukan (perbuatan-perbuatan makhluk) ini perkara yang baru terjadi atau pun telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya?
        Jawab Nabi : Telah ditetapkan wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka sesiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
        [HR. al-Tarmizi, Ahmad-sahih-].

    • terus kejar aja itu mas pengelola, makanya umat islam makin mundur saja sebab pemikirannya spt mas pengelola, kekayaan bumi umat islam dijarah AS, warganya dibantai, pemimpin2nya diteror ga perlu bersikap sebab itu sudah tersurat…… Pake dalil apapun kalo ini dibenarkan berarti mas pengelola dan kelompoknya ga beda sbg “antek2 iblis AS”. Jadi pertanyaan Lia bagus….

  11. Jazakallahu khairan atas penjelasan saudara zul semoga bisa menjadi nasihat bagi saudara Lia.

    Adapun pertanyaan terakhir saudara Lia :
    “jadi untuk apa manusia ikhtiar ya mas kalo perbuatannya tergantung Allah,trus tujuan Allah nyiptakan manusia serta Allah nurunkan aturan dlm alquran untuk apa mas,kalo manusia sejak lahirnya udah ditetapkan Allah kelak masuk neraka ato syurga?”

    Maka pertanyaan ini sangat identik dengan pertanyaan para shahabat ketika mendengar Nabi berkata : “tiap manusia sudah ditentukan di surga atau neraka”
    maka para shahabat bertanya : “lantas kenapa kita tidak pasrah saja”
    Nabi menjawab: “jangan, tapi beramalah agar dimudahkan”.

    Maka jawaban saya pun serupa dengan jawaban Nabi yaitu “meskipun kita sudah ditentukan surga dan neraka kita tapi dengan ikhtiar dan amal maka kita akan dimudahkan”.

    Semoga jawaban ini cukup jelas, dan sesungguhnya petunjuk kembali kepada Allah jua.

    • malikkhan kali-qhye

      mas pengelolah btpa dzalimnya Allah jika Dia menetapkan Hamba-Nya sbagai ahli neraka….mana Maha Penyayang Allah???
      mas maaf yahh.. saya pribadi punya firasat kalo mas kurg pahm akn makna hadits di atas….

      • @ malikhan yang dirahmati Allah,
        Firman Allah : Kalau Allah menghendaki niscaya akan diberikan tiap – tiap jiwa petunjuk Nya ,tapi telah menjadi ketetapan Nya (32 ; 13).

        Saudara malikhan yang dirahmati Allah,
        Betapa banyak penganut katholik yang ia menganut katholik karena orang tuanya katolik dan semua itu adalah bukti ketetapan Allah.
        Anda diciptakan Allah sebagai manusia bukan sebagai iblis dan bukan pula sebagai binatang itupun ketetapan Allah.
        Nenek moyang iblis telah membangkang sehingga masuk neraka namun kenapa anak keturunan iblis semua ditakdirkan masuk neraka juga padahal yang membangkang itu bapak moyangnya?
        Apakah itu adil bagi anak keturunan iblis yang tidak tahu apa-apa?

        Akal kita tidak mampu mencermati ini, mari kita imani saja apa yang sudah diajarkan Rasulullah kepada kita.

      • liem hoolay

        malikhan yth, percuma tuh berdebat dg mas pengelola, lihat tuh jwbnya belok2 ga karuan. klo kita turuti nasehat mas pengelola yg arif itu berarti utk apa Allah menurunkan Qur’an yg isinya petunjuk bagi umat manusia. Mas malikhan tlg beritahu pengelola utk menasehati para hakim yg sedang mengadili nazarudin si koruptor itu, kasihanilah si koruptor itu, kan dia sdh tersurat sbg koruptor mengapa pake diadili segala?????

    • Ente sudah pernah bayangin,…???
      Klo ternyata ente dari awal sudah ditentukan adalah PENGHUNI NERAKA.. (karena pilihannya cma 2, surga atau neraka… )
      Apa yang ente lakuin di dunia???????

      “Semoga jawaban ini cukup jelas, dan sesungguhnya petunjuk kembali kepada Allah jua”…
      Manis ente,.. padahal dengan jelas ente berusaha memberi jawaban MUTLAK .. “SAYA ADALAH YANG BENAR”!!!!!

      CKCKCKKCKCKCK…..

      • Saudara don yang dirahmati Allah,
        Meskipun Allah telah menetapkan surga dan neraka manusia, namun Allah tidak memberitahukan ketetapanNya itu pada manusia sehingga manusia tidak bisa menyandarkan pada hal itu melainkan harus berusaha.
        Hal ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah, silahkan disimak secara teliti hadits berikut :

        قال عمر يا رسول الله أرأيت ما نعمل فيه أمر مبتدع أو مبتدأ أو فيما فرغ منه ؟ فقال فيما قد فرغ منه يا ابن الخطاب وكل ميسر أما من كان من أهل السعادة فإنه يعمل للسعادة وأما من كان من أهل الشقاء فإنه يعمل للشقاء
        Artinya:
        “Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah yang kita lakukan (perbuatan-perbuatan makhluk) ini perkara yang baru terjadi atau pun telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya?
        Jawab Nabi : Telah ditetapkan wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka sesiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
        [HR. al-Tarmizi, Ahmad-sahih-].

    • nimbrung ya akhi yg arif, dg penafsiran mas pengelola yg arif sy ingin tahu, kira2 lebih dominan mana upaya manusia utk berbuat atas nasibnya atau apa yg sudah tersurat atas manusia itu. makasih ya mas.

  12. mas zul cantumkan jg donk tafsir ayat-ayat nya?mksh

    • @lia: diatas bukannya udah ditulis keterangan ulama hadis dan tafsir beserta buku dan halamannya? kalo masih ga jelas dan merasa ga percaya silahkan baca sendiri referensi yang saya cantumkan diatas biar anda sendiri yakin dengan membaca sendiri, apa gunanya saya susah-susah menyajikan ribuan dalil untuk anda bila memang sedari awal hati dan pikiran anda ga mau terbuka untuk pendapat lain. saya salut sama HT mampu “mencuci otak” kadernya sedemikian rupa,dalil dah begitu jelas dan terang masih saja mencari pembenaran,dimana kemampuan akal qiyadah fikriyah yang anda banggakan jika keterangan sejelas itu masih terasa samar?, inilah karakter ahlul hawa’

      • liem hoolay

        zul yg arif, sy seorang mualaf jadi klo menurut mas zul percuma donk sy sangat berupaya keras melawan kedholiman utk masuk islam sebab bukankah nasib sy sdh tersurat???? bagaimana klo tiba2 saja sy dan keluarga murtad lagi apa itu berdosa kan itu sdh tersurat???????

    • Saudaraku zul dan lia yang diberkahi Allah,

      Yang bertanya maupun yang ditanya butuh kesabaran, yang menimba ilmu maupun yang menyerukan kebaikan sama-sama butuh kesabaran.

      Saudara lia bersabarlah dalam mencari kebenaran, dan saudaraku zul bersabarlah dalam menyampaikan risalah, semoga Allah memberkahi antum berdua, dan mempertemukan antum berdua di surgaNya kelak, barakallahufikum.

      Al Hasan Al Bashri berkata :
      Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik. Allah tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya.

      (Dinukil dari Kitab ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratisy Syakirin Karya Syamsudin Muhammad Bin Abu Bakar Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)

    • malikkhan kali-qhye

      ini untuk mas pengelolah..jelas itu adil karena iblis tidk mau memohon ampun..beda dgn adam yg bertaubat………….untuk katolik, buaknkh Allah telah memrintahkn untk Islam ini dsebarkan k sluruh dunia hingga smua manusia itu merasakan nikmatnya Islam??
      kalo bgitu untuk apa Islam itu di dkwakan k mereka juga..toh.
      satu lagi, klo manusia itu memilih sndiri apa yg hendak mereka perbuat ato mreka tinggalkan itu karena Allah telh berkehendak membebaskan mreka untuk memilih mana yg akan mereka jalnkan entah baik ato buruk…

      • @malikkhan kali-qhye yang dirahmati Allah,
        Iblis memang tidak memohon ampun namun bagaimana dengan anak-anak keturunan iblis ? apakah bila anak-anak iblis memohon ampun akan dimasukkan surga ?
        Tidak akhy, tidak ada iblis dalam surga
        Semua itu ketetapan Allah

        Allah menetapkan penghuni Neraka itu kebanyakan wanita, apakah hal ini adil menurut antum ?
        Bukankah ini berarti Allah telah mentakdirkan para wanita akan banyak bermaksiat ?

        Sekarang ana tanya ke antum,
        apakah Allah saat ini sudah tahu apa yang akan terjadi kelak ?
        apakah Allah sudah tahu bahwa Barack Obama kelak akan masuk neraka?

      • Hamba Allah

        sebenarnya, apa yang diutarakan pengelola memang tidak akan bisa memberi jawaban yang memuaskan jika hal itu dihubungkan dengan perbuatan manusia. Seharusnya hal itu dihubungkan dengan pembahasan kekuasaan Allah, ilmu Allah yang tidak terjangkau akal kita. coba kita pahami dengan akal, manusia disuruh berusaha, di turunkan risalah, diberi petunjuk tapi di satu sisi nasibnya juga sudah ditentukan.membingungkan to? Maka benarlah rasulullah bahwa kita wajib ikhtiar karena kita tidak tahu nasib kita…tetapi sebenarnya jawaban inipun juga tidak akan memuaskan akal jika dihubungkan dengan perbuatan manusia, karena tetap saja,tau ataupun tidak tau tetep aja gak ada gunanya usaha kita. Jadi sebenarnya antara perbuatan Allah /manusia dengan ketentuan/nasib yang tertulis di lauhil mahfudz secara akal tidak bisa dihubung-hubungkan. Bahwa nasib manusia sudah ditentukan cukup diimani, jangan dihubungkan dengan kita dipaksa dalam perbuatan kita ato gimana,karena gak akan bisa dipahami. Toh,kita juga tidak tahu nasib kita kayak gimana..Masalah nasib kita itu rahasia Allah, yang pasti kita punya daya dan kemampuan untuk berusaha/berbuat.

  13. Makasih mas pengelola nasehatnya, memang kita harus bersabar apalagi dalam mencari kebenaran, ga bisa asal ambil, makanya saya harus teliti,karna apa yang nanti saya ambil harus saya pertanggungjawabkan di sisi Allah, karna ni masalah agama, masalh Aqidah. Yang saya fahami, dalam mengambil sebuah hukum, kita harus tau sumbernya yang jelas, kalo itu dalil Quran,harus jelas tafsirnya, asbabunnujulnya, dll, begitu jg hadis, sanadnya gmana dll. Mugkin mas ini lebih tau dari saya, Dan mas Zul, saya tidak seperti yg anda tuduhkan. Insya Allah saya terus mencari ko mas, g perlu kwatir. karna saya melihat masalah yang diangkat ini ( Qada n Qadar) oleh komaHt, didasari perbedaan pendapat dg HT, perbedaan ini muncul menurut saya karna beda dalam mengambil rujukan, ato dalam menafsirkan ayat-ayat. Memang saya merasa ga cukup kalo cuman mendapatkan penjelasan dari blog ini, perlu juga tabayun dengan HT,karna saya pikir, mereka juga punya dalil n rujukan.Selanjutnya ya saya kan bisa dg objektif memilih dar setiap perbedaan-perbedaan ini. makasih ya.

  14. Apakah hadist yang di tulis diattas semuanya sahih?

  15. @ EGIS, Hadits yang saya sampaikan tersebut Shahih riwayat Bukhari dan Muslim.

    @lia, Semua paham punya dalil baik paham yang benar maupun paham yang menyimpang, namun yang perlu diwaspadai adalah Taqiyyuddin (HT) dalam perkara Qadha dan Qadar ini membuat sebuah pendapat dan pemahaman yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya.
    Padahal Islam ini harus runtut dan jelas sanadnya, apalagi ini urusan aqidah sehingga harusnya mengikuti saja aqidah-aqidah para pendahulu Islam sebelumnya sampai ke zaman Nabi, shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabiin.

    Silahkan ditanyakan pada para aktivis HT apakah ada ulama sebelum taqiyyuddin yang memiliki pendapat sama dengan taqiyyuddin dalam perkara aqidah qadha dan qadar,
    Tentu jawabannya Tidak dan alasan mereka adalah karena Taqiyyuddin adalah pembaharu.

    Padahal aqidah Islam tidak ada yang perlu diperbarui, jika ada yang mengaku memperbarui aqidah Islam dan tidak ada contohnya dari pendahulu Islam sebelumnya maka ia justru mengada-adakan aliran aqidah baru yang tidak ada contohnya, dan ini sangat berbahaya.

    • malikkhan kali-qhye

      haditsnya betul shohih..tapi mungkin pemhamn mas k haditsnya yg kurang shohih

    • malikkhan kali-qhye

      untuk mas pengelolah,,,,, masalh Iblis beda dgn masalah manusia… Allah memang telah mengetahui bahwa kelak akn ada banyak wanita yg akan masuk neraka,, akan tetapi bukan berarti mreka para wanita itu dipaksa Allah untuk Masuk Neraka Mass… Mereka Masuk Neraka ya Jelas Krna mereka Bermksiyat Kpda Allah, dan Ini Adil Mass.. Allah Memang Telah Mengetahui Tentang Apa yg Akn terjdi Kelak krn Allah Maha Mengetahui yg Ghaib. Untuk Barak Obama, Allah Pun Telah mngetahui Apa yg akn mnimpany kelak soal dy msuk neraka ato yg lain itu dluar kuasa kita….

      • @malikkhan kali-qhye
        Pertama :
        Iblis memang beda dng manusia, tapi yg ana tanyakan ke antum kenapa anak keturunan iblis semua ditakdirkan Allah masuk neraka padahal yang bersalah nenek moyangnya ?
        Jawabannya hanya satu, karena Allah memang menghendaki demikian meskipun menurut kacamata manusia yg kurang beriman itu tidak adil.

        Kedua :
        Jelas jika Allah telah menetapkan penghuni neraka banyak dari wanita maka Allah juga menetapkan para wanita akan banyak berbuat maksiyat akhy, ini sudah pasti.

        Ketiga :
        Jika Allah sudah tahu sejak awal bahwa obama akan menjadi orang kafir seumur hidupnya maka berarti Allah sudah menetapkan/mentaqdirkan bahwa obama seumur hidupnya akan kafir akhy.

        Semua ini adalah kekuasaan Allah semua Yang Maha Tahu dan Yang Menciptakan

    • perkataan pengelola ini perlu di garis bawahi:’Taqiyyuddin (HT) dalam perkara Qadha dan Qadar ini membuat sebuah pendapat dan pemahaman yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya.’
      Pada kenyataanya, banyak bermunculan pendapat seputar qadla dan qadar setelah Rasulullah wafat, ada mutazilah, qadariyah asyariyah,maturidiyah(dua yang terakhir ini dianggap mewakili ahlussunnah karena mengambil jalan tengah, meskipun begitu pemahaman semua aliran diatas sebenarnya adalah hal baru, karena berusaha menjelaskan taqdir dengan akal terkait hubungannya dengan perbuatan manusia. Inilah yang kemudian dikoreksi oleh syaikh taqiyudin an nabhani. Beliau menempatkan akal pada posisinya, Memperinci bahasan yang bisa di fahami akal dengan kapasitasnya, dan bahasan yang tidak bisa difahami akal dan merupakan ilmu Allah yang hanya bisa kita imani. Terkait dengan perbuatan manusia, Beliau membagi menjadi 2 wilayah,yaituwilayah yang dikuasai manusia dan yang tidak dikuasai manusia. wilayah yang tidak dikuasai manusia inilah yng dimaksud dengan qadla.sedangkan qadar adalah khasiat dari benda, sesuai dengan sunnatullah. Terkait dengan wilayah yang dikuasai manusia, maka manusia akan dimintai pertanggung jawabannya.wilayah ini tidakbisa kita hubungakn(scara akal) dengan perbuatan manusia, karena memang murni perbuatan kita dan jika kita ngotot menghubungkan dengan perbuatan Allah tidak akan ketemu. meskipun begitu, bukan berarti terlepas dari iradah Allah. dISINI, hadits tentang nasib kita yang sudah diketahui/ditentukan adalah masuk dalam wilayah ilmu Allah yang tidak terjangkau akal, karenya wajib kita imani. Dalam hal ini,HT mengoreksi konsep dari Mu’tazilah yang menganggap bahwa antara memukul dengan efek yang ditimbulkan adalah murni perbuatan manusia. Sedangkan HT tidaklah berpendapat demikian. HT memisahkan antara perbuatan memukul, alat yang digunakan dan efek yang dihasilkan. jika kita Analisa, dari sini sebenarnya Syaikh taqiyuddin tidak menafikkan masalajh keimanan bahwa apapun ikhtiar kita, Allah juga yang menentukan hasilnya. Hanya saja beliau tidak menghubungkan pembahasan ketentuan Allah/Qadla dengan perbuatan manusia karena jika dinalar dengan akal(sebagaimana yang dilakukan oleh semua aliran sebelumnya)tidakakan ketemu. Beliau mengannggap hal itu bagian dari kekuasaan Allah yang tidak bisa/tidak boleh dibahas dengan akal

  16. @Mas pengelola. Anda mengatakan tidak ada ulama sebelum taqiyyuddin yang memiliki pendapat sama dengan taqiyyuddin dalam perkara aqidah qadha dan qadar. Bagaimana dengan pendapat kelompok Mu’tazilah dan Qodariah. Bukankah mereka juga memiliki pendapat seperti itu. Jika iya berarti sudah ada pendapat tersebut jauh sebelum Syaikh Taqiyudin. Allahu a’lam

    • yang dimaksud disini adalah ulama ahlus sunnah bukan ulama yang lain seperti syiah, mur’jiah dan mu’tazilah

    • Taqiyyuddin sendiri menolak disamakan dengan mu’tazilah dan qadariyyah karena memang ada sedikit perbedaan dalam pemahaman Qadar, adapun dalam perkara Qadha nya kurang lebih sama, dan dalam hal meyakini penciptaan perbuatan itu oleh manusia sendiri juga sama.

      Jadi fatwa taqiyyuddin memang sangat berbeda sekali dengan ahlus sunnah , namun sedikit berbeda juga dengan qadariyyah dalam perkara Qadar nya.

      Itulah kenapa saya katakan tidak ada satupun ulama sebelum Taqiyyuddin yang berfatwa seperti Taqiyyuddin dalam hal aqidah Qadha dan Qadar ini.

      • malikkhan kali-qhye

        1. mass… Allah ktika melaknat Iblis itu bukan serta merta memberi lknat atas keturunanya,,, Allah berkata kpda Iblis Bhwa Dya melknat Iblis Masuk Neraka n Hram msuk Surga berikut sypa” yg mengikutinya.. qt ktahui bhwa ada 2 glongan jin ykni yg taat n yg ingkar..nah sypa yg ingkar jelas mreka mngikuti Iblis,,, Apakah Allah memerintahkan mreka untuk ,mngikuti Iblis? jwabnnya tidak, mreka sendiri yg mengikutiny… jdi pntas ktika mreka mmliki ktrunan maka sama” mreka msuk neraka.. Allah hny mmbrikan apa yg dpilih makhluk-Nya,ITU jelass.

        2. Syapa yg katakn Allah itu menetapkan Wanita yg kelak msuk neraka itu brbuat maksiyat, antum jgn smbrNG brkata,,, Allah telah tnjuki kpda mreka jaln fujurahaa wataqwaha, juga Allah Anugrahi kpada kita Fiqru untuk memilah” mana ingkar mana taqwa, artinya Allah hendak membebskan kita untuk memlih entah jalan baik ato jaln buruk.. knapa Allah malah menghramkan qt mati kcuali bila kita dlam k’adaan Muslim.. untuk apa itu mass? klo memang Allah telah mnetapkan mreka brbuat maksiyat? untuk apa mreka di dkwahi,,untuk apa? untuk apa antum berdakwah? apa untuk kbaikan antum sndiri?

        3. Mass katakn bahwa Obama telh dtkdirkan Allah mnjadi Kafir slama-lamanya?? DARIMANA antum tau? Apakah Allah mmbritahu Antum??
        masya Allah…………… knpa juga mesti org kafir itu hrus ddkwahi? klo pemhaman Antum sperti itu……

      • @malikkhan kali-qhye yg dirahmati Allah :

        1. Ini menunjukkan antum belum membaca alQur’an dengan seksama, didalam surah Shaad ayat 85 Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan bangsamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya”.
        Ini berarti semua keturunan iblis sudah ditetapkan menjadi ahli neraka sejak mereka belum dilahirkan.

        2. Pertanyaan antum ini sudah pernah ditanyakan para shahabat kepada Nabi, dan berikut ini saya tuliskan satu hadits saja dari sekian banyak hadits tentang masalah ini :
        “Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan yang kita lakukan ini perkara yang baru terjadi atau pun telah ditetapkan oleh Allah?
        Jawab Nabi : Telah ditetapkan Allah wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka sesiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
        [HR. al-Tarmizi, Ahmad-sahih-].

        3. Antum tidak menyimak dengan seksama, ini saya sajikan lagi runtutan diskusi kita :
        Saya bertanya : “apakah Allah saat ini sudah tahu apa yang akan terjadi kelak ? apakah Allah sudah tahu bahwa Barack Obama kelak akan masuk neraka?”
        Antum menjawab : “Untuk Barak Obama, Allah Pun Telah mngetahui Apa yg akn mnimpany kelak soal dy msuk neraka ato yg lain itu dluar kuasa kita….
        Saya menjawab : “Jika Allah sudah tahu sejak awal bahwa obama akan menjadi orang kafir seumur hidupnya maka berarti Allah sudah menetapkan/mentaqdirkan bahwa obama seumur hidupnya akan kafir akhy.”
        ini hasil diskusi kita akhy
        jadi maksudnya adalah Allah sejak obama belum lahir telah tahu apakah kelak obama itu akan masuk neraka atau akan masuk surga,
        dan misalnya Allah telah tahu bahwa obama itu kelak akan masuk neraka maka berarti Allah telah mentakdirkan obama berbuat maksiyat sehingga ia masuk neraka,
        begitu pula jika Allah telah tahu bahwa kelak obama akan masuk surga maka berarti Allah juga telah mentakdirkan obama akan bertaubat sehingga ia masuk surga.
        Hal ini berdasarkan hadits Nabi :
        “Barangsiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”

  17. Af1 mp3 nya tdak bisa sy download. Begini akhi, pertanyaan saya adalah, Kalo memang Allah telah menetapkan pilihan dan perbuatan kita, sungguh Zholimnya Allah telah menetpkan sesorang pencuri kemudian Allah memberikan siksa kepadanya, begitu pula perampok, penzina, koruptor, dll. Sungguh Maha suci Allah dari sifat yang demikian. Kesalahan ahli sunnah dan yang lainnya sehingga membedakan dengan Hizbut Tahrir adalah: 1) Ahli Sunnah (AS)dan yang lainnya, menggabungkan antara apa yang diperbuat Allah dengan apa yang manusia lakukan. sehingga yang muncul selalu adalah petanyaan apakah manusia melakukan perbuatan itu sudah ditentukan oleh Allah atukah tidak, padahal pembahasan qodha dan qadar menurut sy, memang tidak berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan ini. karena pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhubungan pahala dan siksa. Pembahasan qodha cukup pada pembahasan perbuatan manusia yang dilakukannya/ yang terjadi padanya, Dan ternyata memang perbuatan manusia itu dua hal 1.yang dia punya pilihan dan 2. tidak punya pilihan. knapa tidak dihubungkan dengan apa yang Allah perbuat epada manusia? sebab Allah Maha Luas ilmuNya. Kalau anda menghubungkan perbuatan Allah dengan perbuatan manusia maka anda telah membatasi IlmuNya Allah. Memang benar Allah telah mengetahui keadaan kita yang kemarin, besok dan akan datang bahkan diakhirat kelak, syurga atau neraka, tapi IlmuNya, kitab laulul ma’fuz, Iradah-Nya tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu. karena jika seperti yang akhi kemukakan maka pertanyaan selanjutnya adalah; seandainya anda bermaksiat kepada Allah apakah Allah akan tetap memasukan anda kedalam Syurga-Nya kelak jika misalnya anda telah ditakdirkan untuk masuk Syurga, tentunya tidak, ataukah anda akan mengatakan; perbuatan sholeh sy telah ditentukan oleh Allah. trus untuk apa dong pedoman/petunjuk (Alquran dan Sunah) diturunkan? Makanya HT pada persoaalan Qadha cukup membahas pada apa yang diperbuat oleh manusia dan tidak membahas apa yang Allah lakukan terhadap manusia. jika dihubung-hubungkan sekali lagi rancuh pembahasannya, sy pun berpendapat bahwa Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu.
    2. Banyak dalil yang seolah-olah bertentang pada pembahasan taqdir misal: yang akhi kemukakan:
    مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
    Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.
    Dengan Surat:
    “Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan
    buruk)” (TQS. Al-Balad [90]: 10)
    “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (TQS. Asy-Syams [91]: 8).

    Menurut saya: hadist yang antum kemukakan mengindikasikan seperti yang saya pahami, bahwa kita harus berbuat dan melaksanakan amal sholeh karena dengan itu kita akan dimudahkan untuk masuk syurgah. bukan berarti kalo kita tidak beramal soleh kita akan tetap masuk syurga tapi tidak dimudahkan. karena kalau kita tidak beramal sholeh tentunya kita tidak akan masuk surga.
    Maka dengan memahami seperti ini bahwah kita beramal soleh atau tidak itu sesuai dengan pilihan kita. dan Allah Maha Tahu tetang apa yang kita pilih. walaupun kita belum melaksanakannya. Jazakillah Khair.

    • @haris:dalil yang anda kemukakan itu menunjukan bahwa Allah memang telah menentukan taqdir segala sesuatu baik perbuatan manusia yang sudah dan yang belum. kita semua sudah jelas perihal apa yang akan kita lakukan dan apa saja yang akan kita dapatkan,seseorang mencuri,berzina ataupun yang beramal sholih dan berbuat kebaikan itu adalah Allah yang menentukan,mungkin itu akan dirasa Allah tidak adil menurut akal kita.tapi KEADILAN ALLAH TERLETAK PADA KETENTUAN YANG MENJADIKAN PERKARA TAKDIR ITU ADALAH GHAIB, jadi Allah tidak mengabarkan kegaiban taqdir itu agar manusia berlomba2 dalam kebaikan dan tidak merasa putus asa dari takdirnya.

      beberapa firman Allah mengenai taqdir(saya cantumkan lagi):

      1. as-Saffat: 96

      وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

      “Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (as-Saffat: 96)

      2. al-Insan: 30

      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

      “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (al-Insan: 30)

      3. al-An’am: 111

      مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

      “Mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki.” (al-An’am: 111)

      4. al-Hadid: 22

      مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

      “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (al-Hadid: 22)

      HUD ayat 34:

      وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

      Maksudnya: “dan tidak ada gunanya nasihatku kepada kamu, jika Aku hendak menasihati kamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu (kerana kamu tetap berdegil); Dia lah Tuhan kamu dan kepadanya kamu akan kembali”.

      adapun firman Allah yang antum kutip itu tidak membuktikan bahwa manusia bersikap dan berbuat terlepas dari kehendak Allah bahwa dalam diri manusia ada potensi kebaikan dan dosa karena itulah keadilan Allah, bahkan kerabat nabi yang paling dekat sekalipun seperti abu tholib telah Allah tentukan tempatnya dineraka, sedangkan abu sufyan yang sejak awal diutusnya nabi sampai sebelum fathul mekkah adalah salah satu orang yang paling membenci risalah nabi dan memusuhinya tak disangka-sangka Allah malah berkehendak untuk memanjangkan umur beliau sampai memeluk islam dan menyaksikan fajar kemenangan islam.ini membuktikan bahwa potensi kebaikan manusia bukan lah penentu dari takdirnya,melainkan kehendak Allah lah yang berkuasa

      إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
      . Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
      ( QS. Al Qashash 28:56 )

      dan ayat-ayat yang telah disampaikan diatas banyak membuktikan bahwa Allah telah menentukan kadar hidup manusia apa yang akan dilakukan dan apa yang akan didapatkannya,mulai dari alam rahim hingga yaumul akhir sesuai dengan pemahaman ahlu sunnah dan kaum salaf terdahulu mengenai taqdir, bila anda menyelisihi pendapat kaum salaf dan ulama ahlu sunnah maka anda bukan menjadi bagian dari pada mereka

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      PERTAMA,
      Apakah Allah menciptakan Iblis dan Syetan berarti Allah Dzalim ? jawabannya jelas tidak, karena Allah menciptakan semua keburukan bukan karena Allah suka akan tetapi karena ada hikmah dari penciptaan tersebut.

      Sekarang saya tanya pada anda, apakah Allah mampu membuat semua manusia yang hidup didunia saat ini masuk Islam semua ?
      Jawabnya pasti Allah mampu, tapi kenapa hal itu tidak dilakukan Allah ?
      Kenapa tidak Allah selamatkan saja semua manusia padahal jika mau Allah bisa melakukannya ? Jawabnya cuma hikmah ya akhi, karena semua itu ada hikmahnya dan semua itu rahasia Allah.

      Begitu pula HT meyakini bahwa ketika manusia kecelakaan misalkan jatuh dari atap rumah itu adalah ketetapan Allah, lantas kenapa HT tidak mengatakan dalam hal ini Allah berbuat dzalim, padahal orang yang jatuh itu sudah sangat hati-hati bahkan memakai pengaman ?

      Apakah ketika suatu saat anda berangkat menghadiri halaqah HT dengan ikhlas kemudian tiba-tiba anda ditabrak mobil hingga mengakibatkan anda cacat seumur hidup anda, apakah anda berani mengatakan Allah dzalim pada anda?.

      Jadi alasan dzalim jelas tidak bisa dipakai dalam perkara qadha dan qadar ini karena faktanya segala keburukan itu juga ciptaan Allah.

      KEDUA,
      Anda katakan “kesalahan ahlus sunnah” berarti terang-terangan anda keluar dari aqidah ahlus sunnah, dan sungguh ini membuat hati miris dan terenyuh karena betapa bangganya anda mendeklarasikan berbeda aqidah dengan ahlus sunnah, innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

      KETIGA,
      Tentang ilmu Allah, semua ummat Islam sepakat Allah Maha Mengetahui.
      Jadi setelah browsing ini kita akan minum khamr atau akan minum teh tentunya hal itu sudah diketahui Allah.
      Begitu pula apakah besok kita akan mencuri atau akan puasa sunnah, hal itu pun Allah sudah mengetahuinya.
      Apabila perbuatan kita kedepan sudah diketahui Allah maka itu berarti perbuatan kita sudah ditentukan dan sudah ditetapkan.

      Tapi kita terus berikhtiar, karena yang tahu perbuatan kita ke depan hanya Allah sementara kita tidak tahu.
      Dan ini harus kita syukuri karena entah bagaimana jadinya jika perbuatan manusia kedepan itu diberitahukan pada manusia.

      Namun sayangnya masih banyak iblis yang berupaya mencuri dengar berita langit yang berkerja sama dengan para peramal dalam menyesatkan manusia, sehingga faktanya terkadang kita temukan beberapa tukang ramal terkadang bisa meramal tepat perbuatan manusia kedepan, ini juga fakta yang tidak bisa kita pungkiri dan ini juga ada dalilnya dari Nabi.

      KEEMPAT,
      Adapun pernyataan Taqiyyuddin bahwa masalah qadha dan qadar ini tidak ada hubungannya dengan ilmu Allah (Allah Maha Mengetahui) maka hal itu justru bertentangan dengan Firman Allah yang justru menegaskan hal itu sangat terkait erat sekali.
      Firman Allah :
      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
      Artinya: “dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya)”. [al-Insan: 30].

      KELIMA,
      Hadits Qadha dan Qadar tersebut tidak bertentangan dengan al Qur’an ya akhi, coba simak ayat berikut :

      لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ(28)وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

      “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Robb semesta alam.” (QS. At Takwir : 28-29)

      Ini berarti Allah lah yang membuat manusia menghendaki perbuatan yang dilakukannya.

      Adapun ayat فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
      (Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya) maksudnya Allah menjelaskan kepada manusia apakah jalan-jalan kebaikan itu dan apakah jalan-jalan keburukan itu. (Lihat Tafsir Jalalain)

      Jadi ini sama sekali tidak bertentangan.

      KHATIMAH,
      Silahkan anda simak hadits yang lebih jelas lagi dalam masalah ini :

      قال عمر يا رسول الله أرأيت ما نعمل فيه أمر مبتدع أو مبتدأ أو فيما فرغ منه ؟ فقال فيما قد فرغ منه يا ابن الخطاب وكل ميسر أما من كان من أهل السعادة فإنه يعمل للسعادة وأما من كان من أهل الشقاء فإنه يعمل للشقاء
      Artinya:
      “Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah yang kita lakukan (perbuatan-perbuatan makhluk) ini perkara yang baru terjadi atau pun telah ditetapkan oleh Allah?
      Jawab Nabi : Telah ditetapkan wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka sesiapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
      [HR. al-Tarmizi, Ahmad-sahih-].

      SEKIAN, walhamdulillah.

      • malikkhan kali-qhye

        satu saja perkara Qadhla dan Qdhar bukan prkara perbuatan yg menyangkut pahala dan dosanjadi yg antum bahs bukan perkara Qadhla ato Qadhar..nda ada samaskali………….

      • @ malikkhan kali-qhye yang dirahmati Allah,
        Dengan demikian terbukti bahwa pahala dan dosa menurut HT (saya anggap anda HTI) adalah murni manusia yang menciptakan bukan Allah (karena bukan qadha dan qadar Allah).
        Padahal Rasulullah dan para ulama ahlus sunnah memiliki aqidah bahwa manusia masuk surga atau neraka sudah ditetapkan Allah sejak awal.

  18. pertanyaannya adalah apakah seorang pembunuh itu tahu bahwa dia diciptakan Alloh untuk menjadi pembunuh? dan apakah seorang yang sholih itu mengetahui bahwa diai telah ditakdirkan untuk menjadi orang sholih? sungguh telah jelas sekali bahwa setiap orang itu tidak mengetahui akan menjadi apa dia diciptakan,,,

    Alloh telah menurunkan petunjuk untuk kita. lalu dalam kebaikan mengapa kita tidak menempuh petunjuk tersebut untuk meraih keselamatan?? sedang dalam urusan dunia seperti pekerjaan kita selalu menginginkan pekerjaan yang pendapatannya lebih besar dan tidak memilih pekerjaan yg pendapatanny lebih kecil,,

    jgn pernah menyalahkan takdir atas kesalahan dan dosa yg kita lakukan,, sedangkan jika kita melihat kejahatan dan keburukan yg menimpa orang lain, pandang itu sebagai ujian bagi kita. pandang itu sebagai kesalah bagi manusia itu krn dia memilih jalan keburukan sedangkan Alloh telah menurunkan petunjuk Al-quran dan sunnah yg shahih,,

    tapi yg harus diingat bahwa Alloh itu lah menciptakan semuany, menciptakan apa yg akan terjadi dilangit dan dibumi ini, yang maha mengetahui, yang telah menetapkan dan menciptakan segala sesuatu dengan keadilan dan hikmah. apabila kita memandangny bukanlah keadilan, maka itu krn akal manusia yg tidak sempurna dan penuh kelemahan,,, sedang Alloh adalah yang maha sempurna lagi maha berkuasa atas segala sesuatu,,

    semoga hati kita semua selalu dibimbing Alloh dalam kebaikan,,

    • malikkhan kali-qhye

      saya sepakat dgn mas giee…. itu perkara gaib… tidk bisa di jngkau oleh akal.. darimna kita tau kalo Allah menetapkan kita sbgai orng soleh ato orng durhaka.. padahl Allah telh mnnjukan kepda kita jln taqwa n jaln buruk trus Allah juga telah menganugrhkan kpda kita akal unutk bisah memilah-milah mna baik mana burukb tapi dengn merujuk kepada syarah… krna baik n buruk pun hanya Allah yg berhak menentukan..
      wallahhualm..

  19. Saudaraku sekalian yang dimuliakan Allah.
    Af1, sulit menerima arguent kalian.
    Sekali lagi, Pembahasan Qodha, menurut sy cukup pembahasanya pada perbuatan manusia, tidak membahas pada bagaimana dan apa yang dilakukan oleh Allah, sepakat kalo Allah sudah mengetahui dan sudah tertulis didalam Kitab Laulul ma’fuz perbuatan hamba baik belum, sementara, dan sudah diperbuatnnya. Tapi sekali lagi ini pembahasan tentang Allah dan PerbuatanNya, dan tentunya ini diluar nalar/akal hamba yang serbah lemah tentang Allah sebab Allah Maha Luas IlmuNya, Laulul ma’fuzNya saja kita tidak tahu dan tdk dapt mengira-ngira seperti apa bentuknya apatah lagi isinya, maksudnya: misal tatkala Allah mengatakan telah membuat perbuatan hamba, maka bisa tidak, kemudian Allah ubah lagi dengan model perbuatan yang lain, atau Allah juga membuat kemungkinan-kemungkinan sperti:kalo hamba melakukan ini akan terjadi seperti ini, ini, dan ini,dst… ? tentunya bisa, siapa yang tahu Allah akan mengubahnya dan menentukan banyak kejadian terhadap hamba. itu mash dalam kerangka akal saya yang serbah lemah. apatalagi Allah SWT, yang sekali Lagi Maha luas Ilmunya bisa membuat berbgai kemungkinan dan perubahan perbuatan hambaNya. Maka, Firman Allah:
    as-Saffat: 96
    وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
    “Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.
    maka sy akan memahami Ayat ini: Seluruh kemungkinan-kemungkinan perbuatan hamba telah Allah ciptakan. Karena sekali lagi ini wilayah perbuatan dan IlmuNya Allah yang Maha Luas. dan kita tentunya tidak boleh memahami pengertian penetapan Allah seperti penetapan yang kita pahami yaitu seperti seseorang yang menciptakan robot dan robot itu tidak dapat berbuat selain yang telah dirancang sipembuat. karena sekali lagi ini Ilmu Allah yang Maha Luas, trus bagaimana memahami ayat-ayat ini? dengan ayat-ayat kita akan beriman/memahami tentang Kebesaran Allah, Kekuasaan Allah, Maha mengetahuinya Allah terhadap segala sesuatu, cukup.
    Dan Untuk Qodha, pembahasannya pada perbuatan hamba hubungannya dengan pahala dosa, syurga neraka, taat petunjuk atau kufur. Coba simak ayat-ayat alqur’an tentang ketiga hal diatas, sy sebutkan antara lain:
    “(adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya”. (alimran (3) 182).
    “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (An-nisa:62)”
    “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).Al Anam 160”
    “Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.(Al-An Am(6):70)

    Ayat-ayat ini mengindikasikan bahwa pahala dosa, siksa syurga, azab, petunjuk kufur. akibat perbuatan dari hamba bukan paksaan Laulul Ma’fuz, Iradah Allah, Maha mengetahuiNya Allah, Ilmunya Allah. jangan dihubung-hubungkan dengan Laulul Ma’fuz, Iradah Allah, Maha mengetahuiNya dan ilmuNya Allah, karena apapun Perbuatan Yang Kita Pilih dan kerjakan, itu tidak akan bertentangan dengan Laulul Ma’fuz, Iradah Allah, Maha mengetahuiNya dan ilmuNya Allah, semua itu akan sejalan.

    Zul juga mengatakan (af1 saya cut)):”KEADILAN ALLAH TERLETAK PADA KETENTUAN YANG MENJADIKAN PERKARA TAKDIR ITU ADALAH GHAIB, jadi Allah tidak mengabarkan kegaiban taqdir itu agar manusia berlomba2 dalam kebaikan dan tidak merasa putus asa dari takdirnya”
    Kalo kita memahami seperti akhi pahami, maka sejatinya Gaib tidaknya perkara takdir kalo dihubungkan dengan perbuatan hamba yang sdah ditentukan Allah, maka tidak mempengaruhi orang untuk berlomba-lomba dengan kebaikan bahkan berputus asa dan pasra terhadap yang nantinya akan menimpanya karena proses dan hasilnya kata akhi patent/final telah ditentukan, bagaimana dan apapun keadaaanya, bukan begitu katamu(af1 kalo salah)? , hamba akan mengatakan untuk apa sungguh-sungguh beribadah hasilnya sdah ada walaupun GOIB DAN BELUM DITAHU oleh HAMBA. Bahkan, kolo sy berbuat maksiat saya tidak perlu menyesali dan bertaubat kepada Allah karena sy akan mengatakan ini sudah takdir Allah, atau mungkin antum akan menyesali dan bertaubat, ini justru lebih aneh karena antum menyesali takdir Allah. jadi mana yang benar.

    Abu tholib masuk neraka sebab dia tetap berbuat untuk mempertahankan kekufurannya, Abu Sufyan masuk syurga karena beliau meninggalkan kekufurannya dan berjuang untuk risalah islam bersama rasul. kondisi kedua-duanya sejalan Ilmu dan laulul Ma’fuznya Allah. Seandainya, ini berandai-andai loh: ada doraemon yang dengan alatnya memutar waktu kembali dan justru terlihat sebaliknya, maka saya pun katakan ini pun sejalan dengan Ilmu, Laulul Ma’fuz dan IradaNya Allah, tdak bertentangan sama sekali akhi.

    Untuk Pengelolah sy mengatakan bahwa kolo memang Allah zhalim dan Maha suci Allah dari sifat demikian dengan melihat dari seorang yang sdah ditakdirkan penzina, pencuri, perampok, penolak/penentang syariah dan khilafah kemudian Allah menyiksa mereka di neraka. kalo seandainya mereka tidak disiksa mungkin sy katakan tidak masalah, ini adalah HIKMAH memang, masalahnya Allah mentakdirkan perbuatan itu juga untuk disiksa dinerka. bukankah ini Dholim namanya. Allah sendiri menyatakan: masuknya keneraka karena perbuatan mereka yang dholim, dan neraka itu tempat yang paling buruk dan dimurkai Allah bukan HIKMAH (kebaikan) yang seperi antum maksud. Allah hanya memrintahkan untuk berbuat baik dan sholeh agar tidak masuk keneraka, bagaimana mungakain Allah menyuruh beramal soleh pada saat yang sama takdir kita sudah ada dan ditetapkannya seperti yang akhi pahami.

    Syetan dan Iblis diciptakan memang memiliki Hikmah dan hakekatnya hikmah itu hanya Allah yang tahu. dan mereka atas izin Allah tidak akan dapat berbuat apa-apa dengan keimanan dan ketakwaan.

    Dan orang jatuh dari atap rumah, ditabrak mobil sy katakan memeng Allah tidak dholim dalam perkara ini, karena Allah tidak pernah menyatakan dengan jatuh dri atap, ditabrak mobil, dll akan menyebabkan seseorang berdosa dan masuk neraka, karena memang seperti yang antum katakan diluar kehendak kita. inilah yang kami maksud QODHA, qodha inilah yang tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.
    Sukran Akhi. Af1 kalo banyak menyinggung perasaan. Sy berusaha tidak fanatik dengan HIZB, karena sy pun punya teman dari haroka lain yang sy pun minta pendapat meraka bahkan dari Ahli Sunnah karena perjuangan ini membutuhkan persatuan diantara kita, Khilafah ala minhaj nubuahlah yang akan menghilangkan perbedaaan-perbedaaan diantara kita selama ini, yang terus terang sudah sangat terlalu lama kaum muslimin disibukkan dengan perkara ini ini. Padahal sejak shahabat sdh terjadi perbedaan bahkan musaf Alqur’an pun pada saat pengumpulannya tingkat para shabat pun berbedah. apaath lagi kita yang baca alqur’an pun masih terbata-bata.
    Sudalah hentikan semua itu. Banyak masalah yang dihadapi kaum muslimin: kemiskinan, tauhid mereka yang sdh terkikis, pemurtadan, pembantaian tanpa tidak ada yang menolomg mereka, dan jangan sampai kita tidak perduli dengan keadaan mereka semua. bahkan merasa cukup dengan apa yang kita semua lakukan.
    dan Alamat web ini pun punya hikmah, saya semakin rajin membaca/ belajar islam tapi boleh jadi orang yang salah tanggap terhadap HIZBUT TAHRIR pada hal mereka sangat ikhlas berda’wah tanpa kenal lelah dan sampai nyawapun sudah menjadi taruhannya bahkan salafi zaman sekarang belum pernah menerimanya seperti keadaaan mereka. Wallahu ya’lam bissawab
    Jazakillah akhi salam kenal

    • misal tatkala Allah mengatakan telah membuat perbuatan hamba, maka bisa tidak, kemudian Allah ubah lagi dengan model perbuatan yang lain, atau Allah juga membuat kemungkinan-kemungkinan sperti:kalo hamba melakukan ini akan terjadi seperti ini, ini, dan ini,dst… ? tentunya bisa, siapa yang tahu Allah akan mengubahnya dan menentukan banyak kejadian terhadap hamba. itu mash dalam kerangka akal saya yang serbah lemah.

      inilah salah satu kelemahan besar HTI, terlalu “mengagungkan” akal bahkan sesuatu tentang Allah yang Allah sama sekali tidak mengabarkan sekalipun masih “berani” mengira-ngira. Padahal katanya aqidah harus qathi eh ini malah mengira-ngira alias dzon kelas berat.

      perhatikan hadits arbain berikut :
      Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.(Riwayat Bukhori dan Muslim).

    • @haris:

      inilah fakta bahwa HT dalam menyikapi taqdir tidak meyakini bahwa Allah terlibat dalam perkara irodah hambaNya,memahami taqdir adalah tersusun oleh perkara parsial yang berdiri sendir-sendiri,bahwa masa lalu,sekarang, masa depan dan perilaku manusia adalah sesuatu yang terpisah. sedangkan semuanya itu adalah paralel dan saling berkaitan. ketikapun seseorang dimasa lalunya berdosa lantas karna itu taqdir Allah apakah dia tidak harus menyesali dan bertaubat karenanya atau sebaliknya menyesali dan bertaubat? jawabannya adalah dalam irodah Allahlah yang akan membuat dia bertaubat dan memperbaiki kesalahannya atau tidak,telah menjadi ketetapan Allah bahwa abu tholib harus menjadi penghuni neraka meskipun seharusnya dia lebih dekat dengan hidayah islam ketimbang abu sufyan.

      jadi kontradiksi sekali bilamana kita meyakini apa yang telah terjadi itu adalah ketetapan Allah,sedang yang belum terjadi itu terlepas dari ketetapanNya dan itu hanya menurut irodah hambaNya,sedangkan hukum sebab akibat tidak menyatakan demikian. irodah Allahlah yang bermain pada kesadaran manusia bahwa seseorang itu akan berbuat maksiat atau pahala, taubat ataupun fajir, keinginan dan tingkah lakunya.firman allah :

      “Dan tidaklah kalian berkehendak, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Insaan: 30)

      dan saya pernah katakan bahwa ”KEADILAN ALLAH TERLETAK PADA KETENTUAN YANG MENJADIKAN PERKARA TAKDIR ITU ADALAH GHAIB, jadi Allah tidak mengabarkan kegaiban taqdir itu agar manusia berlomba2 dalam kebaikan dan tidak merasa putus asa dari takdirnya” sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

      مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
      لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

      “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) SUPAYA KALIAN JANGAN PUTUS ASA terhadap apa yang luput dari kalian, dan SUPAYA KAIAN JANGAN TERLALU GEMBIRA terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. “(al-Hadiid: 22-23)

      Allah pun mengazab sebuah kaum karena perbuatan buruknya tak lepas dari ketentuanNya dalam lauh mahfuz:

      وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
      ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]

      Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]

      وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

      Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]

      jadi ini membuktikan bahwa Allahpun telah menetapkan keburukan baik pencuri,pezina,kafir dan kaum pendosa atau orang beriman,yang sholih dan taat semuanya itu dalam ketetapanNya(qodho)

      وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
      “…dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”. Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)’. Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’… “(an-Nisaa’: 78)

      Hal ini sama seperti ketika kita memanggil Allah سبحانه وتعالى dengan nama-nama-Nya yang baik. Kita tidak boleh memanggil Allah dengan kalimat: “Wahai pencipta setan”, “Wahai pencipta kejelekan”, karena hal ini mengandung celaan, walaupun kita meyakini bahwa setan dan seluruh kejelekan adalah ciptaan Allah. Berbeda halnya ketika kita mengatakan: “Wahai pencipta segala mahluk” atau “Wahai pencipta segala kebaikan dan kejelekan”.

      Berkata Imam ash-Shabuni: “Termasuk madzhab ahlus sunnah adalah ucapan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan adalah dengan takdir dari Allah. Namun mereka tidak menyandarkan kepada Allah apa-apa yang akan memberikan kesan kekurangan ketika disendirikan. Seperti ucapan “Wahai pencipta kera dan babi-babi”. (Aqidatus Salaf ash-habul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’. hal. 284)

      Walaupun sesungguhnya setan, monyet, babi dan seluruh makhluk-makhluk lain adalah ciptaan Allah. Inilah adab kita ketika berbicara tentang Allah.

      Hal ini seperti ucapan Allah سبحانه وتعالى yang mengkisahkan ucapan Ibrahim عليه السلام:
      وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ. الشعراء: 80
      “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’araa: 80)

      Dalam ayat ini, Ibrahim عليه السلام menisbatkan sakitnya kepada dirinya “aku sakit”, tetapi menisbahkan kesembuhannya kepada Allah “Dialah yang menyembuhkanku”. Walaupun Ibrahim tentu meyakini bahwa penyakit dan kesembuhan seluruhnya dari Allah سبحانه وتعالى.

      Atau seperti ayat Allah yang mengkisahkan ucapan jin:
      وَأَنَّا لاَ نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي اْلأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا. الجن: 10
      “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. “(al-Jin: 10)
      Dalam ayat ini, ketika membicarakan tentang kejelekan disebut dengan kata “dikehendaki” tanpa disebutkan siapa yang menghendakinya “apakah kejelekan yang dikehendaki?” Namun ketika berbicara tentang kebaikan disebutkan dengan jelas pelakunya: “Atau Rabb-mu menghendaki kebaikan”.

      DAN ALLAH TIDAK AKAN PERNAH DIHUKUM KARENA KEBIJAKANNYA MESKIPUN ALLAHLAH YANG TELAH MENGHENDAKI KEBAIKAN ATAU KEBURUKAN TERSEBUT. firman Allah

      لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

      “DIA TIDAK DITANYA TENTANG APA YANG DIPERBUAT-NYA, DAN MEREKALAH YANG AKAN DITANYAI”.(QS. al anbiya’:23)

      jadi ga ada istilah ga adil apapun yang dikehendaki Allah terhadap manusia baik pahala ataupun dosa,taqwa ataupun maksiat,taubat ataupun laknat.karena kesadaran kita dalam melakukannya adalah atas dasar kehendak Allah,waktulah yang akan menunjukan kemana taqdir kita bermuara,sebelum itu terjadi maka itu adalah hal ghaib yang diluar batasan kita

  20. Saudaraku haris yang diberkahi Alloh,

    Sebetulnya nasihat puji dan zul juga sudah cukup, tapi baiklah saya tambah sedikit.

    PERTAMA
    Anda katakan sulit menerima argument kami, padahal saya tidak berargument melainkan hanya menyampaikan dzahir nash dalil belaka, selain itu anda belum berani menjawab per masalah dan per dalil yang saya sampaikan tapi anda sudah membuat bahasan baru, padahal sebelumnya koment saya sudah saya bagi dalam bahasan2 PERTAMA, KEDUA, KETiGA, dst, TAPI ANDA TIDAK BERANI MENJAWABNYA per bahasan itu.

    KEDUA
    Ilmu Allah memang maha luas dan justru ini bukti bahwa Allah itu Maha Mengetahui perbuatan apa yang akan kita lakukan nanti atau besok, dan inipun difirmankan Allah saling berkaitan, dalilnya Firman Allah :

    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

    Artinya: “dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya)”. [al-Insan: 30].

    KETIGA
    Anda menafsirkan As Saffat 96 dengan kemungkinan-kemungkinan, darimana anda dapat penafsiran itu? apakah ada ulama mufassirin yang menafsirkan seperti anda?. Selain itu masih banyak ayat lain terkait ini misal coba simak ayat berikut :

    لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ(28)وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Robb semesta alam.” (QS. At Takwir : 28-29)

    Ini berarti Allah lah yang membuat manusia menghendaki perbuatan yang dilakukannya.

    KEMPAT
    Ayat-ayat yang anda bawakan (ali imran: 182, An-nisa: 62, Al-An Am: 70) mengatakan bahwa manusia disiksa akibat perbuatan tangannya sendiri, hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan ahlus sunnah karena memang manusia dihukum akibat perbuatannya sendiri bukannya perbuatan orang lain, apakah mungkin seorang pencuri dihukum dengan hukuman seorang pezina, tentu tidak, seorang pencuri akan dihukum sebagaimana hukuman bagi pencuri, dan seorang yang tidak mencuri tidak akan dihukum sebagai pencuri.
    Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan keyakinan kami (ahlus sunnah) atas qadha dan qadar.

    KELIMA
    Anda katakan Allah tidak mungkin mentakdirkan orang berzina lalu menghukumnya di Neraka,
    Maka ketahuilah saudaraku bahwa hal ini sudah dijawab oleh hadits :

    Dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda :
    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya yang dia akan menjalaninya”
    (HSR Bukhari Muslim)

    Silahkan baca sendiri hadits diatas dalam shahih muslim bab Nasib Perzinahan Manusia Telah ditentukan (Bab: Kutiba ala ibni adam nashibuhu mina zana).

  21. udah jelas setiap kelompok atau jamaah bahkan partai islam punya landasan,pemikiran,pemahaman, bahkan metode dakwahnya masing-masing, seperti mas sendiri, HT atau siapapun, hal itu wajar.Karna mereka tetap menjadikan AlQuran dan Assunah sebagai rujukan. Kalaupun ada perbedaan itu , karna perbedaan dalam menggali Sumber hukum tadi, shg banyak Jamaah, ulama atau mujtahid, yg mereka jg berbeda,tapi tidak menjadikan mereka ribut,justru mereka bersatu dalam membangkitkan n menyelesaikan masalh masyrakat secara bersama-sama sesuai dengan metode dakwah mrk masing-masing. wajar saja mas tidak sepaham dengan HT, begitu jg HT dg mas.Mnurut saya Yang seharusnya kita urusi saat ini adalah saudara-saudara kita seperti AHMADIAH,n aliran-aliran sesat yg lain. mereka benar-benar menyimpang dari aqidah islam, bagaimana caranya mengajak mereka kembali ke islam yg benar, juga saudara-saudara kita yg meninggalkan sholat,berpakaian tapi telanjang, dll, banyak masalah masyarakat yg harus diurusi. ini yg dibutuhkan saat ini.

    • nah khan berputar di masalah seperti ini lagi seolah-olah kita tidak boleh mengkritisi pemahaman yang dianggap salah. Selama berdiskusi dalam hal ilmiah apa salahnya ?

  22. mengurusi masalah seperti ini bukan berarti melalaikan atau meremehkan masalah ummat yg lain. lagipula masalah taqdir ini bukanlah masalah yg remeh, hal ini merupakan perkara aqidah yang mana seorang muslim sama sekali tidak boleh menyelisihinya. tidak ada seorangpun ulama yang ikhtilaf dalam masalah ini kecuali mutakallimun/ahi kalam dan ahli bid’ah yg sesat sedangkan mutakallimun bukanlah termasuk jajaran ulama mujtahid sedikitpun. jadi mengalihkan masalah ini kepada masalah yg lain menunjukkan ketidak-tahuan tentang agama ini. jika adalam perkara ushuluddin/aqidah saja sedemikian ngawurnya lantas bagaimna pula dalam masalah furu’ tentu lebih ngaco lagi…Allahu a’lam. saya ucapkan banyak terimakasih kepada admin blog ini, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yg banyak.

  23. Assalamu alaikum…
    Saudaraku sekalian.. Sekali lagi sya menyatakan bahwa: sya sama sekali tidak menolak bahwa Allah SWT sudah menentukan semua perkara yang terkait dengan hamba, tapi sekali lagi sy katakan pembahasan tentang ketentuan perbuatan serta segala sesuatu tentang Allah SWT, tidak masuk dalam pembahasan qodha. Pembahasan Qodha, hanya terkait dengan perbuatan yang hamba lakukan keterkaitannya dengan perintah dan larangan, syurga dan neraka, petunjuk dan kufur, taat atau kufur, AllahCoba simak firman Allah SWT berikut ini:

    Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (Al-AnFal (8): (53).

    Dan jika Kami menghendaki pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali. (Yaasin (36):67)

    Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Al-Arad(13 ):11

    Dali-dalil ini bisa dipahami bahwa disatu sisi dengan kebesaran Allah, Allah SWT telah menentukan perbuatan kita, disisi lain Allah pun memberikan kebebasan untuk kita dapat berbuat. Belum percaya? Ini dalil yang lain:
    Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqorah(2):75)

    Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An Nisa(4):119).

    Kalian mungkin bingung. Terus terang saya pun “ya”. Oleh karena ini Ayat-ayat tentang perbuatan dan ketentuan Allah maka pembahasan ini, tidak boleh dihubungkan-hubungkan dengan perbuatan manusia yang akan mereka lakukan. Knapa? sekali lagi ini terkait dengan Ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas. Akal kita tidak akan bisa menjangkau apa yang Allah lakukan.
    Contoh firman Allah SWT yang lain:

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. Al-Baqorah(2):117

    Kita mungkin akan mengatakan: jadi Allah itu jikalau menciptakan sesuatu, Allah cukup mengatakan “jadilah” lalu jadilah ia”. Pertanyaanya, bisakah Allah mengatakan yang lain untuk menciptakan sesuatu? Saya katakan, jelas dan pasti bisa. Kalian mungkin membantah, tidak ada dalil yang mengatakan selain itu“jadilah”, dan langsung fonis bahwa kami orang-orang yang mendewakan akal. Menurut saya anda yang tidak mau berpikir dan lemah akal. BETUL, bahwa tidak ada dalil lain yang mengatakan selain “kunfayakuun”, tapi kalo anda berpikir demikian maka sesungguhnya anda telah membatasi kekuasan Allah SWT. Menurut saya Allah SWT mengarahkan akal kita untuk berpikir bahwa dengan Ayat-ayat tentang perbuatan Allah, cukup kita mengatakan dan mengimani bahwa AllahSWT mudah menciptakan segala sesuatu, Allah Maha Luas IlmuNya, Allah Maha Besar, Allah Pencipta Segala Sesuatu, Allah maha Kuasa, dst, cukup.
    Qodha wal Qodar, pembahasan terkait dengan bagaimana hubungan perbuatan manusia yang dilakukannya dengan: pahala dan siksa, syurga neraka, ikut petunjuk atau kufur. Maka dengan memahami seperi ini, maka tidak ada lagi pertanyaan apakah manusia itu berbuat dipaksa oleh Allah SWT atau tidak? Karena sekali lagi perbuatan Allah itu diluar akal manusia untuk dapat menjangkaunya. Seperti contoh diatas “disatu sisi Allah SWT berfirman menciptakan manusia dengan perbuatannya, disatu sisi juga Allah berfirman, manusia bisa merubah keadaan mereka”. Dan bagi kita, ini hal yang mustahil kita lakukan tapi bagi Allah itu “MUDAH” akhi.
    Qodha wal qodar dilihat pada perbuatan manusia itu terdiri dari dua aspek: perbuatan yang manusia tidak bisa memilih/terjadi dengan sendirinya terhadap manusia dan 2.perbuatan manusia yang dia mempunyai pilihan untuk melaksanakannya. Aspek yang pertama dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban karena manusia sendiri tidak tahu asal muasal kejadiannya, dan kedua akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Dengan akal kita bisa memahami petunjuk, mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Perbuatan baik Allah SWT akan memberikan pahala, dan perbuatan buruk akan diberikan siksa/Azab, tapi karena Allah Maha Mengetahui manusia memiliki kelemahan ditambah lagi banyak godaan dari musuh manusia yaitu syaitan dan iblis maka Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk cepat menyesali dan bertobat sebelum ajal menjemput. Maka karena tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput, maka ini akan mendorong kita untuk selalu konsisten beramal, berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT setiap saat sebab kita akan berpikir jangan sampai saat ajal menjemput, kita tidak melakukan ketaatan kepada Allah atau bahkan sedang bermaksiat (Nauzubillah Minzallik). Dengan Kerangka alur seperti ini SE…….MUANYA sekali lagi SE…….MUANYA sudah ada dalam Ketetapan, Laulul Ma’afuz, Iradah Allah SWT, sehingga apapun yang kita lakukan sesungguhnya tidak akan pernah bertentangan dengan Ketentuan dan Ketetapan Allah SWT.
    Maka saya meyakini dan berani katakan ALLAH MAHA ADIL. Sebab: Allah sudah memberikan akal dan petunjuk, dengan akal dan petunjuk bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, dengan melakukan kebaikan ganjaran-Nya pahala, yang buruk ganjaran-Nya dosa. Pahala diganjar syurga dan dosa diganjar siksa, dan Allah memberikan kesempatan ampunan untuk bertobat dan memperbaiki diri sebab hambanya lemah.
    Firman Allah:
    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Al-Imran:7)
    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Al-Baqorah: 286)
    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (Al-Baqorah:7).
    Lalu orang-orang yang dzalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang dzalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. (Al Baqorah :59)
    Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong (Al Baqorah:86).
    Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan (Al-Baqorah :90).
    Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (Al-Baqorah :175)

    Kalo belum juga terima dengan pendapat seperti ini maka: sy cukup meminta penjelasn dari kalian tentang:
    1. bagaimana menghubungkan antara Ketentuan Allah, Petunjuk Allah kepada hamba, Perintah dan Larangan Allah, Akal, Pahala dan Dosa, Nikmat(Syurga) dan Siksa, Naluri dan Kebutuhan manusia. Taat dan kufur, serta taubat atau tetap bermaksiat.
    2.Anda mengatakan HIZB terlalu mendewakan akal. OKE!. ALLAH SWT telah menganugrahkan akal kepada kita dan supaya akal itu digunakan. Jelaskan kepada sya apa yang antum pahami tentang AKAL, Kapan, dimana dan bagaimana akal itu dapat digunakan? (Agar saya tidak dikatakan mengagungkan akal atau saya khawatir jangan sampai antum yang tidak dapat berpikir)
    Allah SWT berfirman:
    Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (Al-Baqorah :179)
    Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al-Baqorah:269).

    Saya tunggu jawabannya akhi.

    • Seperti contoh diatas “disatu sisi Allah SWT berfirman menciptakan manusia dengan perbuatannya, disatu sisi juga Allah berfirman, manusia bisa merubah keadaan mereka”

      bukankah manusia merubah keadaan merekapun juga atas kehendak Allah. apa anda pikir tanpa kehendak Allah manusia akan berubah ?.

      dalil sudah jelas dan sudah jelas sekali pemikiran HTI memang menyelisi pemikiran AhlusSunnah secara umum dalam masalah qadha dan qadar ini.

      saya tak melihat umar bin khattab berkesimpulan seperti anda.

      saya tak melihat Ibnu Hajar berkesimpulan seperti anda. Tidak juga Imam Syafi’i tidak juga Imam Ahmad kecuali syaikh Taqiyuddin tentunya.

      Anda mengatakan HIZB terlalu mendewakan akal. OKE!. ALLAH SWT telah menganugrahkan akal kepada kita dan supaya akal itu digunakan. Jelaskan kepada sya apa yang antum pahami tentang AKAL, Kapan, dimana dan bagaimana akal itu dapat digunakan? (Agar saya tidak dikatakan mengagungkan akal atau saya khawatir jangan sampai antum yang tidak dapat berpikir)

      baiklah saya jelaskan (^_^). Pertama islam menganugerahi akal selain untuk mencari pengetahuan dunia juga digunakan untuk memahami agama. Suatu catatan adalah akal digunakan untuk menguji keabsahan suatu dasar/pijakan (alhadits kalau Al Qur’an dan tidak perlu di check keabsahannya). Dengan kata lain akal harus tunduk kepada dalil. Akal digunakan untuk mengkompromikan berbagai macam dalil untuk mendapat kesimpulan dan bukan untuk “mengira-ngira” sesuatu yang tidak disampaikan di dalam dalil seperti anda katakan “bukankah Allah mungkin berbuat begini dan begitu” padahal Allah tidak mengabarkan apapun tentang itu. Inilah yang dimaksud “mengagungkan” akal.

      Ketika suatu dalil “tidak masuk” akal mana yang akan saudara dahulukan ? dalil atau justru menggunakan imajinasi akal untuk membuat kemungkinan seperti “mungkin Allah akan berbuat begini begitu” padahal tidak ada satu nash pun yang menjelaskan ?

      Saya ingat perkataan Imam Malik ketika membicarakan sifat Allah beliau berkata : “Istiwa sudah maklum (diketahui),bagaimananya tidak masuk akal”. Jadi orang tidak usah memikirkan bagaimananya dari sifat Allah wong jelas-jelas tidak akan masuk akal pikiran yang diperlukan adalah Iman kepada sifat2 Allah

      bagaimana menghubungkan antara Ketentuan Allah, Petunjuk Allah kepada hamba, Perintah dan Larangan Allah, Akal, Pahala dan Dosa, Nikmat(Syurga) dan Siksa, Naluri dan Kebutuhan manusia. Taat dan kufur, serta taubat atau tetap bermaksiat.

      seperti kesimpulan Ahlussunnah hal itu sudah ditetapkan akan tetapi tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya (ghaib bagi makhluk)

    • Saudaraku haris yang diberkahi Allah,

      Sebenarnya saya kurang berminat menjawab koment anda yang ini karena ini anda tujukan kepada seluruh komentator disini, bukan kepada saya dan bukan membahas koment saya yang sebelumnya.

      Namun kiranya hal itu menyebabkan salah paham dan dianggap saya tidak mampu menjawab.

      Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Anda menuliskan dalil-dalil ayat tentang adanya pilihan bagi manusia dan manusialah yang berperan dalam kehidupannya di dunia.
      Ayat-ayat inipun juga yang digunakan dalil oleh Qadariyyah.

      Bukan berarti Qadariyyah tidak tahu atau tidak meyakini ayat-ayat yang lain tentang taqdir, namun kecenderungan mereka (termasuk anda) ada pada ayat-ayat ini, adapun ayat-ayat taqdir yang lain yang dibawakan Jabariyyah dianggap sebagai rahasia Allah.

      Adapun Jabbariyyah justru sebaliknya, kecenderungan mereka ada pada ayat-ayat seperti :

      Allah berfirman, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (at-Taubah:51)

      “dan kalaulah Allah menghendaki tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan; tetapi Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”. [al-Baqarah: 253].

      “Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” [Al-Mursalaat: 22-23]

      “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar.” [Al-Qamar: 49]

      “… Allah yang mempertemukan kedua pasukan itu agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan…” [Al-Anfaal: 42]

      “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan qadar tertentu.” [Al-Hijr: 21]

      “…Kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” [Thaahaa: 40]

      “…Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan qadarnya dengan serapi-rapinya.” [Al-Furqaan: 2]

      “dan Allah yang menciptakan kamu dan juga apa yang kamu lakukan” [al-Saffat: 96].

      “Dan yang menentukan qadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” [Al-A’laa: 3]

      “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali…” [Al-Israa’: 4]

      “dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu Kami catatkan satu persatu dalam Kitab yang jelas nyata”. [Yasin: 12]

      Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang digunakan dalil oleh Jabariyyah, bukan berarti mereka tidak tahu ayat – ayat yang dibawakan Qadariyyah (termasuk anda) namun kecenderungan mereka adalah pada ayat-ayat diatas, adapun ayat-ayat taqdir yang lain (seperti yang dibawakan Qadariyyah dan anda) dianggap sebagai rahasia Allah.

      LANTAS BAGAIMANA AHLUS SUNNAH ?

      Ahlus sunnah dalam memahami ayat al Qur’an yang dipertentangkan adalah dengan melihat petunjuk Nabi dan dalam hal ini nabi sendiri telah menjelaskan dengan gamblang sekali. Sehingga seandainya baik Jabariyyah maupun Qadariyyah (termasuk anda) menyimak hadits ini seharusnya mereka segera rujuk dan kembali pada ahlus sunnah.

      Nabi mengajarkan pengertian taqdir (qadha dan qadar) ini kepada para shahabat sebagai berikut :
      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”. [HSR. Bukhari Muslim]

      Setelah menyampaikan hadits diatas beliau meneruskan penjelasannya dan membacakan ayat sebagai penguat yaitu :

      “adapun orang yang berupaya memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa, serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik, maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (syurga). sebaliknya: orang yang bakhil daripada berbuat kebajikan dan merasa cukup dengan kekayaan dan kemewahannya, serta ia mendustakan perkara yang baik, maka Sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan”.
      [al-Lail: 5-10]

      SELESAI disini penjelasan Nabi yang mulia, yang kesimpulannya adalah surga dan neraka nya seseorang telah ditentukan sejak zaman azali namun bagi yang berupaya berbuat baik maka akan dimudahkan oleh Allah demikian pula sebaliknya.

  24. Kenapa anda sepertinya hanya mencari cari kesalahan HT? Setidaknya HT aktif dalam kegiatan menggalang kesatuan umat untuk kembali kpd kekhalifahan,sedangkan anda?apa yg anda perbuat selain menghujat dan memojokan HT, padahal masih banyak penganut islam yang menyimpang seperti ahmadiyah misalnya,kenapa anda tidak menghujat mereka?atau bahkan sekedar membahas pun tidak. Maaf klo nickname saya kurang sopan karena saya seorang pemuda insyaf yang Insya ALLAH ingin kembali ke jalan yg lurus

    • sedangkan anda?apa yg anda perbuat selain menghujat dan memojokan HT

      tipikal orang yang malas untuk berdiskusi secara ilmiah.

      adahal masih banyak penganut islam yang menyimpang seperti ahmadiyah misalnya,kenapa anda tidak menghujat mereka

      lha blognya memang membahas HT masak yang dibahas Ahmadiyah. Lagi pula siapa sih yang nggak tahu kalau Ahmadiyah itu sesat (kecuali Ahmadiyah sendiri). Ya kalau mau bahas Ahmadiyah ya buat blog untuk Ahmadiyah, mungkin dari HTI mau membuat atau gimana soalnya komaHT khan mantanHT bukan mantan Ahmadiyah

      atau bahkan sekedar membahas pun tidak.

      kalau disini sih memang tidak dibahas Ahmadiyah tapi kalau di website2 agama (semisal muslim.or.id) itu khan di bahas tho. jadi bukan cuma HTI yang menyesatkan Ahmadiyah

  25. Kenapa tidak membahas tentang penyimpangan JIL atau ahmadiyah sekalian?anda hanya mencari cari alasan atau jalan untuk memojokan HT,ketahuilah yang Haq akan menang dan kebatilan akan kalah,tinggal menunggu waktu.
    Sudah jelas bagi saya bahwa pemilik blog/admin adalah antek yahudi yg paham tentang islam atau bahkan mungkin seperti rajjal bin unfuwah yg menghancurkan islam dari dalam.

    • Sudah jelas bagi saya bahwa pemilik blog/admin adalah antek yahudi yg paham tentang islam atau bahkan mungkin seperti rajjal bin unfuwah yg menghancurkan islam dari dalam.

      terserah saja (^_^), biar menjadi urusan anda dan komaHT di akhirat kelak untuk membuktikan siapa yang benar

      • Setiap yg berbeda dgn HT adalah JIL, kafir, antek yahudi dan budak thoghut. Salut sama HT yg bisa membuat anggotanya berbunyi spt kaset rekaman. Mungkin 10 thn lagi orang2 ini akan dijadikan terminator. No Problemo! ^_^

  26. mmm…
    mf ya..
    klo saya membaca di kitab ht nizhomul islam, bab thoriqul iman justru ht menganggap dirinya akalnya terbatas, tapi klo orang-orang komahti atau salafy dari pengajian yang pernah saya ikuti akalnya tak terbatas sehingga seringkali ngarang…
    atau kalo tidak pokoknya atas nama fatwa dan fatwa semata.

  27. Tipikal orang malas? Sebelumnya saya sudah bilang klo saya insya ALLAH seorang pemuda insyaf tentu saja saya malas menghujat dan melakukan ghibah terhadap saudara sesama muslim di HT. Trus saya ingin tanya maksud blog ini apa? Untuk memfitnah sesama muslim?adu domba?atau dakwah?klo dakwah kan masih banyak aliran sesat yg lain yang orang2 belum banyak tahu? yg kreatif dong pak klo mau bikin blog jika kamu bilang semua orang tahu ahmadiyah sesat dan HT insya ALLAH lurus :p

    • Tipikal orang malas? Sebelumnya saya sudah bilang klo saya insya ALLAH seorang pemuda insyaf tentu saja saya malas menghujat dan melakukan ghibah terhadap saudara sesama muslim di HT

      nah itu pertanyaannya. yang dimaksud ghibah itu apa ? saya kira sudah dijelaskan banyak ulama. apakah ini termasuk ghibah pun juga sudah dibahas pada komentar tulisan (kalau anda membaca). Kalau memang anda seseorang yag baru insyaf daripada ngomong disini ngalor ngidul tanpa dalil sedikitpun bukannya lebih baik belajar dulu baru kalau sudah paham silakan kemukakan dalil anda.

      Sudah maklum bahkan dikalangan ulamapun saling mengkritik ijtihad jika dinilai salah dan itu sama sekali tidak dinggap ghibah (^_^).

      HT insya ALLAH lurus

      ya terserah anda. Saya kira disini komaHT sudah berusaha memaparkan kekeliruan dari pemikiran HT, bukan cuma komaHT lho yang membicarakan ini. misal NU juga mengkritik masalah qadha dan qadar, Salafi juga mengkritik masalah ini dan banyak yang lainnya.

      so bukan watak saya kemudian hanya “berkeyakinan” HT insyallah lurus tapi ketika mengetahui kritikan tidak mempertimbangkan kecuali kalau yang dikatakan cuma fitnah dan HT tidak seperti itu yang artinya lurus atau tidak harus dibuktikan dong secara ilmiah. “nggak kreatif” kalau cuma ngomong doang. dan lagian saya khan bukan yang bikin blog cuma komentatornya

  28. Lha orang saya bertanya masa harus pakai dalil?tp ok saya akan pakai dalil biar anda tahu klo saya tidak buta kakap :) ‘sesungguhna kamu dapati orang orang yang paling keras permusuhanya terhadap orang orang beriman ialah orang orang yahudi dan orang orang musyrik (qs. Al maidah [05]:82)’
    Karena anda sangat keras permusuhanya terhadap sesama muslim maka anda termasuk golongan tadi atau antek2 nya. Trus anda minta bukti ilmiah?contohnya HT aktif menggalang kesatuan umat untuk mendirikan kekhalifahan,berdakwah menyeru umat,kritis terhadap penderitaan rakyat dan umat dll (terlalu panjang klo sy jelaskan smua) lha anda?apa yg anda lakukan untuk islam?selain membuat blog atau mengomentari yg bertujuan untuk menghasut umat di karenakan:
    1.Mungkin anda antek yahudi yg amat sangat takut akan berdirinya kekhalifahan yg insya ALLAH tak akan lama lagi
    2.Anda mantan HT yg memiliki kepentingan pribadi,kedudukan atau jabatan tertentu yg tdk anda dapatkan di HT jd anda keluar dan menyimpan dendam sehingga berkeinginan menghasut umat
    3.Di lihat dari cara bicara dan tutur bahasa lewat tulisan anda mencerminkan sikap paling benar sendiri (yg merupakan sifat iblis),tidak tawadlu tp memiliki banyak dalil firasat saya mengatakan anda orang JIL

    Wallahu a’lam

    • ya sudahlah nanti kita lihat saja di akhirat apakah yang anda tuduhkan pada saya benar atau tidak (^_^)

    • Setiap yg berbeda dgn HT adalah JIL, kafir, antek yahudi dan budak thoghut. Salut sama HT yg bisa membuat anggotanya berbunyi spt kaset rekaman. Mungkin 10 thn lagi orang2 ini akan dijadikan terminator. No Problemo! ^_^

  29. Assalamu alaikum!

    Menurut saya banyak yang aneh-aneh dari komentar pengelola blog koma-ht ini. Conoh:

    “HT-terlalu mendewakan akal” menutur saya HT memposisikan akal manusia sesuai dengan porsinya..justru pengelola blog ini yang mendewakan akal menafsirkan perbuatan dan ketentuan Allah Swt. dengan akalnya (katanya ilmiah????)..heran !!!

    Penjelasan haris junior sudah sangat terang benderang bahwa membahas Qodla cukup pembahasanya pada perbuatan manusia, tidak membahas pada bagaimana dan apa yang dilakukan oleh Allah (perbuatan Allah), karena
    pembahasan tentang Allah dan PerbuatanNya, diluar nalar/akal manusia yang serbah lemah dan terbatas…..komentar koma-ht ttg masalah Qodla dikaitkan lagi dengan perbuatan Allah..????

    komentar2 yang dilontarkan koma-ht sangat tendensius, dan sangat membenci HT, heraan?????

    tidak heran kalo komentarnya alex bahwa koma-ht antek2nya yahudi atau JIL…

    mohon maaf kalo komentar saya tidak pada tempatnya..

    wasalam

  30. Kenapa ya setiap pengkrikit HT ujung-ujungnya dituduh antek JIL. Memangnya HT ma’shum alias terbebas dengan kesalahan?

  31. untuk wawan dan orang2 yg tanpa sadar telah memecah belah ummat dan menggembosi perjuangan ummat Islam:
    sadarilah bahwa musuh utama bukanlah sesama Muslim, kecuali kalo kamu semua sudah murtad dari Islam atau bersikap ashobiyah.. dua pilihan yg akan sama2 masuk neraka.
    BERTOBATLAH.
    Bantulah perjuangan Ummat Islam dengan cara yg Haq, bukan malah menggembosinya..

    • @gerry: siapa yang ga tahu sejarahnya bahwa aliran mu’tazilah pernah mendominasi pola pikir mayoritas umat islam, ditangan merekalah terbunuh banyak ulama ahlu sunnah dan ahlu hadis. dan siapa yang tidak mengakui kekafiran dan kebencian barat dan amerika? tapi kebanyakan umat lengah akan “kelurusan” faham yang mengaku islam,diblog inilah kita membahas kekeliruan itu,bila anda mendapatkan kami keliru maka tegaskanlah dengan hujjah yang nyata,bila anda mendapatkan hujjah kammi yang benar maka kewajiban andalah mengikutinya

      • abdurrahman

        saya kira memang HT itu Mu’tazilah, minimal banyak mengadopsi pemikiran & fahamnya. dikiranya kita hanya taqlid kepada Syekh fulan dalam menasabkan HT kpd Mu’tazilah, tp tidak! kita dilarang keras untuk taqlid/ikut2an saja tanpa dalil yang jelas. kita tinjau saja aliran Mu’tazilah yang terkenal dengan Pancasilanya/usul al khomsah :
        1.At Tauhid yakni mengingkari asma’ wa shifat bagi Allah dengan dalih tanzih(persis aqidahnya An Nabhani tokoh HizbutTahrir)
        2.Amr bil Ma’fuf wa nahyu anil munkar maksudnya khuruj memberontak kepada penguasa(ini juga terkenal sebagai madzhab khowarij dimana khowarij yg paling jelek adalah sekte qo’adiyyah yg cirinya menyulut pemberontakan dengan menyebarkan aib penguasa, menjelek-jelekkan pemerintah, dsb persis seperti amalan HizbutTahrir meski sekte qo’adiyyah ini tidak ikut pemberontakan dengan fisik, hanya koar-koar di muka umum)
        3.Al ‘Adl(yakni mengingkari bahwa perbuatan buruk manusia, kemaksiatan, kekufuran, dll adalah taqdir Allah juga, inilah aqidah qodariyyah yg diadopsi Mu’tazilah kemudian diteruskan oleh HizbutTahrir)
        4.Manzilah baina Manzilatain(seorang yang berdosa besar itu tidak beriman juga tidak kufur)
        5.Al Wa’du wal Wa’id(ancaman dari Allah harus dikenakan terhadap hambanya yg berdosa, dengan mengingkari maghfiroh/ampunan dari Allah dan syafaa’t); nah, mirip kan Mu’tazilah ama HT!? satu lagi yg terkenal dari Mu’tazilah adalah mengedepankan akal di atas dalil, kalopun terpaksa menerima dalil maka harus dipas-paskan dengan akalnya.

        lebih ngawur lagi si Alex dengan kalimatnya : “bukan kah pengelola blog ini yg keluar dr ht?(mu’tazilah berasal dari kata i’tazala yg berarti memisahkan diri atau berpisah) jd siapa yg lbh pantas di sebut mu’tazilah?” jadi seolah-olah HT itu maksum ga ada kesalahan setitikpun, kalo ada yg menyempal darinya itulah mu’tazilah,,, لا حول ولا قوة إلا بالله , gimana!? nampak sekali ngawurnya orang ini. disebut Mu’tazilah karena Washil bin Atho’ i’tizal(menyempal) dari pengajan Al Hasan Al Bashri seorang Ahlussunnah, di mana Al Hasan Al Bashri beraqidah Ahlussunnah yg seusai dengan ijma’ kesepakatan para ulama’, jadi yg dilihat fahamnya wahsil bin atho’ sebagai acuan apakah suatu kelompok itu Mu’tazilah atau bukan. bukannya yg menyempal dari HizbutTahrir yg bukan Ahlussunnah sama sekali. sama aqidah ahlussunnah aja alergi, “tidak usah dibahas” katanya, gitu kok yg kluar dikatakan Mu’tazilah!?

  32. @zul:yg anda maksud aliran mu’tazilah itu siapa?bukan kah pengelola blog ini yg keluar dr ht?(mu’tazilah berasal dari kata i’tazala yg berarti memisahkan diri atau berpisah) jd siapa yg lbh pantas di sebut mu’tazilah? Lebih parah lagi anda menyebut ‘paham yang mengaku islam’ di tujukan untuk HT? HT itu organisasi partai politik pak,bukan paham atau aliran.so,jangan salah alamat klo anda belum tau tentang HT lebih baik gak usah komentar.. Pengelola blog serta antek2 nya pengecut karena lidah kalian yang tajam hanya kalian gunakan untuk saudara sesama muslim (klo memang benar anda muslim),tdk pernah anda gunakan untuk musuh islam yg sebenarnya seperti yahudi atau amerika wallahu’alam

    • yang dimaksud “aliran” disini adalah “memiliki paham” kalau mungkin saudara alex kurang jelas (^_^).

      kedua beberapa ciri mu’tazilah adalah sebagai berikut (HTI pun menolak kalau disebut mu’tazilah sebagaimana dalam websitenya http://hizbut-tahrir.or.id/2007/12/27/hizbut-tahrir-muktazilah/) . Ini saya komentar dari website ini :

      ketika membahasa mengenai sifat Allah dikatakan “Yang benar menurut Hizb, persoalan ini tidak perlu dibahas“. Pemikiran seperti ini adalah Prinsip tauhid bagi Mu’tazilah yang paling utama adalah menafikan sifat-sifat Allah bagi Dzat-Nya. Sehingga Mu’tazilah ketika membahas sifat-sifat pada Dzat Allah itu, membagi pembahasan tentang Dzat yang terpisah dari pembahasan tentang sifat. Kemudian setelah itu ditanyakan apakah sifat-sifat Allah itu makhluk yang terpisah dari Dzat ataukah sifat-sifat Allah itu bergendengan dengan Dzat. Melakukan pemisahan dalam pembahasan tentang Allah antara sifat dengan Dzat, adalah logika yang absurd. Sehingga berusaha menjawab pertanyaan yang muncul dari logika yang demikian itu adalah satu kesalahan besar.

      Ya, dalam konteks ini HTI telah memisahkan dzat dan sifat Allah sebagaimana kaum mu’tazilah terdahulu

      Dalam masalah Qadha dan Qadar HTI memiliki paham Mu’tazilah dari Jubba’iyyah (Abu ‘Ali Al-Jubba’i). Dimana Jubba’iyyah menyatakan bahwa perbuatan manusia itu ada yang mujbar (dipaksa) dan ada yang mukhayyar (tanpa paksaan yakni memilih). Manusia akan dimintai pertanggungan jawaban tentang perbuatannya yang mukhayyar saja dan tidak dimintai pertanggungan jawaban tentang perbuatan yang mujbar. Karena menurut aliran ini bahwa keadilan Allah tidak mungkin meminta pertanggungan jawaban tentang perkara yang mujbar. Dan Allah tidaklah campur tangan dalam perkara perbuatan manusia yang mukhayyar dan Allah tidak menciptakan perbuatan yang mukhayyar itu sehingga manusia-lah sesungguhnya yang menciptakan perbuatan yang mukhayyar itu.

      info yang sedikit ini mungkin bisa jadi penjelasan

    • saya kira memang HT itu Mu’tazilah, minimal banyak mengadopsi pemikiran & fahamnya. dikiranya kita hanya taqlid kepada Syekh fulan dalam menasabkan HT kpd Mu’tazilah, tp tidak! kita dilarang keras untuk taqlid/ikut2an saja tanpa dalil yang jelas. kita tinjau saja aliran Mu’tazilah yang terkenal dengan Pancasilanya/usul al khomsah :
      1.At Tauhid yakni mengingkari asma’ wa shifat bagi Allah dengan dalih tanzih(persis aqidahnya An Nabhani tokoh HizbutTahrir)
      2.Amr bil Ma’fuf wa nahyu anil munkar maksudnya khuruj memberontak kepada penguasa(ini juga terkenal sebagai madzhab khowarij dimana khowarij yg paling jelek adalah sekte qo’adiyyah yg cirinya menyulut pemberontakan dengan menyebarkan aib penguasa, menjelek-jelekkan pemerintah, dsb persis seperti amalan HizbutTahrir meski sekte qo’adiyyah ini tidak ikut pemberontakan dengan fisik, hanya koar-koar di muka umum)
      3.Al ‘Adl(yakni mengingkari bahwa perbuatan buruk manusia, kemaksiatan, kekufuran, dll adalah taqdir Allah juga, inilah aqidah qodariyyah yg diadopsi Mu’tazilah kemudian diteruskan oleh HizbutTahrir)
      4.Manzilah baina Manzilatain(seorang yang berdosa besar itu tidak beriman juga tidak kufur)
      5.Al Wa’du wal Wa’id(ancaman dari Allah harus dikenakan terhadap hambanya yg berdosa, dengan mengingkari maghfiroh/ampunan dari Allah dan syafaa’t); nah, mirip kan Mu’tazilah ama HT!? satu lagi yg terkenal dari Mu’tazilah adalah mengedepankan akal di atas dalil, kalopun terpaksa menerima dalil maka harus dipas-paskan dengan akalnya.

      lebih ngawur lagi si Alex dengan kalimatnya : “bukan kah pengelola blog ini yg keluar dr ht?(mu’tazilah berasal dari kata i’tazala yg berarti memisahkan diri atau berpisah) jd siapa yg lbh pantas di sebut mu’tazilah?” jadi seolah-olah HT itu maksum ga ada kesalahan setitikpun, kalo ada yg menyempal darinya itulah mu’tazilah,,, لا حول ولا قوة إلا بالله , gimana!? nampak sekali ngawurnya orang ini. disebut Mu’tazilah karena Washil bin Atho’ i’tizal(menyempal) dari pengajan Al Hasan Al Bashri seorang Ahlussunnah, di mana Al Hasan Al Bashri beraqidah Ahlussunnah yg seusai dengan ijma’ kesepakatan para ulama’, jadi yg dilihat fahamnya wahsil bin atho’ sebagai acuan apakah suatu kelompok itu Mu’tazilah atau bukan. bukannya yg menyempal dari HizbutTahrir yg bukan Ahlussunnah sama sekali. sama aqidah ahlussunnah aja alergi, “tidak usah dibahas” katanya, gitu kok yg kluar dikatakan Mu’tazilah!?

  33. Mengenai TQS As Shaffat :96 tadi kita harus melihat dgn konteks ayat sebelumnya

    Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu ? (TQS As Shaffat :95)

    “Padahal Allahlah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan (yakni apa yang kalian perbuat-maksudnya berhala-berhala itu)” kalo apa yang kalian lakukan dimaknai perbuatan, maka akan tidak nyambung dan kontradiktif, harusnya Ibrahim tdk tanya “kenapa kamu menyembah apa yang kamu pahat?” kalau dia tahu “perbuatan kalian diciptakan Allah”

    Allahu a’lam bishowab….

  34. Horee…
    akhirnya orang2 Islam bisa dipecah belah juga..
    ternyata mereka bener2 gampang dicerai beraikan..
    wkwkwkwk… :D

    • Kaum Muslim emang udah berpecah sejak dulu Bos, admin blog ini berusaha untuk menyatukannya lewat pelurusan aqidah kelompok HT yg udah menyimpang jauh dari aqidah Islam yg benar. kalo dibiarkan aja kemunkaran orang2 HT yg makin merajalela kita bisa kena laknat Allah:
      “Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al Ma-idah 78-79)

      jadi kalo ada kemunkaran ya dinasehati, dilarang bukan malah dibiarkan dengan dalih persatuan semu!!!

  35. Ya Allah ya rabbi, kenapa orang yg mengkritik HT serta-merta dituduh memusuhi Islam, JIL, Antek Amerika dsb. Apakah HT=Islam. Saya tanya sekali lagi apakah HT itu ma’shum? Saya juga bertanya apakah anda yg berada di HT juga akan mengatakan Syaikh Oemar Bakri Muhammad yg dulunya tokoh HT kemudian keluar, mengkritik HT dan mendirikan kelompok Al-Muhajiroon juga segabai musuh Islam? Terlepas dari setuju atau tidaknya tindakan beliau. Selanjutnya kalau anda yg di HT tidak setuju dengan artikel pengelola tolong tunjukkan dimana ketidaksetujuaannya dan disertai dengan hujjah. Bukannya menuduh antek JILah, antek Amerikalah, antek ini, antek itu tapi tidak bisa memberi argumen yg cerdas. Kalau sekedar gitu anak SD saja juga busa.

    • Setiap yg berbeda dgn HT adalah JIL, kafir, antek yahudi dan budak thoghut. Salut sama HT yg bisa membuat anggotanya berbunyi spt kaset rekaman. Mungkin 10 thn lagi orang2 ini akan dijadikan terminator. ^_^

  36. @abdurahman: sblm bilang orang lain ngawur pke dulu kacamata nya,baca dngn kpala dingin kamu akan ngerti yg saya maksud,d komentar saya sebelumnya kan ada tanda dlm kurung?klo anda orang yg berakal akan paham maksud yg sy utarakan dngn jelas yaitu menurut ‘istilah kata’ bukan menurut faham atau aliran mu’tazilah. Klo begini siapa yang ngawur? Sungguh bnyk yg ingn sy utarakan misalnya: maksud pengelola blog,bukti pengakuan ahlusunnah,tntang sikap menolak stiap dalil dll, tp sy akan menahan diri agar tidak terpecah belah dan maksud utama pengelola blog untuk menghasut dan memecah belah tdk tercapai..
    @wawan: percuma mengomentari dngn hujjah,wong hujjah yang sangat terang seperti yg saudara haris junior lontarkan msh d tolak,malah yang mengomentari si puji ngomong ngalor ngidul keluar dari inti permasalahan

    • @alex:komen haris junior jels??jelas ngawurny sih iya,dia nafsirin dalil pake logikanya,mending kalo ada tahqiq ulama mah,blas cuma logikanya dia yang dia pake,jelas2 ulama ahlu sunnah menerangkan bahwa Allah berperan pada penentuan kjadian dan kehendak manusia,masih saja berpendapat bahwa kehendak manusia tidak ditentukan Allah,he..

    • saya tanya sama anda, apakah setiap ungkapan/عبارة difahami dengan makna lafazhnya atau dengan makna secara istilah? sebagaimana sholat yg arti secara lafazh adalah berdoa, sedangkan secara istilah adalah suatu amalan ibadah yg diawali dg takbir dan diakhiri salam dengan berbagai rukun dan syaratnya yg sesuai dengan contoh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. apakah orang yg berdoa sudah bisa dikatakan ia sholat!?

  37. Terima kasih buat pengelola atas artikel terbarunya.

    Pendapat yang mengatakan bahwa dalam hal qodha dan qadar HT berbeda dengan ahlus sunnah, tertera dengan jelas dikitab yang ditabbanni oleh mereka.

    Buat Mas Alex, Alhamdulilah, anda telah insyaf. Semoga hidayah tersebut dapat anda jaga. Tak seorangpun yang tau, apakah ketika meninggal dia dalam posisi ahli surga atau ahli neraka, walaupun sekarang dia seorang pezina atau seorang ulama. seperti hadits yang pernah dicantumkan salah satu ikhwan diatas.
    Berusaha dan cari serta dalami islam dengan sebenarnya. Dengarkan semua pendapat yang anda dapati, dan renungkan. Pelajari lah sirah para sahabat dan para ulama terdahulu. Anda akan dapati mana yang sesuai dan sepaham dengan mereka. Islam itu satu, dan jamaah (kelompok) kaum muslimin juga satu. Perkara dalam agama islam ini juga sudah sempurna.
    Agama adalah nasehat, dan nasehat tersebut ditujukan kepada Alloh, KitabNYA, Rosul, Para pemimpin kaum muslimin, serta kaum muslimin semuanya. Nasehat-menasihatilah dalam kebaikan dan kesabaran.

  38. Sedikit pusing saya membaca perdebatan diatas, yang ada di pikiran dan hati saya sekarang adalah, beribadah sesuai tuntunan, berbuat baik sampai ajal menjemput, dan semuanya di landasi dengan keikhlaslan, surga dan neraka itu semuanya kembali Lagi kepada Allah, yang jelas saya sering melihat keanehan, melihatorang Islam senengnya demo, debat, tapi rumahnya kotor, kumuh, miskin,kucel, keluarga tidak terurus, Islam itu indah, Islam itu Rahmatan Lil’alamin. Itulah cerminan Islam Sesungguhnya apapun organisasinya yang pentting islamnya ga JIL, Islamnya ga campur aduk dengan kepentingan Politik, Islamnya ga campur dengan paham agama2 lain. Islam is Clean…

  39. kok kayaknya beda ya yang ana pelajari di HT.
    iya ada lingkaran yang hanya Allah SWT tentukan seperti kita lahir , lalu berkelamin laki” / wanita dsb.

    dan juga ada lingkaran yang kita bisa berusaha dalamnya / mengoptimalkannya, tetapi tetap Hasilnya Allah yang menentukan, jd kita bisa berusaha beramal sholeh agar menjadi ahli surga, akan tetapi tetap Allah SWT yang menentukan hasilnya.

    seperti itu yg ana pelajari di HT,
    wallahu’alam

    • Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Al qadha’ wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata:
      «وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء» اهـ الشخصية الإسلامية الجزء الأول باب القضاء والقدر: ص94 ـ 95
      “Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla.”

      Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) Taqiyyuddin menyatakan :
      «فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)
      “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan dari Allah.”

      Taqiyuddin menyatakan dalam kitab As-Syakhsiyyah Al-Islamiyah juz 1 hal. 73:
      والحقيقة هو ان رأيهم _ اي اهل السنة_ورأي الجبرية واحد فهم جبريون
      “Pada hakikatnya, pendapat mereka – ahlussunnah– dan pendapat jabariyah adalah satu, maka mereka -ahlus sunnah- adalah termasuk kelompok jabariyah”.

  40. Makin ngawur aja si abdurahman :D makin menjalar kemana2 jauh dr pokok bahasan,ni mau bahas qadha dan qadar atau tanya jawab yg lain? Sengaja menayakan pertanyaan menjebak untuk caracter assasination,emang spt itu kan yg di ajarkan kelompok mu sebagai antek pengelola blog. Sy demi ALLAH bkn anggota HT tp sy tdk suka perlakuan anda2 trhdp saudara muslim,mengapa anda begitu membenci HT? Apa mereka menyeru kpd selain ALLAH? Sudahlah masing2 kt agar menahan diri klo anda btl2 muslim brarti kt bersaudara jgn saling menghujat lg walaupun anda berdalih ini bukan hujat atau ghibah,tp klo dgn perasaan benci tetap saja dosa krn amal tergantung niat kan?

    • @alex: simak baik2 pertanyaan abdurahma,dia tuh ngeladeni ente yang dg pedenya ngejulukin KOMA HT dg julukan muktazilah dari sudut bahasa,sedangkan yang kita bahas ini adalah akidah islam,bukan bahasa arab,dalam islam muktazilah dikenal sebagai firqoh dengan dominasi akal dalam menginterpretasikan wahyu. ente sekarang simak pertanyaanya abdurrahman dan jawab dengan kaidah bahasa seperti yang ente pinta kalo bisa,kalo ngga bisa dan masih ngawur mending ente cabut aja dari diskusi ini,belajar lagi fikroh HT yang bener trus bantah KOMA HT kalo emang dah ngelotok fikroh HT ente

  41. @zul:fodhol ente aja yg jwb gak usah nyuruh2 ana,sungguh klo ana mau ana bs jwb,klo gak mampu ana tny ustads2,atw klo mau praktis ana cr di google atw imhalal tinggal copy/paste..
    Tp ana komit gak akan menahan diri apalagi terlihat jelas klo itu yg ente dan orang2 nt mau. Fodhol ente aja berempat yg ramein ni blog gak usah bawa ana :p

    • @alex:syukron, perginya anda mengurangi dampak ngalor ngidulnya diskusi diblog ini,dan kamipun merasa ngga pernah ngundang anda tuk nimbrung diforum ini. sekali lagi forum ini bukan untuk membangga-banggakanh harokah,tapi lebih dikedepankan kekuatan hujjah dan dalil saja.yang mau ashobiyah gerakan ngga usah nimbrung diforum ini

  42. Udah ngalor ngidul dr pertama pak!! Wong menjelekan dan membenci saudara sesama muslim gak bs di bilang ngalor ngidul?

  43. @alex: walah kalo mau nuduh blog ini menjelekkan sesama muslim HT harusnya interospeksi,blog ini membahas kekeliruan pemahaman HT,bukan personal ataupun seseorang.bila memang ada yang keliru maka sampaikan dengan hujjah dan dalil yang kuat sebagaiman blog inipun memaparkan kekeliruan HT berdasarkan dalil dan hujjah yang dianggap kuat,bukan dengan bersikap kekanak-kanakan dan grasah grusuh ga mau jamaahnya diotak atik

    • @zul, si alex dibiarkan aja nggak usah diladeni dah jelas wataknya kayak apa. selama belum merubah wataknya yang seperti itu diskusi jadi berdebat kusir jadi mau ngomong apa cukup katakan saja. Allahu Yahdik

      • Emang trademark mereka sdh spt itu, hasil brainwashing lalu dicetak jadi machineman atau tape recorder. Sama aja dikasih tau atau tdk, mental melulu. Hanya iradah dan hidayah Allah yg bisa membuat mrk kembali ke jalan yg benar ^_^

    • malikkhan kali-qhye

      seharusnya pembuat blog ini mengajukan hl ini k HT byr HT yg jelaskan. ini fitnah namanya…. mas senang tidak kalo ada org yg brcerita tntang kesalahn mas di blkang mas…bisa jdi fitah kn?? saya yakin HT puny jawban untuk itu. dan saya yakin apa yg dijelskan mas pengelolah blum tentu sejlan dgn pemahamn Ulama” yg mas jdikan krya” mreka sbgai referensi…

  44. ternyata karakter orang2 HT & pro HT kaya’ gitu smua ya, mau menang sendiri. trus kalo udah mencapai titik kritis mulai menghindar & berbelit belit. kemudian menuduh menjelek-jelekkan & membenci. padahal ini hanyalah bentuk nasehat kepada sesama muslim karena didasari perhatian dan kasih sayang. coba kalo admin blog ini ngga sayang ama HT, paling dibiarin aja, udah menyimpang menyimpang sekalian aja sono! dan saling kritik ini sudah biasa terjadi di antara kaum muslimin bahkan para ulama. berkata Al Imam Ibnu Rajab رحمه الله:
    ,”Bahwasanya (kata)’celaan’ dan ‘nasihat’ memiliki makna yg hampir sama, yakni mengingatkan sesuatu yg dibenci oleh orang yg diingatkan. Ketahuilah bahwa mengingatkan akan sesuatu yg dibenci akan menjadi haram bila dimaksudkan untuk membuka aib. Akan tetapi apabila ada mashlahat di dalamnya untuk umat muslimin, dan khususnya untuk sebagian(org yg diingatkan), maka dengan maksud yg demikian ini akan menghasilkan mashlahat dan tidak diharamkan, bahkan merupakan sesuatu yg diharapkan/dianjurkan. Bahwasanya para ulama telah menulis dalam kitab-kitab mereka tentang masalah jarh wa ta’dil…Maka bahwasanya membantah perkataan-perkataan yg lemah(dalam dalil) dan menerangkan kebenaran dan apa-apa yg menyelisihi Al Haq tersebut dengan dalil-dalil syar’i bukanlah termasuk hal yg dibenci oleh para ulama, bahkan termasuk dalam (hal-hal) yg disukai…”(Al Farqu baina An Nashihah wa At Ta’yir – Ibnu Rajab Al Hanbali رحمه الله)
    orang2 HT & pro HT tidak cukup berhenti sampai di situ saja, lagi-lagi menuduh ini itu, antek anu lah, antek itu lah, memecah belah lah. karena pihak2 pro HT seringkali menuduh dengan tuduhan yg zhalim, perlu kiranya saya sampaikan hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
    البينة على المدعي واليمين على من أنكر
    “Orang yg menuduh wajib memberikan bukti dan yg dituduh mengingkari dengan bersumpah” (HR Baihaqi); dengan demikian saya bersumpah demi Allah yg jiwaku berada di tangan-Nya bahwa tuduhan2 sdr.Alex kepada saya semuanya tidak benar, saya sama sekali tidak mengenal admin blog ini dan saya tidak berafiliasi kpd kelompok manapun seperti tuduhan sdr.Alex, sebagai bentuk aplikasi terhadap sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
    اعتزل تلك الفرق كلها
    “tinggalkanlah kelompok-kelompok itu seluruhnya” (HR Bukhari 7137, Muslim 1835)
    dengan demikian saya menuntut bukti dari sdr.Alex هداه الله atas tuduhan2 zhalimnya kepada saya. jika beliau tidak dapat menunjukkan bukti maka kelak saya akan menuntutnya di hadapan Allah تعالى, kecuali beliau bertobat dan mempublikasikan tobatnya atas tuduhan zhalimnya kpd saya dan selainnya.

    yg terakhir jika sdr.Alex هداه الله berniat ingin melanjutkan diskusi ini saya mohon untuk menjawab pertanyaan yg saya ajukan pada komen sebelumnya, karena justru saya ingin kembali pada pokok permasalahan yang sedang kita diskusikan di sini. jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan saya memohon maaf.

  45. Tuh kan? Sengaja memanas2i? Sbb kyknya cm ana yg ‘mampir’ di blog sampah ini :p makanya pd takut kehilangan pengunjung.. Umur ana 18 mungkin msh ada sifat kekanakan mhn maklum. Trus soal hujjah mau hujjah apa lg?ente tolak smua dgn akal ente sembari menuduh orang yg memakai akal tanpa dalil, apa gak bc dalil2 haris junior? Ana bkn anggota HT tp ahlusunnah mlh ana ikut khuruj jg.. Klo mau dakwah aksan ente pada khuruj aja lbh nyata dan gak ada ghibah nya
    Ma’ahsalamah..

    • Oh khuruj?..JT itu,,

    • Bung Alex
      Teruskan saja aktivitasnya termasuk khuruj tsb. Yg penting bukalah mata, telinga, hati dan pikiran lalu saring semua informasi yg masuk.
      ” Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS 39: 17-18)

  46. untuk Komat , gwa dapat pelajaran dari blog ini, Buat juga dong untuk kritikan/debat semacam blog ini, untuk harokah dakwah yang lain, jangan cuma HTI. Agar aku bisa banyak belajar,kalo kaya gini kan kesannya nggak objektif, kenapa cuma HTI aja. pergerakan yang lain juga perlu dikritisi dan dinasehati agar mereka lurus, seperti komat . Karena kita juga harus menasehati, menyayangi semua saudara semuslim, bukan cuma HTI aja.

  47. saya tidak yakin orang yang diajak diskuis oleh koma HT adalah orang yang mumpuni dalam tsaqofah Islam, dan Tsaqafah HT.ini bisa dilihat dari banyaknya kata mungkin/saya kira.

    dalam kitab Nidzam Islam maupun Syakhsiah Islamiya. dijelaskan bahwa Manusia memiliki kehendak. dia bisa berbuat apa yang bisa diusahakan oleh dirinya tanpa ada intimidasi dari Allah.

    betul adanya bahwa Allahlah yang menciptakan semua perbuatan baik itu buruk dan tidak. termasuk Allah jua lah yang memberikan ijin apakah manusia itu bisa digoda oleh syaitan atau tidak.

    Allah memberikan 2 jalan kepada manusia yaitu fujur dan takwa. orang yang rajin baca quran pasti tau kalau ini berasal dari 2 ayat dari 2 suat yang berbeda.

    Allah menciptakan semua perbuatan. kemudian manusia itu memilih perbuatan mana yang akan diambil. disanalah kemudian akan ada pahala dan siksa.pahala kalau amal yang diambil adalah amal baik.dan siksa kalau amal itu buruk.

    jadi menurut saya lebay sekali apa yang di ungkapkan oleh KoMa HT.

    toh KoMa HT sendiri juga tidak bisa menjelaskan apa apa itu qadha dan qadar dengan baik sebab bila KoMa HT bersikukuh dengan pendapat itu maka ya berarti dia itu Jabariyah dong.tapi ngapain ngaku Ahlusunnah.

  48. Saudara Saif yang dirahmati Allah,

    Senang rasanya saudara bergabung kembali dalam blog kami yang sederhana ini.

    Mengingat saudara adalah syabab cukup senior di HT maka saya sangat senang sekali menjawab komentar saudara.

    PERTAMA,

    Sudah jelas bahwa anda sendiri mengakui dalam komentar diatas bahwa manusia memiliki perbuatan-perbuatan yang ia sendiri yang menentukannya bukan Allah yang menentukan.
    Dan komentar anda memang sejalan dengan fatwa syaikh anda (taqiyyuddin).

    Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Al qadha’ wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata:
    «وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء» اهـ الشخصية الإسلامية الجزء الأول باب القضاء والقدر: ص94 ـ 95
    “Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla.”

    Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) Taqiyyuddin menyatakan :
    «فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)
    “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan dari Allah.”

    Ini berarti anda dan syaikh anda adalah Qadariyyah yaitu manusialah yang menentukan terjadi tidaknya perbuatan manusia.

    Sementara Ahlus Sunnah TERKENAL dengan perkataannya : “MANUSIA HANYA BERUSAHA NAMUN ALLAH JUA YANG MENENTUKAN”.

    Inilah Ahlus sunnah, dari dulu zaman Nabi hingga sekarang tetap sama yaitu wajib berikhtiar namun Allah lah yang menentukan terjadi tidaknya ikhtiar tersebut.

    Intinya manusia memang mempunyai pilihan namun pilihan itupun Allah juga yang menciptakan sejak zaman Azali.

    Adapun ayat فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
    (Faalhamaha fujuraha wa taqwaha)
    artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.
    Maksudnya Allah menjelaskan kepada manusia apakah jalan-jalan kebaikan itu dan apakah jalan-jalan keburukan itu. (Lihat Tafsir Jalalain).

    Jadi tidak seperti yang anda tafsirkan diatas.

    KEDUA,

    Anda mengatakan saya Jabbariyah, dan ini memang sejalan dengan perkataan syaikh anda (taqiyyuddin) yang mengolok-olok dan menuduh Ahlus sunnah sebagai Jabbariyah.

    Taqiyuddin menyatakan dalam kitab As-Syakhsiyyah Al-Islamiyah juz 1 hal. 73:
    والحقيقة هو ان رأيهم _ اي اهل السنة_ورأي الجبرية واحد فهم جبريون
    “Pada hakikatnya, pendapat mereka – ahlussunnah– dan pendapat jabariyah adalah satu, maka mereka -ahlus sunnah- adalah termasuk kelompok jabariyah”.

    Inilah fatwa taqiyyuddin yang menjelek-jelekkan ahlus sunnah.
    Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

  49. OKE, coba jelaskan kepada saya.
    1. Apa itu muktazillah dan Ahlussunnah (menurut istilah dan bahasa)?
    2. Kapan Muncullnya istilah Ahlu Sunnah dan Muktazillah?

    (Tolong Jawab, Saya khawatir anda sebenarnya cuman klaim persis seperti watak Amerika : ini Islam moderat ini Islam fundamentalis).
    Kemaren, Saya minta dijelaskan tentang hubungan antara perintah dan larangan dari Allah dengan ketentuanNya. Tapi Jawabnya, pokoknya Ahlu Sunnah kalian Muktazillah. Hanya melihat ada kemiripan bahasa yang maksudnya berbeda sudah memfonis kalian pokoknya Muktazillah. I… Mengerikan.
    Saya Duga Sangat Paling Kuat, anda Bukan Ahli Sunnah Sesungguhnya, Anda Klaim doang. I…. Malu akhi.

    • Ahlussunnah secara umum adalah mereka yang berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah termasuk di dalamnya sunnah khulafa dan ijma’ shahabat. Kalau lebih mudahnya tentang ahlussunnah lihat saja pemikiran Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik (cuma beberapa contoh loh bukan bearti selainnya bukan ahlussunnah)

      Mu’tazilah pada literatur yang dipakai (al-Milal wa al-Nihal, al-Syahrastani )

      “…seseorang mendatangi halaqah ta’lim al-Hasan al-Bashri, lalu bertanya: “Wahai Imamuddin (guru besar agama), di zaman kita ini telah muncul suatu jemaah yang mengkafirkan pelaku dosa besar, karena menurut mereka dosa besar itu kufur, mengeluarkan mereka dari agama, mereka itulah golongan Khawarij. Dan ada juga golongan lain yang menangguhkan hukum pelaku dosa besar, dan dosa besar itu sendiri menurut mereka tidaklah merusak keimanan, karena mereka menganggap amal tidak termasuk bagian dari iman, dan perbuatan maksiat tidak akan merusak iman, sebagaimana ketaatan tidak berguna bagi kekufuran, mereka itulah golongan Murji’ah. Maka bagaimanakah Anda memberikan keputusan kepada kami tentang masalah ini dari sisi akidah?”. Lalu al-Hasan berfikir menimbang-nimbang, sebelum sempat beliau menjawab, Washil bin ‘Atha’ berkata: “Saya tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar itu mukmin sepenuhnya (mutlak) dan juga tidak kafir sepenuhnya (mutlak), melainkan dia berada di suatu tempat antara dua tempat (manzilah baina al-manzilatain), tidak mukmin dan tidak juga kafir”, kemudian dia berdiri meninggalkan majelis, pindah ke sisi masjid lainnya, untuk mengajarkan pahamnya kepada segolongan murid (pengikut) al-Hasan, kemudian al-Hasan berkata: “Washil telah memisahkan diri dari kita ( اعتزل عنا واصل )”, maka dinamakanlah dia dan para pengikutnya dengan Mu’tazilah”.

      ini adalah awal munculnya mu’tazilah (diasumsikan sekitar tahun 100 H-110 H).

      Perbedaan dengan Ahlussunnah
      1. Dalam masalah tauhid asma wa shifat mu’tazilah memisahkan antara Dzat Allah dan Shifatnya sedangkan Ahlusunnah tidak.

      Imam Syafi’i berkata : “Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati oleh makhluk-Nya.” (Ar Risalah)

      2. Dalam masalah qadha dan qadar menyatakan bahwa perbuatan manusia itu ada yang mujbar (dipaksa) dan ada yang mukhayyar (tanpa paksaan yakni memilih). Manusia akan dimintai pertanggungan jawaban tentang perbuatannya yang mukhayyar saja dan tidak dimintai pertanggungan jawaban tentang perbuatan yang mujbar (Mu’tazilah Jubaiyah) sedangkan Ahlussunnah berpendapat :

      Imam al-Baihaqi menuturkan dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i, bahwa Syafi’i mengatakan: “Kehendak manusia itu terserah Allah. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah Rabbul ‘alamin. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatanitu adalah salah satu makhluk Allah. Taqdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah. Adzab kubur itu haq (benar), pertanyaan kubur juga haq, bangkit dari kubur juga haq, hisab (perhitungan amal) itu juga haq, surga dan neraka juga haq, begitu dalam Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasalam.

      3. Al Manzilah Bainal Manzilatain (orang yang berbuat dosa besar berada diantara dua keadaan tidak mukmin juga tidak kafir).

      Menurut As-Syahristani dalam Al Milalu Wan Nihal, bahwa bagi Mu’tazilah, iman itu adalah ungkapan bagi sifat-sifat yang baik, yang apabila sifat-sifat tersebut terkumpul pada diri seseorang maka ia disebut mukmin. Dengan demikian, kata mukmin tersebut merupakan suatu nama pujian. Dan orang yang melakukan dosa besar, sedang pada dirinya tidak terkumpul sifat-sifat yang baik itu, maka ia tidaklah berhak untuk mendapatkan nama pujian itu. Dengan demikian ia tak dapat disebut mukmin. Akan tetapi ia bukan pula kafir secara mutlak, karena syahadah dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang ada padanya tidaklah dapat dimungkiri. Tetapi apabila ia keluar dari dunia ini dalam keadaan berdosa besar dan tidak bertobat kepada Allah, maka dia adalah penduduk neraka untuk selama-lamanya, sebab di akhirat kelak hanya ada dua macam golongan saja, satu golongan di dalam syurga dan yang lain di neraka; hanya saja azab yang dikenakan kepadanya lebih ringan daripada azab yang dikenakan kepada orang-orang kafir

      4. Al-Wa’d Wal Wa’id (Janji dan Ancaman Allah)
      Tuhan yang Maha Adil dan Bijaksana, tidak akan melanggar janjinya. Kaum Mu’tazilah yakin bahwa janji dan ancaman itu pasti terjadi, yaitu janji Tuhan yang berupa pahala (surga) bagi orang yang berbuat baik, dan ancamannya yang berupa siksa (neraka) bagi orang yang berbuat durhaka. Begitu pula janji Tuhan untuk memberi pengampunan bagi orang yang bertaubat.

      5. Kaum Mu’tazilah sepakat mengatakan bahwa akal manusia sanggup membedakan yang baik dan yang buruk, sebab sifat-sifat dari yang baik dan yang buruk itu dapat dikenal. Dan manusia berkewajiban memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Untuk itu, tak perlulah Tuhan mengutus Rasul-Nya. Apabila seseorang tidak mau berusaha untuk mengetahui yang baik dan yang buruk itu, ia akan mendapat siksaan dari Tuhan. Begitu pula apabila ia tahu akan yang baik tetapi tidak diikutinya, atau ia tahu mana yang buruk tetapi tidak dihindarinya.

      silakan direvisi kalau ada yang salah, atau kalau kurang silakan kalau ada yang mau menambahkan atau dicari sendiri referensinya (^_^)

    • @ haris,
      Itu pertanyaan untuk saudara Puji bukan untuk saya kan ?
      kalo saya tidak pernah menulis HTI = mu’tazilah, justru yang menuduh saya jabbariyah kan mas saif yang syabab HT itu :)

      • sepertinya begitu, saya menyebut HTI memiliki pemikiran mu’tazilah setidaknya pada dua point yang telah saya sebutkan (masalah dzat dan sifat Allah serta masalah qadha dan qadar). untuk 3 point lainnya harus ditelit lebih lanjut

    • “mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.

  50. mmm…
    Sementara Ahlus Sunnah TERKENAL dengan perkataannya : “MANUSIA HANYA BERUSAHA NAMUN ALLAH JUA YANG MENENTUKAN”.
    mf ya…
    saya kira semua ummat islam tahu bahwa Allah Swt itu Maha Berkehendak, Maha Tahu…dst.
    ya itulah klo bahas qadha qadar tapi selalu yang dibahas Ilmu Allah… ya tidak akan ada pembahasan qadha qadar, cukup bahas saja keimanan pada Allah Swt.
    saya kira sekali lagi bahwa orang yang merasa akalnya tak terbatas inilah yang selalu mencoba membahas zat Allah yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas.
    cape… deh

    • Para Imam Ahlussunnah mbahasanya ya seperti itu (^_^) tapi syaikh Taqiyuddin berbeda bahkan mengatakan pendapat Ahlusunnah itu seperti jabbariyah artinya sejak awal khan syaikh Taqiyuddin sudah menyatakan bahwa pendangan Ahlussunnah adalah salah khan ?

      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”. riwayat bukhary & muslim.

      • Ada penjelasan lebih mudah nya lagi ga, tentang masalah QADHA & QADAR, klo di analogikan seperti apa? dan letak beda nya Taqiyudin dimana nya?

      • Letak bedanya,

        Kalo ahlus sunnah mengatakan bahwa kita masuk surga atau neraka itu sudah ditentukan Allah sejak zaman azali (namun kita wajib berkihtiar agar dimudahkan).

        Kalo Taqiyyuddin mengatakan kita masuk surga atau neraka itu murni kita sendiri yang menentukan karena pahala dan siksa itu dari amal perbuatan yang murni manusia sendiri yang menentukan terjadinya.

      • Baru masalah QADHA & QADAR aja udah ngejelimet begini, apalagi masalah yg lain nya…

  51. Sebetulnya tidak njlimet jika kita sami’na wa atho’na dengan Rasulullah,
    Masalahnya jadi jlimet ketika beberapa oknum cendekiawan muslim melontarkan pemahaman baru dalam masalah Qadha dan Qadar ini,
    semisal Taqiyyuddin yang semakin memperkeruh dengan menambahi pemahaman barunya dalam masalah ini.

    Padahaltelah jelas sabda Nabi :
    “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.
    (HSR Bukhary & Muslim).

    • malikkhan kali-qhye

      mas pengelolah telah mmbuat fitnah..sya bersumpah Atas nama Allah SWT.. sya prnha mngajukan pertanyaan ini k HT apa surga dn neraka itu bukan Allah yg menentukan tpi Manusia sndiri yg mnentukanya??? apkah mnusia sndiri yg memilih masuk surga ato neraka?? jjur sya tdk dberi jawabn sperti apa yg mas pengelolah smpaikn.. namun lagi-lagi jwban mreka Hanya Allah yg tau itu jwbn trkhir dari snmua jwbn mreka..

  52. ana setuju dengan penjaleasan “Hamba Allah // 11 Juni 2010 pada 17:49” “ada lingkaran yang hanya Allah SWT tentukan seperti kita lahir , lalu berkelamin laki” / wanita dsb. dan ada lingkaran yang kita bisa berusaha dalamnya / mengoptimalkannya, tetapi tetap Hasilnya Allah yang menentukan, jd kita bisa berusaha beramal sholeh agar menjadi ahli surga, akan tetapi tetap Allah SWT yang menentukan hasilnya” dengan berfikir demikian hati qta akan tenang..Ok.

  53. Demikianlah ahlus sunnah, bahwa manusia tetap wajib berikhtiar namun yang menentukan dan menetapkan hasilnya adalah Allah.

    Jadi mau minum khamr atau minum madu itu kita cuma bisa berusaha, sedangkan yang menentukan hasilnya Allah jua, jika ternyata meminum khamr maka itu ketentuan Allah begitu pula jika ternyata kita minum madu maka itu pun adalah ketentuan Allah jua.

    Adapun taqiyyuddin menyatakan bahwa yang menentukan hasil dari lingkaran usaha manusia (lingkaran yang dikuasai manusia) adalah manusia sendiri bukan Allah, itulah kesalahan taqiyyuddin dan hizbut tahrir.

  54. saya kira kerangka berpikir Taqiyyuddin dalam bukunya mudah di pahami dan dapat diterima akal sehat. itu bagi yang mempunyai akalnya terbatas. sedangkan yang mempunyai akal tak terbatas tdk pernah akan menerima.
    pembahasan masalah Qadha dan Qadar kan masalah aqidah jadi kerangka berpikirnya harus dibangun dengan dalil2 yang sifatnya qoth’i (pasti).
    nah orang yang akal nya tak terbatas pasti tidak mau menerima. dan tidak mau ada pembahasan qoth’i maupun dzonny….
    cape… deh

    • justru itu , kami ingin bahwa HTI dengan akal sehatnya menerima dalil dari Rasulullah alias sami’na wa ata’na.

      Justru sudah qathi’ khan dari Rasulullah bagaimana ? malah nuduh orang nggak mau pembahasan qathi’ dan dzonny. salah sambung kali.

      atau dava bisa menjelaskan ini ?

      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”.
      (HSR Bukhary & Muslim).

      atau perkataan Imam Syafi’i yang ini ?

      mam al-Baihaqi menuturkan dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i, bahwa Syafi’i mengatakan: “Kehendak manusia itu terserah Allah. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah Rabbul ‘alamin. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatanitu adalah salah satu makhluk Allah. Taqdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah. Adzab kubur itu haq (benar), pertanyaan kubur juga haq, bangkit dari kubur juga haq, hisab (perhitungan amal) itu juga haq, surga dan neraka juga haq, begitu dalam Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasalam.

      atau justru membenarkan kerangka syaikh Taquiyuddin ?

  55. ibnu abdil majid

    Menanggapi komentar sdr.Hamba Allah pd 10 Juni 2010: sebelumnya saya ingin bertanya, qoidah tafsir mana yg anda pakai dan siapa ulama tafsir yg berpendapat seperti pendapat anda? Mari kita merujuk pada kitab2 tafsir yg masyhur :
    1.tafsir Asy Syaukani/Fathul Qodir, berkata Al Imam Asy Syaukani رحمه الله :
    [والله خلقكم وما تعملون] في محل نصب على الحال من فاعل تعبدون، و”ما” في [وما تعملون] موصولة أي: وخلق الذي تصنعونه على العموم ويدخل فيها الأصنام التي ينحتونه دخولا أوليا. يكون معنى العمل هنا: التصوير والنحت ونحوهما ويجوز أن تكون مصدرية أي: خلقكم وخلق عملكم. ويجوز أن تكون استفهامية، ومعنى الاستفهام: التوبيخ والتقريع أي: وأي شيء تعملون. ويجوز أن تكون نافية أي: إن العمل في الحقيقة ليس لكم فأنتم لا تعملون سيئا وقد طول صاحب الكشاف الكلام في رد قول من قال: إنها مصدرية ولكن بما لا طائل تحته وجعلها موصولة أولى بالمقام وأوفق بسياق الكلام.
    [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat] menempati kedudukan nashob dari fa’il yang terdapat dalam kata تعبدبون , kemudia “ما” dalam kalimat “apa yang kamu perbuat/ما تعبدون” ialah maushulah/kata sambung, artinya Allah yang menciptakan apa-apa yang kalian perbuat secara umum termasuk didalamnya patung berhala yang dipahat, ini dimasukkan pertamakali ke dalam makna. “العمل” dalam ayat ini bisa juga bermakna gambar dan pahatan dan yang semisalnya, “ما” juga boleh dijadikan sebagi mashdar artinya Allah-lah yang meciptakan kamu dan perbuatanmu. “ما” boleh juga sebagai istifham berarti sebagai celaan dan teguran keras seperti kalimat: “perbuatan macam apa ini?”. “ما” juga bias berarti nafiyah berarti: Bahwasanya hakekatnya perbuatan itu bukanlah dari kalian dan kalian tidak berbuat apapun. Dan hal ini dibahas secara panjang lebar oleh pengarang Tafsir Al Kassyaf(ya’ni Zamakhsyari) tentang bantahan bagi yang berpendapat bahwa “ما” dalam ayat ini adalah mashdariyyah namun ringkasnya menganggapnya sebagai maushulah/kata sambung lebih utama secara kedudukan dan lebih sesuai dengan konteks kalimat.(Tafsir Fathul Qodir, cet.Darul Ma’rifah – Beirut, muroja’ah : Yusuf Al Ghausy)
    2.tafsir Ibnu Katsir, beliau رحمه الله berkata:
    [والله خلقكم وما تعملون] يحتمل أن تكون “ما” مصدرية فيكون تقدير الكلام: والله خلقكم وعملكم. ويحتمل أن تكون بمعنى “الذي” تقديره: والله خلقكم والذي تعملونه. وكلا القولين متلازم، والأول أظهر لما رواه البخاري في كتاب [أفعال العباد] عن علي بن المديني عن مروان بن معاوية عن أبي مالك عن ربعي بن حراش عن حذيفة مرفوعا قال: [إن الله يصنع كل صانع وصنعته]. وقرأ بعضهم: [والله خلقكم وما تعملون].
    [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat] dalam ayat ini terdapat “apa/ما ” berupa mashdar sehingga diperkirakan kalimatnya adalah: “Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan perbuatanmu”. Juga mengandung makna “yang/ الذي” sehingga diperkirakan maknanya: “padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan menciptakan yang kamu perbuat”. Kedua pendapat di atas saling melazimi, namun pendapat pertama lebih jelas sebagaimana diriwayatkan Al Bukhari dalam kitab Af’alul ‘Ibad dari ‘Ali bin Madini dari Marwan bin Mu’awiyah dari Abu Malik dari Rob’i bin Hirosy dari Hudzaifah secara marfu’ ia berkata: “sesungguhnya Allah menciptakan setiap makhluk dan perbuatannya” kemudian sebagian mereka membaca ayat: [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat]. (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, cet.Dar At Thoyyibah – Riyadh, tahqiq Sami bin Muhamad As Salamah)
    3.tafsir Al Qurthubi/Al Jami’ li Ahkamil Qur’an ِ, Al Imam Al Qurthubi رحمه الله berkata:
    [والله خلقكم وما تعملون] “ما” في موضع نصب، أي: خلق ما تعملونه من أصنام، يعني الخشب والحجارة وغيرهما كقوله: [قال بل ربكم رب السموات والأرض الذي فطرهن]الأنبياء: ٥٦. وقيل إن “ما” استفهام، ومعناه: التحقير لعملهم. وقيل هي نفي، والمعنى: ما تعملون ذلك لكنّ الله خالقه. والأحسن أن تكون “ما” مع الفعل مصدرا، والتقدير: والله خلقكم وعملكم. هذا مذهب أهل السنة: أن الأفعال خلق لله عز وجل واكتساب للعباد. وفي هذا إبطال مذهب القدرية والجبرية. وروى أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: [إن الله خالق كل صانع وصنعته] ذكره الثعلبي. وخرّج البيهقي من حديث حذيفة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: [إن الله عز وجل يصنع كل صانع وصنعته] فهو الخالق وهو الصانع سبحانه. وقد بيّنّاهما في الكتاب الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى.
    [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat] “ما” dalam ayat ini menempati kedudukan nashob, maknanya: Allah-lah yang telah menciptakan yang kalian perbuat dari patung berhala baik dari kayu maupun bebatuan dan selain keduanya, sebagaimana firman-Nya: [Ibrahim berkata: Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang Telah menciptakannya] QS Al Anbiya’ 56. “ما” juga dikatakan sebagai istifham sehingga memiliki makna celaan atas perbuatan mereka. Juga bisa dikatakan sebagai nafi sehingga maknanya: tidaklah kalian melakukan hal seperti itu kecuali Allah-lah yang menciptakannya. Yang paling baik ialah menjadikan “ما” bersama fi’ilnya sebagai mashdar, sehingga bisa diperkirakan maknanya: ALLAH-LAH YANG MENCIPTAKANMU DAN PERBUATANMU, INILAH MADZHAB AHLUSSUNNAH yang menyatakan BAHWASANYA PERBUATAN ADALAH CIPTAAN ALLAH AZZA WA JALLA NAMUN SEORANG HAMBA MEMILIKI PILIHAN. Dalam hal ini terdapat bantahan atas madzhab Qodariyyah dan Jabriyyah. Dan telah diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم Beliau bersabda: “Seungguhnya Allah-lah pencipta seluruh makhluk dan perbuatannya” hadits ini disebutkan oleh Ats Tsa’labi. Dan dikeluarkan oleh Al Baihaqi dari Hudzifah berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Seungguhnya Allah عز وجل menciptakan seluruh makhluk dan perbuatannya” maka Dia adalah Maha Pencipta lagi Maha Membuat, segala puji bagi-Nya. Dan kedua hal ini telah kami jelaskan dalam kitab Al Asna fi Syarh Asma’illahil Husna. (Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, cet.Muassasah Ar Risalah – Beirut, tahqiq Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki)
    4.tafsir Al Baghowi/Ma’alimut Tanzil ِ, Al Imam Al Baghowi رحمه الله berkata:
    [والله خلقكم وما تعملون] بأيديكم من الأصنام، وفيه دليل أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى.
    [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat] dengan tangan-tangan kalian berupa patung berhala, dan di dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya perbuatan hamba dalah ciptaan Allah ta’ala.(Ma’alimut Tanzil, cet.Dar Ibnu Hazm – Beirut)

    5.tafsir Ibnul Jauzi/Zaadul Masir ِ, Al Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata:
    [والله خلقكم وما تعملون]، قال ابن جرير: في “ما” وجهان، أحدهما: أن تكون بمعنى المصدر فيكون المعنى: والله خلقكم وعملكم. والثاني: أن تكون بمعنى “الذي” ويكون المعنى: والله خلقكم وخلق الذي تعملونه بأيديكم من الأصنام. وفي هذه الآية دليل على أن أفعال العباد مخلوقة لله.
    [Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat] Ibnu Jarir(Ath Thobari) berkata: kata “apa(maa / ما)” terdapat dua makna, bisa bermakna mashdar sehingga makna ayat tersebut: “padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan perbuatanmu”. Makna kedua: ia bisa bermakna “yang/الذي” sehingga makna ayat tersebut: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan menciptakan apa yang kamu perbuat dengan tangan mu berupa patung berhala”. Dan dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya perbuatan hamba adalah ciptaan Allah.(Zaadul Masir, cet.Al Maktab Al Islami – Damaskus, tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al Arnauth & Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

    Dari penjelasan para ulama ahli tafsir di atas menunjukkan bahwa faedah suatu ayat diambil bukan hanya dari konteks ayat dg melihat ayat sebelumnya saja, namun juga dlihat dari ayat itu sendiri. Sekarang penilaian saya serahkan kpd saudara2ku semua yg dirahmati Allah, para ulama ahli tafsir yg memiliki kedalaman ilmu, aqidah yg lurus, jasa2 yg begitu besar kpd kaum muslimin, apakah mereka yg diatas kebenaran atau saudara Hamba Allah yg pro-HT dg kehebatannya mengatakan bahwa tafsiran para ulama ahlussunnah itu kontradiktif dan nyeleneh.

    Kpd Saudara Admin saya mohon maaf, karena komen yg terlalu panjang. الله أعلم

  56. Jazakallahu khairan atas penjelasan saudara ibnu abdil majid, semoga Allah merahmati antum.

    Tidak apa-apa panjang karena tulisan antum meskipun panjang namun berkualitas dan penuh ilmu.

    Semoga penjelasan antum yang sudah gamblang tentang tafsir ayat-ayat taqdir bisa membuka hati para aktivis Hizbut Tahrir untuk segera bertaubat dan kembali pada aqidah Ahlus Sunnah sebagaimana yang diyakini para ulama mufassirin yang antum tulis diatas.

    Barakallahufikum

  57. Saudaraku haris yang diberkahi Allah,

    Sebenarnya saya kurang berminat menjawab koment panjang lebar anda yang sebelum ini karena itu anda tujukan kepada seluruh komentator disini, bukan kepada saya dan bukan membahas koment saya yang sebelumnya.

    Namun kiranya hal itu menyebabkan salah paham dan dianggap saya tidak berani menjawab.

    Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Anda menuliskan dalil-dalil ayat tentang adanya pilihan bagi manusia dan manusialah yang berperan dalam kehidupannya di dunia.
    Ayat-ayat inipun juga yang digunakan dalil oleh Qadariyyah.

    Bukan berarti Qadariyyah tidak tahu atau tidak meyakini ayat-ayat yang lain tentang taqdir, namun kecenderungan mereka (termasuk anda) ada pada ayat-ayat ini, adapun ayat-ayat taqdir yang lain yang dibawakan Jabariyyah dianggap sebagai rahasia Allah.

    Adapun Jabbariyyah justru sebaliknya, kecenderungan mereka ada pada ayat-ayat seperti :

    Allah berfirman, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (at-Taubah:51)

    “dan kalaulah Allah menghendaki tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan; tetapi Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”. [al-Baqarah: 253].

    “Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” [Al-Mursalaat: 22-23]

    “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar.” [Al-Qamar: 49]

    “… Allah yang mempertemukan kedua pasukan itu agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan…” [Al-Anfaal: 42]

    “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan qadar tertentu.” [Al-Hijr: 21]

    “…Kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” [Thaahaa: 40]

    “…Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan qadarnya dengan serapi-rapinya.” [Al-Furqaan: 2]

    “dan Allah yang menciptakan kamu dan juga apa yang kamu lakukan” [al-Saffat: 96].

    “Dan yang menentukan qadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” [Al-A’laa: 3]

    “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali…” [Al-Israa’: 4]

    “dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu Kami catatkan satu persatu dalam Kitab yang jelas nyata”. [Yasin: 12]

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang digunakan dalil oleh Jabariyyah, bukan berarti mereka tidak tahu ayat – ayat yang dibawakan Qadariyyah (termasuk anda) namun kecenderungan mereka adalah pada ayat-ayat diatas, adapun ayat-ayat taqdir yang lain (seperti yang dibawakan Qadariyyah dan anda) dianggap sebagai rahasia Allah.

    LANTAS BAGAIMANA AHLUS SUNNAH ?

    Ahlus sunnah dalam memahami ayat al Qur’an yang dipertentangkan adalah dengan melihat petunjuk Nabi dan dalam hal ini nabi sendiri telah menjelaskan dengan gamblang sekali. Sehingga seandainya baik Jabariyyah maupun Qadariyyah (termasuk anda) menyimak hadits ini seharusnya mereka segera rujuk dan kembali pada ahlus sunnah.

    Nabi mengajarkan pengertian taqdir (qadha dan qadar) ini kepada para shahabat sebagai berikut :
    “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”. [HSR. Bukhari Muslim]

    Setelah menyampaikan hadits diatas beliau meneruskan penjelasannya dan membacakan ayat sebagai penguat yaitu :

    “adapun orang yang berupaya memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertaqwa, serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik, maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (syurga). sebaliknya: orang yang bakhil daripada berbuat kebajikan dan merasa cukup dengan kekayaan dan kemewahannya, serta ia mendustakan perkara yang baik, maka Sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan”.
    [al-Lail: 5-10]

    SELESAI disini pelajaran dari Nabi yang mulia, yang kesimpulannya adalah surga dan neraka nya seseorang telah ditentukan sejak zaman azali namun bagi yang berupaya berbuat baik maka akan dimudahkan oleh Allah demikian pula sebaliknya.

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Rasulullah juga pernah mengajarkan perkara taqdir ini pada Umar, dan dalam pengajaran ini justru lebih gamblang lagi,
      Silahkan anda simak :

      قال عمر يا رسول الله أرأيت ما نعمل فيه أمر مبتدع أو مبتدأ أو فيما فرغ منه ؟ فقال فيما قد فرغ منه يا ابن الخطاب وكل ميسر أما من كان من أهل السعادة فإنه يعمل للسعادة وأما من كان من أهل الشقاء فإنه يعمل للشقاء

      Artinya:
      Berkata Umar: Wahai Rasulullah, apakah yang kita lakukan (perbuatan-perbuatan makhluk) ini perkara yang baru terjadi atau pun telah ditetapkan oleh Allah?

      Jawab Nabi : Telah ditetapkan wahai Ibn al-Khattab dan setiap orang itu dimudahkan baginya (berdasarkan takdir yang telah ditetapkan), maka siapa yang ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
      [HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad-sahih-].

      Inilah penafsiran Nabi atas ayat-ayat taqdir yang oleh Qadariyyah dan Jabariyyah dipertentangkan dengan penafsiran masing-masing, padahal Nabi sendiri sudah dengan gamblang mengajarkan hal itu. Kita ummat Islam sebenarnya tinggal sami’na wa atho’na saja.
      SEKIAN, walhamdulillah.

  58. hentikan diskusi ini sudah terlalu panjang tidak akan pernah mencapai titik temu…@pengelolakomaht jangan hanya mengkiritik HT yang jelas2 harokah yang konsisten untuk menegakan Kalimatullah dimuka bumi ini . saudra kita PKS perlu diberikan saran yang sudah menggadaikan idealismenya sebagai pertai dawah!!!ok..

    • @ast: waduh, he..he..itukan kerjaannya orang 2 HT,dari dulu sampai sekarang kayaknya HT emang ada untuk ngerocoki kader tarbiyah kayak dikampus dan sekolah2 pasti kayak gitu,he..he..

  59. Tidak akan ada titik temu jika tidak sami’na wa atho’na pada Rasulullah, tapi jika mau sami’na wa atho’na PASTI ADA TITIK TEMU saudaraku.

    Tapi apakah mungkin HT mempersalahkan Taqiyyuddin dan kitab mutabanatnya ?
    Sepertinya tidak mungkin, karena saya belum pernah dengar HT mengkritik aqidah taqiyyuddin, padahal menurut Hadits Nabi diatas JELAS Jelas Pemahaman AQIDAH Qadha-Qadar Taqiyyuddin BERBEDA dengan NABI Shallallahu alaihi wa alihi wa salam.

  60. Adapun ayat فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
    (Faalhamaha fujuraha wa taqwaha)
    artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.
    Maksudnya Allah menjelaskan kepada manusia apakah jalan-jalan kebaikan itu dan apakah jalan-jalan keburukan itu. (Lihat Tafsir Jalalain).,<——- benar sekali Allah menjelasakan kepada kita mana jalan yang baik dan mana jalan yang buruk (tafsir yang lainpun senada dengan ini).

    kemudian manusia memilih mana jalan yang akan diambil setelah semuanya dijelaskan oleh Allah.

    ini tentu akan sejalan dengan hadist berkaitan dengan kelahiran anak.dimana ibu dan bapaknyalah yang akan menjadikan dia majusi atau nasrani.

    kemdian Allah selalu memberikan penekanan dalam beberapa ayat yang cukup banyak jumlahnya dengan kata-kata. bagi orang yang berfikir, bagi yang memperhatikan, bagi yang memiliki akal. atau apakah kamu tidak berfikir, atau apakah kamu tidak memperhatikan.

    intinya semua perbuatan manusia kelak di akherat sesuai dengan apa yang diusakan manusia di dunia.

    Allah yang menciptkan segala macam yang ada dimuka bumi ini.

    kemudian Allah memberikan potensi kepada manusia agar manusia bisa melakukan apa yang bisa diusahakan oleh manusia dibumi ini.

    disini pentingnya peran akal manusia untuk memilih apakah dia akan berjalan berdasarkan bingbingan wahyu, atau dia akan mengikuti hawa nafsunya.

    initinya dalam blog ini adalah bahwa setiap yang ada dalam pandangan HT adalah salah, dan pandangannya adalah benar.

    • initinya dalam blog ini adalah bahwa setiap yang ada dalam pandangan HT adalah salah, dan pandangannya adalah benar.

      untuk sekelas syabab kalimat anda ini sungguh memalukan. sebagaimana pemahaman ahlusunnah bahwa manusia memiliki “ikhtiar” untuk memilih sepertinya sudah dijelaskan berkali-kali. Dalil anda harus dikompromikan dengan banyak dalil yang lainnya (bukan cuma berkaitan dengan hadits kelaihran anak)

      sebagai contoh :
      Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.

      mas saif bisa menjelaskan hadits ini ?

  61. saya fikir puji dan pengelola koma pasti tahu hadits qudsi bahwa Allah mengharamkan dirinya dzalim. jelas sekali bahwa Allah tidak mungkin berbuat dzalim kepada makhlukNya.
    Maha Suci Allah dari yang demikian.
    maka wahai saudaraku sekali lagi Allah memang Maha Berkehendak, Maha Tahu dsb.
    kita adalah makhluk yang akalnya terbatas yang tidak mampu memahami dzat Allah. yang bisa kita pahami adalah sesuatu yang bisa kita indera.
    bisa jadi dengan kehendak Allah jua khilafah akan berdiri melalui HT.

    • bukannya saudara dava lebih baik memberikan dalil yang komprehensive jika memang merasa dipihak yang benar dalam masalah qadha dan qadar ini ?

      saya pernah tuh menyampaikan pertanyaan kepada anda dan juga saudara saif. mari kita beragumentasi dengan dalil yang relevan secara komprehensive (tidak diambil yang mendukung saja tapi semua yang shahih agar mendapat kesimpulan yang benar). Bukankah begitu saudara dava ?

    • Saudara dava yang diberkahi Allah,

      Allah menciptakan Syaitan, Iblis, menciptakan bencana, musibah, BUKAN berarti Allah berbuat dzalim.

      Allah bisa saja membuat semua manusia ini menjadi menjadi ISlam semua dan masuk surga semua, tapi Allah tidak melakukannya BUKAN berarti Allah dzalim.

      Tidak ada yang lebih mengenal Allah kecuali Nabi Nya.
      Padahal Nabi bersabda :
      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka”
      “Barangsiapa ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.
      [HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad-shahih-].

      APAKAH ANDA BERANI MENGATAKAN NABI TELAH MENUDUH ALLAH BERBUAT DZALIM ?

      • begini saja, wahai saudara pengelolakoma dari tulisan-tulisan anda jelas anda mempunyai akal yang tak terbatas, coba tolong jelaskan kepada saya tentang : Kehendak Allah, Ilmu Allah dan Lauhul Mahfudz.

      • Anda bertanya atau anda ingin mengolok-olok belaka ? langsung saja dari tiga hal itu apa yang anda permasalahkan ? sampaikan tahap demi tahap dengan menunjukkan dalil dalil anda.

  62. wahai saudaraku, gambaran perbedaan masalah Qadha-Qadar justru sudah dijelaskan oleh Taqiyuddin dan kitab-kitab yang lain ketika ummat Islam mulai mengenal adanya ilmu kalam. kemudian munculah kelompok2 Jabariyah, Qodariyah dan termasuk Ahlussunnah.
    klo anda mengaku termasuk Ahlussunnah apakah anda termasuk kelompok Ahlussunnah waktu itu atau Ahlussunnah versi apa? sudahlah lihat sejarah dulu baru komentar…
    bisa jadi anda saya tuduh Ahlussunnah Al Asyariah atau Ahlussunnah Al Matrudiyah
    atau…..?
    karena merekalah yang pertama mengklaim dari pada ABDUL WAHAB

    • he he, sejarah wahabi aja mengambil dari hemper gitu yang notabene majhul dan non muslim dianggap “shahih” untuk menyerang saudaranya yang muslim. Dah khabar ahad, orang majhul, non muslim lagi (^_^)

      anda yakin sejarah yang anda baca benar ?

    • Ahlus sunnah adalah orang yang mengikuti sunnah apapun namanya, dan sunnah Nabi mengatakan :

      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka”

      Maka wajar bila Taqiyyuddin menyalahkan aqidah ahlus sunnah karena dia memang menyelisihi hadits ini.

      • @ pengelolakomat, abdurrahman, puji
        Ahlus sunnah adalah orang yang mengikuti sunnah apapun namanya…
        Kenapa Ahlus sunnah sekarang banyak benderanya, beda-beda majalahnya, beda-beda ma’had (saudi, kuwait) dll. kenapa tidak mjd satu saja seperti yang anda katakan… ??
        @puji
        he he, sejarah wahabi aja mengambil dari hemper gitu yang notabene majhul dan non muslim dianggap “shahih” untuk menyerang saudaranya yang muslim…
        apakah anda tidak sadar bahwa apa yang anda lakukan dan blog ini juga menyerang saudara muslim, itu klo anda semua menganggap HT dll muslim???
        termasuk mendhoifkan yang sudah shahih, makanya “shahih” menurut siapa??

      • Saudaraku yang diberkahi Allah, seharusnya memang satu saja, kan tetapi terlanjur banyak bendera maka disini yang terpenting adalah aqidah dan amalan nya sama yaitu aqidah dan amalan ahlus sunnah, itu target da’wah yang utama saat ini.
        Kita di blog ini sifatnya tidak menyerang saudara namun menyerang kemunkarannya, mohon dibedakan. Adapun kebaikan-kebaikan HT tetap kita hargai bahkan kita tidak pernah menolak upaya pendirian khilafah (asalkan upayanya bener) jadi yang kita kupas disini adalah penyimpangannya atau kemunkarannya saja.

      • apakah anda tidak sadar bahwa apa yang anda lakukan dan blog ini juga menyerang saudara muslim, itu klo anda semua menganggap HT dll muslim???

        masalahnya bukan “menyerang” atau tidak tapi yang dikatakan itu benar atau tidak ? anda yakin itu yang dikatakan hemper benar ? darimana anda yakin itu benar ?. Yang tidak anda miliki adalah kevalidan data bukan masalah tidak boleh “menyerang” semisal salafi

        termasuk mendhoifkan yang sudah shahih, makanya “shahih” menurut siapa??

        ini mau mengkritik siapa ? nggak jelas gitu. dijelaskan dong mana yang didahifkan alasannya apa kalau tidak setuju kenapa secara ilmiah

        btw mengenai tantangan saya untuk membahas masalah qadah dan qadar menurut para imam bagaimana saudara dava ?

  63. kepada saudaraku puji, maukah anda kita sepakati bersama pembahasan Aqidah termasuk didalamnya Qadha-Qadar kita gunakan dalil-dalil yang mutawatir, seperti halnya kebanyakan ulama salaf bahwa mereka menggunakan dalil mutawatir dalam perkara Aqidah??

  64. kepada saudaraku puji, maukah anda kita sepakati dulu menggunakan dalil-dalil yang mutawatir seperti halnya kebanyakan ulama salaf dalam hal Aqidah termasuk didalamnya Qadha-Qadar???

    • kepada saudaraku puji, maukah anda kita sepakati dulu menggunakan dalil-dalil yang mutawatir seperti halnya kebanyakan ulama salaf dalam hal Aqidah termasuk didalamnya Qadha-Qadar???

      ungkapan anda bohong belaka bahwa ulama salaf terdahulu menggunakan dalil-dalil mutawatir dalam menetapkan aqidah. toh ini juga sudah dibantah di blog ini dalam artikel https://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/. Lihat sajalah Hadits Arbain Imam Nawawi, tidakkah disana ada hadits Ahad yang berbicara mengenai aqidah ? Toh jika memaksa Mutawatir sekalipun maka akan saya tanya balik Mutawatir menurut definisi siapa ? shahibul Syafi’i atau ulama yang lainnya yang notabene khilaf mu’tabar (ada yang menyebut minimal 5, atau yang menyebut minimal 20, atau yang menyebut minimal 40)?

      bagaimana kalau kita bersepakat berdasarkan dalil-dalil yang shahih setidaknya berdasarkan interpretasi para ulama salaf (yang diakui sajalah semisal Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Syaukani, Imam Nawawi dll dan lainnya yang kita2 semua mengakui). Bagaiamana Saudara dava ?

      • Jangan ajak diskusi pake pendapat ulama salaf, mereka gak kenal. Tulisan An Nabhani aja gak pernah mencantumkan referensi, gimana mrk mau kenal atau melakukan tracing atau crosscheck referensi? Kalau baca journal lebih enak, setiap pendapat bisa dilacak langsung ke referensi aslinya. Konon, kata mrk An Nabhani itu mujtahid mutlak, sepadan dgn para imam lainnya. Entahlah, tp sy belum pernah dengan ada ulama sezaman yg mengakui kompetensi An Nabhani, Zallum, dll. Ada yg bisa kasih rujukan?

    • kenapa sih getol banget merujuk sama pendapatnya Taqiyyuddin An Nabhani? kenapa meninggalkan pendapat Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad Darimi, Abu Bakr Al Humaidi, Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Hatim Ar Razi, Al Bukhari, Abu Ja’far Ath Thohawi, Al Muzani, Abdullah bin Al Mubarak, Abu Utsman Ash Shobuni, Abul Hasan Al Asy’ari yg jelas2 diakui keilmuannya dan disepakati ummat akan statusnya sebagai ulama malah mengambil pendapat Taqiyyuddin An Nabhani yg statusnya sebagai ulama masih perlu ditinjau lagi? kenapa? aku benar2 bingung ama orang2 HT ini.

    • Saudara dava yang diberkahi Allah,

      Semua hadits-hadits aqidah yang shohih meskipun secara lafadz satu per satu ahad namun secara makna mutawatir (mutawatir ma’nawy) sehingga tidak pantas diragukan atau tidak diambil sebagai rujukan aqidah. Bahkan Nabi sendiri meriwayatkan hadits aqidah tidak dengan mengumpulkan shahabat sampai jumlahnya mutawatir baru beliau berkenan meriwayatkan, namun satu orang shahabatpun beliau meriwayatkan aqidah.

  65. mantap diskusinya. emang enak makan bangkai saudara sendiri. lanjutkan!!!

  66. mbohlah bingung

  67. gampang sebenerny,qta hanya diwajibkan utk mengimani bahwa segala sesuatu telah diciptakan dan ditetapkan oleh Allah tentang apa yang terjadi di langit dan dibumi, mencakup juga apa yang akan qta lakukan baik perbuatan itu amal sholih maupun amal buruk. dengan mengimani ini qta selamat dari mengingkari ayat al-quran dan hadist tentang segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah dan tentang maha kuasa dan maha mngetahui Allah atas segala sesuatus sebagaimana yg banyak dijelaskan diatas.. coba imani aj itu..
    adapun mengatakan jika semua telah ditentukan dan diciptakan Allah yg berkaitan dengan keburukan, kejahatan, amal buruk, adanya orang-orang kafir merupakan tindakan kezholiman Allah terhadap makhluk maka itu merupakan kesalahan besar. banyak hikmah dibalik semua keburukan yg terjadi di dunia ini. hanya saja akal qta yg terbatas utk memahaminya.
    namun disisi lain juga qta tidak boleh menyandarkan keburukan yg qta lakukan kepada takdir yg Allah tetapkan. bukankah manusia jg diberi kemampuan utk memilih? manusia telah diberi petunjuk berupa alquran dan hadist dlm pedoman hidup. qta tidak bisa mengatakan bahwa qta melakukan kejahatan dengan beralasan kepada takdir Allah. manusia itu tidak mengetahui apakah dia diciptakan utk menjadi penghuni surga atw penghuni neraka. maka jika qta menginginkan surga ya ikutilah alquran dan hadist. sebagaimna orang yg menginginkan anak ya harus menikah,,

  68. Setuju 100% dengan saudara rey, barakallahufik

  69. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    mungkin sy tdk terlalu menyimak tulisan2 yg di atas, tapi sy kira sedikit sy menjelaskan bgmana pandangan HT …

    Qada dan Qadar di masa-masa awal islam tdk pernah dikenal yang dikenal hanyalalah qada tersendiri dan qadar tersendiri..

    pembahsan qada dan qadar dalam satu paket, HT berpandangan ini merupakan pemikiran yang baru. hal ini diawali ketika umat islam telah bersentuhan dengan ilmu filsafat yang justru semakin mengaburkan persoalannyang sebenarny.

    Pembahsan Qada dan Qadar yang dikaitkan pembahasan hakekat perbuatan manusia dlm hal ini pertanyaan ” apakah perbuatan manusia diceptakan Allah ? ataukah manusia itu sendiri ? juga tdk bisa dibahas demikian.
    intinya menyakini Takdir baik-buruknya dari Allah Swt. jadi HT tidak pernah lebih jauh memberikan penjelasan karena ini diluar jangkauan klopun ada penafsiran ayat justru yang nampak adalah mencoba membenarkan lewat ayat 2 saja sebagaimana dimasa lalu dengan hadirnya polemik (mu’tazillah, jabariyyah, dan asarriyyah). dengan demikian kita tidak masuk wilayah polemik tsb karena memang kita tidak sanggup..
    kecuali bagi mereka yang sok tahu dgn masalah ghaib.

    untuk persoalan perbuatan manusia HT hanya berpandangan dari sisi, perbuatan manusia ada yang bisa dikuasai/dikendalikan manusia dan ada yang tidak, bukan soal cipta – menciptakan—

    wilayah yang dikuasai wilayah ikhtiar, wilayah tempat terikatnya seorang hamba terikat hukum syara’ dan pada wilayahnya seorang bisa diukur dari sisi amalannya apakah berpahala ataukah dosa.

    untuk wilayah yang tdk dikuasai terdapat hal yang sunnatullah dan ghairah sunnatullah. dan kedua-keduanya seorang hamba harus meyakini apapun yang menimpa/terjadi harus diyakini semua menjadi ketetpan Allah SWT.

    dengan demikian HT tidak memasuki wilayah polemik krn justtru wilayah polemik sejak awal sudah keliru karena terpengaruh dengan pandangan filsafat! dan juga jelas siapa yang selama ini lebih dekat dgn pandanfgan mu’tazillah. wallahu wa’lam

    • Qada dan Qadar di masa-masa awal islam tdk pernah dikenal yang dikenal hanyalalah qada tersendiri dan qadar tersendiri..

      dari mana ini bisa disimpulkan ?. Bahkan hadits-hadits menunjukkan bahwa itu dalam satu paket. Bukan dipisahkan sendiri-sendiri. Awal2 islam itu masa siapa ? shahabat ? tabiin ? para imam 4 ? setelah imam 4 ? saya ini adalah kesimpulan sendiri tanpa dukungan yang kuat yang artinya hanya merupakan dzon (dalam artian kira2 bukan yakin) dari HTI

      ” apakah perbuatan manusia diceptakan Allah ? ataukah manusia itu sendiri ? juga tdk bisa dibahas demikian.

      kurang dalil apa coba ?

      ”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupny) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

      Artinya: “Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)

      jadi HT tidak pernah lebih jauh memberikan penjelasan karena ini diluar jangkauan

      ya inilah yang parah, Dzat dan Sifat Allah dipisahkan dan dibilang tidak perlu dibahas. Qadha dan Qadar juga dipisah2kan. Ya dalam hal seperti itu kewajiban kita adalah beriman. SIfat Allah itu diluar jangakauan kita dan kita wajib beriman dan menjelaskan bukan tidak perlu dibahas hanya karena “diluar jangkauan akal”. Demikian pula qadha dan qadar. Wong Allah dan Rasulnya sudah amenjelaskan. Saya kira memahami apa yang dikatakan Rasulullah bukan hal diluar jangkauan akal khan ?

      untuk persoalan perbuatan manusia HT hanya berpandangan dari sisi, perbuatan manusia ada yang bisa dikuasai/dikendalikan manusia dan ada yang tidak, bukan soal cipta – menciptakan—

      aneh, masak berpandangan hanya dari satu sisi sedangkan Rasulullah saja menjelaskan dari sisi Allah juga ?

      dengan demikian HT tidak memasuki wilayah polemik krn justtru wilayah polemik sejak awal sudah keliru karena terpengaruh dengan pandangan filsafat!

      memang polemik Ahlusunnah dan mu’tazilah adalah karena masuknya filsafat (dari sisi mu’tazillah). justru karena ini mutzilah waktu itu ditentang dan sadar atau tidak sadar justru HTI dalam konteks inilah yang berfilsafat dengan menyatakan “hanya” berpandangan dari sisi manusia daripada mengambil dalil yang jelas2 shahih mengenai masalah ini sebagaimana Ahlussunnah

  70. sy kira sudah familiar dgn ide tsb, krn sdah mendalami ht. tpi koq seakan2 terheran2. sy khan katakan tdk pernah d kenal ataupun tdk pernah d temukan dalil yg mempaketkan istilah qada n qadar secara bersamaan. klo ada ya tolng d sbutkan dalilnya yg menyebutkan. yg d kenal cuman qada saja dan qadar saja yg d sbut scara terpisah, shingga ada yg menganggp lbh tepat menyebut takdir sj, d samping memang istilah qada n qadar d masa lalu jd polemik. takdir ini adalah suatu hal yang ghaib dan kita yg meyakini apa adanya tanpa perlu tafsir n menakwilkan. dari sisi ini jelas kita mencukupkan persoalan ini tanpa perlu embel shingga tdk terjd polemik d samping itu memang kita tdk pux ilmu yg memadai untk mengungkap hakekat takdir itu. kecuali sekali lagi yang sok tahu paham skali dalilnya, dan justru inilah ciri khas mu’tazillah, jabariyah, asyariyyah yg terjbak dlm metodologi filsafat. dan trmasuk anda yg terlalu memaksakan membhas persoalan yg tdk ada ilmux. bgmana dngan dalil 2 yg ada ya benar itu dalil yang harus d imani tapi apakah ada indikasi kuat itu membahas qada n qadar yg anda maksud. sungguh pandangn ht memberikan solusi kpd umat untk tdk memasuki wilayah polemik.

    • Saudara afwan yang diberkahi Allah,

      Saya bisa mengerti anda karena saya juga lama di HT, dan sebagian dari apa yang anda sampaikan memang ada benarnya namun banyak salahnya bila anda mau coba belajar lagi khususnya di luar sumber intern HT.

      Misalkan jika anda menyatakan hal ini tidak terlalu dibahas memang betul karena memang masalah ini hanya bisa diyakini tanpa boleh diperdebatkan lebih jauh karena menyangkut aqidah, namun salah besar jika dikatakan bahwa hal ini samar dan diluar jangkauan karena pembahasan oleh Nabi sudah sangat jelas.

      Silahkan simak penjelasan Nabi :

      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka (namun) beramalah maka akan dimudahkan”
      “Barangsiapa ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.

      [HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad-shahih-].

      Cobalah anda cek dalam kitab-kitab mutabanat HT apakah dua hadits diatas pernah dimuat ???

      Ternyata tidak!!! dan inilah ketidak jujuran taqiyyuddin dalam perkara qadha dan qadar ini.

    • @afwan, yang menanggapi itu saya dan saya bukan “mantanht” bedakan dong sama komaHT (^_^)

      sy khan katakan tdk pernah d kenal ataupun tdk pernah d temukan dalil yg mempaketkan istilah qada n qadar secara bersamaan. klo ada ya tolng d sbutkan dalilnya yg menyebutkan. yg d kenal cuman qada saja dan qadar saja yg d sbut scara terpisah, shingga ada yg menganggp lbh tepat menyebut takdir sj, d samping memang istilah qada n qadar d masa lalu jd polemik.

      bagi saya anda menyebut qadha dan qadar atau menyebut dengan istilah takdir itu sama saja yang dimaksud. Kalau cuma polemik masalah istilah terserah yang saya maksud adalah esensi bukan istilah.

      sebagai contoh salafi mengajarkan tauhid itu ada 3 , tapi apa salafi wajib mengimani tauhid itu ada 3 ? jawabannya tidak karena tiga istilah tauhid adalah istilah yang dipahami adalah yang dimaksud dalam istilah tersebut. senadainya ada ulama menyebut dua atau empat asal yang dimaksud sama ya sama aja bukan bearti ebda aqidah.

      dalam konteks qadha dan qadar pertanyaan yang dimaksud adalah :
      1. Apakah Allah sudah menentukan manusia masuk surga dan neraka ?
      Jawaban Ahlussunnah , Ya denga tegas
      2. Apakah Allah menciptakan perbuatan manusia termasuk dimana manusia secara ikhtiar punya pilihan
      Jawaban Ahlusunnah Ya dengan tegas

      dan pertanyaan seputar itu. Mau anda sebut Taqdir saja atau qadah dan qadar sama sekali tidak akan menghilangkan esensi yang dimaksud.

      sungguh pandangn ht memberikan solusi kpd umat untk tdk memasuki wilayah polemik.

      sayangnya justru pernyataan HT yang seperti ini menjadi polemik (^_^). yang kedua tidak masuk wilayah polemik bukan parameter kebenaran lho (^_^) dan saya tidak melihat HT menyampaikan dalil secara komprehensif artinya sepertinya hanya dalil yang mendukung saja yang diambil dan dalil yang bertentangan sepertinya tidak diambil (berdasarkan pengamatan dan diskusi saya dari roang-orang HT)

      contoh penjelasan nabi ini :
      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka (namun) beramalah maka akan dimudahkan”

      kenapa tidak dibahas ?

      dan trmasuk anda yg terlalu memaksakan membhas persoalan yg tdk ada ilmux

      pertanyaan yang absurd, tidak ada ilmu itu yang seperti apa ? wong dalilnya sudah secara gamblang gitu kecuali kalau saya mengira2 atau hanya mengambil sepotong dalil yang “mendukung saja” itu baru dipertanyakan

      kita tdk pux ilmu yg memadai untk mengungkap hakekat takdir itu

      lho bukannya Rasulullah sudah memberitahukan ? bukannya ini ilmu untuk memahami takdir itu ? Suatu hal yang pasti kita hanya akan memahami takdir jika Rasulullah memberitahukan dan Rasulullah sudah memberitahukan dan dibilang tak ada ilmu ?

  71. Afwan.. ternyata @puji yg menanggapi bukan mantanht, krena lewat hp kemarin jd sulit lihat siap yg tulis! sy tanggapin ya

    “Bahkan hadits-hadits menunjukkan bahwa itu dalam satu paket. Bukan dipisahkan sendiri-sendiri”

    buktikan kata-kata anda ini !!

    ” bagi saya anda menyebut qadha dan qadar atau menyebut dengan istilah takdir itu sama saja yang dimaksud. Kalau cuma polemik masalah istilah terserah yang saya maksud adalah esensi bukan istilah.”

    inilah ketidakdalaman anda dlm mengkaji persoalan, anda seperti orang2 yg lalu-lalu sj senang berputar2 pd polemik yg sama.
    sudah sy katakan tidak ada dalil yg pernah meyebutkan istilah qadha dan qadar secara bersamaan yg ada pada dalil hanya qada’ sj ataupun qadar saja.

    jawbaan anda
    “sebagai contoh salafi mengajarkan tauhid itu ada 3 , tapi apa salafi wajib mengimani tauhid itu ada 3 ? jawabannya tidak karena tiga istilah tauhid adalah istilah yang dipahami adalah yang dimaksud dalam istilah tersebut. senadainya ada ulama menyebut dua atau empat asal yang dimaksud sama ya sama aja bukan bearti ebda aqidah.”
    tidak relevan,
    klo anda memang benar jelaskan sj jgn mencontohkan sesuatu yg tidak nyambung.. jaka sembung naik ojek, nggak nyambung jek.. :)

    polemik qada n qadar dimasa lalu terjadi karena interaksi kaum muslimin dengan kaum filosof, yang dibahas umat islam diperhadapkan dengan polemik yg terjadi dikalangan filosof tentang hakekat perbuatan manusia– apakah manusia bebas memilih ataukah terpaksa– dan umat islam pun tertantang untuk memberikan jwaban..

    Dari sinilah polemik di kalangan umat hadir dimulai dgn hadirnya kelompok qadariyah (mu’tazillah) yang berpandangan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri, bebas memilih dan mengkaitkan persoaln pada aspek pahala dan dosa.

    kehadiran mu’tazillah memicu munculnya Jabariyah yang berpandangan kebalikan bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah SWT.. dgn banyak dalil yg diungkapkan dan mengkaitkan persoalan dgn iradah, ilmu Allah, lauhul Mahfuds, dan Takdir.

    dan terakhir juga muncul kelompok Asyariyyah atau yg kemudian menyebut diri mereka sbg Ahlus Sunnah. Ahli Sunnah memiliki pendapat, yang pada intinya
    mengatakan bahwa manusia itu memiliki apa yang disebut
    dengan kasb ikhtiari di dalam perbuatan-perbuatannya (tatkala manusia hendak berbuat sesuatu, Allah menentukan/
    menciptakan amal perbuatan tersebut, Jadi, manusia
    dihisab berdasarkan kasb ikhtiari.

    “Apabila kita meneliti masalah qadla dan qadar, akan kita
    dapati bahwa ketelitian pembahasannya menuntut kita untuk
    mengetahui terlebih dahulu dasar pembahasan masalah ini.
    Ternyata, inti masalahnya bukan menyangkut perbuatan
    manusia, dilihat dari apakah diciptaan Allah atau oleh dirinya
    sendiri. Juga tidak menyangkut Ilmu Allah, dilihat dari kenyataan
    bahwa Allah SWT mengetahui apa yang akan dilakukan oleh
    hamba-Nya, dan Ilmu Allah itu meliputi segala perbuatan
    hamba. Tidak terkait pula dengan Iradah Allah -sementara
    Iradah Allah dianggap berhubungan dengan perbuatan hamba-
    sehingga suatu perbuatan harus terjadi karena adanya Iradah
    tadi. Tidak juga berhubungan dengan status perbuatan hamba
    yang sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz -yang tidak boleh
    tidak ia harus melakukannya sesuai dengan apa yang tertulis di
    dalamnya-.
    Memang benar, perkara-perkara tadi bukan menjadi
    dasar pembahasan qadla dan qadar. Sebab, tidak ada
    hubungannya dilihat dari segi pahala dan siksa. Hubungan yang
    ada hanya dengan ‘penciptaan’,-yaitu bahwa- Ilmu (Allah) yang
    meliputi segala sesuatu, Iradah-Nya yang berkaitan dengan
    segala kemungkinan-kemungkinan, dan hubungannya dengan
    Lauhul Mahfudz yang mencakup segala sesuatu. Seluruh perkara yang dihubung-hubungkan ini merupakan pembahasan
    lain, yang terpisah dari topik pahala dan siksa atas perbuatan
    manusia. Dengan kata lain, tidak berkaitan dengan pertanyaan-
    pertanyaan:
    ‘Apakah manusia dipaksa melakukan perbuatan baik dan
    buruk, ataukah diberi kebebasan memilih?’
    Begitu pula dengan:
    ‘Apakah manusia diberi pilihan melakukan suatu pekerjaan
    atau meninggalkannya, atau sama sekali tidak diberi hak
    untuk memilih (ikhtiyar)?’ (Nizhamul Islam, Taqiyuddin an-Nabhani)

    -Jadi ketiga kelompok tersebut terjebak dalam polemik yang tak seharusnya, persoalan yg belum pernah ditemukan di masa Rasulullah. Jadi klo anda tetap memaksakan persoalan ini sungguh anda hanya mau kembali ke poolemik yg tak berkesudahan dan anda termasuk orang-orang yang senang berpolemik..
    ataukah memang anda sangat pintar bahkan lebih tahu dibanding Rasulullah Saw.
    Kita hanya punya dalil Al-Qur’an dan Hadis. Cukup kita meyakininya benar itu dalil, membahas takdir misalnya, ya kita harus yakin.. tapi untuk menyimpulkan sesuatu hal yg ghaib hanya berdasarkan takwil.. sy hanya bisa bilang anda sangat-sangat hebat!!!!

    HT tdk muluk-muluk krn pandangan HT aqidah adalah tasdiqul jazm dgn dalil qath’i–implikasinya secara tsubut maupun dalalah adalah qath’i maka kewajiban seorang muslim adalah mengimanai tanpa perlu lagi berpolemik.

    “untuk persoalan perbuatan manusia HT hanya berpandangan dari sisi, perbuatan manusia ada yang bisa dikuasai/dikendalikan manusia dan ada yang tidak, bukan soal cipta – menciptakan—

    aneh, masak berpandangan hanya dari satu sisi sedangkan Rasulullah saja menjelaskan dari sisi Allah juga ?”

    tanggapan ini sy kira menunjukkan anda tdk paham dgn sy jelaskan– bgmana anda mau mengkritik pandangan HT tapi anda sendiri tdk tahu !!!

    sy jelaskan lagi :
    diluar persoalan takdir, iradah dan persoalan2 ghaib HT hanya bisa menjawab
    Manusia hidup dalam dua wilayah 1. Wilayah yg dikuasai/dikendalikan 2. wilayah yg tdk dikuasai .
    Untuk wilayah yg dikuasai, disinilah yg pahami bahwa manusia bisa memilih untuk berbuat sesuai dgn syariat ataupun berbuat maksiat, sehingga implikasinya adalah pahala / dosa..

    Untuk wilayah yg tdk dikuasai, terdiri ats dua
    yakni ada yg ditentukan nizhamul wujud (sunnatullah) dan ada yg tidak ditentukan nizhamul wujud.

    apa yg menimpa manusia dlm wilayah yg tdk dikuasai ini kita sebut sebgai qada Allah yang wajib di Imani..

    Masalah qadar = ketetapan Allah pada benda berupa khasiat-khasiat

    Untuk pengelola coba dijelaskan makna hadisnya kesimpulannya apa??
    dan apa relevansinya dgn pembahsan qada n qadar??

    Wallahu wa’lam.

    • Saudara afwan yang diberkahi Allah,

      Memang jika pengertian qadha dan qadar oleh taqiyyuddin hanya seputar lingkaran sunnatullah, sunnatul wujud, dan khasiat, gharizah maka apa yang disampaikan taqiyyuddin memang benar bahwa semua itu kekuasaan Allah, namun masalahnya apakah benar batasan qadha dan qadar itu hanya pada wilayah itu sementara amal perbuatan yang berujung pada pahala dan dosa tidak termasuk pembahasan qadha dan qadar ?

      Disinilah letak pembaharuan taqiyyuddin terhadap pendapat-pendapat yang sebelumnya ada,
      Dan KETAHUILAH SAUDARAKU bahwa TIDAK ADA SATUPUN ULAMA SEBELUM Taqiyyuddin YANG PENDAPATNYA SAMA DENGAN Taqiyyuddin.

      Dari sisi ini saja kita sudah melihat penyimpangannya, karena bagaimanapun juga aqidah baru itu tidak mungkin ada dalam Islam setelah ratusan tahun wafatnya Rasulullah, ini bukti bahwa aqidah tersebut murni berdasar buah pemikiran taqiyyuddin bukan ittiba’ pada pendapat yang terdahulu.

      Bagaimanapun juga pahala dan siksa dalam aqidah Islam itu adalah jannah dan neraka. DAN FAKTANYA RAsulullah menyatakan bahwa JANNAH dan NAAR bagi tiap-tiap manusia sudah ditulis sejak zaman azali.
      KESIMPULAN HAdits tersebut adalah PAHALA dan SIKSA bagi manusia sudah ditetapkan Allah.
      Dan karena sudah ketetapan Allah maka hal itu masuk dalam qadha dan qadar, bukannya dalam wilayah terpisah seperti versi taqiyyuddin (wilayah yang murni dikuasai manusia)

    • “Bahkan hadits-hadits menunjukkan bahwa itu dalam satu paket. Bukan dipisahkan sendiri-sendiri”

      buktikan kata-kata anda ini !!

      sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Kebanyakan penyebab kematian di kalangan ummatku setelah ketetapan kitabullah dan qodho’ serta qodar-Nya adalah karena penyakit ‘ain.” (HR. Thabrani dan selainnya, dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari` (X/167)).

      Di dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: ” Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani) -> saya belum mengtahui derajat hadits ini dan hanya untuk penguat hadits sebelumnya

      hadits pertama Rasulullah menyebutkan dua sekaligus

      pada hadits yang lain Rasulullah hanya menyebut qadar(takdir) saja:

      “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir (qadar) yang baik maupun yang buruk” (Riwayat Muslim)

      pada ayat Al Qur’an hanya disebut qadha saja :

      “Sesuatu itu telah diqadha” [Yusuf : 41]
      “Allah mengqadha’ dengan benar” [Ghafir : 20]

      Oleh karena itu para ulama menyatakan bahwa kalau disebut satu-satu maksudnya terpisah satu-satu juga (dengan segala perbedaan definisi yang ada) tapi kalau disebut salah satu maka maksudnya secara keseluruhan karena memang qadha dan qadar saling berkaitan dan tidak terpisah satu sama lain.

      Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

      Sebenarnya, qadha dan qadar ini merupakan dua masalah yang saling berkaitan, tidak mungkin satu sama lain terpisahkan oleh karena salah satu di antara keduanya merupakan asas atau pondasi dari bangunan yang lain. Maka, barangsiapa yang ingin memisahkan di antara keduanya, ia sungguh merobohkan bangunan tersebut (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Atsir 4/78, Jami’ al-Ushuul 10/104).

      kalau kurang silakan cari sendiri pendapat para ulama salaf terkait hal ini (^_^)

      polemik qada n qadar dimasa lalu terjadi karena interaksi kaum muslimin dengan kaum filosof, yang dibahas umat islam diperhadapkan dengan polemik yg terjadi dikalangan filosof tentang hakekat perbuatan manusia– apakah manusia bebas memilih ataukah terpaksa– dan umat islam pun tertantang untuk memberikan jwaban..

      anda benar dalam hal ini (^_^)

      akan tetapi justru dari sisi ahlussunnah masuk kedalam polemik untuk meluruskan permasalahan (bukan ikut berfilsafat) dan bukan “tidak dibahas”. Prinsip Ahlussunnah sudah jelas, taqdir (qadha dan qadar) hanya diketahui dari sabda Rasulullah Sallahualaihi Wa Sallam. Kalau shahih ya sami’na wa ata’na selesai.


      diluar persoalan takdir, iradah dan persoalan2 ghaib HT hanya bisa menjawab
      Manusia hidup dalam dua wilayah 1. Wilayah yg dikuasai/dikendalikan 2. wilayah yg tdk dikuasai .
      Untuk wilayah yg dikuasai, disinilah yg pahami bahwa manusia bisa memilih untuk berbuat sesuai dgn syariat ataupun berbuat maksiat, sehingga implikasinya adalah pahala / dosa..

      kalau ahlussunnah menyatakan taqdir adalah seperti yang dinyatakan Rasulullah dalam hadits-hadistnya maupun Al Qur’an. Dan diambil kesimpulan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah baik itu baik maupun buruk .

      mam al-Baihaqi menuturkan dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i, bahwa Syafi’i mengatakan: “Kehendak manusia itu terserah Allah. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah Rabbul ‘alamin. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatanitu adalah salah satu makhluk Allah. Taqdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah. Adzab kubur itu haq (benar), pertanyaan kubur juga haq, bangkit dari kubur juga haq, hisab (perhitungan amal) itu juga haq, surga dan neraka juga haq, begitu dalam Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasalam.

      tanggapan ini sy kira menunjukkan anda tdk paham dgn sy jelaskan– bgmana anda mau mengkritik pandangan HT tapi anda sendiri tdk tahu !!!

      justru itu yang saya “pertanyakan dari HT” seolah-olah menyatakan (atau menyatakan) bahwa taqdir tidak terkait dengan qadha dan qadar (http://adivictoria1924.wordpress.com/2009/04/24/iman-kepada-taqdir-allah-tidak-ada-hubungannya-dengan-qadha-dan-qadar) dan yang anda jelaskan berbeda dengan penjelasan para ulama salaf terdahulu

      tapi untuk menyimpulkan sesuatu hal yg ghaib hanya berdasarkan takwil.. sy hanya bisa bilang anda sangat-sangat hebat!!!!

      takwil yang mana ? wong itu dah jelas apa perlu ditakwil lagi. Para ulama terdahulu juga sudah menyatakan demikian. Apa perkataan para imam terdahulu juga dibilang “menyimpulkan sesuatu yang ghaib” ?. Masalah qadha dan qadar khan sudah jelas , Apa yang disabdakan nabi ya itu yang dimaksud selesai.

  72. Boleh bertanya : menurut anda2 apa itu berpikir??

    kerana jawaban ini akan menggambarkan bgmana seharusnya membahas qada n qadar

    • justru anda sudah mulai berfilsafat (^_^) jawaban apapun tak akan berimplikasi terhadap maksud hadits sebagaimana saya jelaskan sebelumnya. Masalah qadha dan qadar hanya berdasarkan dalil bukan dari definisi apa itu berpikir atau yang lainnya

      kalau dulu saya ditanya : apa itu korban maka saya jawab korban itu adalah anda sendiri (biar pusing orangnya maksudnya apa)

      kalau anda tanya saya berpikir itu apa ya saya jawab berpikir adalah apa yang kamu lakukan (silakan kalau mau berpusing2 dengan filsafat)

  73. Pengelola yang kami hormati..

    bagaimana ya ? sulit diskusinya ya..
    karena belum anda mencerna baik2
    sudah terlalu dini memberikan kesimpulan, apa-apa ketidakjujuranlah, penyimpanganlah atau terserahlah ..

    penilaian anda yg menganggap penyimpangan hnya karena berbeda dgn ulama, ulama mana!! ulama dulu saja sudah berbeda !!, dan HT tidak memihak diantara ulama yg ada, krn metode ulama yg mengkaji telah terjebak dgn cara2 filosof, apalagi yg dipermasalahkan adalah masalah yang tdk pernah dikenal di masa rasulullah, seandaianya ini perkara yg di bahas tentu sudah dijelaskan pada dalil yg sejelas2nya..

    intinya qada’ n qadar yg dipolemikkan hanya membuang banyak waktu, semua sdah jelas, hanya saja anda yg mau mengulang2 terus dan terjebak pada polemik yg sama.

    sy kira anda pun belum punya solusi menyelesaikan polemik dikalangan ulama dimasa lalu selain anda hanya membebek pada salahsatu pendapat yg anda begitu ngotot dan pada akhirnya memperpanjang polemik yg ada.

    padahal dalil yang digunakan sama, cuman cara penakwilan yg berbeda– tdk ada ilmu yg bisa didapat kecuali ribut2 tdk jelas—

    mencermati persoalan asal-usul qada n qadar saja sepertinya anda masih kabur sudah keburu menyimpulkan..

    dari pd sy keburu terpancing u / ta’ashub sama HT lebih baik sy sudahi, sy tdk menemukan bantahan cerdas tapi sekedar prasangka buruk anda saja..

    Afwan. mohon maaf bila ada kesalahan

    wassalam

    • krn metode ulama yg mengkaji telah terjebak dgn cara2 filosof, apalagi yg dipermasalahkan adalah masalah yang tdk pernah dikenal di masa rasulullah, seandaianya ini perkara yg di bahas tentu sudah dijelaskan pada dalil yg sejelas2nya..

      malah sudah dijelaskan dengan sejelas2nya itu (^_^) tinggal mengimaninya saja sebagaimana sabda Rasulullah

    • penilaian anda yg menganggap penyimpangan hnya karena berbeda dgn ulama, ulama mana!! ulama dulu saja sudah berbeda !!, dan HT tidak memihak diantara ulama yg ada, krn metode ulama yg mengkaji telah terjebak dgn cara2 filosof, apalagi yg dipermasalahkan adalah masalah yang tdk pernah dikenal di masa rasulullah, seandaianya ini perkara yg di bahas tentu sudah dijelaskan pada dalil yg sejelas2nya..

      tidak ada perbadaan antara Muhammad bin Idris As Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Malik bin Anas, Imam Abu hanifah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ad-dzahabi, Ibnu Taimiyah, Imam Bukhori dan seabrek ulama salaf lainnya dan memang diakui berbeda dengan taqiyuddin An-Nabhani.

  74. Tidak ada yang sulit saudaraku,

    Masalah ini sudah dibahas Rasulullah dalam hadits yang pernah saya tuliskan diatas, namun sayang hadits-hadits penjelasan Rasulullah itu anda jauhi dan anda kesampingkan sebagaimana hadits tersebut juga dijauhi dan dinafikkan oleh taqiyyuddin dalam kitab-kitabnya, itulah penyebab kekeliruannya karena ia tidak memahami aqidah dengan penjelasan Nabinya tapi langsung menafsirkan Qur’an dengan akalnya sendiri.

    Para ulama besar ahlus sunnah pun tidak ada satupun yang berbeda dalam kesepakatan bahwa surga dan neraka bagi tiap manusia sudah ditetapkan Allah namun meskipun sudah ditetapkan manusia tetap disuruh beramal, inilah ijma’ para ulama besar Islam dan mereka tidak pernah berselisih dalam perkara ini.

    Bahkan Umar bin Khatab pun ketika dibantah oleh pencuri bahwa ia mencuri karena takdir Allah maka Umar mengatakan bahwa ia menghukum potong tangan pun karena takdir Allah, jadi Umar tidak mengatakan seperti Taqiyyuddin bahwa mencuri itu lingkaran yang murni dikuasai manusia bukan yang ditetapkan Allah, namun Umar justru berkata bahwa ia menghukum juga karena ketetapan Allah.

  75. pengelolakomaht ini memang ngeyel, sudah dijelaskan begitu gamlang tetep aja ga paham2. sudah jangan di tanggapi lagi… percuma!!, hanya buang2 waktu aza.. masih banyak aktivitas da’wah yang harus dikerjakan. Umat ini harus dibangkitkan agar kemuliaan islam dan kaum muslimin segera kembali di muka bumi ini, Amiiin!!!

    • tidak ada perbedaan antara Muhammad bin Idris As Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Malik bin Anas, Imam Abu hanifah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ad-dzahabi, Ibnu Taimiyah, Imam Bukhori dan seabrek ulama salaf lainnya dan memang diakui berbeda dengan taqiyuddin An-Nabhani.

      apakah dengan statemen ini saja anda tidak mau berpikir ulang. sudah benarkah aqidah saya ? berpikirlah secara sehat.

    • Binaan HT itu dimana-mana sama, ngeyel, tanpa ilmu lagi. sudah dijelaskan begitu gamblang tetep aja gak mau paham. Salut sama HT yg berhasil mencuci otak para kadernya ^_^

  76. UNTUK SAUDARAKU PEJUANG ISLAM!!!
    BIARKAN ORANG HUJAT HIZBUT TAHRIR ATAU SYEKH TAQIYUDDIN ATAU SE;LURUH AKTIVISNYA SEKALIPUN….
    ASAL MEREKA TIDAK MENGHUJAT ISLAM DAN SYARIAT-NYA…

    INGAT..KITA BERJUANG BUKAN UNTUK RIDHA MEREKA, TAPI RIDHA ALLAH!!

  77. “TIDAK AKAN RIDHA YAHUDI DAN NASHRANI.. SAMPAI KALIAN IKUTI MILLAH MEREKA”

    KESOMBONGAN AKAL PASTI HANCUR OLEH AL HAQ!!

    ALLAH SAJA TEMPAT MENGADU

    • Setiap yang beda dgn HT kalau tdk dituduh JIL, pasti disamakan dgn yahudi, nasrani, budak thoghut atau antik zionis/kafir. Rekaman itu sdh melekat di benak dan hati mereka. Padahal cara berfikir mrk yg menafikan bahkan menyelisihi pemahaman imam2 terdahulu itu adalah ciri2 liberalisme yg disebarkan oleh Islam Liberal.

  78. Abuliwa,bekasi

    Akh Puji,darimana anda mendapat gambaran bahwa ht,memisahkan zat dan sifat Allah? Bukankah ht berpendapat hal tsb tidak perlu dibahas karena diluar jangkauan akal?

    • mungkin saya yang kurang menjelaskan, maksud saya bukan HTI berpendapat bahwa sifat dan Dzat Allah terpisah dalam artian sebenar2nya karena seperti saudara Abuliwa ketahui bahwa mereka berpendapat tidak perlu dibahas (diluar jangkauan akal). Yang saya maksud “memisahkan” disini adalah menafikkan karena menurut anggapan mereka hal itu tidak perlu dibahas dan itu sebagai konsekuensinya sedangkan Ahlunusunnah mengimaninya dan membahasnya tapi tidak “memasukakalkan masalah dzat dan sifat Allah ini” karena kita semua tahu bagaimananya Allah tidak akan masuk akal kita karena tanpa dalil kita tidak akan mengetahuinya. Maka cukuplah kita beriman mengenai sifat Allah sebagaimana datangnya (tapi bukan tidak dibahas lho karena ini merupakan salah satu tauhid)

      jazakallah khairan atas koreksinya dan kata “memisahkan” saya ganti yang lebih mendekati yaitu “menafikkan” silakan merujuk pada :
      http://alghuroba.org/print.php?read=139&title=Jawaban%20Untuk%20HTI

      mohon maaf kalau ada perkataan saya yang kurang jelas

  79. Akh puji,terima kasih penjelasannya,tapi saya tidak setuju dg kata-tidak membahas disamakan dg menafikan- karena dua hal tsb berbeda,lagi pula ht bukan tdk membahas sifat Allah. Ketika ht membahas maka terikat oleh kaidah berikut..1.sifat Allah tauqifiy .2.tdk boleh menambah sifat Allah selain yg terdapat dalam nash qathi.3.tdk boleh menjelaskan sifat Allah kecuali jika ada nash qathi
    ,contoh sifat SAM’U diambil dari ayat 181 qs 2, ‘Innallaha sami’un ‘alim’

  80. Akhi puji,ht membahas qadha qadar dalam beberapa point:
    1.qadha dalam nash
    2.qadar dalam nash
    3.qadha wa qadar,dlm pembahasan mutakalimin.
    Ketika anda menggunakan nash dlm membahas qadha qadar,maka masuk dalam point 1 dan 2, selama ini pembahasan di point 3, sehingga terkesan tdk nyambung.

  81. saudaraku abu liwa yang diberkahi Allah,

    memahami nash harus dengan petunjuk rasulullah, jangan memahami nash dengan akalnya sendiri.

    pemahaman rasulullah atas nash2 yang ada sebagai berikut :

    “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka (namun) berusahalah (ikhtiar) maka akan dimudahkan”
    “Barangsiapa ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”.

    [HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad-shahih-].

  82. Akhi pengelola, saya belum pernah menemukan syabab ht yg menolak hadis tsb. Hanya saja pembahasannya masuk dalam katagori point 1 dan 2, bukan dipoint 3. Syukran

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Apakah benar anda tidak menemukan yang menolak hadits tersebut, kalo benar silahkan anda download diskusi saya dengan aktivis ht diatas maka anda akan temukan.
      Tapi jika anda tidak mau susah download, anda bisa buka kitab anda sendiri pada kitab Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) Taqiyyuddin menyatakan :
      «فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)
      “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan, MENUNJUKKAN bahwa petunjuk dan kesesatan adalah DARI PERBUATAN MANUSIA ITU SENDIRI, BUKAN DARI ALLAH.”

      Coba anda bandingkan dengan hadits ini :

      “Barangsiapa ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”

      Bandingkan juga dng hadits :

      Dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda :
      “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya yang dia akan menjalaninya”
      (HSR Bukhari Muslim)

  83. Akhi bersabarlah untuk tdk mudah suudhan,
    Saya akan coba jelaskan
    Makna QADAR dlm quran dan hadis, adalah tidak ada sesuatupun yg dibumi dan langit kecuali Allah telah menetapkan dan memutuskan keadaan disisiNya,apasaja yg ditetapkan Allah pasti akan terjadi.Qadar juga bermakna catatan yg ada di lawh al mahfudh,Qadar juga berarti catatan mengenai Ilmu Allah. Ini adalah pemahaman ht tentang Qadar,
    Jadi ht juga percaya akan ketetapan Allah dalam hadis tsb ya akhi,maka gugurlah tuduhan akhi pengelola,adapun masalah petunjuk dan kesesatan ada bahasan tersendiri

  84. Saudara abu liwa yang diberkahi Allah,

    Pertama,
    Saya sampaikan isi kitab hizb apa adanya dengan sumber rujukan langsung dari kitab mutabanat hizb, saya juga sampaikan bukti hasil diskusi langsung dengan aktivis hizb, tapi anda dengan entengnya mengatakan saya bersuudhon.

    Padahal anda tidak satupun menuliskan rujukan anda dari kitab anda sendiri dengan kata lain apa yang anda sampaikan itu adalah pendapat pribadi anda bukan pendapat taqiyyuddin.

    Kalo memang kita hendak bicara pendapat anda pribadi maka silahkan anda jawab pertanyaan saya ini dengan pendapat pribadi anda sendiri :
    JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???

    Kedua,
    Anda (hizb) membedakan bahasan antara qadar dengan petunjuk dan kesesatan seakan keduanya tidak terkait, padahal sudah menjadi keyakinan bagi ummat Islam bahwa petunjuk dan kesesatan adalah murni berasal dari Allah (ketetapan Allah) dan dalilnya sangat mudah bahkan selalu kita ucapkan, yaitu dalam al fatihah dikatakan “dan berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus” kemudian di ayat terakhir “dan bukan jalan orang yg sesat”, maka disini jelas petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Allah.

    Maka bandingkan dengan fatwa taqiyyuddin dalam Syakhshiyah Al-Islamiyah, taqiyyuddin berkata :
    “… Petunjuk dan kesesatan adalah DARI PERBUATAN MANUSIA, BUKAN DARI ALLAH.”

    Inilah salah satu penyimpangan besar taqiyyuddin, innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

  85. Akhi pengelola,coba anda simak pendapat taqiyudin.:..’berdasarkan hal ini kita dpt menjelaskan bhw makna2 yg terdapat didlm ayat dan hadis2 bukan sprti yg dimaksudkan dan diperselisihkan oleh mutakalimin. Yg dimksd adalah KETENTUAN DAN KEMAHATAHUAN ALLAH,yakni KETETAPANNYA DI LAWHIL MAHFUZ….,(Syakhsiyah 1 bab al qadar,hal 101,PTI 2003) sekali lagi,gugurlah tuduhan akhi

  86. Saudara abu liwa yang diberkahi Allah,

    PERTAMA,

    Coba saudara teruskan sedikit kalimat dalam paragraf tersebut, kalimat selanjutnya yang merupakan kalimat kesimpulan justru anda hilangkan, yaitu perkataan taqiyyuddin “…Jadi, tidak ada hubungannya dengan pembahasan qadla dan qadar seperti yang digembar-gemborkan para mutakallimin”.

    Nah, jika taqiyyuddin sendiri mengatakan bahwa ketentuan dan kemahatahuan Allah tidak berhubungan dengan qadha dan qadar, lantas kenapa anda pakai perkataan taqiyyuddin ini untuk menggugurkan nasihat saya terhadap penyimpangan qadha dan qadar taqiyyuddin, padahal ini justru menunjukkan betapa bedanya fatwa-fatwa taqiyyuddin dengan ijma ahlus sunnah bahwa qadha dan qadar terkait dengan ketentuan Allah dan kemahatahuan Allah.

    KEDUA,

    Anda belum menjawab pertanyaan saya tentang zina dan pernyataan saya bahwa petunjuk dan kesesatan adalah ketetapan Allah bukan seperti yang taqiyyuddin katakan bahwa itu dari perbuatan manusia, bukan dari Allah.

  87. Akhi yg saya mksd adlh,anggapan ht mengingkari hds yg akhi sampaikan,dari sdt pandang al qadar (dlm nash bkn dlm qadha wa qadar versi mtkalimn)jelas ht tdk mengingkari hds tsb.maaf klu kurang jelas. al qadar dlm nash beda dg qada wa qadar yg dibahas mutakalimin tdk berarti ht mengingkari,bukankah ht memaknai al qadar berdasarkan nash quran hadis?
    Kedua.
    Pertanyaan akhi
    Berasal dr asumsi pendapt pribadi sy,dan sy dah bktikan itu dari ht,jd tdk relevan lg,
    Mengenai petunjuk dan kesesatn silahkan akhi baca syakhsiyah 1 disitu taqiyudin membahas ckp rinci ttg pemalingan makna,dan dalil yg anda sampaikan,selaras dg pemhmn ht,bhw petunjuk hrs diusahakan.
    ‘Katakanlah,’apabila aku tersesat sesungguhnya hanya menyesatkan diriku sendiri’.-saba 50

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Jika demikian fokus pembicaraan yang anda inginkan baiklah mari kita pertajam pembahasan hadits2 tersebut,
      namun sebelumnya apakah berarti anda mengakui bahwa pemahaman aqidah qadha dan qadar HT memang menyelisihi ijma ahlus sunnah, benar demikian ?
      Kemudian tolong anda jelaskan yang anda maksud mutakallimin itu apakah temasuk semua ulama ahlus sunnah ?

      Nah sekarang mari kita pertajam hadits2 tersebut, mari kita buktikan sama2 .

      Hadits pertama,
      “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka.”. [HSR. Muslim].

      Apakah ada pernyataan taqiyyuddin yang menyatakan bahwa manusia sejak lahir sudah ditentukan akan jadi ahli surga atau ahli neraka.

      Hadits kedua,
      “Barangsiapa ditetapkan menjadi ahli saadah (syurga) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya kepada syurga adapun mereka yang ditetapkan sebagai ahli syaqawah (neraka) maka dia akan beramal dengan amalan yang membawanya ke neraka”. [HR. Tirmidzi, Ahmad-shahih-].

      Apakah ada pernyataan taqiyyuddin bahwa amal perbuatan manusia telah ditetapkan juga oleh Allah baik amal baik (sholat, shaum, dsb) maupun amal buruk (mencuri, minum khamr, dsb).

      Hadits ketiga,
      “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya yang dia akan menjalaninya”. [HSR Bukhari Muslim]

      Apakah menurut taqiyyuddin atau menurut anda atau menurut HT, orang yang berzina itu dia sendiri yang menetapkannya ataukah Allah yang menetapkannya.

  88. Akhi pengelola,
    Untuk pertanyaan pertama,sy butuh penjelasan anda ttg pemahaman ht yg mana dan pendapat ijma ahlusunah yg mana.
    Pertanyaan kedua, ahlu sunah yg dimaksud taqiyudin adalah nama dari salah satu mazhab akidah pada saat itu,yg cirinya telah di sebutkan.dan sepanjang yg saya tahu ,4 imammazhab,syafi’i,malik,ahmad,abu hanifah bukanlah trmsk,jg dawud asfahani.
    Ttg hadis 1 dan 2, ttg pernyataan taqiyudin saya kira sulit melacaknya,mengingat beliau bukan nabi, yg perkataan dan tingkah lakunya slalu direkam oleh para sahabat.
    Ttg hadis ketiga,
    Ttg orang yg berzina. Maka hal itu tlah dituliskan dilawh mahfuzh, dari sisi perbuatan masuk dalam lingkaran yg dikuasai manusia,karenanya akan dihisab

  89. Assalamualaikum, maaf nih saya mau nyeletuk, misalnya pengelola blog ini sudah ditakdrkan masuk neraka, sia-sia dong segala amal ibadah yang selama ini dilakukan, kemudian beruntung banget misalkan orang2 penzina yang notabene berdosa pada masuk surga karena Allah sudah mentakdirkan masuk surga, gimana nih jadinya?
    maaf ya celetukan saya
    Wassalamualaikum.

  90. @abu liwa

    1. Pendapat HT bahwa qadha dan qadar tidak terkait amalan manusia yang dihisab (mencuri, berzina, dsb) dan bahwa amalan manusia yg nanti dihisab adalah murni manusianya sendiri yang menentukan terjadinya bukan Allah, sedangkan ijma ahlus sunnah mengatakan bahwa qadha dan qadar justru terkait amalan manusia dan semua amalan manusia yang menentukan terjadinya adalah Allah.
    2. Pertanyaan saya yang kedua bukan siapakah ahlus sunnah namun siapakah mutakallimin menurut taqiyuddin dan apakah termasuk para ulama ahlus sunnah, mohon dicermati lg pertanyaannya.
    3. Berarti anda tidak punya bukti taqiyyuddin tidak menafikkan hadits tersebut sehingga anda tidak berhak menyatakan “gugurlah pendapat anda” sebagaimana yg anda katakan sebelumnya.
    4. Anda tidak menjawab lagi pertanyaan saya. Yang saya tanyakan apakah manusia yang menetapkan terjadinya perzinaan manusia itu ataukah Allah yang menetapkan, sementara anda hanya menjawab dengan jawaban yang justru bertentangan makna karena anda katakan itu “telah tertulis di lauhulmahfuz” maka ini berarti telah ditetapkan Allah sejak zaman azali, namun setelahnya anda katakan masuk dalam “lingkaran yang dikuasai manusia” maka ini berarti manusianya yang menetapkan terjadi tidaknya hal itu, maka ini adalah jawaban yang saling bertentangan makna.

    @Sarka

    Celetukan anda sudah dijawab oleh Rasulullah dalam hadits shahih :

    “…maka demi Zat yang tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, sesungguhnya seseorang kamu beramal dengan amalan ahli syurga sehingga antara dia dan syurga tinggal sehasta saja lalu dia didahului dengan kitab (takdir) maka dia beramal dengan amalan ahli neraka kemudian dia masuk neraka, dan seseorang kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga antara dia dengan neraka jaraknya sehasta saja, lalu dia didahului takdir maka dia beramal dengan amalan ahli syurga kemudian dia masuk syurga”. [al-Bukhari & Muslim].

    Jika seorang hamba ditetapkan masuk neraka maka ia tidak akan terus menerus beribadah namun ia akan bermaksiat.
    Namun orang yang terus menerus berzinapun tidak akan masuk surga melainkan pasti takdirnya di neraka, itulah ketentuan Allah yang ada dalam hadits tersebut.

    Lantas kenapa kita masih berikhtiar (beramal) adalah karena takdir itu tidak pernah diberitahukan pada kita dan kita yakin dengan kita melakukan amalan ahli surga maka berarti takdir kita tertulis masuk surga, insyaAllah.

  91. sepertinya qodho-qodar HT tdk spt yg dituduhkan oleh Koma HT deh. Anda sdh baca juga kitab saksiyah?

    • Silahkan simak koment saya sebelumnya, hampir semua rujukan saya justru berasal dari kitab syakhsiyah al islamiyah HTI, dan saya sudah baca berulang kali kitab tersebut insyaAllah

  92. Kalau ingin penjelasan ttg bab qodho qodar, silahkan anda baca buku : Islam Politik dan Spiritual karya Hafidz Abdurrahman ketua dpp hti.
    Pasti penjelasannya tdk yg spt anda ungkapkan.

    • Saya tidak menjelaskan dengan pemikiran pribadi tapi saya hanya sekedar menuliskan isi kitab2 mutabanat HT.
      Adapun buku Hafidz Abdurrahman posisinya tidak lebih tinggi dari kitab2 mutabanat HT.

  93. amien ya robbal alamien

  94. KAN DIADAKAN BEDAH BUKU “MADZHAB AL-ASY’ARI” PLUS DEBAT AKIDAH DI SAMPANG MADURA 1 AGUSTUS 2010 DI GEDUNG PKPN SAMPANG. SEMUA PENGUNJUNG TIDAK DIPUNGUT BIAYA ALIAS GRATIS….! DEMI DAKWAH.
    BUKU “MADZHAB AL-ASY’ARI” KARANGAN UST IDRUS RAMLI

    PEMBANDING YANG AKAN HADIR
    DARI JIL, HTI JAWA TIMUR, SYI’AH, WAHABI DAN AHLUS SUNN…AH
    KONTAK PERSON
    USTADZ FAUZI
    081913506679

  95. Dari mana pemilik blog ini bisa mengatakan bahwa menurut HT pilihan kebaikan dan keburukan itu diciptakan oleh manusia sendiri? Di kitab apa kalimat macam itu ada wahai yang mengaku ahli tentang HT?

    Hati-hati, anda jangan sampai membuat-buat perkataan dan menisbatkannya kepada orang lain!

    Saya bisa menunjukkan fakta dari kitab-kitab HT yang berbeda dengan apa yang anda katakan!

    Menurut HT, Pilihan yang ada pada manusia, untuk melakukan perbuatan baik/buruk sama sekali tidak mengurangi sedikit pun sifat ke”Maha Penciptaan Allah” sifat keMaha-Kuasa-an Allah, MahaBerkehendaknya Allah dll. Karena Allah-lah yang memberi manusia semua itu, Allah yang memberi manusia qobiliyah (potensi) untuk melakukan perbuatan baik dan buruk, dan Allah juga berkehendak dan menciptakan adanya jenis perbuatan baik dan buruk di muka bumi ini. Jika Allah tidak menciptakan dan tidak menghendaki, niscaya tidak ada perbuatan baik dan buruk.

    Nampaknya halaqh anda tidak sampai Asy Syakhshiyyah jilid I. Atau mungkin anda tidak pernah halaqoh dengan HT sama-sekali?

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Saya tidak pernah mengatakan “menurut HT pilihan kebaikan dan keburukan itu diciptakan oleh manusia sendiri”
      kapan dan dimana saya mengatakan itu ?
      Jangan lebay ya akhi…

      Yang saya katakan adalah : menurut HT amal baik dan amal buruk adalah ditentukan manusia sendiri (lingkaran yang dikuasai manusia).

      Untuk memperjelasnya silahkan anda jawab pertanyaan saya ini :
      JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???

      • Bengkel Fikrah

        Pada tanggal 20 mei 2010, anda berkata “Itulah kenapa saya katakan HT salah dan HT = Qadariyyah,
        karena HT mengatakan bahwa pilihan perbuatan itu yang menciptakan manusia sendiri bukan Allah.”

      • Subhanallah ternyata antum benar dan saya yang salah dalam menulis, sungguh maksud saya bukan demikian, dan untuk itu sudah saya koreksi kesalahan tulis saya, silahkan anda simak kembali diatas.

        Demikian koreksi tulisan saya semoga cukup jelas, namun sebenarnya intinya tetap sama bahwa dalam perkara itu HT = qadariyyah, jadi hanya salah dalam menuliskan maksud namun tidak merubah esensinya, jazakallahukhairan atas koreksinya, dan saya hanyalah manusia biasa yang bisa khilaf dan lupa, barakallahufikum.

    • Dugaan tidak akan menghasilkan kebenaran. Kesimpulan itu di akhir, bukan di awal. Anda sendiri sdh baca kitab tsb? ^_^

  96. Tuduhan bahwa HT adalah qodariyah merupakan takfir, sebab qodariyah itu menolak kemahatahuan Allah dan sifat MahaKuasanya Allah. Mereka mengatakan “Allah tidak tahu dan tidak menghendaki perbuatan ma’shiyat sebelum manusia menciptakan dan melakukannya”. PErkataan ini disepakati oleh umat islam, termasuk HT, sebagai kekafiran.

    Apakah anda menuduh HT seperti itu?

    • MasyaAllah, saya tidak pernah berucap HT menolak sifat keMaha Tahuan Allah, coba tunjukkan kapan dan mana pernyataan saya yang seperti itu.
      Ini fitnah atau antum saja yang lebay ya akhi…
      Hati-hati menuduh orang ya akhi…

      • Bengkel Fikrah

        Qodariyah, anda tahu apa artinya? Qodariyah adalah sekte yang menolak sifat kemahatahuan Allah. Seperti yg dikatakan oleh para imam sunni, bahwa mereka berkata “Allah tidak mengetahui adanya maksiyat sebelum manusia melakukannya”. mereka juga berkata “Allah menciptakan asas segala sesuatu, kemudian meninggalkannya tanpa tahu masalah-masalah cabangnya”. Itulah qodariyah. Nampaknya anda perlu baca lebih banyak tentang masalah firoq sebelum menyematkan label “qodariyah” “mu’tazilah” dll.
        Hati-hati menyematkan stempel pada orang lain! Kami meyakini bahwa Allah Maha Tahu, yang kecil dan yang besar, yang tampak dan yang tersebunyi, yang pernah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi sampai hari kiamat. Allah juga tahu siapa yang amal baiknya akan berat dan siapa yang amal buruknya yang lebih berat, sehingga dia telah menetapkan siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka

      • Yang dimaksud menolak bahwa Allah Maha Tahu manusia akan melakukan maksiat atau tidak adalah karena Qadariyyah dan HT sama-sama mengatakan maksiyat itu manusia sendiri yang menentukan terjadinya bukan Allah yang menentukan, hal ini menyelisihi ke Maha Tahu an Allah karena apabila Allah telah Tahu bahwa manusia akan berbuat maksiat esok hari maka berarti Allah telah menetapkan hal itu sebelum manusia itu berbuat.
        Jadi maksudnya bukannya langsung meniadakan sifat al ‘ilm milik Allah.

        Qadariyyah muncul pada tahun 80 H yang berasal dari ‘Amr bin ‘Ubaid dari Bashrah yang bersepakat dengan Washil bin Atha’ Al-Makhzumi dari Madinah dalam suatu pemikiran, yaitu masalah taqdir dan sifat Allah yg terkait itu, maksudnya adalah dalam perkara amal baik dan amal buruk yang dihisab Allah yang berujung pada petunjuk dan kesesatan serta surga dan neraka menurut mereka semua itu ditentukan manusia sendiri bukan ditentukan Allah. (Lihat Siyar A’lam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi, 5/464-465, Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48, dan Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821)

  97. So, untuk pemilik blog: pelajari fikrah mutabanat HT lebih cermat! saya tidak melarang antum berkomentar, tapi tolong, penisbatan suatu fikrah kepada HT harus akurat dan valid, jangan ngarang sendiri dan ngawur!

    • Saudara sesama muslim yang diberkahi Allah,

      Dalam perkara amal sholih dan amal maksiyat maka Hizbut Tahrir meyakini hal itu murni diciptakan manusia dan tidak ditentukan Allah. Sehingga DALAM HAL INI Hizbut Tahrir bisa dikategorikan Qadariyyah atau menolak ketetapan Allah. Wallahul musta’an.

      • Bengkel Fikrah

        Allah Maha Pencipta, di “tanganNya’ lah beredar segala hal di dunia ini, baik kebaikan maupun keburukan. Semua ada karena dia Maha Pencipta. Manusia melakukan kebaikan secara hakiki, Allah menciptakan kemampuan pada diri manusia untuk berbuat dan memilih, apakah yang baik ataukah yang buruk. Tidak diragukan lagi, bahwa perbuatan manusia adalah makhluq, tapi kami bukan Jabariyah yang menyatakan bahwa manusia layaknya bulu yang ditiup angin, atau wayang yang dimainkan oleh dalang. Tidak ada satu nash qoth’i pun yang menyatakan hal itu secara dzohir.

      • Antum semua jelas bukan jabariyyah ya akhi, dan yang antum tuduh jabariyyah itukan justru ahlus sunnah.
        Tapi antum bisa termasuk qadariyyah karena dalam perkara amal sholih dan amal maksiyat maka antum meyakini hal itu murni diciptakan manusia dan tidak ditentukan Allah.
        Antum dalam perkara amal baik dan amal buruk yang dihisab Allah yang berujung pada petunjuk dan kesesatan serta surga dan neraka menurut antum semua itu ditentukan manusia sendiri bukan ditentukan Allah.
        Inilah kenapa saya katakan antum qadariyyah.

        Untuk memperjelasnya silahkan antum jawab pertanyaan saya ini :
        JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???

  98. kadang saya mau tertawa melihat umat islam di indonesia, klo masalah aqidah debatnya sampai mau angkat pedang beda pemahaman saling mengkafirkan, y wlaupun ini udah jd warisan nenek myang kita, tapi kenapa umat islam sekrang sangat kurang kepekaannya dalam melhat realitas.?
    percylh imam mahdi bkan seorang makhluk tuhan tetapi sebuah sistem lyknya agama islam(bkn agama bru lho), logika aja sekaliber rassulluh aja hanya mampu memberi kita petnjk2 yang sgt slit kita t’jmhkan,
    m’f atas kdgkln sy b’fkr. klo tdk p’cy blh abaikan coment sy ini.

    • Tidak pernah saya mengkafirkan saudara saya di HTI, dalam Islam seorang muslim yang salah bukan berarti ia kafir.

      Adapun tentang al mahdi yg anda katakan ia bukan makhluk, tapi menurut Nabi ia makhluk, apakah saya harus percaya omongan anda ataukah sabda Nabi ?
      anda sudah tahu jawabannya.

      • Bengkel Fikrah

        kalo syi’ah gimana? Rausan fiqr, ada organisasi syi’ah di tempat saya yang pakai nama ini. Saya gak tahu apakah yang komen di atas ikut di sana

  99. Afwan, pengelola, antum menggunakan sumber sekunder untuk menilai asas , menganalisa dan membandingkannya.

    Sumber sekunder, bisa salah memahami sumber primernya. Antum dan kontributor antum, bisa menjadi sumber tertier yang salah memahami maksud sumber sekunder antum.

    Semakin jauh antum membahas dengan sumber sumber macam itu, semakin jauh antum menyesatkan pemahaman para pembaca terhadap pemahaman qada qadar hti.

    Saran ana : baca buku nizhomul islam ( kitab 1 hti ), antum ngaku sebagai mantan hti, seharusnya sudah punya buku itu, kalau belum antum tidak boleh mengaku hti. Halqah aja mungkin belum pernah ? Kalau sudah halqah, antum mesti sudah punya. Baca bab qada dan qadar. Bandingkan dengan tulisan antum di atas. Ana yakin, antum akan merasakan kesalahan fatal atas tulisan antum.

    Masih belum jelas datangi maktab hizb di crown palace. Minta ketemu dengan pengurus di sana. Diskusikan maksud yang tertulis di buku itu. Belum puas, temui amir. Diskusikan …

    Insyaallah antum terpuaskan. Insyaallah antum sadar telah memutar balikkan fakta dan menyesatkan dengan mengambil sumber sekunder.

    Afwan akhi. Lakukan saran saya, jika antum memang ingin menjaga Islam ini tetap jaya. Jika tidak, lebih baik antum tutup saja blog ini.

    Wassalam.

    • Saudaraku yang diberkahi Allah,

      Nasihat itu jika benar maka pakailah namun jika salah maka tinggalkanlah, begitu pula nasihat saya pada ht yang sudah sering saya suarakan maka pakailah jika memang itu benar, namun jika salah maka tinggalkanlah.

      Saya tidak memakai data sekunder, data saya berasal dari kitab-kitab mutabanat ht dan dialog langsung dengan para aktivis HT.

      Anda menuduh saya salah memahami kitab ht, coba anda tunjukkan yang jelas mana letak kesalahannya, jangan cuma bisa mencela tanpa bukti.

      Coba anda cek kembali diskusi dan koment2 diatas, apakah ada aktivis ht yang berani menjawab pertanyaan sederhana saya yaitu :
      JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???

      Untuk kitab nidzamul Islam saya justru punya koleksinya dari tahun penerbitan yang berbeda yang ternyata isinya banyak berubah sehingga kitab nidzamul islam yang dikaji para daris baru saat ini sebenarnya bukan karya asli taqiyyuddin lagi.

      Untuk masalah mendatangi maktab sudah saya bahas sebelumnya, silahkan di cek kembali.

    • Kalau cuma bilang “salah”, tukang becak yg gak pernah ngaji juga bisa. Kalau bisa menunjukkan ini salah [menurut HT], yg benar begini, itu baru OK.

  100. Assalamu’alaikum…

    sebagai masyarakat indonesia saya sepakat untuk mas indra yang comen diatas…kalo bisa dilivekan trus nanti dibuat video streaming atau bentuk film di youtube dan disebar ke seluruh dunia…khan ht punya situs sendiri dan ada infokom nya katanya…nah bagus banget sambil diliput oleh media ht secara live biyar masyarakat dan para alim ulama juga tahu, dan masalah ini akan selesai karena akan diluruskan oleh masing2 pihak…kalo gini jadi terkesan pengecut dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang malah akan semakin memperbesar masalah….mas pengelola,jika anda yakin benar maka anda tidak akan takut sedikitpun, pasti anda akan datang ke kantor ht di crown palace tentang ketidakpuasan anda.. karena jika anda mati pun akan syahid karena membela kebenaran kalo anda benar…

    waslm

    • saya tahu cara kerja syabab HT di forum2 diskusi terbuka ya akhi, jadi percuma saja, insyaAllah saya tidak akan terjebak.
      Silahkan dilanjut diskusi di blog ini, kami persilahkan juga pihak HT untuk berkomentar.

  101. Akhi pengelola,saya ingin bertanya,
    Apakah ketika manusia berzina dia dipaksa oleh Allah untuk berzina,atau manusia sendiri yg melakukannya tanpa paksaan ?

  102. Silahkan dijawab dulu pertanyaan saya ya akhi, baru saja jelaskan, insyaAllah

  103. Akhi,
    Ttg bahasan qadha qadar mmg ada beda antara ht dan ahlusunah(asyariah) ttg siapa mutakalimin taqiyyudin sdh bahas dlm stu bab disyaksiyah 1,afwan sy tdk bisa tulis karna terlalu panjang,mengingat hp sy tdk qwerty,ttg zina jwban sy tdk bertentangan tergantung cara pandang.
    Jika akhi tdk bisa jawab tdk apa2,sy tdk maksa,tapi mungkin ini masalah yg penting agar tdk salah memahami pemikiran ht,syukran

  104. Berarti antum sudah mengakui bahwa HT berbeda aqidah dengan ahlus sunnah.
    Tentang mutakallimin saya tidak akan mengejar terlalu jauh, tapi kesimpulannya para ulama ahlus sunnah oleh taqiyyuddin juga dianggap mutakallimin (dalam perkara qadha & qadar).

    Tentang zina anda tidak menjawab pertanyaan saya, maka saya pun buat apa menjawab pertanyaan anda karena kita tidak bisa membandingkan penpadat kita mana yang rajih dan mana yang lemah.

    Padahal pertanyaan saya sepele :
    JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???
    Kalo saya akan saya jawab dengan lantang, Allah lah yang menentukannya.
    Nabi bersabda : “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya yang dia akan menjalaninya”. [HSR Bukhari Muslim]

    Nah, apa susahnya menjawab seperti itu ya akhi.

  105. mas pengelola..tidak ada yang percuma dalam mencari kebenaran yakinlah…ingat…sesungguhnya Allah maha mengetahui apa apa yang kalian kerjakan…

  106. Jazakallah khairan, silahkan dikritisi tulisan saya agar mas akri dapat terus mencari kebenaran.

  107. iya mas semua juga mencari kebenaran, tapi kebenaran itu harus didiskusikan dengan cara baik2 dan dipublikasikan ke masyarakat luas supaya masyarakat itu tahu tentang kebenaran atau kebathilan yang selama ini diserukan oleh orang2 yang kata anda mungkin bisa menyimpang atau anda kritisi, tapi anda juga harus besifat jentel jangan hanya bersembunyi dibalik blog ini, maaf mas pengelola, sarana diskusi di live kan sudah ht sediakan gak ada salahnya anda datang ke kantor nya di crown palace,dan diskusikan disana, stelah itu baru terbitkan buku nya, itu lebih bagus.. ini menyangkut keimanan umat islam mas, kelak semua akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah di yaumil akhir nanti,dan Allah maha mengetahui semuanya yang tersembunyi diantara hamba2 nya….

    tafadol itu hanya saran saja dari saya sebagai masyarakat indonesia smoga anda mengerti… :)

    • Blog ini lebih umum dan lebih bisa disimak publik ya akhi, sudah banyak syabab HT yang menyimak dan koment disini.
      Saya juga sudah lakukan diskusi di dunia nyata dan sudah saya upload di blog ini file mp3 nya.

      Jadi semua persyaratan untuk diketahui publik justru telah terpenuhi di blog yang mubarokah ini ya akhi.

      Tentang saran antum agar saya mendatangi kantor pusat HTI saya sampaikan jazakallahu khairan, insyaAllah akan dipertimbangkan setelah ada undangan resmi dan jaminan keamanan dari HTI.

  108. Akhi,kalau demikian cara pandang anda ttg akidah ht,maka akan banyak perbedaan akidah kaum muslimin dg ahlussunah mkn termasuk anda,
    Jika diajukan pertanyaan berikut,
    1.apakah allah punya tangan?
    2.kedua tangan allah kanan kiri atau kanan semua?
    3.dimana allah?
    Sy kira jawaban anda juga beda dg ahlussunah,yg artinya ANDA JUGA BEDA AKIDAH DG AHLU SUNAH.
    Kemudian ulama anda sendiri IBN HAZM berpendapat ada NABI WANITA,tentunya hal ini bertentangan dg ahlu sunah,
    ‘Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu,kecuali laki laki yg Kami beri wahyu kdpada mereka’ Nahl 43
    Mkn ini komen terakhir sy di tema ini, mhn maaf kalau ada kata yg tdk berkenan.

    Abuliwa,Bekasi

    • @abu liwa; pertanyaan ente ini adalah salah satu pertanyaan yg dicela oleh izzuddin abdusalam muallif kitab qowaidul ahkam

      dan pertanyaan semisal ini juga yg hardik oleh oleh imam malik kepada seorang yg bertanya tentang istiwa’,jawaban beliau:Al-Istiwa’ Ma’lum wal Kaifu ‘anhu Marfu’- Wal Imanu bihi Wajibun was Sualu ‘anhu Bid’atun. Artinya: “Al-Istiwa’ sudah diketahui (Dalam al-Quran dan dalam bahasa Arab), al-Kaif (Tehnisnya/sifat makhluk) tidak masuk akal (Mustahil), mengimaninya wajib, dan merpertanyakan kaif suatu bid’ah”.

    • Saudara abu liwa yang diberkahi Allah,

      Tidak semua permasalahan boleh disama ratakan ya akhi, masalah kesalahan aqidah qadha dan qadar berbeda dengan masalah2 yang anda sebutkan.

      Karena dalam masalah qadha dan qadar tidak ada ikhtilaf dan ahlus sunnah satu sikap saja dalam hal ini, adapun yang menyelisihi ahlus sunnah pasti hanya akan terjatuh pada dua kelompok saja, yaitu qadariyyah ataupun jabariyyah.

      Jadi jelas bagi siapa saja menyelisihi aqidah ahlus sunnah dalam perkara qadha dan qadar, maka ia adalah ahlul bid’ah, dan telah menyimpang aqidahnya, karena aqidahnya tidak sama dengan aqidah Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wa salam.
      Waliyaudzubillah.

  109. assalamu’alaykum..
    akh, izin copas dan posting di blog ya. barakallahu fiik..

  110. Tafadhol ya akhil karim, waiyyakum aidan

  111. wah komentar, walo gak semua dibaca intinya sama lah setuju, tidak setuju, dan mempertanyakan…………. kesimpulan sepintas kaya kembali pada masa washil bin atho (masa mu’takjilah) klo belum memahami alur iman ini akan menjadi bingung bila kita baca n bisa sesat menyesatkan, saya kira yang nulis artikel juga baru sepotong memahami maslah takdir ……… saya sarankan (hehehe………hanya saran) baca dulu semua bahasan tentang qodo n qodar dari semua kitab dengan teliti kritis maka akan didapat kesimpulan mana konsep qodo dan qodar yang masuk akal ………………
    saya tau nilai kebenaran bukan hanya di akal, tapi stidak2nya menghilangkan keraguan akan keimanan ini…………

    kita tidak tau yang di tulis din lauhimmahfudz itu perbuatan kita atau rumus akan sebab akibat dari perbuatan kita.
    dan mungkin hal ini adalah hal yang mutasyabihat yang kita tidak boleh mentakwilnya. (aduh wis ngantuk …………….. sakieu bae heula njih ………..) (enggih doro)

    (dalam kitab aqidah islam said sabik apa yang di paparkan HTI agak mendekati mungkin bisa dibaca sebagai rujukan)

  112. Saudaraku yang diberkahi Allah,

    Begini saja, jika antum sanggup menunjukkan satu saja ulama ahlus sunnah yang fatwanya sama dengan taqiyyuddin dalam perkara qadha dan qadar maka akan saya hapus tulisan saya tentang qadha dan qadar ini.
    Cukup satu saja ya akhi, silahkan saya tunggu…

  113. Alhamdulillah…membaca diskusi teman2 saya melihat dinamika yg sangat besar. Namun harapan saya pribadi adalah agar kita tetap mempererat Ukhuwah Islamiyah dan berharap dapat termasuk Golongan Yang Selamat yaitu golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya.
    “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’).
    “Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.” (An-Nisaa’: 59)
    “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)

    Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya, realisasi dari firman Allah:
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)

    Selamat berdiskusi saudara2ku, namun tetaplah berpegang pada tali Allah SWT. Semoga Allah SWT meridhoi.

  114. DISKUSI DI BLOG INI SELAMANYA TAK AKAN SELESAI. KALO EMANG MASING2 JENTEL UDAH JANJIAN KETEMU AJA , SEBUTIN ALAMAT DAN NO YANG BISA DIHUBUNGI. KOMA HT DAN TEMAN2NYA JUGA SEBUTIN ALAMATNYA JANGAN BERANI DI DUNIA MAYA BEGITU JUGA ORANG HT KALO EMANG NGAKU PENDAPATNYA KUAT HARUS BERANI JUGA SEBUTIN ALAMAT. BIAR JELAS MASALAHNYA. DAN NANTI HASILNYA POSTING DI SINI….OK!

  115. Di dunia nyata kan sudah ya akhi ? itukan ada mp3 nya, silahkan anda download dan dengarkan, apakah karena pihak HT kalah dalam diskusi itu jadi hasil diskusi itu tidak diakui dan harus diadakan diskusi ulang ?

  116. saya sepakat bwt wong ndeso kalo begini terus tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah tambah masalah…. alamat hizbut tahrir khan udah jelas di situsnya diposting..semua masyarakat, tokoh masyarakat dan umum udah pada tahu kok…tinggal yang punya blog ini apakah beliau mau memposting alamatnya disini or datang langsung untuk berdiskusi disana secara Live…
    entah alasan apa lagi yang beliau buat…kita tunggu saja…

    • Saya tidak sepakat, diskusi saya di dunia nyata tidak antum akui keberadaannya, malah minta diskusi baru, menyedihkan, apa sifat orang yang jentel ?

      • sifat seorang jentel itu berani bertemu/kopi darat dan membawa kitab2 rujukannya untuk didiskusikan didepan forum yang disaksikan banyak masyarakat, tokoh masyarakat, dll dan ditayangkan secara live, agar masalah ini tidak berlarut-larut, dan itulah yang diajarkan oleh islam kepada umatnya, setelah itu kembalikan lagi kepada Allah dan RAsul-Nya…kalo anda tidak berani ngaku aja gpp kok…kalo mau disini terus ya itu…pengecut namanya….

      • Saya tidak datang ke kantor pusat HT sebagaimana jubir HT tidak datang ke blog ini, jadi skor sama 1 :1.
        Tapi alhamdulillah saya tetap berdiskusi dengan aktivis HT di dunia nyata, dan ada bukti MP3 maka skor berubah jadi 2 : 1 hehe

        Kalo diskusi disini tidak berani apakah jentel ?
        Lihat syarat2 yang anda ajukan :
        1. Bertemu/kopi darat : saya sudah bertemu dan sudah saya upload hasil mp3 nya.
        2. Membawa kitab rujukan : saya menuliskan kitab rujukan secara lengkap bahkan kitab tersebut sudah bisa di download gratis.
        3. Disaksikan masyarakat : di blog ini sangat banyak sekali masyarakat yang bisa menyaksikan, bahkan bisa ikut berdiskusi, tanpa ada kuota batasan peserta.
        4. Ditayangkan live : blog inipun live dan bisa diakses semua kalangan.

        Saya hanya menasehati penyimpangan HT, dan alhamdulillah sudah banyak yang mengerti dan taubat, insyaAllah itu cukup.
        Saya tidak datang ke kantor pusat HT sebagaimana jubir HT tidak datang ke blog ini, jadi skor sama 1 :1.
        Tapi alhamdulillah saya tetap berdiskusi dengan aktivis HT di dunia nyata, dan ada bukti MP3 maka skor berubah jadi 2 : 1 hehe

      • Di dunia maya aja, lebih enak nyimaknya sambil santai. Ini sdh zaman IT masih pengen ngadain acara kayak zaman kuda gigit besi aja. Bagi sy sama aja sepanjang dalil dan rujukannya jelas. Bahkan sy bisa mengecek langsung dalil2nya kalau kebetulan punya kitabnya. Jd gak perlu repot2 ngangkut kitab2 yg berat. Biasanya kalau syabab HT sdh bilang begini, dia sdh kehabisan argument. “Copy darat aja”, itu adalah senjata pamungkas atau pengibaran bendera putih.

      • saya sudah sebutkan kalo diskusi disni akan semakin menambah masalah..provokasi, terprovokasi, menghina, menghujat dll ada disini..cobalah anda bersikap dewasa jangan kayak anak kecil, saya rasa diskusi di tempat terbuka akan lebih fair karena antara anda dan pihak HT saja dan teman2 disini yang lain juga bisa menyaksikan kiprah anda, saya juga menunggu kiprah anda di di diskusi terbuka secara LIVE…kalo anda tidak berani aja/takut kehilangan muka ya bilang terus terang gak usah beralasan ngolor ngidul kesana kemari…

      • Kalau orang gak pengen ketemu, masa mau dipaksa? Bro, kalau sama orang baik kayak Aa Gym mah, gak usah maksa juga, orang pada datang nyambangi. Btw, ente ngomong ini resmi atas nama HT atau malah mengundang tanpa sepengetahuan para pembesar HT?

  117. Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh

    Subhanalloh, ana sudah membaca semua diskusi di atas, bahkan diskusi di bab2 yang lain. Teruslah berjuang wahai KomaHT, yang hag tidak akan pernah dikalahkan oleh yang bathil. Cukuplah Al Qur’an dan Sunnah yang dipahami dan diamalkan para salafush sholih rujukan kita, dahulukan dalil daripada akal kita. Semoga Alloh meridhoi antum.

    Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh

  118. @ abu hanifah : Waiyyakum ya akhil karim, jazakumullah khairan.

    @ manatan : itu link untuk kesesatan wahhaby ya ? wah menarik juga,
    oh ya anda juga mantan ht ? gimana kalo buat juga blog http://httobat.wordpress hehe

  119. JUJUR PENGELOLAKOMAHT INI PINTER BERSILAT LIDAH… TAPI AKU SANGSI APA DIA BERANI TERUS TERANG SEBUTIN ALAMATX (DI DUNIA NYATA) SELAIAN DI BLOG INI SEBAGAI BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN SESAMA SAUDARUX, KAN KATANYA BLOG INI DIBUAT INGIN MENYELAMATKAN SAUDARAX ORANG HT. AKU YAKIN DIMANAPUN ALAMTNYA PENGELOLAH KOMA HT INI AKAN DIKUNJUNGI OLEH ORANG2 HT. SEBAB YANG SAYA DENGAR ORANG HT ITU PASTI MENDAHULUKAN DALIL YANG TERKUAT. SIAPA TAHU SAMPEYAN BISA “MENGALAHKAN” GIMANA?……..

    • Di dunia maya aja, lebih enak nyimaknya sambil santai. Ini sdh zaman IT masih pengen ngadain acara kayak zaman kuda gigit besi aja. Bagi sy sama aja sepanjang dalil dan rujukannya jelas. Bahkan sy bisa mengecek langsung dalil2nya kalau kebetulan punya kitabnya. Jd gak perlu repot2 ngangkut kitab2 yg berat. Biasanya kalau syabab HT sdh bilang begini, dia sdh kehabisan argument. Kalimat “Copy darat aja”, itu adalah senjata pamungkas atau pengibaran bendera putih. Iya kan?

    • Wong ndeso
      Ente bawa mandat dari HT buat mengundang pengelola blog ini? Jabatanmu di HT apa?

  120. Saya kan sudah berdiskusi langsung dengan aktivis HT di dunia nyata, dan sebuah diskusi tidak mungkin dimulai tanpa perkenalan kan ?
    Jadi para aktivis HT di tempat saya sebenarnya sudah kenal saya sudah tahu identitas saya dan sudah tahu wajah saya.
    Kalo anda mau tahu saya ya tanya saja ke para aktivis HT , kan sudah pada tahu semua.

    Tapi sayangnya setelah berdiskusi dengan saya dan kalah dalil kok ternyata yang lain bukannya pada minta ketemu saya tapi malah pada ketakutan ketemu saya ya…???

    • Jadi bingung nihhhh. Mana sih yang benar Syabab HT atau Mantan HT. Tolong dong JUBIR HTI.. Ust. Ismail Yusanto turun tangan menjawab tantangan bang Mantan HT. Jangan diam aja begini nih

  121. ehmm.. saya jadi pengen ketemu antum,
    masa iya mantan HT kayak begini?
    maksud saya,, kenapa ga ngomong langsung ajah sono ke ketua HT..?
    kayaknya bukan sikap seorang muslim deh, klw mengingatkan tapi ngomongnya malah ke yang laen. jadi sebenarnya mau “meluruskan” atau membantu org kafir yg antum sebut2 tadi??

    • Di dunia maya aja, lebih enak nyimaknya sambil santai. Ini sdh zaman IT masih pengen ngadain acara kayak zaman kuda gigit besi aja. Bagi sy sama aja sepanjang dalil dan rujukannya jelas. Bahkan sy bisa mengecek langsung dalil2nya kalau kebetulan punya kitabnya. Jd gak perlu repot2 ngangkut kitab2 yg berat. Biasanya kalau syabab HT sdh bilang begini, dia sdh kehabisan argument. Kalimat “Copy darat aja”, itu adalah senjata pamungkas atau pengibaran bendera putih. ^_^

  122. Saya tidak datang ke kantor pusat HT sebagaimana jubir HTI tidak pernah mau datang ke blog ini, jadi skor sama 1 :1.
    Tapi alhamdulillah saya tetap dan telah berdiskusi dengan para aktivis HT di dunia nyata, dan ada bukti MP3 maka skor berubah jadi 2 : 1 hehe

    Berita terbaru, kami sedang menggagas diskusi di dunia nyata dengan panitia dari Muhammadiyah, kontributor kami insyaAllah dua orang sementara dari HTI bebas sebanyak-banyaknya. Kami menyarankan Jubir HTI datang, sebab jika tidak berarti hanya berani menyuruh bawahannya saja agar resiko malu berkurang.

    Tapi nanti skor akan berubah jadi 3:1 lho….. kasihaan hehe

    • skor 3:1? ternyata tujuan debatnya cuma menang kalah to? na’udzubillahimindzalik…saya kira antum orang yang ikhlas

  123. assalamu’alaikum ya pengelola koma HT,
    saya punya alamat url yg katanya memuat tentang karangan asli syekh taqiyyuddin. tolong anda periksa, apakah betul demikian…?
    saya juga pernah nanya ke teman2 saya yg ikut HTI katanya data itu fitnah dan akhirnya saya minta data asli dari mereka lalu diberi pdf nidzamul islam bahasa indonesia, katanya memang susah mencari kitab yg bahasa arab, adanya yg terjemahan saja…
    ni alamatnya
    http://www.facebook.com/#!/album.php?aid=2046559&id=1586026054&fbid=1387984231404&ref=nf
    afwan ngerepoti…
    wassalam….

  124. Alhamdulillah bisa membaca hasil diskusi dan perdebatan diatas. Meski memanas, namun kebenaran tetap nampak dengan terang dan jelas. Jadi semakin manteb saya ngaji di HT.

    • Dan mengabaikan fakta2 yg telah nampak diungkapkan dalam tulisan dan diskusi2 ini ?? Apa cuman segini kualitas para pejuang khilafah ? Ckckckckckckk….

    • Tuh, benarkan? Otak mrk sdh dicuci. Sama aja dikasih tau atau tidak, mental men…Robocop ^_^

      • “Otak mrk sdh dicuci”

        comen eike…: barisan sakit hati mencoba melampiaskan kekesalannya disini..mohon di camkan ini ya saudaraku.. “Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa2 yang kalian kerjakan”… ^_^

  125. kalau dalam masalah bid’ah, apakah ada perbedaan antara HT dan Ahlussunnah? tolong penjelasannya…

  126. @adsifi : Link sedang dipelajari, namun memang ada fatwa-fatwa syabab HT yang seperti itu, hanya saja untuk dikatakan itu adalah fatwa yang resmi diadopsi oleh HT butuh pengkajian lebih jauh karena terkadang para syabab HT memiliki pendapat berbeda pada hal-hal yang tidak diadopsi HT.

    @Rasito : Masalah Qadha dan Qadar ini fatwa taqiyyuddin berbeda dengan ijma’ ahlus sunnah, jika anda bersikukuh mengikuti fatwa taqiyyuddin maka anda keluar dari aqidah ahlus sunnah. Padahal sudah saya sampaikan hadits2 Nabi dan para syabab HTI tidak ada satupun yang mampu membantah dalil hadits tersebut kecuali hanya dengan akal pikiran saja.

    @ adsifi : Justru dengan membuat pemahaman baru terhadap aqidah qadha dan qadar inilah maka berarti taqiyyuddin telah membuat bid’ah baru dalam agama ini dan tidak tanggung-tanggung yang dibuat adalah bid’ah aqidah.
    Faktanya tidak ada satupun generasi awal ummat Islam yang pemahaman qadha dan qadarnya sama dengan taqiyyuddin, baik itu Rasulullah sendiri, para shahabatnya, maupun para ulama.

  127. Kayaknya semua yang komen disini ga pake ilmu semua. Kalo yang komen langsung Jubir HTI pasti bermutu deh diskusinya. Ayo dong ust kasih pencerahan buat kita di blog ini.

  128. setiap perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan.. jgn sampai kita seorang muslim menjadi kafir.. terus lah istiqomah dan terus lah beribadah kepada Allah terus berusaha menerapkan islam yang sekarang mulai dtinggalkan umat.. kita bersatu agar islam menjadi rahmatan lil alamin, terus lah berusaha agar hukum-hukum, perintah Allah kita laksanakan dan menjauhi larangaNya secara sempurna walau perbedaan metode menerapkan islam itu tapi yang jelas kita satu.. semoga perjuangan kita dibls Allah dengan SurgaNya… ^^
    smg jg kita tidak tersibukan dengan perdebatan seperti ini.. karena umat telah menggu untuk diselamatkan dengan ISLAM..

  129. Diselamatkan dengan Islam yang aqidahnya benar yaitu Islam ahlus sunnah, bukannya Islam yang campur baur aqidahnya :)

  130. kalau saya sih lebih setuju pendapat HT, pendapat wahabi seolah2 mengatakan bahwa Allah SWT itu dzalim, sudah menentukan surga dan nerakanya manusia sebelum manusia diturunkan, lha kalau begitu, buat apa kita dihidupkan di dunia? kenapa g langsung dimasukkan ke surga atau neraka aja????
    yang betul menurut saya pendapat HT, bahwa itu adalah ilmu Allah, bukan ketetapan Allah sehingga manusia hidup di dunia ini untuk menentukan nasibnya di akhirat nanti

    • Kok wahabi lagi wahabi lagi, sebenarnya apa sih wahabi, apakah semua yang menasehati HTI selalu dituduh wahabi ? saya tahunya saat saya mentelaah kitab Ibnul Qayyim al jauziyah yang berjudul Syifaul alil fi masailil Qadha wal Qadr wal Hikmah wat Ta’lil, maka saya dapati pendapat Taqiyyuddin menyimpang dari aqidah ahlus sunnah, menyimpang dari nash dalil yang jelas.

      Mengenai KEDZALIMAN ALLAH yang anda pikirkan itu ternyata dahulu sudah pernah dibahas oleh para shahabat dengan JELAS sekali,
      simak riwayat berikut :
      Dari shahabat Abu Aswad Al Du’ali, ia berkata, Imran bin Hasin pernah bertanya padaku, “Bagaimana menurut pendapatmu mengenai apa yang dikerjakan dan diusahakan manusia pada hari ini. Apakah hal itu karena takdir yang sudah ditentukan bagi mereka lebih dahulu ataukah dikarenakan dari apa yang mereka terima dari ajaran Nabi mereka yang mereka tidak dapat membantahnya ?” Kemudian aku menjawab sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak, tetapi yang demikian itu dikarenakan takdir yang telah ditetapkan atas mereka”. Lalu ia bertanya, “APAKAH DENGAN DEMIKIAN ITU BUKAN SUATU KEDZALIMAN ?”. Maka aku dibuat sangat terheran oleh pertanyaan tersebut. Dan kukatakan, “Segala sesuatu telah diciptakan Allah dan dimiliki tangan-Nya”. Setelah itu ia berkata kepadaku, “Semoga Allah memberkatimu, sesungguhnya aku tidak ingin dari pertanyaan yang kuajukan kepadamu tadi kecuali hanya untuk menjaga pikiranmu. Sesungguhnya ada dua orang pezina yang datang kepada Rasulullah dan bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapatmu mengenai apa yang dilakukan dan diusahakan oleh manusia pada hari ini, adakah sesuatu dari takdir yang telah ditetapkan bagi mereka dan berlaku pada diri mereka yang mendahului ?” Maka beliau menjawab : “Benar, sudah ada takdir yang ditetapkan bagi mereka dan berlaku pada diri mereka”.
      Diriwayatkan dari Imam Bukhari dari hadits Imran bin Husain.

      Maka mana yang hendak anda ikuti ? pemahaman HTI ataukah pemahaman shahabat dan Rasulullah diatas ?

      • Bukan Mas Pengelola, kalau menasihati HT itu JIL, antek yahudi, nashrani, budak thoghut. Itu mmg sdh terpatri dalam benak dan hati mrk. Hanya iradah dan hidayah Allah yg mampu menyelamatkan mrk ^_^

      • @hening suara
        wah wah wah antum mirip dengan para Barisan SAkit HAti ih ^_^..ati2 kang mas..jangan bilang “benak dan hati mereka yahudi dan hanya iradah&hidayah Allah yang mampu menyelamatkan mereka” kalo apa yang antum katakan tidak benar maka yang antum katakan itu akan berbalik lho ke antum sendiri… ^_^

        “Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya: Wahai Kafir, maka sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yang disebut kafir itu memang kafir maka jatuhlah hukuman kafir itu kepadanya, namun bila tidak, hukuman kafir itu kembali kepada yang mengatakannya.” (HR. Ahmad dari shahabat Abdullah bin ‘Umar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiqnya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad no. 2035, 5077, 5259, 5824)

        salam sayang dari saudaramu… ^_^

      • @Abunawas
        Mana pernyataanku yg mengkafirkan? Sorry ya, ane bukan hizbut takfir. Nih kuposting ulang:
        Bukan Mas Pengelola, kalau menasihati HT itu JIL, antek yahudi, nashrani, budak thoghut. Itu mmg sdh terpatri dalam benak dan hati mrk. Hanya iradah dan hidayah Allah yg mampu menyelamatkan mrk ^_^

      • @hening suara
        oh gitu ya bunyi tulisannya… ^_^

  131. ilmu dan ketetapan Allah kan nantinya sama saja akhirnya… kalau Allah sudah mengetahui seseorang nantinya akan masuk surga, ya berarti kan Allah menakdirkan (menetapkan) seseorang masuk surga… toh Allah kan sudah tau takdir seseorang jadi ya sama saja…

  132. ilmu dan ketetapan sama? are science and decision same? mau pakai bahasa manapun juga beda bos, hehehe

    • Nama dan komentara anda klop. HT bilang mulkan addhon itu khilafah juga. Seolah-olah Nabi SAW gak bisa membedakan antara khilafah dan kerajaan.

  133. Bersabarlah wahai para pejuang khilafah,jalan tidak selalu mulus.mudah2 allah memudahkan jalan dakwah kita.tetap semangat.

  134. @ hening swara: antum knp? Tkt blog sampah ini gak ada pengunjung lg? Atw memang btl firasat sy bahwa kbanyakan yg komen di atas msh komplotan pengelola dan antum yg sengaja berpura2 pro kontra? Krn ganjil skli hatta yg mengaku syabab HT akhirny ‘bunuh diri’ mlh ada yg mengaku qadariyah suatu kalimat yg tdk akan di ucapkan anggota HT? Trus anda kira sy tdk bs menjawab muktazilah? DEMI ALLAH wkt itu sy bs jwb dan klo sy jwb mungkin akan membuat malu yg nanya sy,tp ALLAH maha tau sy sengaja menahan diri krn tkt ada secuil rasa ujub atw takabur krn senang bl sy jwb dan membuat malu yg menanya,krn syetan akan dgn mudah mempermainkan sy nti. Selanjutnya sy tegaskan sy bkn anggota HT,sy cm khawatir blog ini akan memecah belah umat apalagi pengelola yg tdk tawadlu (terlihat dr kata2nya lwt tulisan yg menyebut soal skor,mencerminkan bkn org yg patut di ikuti) amat senang akan perpecahan contohnya dia amat suka akan blog mantan salaf dll,sy khawatir di kmudian hr ada blog mantan salafush sholeh,mantan ahlu sunnah dan ujung2 nya nanti mantan islam? Satu lg sy lihat blog ini kental akan maksud namimah.. Waalahu a’lam

    • @Alex:
      Ada apa denganmu? Keberatanmu pd kalimat di atas dimana? penyimpangan akidah tdk bisa ditebus dgn “dzikir”; ya khilafah (33x). Atau anda mau bilang sebaliknya, gpp akidah menyimpang asal tiap hari berzikir: “ya khilafah, ya khilafah, nahnu muntazhiruunaka” (99x sehari)

  135. PRESS RELEASE

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Sehubungan dengan tidak ada lagi saudara di Hizbut Tahrir yang menunjukkan hujjah dan dalil dalam materi-materi diskusi di blog yang mubarokah ini, maka saya sampaikan bahwa saya tidak akan lagi berkomentar atau mengomentari hal-hal yang tidak terkait dengan materi diskusi dan hal-hal yang tidak bertujuan untuk menimba ilmu syar’i dengan hujjah dan dalil dari nash yang jelas.
    Hal itu bertujuan untuk menghindari perdebatan tanpa ilmu dan tidak bertujuan untuk beroleh kebenaran, yang kita disunnahkan menjauhinya sebagaimana hadits , “Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
    Dan sebagaimana telah berwasiat kepada kita pendahulu kita dari kalangan tabi’in Yahya bin Muadz :
    “Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.”
    Kepada seluruh kaum muslimin harap hal ini dimaklumi, dan di akhir bulan mulia yang penuh berkah ini saya dengan tulus memohon maaf atas segala khilaf yang saya lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja, begitu pula apabila antum semua memiliki khilaf terhadap saya maka saya dengan ikhlas telah memaafkan kesalahan antum terhadap saya sebagaiman hadits, “Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.” (HR Ibnu Majah)
    Apabila ada yang masih ingin berkomunikasi dengan catatan benar-benar serius ingin mencari kebenaran, dapat mengirimkan email ke kami di pengelolakomaht@yahoo.co.id atau bisa menghubungi salah satu rekan kontributor kami di no HP 081373441891 (yogi) sebagai perantara dengan kami.
    Demikian penyampaian kami, semoga Allah memberkahi kita semua.
    Nuun, wal qolami wa maa yasthuruun.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  136. aku rasa HT tu benar tentang kodha and kodhar karena laufulmahfud itu ilmu ALLAH yang ngak perlu di pikirkan .karena akal manusia tu terbatas and tAk bisA mikirin ilmunya ALLAH

    • “aku rasa!?” udah nggak pake dalil pake perasaan pula, zhonn kelas berat ini!!! katanya aqidah gak boleh pake dalil zhonn!!!??? gimana om??? lha ini dalil aja nggak pake kok malah bilang “aku rasa”??? aduh duh, HaTe-HaTe…

    • Waahh…ada lagi yg baru. Ngeluarkan statemen pke perasaan. Macam akhwat aja.

      • Baguslah kalau masih punya perasaan, biasanya mrk “mati rasa”

      • @hening suara
        mati rasa apa ente yang pernah dikecewain yang selanjutnya dendam kesumat dan disini (dunia maya) tempat pelampiasannya ?… ^_^

  137. @DJUDDI :
    Koment seperti anda ini yang membuat saya mengeluarkan press release diatas.
    Sudah tanpa dalil nash sama sekali, memfitnah saya lagi.
    Yang menyuruh memikirkan luasnya ilmu Allah juga siapa ???
    Sudahlah, kepada anda yang simpatisan HTI tolong jawab saja pertanyaan mudah ini :
    JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???
    Beranikah anda menjawabnya ?

  138. @ hening swara: hmpr smua dari 19x koment antum ana keberatan.. Brainwashing,terminator dll. Klo menjadi terminator apa yg mau di musnahkan??? Heran,amat berlebihan..

    • @alex : sudah pak gak usah dilayanin para barisan sakit hati itu, ya tidak menutup kemungkinan kan kalo beliau hening suara itu dulunya pernah menjadi barisan sakit hati bisa jadi sampe sekarang masih ada seonggok daging yg panas, luka meskipun udah sembuh tetep aja bekasnya masih ada… kalo dulu saya sering denger lagu cinta dari Stinky yg dinyanyikan oleh om Andre TAulani kira2 sepenggal bunyinya gini “Luka Lama Yang MAsih Tersisa”…. ^_^

      • Aha, itu sih cuma upaya ente mengalihkan masalah ^_^

      • @hening suara
        ada pepatah mengatakan “maling kalo dah nyuri mana mau ngaku”..ini cuma pepatah aza kok jadi jangan GR ya eike nyebutin maling…mirip dengan istilahnya ada dendam kesumat, cuma pelampiasannya disini… ^_^

      • Aahh….Tahu dari mana, akh abu nawas ??
        Antum ortunya mas Hening Swara yaa.. ?? :)

  139. @alex
    klo ada hujjah dan dalil dari antum mbok ya disampaikan to… klo anda tidak menyampaikannya ato menyembunyikan ilmu karena alasan akan memecah umat islam justru akan menyebabkan bahaya yang lebih besar lagi yaitu membiarkan saudara2 antum “keliru” aqidahnya. pkknya diniati lillahi ta’ala saja dan semoga syaitan nantinya juga tidak mudah mempermainkan antum… dan tentunya hujjah antum juga harus bisa dipertanggungjawabkan di forum ini, begitu juga agar forum ini bisa memutuskan hasil yang disepakati bersama dan tidak menggerutu di belakang…

  140. @ adfisi? : tadinya sy agak malas untuk komen lg.. Tp tkt ada salah sangka jd sy perlu meluruskan. Wkt itu sy di tantang untk mengadu ilmu menjawab sejarah muktazillah tp sy mengambil sikap menahan diri, dikarenakan itu tadi tkt ada rasa ujub atw takabur apa salah? Begitu ‘cerita’ nya pak. Jd salah alamat klo anda minta hujjah sama sy krn memang bkn hujjah yg sy tahan tetapi tantangan untk menjawab SEJARAH AWAL MULA mu’tazilah. Apa anda mau di tantang spt itu yg berkonotasi mengadu ilmu yang batas antara riya, takabur dan ikhlas amat tipis?

  141. Adapun mengenai Ilmu Allah, sesungguhnya ilmu-Nya
    tidak memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan.
    Sebab, Allah telah mengetahui sebelumnya bahwa manusia
    akan melakukan perbuatannya itu. Dilakukannya perbuatan
    tersebut bukan didorong oleh Ilmu Allah. Ilmu Allah bersifat
    azali, dan –Allah mengetahui- bahwa ia akan melakukan
    perbuatan tersebut. Mengenai adanya tulisan di dalam Lauhul
    Mahfudz, tidak lain merupakan perlambang tentang betapa
    Maha Luasnya Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
    Demikian pula halnya dengan Iradah Allah, tidak
    memaksa manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Yang dimaksud dengan Iradah Allah adalah “tidak akan terjadi sesuatu
    apapun di malakut (alam kekuasaan)-Nya kecuali atas
    kehendak-Nya”. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu di alam
    ciptaan-Nya ini yang kejadiannya berlawanan dengan
    kehendak-Nya. Jadi, apabila manusia melakukan suatu
    perbuatan tanpa dicegah Allah, tanpa dipaksa, dan ia dibiarkan
    melakukannya secara sukarela, maka pada hakekatnya
    perbuatan manusia tersebut berdasarkan Iradah Allah, bukan
    berlawanan dengan kehendak-Nya. Perbuatan tersebut
    dilakukan manusia secara sukarela berdasarkan pilihannya.
    Sedangkan Iradah Allah tidak memaksanya untuk berbuat
    seperti itu. (peraturan hidup dalam islam hal 37-38 : 2007)

  142. setiap organisasi termasuk memiliki kelemahaa, mungkin dalam hal ini, adalah kelemahan mengenai dalil Qadha dan Qadhar, namun bukan berarti pemikiran kekhalifahan menjadi hitam dan ikut2 an menghitam. bagi yang merasa tersakiti, karena lunturnya persaudaraan Islam karena hasil dialog, maka jangan lah merasa informasi kelemahan ini dianggap sebagai lunturnya persaudaraan Islam, karena ini adalah keharusan yang dismpaikan mengenai kelemahan HT dalam hal Qadha dan Qadhar. dan sebetulnya tidak ada kaitan sama sekali, dengan penghambatan akan dakwah ke ISlam, karena dakwah ISlam tentunya harus menyampaikan yang hak. disnilah fungsi adanya nasehat menasihati….apalagi ingin mendirikan ke khalifahan yang dimaksud.
    bagi pembuat blog ini, tentu saja, berani dengan fair, tidak akan menghitamkan orang yang memperjuangkan ke khalifahan. karena sesungguhnya apa yang sudah terjadi adalah merupakan ketetapan dari Allah SWT, karena aktifis HT telah memilihnya sebagai jalan nya, yaitu kekhalifahan…karena mereka mendapatkan pahala apa yang mereka usahakan, dan pembuat blog ini juga mendapatkan pahala jika menerngkan kelemahan setiap organisasi, termasuk organisasinya sendiri, dengan sayap blognya KOMA HTI…begitulah kira2 mas BLOG KOMA HTI

  143. apabila definisi qodho qodar-nya HT berbeda dg Ahlus Sunnah apakah berarti orang orang HT masuk neraka semuanya sebab perbedaan definisi itu ?

    • jika anda mendefinisikan sholat sebagai tidur terlentang apakah berdosa atau tidak menurut anda ?

      • anda keluar konteks ..
        permisalannya pun tidak nyambung karena jelas HT tidak mendefinsikan sholat dalam keadaan terlentang.
        definisi qodho adalah definisi “terhadap ide” , bukan definisi “tentang perbuatan” yang dijabarkan rukun2nya di kitab2 fiqh …

  144. @buat pengelola
    misalkan skarang saya jadi tukang palak dijalan , tukang main judi dan orang yang suka menzolimi orang yang sudah turun temurun dari keluarga saya apakah emang itu sudah takdir..terus bisa gak saya merubah takdir itu…ini kan udah takdir ya kira2 dosa gak saya melawan takdir…atau saya harus mencari islam dan mempelajari agama saya sendiri setelah itu saya mengerti bahwa ada 2 pilihan ini masuk ini dosa atau pahala dan masalahnya bisa gak saya menghindarinya/menjauhinya…kira2 gmana tuch dosa gak saya melawan takdir….??

    • Tidakkah anda tahu bahwa di malam lailatul qadar Allah menetapkan taqdir tahunan makhluqnya selama satu tahun.
      Makanya belajar lagi ya akhi…
      Semua ini akibat kebutaan atas dalil agama sehingga anda taqlid buta pada akal manusia.

  145. “JIKA KITA PERGI BERZINA KE LOKALISASI APAKAH ITU NASIB YANG SUDAH DITENTUKAN ALLAH SEBELUMNYA ATAU KITA SENDIRI YANG MENENTUKANNYA ???
    Beranikah anda menjawabnya ?”

    Jawab :
    ada dua macam jawaban untuk pertanyaan ini:
    1 Jawaban Akidah : bahwa segala sesuatu tidak akan terlaksana tanpa ada izin Allah. Jadi segala bentuk amal kita, termasuk zina tentu saja atas kehendak Allah (tentu saja kehendak Allah dalam arti hanya Allah saja yang tahu bentuk kehendak itu. Karena kehendak Allah tidak sama dengan kehendak makhluk)
    2. Jawaban Syar’i : Allah telah berfirman bahwa ia tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga ia merubah keadaannya sendiri\\ Allah menjanjikan bagi siapa yang berdoa dengan sungguh2 doanya pasti akan dikabulkan\\ Allah telah menunjukan dua jalan, jalan yang baik dan jalan yang buruk\\ Allah telah mengilhamkan 2 hal pada manusia, yaitu fujur(keburukan) dan taqwa(kebaikan)
    artinya setiap manusia diberi kebebasan memilih amal dan perbuatannya masing2 sesuai dengan pemahaman yang akalnya miliki tentang jalan, baik yang diridhoi(taqwa) maupun yang tidak diridhoi Allah(fujur). sehingga ketika kita pergi berzina maka hal itu ditentukan oleh pemahaman kita tentang pandangan Allah tehadap perbuatan zina tsb.
    adapun firman Allah tentang lauhul mahfudz, penciptaan amal perbuatan manusia dsb, dapat kita pahami dengan memahami terlebih dahulu ayat-ayat lain yang dapat menjelaskannya. karena Allah juga telah berfirman bahwa AlQur’an itu terdiri dari ayat2 nuhkam dan mutasyabih. yang muhkam menjelaskan yang mutasyabih. jadi tidak akan ada pertentangan dalam memahami ayat2 Allah bila kita senantiasa memahami alQuran secara menyeluruh. seperti pertentangan yang terjadi antara ht dan mantan ht ini.
    sabda Rosulullah :
    orang yang berijtihad dapat dua pahala jika ia benar dalam ijtihadnya. dan mendapat satu pahala jika ia salah dalam ijtihadnya.
    wallahu ‘alam bishowab

  146. Allah telah menetapkan Qada dan Qadar mahkluknya. tapi kita tidak akan pernah mengetahui hal yang telah ditetapkannya. kita hanya diperintahkan untuk beramal sesuai dengan perintah dan larangannya.
    dan sesuai dengan firman Allah bahwa manusia akan mendapatkan balasan atas kebaikan atau pun keburukan yang dilakukannya walau hanya sebesar biji zarah.

  147. Ternyata jawaban anda tentang zina sangat berbeda dengan jawaban Rasulullah, apakah anda merasa lebih pandai dari Rasulullah ?

    Ketika Rasulullah ditanya masala ini beliau menjawab :
    Rasulullah bersabda :
    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya yang dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]

    Silahkan anda pelajari lagi kitab bukhari-muslim.
    Atau jangan jangan anda lebih mementingkan mempelajari kitab taqiyyuddin daripada bukhari dan muslim ?
    wallahulmusta’an

    • udah pak jangan jangan comen beraninya disini…ayo diskusikan secara terbuka dengan pihak HT sana…

      • Dari kmaren-kmaren cuman komen bgini aja. :(

      • @ridho : jangan manyun dho..justru ente harus manyun ketika pengelola ini tidak berani mendiskusikan masalah ini didunia nyata…karena kwalitas orang bahlul or cerdasnya bisa dibuktikan ketika dia telah berada didepan forum diskusi dan disaksikan banyak orang, para ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat seperti qt2…kalo disini bisa comot sana n comot sini..dan orang2 provokator, goblok, bahlul, pinter semuanya nyatu yang ujung2nya saling hujatm emosi, ledek2an, musuhan yg malah berdosa dan nambah perpecahan…daripada gitu mendingan pengelola suruh diskusi aja ama pihak ht secara terbuka dan dilive kan…pasti semuanya beres… :)

  148. udah mas akri jangan beraninya cuma minta-minta diadakan diskusi terbuka dengan pihak HT, coba comment disini …

    • gak seru kalo disini sampai kiamat pun,gak akan selesai selesai..mendingan di forum terbuka aja dan di Live kan baru bisa selesai masalahnya dan qt2 juga kan bisa nonton bareng or terutama saya ingin mengabadikan diskusian pihak ht dan pengelola ini di youtube..kan saya udah bilang disini itu gak akan menyelesaikan masalah dan yang ada malah menambah massalah..saya hanya fokuskan ke satu titik yaitu agar pengelola blog ini datang ke crown palace dan mengadakan diskusian terbuka dengan pihak HT disamping itu kan bisa semakin mempererat tali ukhuwah antara pengelola dan pihak HT, dan setelah itu kembalikan semua masalahnya kepada Allah dan RAsul-Nya…itu yang lebih bagus bukan disini yang malah banyak provokasi2 dari orang2 bahlul yang tidak bertanggung jawab..cobalah bersikap dewasa.. :)

    • @pengelola :saya kan hanya masyarakat indonesia yang ingin melihat sepak terjang anda di dunia nyata..jadi, anda berani gak mendiskusikan masalah ini didunia nyata… ?..berfikirlah dewasa pak jangan kayak anak kecil lah….

    • @pengelola : kalo anda tidak berani2 n tetep ngeyel dengan alasan yg dibuat buat, berarti andalah sang perusak tali ukhuwah sesama muslim….maaf jangan GR ya pak, ini hanya perumpamaan aja kok karena ketidakberanian anda yang cuma beraninya disini, dan setelah diskusi terbuka dengan pihak HT,cobalah sambil silaturahmi dan bersalam salaman dengan pihak HT disana seperti para tokoh masyarakat lainnya,itu pasti akan menambah suasana keimanan kita, insyaAllah berkah…

  149. KOMA HT itu cuma di dunia maya..secara resmi aku belum pernah lihat kantornya, atau orangnya yang langsung bertatap muka ngaku dari KOMA HT..tapi kalau seperti JT atau salafi memang ada..dimana yaa tempat ngumpulnya?

  150. “…. dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’.” (Al-A’raf: 79)

  151. @pengelola
    afwan akhi, ana hanya ingin menegaskan bahwa dalam al-qur’an itu ada ayat yang muhkam dan ada juga ayat yang mutasyabih. dan dalam alQur’an tidak mungkin ada ayat yang saling bertentangan. tidak ada yang menyangkal bahwa Allah menciptakan perbuatan manusia juga tidak ada yang menyangkal hadis Rosulullah tentang perbuatan zina. yang bermasalah justru antum sendiri yang seolah meniadakan amal perbuatan manusia, bukankah Allah telah berfirman bahwa manusia akan dihisab berdasarkan amal perbuatannya.

  152. subhanallah… Mahabenar ALLAH dalam segala firmanNya…. AL Quran telah meletakkan kaidah dasar untuk untuk berfikir ilmiah, yaitu sebuah proses berfikir yang diawali dengan pengamatan, menghimpun data, menarik kesimpulan dan terakhir menferifikasikan kembali kebenaran kesimpulan yang telah diambil…. Di dalam AL Qur’anul karim terdapat ajakan yang jelas untuk melakukan perenungan, berfikir, melepaskan diri dari ikatan maupun menyebutkan asas2 berfikir Ilmih serta prosedur eksperimen ilmiah yang ternyata telah di pahami oleh para Ulama kaum Muslimin….
    Rosulullah bersabda:
    berfikirlah selama sesaat lebih baik dari pada selama satu tahun

  153. afwan akhi. ana lampirkan contohnya
    QS. An-Nisaa : 111
    111. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
    QS. Fussilat : 40
    40.Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

    dan

    QS. Ash-Shaffat : 96
    96.Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

    sekilas maknanya saling bertentangan tapi jika kita pikirkan baik2 dan merujuk pada tafsir para ahli tafsir maka akan ditemukan maknanya tidak saling bertentangan tetapi saling menjelaskan satu sama lain. disinilah kewajiban kita untuk berpikir
    “Sesungguhnya sejelek-jeieknya makhluk di sisi Allah adalah tuli, bisu, yang tidak berpikir. (QS. 8:22)”

    jodoh termasuk rizki kita, sudah ditentukan Allah,

    namun semua ketentuan itu bukan satu ketentuan, tapi bisa bermilyar milyar ketentuan, misalnya begini, hamba ini bisa beramal ini dan ini, jika ia beramal ini dan ini maka rizkinya sekian, ajalnya sekian, dan ia dineraka atau disorga,
    jika ia beramal ini dan ini, maka rizkinya sekian, jodohnya si fulan, wafatnya sekian, dan masuk neraka
    sebagaimana firman Nya : Kami jadikan bagi mereka dua jalan (QS Al Balad 10)
    juga firman Nya : Kami memberi mereka jalan (yg mereka pilih) apakah mereka bersyukur atau kufur (QS Al Insan 3)
    maka kembali masalah qadla, hal itu mutlak namun relatif, dengan doanya bisa saja qadlanya diganti dg yg lebih baik, atau menjadi lebih buruk.

    manusia melewati kehidupan dan ketentuan Allah swt namun ketentuan Allah bisa berubah, sebagaimana kita memahami bahwa Qadha (ketentuan Allah) ada yg Mubram (tak bisa berubah) dan ada yg Mu’allaq (bisa berubah), sabda Rasul saw : “Doa dapat merubah Qadha” (Mustadrak ala shahihain hadits no.6038).
    Qs. Al-Mu’min : 60
    60. Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…

    berbuat dan beramal, dan memasrahkan segalanya kepada Allah, kita mepunyai keinginan dan berusaha, namun bila kehendak Allah berbeda maka kita harus ridho dengan kehendak Nya swt.

    kebaikan datangnya dari Allah kesalahan muncul dari ana sendiri yang banyak dosa dan khilaf
    “Apa yang nenimpamu berupa kebaikan datangnya dari Allah, dan apa yang menimpamu berupa keburukan datangnya dari dirimu sendiri. (QS. 4:79)”

    afwan jiddan. ana masih belajar
    wallahu ‘alam bishowab

  154. kepada seluruh ikhwah yang hadir diblog ini hendaknya menjauhi penggunaan kata2 kasar, menjelek-jelekan, menuduh(su’uzhon) atau memfitnah (afwan bila ana pernah berbuat demikian secara tidak ana sadari, semoga Allah memaafkan dosa dan khilaf ana).
    semoga apa yang kita lakukan disini mendapat ridlo Allah SWT…

  155. @ Mirsa :

    Jawaban anda tentang takdir zina sangat berbeda dengan jawaban Rasulullah,

    Ketika Rasulullah ditanya masalah ini beliau menjawab :

    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya, yg dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]

  156. @pengelola
    insya Allah tidak akan berbeda jika kita menafsirkan hadis itu tidak berdasarkan zhohir hadisnya saja.
    baik ana maupun antum pasti memiliki takdir zina seperti yang dikatakan rosulullah. namun seperti yang sudah ana jelaskan sebelumnya bahwa rosulullah juga bersabda bahwa qodlo/tkadir juga bisa dirubah dengan doa
    “Doa dapat merubah Qadha” (Mustadrak ala shahihain hadits no.6038).
    Allah berfirman; dan janganlah kalian mendekati zina. artinya sebagai manusia kita diharuskan menjauhi perbuatan zina yang dibenci Allah sekuat tenaga kita. kalaupun setelah kita berusaha dengan maksimal kita tetap terjerumus pada perzinahan, maka itulah takdir perzinahan kita
    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya, yg dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]
    dan sudah seharusnya kita membayar perbuatan zina kita itu (dengan dirajam misalnya. baca kisah orang yang minta dirajam pada rosulullah karena telah berbuat zina) lalu bertaubat pada Allah, dengan sebenar-benarnya taubat.
    ingat akhi qodlo itu adalah rahasia yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
    Ahlussunnah berpendapat mengenai qodlo dan qodar; kita tidak boleh terlalu berpangku tangan seperti pemahaman Jabariyah, namun kita juga tidak boleh meniadakan peran Allah dalam kehidupan seperti pemahaman qodariyah. tidak lalai juga tidak berlebihan. insya Allah, yang ana paparkan merupakan pemahaman para ulama aswaja.

    “…. dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’.” (Al-A’raf: 79)

    afwan jiddan. ana masih belajar
    wallahu ‘alam bishowab

  157. Mohon..maaf, ketika saya membaca komaHT, saya terpukau…, karena berbagai komentar yang disediakan oleh komaHT sebenarnya akan memicu kepada keraguan kita akan agama Islam. HT muncul/tampil untuk mengajak kepada seluruh umat manusia (yang merasa diri manusia dari ciptaan Allah) bersama-sama untuk menegakkan serta menjalankan aturan Allah SWT, agar kehidupan kita ini bisa lebih tentram dan damai. Dengan aturan Allah SWT kita bisa hidup tentram antara muslim dan non muslim. Jadi… sudahlah, yang tidak suka dengan HT, monggo…silahkan, namun yang penting adalah bagaimana sesama kita ini hidup secara damai dibawa aturan ILLAHIYAH. Keyakinan saya bahwa aturan-aturan Allah adalah aturan yang benar karena Allah SWT Maha Mengetahui tentang segala hal, jadi kenapa tidak kita terapkan aturan Allah SWT ???

  158. @mirsha

    “do’a dapat merubah qodho’ ”

    do’a yang kita dulu, sekarang, dan nanti lakukan juga sudah ditentukan oleh Allah.

    wallahu’alam.

  159. @abuazm
    “Apa yang nenimpamu berupa kebaikan datangnya dari Allah, dan apa yang menimpamu berupa keburukan datangnya dari dirimu sendiri. (QS. 4:79)”

    apakah dalil ini tidak cukup sebagai hujjah ya akhi,,
    afwan sepertinya antum lebih cenderung menerima pemahaman Jabariyyah daripada Ahlussunnah

    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya, yg dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]

    yang ana pahami bahwa manusia memiliki takdri perzinahan jika ia cenderung melakukan hal2 yang mendekati zina
    Jika tidak insya Allah ia tidak akan terjerumus pada takdir perzinahan(Wa la taqrobu zinna),
    tentu saja hal itu dalam lingkup pengetahuan Al-‘Alim Allah SWT
    Wallahu ‘alam.
    afwan jiddan. ana masih belajar

    • Tentang Q.S. an Nisa’ :79 itu apakah menurut anda bencana tsunami itu buatan manusia atau Allah ? Apakah bencana alam gempa bumi itu buatan manusia atau Allah ?
      Begitupula kebalikannya apakah semua kebaikan hidup itu tidak perlu ikhtiar karena itu dari Allah ? Apakah orang bisa kaya tanpa kerja karena ayat tersebut mengatakan itu semata dari Allah ? Apakah orang bisa masuk surga tanpa amal ibadah karena semua kebaikan itu dari Allah bukan dari ikhtiar manusia ?
      Jika antum pahami ayat ini seperti itu maka antum akan jatuh pada kesalahan tafsir. Maksud ayat tersebut adalah teguran dan larangan untuk kufur nikmat, yaitu menganggap buruk pemberian Allah. Apapun yang diberikan Allah maka kita harus mensyukurinya karena ada hikmah disana.

      Tentang hadits zina tersebut antum katakan :
      “”yang ana pahami bahwa manusia memiliki takdri perzinahan jika ia cenderung melakukan hal2 yang mendekati zina Jika tidak insya Allah ia tidak akan terjerumus pada takdir perzinahan. “”

      Maka berarti menurut antum manusia berbuat dulu hal2 yang mendekati zina atau tidak, baru kemudian ditetapkan takdir atasnya bahwa ia akan berzina atau tidak.

      Ini jelas bertentangan dengan hadits tersebut yang mengatakan :
      “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya, yg dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]

      Disini dikatakan bahwa Nasib perzinahan itulah yang telah ditentukan dulu, baru kemudian manusia ber proses menjalaninya termasuk melakukan perbuatan yang mendekati zina, dsb.

      Untuk jelasnya tentang hadits takdir zina silahkan simak hadits berikut :

      Dari Abu Hurairah, ia bercerita, aku pernah bertanya : “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang masih muda dan aku takut diriku berbuat zina, karena aku tidak menemukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menikahi wanita, maka izinkanlah aku berkebiri (vasektomi)”. Beliau pun terdiam. Kemudian aku katakan hal yang sama, dan beliau pun masih mendiamkanku. Kemudian aku bertanya seperti itu lagi, lantas Nabi bersabda : “Wahai Abu Hurairah, telah kering qalam dengan apa yang kamu temui” (takdirmu telah ditentukan). HR. Bukhari Juz IX No.5076.

      Ibnu Hajar berkata menjelaskan hadits ini : “Jawaban itu menunjukkan bahwa semua perkara itu menurut takdir Allah. Vasektomi atau tidak adalah sama saja karena apa yang ditakdirkan pasti terjadi.

      Maka ini jelas menunjukkan bahwa orang yang berikhtiar mati-matian untuk tidak berzina pun akan tetap melakukan zina jika memang takdirnya demikian.

  160. “do’a yang kita dulu, sekarang, dan nanti lakukan juga sudah ditentukan oleh Allah”

    tidak ada pertentangan di dalamnya dengan apa yang ana sampainkan.

    syukron jiddan.

  161. yang ana pahami bahwa manusia memiliki takdir perzinahan dan ia akan mejalaninya jika ia cenderung melakukan hal2 yang mendekati zina
    Jika tidak insya Allah ia tidak akan menjalani takdir perzinahan(Wa la taqrobu zinna),
    tentu saja semua itu dalam lingkup pengetahuan Al-’Alim Allah SWT
    Wallahu ‘alam.
    afwan koreksi atas comment ana

  162. Tentang hadits zina tersebut antum katakan :
    “”yang ana pahami bahwa manusia memiliki takdri perzinahan jika ia cenderung melakukan hal2 yang mendekati zina Jika tidak insya Allah ia tidak akan terjerumus pada takdir perzinahan. “”

    Maka berarti menurut antum manusia berbuat dulu hal2 yang mendekati zina atau tidak, baru kemudian ditetapkan takdir atasnya bahwa ia akan berzina atau tidak.

    Ini jelas bertentangan dengan hadits tersebut yang mengatakan :
    “Manusia telah ditentukan nasib perzinahannya, yg dia akan menjalaninya”. [HSR. Bukhari-Muslim]

    Disini dikatakan bahwa Nasib perzinahan itulah yang telah ditentukan dulu, baru kemudian manusia ber proses menjalaninya termasuk melakukan perbuatan yang mendekati zina, dsb.

    Untuk jelasnya tentang hadits takdir zina silahkan simak hadits berikut :

    Dari Abu Hurairah, ia bercerita, aku pernah bertanya : “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang masih muda dan aku takut diriku berbuat zina, karena aku tidak menemukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menikahi wanita, maka izinkanlah aku berkebiri (vasektomi)”. Beliau pun terdiam. Kemudian aku katakan hal yang sama, dan beliau pun masih mendiamkanku. Kemudian aku bertanya seperti itu lagi, lantas Nabi bersabda : “Wahai Abu Hurairah, telah kering qalam dengan apa yang kamu temui” (takdirmu telah ditentukan). HR. Bukhari Juz IX No.5076.

    Ibnu Hajar berkata menjelaskan hadits ini : “Jawaban itu menunjukkan bahwa semua perkara itu menurut takdir Allah. Vasektomi atau tidak adalah sama saja karena apa yang ditakdirkan pasti terjadi.

    Maka ini jelas menunjukkan bahwa orang yang berikhtiar mati-matian untuk tidak berzina pun akan tetap melakukan zina jika memang takdirnya demikian.

  163. “Maka ini jelas menunjukkan bahwa orang yang berikhtiar mati-matian untuk tidak berzina pun akan tetap melakukan zina jika memang takdirnya demikian.”

    betul yang antum katakan ya akhi. nilai ikhtiar itu lah yang ana maksud, yang merupakan pilihan manusia. manusia tidak dipaksa memilih tapi diizinkan memilih.
    ikhtiar itu wajib hukumnya,termasuk ikhtiar untuk menjauhi hal-hal yang dilarang Allah. kalaupun tetap terjadi setelah kita berikhtiar secara maksimal, maka itulah qodlo Allah yg telah ditentukan bahkan sejak jauh sebelum manusia itu diciptakan.
    adapun semua penjelasan ana diatas adalh berkaitan dengan keleluasaan yang diberikan oleh Allah untuk melakukan kebaikan dan keburukan. walaupun Allah sendiri telah mengetahui akan pilihan manusia itu. karena itu lah yang merupakan Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
    namun sekali lagi ana tegaskan bahwa qodlo Allah itu pasti dan tidak mungkin akan bisa dihindari. hanya saja kita tidak akan pernah tau qodlo Allah hingga kita menjalaninya sendiri. tugas kita adalah beramal, sesuai dengan perintah Allah dan Rosulnya, tentu saja amalan yang disertai keimanan dan ketaqwaan.

    afwan akhi bila ana ada salah dalam penyampaiaan dan penulisan kata2. semata2 karena kekhilafan ana sebagai manusia.

  164. Syukurlah kalo antum sudah sepakat, tapi masalahnya HT mengatakan berzina atau tidak itu manusia yang menentukannya, bukan Allah.
    HT mengatakan semua yang terkait pahala dan siksa, itu manusia yang menentukan, bukan Allah.

    Padahal Rasulullah mengatakan pada abu hurairah bahwa meskipun ia melakukan vasektomi memotong alat kemaluan sekalipun tetap akan melakukan zina jika memang nasib yang ditentukan Allah demikian.

    • pendapat ini menunjukkan kalau antum ngajinya di HT sambil tidur … gitu kok ngaku mantan HT. tidak pantas blas antum mengaku sebagai mantan karena semua statement antum dari atas sampai bawah tidak menunjukkan sama sekali pendapat HT. antum tidak bisa membedakan antara ilmu Allah dengan ikhtiyar (perbuatan) hamba.

  165. wallahu’alam,
    mengenai HT, sudah ana katakan ana juga mengkaji nizhom islam bab qodlo dan qodar. afwan, mungkin dulu antum salah tanggap, atau musyrif antum yang kurang baik menjelaskannya.

  166. hahaha….mantan ht…tapi isi tulisannya yang katanya dari HT sama sekali beda dengan yang dipegang oleh HT…ya Allah… :) tobat sobat,ga baek fitnah sodara sendiri, masyaAllah…

  167. Itu bukan pendapat saya tetapi penyampainya adalah aktivis HT yang kami ajak diskusi. Silahkan anda download dan dengarkan sendiri bagaimana perkataan aktivis HT yang kami ajak diskusi, perlu anda ketahui bahwa saat diskusi itu dia membawa dan membuka kitab nidzamul islam HT.

    Silahkan tunjukkan tulisan mana yang berbeda dengan yang dipegang HT, jangan hanya menuduh tapi tidak bisa membuktikan.
    Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) Taqiyyuddin menyatakan :
    «فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)
    “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan dari Allah.”

    • btw itu coba cara menterjemahkannya yang benar pak :
      ما من فعل الإنسان وليسا من الل
      antum terjemahkan : “petunjuk dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia itu sendiri, bukan berasal dari Allah.” padahal harusnya yang tepat “keduanya (petunjuk dan kesesatan) itu adalah dari perbuatan manusia (untuk mendapatkannya) bukan dari Allah”
      >> maknanya bahwa petunjuk dan kesesatan itu adalah hasil dari upaya manusia mencari2nya, bukan tiba2 langsung turun dari langit tanpa proses yang dilalui manusia baik kecil besarnya usaha tersebut …
      kalau dibilang semua dari Allah ya semua dari Allah pak, termasuk PC/Laptop yang antum pegang. tapi apa mungkin turun dari langit ? bukankah harus diusahakan dulu ? demikian pula hidayah dan kesesatan, semuanya juga dari Allah tapi datang pada manusia akibat upaya/proses pencarian manusia itu sendiri .. wassalam …

    • btw itu coba cara menterjemahkannya yang benar pak :
      ما من فعل الإنسان وليسا من الل
      antum terjemahkan : “petunjuk dan kesesatan adalah dari perbuatan manusia, bukan berasal dari Allah.” padahal harusnya yang tepat “keduanya (petunjuk dan kesesatan) itu adalah dari perbuatan manusia (untuk mendapatkannya) bukan dari Allah”
      >> maknanya bahwa petunjuk dan kesesatan itu adalah hasil dari upaya manusia mencari2nya, bukan tiba2 langsung turun dari langit tanpa proses yang dilalui manusia baik kecil besarnya usaha tersebut …
      kalau dibilang semua dari Allah ya semua dari Allah pak, termasuk PC/Laptop yang antum pegang. tapi apa mungkin turun dari langit ? bukankah harus diusahakan dulu ? demikian pula hidayah dan kesesatan, semuanya juga dari Allah tapi datang pada manusia akibat upaya/proses pencarian manusia itu sendiri ..
      wassalam …

      • Cara penerjemahan yang saya tulis adalah penerjemahan resmi dari Tim HTI Press 2007 (Zakia Ahmad, Lc), kok beraninya anda mengaku bisa menerjemahkan lebih baik dari terjemahan tim HTI sendiri ?
        Orang HTI kok tidak tahu terjemahan HTI sendiri, pantas banyak yang gak ngerti-ngerti ketika diajak diskusi….

  168. oh gitu,aktivifis mana yang anda ajak diskusi?kalo cuma menyebutkan nama roni saja,di indonesia ada banyak ribuan bernama roni,apa antum pernah diskusi dengan ismail yusanto?dengan shidiq al jawi?

    • Antum ajaklah beliau diskusi dng saya disini, silahkan saya tunggu…

    • ketinggien kalau ust Ismail atau ust Shiddiq ngurusin yang gak mutu beginian …

      • ya Allah, dnux…kenapa meremehkan??? begitu tingginya kah ilmu beliau ??? :(

      • bukan masalah ketinggien ilmu, tapi sayang waktunya beliau bila digunakan untuk ngurusi beginian. mending waktunya digunakan untuk ketemu penguasa atau ulama mengajak mereka menegakkan syariat Islam dan mewujudkan Khilafah.
        kalau masalah beginian cukup ditangani anak buahnya sajalah … atau anak buahnya anak buah dst ..

        wassalam

  169. kalau begitu antum yang menipu dong. lha itu seakan2 antum cuplik dari kitab bahasa Arab :
    “Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) Taqiyyuddin menyatakan : …. ”
    lha ternyata nyuplik terjemahan yang HTI Press ? tunjukkan halaman berapa yang diterjemahan itu …

  170. Wah wah di tuliskan literatur lengkap baik versi arab (Darul Ummah) maupun versi Indonesia (HTI Press) bukannya berterima kasih kok malah menuduh menipu ya…
    Versi Indonesia (HTI Press) lihal halaman 133 ya akhi..
    Selamat menyimak saudaraku aktivis HTI yang tidak tahu isi kitabnya hehe…

  171. lho masih gak mau ngaku nipu ? terus apa don ? mlintir ?

    lihat di tulisan terjemahan antum diatas begini : “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan berasal dari Allah.”

    sedangkan di hal 133 HTI Press berbunyi seperti ini : “Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan dari Allah.”

    lihat akhir dari kedua tulisan itu : antum tulis : bukan berasal dari Allah, sedangkan di HTI press tertulis “bukan dari Allah” (tidak ada kata berasal”)

    lalu bandingkan dengan hasil terjemahkan ulang saya : “keduanya (petunjuk dan kesesatan) itu adalah dari perbuatan manusia (untuk mendapatkannya) bukan dari Allah”

    ujungnya sama dg yang di HTI press, tidak menuliskan di akhir “bukan berasal dari Allah”

  172. Shadaqta mas dwi nugroho, ternyata antum benar, saya berlapang dada menerima kritikan anda bahwa saya dalam hal ini khilaf, inilah bukti saya manusia juga sekaligus membuktikan pada para aktivis HT yang menuduh saya tidak mau kalah dan selalu menganggap diri saya benar, maka saya nyatakan bahwa dalam hal penulisan ini saya khilaf dan mohon maaf akan segera saya benahi dan saya ganti dengan lebih teliti mengacu pada kitab asli,
    btw tapi anda juga menambah nambahi tuh, anda tulis kata (untuk mendapatkannya) setelah kata perbuatan manusia padahal tidak ada yang demikian dalam kitab aslinya.
    Kemudian menurut anda apa beda makna antara “bukan berasal dari Allah” dengan “bukan dari Allah” ?

  173. pemberian tambahan “berasal” pada “bukan berasal dari Allah” menimbulkan kesan seakan penulis kitab menolak atau menafikan bahwa HD (hidayah dholalah) itu berasal dari Allah sebagaimana kemaren saya samakan sama saja mengatakan menolak bahwa rezeki itu dari Allah.
    sementara kalau dihilangkan kata “berasal” menjadi “bukan dari Allah” dan disambungkan kata utuhnya ما من فعل الإنسان وليسا من الل maka menunjukkan bahwa HD itu hanya bakal terjadi akibat usaha manusia untuk mencari HD itu sendiri, bukan semata mata terjadi dari Allah SWT tanpa diuahakan manusia dulu.
    Lalu dimana peran Allah dalam HD ? (sama spt peran Allah dalam rezeki dll). Dalam hal ini disebutkan di akhir bab HD di Syaksiyah 1 (hlm 144), yaitu Allah-lah yang pada akhirnya memberikan taufiq kepada manusia sebab upayanya dalam mencari HD itu (sama spt akhirnya Allah memberikan rezeki setelah manusia mengusahakannya)
    berikut cuplikannya : ….. Ayat-ayat diatas memiliki arti tidak ada taufiq (persetujuan) bagi mereka dari Allah tentang hidayah, karena taufiq untuk
    memperoleh hidayah itu berasal dari Allah. Jadi, orang fasik, dzalim, kafir, sesat, suka berbohong, mereka semuanya memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan hidayah. Allah tidak memberikan hidayah kepada orang yang memiliki sifat-sifat ini, karena pemberian taufik hidayah disiapkan sebab-sebabnya oleh manusia. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat seperti ini, maka tidak dipersiapkan baginya sebab sebab untuk meraih hidayah, melainkan (yang diraihnya) sebab-sebab kesesatan …

  174. aneh….katanya mantan HT,kenapa musti copy darat sama orang HT?koar2 nyalahin ini itu,ngeributan kata berasal dan tidak ada kata berasal,pembahasan yang dibeberkan disini juga tidak sama ah dengan yang saya dapat dan lihat,dasar penipu

  175. SAYA SEBENARNYA HERAN DENGAN ORANG2 HT INI….. UDAH TAU YANG DI MP3 ITU AQ1IDAH QODHO QODARNYA TIDAK AHLUSSUNAH …. KOK MASIH DIBELA JUGA . KOK TAQLID BUTA AMAT SIH …. MBOK YA NGAKU ” O….YA DDALAM HAL INI KAMI SALAH” KAN UST TAQIYUDIN JUGA MANUSIA. SAUDARA2KU YANG ADA DI HTI……KHILAFAH TANPA BIMBINGAN QUR’AN DAN SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BENAR ADALAH KHILAFAH YANG SEMU……. PERSAUDARAAN YANG TANPA BIMBINGAN QUR’AN SUNNAH BERDASAR PEMAHAMAN BENAR ADALAH PERSAUDARAAN YANG TERCELA…

  176. Abu Rumasyo stress, memang kenapa kalau berbeda ? masuk neraka karena beda dalam memahami qodo qodar dengan “ahlus sunnah “? Memang pemahaman qodho qodarnya “ahlus sunnah” itu yang paling benar ? Darimana tahunya ? Apakah Rasulullah SAW pernah bersabda : pemahaman yang benar tentang qodho qodar adalah pemahaman dari kelompok ahlus sunnah versi asyariyah atau versi maturidiyah atau versi salafi atau versi muhammadiyah ?

    Pendapat HT memang berbeda dalam masalah qodho qodar. Wong memang jelas di sykahsiyah 1 syaikh taqyuddin mengatakan bahwa ada kesalahan dari “kelompok yang menamakan diri ahlusunnah wal jamaah” dalam memahami qodho qodar. Jelas memang disini pendapat HT dalam masalah qodho qodar berbeda dengan mereka. (baca : yang dimaksud aswaja disana adalah kelompok asy’ariyah, bukan maturidiyah apalagi salafi >> gak yg dimaksud pembahasan di bab tsb)

    • Wuuiihh…hebat..hebat. Ada hujatan baru. Stress. Ckckckck…

      Gini koq ngakunya pejuang khilafah. :(

      • Ridho,
        ituloh .. si abu rumasyo ngetiknya pakai font besar semua. secara normatif itu kan = marah … kayak wong stress … gituloh … bukan saya yang stress :D

      • Ooo…gitu. di HT/i itu ngajarin hujat-menghujat juga yaa.

        Ckckckckck :(

    • MASHAALAH….MENGAPA ANDA TIDAK TABAYUN PADA SAYA MISALNYA”MENGAPA ANDA MENULIS DENGAN HURUF BESAR SEMUA….?” . PERLU ANDA KETAHUI SAUDARA/I KU ….. SAYA MENULIS DENGAN HURUF BESAR …DIKARENAKAN BUKAN KARENA MARAH…. KARENA PASSWORD ACCOUNT SAYA MAKE HURUF GDE SEMUA….. UNTUK EFISIENSI MAKA SAYA JARANG MAKE HURUP KECIL …..APA BEGINI AKHLAK PEJUANG KHILAFAH…?INGAT SAUDARA/I KU KAMI SALAFIYIN BUKAN BENCI TAPI SEBAGAI BENTUK NASEHAT …. DAN JUGA TIDAK INGIN MENGIRIMI DOSA SYAIKH TAQIYUDIN …… COBA PIKIR APABILA AJARAN MENYIMPANG SYAIKH TAQIYUDIN DIJALANKAN BANYAK ORANG ….APA GA KASIHAN SYAIKH TAQIYUDIN DIKIRIMI DOSA TERUS….. ?

      • Abu Rumasyo .. terimakasih atas nasehatnya. dan saya juga menasehati anda bahwa pemahaman anda itu keliru, demikian juga tuduhan2 anda itu semuanya juga keliru. tobatlah … ini bukan marah .. tapi sayang … wassalam

  177. @ dnux :

    Apakah anda tidak menyesal mengatakan ini :

    “Jadi, orang fasik, dzalim, kafir, sesat, suka berbohong, mereka semuanya memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan hidayah. Allah tidak memberikan hidayah kepada orang yang memiliki sifat-sifat ini, karena pemberian taufik hidayah disiapkan sebab-sebabnya oleh manusia.”

    Benar menurut anda demikian ?

    • memang benar begitu,
      hanya dengan syarat mereka TOBAT yaitu ingin keluar dari kefasikan kedzaliman dan kekafiran + kesesatannya itu, dan kemudian mencari hidayah Allah SWT, maka mereka akan mendapatkan taufiq hidayah oleh sebab ketobatannya itu …

  178. salam.nampaknya antumna keliru memahami pemikiran HT dalam masalah qadlo dan qadar. q sendiri dah bertahun2 mengkaji kitab2nya.n ga pernah dapatkan pemahaman yg seperti anda-anda utarakan,khususnya terkait masalh qadlo dan qadar…..ya ampun…sudah-sudah me. wahai sdrq, berhentilah mengkritik apalagi berniat menjatuhkn harpqah2 sdr anda sendiri. cukuplah ALLOH yang kn menghakimi, haroqah mana yg shohih. lagian tdak ada jaminan bhw stiap org yg msuk diharoqah A.B.atau C maka semua jamaahnya akan msuk surga. bukankah amal fardiyah yang akan dihisab ?jd, mri kokohkn barisan to tegakkan kalimatulloh dibumiNya..,dengam teknik operasional da’wah yg telah digariskn o/msg2 haroqah kita..

  179. ukhti annisa,percuma euy komentar disini mah…kita yang mengkaji ga merasa seperti yang dijelaskan disini mereka tetap ngotot dengan penjelasan mereka,oh ya ukh salam ukhuwah ya…semangat menegakkan daulah khilafah rasyidah,amiin…semoga kemenangan atas kaum muslim segera datang ^^

  180. @ dnux :

    Apa yang anda sampaikan itu bertentangan dengan apa yang disampaikan Rasulullah karena Rasulullah menjelaskan bahwa seorang yang selama hidupnya bermaksiat (fasik, dzalim, kafir, sesat, suka berbohong) bisa saja ditakdirkan Allah mendapat hidayah saat menit-menit akhir hidupnya.
    “Dan sesungguhnya ada seorang dari kalian selalu beramal dengan amalan ahli Neraka sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya tinggal satu hasta tetapi karena catatan (takdir) mendahuluinya ia pun beramal dengan amalan ahli surga dan ia pun memasukinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    @ annisa & aisyah :

    Jangan cuma menduga-duga, itu buktinya akhi dwi nugroho / dnux (dari HT) mengatakan bahwa Allah pasti tidak akan memberi petunjuk pada orang yang selalu bermaksiat. Kok bisanya dia memastikan sesuatu yang menjadi hak Allah dalam menentukannya.

    • mantan,
      antum masih fatal dalam memamahi taqdir Allah. Apakah antum bisa pinter dan bisa ngetik di blog karena taqdir Allah ? ya tentu saja … semuanya itu adalah ketetapan Allah. Tapi semua itu terjadi karena usaha manusia.
      Demikian juga orang fasiq dzalim dsb itu bisa mendapat hidayah bila memang ditaqdirkan Allah, namun itu memerlukan usaha dari dia untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah, mencari jalan sebab sebab turunya hidayah.
      memang hidayah itu bim salabim turun sendiri atau terwujud pada manusia tanpa adanya upaya manusia ? Allah berfirman : “wamaa dzolamuuna walakin anfusahum yadzlimuun” : bukan kami yang mendzolimi tapi mereka sendirilah yang mendzolimi diri mereka sendiri…
      sudahlah … susah betul ente memahami masalah gini ? atau karena ego sudah terlanjur menyebar tuduhan2 pada HT sehingga antum menolak deksripsi penjabaran dll dari kami ? wallahu musta’an …

  181. afwan kepada akhi dnux,
    memang perlu diakui, akhi mungkin tergesa2 dalam menulis. sebaiknya hindari penggunaan kata pasti, karena kepastian hanya milik Allah, akan lebih ahsan jika menggunakan kata Insya Allah.
    karena sesuai dengan firman Allah bahwa jangan lah kalian mengatakan bahwa kami akan melakukan hal ini dan itu besok, tapi ucapkan lah insya Allah..
    afwan jiddan. maksudnya apa yang akan terjadi kemudian bukan hak kita untuk memastikannya tapi dengan kehendak Allah pasti akan terjadi. tentu saja setelah berikhtiar secara maksimal ^-^

  182. Saya ini mewajibkan amal ikhtiar ya akhil karim, saya bukan jabariyah yang meniadakan amal ikhtiar, namun selain mewajibkan ikhtiar saya juga meyakini bahwa semua sudah ditetapkan Allah termasuk pahala dan siksa juga sudah ditetapkan Allah sejak zaman azali.

    “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” . Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang akan dipermudah (menuju ketetapannya)”. [HSR. Bukhari Muslim]

    “Dan sesungguhnya ada seorang dari kalian selalu beramal dengan amalan ahli Neraka sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya tinggal satu hasta tetapi karena catatan (takdir) mendahuluinya ia pun beramal dengan amalan ahli surga dan ia pun memasukinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  183. betul …
    di HT justru ditekankan adanya ikhtiar dalam meraih ridho Allah yaitu jannah. karena semua terjadi lewat sebuah usaha dari manusia yang akan dibalas oleh Allah SWT atas usahanya itu
    HT meyakini segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak azali. Dalam masaklah dua hadits diatas saja, tinggal dipahami berdasarkan dalil dalil lainnya, apakah kejadian masuk surga/neraka itu terjadi “tiba tiba” itu karena ikhtiar atau karena bim salabim …
    lalu dimana kesalahan pemahaman HT dalam masalah qodho qodar dan dalam masalah hidayah dholalah ? bisa antum pertegas lagi ?
    wassalam.

  184. Tentang wajibnya ikhtiar memang kurang lebih sama, itu tidak ada masalah. Kan yang dipermasalahkan tentang lingkaran yg dikuasai manusia yang berujung pada pahala dan siksa, yang menurut HT itu tidak termasuk dalam qadha dan qadar Allah.

  185. pengelolakomaht | 1 November 2010 pukul 15:17 | Balas

    Tentang wajibnya ikhtiar memang kurang lebih sama, itu tidak ada masalah. Kan yang dipermasalahkan tentang lingkaran yg dikuasai manusia yang berujung pada pahala dan siksa(maksudnya yang mana ya?), yang menurut HT itu tidak termasuk dalam qadha dan qadar Allah (apanya yang tidak termasuk qada-qadar?)

  186. Yang tidak masuk ya itu ukhti al karim, segala yang berada dalam lingkaran yang dikuasai manusia.

  187. bila emang kalian HTI ato yang mengaku Ahlus sunah ingin mencari kebenaran adalah dengan al quran dan sunnah sebagaimana para orang 2 terdahulu memahaminya.membicarakan masalah aqidah harus dengan dalil yang bener2 shahih walaupun itu hadits ahad selama shahih wajib di gunakan ,dari hasil diskusi campur emosional dan saling ejek dapat kita simpulkan mana sih sebenarnya yang pemahaman islamnya bijak,setidaknya setiap kata dan hujjah yang di keluarkannya bukan berasal dari dirinya sendiri tapi hadits dan quran lah yang harus digunaakan . tapi terkadang kita merasa dalil yang kita gunakan ”kayaknya “pas tapi bukan berdasarkan bagaimana orang2 terdahulu ( sahabat nabi dan orang 2 yang mengikuti jalannya ) memahami yang akhirnya itu akan menjadi persangkaan.ini sebenernya diskusi ilmiah hanya saja karna ada beberapa gelintir orang yang ga punya pemikiran ilmiah masuk akhirnya mjd perosak diskusi sehat ini,kebenaran ada pada alloh dan rosulnya bukan pada suatu golongan .karna ini masalah akidah mari kita kembali berfikir sehat dan tidak menutup mata akan kebenaran .dan diskusikan dengan santun sebagaimana seorang muslim yang merasa dirinya muslim , wallohu a’lam bishowab. ( semoga setiap apa yang kita perjuangkan dengan niat dan cara yang haq seswai qur an dan sunnah mendapatkan balasan dari allooh )

  188. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Semoga dengan adanya diskusi ini Allah jadikan kita sejalan dan se akidah
    dan Allah azza wajalla memberikan kita rahmat dan karuniaNya.
    untuk mencapai derajat taqwa yaitu ta’at kepada Allah dan rasulNya.
    kembali kepada syari’at yaitu Alqur’an dan Assunnah.
    dan meninggalkan apa – apa yang bukan syari’at.
    hanya Allah saja tujuan kita ,dan hanya nabi Muhammad panutan kita ,dan kita hormati ulama – ulama yang mengikuti jejak nabinya, dan kita doakan keburukan kepada ulama yang menyimpangkan da’wah para nabi dan rasul.( Yang aku khawatirkan setelah sepeninggalku selain dazal yaitu ulama yang jelek ( HR.Buqhori ).

    20.Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk “orang-orang yang sangat hina”. . 21. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. 22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. QS 58. Al Mujaadilah 20~22

    teruslah nasehat menasehati sesama muslim bila benar ambil bila salah kita tinggalkan ( tidak sesuai Alqur’an dan assunnah )
    intinya pelajari dahulu alqur’an dan assunnah ,kemudian baru kita melangkah,bila ada yang tidak tahu tanya kepada ustadz ,bila tidak puas tanya lagi ke ustadz lainnya,terus begitu tanya ..tanya mudah – mudahan kita dipahamkan dengan adanya usaha kita .

    wallahu a’lam

  189. kepada semwa orang 2 HT ketika kalian mengembar gemborkan tujuan kalian dan selalu menghinakan dan memfitnah oarang2 yang senantiasa mengingatkan kalian heeeh.tahukah kalian bahwa dalam jam,ah kalian sendiri justru telah meracuni otak para istri2 yang seharusnya mentaati suaminya dan melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang istri atas suaminya .bagaimana istriku bisa membuatnya anakku sebagai khoiru ummah, siroh nabi,siroh sahabat bahkan nama paraa sahabat nabi aja ngg tau,bagaimana istriku bisa taat pada suaminya sedang fiqh tantang wanita aja ia tidak mengenal,bagaimana anakku bisa mjd anak yang sholih sedangkan setiap acara demo ato apalah istriku menyebutnya,yang mana rata2 pesertanya akhwat smwa dan anak2 nya.aku bener2 tidak sanggup lagi untuk memberikan pengertian kepada istriku,ingin rasa nya aku menceraikannya tapi ….. itu adalah hal yang di benci allooh.tapii…sampai kapan aku harus bersabar,menyesal aku tinggalkan tempat ngajiku hanya gara2 8ingin menikahinya,….demi allooh aku ngg pernah ridho terhadap apa yang sudah terjadi [pada istriku dan yang membbuat istriku mjd spt ini,aku benar 2 akan menuntutnya kelak di akhirat.ALLOOOHU AKBAR.sesegera mungkin allooh akn membuka kan kebenaran atas penyimpangan yang kalian lakukan.AAAGghghghghghgh…………..

  190. sekadar catatan istriku udah ikut kajjian d HT selama 2 tahun kami tinggal di jawa timur,setiap aku ikut kajian selain HT istriku selalu passang muka kecut,seringkali hak2 ku sebagai seorang suami di abaikannya atopun masalah rumah tangga selalu di nomor duakan sedangkan dia selalu menuntut hak2 nya atas ku,demi kebaikan keluarga kami aku pun selalu memenuhinya

    • ya itu istri yang tidak bener.
      saya sebagai syabab HT mengecam hal seperti itu …. andaikan mau diceraikan semoga bukan semata2 karena dia ikut HT loh, tapi karena tidak taat pada suami pada hal2 yang harus dipatuhi.

    • @ sang lelaki kecewa : Istri antum telah taklid buta kepada HT/HTI.

      – Doktrin HTI ditelan mentah-mentah.
      – Yel-yel nya terngiang-ngiang selalu
      – Perkataan Musyrifahnya nomor satu
      – Kehendak golongannya diunggulkan

      – Kehendak Suami dinomor duakan
      – Hadits Rasulullah SAW dilupakan
      – Ilmu Fiqh dicampakkan
      – Akhlak Mulia di tinggalkan
      – Bimbingan para ulama terdahulu yang
      sholeh angin lalu

      Akhirnya yang terjadi :
      – SEMANGAT TANPA ILMU
      – YANG PALING BENAR HANYA
      GOLONGANNYA
      – YANG PALING BENAR PERKATAAN
      MUSYRIFAHNYA
      – TUJUAN HTI SEGALA GALANYA

      • Gua sebenarnay ndak mau bales, tapi kalau gak dibales kok ya ndak selesai2 omdonya ini : lihatlah cermin sebelum lihat muka orang lain

        – Doktrin SALAFI ditelan mentah-mentah.
        – Slogan BIDAH/KHAWARIJ/MU’TAZILAHterngiang-ngiang selalu
        – Perkataan USTADZ nomor satu
        – Kehendak golongannya diunggulkan

        – Kehendak Suami dinomor duakan >> omdo, cuma satu kasus jangan disamaratakan
        – Hadits Rasulullah SAW dilupakan >> omdo – dusta
        – Ilmu Fiqh dicampakkan >> omdo – dusta
        – Akhlak Mulia di tinggalkan >> omdo – dusta, salafi palign banyak tidak menegur atau memusuhi golonga lain ..
        – Bimbingan para ulama terdahulu yang sholeh angin lalu >> omdo – dusta

        Akhirnya yang terjadi :
        – SEMANGAT TANPA ILMU >> omdo
        – YANG PALING BENAR HANYA GOLONGANNYA >> salafi juga
        – YANG PALING BENAR PERKATAAN MUSYRIFAHNYA >> omdo
        – TUJUAN HTI SEGALA GALANYA >> salafi juga

        males mbales kaya gini, jadi kayak anak kecil …. gak ilmiah blas …

  191. kepada lelaki kecewa …
    memang istri antum tiap hari demo sampe melupakan anak ? hebat bener itu istri antum. Kalau itu menyebabkan urusan anak terbengkalai maka dalam pandangan HT itu juga tercela … harus ditegur itu istri … kalau ndak mempan sebagai lelaki sejati antum bisa datengin musyrifahnya perihal istri antum itu … wassalam.

    • Bos Besar : ” Kamu para akhwat harus Demo besok pagi..

      Akhwat : ” Tapi gimana nih belum izin sama suami..

      Bos Besar : ” Ga usah izin suami, urusan suami nanti aja dulu, yang penting harus demo. Kalau ga ikut demo bukan akhwat sejati. Nanti khilafah ga tegak-tegak nih..

      Akhwat : ” Baik Bos… Laksanakan

  192. memang NYATA ternyata apa yang disampaikan disini sama sekali jauh dari kenyataan yang terjadi,untuk nak runtho,atas dasar apa anda berkata seperti itu?saya selama mengkaji di hizbut tahrir TIDAK PERNAH SAMA SEKALI mendapatkan pemahaman bahwa untuk izin suami itu TIDAK PENTING,camkanlah bahwa apa yang kalian katakan dan tulis disini akan dimintai pertanggung jawabannya diyaumul hisab,silahkan kalian berbicara disini,tapi Allah hakim yang MAHA ADIL,kami tidak takut dengan propaganda miring kalian yang tidak beralasan.tidak sesuai dengan fakta.karena kami yakin bahwa janji Allah untuk memenangkan seluruh kaum muslim akan segera tiba.وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

  193. apa kalian berani untuk membuat tulisan yang membongkar makar kerajaan sa’ud?apa kalian berani membuat tulisan yang mengkritik zionis israel?apa kalian berani mengkritik amerika yang membombardir saudara-saudara di irak?

  194. saya yakin kalian tidak berani

  195. kesaksian kalian sebagai MANTAN hizbut tahrir pun akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di yaumul hisab.

  196. Saudari aisyah yang dirahmati Allah,

    Saudara Nak Rutho dan para komentar lain disini kebanyakan bukan mantan HT, jadi jangan dianggap sebagai orang yang mengaku mantan HT semua, nanti salah kaprah pemikiran anda.

    Sayapun sebagai mantan HT tidak setuju jika dikatakan HT mengajari akhwat syababiyah nya untuk membantah suami, kalopun ada yang demikian itu adalah oknum syababiyah saja.

    Jadi saya sampaikan kepada saudara-saudara semua bahwa meskipun HT memiliki beberapa kekeliruan yang harus diluruskan namun bukan berarti kita boleh memfitnah dan menjelek-jelekkan HT tanpa hujjah yang jelas.

  197. Assalamualaikum
    Pengelola koma HT sdh gamblang menjelaskan dan aktifis spt saya bisa melihat titik terang memang pemikiran HT utk yg mengenai Qodho & Qodar salah, bila sudah diperkuat dengan dalil qothi mau apalagi, maka aku sdh wajib mengikuti krn HT bukan agama tersendiri tetapi bagian dari agama Islam. mestinya teman2 merubah pemikiran tsb sblm nanti ditanyakan disisi Alloh di yaumil hisab kelak. Bila kita taklid buta hati kita membatu, bisa kita obati dgn ikhlas datang kpd Alloh utk memohon petunjuk dan dimudahkan utk melangkah menuju kebenaran. bila tdk spt itu sangat berat melawan malu dan hawa nafsu, akhirnya yg muncul nanti karakter asli kita, oknum teman2 yg taklid tadi muncul perkataan dan tulisan yg tidak islami serta berkomentar seperti ahlul maksiyat, aku hanya berfikir apakah seperti ini tujuan pembinaan HT yg bercita2 ingin memperjuangkan Islam, bila perilaku kalian bertolak belakang dgn Islam. Kalau aku ya berubah saja, apa sulitnya berubah kepada suatu kebenaran dari suatu kesalahan, beruntung kita punya pengelola koma HT yg mau mengingatkan kita sebelum kita mati, kita layak berterima kasih atas tawassaubilhaq beliau. Beliau ikhlas membantu meluruskan hal yg salah.
    Ini mengenai Akidah…. bila kita mengikuti yg benar maka kita akan sesat selamanya… naudzubillahimindzalik

  198. Maaf tulisan terakhir diatas yg benar adalah ….:
    Ini mengenai Akidah…. bila kita tidak mengikuti yg benar maka kita akan sesat selamanya… naudzubillahimindzalik

  199. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    afwan
    Seyogyanya bagi mereka yang “bukan” mantan ht dan bukan anggota ht ,supaya bisa melihat dan membaca saja ,bagaimana kita lihat koment dan sanggahannya dari kedua belah pihak .

    Koma ht “bukan salafiyun” beliau bermazhab zahiriy ( Imam ibnu hazm azzahiriy ),
    tujuannya agar mudah memahami topik yang dibicarakan antara koma ht dan hti & untuk belajar saja ,walaupun memang ada gereget rasanya ingin memberikan pencerahan ,akan tetapi itulah resiko akidah .
    sampai akhir hayatpun tidak akan bisa bertemu antara ahlul hawa dengan ahlussunnah .
    dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. QS.Al anfal 63

    untuk yang pro ht jangan sampai membabi buta sehingga menuduh
    yang bukan – bukan kepada siapapun ,afwan saya hanya menyampaikan saja dikhawatirkan akan berbalik kepada yang menuduh.
    – orang ht apakah tidak tahu apa itu salafi.
    – apa itu zahiriy.
    – apa itu antek yahudi
    – apa itu kafir
    – dan lain sebagainya,jika tidak tahu alangkah baiknya berdiskusi sama
    koma ht saja.
    selesaikanlah dengan arif, sekali lagi yang dihadapi bermazhab zahiriy
    ( Imam Ibnu hazm azzahiriy ).

    teruslah antum semua berdiskusi mudah – mudahan Allah subhanahu wata’ala mempertemukan apa yang hti dan koma ht cari .

    barakallahu fih

  200. Alhamdulillah setelah membaca diskusi ini membuat saya semakin yakin kalau pilihan saya untuk tidak bergabung ke HT adalah benar, keyakinan saya ini bertambah didapat dari membaca argumen & cara2 menjawab dari anda dan juga para anggota HT & simpatisannya…
    Perlu saya sampaikan kalau saat ini istri saya yang masih mengaji dengan mereka (para HT-er) dan beberapa kali istri jg sering berdiskusi dengan saya tentang hal2 yang mereka kaji dan kadang suka rada panas juga diskusinya.
    Setelah mengaji di HT memang ada perubahan dalam prilaku istri saya, salah satunya jadi lebih sulit untuk dinasehati…
    Terakhir sebelum menemukan blog ini saya menasehati istri saya lagi kali ini lebih kuat lagi untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya sangat2 serius kepadanya, saya menasehati dia untuk pelan2 meninggalkan kegiatannya pada HT (Bahkan sempat terpikir kalau tidak dibenci Alloh mungkin saya akan ceraikan istri saya karena tak mau mendengar nasehat suaminya, na’uzubillahiminzalik…).
    Alasan saya dulu kenapa saya tidak ingin bergabung dengan HT adalah salah satunya karena saya menduga HT adalah Partai Politik, dimana yang namanya Parpol itu tidak ada teman yang abadi hanya kepentingannya yang abadi. Dan biasanya orang parpol lebih cendrung melakukan apapun untuk mencapainya, termasuk menghujat, memfitnah dan keras pada prinsipnya bahwa solusi dari dirinya sendirilah yang benar dan orang lain tidak benar…ternyata dugaan saya benar setelah istri saya suka bawa majalah HT & selebaran Al Islamnya…
    Dulu sewaktu awal2 istri saya ikut kegiatan HT saya melihat model gerakan2, kegiatan pengajiannya, kurikulum dan buku kajiannya sy sudah menduga bahwa itu adalah metode kaderisi Parpol jadi menurut dugaan saya HT adalah parpol tetapi istri saya dan teman2nya bilang BUKAN, HT bukan parpol tapi saya yakin kalo ini adalah parpol. Nah baru setelah satu tahun lebih istri saya ikut akhirnya ada selebaran dari pengurus pusat HT mengakui bahwa mereka adalah Parpol akhirnya istri saya juga mengakuinya…
    Terimakasih pengelola komaHT anda memberi pencerahan tambahan buat saya, dengan membaca argumen2 anda dan juga argumen2 para anggota & simpatisan HT membuat tambahan keyakinan saya bahwa cara2 HT tidak tepat…saya tidak akan mengkafirkan HT & anggotanya, saya tidak akan membenci HT & anggotanya, saya tetap mengakui mereka saudara2 saya dan mencintai & menyayangi mereka sebagi sesama umat Nabi Muhammad SAW dan hamba2 Alloh SWT, mereka baik2 dan santun2 kok dengan saya dan istri, hanya di blog ini saja saya kaget kok cara argumen mereka gak santun ya, apa karena yang saya temui di rumah saya selama ini perempuan semua ya makanya bahasanya santun2 hehehe wallohualam…Tapi saya yakin mereka santun2 dan baik2 semua karena mereka saudara saya sesama hamba Alloh & Umat Nabi Muhammad.
    Sayapun tidak menolak bahwa syariah harus ditegakkan & khalifah juga harus ada tapi bukan dengan cara yang salah dan tidak mulia, masalah khalifah ini bahkan saya mengidam2kannya semenjak saya SMA dulu, apalagi setelah melihat paus sebagai pemimpin katolik jadi lebih kepingiin banget saya sebagai orang islam punya khalifah, tapi saya yakin Alloh punya rencana & Maha berkehendak.
    Untuk itu saya memulai dari hal kecil dulu deh yaitu mulai dari saya sendiri dan keluarga yang saya pimpin saat ini…
    Sekali lagi terimakasih sauadaraku pengelola komaHT…dan tetaplah istiqomah, santun dan sayang kepada saudara2 kita yang anda nasehati..
    Sesungguhnya Islam itu Indah, Iman itu indah, kebersamaan & persatuan juga indah semua didasari karena mencintai dan menyayangi karena Alloh semata…
    Untuk semua pembaca : cerita saya diatas bukan ingin menghasut atau mempengaruhi, sekedar berbagi cerita dan bukan dengan maksud mengajak anda2 untuk mengikuti cara saya…yang saya lakukan ini adalah salah satau bentuk tanggungjawab saya kepada Alloh sebagai pemimpin keluarga saya yang akan sy pertanggung jawabkan kepada Alloh kelak, jadi kalau nanti ada yang ikut2an dengan cara berpikir saya ini maka itu menjadi tanggung jawab anda2 sendiri kepada Alloh karena saya tidak bermaksud mempengaruhi untuk diikuti…
    Aku mencintaimu semua saudara2ku seiman…berbeda pendapat bukan berarti membencimu dan terpecah belah…
    Wasalamualaikum wr. wb

  201. Setelah baca komentar-komentar di atas, saya jadi semakin bersemangat berjuang bersama HTI. Pengelola blog ini komentarnya cuma berputar-putar saja dan terjebak dengan masalah yang diajukannya sendiri. Sementara HT sudah selesai dengan masalah qada dan qadar dengan pemahaman yang benar dan saat ini sedang terfokus untuk membangkitkan umat melalui tegaknya Khilafah. Saran saya, blog ini jangan ditutup, biarkan saja masyarakat yang menilai. Semakin banyak yang melihat blog ini, mereka akan semakin mengenal HT dan kebenaran aqidah yang diperjuangkannya …

  202. assalaamu’alaykum. pak pengelola saya perhatikan betul dan garis bawahi kesimpulan yang pak pengelola tarik dari hasil diskusi. kesimpulan itu tidak mewakili pemahaman ht tentang qodlo wal qodar. bahkan itu kesimpulan yang keliru untuk menggambarkan pemahaman HT tentang qodlo wal qodar. saya malah penasaran balik tanya ke pak pengelola. tahukah anda akar permasalahan qodho wal qodar ini? (1) qodlo wal qodar tidak dikenal dalam literatur quran dan sunah………. untuk penyataan saya yang pertama ini pak pengelola dan pembaca lainnya bisa memahami tidak?

  203. Imam Ibnul Qayyim menulis sebuah kitab berjudul Syifaul Alil Masail Qadha wal Qadar yang tebalnya ratusan halaman dengan ulasan lengkap tentang Qadha dan Qadar dengan dalil-dalil al Qur’an as Sunah dan atsar Shahabat serta fatwa ulama ahlussunnah dari zaman pendahulu Islam.

    Silahkan baca kitab itu agar wawasan anda tentang qadha dan qadar tidak hanya taqlid dengan pemahaman Taqiyyuddin saja.

    Kitab itu ratusan halaman dan isinya padat sekali dengan dalil, tidak seperti kitab-kitab taqiyyuddin yang hanya mengedepankan pemahaman akal daripada dalil.
    Apalagi kitab yang tebal itu hanya membahas qadha dan qadar saja, sungguh luar biasa Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmati beliau.

    • Imam Syafi’i kayaknya juga kalah tuh sama Ibnu Qoyim, mengingat beliau (imam Syafii) juga tidak bikin kitab Qodho Qodar setebal gitu (510 halaman pdf). Barangkali imam yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik atau bahkan Imam Ahmad juga kalah tidak ada yang bikin kitab membahas Qodho Qodar setebal gitu. Demikian juga Imam Bukhari, Imam Muslim dll … kalah semua wis …

  204. anda tidak jawab pertanyaan saya! jangan membelokan topik. apakah anda temukan kata qodho wal qodar dalam quran maupun sunah? cari tidak akan ketemu!

    • sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Kebanyakan penyebab kematian di kalangan ummatku setelah ketetapan kitabullah dan qodho’ serta qodar-Nya adalah karena penyakit ‘ain.” (HR. Thabrani dan selainnya, dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari` (X/167)).

    • @abu roya, ulama dari dulu sudah banyak membahas lho masak nggak ada literatur ? kecuali anda tidak mengakui ulama-ulama terdahulu kecuali Taqiyuddin

  205. @mirsha, @abu roya, @dynux, @abd. albantany :

    Kalau ga bisa mengeluarkan hujjah yang kuat untuk membantah topik-topik yang ada di blog ini mendingan antum semua mengaku dan menyerah aja deh.

    Apa sih beratnya bilang gini : ” Berhubung saya ga bisa membantah topik yang ada di blog ini dengan dalil-dalil yang kuat, maka saya nyerah aja dan topik yang ditampilkan disini memang benar adanya dan HT/HTI keliru dalam hal ini.

    • Rutho,
      Berdebat itu bukan untuk menang kalah, tapi untuk menunjukkan argumen. Kalau argumen diterima ya silahkan, kalau tidak ya silahkan. Masing masing boleh mempertahankan pendirian apabila itu memang benar2 digali dari dalil yang shahih.
      Kalau menang kalah itu dijadikan tujuan berdebat maka tengoklah hadits Nabi SAW : “Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”. (HR Tirmidzi)

  206. Ikut Numpang komentar …

    Tidaklah seseorang itu dikatakan beriman kepada takdir sampai dia mengimani 4 Tingkatan dalam masalah Takdir:

    1.TINGKATAN AL-ILMU.

    Maksudnya kita harus meyakini bahwa Allah Ta’ala telah mengetahui takdir seluruh makhluk, baik secara global maupun terperinci, baik yang berkenaan dengan perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluk, baik yang terjadi di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Bahkan sesuatu yang tidak akan terjadi, Allah Ta’ala maha mengetahui seandainya yang tidak akan terjadi itu jadi terjadi bagaimana terjadinya.

    Dalil :

    Allah Ta’ala telah berfirman,

    “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? …(Qs. Al-Hajj: 70)

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)

    “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah: 115)

    2. TINGKATAN AL-KITABAH (penulisan)

    Maksudnya kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah selesai menuliskan takdir makhluk yang Dia ketahui itu ke dalam lauh al-mahfuzh, 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amr di atas.

    Dalil:

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Yaasiin: 12)

    “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)

    Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”
    (Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653)

    “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’”(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit rad

    3. TINGKATAN AL-MASYI’AH (kehendak).

    Maksudnya kita meyakini apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang kita kehendaki jika Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karenanya ketika ada sebuah kejadian yang terjadi maka itu berarti Allah telah menghendakinya, karena seandainya Dia tidak menghendakinya niscaya sesuatu itu tidak akan bisa terjadi.

    Dalil:

    Allah Ta’ala berfirman,

    “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)

    “Dan kamu tidak dapat menhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. At-Takwir: 29)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    “Sesungguhnya hati-hati manusia seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan seperti satu hati; Dia memalingkannya kemana saja yang dikehendaki-Nya.”
    (Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2654). Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 1689))

    4. TINGKATAN AL-KHALQ (penciptaan).

    Yakni kita meyakini bahwa semua makhluk, sifat-sifat mereka, perbuatan-perbuatan mereka, bahkan sifat diam dan bergeraknya mereka (dari gerakan sekecil apapun sampai gerakan yang besar), semuanya adalah ciptaan Allah Ta’ala.

    Dalil:
    Allah Aza waja’ala berfirman

    “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Qs. Az-Zumar: 62)

    “Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 96)

    PENYIMPANGAN DI DALAM TAKDIR

    Semua sekte yang sesat dalam masalah takdir dinamakan Qadariah, hanya saja yang ekstrim dalam menolak takdir dinamakan Qadariah, dan sekte ini terbagi lagi menjadi dua golongan, sedang yang ekstrim dalam menetapkan takdir dinamakan Jabriah, dan sekte ini juga terbagi dua.

    Karenanya secara umum ada 2 sekte yang sesat dalam masalah takdir ini:

    1. QADARIAH.

    Sekte yang ekstrim dalam menolak takdir. Sekte ini terbagi menjadi dua:

    a. Qadariah ghulah (ekstrim),
    Yaitu yang mengingkari tingkatan pertama dan kedua dari tingkatan takdir di atas. Sekte ini pertama kali muncul di Bashrah (Iraq) di zaman Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma-. Hukum pelakunya adalah kafir keluar dari Islam, yang mana pengkafiran ini keluar langsung dari mulut Ibnu Umar tatkala beliau berkata:

    “Apabila kamu bertemu orang-orang tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa saya berlepas diri dari mereka, dan bahwa mereka berlepas diri dariku. Dan demi Zat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka menginfakkan emas seperti gunung Uhud, niscaya sedekahnya itu tidak akan diterima hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk.” (HR. Muslim no. 8 )
    Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa sekte ini sudah tidak ada zaman ini, alias punah.

    b. Qadariah judud (neo Qadariah)
    Dikenal juga dengan nama Mu’tazilah. Mereka ini sekte yang mengingkari tingkatan ketiga dan keempat. Hukum pelakunya tidak kafir, tapi dikategorikan ke dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka.

    2. JABARIAH.

    Sekte yang ekstrim dalam menetapkan takdir, sampai-sampai mereka meyakini bahwa seluruh makhluk itu tidak punya kehendak dalam perbuatannya, tapi Allahlah yang mengatur atau memaksa dirinya untuk berbuat. Sekte ini juga terbagi dua:

    a. Yang meyakini al-jabr (pemaksaan dari Allah) secara lahir dan batin. Yakni mereka menyatakan bahwa semua niat, kehendak, dan juga amalan zhahir makhluk adalah paksaan dari Allah Ta’ala. Ini adalah mazhab Jahmiah yang telah dikafirkan oleh 500 orang ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Al-Lalakai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah.
    b. Yang meyakini al-jabr hanya dalam hal yang zhahir, tidak pada perkara batin. Hukumnya tidak kafir tapi juga dikategorikan ke dalam sekte bid’ah yang sesat.

    Setelah anda semua mendengarkan pembicaraan masalah takdir dalam rekaman itu.
    Anda semua akan bisa menilai HTI itu menyimpang dalam masalah takdir
    dalam tingkatan apa saja…..

    monggo di teliti kembali……

    Allahua’lam

  207. tuk Pak Hasan dan yang lainnya saya cabut pernyataan saya yang kedua. afwan yang itu keliru. tetapi pernyataan yang pertama tetap saya pertahankan. apa sebab..

    Dari dalil-dalil Quran maupun Sunnah kita dapati kata qodlo berdiri sendiri dan memiliki beberapa makna. juga kata qodar berdiri sendiri dan memiliki beberapa makna. tidak digabungkan sebagai qodho wal qodar kecuali di hadits yang pak hasan kutip juga saya temukan dikeluarkan oleh al-Bazzar

    makna qodlo dan makna qodar dalam hadits yang pak Hasan kutip tersebut adalah makna aslinya seperti yang digambarkan dalam quran dan sunnah.

    namun istilah qodho wal qodar (qodho yang diiringi qodar disambung dengan huruf wawu) tidak pernah digunakan oleh para sahabat maupun tabi’in. qodlo wal qodar memiliki arti tertentu yang berlainan dengan kata qodlo maupun qodar dalam nash.

    untuk mengetahui pemahaman HT tentang qodlo wal qodar dan mengapa HT membahas permasalahan qodlo wal qodar seharusnya dimulai dari awal mula munculnya istilah tersebut.

    kemunculannya dipicu oleh filsafat Yunani. lalu ummat Islam berusaha memberikan jawaban dengan pendapat Islami, Muktazillah memberikan pendapat, lalu dibantah jabariyah, dan keduanya dibantah ahlusunnah.

    masalah filsafat yang masuk itu adalah mengenai pahala dan siksa atas seorang hamba, dimana Islam ajarkan perbuatan buruk dibalas siksa dan perbuatan baik dibalas pahala. pertanyaannya:
    1. dalam melakukan perbuatan baik atau buruk itu manusia dipaksa atau bebas melakukan?
    2. apakah manusia bisa memilih antara keduanya atau tidak?

    diskursus seputar pertanyaan ini dikenal dengan istilah huriyatul irodah, jabr wal ikhtiyar juga dikenal dengan istilah qodlo wal qodar. namun yang paling terkenal adalah sebutan qodlo wal qodar.

    qodlo wal qodar yang dimaksud HT adalah yang itu, bukan qodlo maupun qodar dalam quran dan sunnah.

    nah anda-anda semua kalau dapat pertanyaan seperti itu apa jawabnya?

  208. Bismillah

    abu roya@

    Kata qodlo dan qodar itu memiliki makna sendiri2 jika berkumpul dan memiliki makna yang sama jika berpisah. seperti Iman dan Islam atau fakir dan miskin.

    abu roya@
    …..masalah filsafat yang masuk itu adalah mengenai pahala dan siksa atas seorang hamba, dimana Islam ajarkan perbuatan buruk dibalas siksa dan perbuatan baik dibalas pahala. pertanyaannya:
    1. dalam melakukan perbuatan baik atau buruk itu manusia dipaksa atau bebas melakukan?
    2. apakah manusia bisa memilih antara keduanya atau tidak?

    Jawab:
    1. Dalam melakukan perbuatan baik atau buruk manusia tidaklah dipaksa.
    karena Allah telah berikan kehendak kepada makhluknya.
    Allah berfirman:

    “ Tidaklah kalian berkehendak , kecuali apa yang Allah kehendaki, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana “. (al insan : 30)

    didalam Ayat itu ada dua bantahan sekaligus buat orang yang menyimpang terhadap takdir.

    a. “Tidaklah kalian berkehendak ”
    ini menyatakan bahwa manusia punya kehendak. dan in merupakan bantahan terhadap jabariah ekstrim yang meniadakan kehendak makhluk, karena kita maklumi bersama dengan akal kita bahwa kita itu mempunyai kehendak.

    b. “kecuali apa yang Allah kehendaki”
    ini menyatakan bahwa semua kehendak kita itu telah di kehendaki oleh Allah. dan ini merupakan bantahan terhadap mu’tazilah yang Allah tidak ikut campur pada kehendak makhluk.

    2. Manusia jelas bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk,kerena manusia diberi kehendak, diberi akal dan itupun tidak bertentangan dengan akal kita kan?
    makanya Allah turunkan Al Quran dan di utusnya para Nabi, dan diterangkan jalannya menuju kefajiran dan jalannya menuju ketaqwaan.
    terserah mau menempuh yang mana?

    Kenapa mereka pada keliru dan menyimpang atau bingung dalam masalah ini?
    Karena mereka hanya paham bahwa Allah itu punya satu kehendak saja!
    Padahal Allah itu punya 2 kehendak yaitu:

    1. Irodah kauniyah.
    yaitu kehendak Allah yang mesti terjadi, baik itu yang dicintai maupun yang dibenci Allah.
    Contohnya: Allah ciptakan Iblis, ciptakan manusia yang berbuat dosa dll, itu kehendak Allah yang mesti terjadi.
    dengan Kehendak Allah ini Allah mempunyai hikmah yang sangat agung sekali.
    Satu Saja contoh hikmahnya:
    Akan muncul perbuatan taubat dari makhluk yang bertaubat dari dosanya sehingga akan bertambah agunglah asma Allah At Tawabin ( yang menerima taubat). dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung di dalamnya.
    Jadi tidak benar jika Allah berbuat dlolim seperti yang dikatakan HTI dalam rekaman itu.
    inilah kesalahan mereka karena mengkhiyaskan perbuatan Allah dengan perbuatan makhluknya.

    2. Irodah dieniyah syari’ah
    yaitu kehendak Allah yang mesti terjadi dalam hal yang dicintai saja.
    Yaitu semua ketaatan kepada Allah yang di ilhamkan pada makhluk untuk melakukanya.

    Jika seseorang tidak bisa membedakan 2 irodah ini maka dia akan bingung memahami takdir, dan apabila dia tidak “jujur bersama Allah dalam minta petunjuknya” maka dia akan tergelincir jatuh dalam kesesatan masalah takdir.
    Satu lagi yang perlu kita perhatikan,
    kenapa Jiblil mengulang kata kerja dalam hadist takdir itu?
    karena sulitnya beriman kepada takdir maka perlu perhatian khusus dan selalu minta petunjuk Allah dengan jujur dan ikhlas dalam mencari kebenaran, bagaimana memahaminya dan mengimaninya dengan benar.

    Allaua’lam

  209. Perlu saya tambahkan lagi ,

    Kenapa orang bisa tersesat dalam masalah takdir ini?
    Selain mengkiyaskan perbuatan Allah dengan perbuatan makhluknya sering kali juga seseorang menanyakan apa hikmah dari perbuatan Allah itu.

    Apa hikmahnya?,
    apa ilahnya?
    Kenapa ya Allah melakukan ini?
    Apa ya hikmah dibalik semua ini?

    Itu juga sebagai akar kesesatan dalam masalah takdir. bukankah Allah itu maha memiliki hikmah?
    Dan tidak satupun perbuatan Allah kecuali memiliki hikmah yang sangat Agung. Cuman sebagihan kecil saja yang diberitahukan kepada makhluknya dan itu sebagai ujian juga buat kita, maka para ulama mengingatkan kepada kita untuk mengimani saja dan dilarang mempertanyakan hikmahnya..
    bukankah Allah juga telah berfirman:

    لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْن

    Artinya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya dan merekalah yang akan ditanyai(apa yang diperbuatnya).”(QS. Al Anbiya’: 23)

    Allahu a’lam

  210. Sudahlah akhi abu roya, hujjah anda sudah dipatahkan oleh al akh hasan, dan al akh si luman juga sudah lumayan banyak menjelaskan.
    Meskipun saya pribadi mungkin ada juga berbeda pendapat namun apa yang anda ucapkan dan apa yang di doktrinkan oleh HT bahwa qodlo wal qodar tidak dikenal dalam literatur quran dan sunah maka itu doktrin salah dan menyimpang.
    Bahkan jika anda katakan tidak pernah dibahas oleh shahabat itupun salah.
    Makanya saya sarankan silahkan baca dulu kitab Ibnul Qayyim berjudul Syifaul Alil Masail Qadha wal Qadar yang mana kitab ini sudah diterjemahkan, insyaAllah setelah membacanya wawasan kita akan terbuka.

    @ dnux :
    semua ulama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, bukan berarti ibnul qayyim itu paling hebat namun satu-satunya ulama yang memiliki kitab khusus membahas qadha dan qadar secara tuntas dan lengkap adalah beliau, adapun masalah fiqh memang tetap tidak sebanding dengan imam madzhab fiqh seperti Imam Syafii, Imam Ahmad, dsb, bahkan saya pun tidak mengambil madzhab fiqh ibnul qayyim, dalam perkara hadits juga tidak sebanding dengan para imam ahlul hadits seperti Imam Bukhari dan Muslim, dsb, namun dalam perkara qadha dan qadar ini mari kita jujur pada diri kita bahwa beliaulah yang membahas paling lengkap.

  211. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Menurut pendapat ana.
    para ulama membuat kitab tidak lain dan tidak bukan, ana yakin semuanya hanya untuk menjelaskan isi alqur’an dan assunnah ,supaya “sampai “dan masuk kesetiap dada umat ,untuk dipahami dan dicerna ,mereka para ulama disyaratkan hafiz Qur’an dan Assunnah ,dsb
    sebagian ulama berpendapat seperti imam ahmad bin hambal ditanya ,bilakah ulama itu boleh berfatwa kalau sudah hafal 500 ribu hadits menurut beliau boleh berfatwa ( nukilan dari syiar a’lam annubala )
    walaupun memang ada sebagian ulama juga ada yang geregetan
    tidak mengindahkan yang seharusnya hanya di imani malah di ta’wil
    QS Ali ‘Imran ayat 7
    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
    ana sarankan semuanya berlapang dada karena banyak hal yang berbeda :
    – kapasitas penerima ilmu berbeda – beda.
    – Tingkat keimanan dan kadar maksiat yang berbeda – beda.
    – dalam memulai belajar tidak tartil ,inginnya kepokonya padahal para ulama tersebut dalam memahaminya perlu puluhan tahun, sedangkan kita ingin langsung jadi ( efeknya banyak mengkritik ,menghujat dsb ).
    ana sarankan jangan sampai menjadi kutoba,sedikit ilmu banyak bicara ,perbaikilah dirinya sendiri mudah – mudahan orang lain mengikuti .
    – jangan pernah bermimpi bersejajar dengan para imam ,mereka semua itu sudah terjaga kredibelitasnya kalau mereka mengeluarkan pemikirannya hargailah mereka .bukankah kitab yang mereka karang kita harus tetap timbang dengan mizan yang baik yaitu dengan Alqur’an dan assunnah ( keduanya pasti kita semua yakini adalah wahyu dari Allah Azzawajalla )
    – jangan gegabah dalam berkata .
    – jangan saling tuduh sehingga ketingkat yang paling keji kafir mengkafirkan ,bahkan penghuni negara baik itu arab saudi atau mesir dll ,jadi korban kata – kata jahil dan keji.
    QS.At Tahrim 6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    ana sarankan camkan ayat diatas jagalah diri dan keluarga ,karena menurut ana yang paling susah itu menjaga diri sendiri ketimbang orang lain.
    terkadang untuk urusan keluarga saja ,terabaikan ,padahal dirumah itulah scup negara terkecil ,setelahnya itu rt ,rw dsb,coba kita pakai alqur’an dan assunnah itu didalam keluarga masing – masing dengan tertib,jikalau khawatir pakai kitab karangan ulama yang menjelaskan tentang isi Alqur’an dan assunnah.
    ana yakin semuanya sayang kepada umat islam ,baik itu ht atau mantan ht ,dan yang ikut diskusi ( saya yakin 1000% ,yang menjadikan berbeda ,karena cara pandangnya yang berbeda ),tetapi tujuannya sama ada berkeinginan untuk menyatukan umat islam .
    tetapi ada kejanggalan dan keanehan kenapa ko hawa nafsu ( atau hasil pikiran perorangan atau organisasi) ko diadu dengan alqur’an dan asunnah padahal semua jelas mengakui itu adalah wahyu,jelas tidak akanada yang mau semuanya jikalau dikatakan menentang alqur’an dan asunnah ,ana yakin.
    Jadi jikalau ingin memperbaiki umat islam pakailah Alqur’an dan assunnah
    ana yakin mulailah dari diri sendiri ,bukan mulai dari orang lain.
    tujuan komaht ana yakin yang masih aktif di ht supaya kembali kepada Alqur’an dan assunnah untuk meninggalkan buku a d a r t ht,untuk beriman cukup kepada Alqur’an dan assunnah tidak memakai kitab buatan manusia( pasti kitab karangan manusia yang “ditujukan untuk pegangan hidup untuk dunia dan akhirat” pasti banyak menyimpangnya ) .
    wallahu a’lam
    semoga semuanya diberkahi dan diberikan Rahmat dan Karunia yang besar oleh Allah Subhanahuwata’ala aamiin.

  212. Assalamu ‘alaikum wr. wb.
    Setelah saya mengamati dan merenungkan, blog ini dibangun atas dasar keinginan untuk (maaf, kalau salah) menjatuhkan kesahihan perjuangan HT. Masyarakat awam, begitu melihat banyak istilah mantan…mantan HT, mantan NII, mantan ….dsb, diharapkan langsung menuding, bahwa HT itu memang tidak sahih. Tapi, biasanya, seperti pepatah ‘orang menjadi besar karena memar,’ nikmat karena sengsara….bahkan satu karya novel, menjadi novel masyhur, setelah dikritik habis-habisan oleh para tokoh sasra. Kalau ada novel tidak ada yang mengkritik, wah…gak bakalan terkenal. Macam orang Barat, akhir-akhir ini terus menghantam Rasulullah SAW, justru karena mereka melihat perkembangan Islam di Eropa yang begitu cepat…. Saya kebetulan tinggal di Bandung….dulu HT belum begitu dikenal. Sekarang, kalau kita perhatikan, setiap Jumat, Buletin Al-Islam sudah beredar di mana-mana, bahkan di Masjid yang ada di komplek militer….tampaknya mereka sudah mulai menerima ide khilafah dan syariah… Memang, seharusnya kita bersimpati pada HT, saya menyaksikan sendiri, bagaimana mereka mensedekahkan banyak waktunya, harta, untuk membumikan Khilafah, dengan mengunjungi para ulama, tokoh masyarakat…dan memang banyak juga darisah gagal yang menjadi momok di tengah masyarakat, dengan menakut-nakuti, tapi ya semuanya seperti pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu….bolehlah kita bertukar pikiran, berhujah dengan hujjan yang baik, dengan hikmah, kalau gak setuju pada pemkiran HT, seharusnya langsung diskusi sama pimpinan, bukan di blog, karena akan menimbulkan perselisihan, debat kusir, dan menebarkan kebencian. Saya yakin aqidah kita sama, rabb kita sama, Qurannya sama, kenapa kita g khusnudzan aja ama HT. Maafkan kelancangan saya, orang awam ini.

    • Siapakah yang tidak merindukan khilafah ? tentu semua merindukannya, tapi khilafah yang bagaimana ? tentunya khilafah yang syar’i bukan khilafah yang justru memiliki dustur/qanun asasi yang menyimpang seperti khilfah versi HT.
      Dan apakah para pejuang khilafah itu maksum sehingga tidak boleh dinasehati kesalahannya ? apakah kesalahan aqidah yang terjadi pada Taqiyyuddin tak boleh kita luruskan ?
      La haula wa la quwwata illa billah.

  213. Panji Kelana@ mentinya sampeyan itu baca dari awal buat apa seh bela kelompok klu memang salah? itu namanya ta’ashub.
    lihatlah hujjah2nya HTI semua sudah terpatahkan….
    saya tidak melihat blog ini kecuali hanya nasehat buat umat.
    baik yang di HTI kalau mau berbenah maupun yang bukan sehingga mereka faham klu HTI itu sesat bahkan sudah masalah aqidah yaitu masalah qodlo dan qodar…..

  214. Lek Min@ matur nuwun atas komen Panjengan. Semoga Allah SWT memberikan keberkatan kepada hidup Panjenengan. Terus terang justru saya menemukan jalan untuk memperbaiki kehidupan Islam yang sudah banyak menyimpang dari Al Quran dan As-Sunah. Ngomong2 panjengenan sudah membaca kitab ‘Peraturan Hidup dalam Islam,’ yang membahas Qodlo dan Qodar, belum? Kebetulan saya sudah membaca dan mempelajarinya, dan alhamdulillah saya paham dan sependapat, sahih…jangan marah yo Lek Min, santai saja.

  215. Anda mungkin baru membaca Nidzamul Islam saja sementara penjelasan terperinci justru adanya di Syakhsiyah Islamiyah.
    Tapi meskipun demikian ini menunjukkan anda tunduk pada aqal anda bukan pada dalil sehingga anda mengikuti pendapat Taqiyyuddin, padahal Taqiyyuddin jelas mengatakan bahwa Lingkaran yang dikuasai manusia Tidak termasuk dalam Qadha dan Qadar.
    Waliyaudzubillah.

    • Aswrwbkt
      Pengelola : (1) menuduh tanpa dasar itu fitnah (2) menuduh dg comot separuh2 itu juga fitnah (3) salah copas itu juga fitnah
      Semuanya : gunakan kata yang bagus. Nabi SAW bersabda : man laa yarham laa yurham. Barangsiapa yang tidak merahmati maka dia juga tidak akan dirahmati.
      Saya sama sekali tidak berkerberatan dikatakan menyimpang dengan “ahuls-sunnah” karena sekali lagi sudah jelas bahwa syaikh Taqi juga menyalahkan “ahlus-sunnah” Hanya sekali lagi ya sudah, tawaquf saja pada perbedaan masing2. apa yang antum anggap benar belum tentu kami anggap benar, demikian juga apa yang antum anggap salah barangkali bagi kami itu adalah benar.
      Wallahu muwafiq ilaa aqwamith thoriq.

  216. Alhamdulillah, saudara dnux yang seorang aktifis HT dengan gagah mengakui secara lapang dada bahwa : dia, HT, dan Taqiyyuddin benar-benar MENYIMPANG dari AHLUS SUNNAH dan MENYALAHKAN AHLUS SUNNAH dalam perkara Qadha dan Qadar.
    Syukran saudara dnux, setelah ini silahkan kita berjalan sendiri-sendiri menurut aqidah yang kita yakini, anda berjalan berdasar aqidah HT dan saya berjalan berdasar aqidah ijma’ ahlus sunnah.
    Dan insyaAllah di akhirat kelak kita buktikan mana yang lebih benar, aqidah HT ataukah ijma’ ahlus sunnah.

    • menurut anda aqidahnya salafy itu sama dengan aqidahnya “ahlus sunnah” tidak ? atau ternyata juga menyimpang dari aqidah “ahlus sunnah” ?

      wassalam. dwi

      • Aqidah Salafy sama seperti Aqidahnya Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhamad Bin Abdul Wahhab, Sama juga dijelaskan Imam Malik, Sama saja Dijelaskan Imam Syafi’i, Sama juga dengan yang ditulis Imam Bukhori (kitab [Khalqu] Af’alil Ibad), Sama juga dengan kitab Al Ulluw Imam Ad Dzahabi. Dan Qadha dan Qadar sama dengan koma HT (^_^).

  217. Salafy yang mana ? saya bingung jika ada orang yang bilang salafy karena banyak sekali kelompok yang katanya salafy, dan saya sungguh tidak begitu paham tentang mereka satu persatu.

    • @pengeoloa : anda benar. saya juga bingung, tapi yang jelas yang macem2 akarnya kan dari pemikiran Syaikh M Abdul Wahab. pertanyaan lebih basic : Apakah aqidahnya Syaikh M Abdul Wahab itu sama atau berbeda dg Aqidah “Ahlus Sunnah” ? Semoga antum bisa menarik ibrah dari pertanyaan saya.
      @hasan : anda ini terlalu optimis. hehehe … kok semua diramu jadi satu gitu. Buktinay dari ulama2 Salafy ada yang menyalahkan aqidahnya Imam Bukhari dan bahkan Syaikh Utsamin (?) bikin buku ttg kesesatan aqidah Imam Ibn Hajar
      Wassalam

      • Buktinay dari ulama2 Salafy ada yang menyalahkan aqidahnya Imam Bukhari dan bahkan Syaikh Utsamin (?) bikin buku ttg kesesatan aqidah Imam Ibn Hajar

        Ngawur, ini berita dari mana ? Jangan jadi tukang fitnah. Syaikh Utsaimin hanya menjelaskan masalah “takwil” dalam sebagian kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar. Dalam hal itu beliau dinggap keliru (hanya pada bagian tauhid asma’ wa shifat pun sebagian saja). Kesalahan beliau tidak menjadikan sesat lho he he. Anda aja paling denger dari”katanya dan katanya” kemudian membuat tuduhan.

      • Apakah aqidahnya Syaikh M Abdul Wahab itu sama atau berbeda dg Aqidah “Ahlus Sunnah” ? Semoga antum bisa menarik ibrah dari pertanyaan saya.

        Mungkin lebih ke Ibnu Taimiyyah nantinya . nah masalah Ibnu taimiyyah silakan merujuk ke perkataan Ibnu hajar (syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/03/ibnu-taimiyah-dikafirkan-ibnu-hajar-meradang/)

        silakan juga merujuk pada perkataan Imam Ad Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim (mereka murid2 Ibnu Taimiyyah)

      • @hasan : kok meradang sih …
        saya tidak mau membahasa apakah Ibn Taimiyah sesat atau tidak ataupun mana yang paling benar. sudah terlalu banyak pembahasan atas hal itu.
        Disini Saya hanya memberikan baseline bahwa : Ada perbedaan antara aqidah Ibn Taimiyah dg “Ahlus Sunnah”. >> “Ahlus Sunnah” dengan tanda kutip. Artinya adalah menurut “Ahlus Sunnah” pendapat Syaikh Taimiyah itu menyimpang demikian pula menurut Ibn Taimiyah, pendapat “Ahlus Sunnah” itu juga menyimpang
        Karenanya saya juga tidak masalah bila dikatakan pandangan HT yang berasal dari Syaikh Nabhani itu menyimpang menurut pandangan kelompok yang mengaku “Ahlus Sunnah” ataupun oleh kelompok yang juga mengaku “Ahlus Sunnah”.
        Wassalam;

      • ya sudah kalau cara anda berpikir begitu (^_^) akan tetapi sudah jelas khan kalau pemikiran Syaikh Taqiyuddin (masalah Qadha dan Qadar) berbeda dengan pendapat “Ahlusunnah” semacam Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar, Imam Ad Dzahabi, Imam Ibnu Katsir dan sederet ulama “ahlusunnah” he he.

        begitukhan kesimpulannya saudara Dwi ?

      • @Dnux, anda sih kalau melempar “tuduhan” nggak tanggung-tanggung sampai menyebut ulama salafy menyalahkan aqidah Imam Bukhori, sampai menuduh syaikh Utsaimin meyesatkan Ibnu Hajar.

        Temen anda satunya nuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
        Anda Nuduh ulama salafy yang lain

      • @Hasan :
        (1) saya bukan orang yang suka cari perbandingan pendapat ulama lalu ikut menyalah2kan. jadi bisa jadi saya salah dalam tulis spt yang imam Utsaimin itu .. kan sudah saya pake tanda tanya (?) artinya saya sendiri not sure. Ternyata setelah tak browsing ulang adalah Bin Bazz. Saya tidak punya bukunya tapi sangat sering baca di pajangan teman2 Salafy yang jual buku itu di masjid2. Kalau mau bisa saja saya donlot arabnya lalu baca2 untuk menambah argumen atau pembuktian. tapi saya rasa itu tidak perlu … biarlah berbeda dan saya tidak akan ikut manas2i debat antara orang2 Salafy vs Asy’ari …
        (2) Kalau antum sampaikan apakah masalah Qodho Qodar nya Syaikh Nabhani berbeda dg Ulama Salafy atau Ulama Asy-ariyah saya bisa menjawab memang berbeda. Tapi kalau disuruh njawab apakah berbeda dg pemahaman Imam Syafi’i Ahmad Hanafi Maliki saya tidak bisa jawab demikian juga apakah masing2 dari Imam 4 itu sama persis atau beda2 dikit, saya juga tidak tahu …
        wassalam

      • @dnux

        yah mungkin “akhlak” antum dengan saya berbeda. Jadi uslubpun juga berbeda sehingga ketika menyampaikan suatu tuduhan yang masih bersifat tanda tanya saya tidak menggunakan kalimat “Buktinay dari ulama2 Salafy ada yang menyalahkan aqidahnya Imam Bukhari dan bahkan Syaikh Utsamin” seperti anda ini.

        Tapi lebih pada kalimat :
        Apakah benar Ulama salafy menyesatkan Imam Bukhori (khan bisa tanya saya sebagai roang salafi)

        pemahaman Imam Syafi’i Ahmad Hanafi Maliki saya tidak bisa jawab demikian juga apakah masing2 dari Imam 4 itu sama persis atau beda2 dikit, saya juga tidak tahu

        kalau gitu cari tahu dong (^_^) siapa tahu tidak sama. Tuh lihat saja di kitab Ar-Risalah (Imam Syafi’i)

      • sekali lagi saya tidak mau panjang lebar, tapi kayaknya antum muncul ghiroh pembelaannya gitu dan terus meminta saya memanjangin.

        (1) ok sekaligus minta konfirmasi kepada antum ttg ucapan saya berikut ““Buktinay dari ulama2 Salafy ada yang menyalahkan aqidahnya Imam Bukhari dan bahkan Syaikh Utsamin”. Ini saya dapatkan dari (banyak) milist/web Asy’ariyah yang mencuplik begini :

        dalam Kitab Shahih al-Bukhari beliau melakukan ta’wil terhadap ayat 88 surah al-Qashash “كل شيء هالك إلا وجهه أى إلا ملكه”, “tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”. (al-Qashash: 88)”. “Maksud `illa wajhah, adalah `illa mulkahu (kecuali kerajaan-Nya)” (Shahih al-Bukhari).

        Ketika ditanya tentang penakwilan seperti dalam Shahih al-Bukhari tersebut, al-Albani mengatakan: “هذا لا يقوله مسلم مؤمن”, “penakwilan seperti ini tidak akan dikatakan oleh seorang muslim yang beriman” (fatawa al-Albani, Pg. 523).

        benarkah begitu di Fatawa Albani ? terus terang saya belum cross check dan minta cross check ke antum sekalian.

        (2) yang utsaimin tadi sudah saya terangkan bahwa yang benar adalah bin baz yang bikin buku tentang kesalahan Ibn Hajar dalam aqidahnya di dalam kitab Fath Baru… >> salah dalam aqidah itu apa bukan sesat ??

        wassalam

    • dnux, ingat lho kitab Al Ulluw Imam Ad Dzahabi merupakan salah satu rujukan para ulama salafy juga mengenai aqidah juga dengan kitab Af’alil Ibad karangan Imam Bukhori, Bukan melulu syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

      Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab memliki kitab yang bagus dalam kasyfu syubuhat (ini yang dijadikan rujukan mengenai tauhid uluhiyyah karena struktur penjelasannya bagus menurut saya)
      Ibnu Taimiyyah memiliki kitab yang bagus dalam Aqidah Al Washitiyyah (Mengenai tauhid asma wa shifat yang bagus penjelasannya)
      Ad Dzahabi ada Al Uluw (Tauhid, termasuk Asma’ wa shifat)
      Al Bukhori ada Af’alil Ibad (Tauhid dan bantahan kepada Jahmiah)

    • @dnux, maksud saya saya mengingatkan akhlak antum dan teman2 HT yang lain agar jangan suka melempar tuduhan tanpa bukti yang valid gitu lho (^_^). Tapi baiklah saya jawab pertanyaan anda :

      Mengenai masalah Imam Bukhori :
      Setahu saya perkataan tersebut adalah benar dari Syaikh Al Bani, berikut penjelasannya (agak panjang)

      Al-Imam al-Bukhari memahami ‘Asma’ WasSifat Allah sesuai dengan pemahaman Salafus Sholih. Beliau tidaklah mentakwil dengan takwil yang batil. Mari kita simak penjelasan al-Imam al-Bukhari dalam Shahihnya:

      “ { Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya} yaitu KekuasaanNya, dan dinyatakan juga : ‘kecuali segala yang diinginkan dengannya Wajah Allah “ (Shahih al-Bukhari juz 14 halaman 437).
      Ini adalah pernyataan beliau yang bisa didapati pada sebagian naskah Shahih al-Bukhari, dan pada naskah yang lain tidak ada. Pernyataan Imam al-Bukhari ini bisa dijelaskan dalam beberapa hal penting:

      Pertama, Imam al-Bukhari menukilkan beberapa tafsiran yang masyhur terhadap ayat tersebut. Dalam hal ini beliau menyebutkan makna : “Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya, dalam 2 penafsiran :
      a. إلا ملكه : kecuali ‘Kekuasaan’ / ‘milik’Nya.
      b. إلا ما أريد به وجه الله : kecuali segala yang diinginkan dengannya Wajah Allah. Artinya, segala sesuatu yang dilakukan ikhlas karena Allah.

      Imam al-Bukhari menukilkan 2 penafsiran ini, namun sebenarnya beliau lebih cenderung memilih pendapat yang kedua. Maknanya, segala sesuatu akan binasa/lenyap kecuali amalan yang dilakukan ikhlas hanya untuk Allah.
      Bagaimana kita bisa tahu bahwa Imam al-Bukhari lebih cenderung pada pendapat yang kedua, bukan yang pertama?

      Mudah sekali. Hal itu dijelaskan oleh alHafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Beliau menyatakan:
      “ Mujahid dan ats-Tsaury berkata tentang firman Allah : ‘Segala sesuatu akan binasa, kecuali WajahNya’, yaitu: kecuali segala sesuatu yang diharapkan dengannya WajahNya. AlBukhari menghikayatkan dalam Shahihnya sebagai pendapatnya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan Quran Surat al-Qoshosh ayat 88 juz 6 halaman 135 cetakan alMaktabah atTaufiqiyyah ta’liq dari Haani al-Haj).

      AlHafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menjelaskan dalam Fathul Baari:

      قَوْله : ( إِلَّا وَجْهه : إِلَّا مُلْكه ) فِي رِوَايَة النَّسَفِيِّ ” وَقَالَ مَعْمَر ” : فَذَكَرَهُ . وَمَعْمَر هَذَا هُوَ أَبُو عُبَيْدَة بْن الْمُثَنَّى ، وَهَذَا كَلَامه فِي كِتَابه ” مَجَاز الْقُرْآن ” لَكِنْ بِلَفْظِ ” إِلَّا هُوَ ” وَكَذَا نَقَلَهُ الطَّبَرِيُّ عَنْ بَعْض أَهْل الْعَرَبِيَّة ، وَكَذَا ذَكَرَهُ الْفَرَّاء

      Ucapan al-Bukhari {kecuali WajahNya : kecuali Kekuasaan/milikNya} ada pada riwayat anNasafiy dengan menyatakan : ‘Ma’mar berkata….’kemudian disebutkan ucapan tersebut. Ma’mar ini adalah Abu Ubaidah bin alMutsanna. Ucapan tersebut terdapat dalam kitabnya “Majaazul Qur’aan”, akan tetapi dengan lafadz ‘kecuali Dia’. Demikian juga dinukil oleh atThobary dari sebagian ahli bahasa Arab, dan disebutkan juga oleh al-Farra’ (Lihat Fathul Baari syarh Shahih alBukhari juz 13 halaman 292).

      Dari penjelasan alHafidz di atas bisa disimpulkan bahwa Imam alBukhari menukilkan tafsiran ‘Wajah’ Allah dengan ‘Kekuasaan’/’Milik’ Allah berdasarkan riwayat anNasafiy dari perkataan Ma’mar. Namun, perkataan Ma’mar dalam kitabnya Majaazul Qur’an bukanlah menafsirkan kalimat ‘kecuali Wajah Allah’ dengan ‘kecuali Kekuasaan Allah’, tapi dengan ‘kecuali Dia’. Dari sini nampak jelas bahwa penukilan tafsir ‘Wajah Allah’ dengan ‘Kekuasaan’/’Milik’ Allah sebagai ucapan Ma’mar adalah penukilan yang tidak benar. Atas dasar inilah, maka Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbaany ketika ditanya tentang hal ini beliau meragukan tafsiran itu sebagai tafsiran dari Imam alBukhari sendiri, dan tidak mungkin Imam alBukhari menyatakan demikian [Silakan kalau anda punya waktu silakan check text manuskrip Imam Bukhori yang tanpa syarh dari Fathul Bari biar lebih paham maksud]

      itulah Maksud Syaikh Albani (^_^)

      Mengenai Ibnu Hajar, memang betul Syaikh Utsaimin (kayaknya bukan syaikh Bin Bazz dalam Syarh Arba’in An Nawawiyyah) (dan mungkin juga syaikh Albani) mengkoreksi beliau mengenai masalah takwil pada sebagian sifat. Tapi apakah ini artinye menyesatkan ? Jauh sekali kalau memahami konteks keseluruhan (kita bukan model yang mengatakan kalau ada TKI “disiksa” di saudi kemudian berteriak dengan kesimpulan “Saudi Bukan negara Islam Karena Menyiksa TKI”). silakan saja check ke link berikut : (males nulis panjang he he) bantahansalafytobat.wordpress.com/2010/10/20/bantahan-7-kedustaan-tuduhan-al-utsaimin-mengkafirkan-annawawi-dan-ibnu-hajar/

      mohon maaf sekali lagi OOT , ini untuk memberi pelajaran kepada HTI’ers agar tidak suka main “tembak dulu” TABAYYUN BELAKANGAN.

      • (1) bolehkah saya dishared fatwa albani yang dimaksud. barangkali antum bisa scan terus ditaruh di rapidshare, 4shared dll supaya saya bisa mengambil kesimpulan apakah itu memang menurut syaikh albani atau tafsiran antum sekalian atas maksud perkataan syaikh albani. kalau untuk fathul bari insyaAllah saya bisa download sendiri.
        (2) syabab HT perdiskusian membahas kerajihan pendapat diantara ulama “salafus shalih” ataupun ulama “salafy” terkait masalah seperti itu. Biarlah berbeda pendapat selama itu ada dalilnya dan memang ada justifikasi argumentasinya baik itu tafsir ataupun takwil
        (3) syabab HT lebih suka berdebat dalam hal penegakan Syariah dan Khilafah. Khilafah yang diperjuangkan tidak mengadopsi satu madzhab aqidah ataupun fiqh tertentu. Semuanya dipersilahkan ada selama tidak keluar dari rambu2 ikhtilaf karena semua madzab itu akan dipersilahkan untuk exist di Khilafah
        (4) pencuplikan saya terhadap tuduhan kepada Bukhari ataupun Ibn Hajar sekedar untuk menyatakan bahwa dianggap menyimpang itu adalah hal yang biasa. Kalau Ibn Hajar dikatakan salah dalam aqidah itu menyimpang apa bukan sebagaimana antum2 sekalian katakan bahwa HT menyimpang karena salah aqidah
        (5) demikian juga untuk mengingatkan bahwa Salafy dimata “Ahlus Sunnah” juga menyimpang sebagaimana Salafy juga menuduh “Ahlus Sunnah” menyimpang bahkan ada yang saling mengkafirkan. Sementara dalam hal perbedaan dalam aqidah, HT berprinsip bahwa selama pendapat tidak menyelisihi dari dalil2 qoth’i (dilalah & tsubut) maka tidak boleh dikafirkan.
        (6) menuduh tanpa tabayun itu juga sering dilakukan oleh Salafy dan lain sebagainya. jadi sebenarnya akhlaq kita sama saja dan merupakan hal yang harus dibetulkan diantara kita semua. Demikian juga dalam penafsiran yang tidak sesuai dg pihak yang ditafsirkan. Lihat saja di halaman ini masih saja dipajang padahal telah banyak diskusi untuk membenarkan ” yang menentukan manusia masuk surga dan neraka adalah murni manusia sendiri yang menciptakan terjadinya sedangkan Allah tidak menentukannya.”

        wassalam

  218. @dnux :
    Bagaimanakah aqidah beliau itu ?

  219. @Pengelola, ana memang seorang novelis, jadi ana kurang paham kitab2, ana serahkan kepada antum untuk membahasnya, hanya jangan terlalu banyak teori, jadi banyak perbedaan, dan menurut saya perintah Allah SWT itu tidak mesti njimet-njilet, dan semuanya mudah saja dipahami, banyak pendapat malah bikin umat bingung…ayat juga semuanya jelas, kita disuruh salat, puasa, qishas, saling menyayangi sesama muslim, bukan berbantah-bantahan, dirikan pemeritah Islam…itu yang belum ada dan harus ditegakkan agar Islam berjaya dan banyak orang masuk surga…tapi panjengan udah amat yakin bahwa hujjahnya paling saheh di hadapan Allah kelak. Saya memang banyak takut, kalau salah di dalam mafahim, dan saya banyak beristighfar, dan saya juga berdoa jangan sampai ada di antara umat Islam yang masuk neraka, untuk semuanya, apakah dia HT, mantan HT, NU, Persis, pokoknya semuanya….lawan kita yang asli itu Iblis dan kesombongan di dalam diri kita…

  220. Pak pengelola saya mo tanya tentang tulisan antum di atas ini:

    Kedua, Hal-hal yang tidak ditentukan Allah dan murni manusia sendiri yang menciptakan terjadi tidaknya hal tersebut, misal manusia tidak ditentukan masuk surga atau neraka akan tetapi manusia sendiri yang menentukan ia akan menjadi ahli surga atau neraka dengan melakukan amalan sholih atau maksiyat, sehingga amal sholih dan maksiyat manusia yang menentukan manusia masuk surga dan neraka adalah murni manusia sendiri yang menciptakan terjadinya sedangkan Allah tidak menentukannya.

    pertanyaan :
    1. Klu begitu Allah itu gak tahu apa yang mau diperbuat manusia?
    2. berarti Allah juga tidak tahu isi hati manusia dong,
    3. bukankah ini berarti mengingkari ilmu Allah seperti tulisan si Luman diatas?

    karena saya pernah mendengar ustad bilang orang yang mengingkari ilmunya Allah itu kafir keluar dari islam apa betul begitu pak pengelola…

    maaf harap dimaklumi lagi belajar dan mencari kebenaran…

    • Itu yang saya tulis adalah pendapat HT bukan pendapat saya, mohon disimak lagi secara lengkap agar tidak salah paham.
      Itu adalah hasil kesimpulan diskusi dengan aktifis HT yang rekamannya saya upload dalam mp3.

  221. @semuanya, suatu hari saya menonton teve, yang bicara ahli tafsir, Prof. Dr…beliau mengatakan dengan bangganya…di Indonesia ajaran Islam mana yang belum dilaksanakan? Semua dah okey. Kemudian ada yang bertanya ‘bagaimana dengan hukum jinayah?” di jawab dengan semangat “itu hanya persoalan mazab’….saya membatin, kalau semua syariat Islam sudah dijalankan, mengapa di Indonesia masik banyak kemaksiatan, mengapa pezina tidak dirajam, pencuri tidak dipotong…kalau semua hukum itu boleh dihindari hanya alasan ada madzab yang berpendapat boleh tidak melakukan hudud….jadi ayat2 itu dianggap apa? Bukankah kita harus melaksanakan semua ayat itu? Dan kalau suatu ayat belum dapat dilaksanakan karena terhalang satu peroalan, kita wajib menghilangkan persoalan itu?Pertanyaannya, apakah tadi pendapat guru2 semua imam2, telah mengantar kita semua untuk mengembalikan kehidupan Islam seperti di zaman Rasul atau zaman khilafah? Atau kita menunggu takdir Allah tanpa berjuang….masalah khilafah Islam kalau sudah waktunya pasti nongol….Khilafah Islam akan muncul dengan dua syarat, Allah sudah menghendaki dan ada yang berjuang…sebagaimana Islam tumbuh atas kehendak Allah dengan wasilah perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat, bukankah di dunia berlaku hukum sebab akibat yang memang sudah ditentukan oleh Allah? Renungkanlah…

  222. NAMANYA JUGA HTI
    mestinya loyalitas itu tertunju untuk Allah dan rasulnya jika memang mau menegakkan syari’at islam tapi kenapa di kemukakan ayat dan hadist kok masih berkiblat sama Taqiyudin yang jelas2 menyimpang dari Ayat dan Hadist….
    coba!!!!!
    “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan :’Apakah kita tidak pasrah saja pada ketetapan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang dipermudah (menuju ketetapannya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramalah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”). Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”
    [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

    Kenapa gak imani itu saja?
    APA ORANG2 HTI ITU GAK ADA YANG BISA MEMAHAMI HADIST ITU?
    atau kurang sahih riwayat bukhari muslim?
    apa Taqiyudin lebih mengetahui daripada rasulullah ….
    atau memang hanya taklid buta sama Taqiudien…

    HERAAAAANNNN AKU!!!!!!!
    BEGITU KOK MAU MENEGAKKAN SYARI’AT ISLAM dan MENDIRIKAN KHILAFAH…
    HADIST YANG JELAS SHOHIH AJA DITOLAK dan LEBIH MENDAHULUKAN PERKATAAN TAQIYUDIN….

    • @SitiN : baca argumentasi2 diatas dan jangan terjebak pada kesimpulan admin dan mengikuti hawa nafsu sendiri tanpa tabayun
      @hasan : kayak gini nih contohnya kengawuran + tidak tabayun oleh Siti N yang entah ini salafy atau bukan … yang jelas ngawur sekali dan tidak membaca keseluruhan diskusi sebelumnya.
      ini semua terjadi karena admin masih menuliskan kesimpulannya sendiri yang ngawur ” masuk surga dan neraka adalah murni manusia sendiri yang menciptakan terjadinya sedangkan Allah tidak menentukannya.”
      ——— masak mau mulai diskusinya dari awal ? capek deh ————
      wassalam

      • Afwan ya akhil karim,
        Silahkan tunjukkan fatwa taqiyyuddin yang mengatakan manusia masuk surga atau neraka sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, adakah ???
        jika tidak ada maka jelas siapa yang benar dan yang salah dalam hal ini.

  223. Panji Kelana@
    …….
    Atau kita menunggu takdir Allah tanpa berjuang….masalah khilafah Islam kalau sudah waktunya pasti nongol….Khilafah Islam akan muncul dengan dua syarat, Allah sudah menghendaki dan ada yang berjuang…sebagaimana Islam tumbuh atas kehendak Allah dengan wasilah perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat, bukankah di dunia berlaku hukum sebab akibat yang memang sudah ditentukan oleh Allah? Renungkanlah…

    pertanyaan saya:
    teladan kita itu siapa? Rasul apa taqiyudin?
    Rasul itu dalam menerapkan syariat islam mendirikan khilafah dulu apa menanamkan Tauhid dulu?
    23 tahun rasulullah berhasil!!!
    berapa lama HTI sampe sekarang ….?apa yang sudah didapatkan dari usahanya?

    • @lekmin ? berhasilkah salafy sampai sekarang ? kok masih banyak syirik banyak yang tawasul tabaruk atau bahkan larung sesaji ngirim korban buat merapi bromo dll ?? sudah berapa ratus tahun tuh dakwahnya ? kok tidak berhasil berhasil juga ? apa karena tidak meniru Rasulullah sehingga tidak berhasil ? #analogi saja biar mikir …

    • @lekmin : berhasilkah salafy sampai sekarang ? kok masih banyak syirik banyak yang tawasul tabaruk atau bahkan larung sesaji ngirim korban buat merapi bromo dll ?? sudah berapa ratus tahun tuh dakwahnya ? kok tidak berhasil berhasil juga ? apa karena tidak meniru Rasulullah sehingga tidak berhasil ? #analogi saja biar mikir …

      • Mohon jangan berseteru seputar prestasi da’wah, saya yakin masing-masing baik HT maupun salafy ada pasang surut perkembangan da’wah, bahkan khilafah Turki Utsmani saja tidak mampu kok membendung syirik, bid’ah, dan maksiyat yang merebak di tubuh kaum muslimin.
        Bahkan taliban sebagai sebuah rezim wahabi garis keras sekalipun ternyata hanya mampu menghukum dengan keras tapi tidak mampu menyadarkan, karena hidayah itu tidak bisa dengan paksaan kekuasaan, akan tetapi hidayah diperoleh dengan jalan da’wah bil hikmah.
        Sebaiknya mari kita kembalikan ke tema diskusi, semoga Allah merahmati.

  224. @yang belum tahu, pembahasan Qadla dan Qadar sebagaimana yang telah dilakukan oleh para saikh imam terdahulu, memang telah membuat pemahaman umat terpecah sehingga timbul golongan ahluh sunah, Mu’tajilah, dan Jabariyah…pendapat mereka saling bertolak belakang, yang pertama manusia ibarat wayang, dan Allah itu dalangnya, jadi semua gerak-gerik, dalang yang melakukan, termasuk saat masuk kotak ke neraka atau surga…kedua berpendapat, bahwa manusia itu macam robot, Allah yang mencipta dan mendesain, lalu dia bergerak sendiri…yang sejatinya pendapat itu memang menghasilan pertentangan saja…tidak ada hubungannya dilihat dari sisi pahala dan siksa…kita tidak disuruh mengutak-atik yang di luar kekuasaan manusia…maka di dalam Kitab Nizham Al-Islam, Sekh Taqiyuddin, menjelaskan tentang Qadla dan Qadar yang berkaitan dengan area yang dikuasai manusia dan area yang bukan bagian manusia…Saya nukilkan paragraf akhir …..bab Qadla dan Qadar, …..Manusia akan menyadari pula bahwa Allah telah memberikan kepadanya kebebasan memilih untuk melakukan suatu perbuatan ataupun meninggalkannya. Apabila manusia tidak pandai-pandai menggunakan hak pilihnya itu, tentu ia akan terperosok ke neraka jahanam, memperoleh siksa yang pedih. Seorang mukmin sejati yang memahami hahekat qodlo dan qodar, hakikat nikmat,akal dan nikmat hak pilih yang telah dikaruniakan Allah, akan didapati bahwa ia akan waspada dan takut kepada AllahAWT. Ia akan selalu berusaha melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena takut ditimpa azab serta merindukan surga-Nya. Bahkan ia menginginkan yang lebih besar dari itu, berupa keridhaan Allah SWT….Jadi kalau kita mengikuti pendapat, bahwa manusia itu ibarat wayang, lalu ghairah apa yang muncul? Ah, sudahlah, semuanya sudah ditentukan di sono…jadi yang ikut pendapat…surga itu melulu dikerjakan oleh kita….kalau dia gagal berbuat dia akan putus asa dari rahmat-Nya….bisa jadi manusia gagal dia….Dan Saikh Taqiyudin tidak mengatakan bahwa Allah itu tidak tahu, nasib manusia, karena Dia memang Maha Tahu…tapi kita memang diberi pilihan mau taqwa apa fujur…(memang perlu ketelitian dan perenungan yang dalam untuk memahami masalah Qadla dan Qadar)…jadi yang ditinjolkan jangan perbedaan antara pendapat Ahlus-sunah dan Saikh Taqiyudin, kemudian menuduh Syaih Taqi Mu’tazilah, justru Siakh Taqiyudin mengambil jalan agar pertentangan keduanya dapat ternetralisir, dengan memahami Qadla dan Qadar menurut area yang dikuasai manusia, dan area yang menjadi hak prerogatif Allah, dan manusia tidak dihisab, untuk sesuatu yang di luar kemampuannya….Wallahu a’lam.

    • Ini semakin membuktikan bahwa taqiyyuddin memang beranggapan bahwa masuk surga atau neraka manusia itu manusia sendiri yang menentukan bukan ditentukan Allah sejak zaman azali.
      Jadi jelas menyelisihi hadits-hadits Nabi yang mengatakan manusia sudah ditentukan masuk surga atau neraka sejak zaman azali.

  225. @Lek Min juga, aku jadi ketawa sendiri dengar pendapat Lekmin, memangnya kalau ngaji di HT itu tidak dibahas tauhid…pertama sekali yang dibahas itu thariqul iman….jalan menuju iman, dan agar manusia itu tidak syirik…tauhid juga…masalahnya membersihkan tauhid tanpa khilafah…omon koson…Betul kata Kang dnux, syirik masih meraja lela…dan antum diam saja ada ziarah sek di Kemukus, ritual pemujaan, banyak dukun syririk, zimat dijual di mana-mana….dan ingat, Mekah bersih dari kurafat berhala setelah fukhtu Mekah setelah timbul khilafah…dan perlu diketahui bahwa kami berusaha mengikuti dakwah Rasulullah SAW, karena Saikh Taqiyudin pun meneladani rasulullah…adapun gaung khilafah didengungkan itu untuk mengkanter dengan negara demokrasi bikinan barat, dan mengingatkan bahwa dulu pernah ada khilafah Islam yang berjaya selama 14 abad….dan satu-satunya yang ditakuti barat itu bukan dakwah membersihkan khurafat, tetapi ndakwah mendirikan Khilafah yang dapat membersihkan syirik dan menjayakan Islam….gitu Lek!

    • @Panji Kelana :
      Apa yang anda sampaikan adalah hal-hal biasa yang kita semua disini sudah tahu dan paham sekali ya akhi….

      Saya paham yang anda sampaikan adalah doktrin dari Taqiyudin Nabhani oleh para senior anda. Dan anda telan mentah-mentah tanpa membandingkan dengan pendapat Jumhur Ulama di Kitab-Kitab Induknya, yang ternyata banyak fatwa Taqiyudin Nabhani yang menyalahi pendapat Jumhur Ulama.

      Itulah yang namanya TAKLID BUTA ya akhi..

      Tingkatan Taklid :
      1. Bila baru belajar Islam boleh ber Taklid Buta sama gurunya. Inilah level anak TK dan SD.
      2. Tapi bila sudah mendalam belajar Islam nya tidak dianjurkan untuk bertaklid buta. Sifat kritis mulai timbul untuk meyakinkan kebenaran. Inilah level Mahasiswa, Master dan Doktor.

      Anda tidak bisa memberikan Hujjah dan Dalil untuk menggugurkan Topik-Topik di Blog ini. Dan andapun begitu menelan mentah-mentah doktrin dari Taqiyudin Nabhani.

      Kesimpulannya marilah kita dalam belajar Islam jangan hanya berhenti di level anak TK dan SD yang hanya mengandalkan Taklid Buta.

      Afwan nih, Taklid buta antum kepada Taqiyudin Nabhani sangat mengkhawatirkan sekali ya akhi.

    • Semua kelompok agama pasti mengajarkan aqidah di awal pelajaran pada anggotanya, bahkan agama kafir pun begitu. Jadi bukan masalah mengajarkan aqidah aau tidak tapi masalahnya apakah aqidah yang diajarkan sudah benar atau tidak.
      Memang benar barat takut pada khilafah, tapi itu elit militernya saja, adapun elit spiritual yaitu para pendeta dan rahib tidak takut khilafah tapi takut pada da’wah Islam yang saat ini berkembang pesat di barat, oleh karena itu mereka berusaha memfitnah Islam dari segala sisi bahkan mengolok2 Nabi dan membakar al Qur’an, ini bukan ditujukan agar tidak berdiri khilafah tapi agar ajaran Islam tidak mendapat simpati.

      Khilafah yang menjadi solusi adalah khilafah yang ittiba pada Rasulullah dan khuafaur rasyidin, bukan khilafah versi HT yang mengadopsi hukum-hukum modern pada Dustur nya.
      Siapa bilang HT mengikuti Nabi, silahkan anda baca Dustur/ Rancangan UUD khilafah HT, apakah itu semua mengikuti Nabi ? apakah Nabi dan khulafaur rasyidin melakukan sistem voting seperti khilafah versi HT ?

      • @pengelola :
        (1) kayak apa khilafah yang ittiba dg Rasul & Khilafau Rasyidin itu ? ada bukunya ndak biar kita bisa lihat2. barangkali justru nanti usulan ente malah kayak KERAJAAN Saudi ….
        (2) bukankah waktu pemilihan Utsman RA sebagai khalifah ketiga itu adalah dengan voting yang kemudian 50:50 dan diajukan syarat berikutnya untuk menentukan siapa yang layak ??

  226. @Sahabatku Siti N,
    Kami tidak mengikuti Saikh Taqiyudin karena beliau mengaku Nabi, tetapi kami mengikuti beliau karena beliau mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW. Kami mengikuti metode dakwah HT, justru karena mengamalkan hadist yang anti kemukakan, yakni kami beramal dengan sepenuh jiwa dan harta, kami menyedekahkan segenap waktu untuk menjelaskan pentingnya sarana Khilafah untuk menghidupkan Islam…dakwah kami memang banyak tantangan…sahabat di PKS merasa kami menjadi penghalang karena nonparlemen, dan sahabat2 lain juga menuduh kami agen pemerintah, karena selalu bersilaturahim dengan aparat pemerintah seperti tentara, pejabat, polisi…ingat akhi, ukhti, meski pemerintah kita masih bersistem yang tidak Islami, tapi mereka adalah umat Islam, saudaraku juga…yang perlu diajak diskusi dengan menyodorkan satu konsep yang isnya Allah dapat menjadi solusi kaffah dari semua masalah….Sekali lagi, saat ini yang saya rasakan hanya metode HT yang digagas Saikh Taqiyuddin yang paling mendekati metode Rasulullah…jadi kalau kami sepaham dengan Saikh Taqi, bukan berarti kami mengabaikan Quran Hadist, karena yang kami perjuangankan adalah agar Quran Hadis mengejawantah di muka bumi….Wallahu a’lam bishowab.

    • Siapa bilang Taqiyyuddin mengikuti Nabi, silahkan anda baca Dustur/ Rancangan UUD khilafah HT di Nidzamul Islam, apakah itu semua mengikuti Nabi ? apakah Nabi dan khulafaur rasyidin melakukan sistem voting seperti khilafah versi HT ?

      • @pengelola
        (1) kayak apa khilafah yang ittiba dg Rasul & Khilafau Rasyidin itu ? ada bukunya ndak biar kita bisa lihat2. barangkali justru nanti usulan ente malah kayak KERAJAAN Saudi ….
        (2) bukankah waktu pemilihan Utsman RA sebagai khalifah ketiga itu adalah dengan voting yang kemudian 50:50 dan diajukan syarat berikutnya untuk menentukan siapa yang layak ??

  227. dnux@
    Dimana letak ngawurnya?
    tunjukkan ?
    saya sendiri juga sudah mendengarkan pembicaraan di rekaman itu…
    disitu orang ht mengatakan klu seseorang ditakdirkan masuk neraka katanya Allah zolim.
    iya kan?

    • @sitiN : baca saja treat diskusi sebelum komen antum tentang pemahaman HT sebenarnya dan sejelasnya dalam masalah taqdir vs usaha.

  228. @semuanya,
    ada pertanyaan, sudah lebih dari 32 tahun berdakwah kok Khilafah belum maujud, apa dagangan HT kagak laku? atau dagangan HT itu tidak mendapat dukungan Allah? Pertama, menurut pendapat saya, HT sudah mengikuti dakwah sesuai metode Rasulullah, tahapan sudah sampai tholabun nusrah, sebagaimana Rasulullah SAW bersama Zaid, anak angkatnya pergi ke Thoif, dan mendapat penolakan. Kedua, cakupan dakwah saat ini bukan hanya negeri, seperti Mekah yang ketika itu sempt, tapi saat ini mondial, sudah mendunia, sehingga tantangan menjadi lebih berat, dan butuh waktu lebih lama, dan insya Allah saat ini sudah banyak ulama yang menerima dan mendukung ide HT, walau banyak pula yang tidak sepaham. Kedua, sebagai manusia biasa, mungkin dalam berjuang kami belum seikhlas Rasulullah dan para sahabat. Ketiga, memang Allah SWT belum menghendaki. Namun demikian, di dalam perjuangan itu bukan keberhasilan yang dinilai, tetapi usahanya…kami sampai menemui tahap tegaknya khilafah atau belum, pasti ada ganjaran di sisi Allah, sama halnya sahabat di Salafy, meski masih banyak syirik di tengah masyarakat, kalau kita sudah berusaha berdakwah, maka hal itu tidak akan menghalangi pahala kita…karena yang dinilai Allah itu usahanya. Wallahu a’lam.

  229. @SitiN…
    Mungkin begini, Ukhi…Kalau kita mengikuti paham bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah, kemudian ditentukan masuk surga atau neraka, ibarat dalang yang semaunya memasukkan wayang ke kiri atau ke kanan (surga atau neraka) itu mungkin yang dimaksud sebagai ‘dzalim’, tetapi Allah SWT tidak dzalim, karena sesudah menciptakan manusia, kemudian diberi nikmat untuk menentukan sendiri dua pilihan, mau taqwa atau fujur, nah di situ manusia menentukan pilihannya, taqwa atau fujur. Wallahu a’lam.

    • Ayat فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
      (Faalhamaha fujuraha wa taqwaha)
      artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.
      Maksudnya Allah menjelaskan kepada manusia apakah jalan-jalan kebaikan itu dan apakah jalan-jalan keburukan itu. (Lihat Tafsir Jalalain).

      Jadi tidak seperti yang anda tafsirkan diatas.

  230. @Nak Rutho yang baik,
    terima kasih atas penilaiannya, bahwa saya taklid buta…tapi di negeri ini masih banyak manusia yang taklid buta..bahkan taklidnya bukan pada saikh yang dianggap mutjahid, tetapi pada adat istiadat, pada kepala kampung. Dan taklid itu memang boleh, kalau kita sudah tahu argumen dan dalilnya…tidak asal ikut, tapi mempelajari mengapa beliau berkata begitu. Akhi, insya Allah saya sudah pernah belajar di NU, Persis, Jemahaan Tablig, dan juga berinteraksi dengan sahabat dari Tarbiyah, dll, dan juga membaca rujukan banyak kitab. Mudah2an anda yang sudah doktor, bisa berbuat lebih banyak…saya kebetulan master, tapi Master Pendidikan. Wallahu a’lam bishwab.

  231. Kami hanya mengikuti apa yang pernah di mulai rosulullah yaitu menanamkan Tauhid,Soal hasilnya itu urusan Allah dan kita tidak di bebani untuk manusia itu bertauhid semua.
    Karena juga itu tugas semua para nabi dan rasul yaitu menanamkan tauhid pada manusia. bukan khilafah seperti HTI.
    Apakah ketika Rasulullah berhasil itu bumi bersih dari kesyirikan? dimana orang majusi, nasrani ,yahudi hindu budha dan lainnya?

    • @lekMin
      (1) dalam buku awal yang dikaji syabab HT yaitu Nidzom Islam atau Peraturan Hidup dalam Islam, 2 bab pertama adalah masalah Thoriqul Iman dan Qodo Qodhar. Bab ketiga adalah Qiyadah Fikriyah yaitu bagaimana menjadikan Aqidah Islam sebagai Ideologi yang harus memimpin individu & masyarakat. Ini apa belum bukti bahwa pertama yang ditanamkan kepada syabab adalah aqidah … sudah baca belum sih ?
      (2) Rasulullah itu bukan menanamkan tauhid saja, tapi juga mewujudkannya ke dalam sistem kemasyarakatan yaitu membentuk Daulah Islam. Kalau sampean cuman menanamkan saja tanpa mencari cara mengimplementasikannya berarti baru mengikuti separuh dakwah Rasul. Tanggung banget …
      wassalam

      • Semua kelompok agama pasti mengajarkan aqidah di awal pelajaran pada anggotanya, bahkan agama kafir pun begitu. Jadi bukan masalah mengajarkan aqidah aau tidak tapi masalahnya apakah aqidah yang diajarkan sudah benar atau tidak.
        Memang benar barat takut pada khilafah, tapi itu elit militernya saja, adapun elit spiritual yaitu para pendeta dan rahib tidak takut khilafah tapi takut pada da’wah Islam yang saat ini berkembang pesat di barat, oleh karena itu mereka berusaha memfitnah Islam dari segala sisi bahkan mengolok2 Nabi dan membakar al Qur’an, ini bukan ditujukan agar tidak berdiri khilafah tapi agar ajaran Islam tidak mendapat simpati.

        Daulah Khilafah yang menjadi solusi adalah daulah khilafah yang ittiba pada Rasulullah dan khulafaur rasyidin, bukan khilafah versi HT yang mengadopsi hukum-hukum modern pada Dustur nya.
        Siapa bilang HT mengikuti Nabi, silahkan anda baca Dustur/ Rancangan UUD khilafah HT, apakah itu semua mengikuti Nabi ? apakah Nabi dan khulafaur rasyidin melakukan sistem voting seperti khilafah versi HT ?

      • @pengelola :
        (1) kayak apa khilafah yang ittiba dg Rasul & Khilafau Rasyidin itu ? ada bukunya ndak biar kita bisa lihat2. barangkali justru nanti usulan ente malah kayak KERAJAAN Saudi ….
        (2) bukankah waktu pemilihan Utsman RA sebagai khalifah ketiga itu adalah dengan voting yang kemudian 50:50 dan diajukan syarat berikutnya untuk menentukan siapa yang layak ??

      • @dnux :

        1. bukankah sudah sering saya katakan bahwa khilafah model saudi itu salah, begitu pula model Turki Utsmani yang monarki, itupun keliru, adapun khilafah versi HT yang mengacu pada Dustur yang termuat di Nidzamul Islam itupun menyelisihi khilafah Nabi dan khulafaur rasyidin karena mengadopsi sistem voting suara terbanyak.

        2. Anda telah keliru besar dalam tarikh Islam, apakah anda tidak membuka kitab-kitab sirah sehingga anda katakan Utsman dipilih dengan voting ?
        Proses terpilihnya Utsman sebagai khalifah adalah sebagai berikut :
        Khalifah Umar bin Khatthab mengajukan enam calon khalifah yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zuber bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdur Rahman bin Auf. Dari enam calon ini setelah di konfirmasi ke masing-masing calon hanya dua yang sanggup, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kedua-duanya siap untuk menggantikan khalifah Ummar bin Khatthab. Namun dalam sidang shahabat (alim ulama ahlul halli wal aqdi) yang dipimpin oleh Abdur Rahman bin Auf, dipilih secara MUFAKAT Utsman bin Affan sebagai khalifah. Ali bin Abi Thalib juga sepakat menerima dan melakukan bai’at atas pengangkatan Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga.

        Jadi dimana letak votingnya ?
        Adapun HT melakukan proses voting pemilihan khalifah dimana seluruh rakyat baik yang alim maupun yang fasik semua memiliki satu suara sama dalam pemilihan umum khalifah.

      • @pengelola
        (1) mangkanya, mana dustur mu ataupun terserahlah yang kira2 bisa menggambarkan khilafah versimu supaya bisa dilihat apakah sesuai sunnah atau tidak
        (2) dari 6 calon, 2 memberikan dukungan/hak-nya ke Ali RA dan 2 lagi memberikan haknya ke Utsman RA. ini namanya voting.

      • @ dnux :
        Begini ana jelaskan ya akhi,
        Itu adalah syuro mufakat sekumpulan kecil shahabat ya akhi beda dengan voting sebab hasil terpilihnya Umar itu dimufakati bersama di akhir syuro meskipun di awal syuro masing-masing shahabat berbeda pendapat,
        kalo voting itu tidak ada syuro mufakat namun langsung memakai suara terbanyak dan hasilnya (suara rakyat terbanyak) langsung diambil baik itu di mufakati atau tidak.
        Lantas dimana perincian perbedaannya dengan HT ?
        1. Dalam khilafah HT yang diambil suaranya dalam pemilihan khalifah adalah seluruh rakyat adapun dalam pemilihan utsman hanya para shahabat pilihan saja yang bermusyawarah.
        2. Dalam HT hasil pemilu suara terbanyak baik itu dimufakati atau tidak secara otomatis menjadi hasilnya, adapun dalam syuro shahabat sewaktu memilih utsman, keputusan akhir adalah kata mufakat bersama bahkan Ali pun bermufakat.

        Jadi dimana votingnya ya akhi ?

  232. Panji Kelana@
    anda udah dengerkan belum seh diskusi direkaman itu?
    disitu orang HTi bilang Allah tidak tau dia mau beli khamr apa susu….
    disitu orang HTI bilang orang beli Khamr apa susu itu kehendak manusia sendiri …Allah gak ikut campur …
    dengarkan dulu to…..
    bukankah Allah telah berfirman:

    “ Tidaklah kalian berkehendak , kecuali apa yang Allah kehendaki, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana “. (al insan : 30)

  233. Akur Lek, kita memang disuruh memberantas kemusyrikan, dengan cara memberi nasihat, melarang atau sejenisnya. Kan ada hadist, kalau kita melihat kemungkaran, habisi dengan kekuatan (kekuasaan), nasihat, dan doa. Dari ketiga alat itu, kekuasaan paling okey. Memang, khilafah itu hanya alat. Saat ini pun kami berusaha membersihkan kemusyrikan, tapi baru sebatas nasihat, dan banyak gagal…bapak saya, paman saya, yang di kampung sulit dicegah untuk tidak meminta perlindungan ke kubur, tapi coba kalau ada SK dari pemerintah, tidak boleh umat Islam menyembah kubur…pasti banyak yang urut. Itu urgensinya kekuasaan khalifah…berikutnya, kalau Lek Min sudah pernah pergi ke Pattani, Sambunga (Mindanau), waduh kaum muslimin digenjet, tidak berkutik dan tidak ada yang bela, kalau melawan disebut teroris…maka itu urgensi adanya kekuasaan Islam yang dusebut khilafah…memang Rasuk waktu berdakwah tidak ngomong dirikan khilafah…tapi tetap membentuk daulah Islamiyah untuk melindungi kaum muslimin…majusi, nasrani memang tidak mati, tapi kalau ada khilafah mereka tidak berani, sekarang coba umat Nasrani yang sedikit berani mengacau di Bekasi….begitu Lek. saya setuju tauhid harus okey, kebetulan saya bertugas di pedalaman Sabah Malaysia, yang namanya kemusyrikan luar biasa…di sana saya baru bisa membangun masjid dan menyuruh orang salat berjamaah, tp mereka sulit keluar dari lingkaran kurafat, nasihat dan dalil gak mempan…yang mempan apa kekuasaan….Jadi Lek Min teruskan dakawan tauhid dan dukung kami dakwah politik, nanti bersinergi…Wallhou a’lam.

  234. @Ukhti SitiN
    Terus-terang ana belum mendengar isi ceramah itu, tp kita memang tidak begitu saja mafahim sebuah ayat, karena di ayat lain pun ada keterangan ‘Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah apa2 yang ada pada mereka’, Nah dalam memahami ayat ini yang seakan bertentangan dengan ayat yang antum sebutkan pun perlu memahami dari macam2 sudut kajian….afwan saya belum melihat tafsir para imam….tapi lebih baik anti coba kaji pendapat Saikh Taqiyudin langsung dari kitab Nizhamul Islam….bab qadla dan qadar…syukran.

  235. @Nak Rutho,
    Saya kebetulan penulis buku. novelis, jadi memang suka membaca beberapa kitab untuk rujukan, tapi aslinya saya Master Pendidikan, yang saya punya Kitab2 karya Taqiyudin, Subussalam, Nahlul Authar, pokok2 hadist Rasulullah, karya2 Ibnu Qoyyim, bulughur marram, karya A Hasan, karya Ibnu Qumamah, tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Wa’i, Tafsir Al-Bayan, Tafsir Al-Maraghi dll, cukup banyak dah, tapi semuanya memang terjemahan, yang asli hanya Al-Quran, kitab karya Sakh Taqiyudin. Maaflah, karena saya bukan keluaran pesantren, cah ndeso yang belajar agama dalam perjalanan…dari haraokah ke harakah…begitulah sahabat Nak Rutho…afwan…

    • @Panji Kelana :

      Semua kitab-kitab dari para ulama yang sholeh menganjurkan untuk hanya ber ITTIBA’ kepada Rasulullah SAW yang Ma’shum bukan yang lain.

      1. Apakah anda meyakini bahwa semua Hadits Rasulullah SAW adalah benar ?

      2. Apakah anda juga percaya semua Hadits-Hadits Rasulullah tentang Qadha dan Qadhar adalah benar ??

      3. Apakah anda hanya beriman kepada sebagian Hadits Rasulullah SAW dan meninggalkan sebagian Hadits yang lain ?

      3. Manakah yang lebih Utama ?
      mengikuti dan meyakini semua Hadits Rasulullah SAW ataukah Fatwa Taqiyudin Nabhani yang sudah jelas-jelas keliru ?

  236. @Pengelola,
    simak juga ayat yang mengatakan “Dialah yang menciptakan kamu, kemudian kamu kafir dan kamu iman”, itu juga bermakna pilihan. Pokoknya Allah SWT Maha Adil, tidak akan memasukkan manusia ke neraka, sebelum Dia mengutus seorang Rasul…Seseorang manusia beriman memang karena usaha dan juga kehendak-Nya, Allah pun mudah untuk mengimankan manusia…contoh yang kafir langsung kudisan…atau Allah menunjukkan diri, wah semua beriman…tapi Allah tidak berkehendak demikian….Allah menciptakan kita kemudian memberi ujian berupa perintah dan larangan, barulah ada yang lulus, ada yang gagal…Wallahu a’lam.

    • Bukankah sudah ana jelaskan bahwa ayat-ayat al Qur’an dalam perkara taqdir memang seakan terbagi dua, ada yang dicondongi qadariyah seperti ayat anda kutip dan ada yang dicondongi jabariyah seperti ayat :
      “ Tidaklah kalian berkehendak , kecuali apa yang Allah kehendaki, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana “. (al insan : 30)

      Oleh karena itu ayat al Qur’an harus dipahami dengan pemahaman Rasulullah, yaitu dengan hadits-hadits Nabi yang shohih mutawatir dalam perkara ini.
      Dan hadits-hadits Nabi yang mutawatir memahami ayat ayat taqdir tadi dengan pemahaman bahwa manusia telah ditentukan masuk surga atau neraka sejak zaman azali.

  237. dnux @
    Da’wah tauhid kepada siapa?
    pada anggota dan simpatisannya saja kan?
    klu pada masyarakat apa yang di da’wahkan?
    TAUHID??????
    memanas2i hati manusia untuk membenci penguasa kan?

    lagian tauhid saja menyimpang? masa Allah nggak menghendaki kehendak makhluknya…..

    Siapa yang tidak menginginkan diterapkannya syari’at islam itu ?
    Siapa yang tidak ingin daulah islamiyah?
    Saya kira hanya muslim yang jahil yang tidak menginginkannya..

    Syariat islam yang paling pertama kali ditanam itu menebar benih Tauhid, biar bisa tumbuh subur, dipupuk dengan tarbiyah dan dihilangkan hama2 dengan mentashfiyah…
    soal buahnya khilafah itu kita ikut memetik apa anak cucu kita yang itu urusan Allah?

    Bukan seperti HTI ramai2 mengajak manusia memetik buahnya tapi lupa menanam pohonnya….

    • @lha daripada dakwah tauhid dengan mendiamkan kemungkaran penguasa. TKI disiksa kok malah dibela .. gak jelas …
      termasuk bagian dari Tauhid adalah menyampaikan kebenaran kepada setiap kemungkaran, diam adalah tanda selemah2nya iman.
      kalau menyampaikan kebenaran dan membongkar kemungkaran dianggap menebarkan kebencian ya itu salah presepsimu sendiri. yang panas hantinya kan situ karena penguasanya dicela. Kita2 mah adem ayem saja …
      khilafah itu urusan Allah ? wah .. fatalis sekali ente … khilafah itu kewajiban yang dibebankan Allah atas umat Islam. salah tanem bibit …

  238. dnux @
    dan lagi tujuan da’wah itu apa seh?
    apa tujuan da’wah ini harus membentuk khilafah?
    Klu itu tujuannya, sungguh banyak sekali nabi yang gagal dalam da’wahnya?

    • @oalah lek min lek min …
      masak tidak mengambil ibrah dari dakwah para Nabi.
      tujuan dakwah para nabi itu adalah menegakkan tauhid sekaligus menegakkan sistem berlandaskan tauhid itu. Itu Allah SWT mengenggelamkan umat nabi Nuh sehingga akhirnya kekuasaan dan pengaturan masyarakat (yang tersisa) tinggal pada nabi Nuh. demikian juga nabi Musa juga memimpin bani Israel menuju tanah baru untuk lepas dari hukum Firaun dan menegakkan hukum sendiri atas dasar Wahyu. Yang jelas menjadi raja adalah nabi Daud dan nabi Sulaiman.
      Demikian juga baginda Nabi SAW ketika dakwah tauhid di Makkah buntu lalu beliau mulai mencari pertolongan (tholabun nusrah) untuk mencari wilayah independen dengan kekuatan militer untuk menyebarkan da melindungi Dakwah Islam ..

      • Apakah anda katakan bahwa kekuasaan adalah orientasi da’wah para Nabi ?
        Perlu anda ketahui bahwa ummat Nuh ditenggelamkan bukan karena agar Nuh berkuasa, namun karena ummat Nuh menentang da’wah, jika saja mereka tidak menentang da’wah Nuh maka mereka tetap akan dibiarkan hidup meskipun bukan Nuh sebagai raja nya.
        Nabi Musa pun bukan karena ingin membuat negara atau kerajaan sendiri dengan beliau sebagai rajanya namun semata-mata untuk melindungi ummat dari kedzaliman Fir’aun yang mengklaim dirinya Tuhan.
        Maka anda bisa lihat dari sekian banyak Nabi dan Rasul ada berapa persen yang menjadi raja pemimpin negara ?
        Hanya sedikit sekali termasuk yang sedikit itu adalah Daud dan Sulaiman.
        Bahkan Yusuf pun bukan raja melainkan hanya Bendahara Kerajaan saja, sementara Rajanya tidak jelas apakah muslim atau tidak.
        Bahkan Rasulullah tidak pernah punya keinginan menjadi raja, tidak pernah menyukai jabatan penguasa. Beliau menjadi pemimpin pemerintahan setelah da’wah tauhid berhasil ditegakkan sehingga ummat lah yang menjadikan beliau menjadi pemimpin meskipun tidak beliau minta.

      • @pengelola
        (1) coba antum baca terjemahan tafsir AlQurtuby ataupun di Ibn Katsir terkait pemaknaan “khalifah” di QS AlBaqarah 30. Disitu disampaikan dari Ibn Jarir bahwa makna khalifah (khalifatullah fil ardh) adalah sebagai wakil Allah dimuka bumi untuk menegakkan hudud (syariat) , dalam hal ini adalah nabi adam ataupun sulthon adzim.
        (2) ingin atau tidak ingin pada faktnya nabi Musa itu memerintah kaumnya dengan hukum Allah SWT. demikian juga ingin atau tidak ingin RAsulullah SAW itu juga diperintah Allah SWT untuk berdakwah meminta kekuasaan (tholabun nusrah) untuk melindungi beliau dan melindungi dakwah Islam. kok bisa antum bilang tidak minta kekuasaan ?
        (3) Nabi Yusuf itu memang bendahara Firaun pada masa bani Israel telah ditaklukkan lagi oleh Firaun, tapi itu tidak menutupi fakta bahwa nabi2 lainnya memimpin dalam bentuk kerajaan yang bernama Israel.

      • @dnux :
        Yang kita bahas disini adalah orientasi da’wah (tujuan da’wah) jadi kita tidak membahas bagaimana hukum kekuasaan itu akan tetapi apakah kekuasaan itu merupakan tujuan dari da’wah Islam ?
        Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa kekuasaan merupakan tujuan da’wah, silahkan tunjukkan dalilnya jika ada.
        1. Khalifah dalam al baqarah 30 adalah manusia (bani adam) yaitu manusia sebagai pengatur dunia, manusia sebagai makhluk yang diturunkan di bumi untuk mengisi dan mengatur bumi, jadi memang benar tafsir al qurtuby dan imam ibnu katsir tersebut namun maksud menegakkan syariat disini adalah menegakkan kalimat tauhid bukannya ditafsirkan menegakkan kekuasaan pemerintahan atau kekuasaan negara/ kerajaan, silahkan tunjukkan satu saja ulama yang menafsirkan dengan kekuasaan pemerintahan atau negara/kerajaan.
        2. Mana dalilnya Rasulullah meminta kekuasaan ? ini sungguh fitnah terhadap Nabi anda sendiri, tunjukkan dalilnya Rasulullah meminta kekuasaan jika ada, jika tidak ada maka bertaubatlah pada Allah.
        3. Sudah saya jelaskan bahwa hanya sedikit Nabi yang menjadi Raja, kebanyakan justru bukan raja.

      • @pengelola
        anda ini mangkin lucu dan mangkin ngeyel saja
        (1) mengola bumi itu tauhid tok ??? tauhid itu dasar yang membangun syariah. namanya mengelola itu ya menerapkan syariat dengan kekuasaan. kalau tidak punya kekuasaan atas suatu tempat (negara dll) ya bagaimana mengelola di tempat tersebut.
        (2) baca ini di sirah ibnu hisyam : Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa Nabi saw datang kepada Bani Amir bin Sha’sha’ah, lalu mengajak mereka beriman kepada Allah dan menawarkan agama Islam kepada mereka. Kemudian salah seorang dari mereka. Bahira bin Firas berkata,“Demi Allah, kalau aku mengambil anak muda ini dari Quraisy pasti orang-orang Arab akan membunuhnya.“
        Selanjutnya dia bertanya,“Bagaimana jika kami berbaiat kepadamu, kemudian Allah memenangkan kamu atas musuhmu, apakah kami akan mendapatkan kedudukan (kekuasaan) sesudahmu ?“ Jawab Nabi saw,“Sesungguhnya urusan kekuasaan itu kepada siapa yang
        dikehendaki-Nya.“ Bahira bin Firas berkata,“Apakah engkau akan menyerahkan leher-leher kami kepada orang-orang Arab demi mebelamu, tetapi setelah Allah memenangkanmu, kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak ada urusan denganmu.“
        anda ini benar2 dzahiri banget tidak bisa menangkap mafhum suatu dalil !
        (3) itu sudah cukup untuk menyadarkan bahwa ada nabi yang jadi penguasa untuk menerapkan syariat. Nabi2 yang tidak menjadi penguasa itu bisa jadi karena memang tidak menguasai kerajaan atau karena tinggal di daerah terjajah atau memang hanya ditetapkan sebagaimana demikian. Anda niru nabi2 itu atau mau niru nabi Muhammad SAW yang jelas2 merupakan penguasa
        ———- saya makin ragu kalau anda itu pernah ngaji di HT —- terakhir ngaji kitab apa sih ??? ————
        wslm

      • 1. Itu semakin membuktikan bahwa khilafah di ayat ini tidak dimaknai sempit dengan kekuasaan namun maksudnya menjadi pengelola dunia, dan ini bukan dalil bahwa salah satu tujuan da’wah adalah kekuasaan.
        2. Tidakkah anda lihat sendiri dalam sirah yang anda tulis itu bahwa yang minta kekuasaan justru adalah Bahira bin Firas bukan Rasulullah, bahkan Rasulullah itu hanya meminta perlindungan (suaka) bukan kekuasaan.
        Coba anda teruskan baca kelanjutan sirah itu maka akan terbuka petunjuk bagi anda :
        “Setelah menyelesaikan ibadah haji, para jama’ah haji pulang ke negerinya masing-masing, termasuk Bani Amir. Mereka pulang menemui orang tua mereka yang telah lanjut usia dan tidak bisa ikut haji bersama mereka. Biasanya jika mereka telah bertemu kembali dengan orang tua tersebut, mereka bercerita kepadanya tentang apa saja yang terjadi di musim haji. Ketika mereka tiba dari menunaikan ibadah haji pada tahun ini dan bertemu dengan orang tua mereka tersebut, orang tua tersebut bertanya kepada mereka tentang apa saja yang terjadi pada musim haji tahun ini. Mereka menjawab, ‘Seorang pemuda dari Quraisy, tepatnya dari Bani Abdul Muththalib datang kepada kami. la mengaku sebagai nabi dan mengajak kita melindunginya, dan membawanya ke negeri kita.’ Orang lua tersebut meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, kemudian berkata, `Hai Bani Amir, apakah dia masih bisa dicari? Apakah kalian bisa mengambil apa yang telah hilang dari kalian? Demi Dzat yang jiwa Si Fulan berada di Tangan-Nya, sesungguhnya anak keturunan Ismail tidak pernah sekalipun mengada-ngada dalam ucapannya. Ucapannya benar. Mana kecerdasan kalian yang tadinya kalian miliki?”‘
        Nah sekali lagi anda telah menyimpangkan Sirah, bahkan sekarang memfitnah Nabi sendiri dengan mengatakan Nabi meminta kekuasaan.
        Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
        3. Sekali lagi saya katakan pada anda bahwa kita tidak sedang membicarakan hukum kekuasaan dalam Islam tapi kita sedang membicarakan apakah kekuasaan itu tujuan da’wah Islam atau tidak.

      • justru yang anda garis besari itulah tholabun nusroh yang dilakukan HT !! : “mengajak kita melindunginya, dan membawanya ke negeri kita”
        kalau anda memang mantan HT tentu di ta’rif sudah dijelaskan apa itu tujuan dari tholabun nushrah. HT tholabun nusroh untuk 2 tujuan yaitu keamanan dakwah dan juga istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan)

        lihat di sirah itu betapa orang Bani Amir mengetahui makna tujuan nabi sehingga memberikan pertanyaan “Bagaimana jika kami berbaiat kepadamu, kemudian Allah memenangkan kamu atas musuhmu, apakah kami akan mendapatkan kedudukan (kekuasaan) sesudahmu ” … artinya adalah nabi ditangkap menghendaki kekuasaan sekaligus menjadikan Bani Anshar sebagai pasukan Anshar …

        di AlQuran sendiri surat AlIsra:80 jelas Allah memerintahkan untuk mencari kekuasaan “wa jaalni min ladunka sulthonan nashira” !!

        masak mantan HT tidak tahu ???

  239. @Lek Min,
    Kang Ndux, lucu juga shohib kita ini. Lek Min, tujuan dakwah kan sudah jelas untuk membumikan Quran Hadist, agar semua ayat yang berupa perintah dan larangan itu dilaksanakan, kemudian Allah rdiho kepada kaum muslimin, dan agar kita bahagia, tidak hanya di akhirat, tapi di dunia pun aman sentausa. Kalau kita jeli, model dakwah para Nabi dan Rasul, kita bisa mengambil Ibrah…pertama Nabi Ibrahim, main merusak berhala, akhirnya ditangkap…tp masyarakat belum berubah, Namruz mati oleh nyamuk…Nabi Ibrahim pergi ke Mesir, kemudian kembali ke Hejaz…beranak cucu. Nabi Musa dengan adu argumen, adu kesaktian, ia berhasil membawa kaumnya eksodus kembali ke Palestina, tapi juga tidak sampai…Nah Nabi Dawud dan Sulaiman, okey, jadi raja Hukum tegak, tp dasar Yahudi, sesudah beliau wafat, mereka terkoyak oleh nafsu kekuasaan, dan dakwah beberapa nabi lainnya, ada yang mati disembelih seperti Zakaria dan Yahya oleh Herodes…Nabi Isya pun tidak sempat menjadi penguasa…yang terakhir, Rasulullah Nabi Muhammad SAW paling sempurna dakwahnya, karena sampai berhasil membentuk daulah Islamiyah…Kesimpulannya, pertama, perjuangan para Nabi dan Rasul dalam mentauhkan manusia, ada yang berhasil dan gagal, pahala tetap, dan mereka masuk surga, kedua perjuangan Nabi Muhammad, dengan metodenya telah berhasil mengubah sejarah dunia, inilah yang kita teladani, maka semua tahap di dalam dakwah dilalui…sampai ke tujuan akhir, membentuk kembali daulah Islamiyah yang namanya Khilafah…Dengan khilafah maka seluruh perintah dan larang Allah dapat dijaga…kalau tujuan dakwah hanya sampai ke tauhid, bisa jadi banyak orang yang benar tauhidnya, tetapi lemah dalam segala hal, sehingga diobok2 Barat pun oke2 saja. Wallahu a’lam bshowab.

    • Itu jika khilafahnya bener, tapi jika khilafahnya justru menaungi aqidah yang keliru bisa lain ceritanya ya akhi.

      • aqidah yang keliru yang dimaksud yang mana ? aqidahnya yang mengaku2 “ahlus sunnah” atau aqidahnya yang mengaku2 “ahlus sunnah” beneran ??

      • Semua aqidah dinaungi dalam khilafah HT termasuk aqidah syi’ah 12 imam, betul kan ya akhi?

      • itu urusan di depan. tidak ada keterangan gitu di kitab2 HT. itu dzon anda yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah.
        kalau salafy yang pegang khilafah kayaknya “ahlus sunnah” juga gak boleh tinggal disana … orang2 yang mena’wilkan ayat akan di penjara di siksa dll … gitu kale. kalau menurut HT boleh2 saja salafy atau “ahlus sunnah” tinggal di khilafah …

      • Siapa bilang itu urusan didepan ya akhi, itulah fungsi khilafah, yaitu menjaga syariat termasuk aqidah Islam agar hanya aqidah yang lurus saja yang boleh ada.

  240. @ Semuanya…

    Sudahlah….
    Kami yakin. semua ingin membela Agama yang haq ini….
    tapi yang di bahas disini artikelnya masalah takdir lho… bukan khilafah..
    kan ada tempat sendiri to tentang khilafah…

    kembali lagi aja ke topik.
    untuk mas Panji kelana,bagaimana pendapat antum tentang keyakinan Ahlussunnah masalah takdir yang saya tulis diatas?

    bisa menyanggah dengan hujjah?

    monggo….

  241. panji kelana@

    anda tulis:

    ….kalau tujuan dakwah hanya sampai ke tauhid, bisa jadi banyak orang yang benar tauhidnya, tetapi lemah dalam segala hal, sehingga diobok2 Barat pun oke2 saja.

    pertanyaan:

    sebenarnya anda itu faham gak seh tauhid itu apa?
    coba tauhid itu apa?

  242. Panji Kelana@
    nih tulisan anda:

    Kesimpulannya, pertama, perjuangan para Nabi dan Rasul dalam mentauhkan manusia, ada yang berhasil dan gagal…

    saya kira anda yang lucu.. masa ada da’wah nabi yang gagal ?
    trs apa ukurannya berhasil?
    khilafah?
    terus bagaimana dengan hadist nabi ini:

    …“Telah diperlihatkan kepadaku semua umat. Lalu aku melihat seorang nabi yang bersamanya 3 sampai 9 orang, ada juga nabi yang bersama dengannya hanya satu atau dua orang lelaki saja, bahkan ada seorang nabi dan tidak ada seorangpun yang bersamanya”. …(HR. Al-Bukhari no. 5270 dan Muslim no. 323)

    Bagaimana?
    apa mereka gagal?

  243. wah semangkin guayeng aja nich….

    tapi ane lebih suka bahasan masalah takdir aja soalnya pingin tahu .
    iya pakde Panji gimana tuh di tanya siluman….
    apakah ada dari 4 rukun iman terhadap takdir yang sampeyan ingkari?
    klu ada yang mana?
    Klu gak ada berarti siluman benar.

    langsung nyimak……
    hmmmmmmmm…

  244. @Lek Min
    Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, meyakinkan bahwa keputusan Herodes untuk menikahi Herodia menyalahi Kitabullah….kedua nabi ini tidak dapat meyakinkan Herode, malah keduanya ditangkap dan dibunuh….namanya gagal, tapi perjuangan beliau sampai syahid, contoh. (yang saya maksudkan gagal, gagal mengubah masyarakat secara umum, karena yang beriman hanya 2 dan 3 sajasehingga Allah menimpakan azab kepada masyarakat secara umum), Nabi Luth gagal menyadarkan orang Sodom, hanya keluarga yang selamat dan sedikit pengikutnya, bahkan istrinya pun tidak beriman). Nabi Isya menyadarkan orang Yahudi…eh malah dia yang disembah….itu Lek Min.

  245. @Jabal
    Tidak ada yang mengingkari takdir (Qadla dan Qadar), tapi cara pandang atau persepsi takdir yang berbeda. Satu kelompok menyebut, manusia gak tahu menahu, ia berbuat atas takdir Allah lalu masuk surga atau sebaliknya, satu kelompok menyebut, manusia berbuat sendiri, masuk surga dengan ibadahnya sendiri, karena perbuatannya….saya sendiri kan sudah berpendapat bahwa di dalam beriman ada dua hal, pertama kehendak Allah (takdir) dan perjuangan kita untuk menggapai takdir itu. Tidak yang yang mengingkari takdir. Memang ada ayat yang seakan bertentangan….yang pertama menyebut Allah yang menciptakan segala sesuatu dan menciptakan kehendak, dan ayat bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya sendiri….ini menimbulkan perbedaan yang hasilnya memang tidak produktif, bahkan kemudian polemik memanjang sampai masuk filsafat segala (lihat buku Aqidah Islam Sayid Syabik)
    Beliau sampai mengutip sebuah syair…
    setiap orang mengaku
    ada hubunganku dengan puteri lalila
    tetapi laila sendiri membisu
    tidak ikut di sini atau sana
    di kala air mata sudah tertimbun
    membasahi seluruh pelupuk mata
    nyatalah nanti siapa sebenarnya yang menangis
    dan siapa yang berpura-pura
    Nanti salat berjamaah dulu!

    • Bukankah sudah ana jelaskan bahwa ayat-ayat al Qur’an dalam perkara taqdir memang seakan terbagi dua, ada yang dicondongi qadariyah seperti ayat anda kutip dan ada yang dicondongi jabariyah seperti ayat :
      “ Tidaklah kalian berkehendak , kecuali apa yang Allah kehendaki, sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana “. (al insan : 30)

      Oleh karena itu ayat al Qur’an harus dipahami dengan pemahaman Rasulullah, yaitu dengan hadits-hadits Nabi yang shohih mutawatir dalam perkara ini.
      Dan hadits-hadits Nabi yang mutawatir memahami ayat ayat taqdir tadi dengan pemahaman bahwa manusia telah ditentukan masuk surga atau neraka sejak zaman azali.

  246. @Si Luman
    Khilafah dibahas karena tujuan HT memang mengembalikan kehidupan Islam melalui lembaga Khilafah….karena secara umum blog ini berdakwah memakzulkan ide HT dan menjadi duri di dalam perjuangan menegakkan khalifah…ini juga berkaitan dengan Qodlo dan Qodar…mungkin karena antum berpendapat bahwa berdirinya khilafah itu ujug2 karena kehendak Allah tanpa perjuangan, maka gak perlu berjuang….mengenai ahlu sunah, ahluh sunah yang mana…ahlu sunah waljamaah atau nahlu sunah yang gegabah….Saya sependapat dengan Saikh Sabiq, perdebatan tentang Qadla dan Qadar…membuat umat terpecah, makanya ana kagak ikut-ikutan taqlid…Nar Utho justru bilang aku taklid buta dan masih SD, bukankah mengikuti pendapat siapa saja (termauk ahlu sunah) kalau hanya ngikut taklid buta juga….dan Saikh Taqiyudin menghiudari budaya taklid dengan pendapatnya yang lebih produktif? Wallahou a’lam bishowab.

  247. @Lek Min,
    Panjenengan kan menyatakan juga dahwah tauhid dengan membersihkan segala khurafat dan kemusyrikan dalam masyarakat tanpa mempedulikan apakah ada kekuasaan Islam atau tidak ada, bahkan tidak peduli pemerintah membuat kebijakan yang menyimpang pun gak peduli yang penting dakwah di masyarakat…. dari apa yang saya ungkapkan mungkin Panjengan sudah tahu, bagaimana pemahaman saya tentang tauhid…yang kami perjuangan adalah Negara Tauhid, negara yang berdasarkan Quran dan Hadist, tidak campur aduk aturan Allah dan aturan thagut….makanya sejak awal yang dipelajari adalah ketauhidan yang benar dengan belajar thariqul iman, qodlo qodar, qiyadah fikriyah, dst….memang debat kusir cape dan tidak produktif, tapi mudahan2 masih bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab.

  248. @Semuanya,
    untuk renungan….Kalau antum meyakini bahwa Segala sesuatu itu merupakan perbuatan Allah semata, masuk surga atau masuk neraka sudah ditentukan, apa yang antum akan kerjakan?
    Kalau antum meyakini bahwa segala sesuatu, seseorang masuk surga atau neraka atas perbuatannya sendiri, apa yang antum akan lakukan?

    Bukankah kedua-duanya tetap harus taat kepada Allah, dan menjalankan syariatnya? Jadi, ya sudah….he x 300 kita laksanakan saja perintah Allah, kagak usah berdebat, kalau hanya ingin saling menjatuhkan, dan menyebabkan kita gak produktif. Lebih elok bersinergi, tidak usah main cap orang HT sesat…kalau mau menasehati, datanglah…datanglah….Wallahu a’lam bishowab.

    • Sabda Nabi :
      مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى إِلَى قَوْلِهِ لِلْعُسْرَى }
      Artinya: “Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak pasrah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan :’Apakah kita tidak pasrah saja pada ketetapan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : “Jangan, (tetapi) beramalah, setiap orang dipermudah (menuju ketetapannya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramalah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”). Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”
      [Hadis riwayat al-Bukhari & Muslim].

  249. wah gitu aja pakdhe…..
    ya sudah…. semoga perjuangan pakdhe di dukung oleh segenap umat islam di negara indonesia ini…..

    nyimak lagi aja….

  250. CAPEK DECH………..

  251. @Semuanya,
    Justru, dengan kekuaasaan yang diraih oleh Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, maka beliau berdua dapat mengatur masyarakat dalam ketaatan, umat yang tidak beribadah pada hari Sabtu ditangkap dan dihukumi, bahkan sampai diubah wajahnya menjadi monyet….para nabi dan rasul yang tidak memperoleh kekuasaan, kebanyakan umatnya dihancurkan, karena masyarakatnya tidak berubah….Jadi kekuasaan itu sangat urgen untuk menjaga kehidupan yang penuh ketauhidan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, bukankah kita ini umatnya yang harus mencontohnya…DAN PADA DIRI RASULULLAH TERDAPAT TELADAN YANG BAIK……Nabi Muhammad berdakwah sampai meraih kekuasaan dan dengan kekuasaan Islam berjaya. Itu yang kita tiru. Wallahu a’lam bishowab.

    • Kekuasaan adalah hal yang mubah, namun itu bukan orientasi da’wah (tujuan da’wah), tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa kekuasaan adalah tujuan da’wah, bahkan Nabi Sulaiman diberi kekuasaan adalah sebagai ujian bukan sebagai washilah da’wah.

  252. @Jabal,
    Terima kasih, kita memang harus saling mendukung dan saling bersinergi, karena kita bersaudara, bukan lawan. Semoga Allah memberkahi Nak Jabal. He….300X. (Pakai he2, biar nyantai)

    • Dalam hal-hal yang baik yang sesuai syariat kita tetap saling dukung ya akhi, tapi dalam hak menyimpang dari syariat kita tidak boleh saling dukung, saya tetap akan luruskan HT dari hal-hal menyimpang baik pada aqidah maupun rancangan khilafahnya.

  253. @ Semua HTI ers :

    Semua kitab-kitab dari para ulama yang sholeh menganjurkan untuk hanya ber ITTIBA’ kepada Rasulullah SAW yang Ma’shum bukan yang lain.

    1. Apakah anda meyakini bahwa semua Hadits Rasulullah SAW adalah benar ?

    2. Apakah anda juga percaya semua Hadits-Hadits Rasulullah tentang Qadha dan Qadhar adalah benar ??

    3. Apakah anda hanya beriman kepada sebagian Hadits Rasulullah SAW dan meninggalkan sebagian Hadits yang lain ?

    3. Manakah yang lebih Utama ?
    mengikuti dan meyakini semua Hadits Rasulullah SAW ataukah Fatwa Taqiyudin Nabhani yang sudah jelas-jelas keliru ?

  254. NI TAK COPASKAN TULISAN SAYA DIATAS….

    Da’wah tauhid kepada siapa?
    pada anggota dan simpatisannya saja kan?
    klu pada masyarakat apa yang di da’wahkan?
    TAUHID??????
    memanas2i hati manusia untuk membenci penguasa kan?

    lagian tauhid saja menyimpang? masa Allah nggak menghendaki kehendak makhluknya…..

    Siapa yang tidak menginginkan diterapkannya syari’at islam itu ?
    Siapa yang tidak ingin daulah islamiyah?
    Saya kira hanya muslim yang jahil yang tidak menginginkannya..

    Syariat islam yang paling pertama kali ditanam itu menebar benih Tauhid, biar bisa tumbuh subur, dipupuk dengan tarbiyah dan dihilangkan hama2 dengan mentashfiyah…
    soal buahnya khilafah itu kita ikut memetik apa anak cucu kita yang itu urusan Allah?

    Bukan seperti HTI ramai2 mengajak manusia memetik buahnya tapi lupa menanam pohonnya….

    SAYA TAMBAHKAN:

    yang dikritisi di BLOG INI oleh koma ht itu bukanlah buah khilafahnya .
    klu itu semua sudah oke setuju !KITA HARUS BERJUANG UNTUK MEMPEROLEHNYA!
    tapi yang di kritisi disini itu CARA untuk meraihnya. mengikuti nabi apa tidak!
    pernahkah nabi di mimbar menjelek2kan penguasa qurais?atau
    mengajak pengikutnya untuk demo mengkritisi penguasa dengan terang2an?

  255. @Lek Minku,
    Alhamdulillah, kalau sudah sepakat khilafah, ya mari kita berjuang bersama-sama sinergi. Pernahkan Rasulullah SAW mencela kaum Quraisy dengan dakwah secara terbuka? Yang saya baca di dalam shirah Nabi, pertama kali Rasulullah SAW pergi ke Bukit (lupa shofa apa marwa) lalu beliau berpidato di hadapan semua orang, yang mengajak Quraisy masuk Islam dan meninggalkan berhala, semua orang berkumpul, Abu Lahab marah, ia melempar Nabi dengan batu…turun surat Al-Lahab. Setiap musim Haji, Rasululullah ditemani Ali dan Zaid selalu memperkenalkan Islam kepada para kabilah, agar mereka masuk Islam dan meninggalkan berhala…tapi Abu Lahab selalu menyertai dan menyebutnya gila…jangan diikuti….tu apa namanya tidak mencela penguasa Quraisy secara terang2an? Kalau antum merasa dakwah sudah mengikuti Rasul, apakah panjengan sudah pernah mau dicelakai oleh Quraisy dan sudah pernah disuruh pergi dari rumah Penjenangan? Apakah dakwah panjenengan mendapat tantangan sebagai mana Rasul? Kalau pemerintah berbuat dzalim, bagaimana cara anda memberi nasihat? Bukankah dengan datang ramai-ramai tanpa kekerasan fisik merupakan jalan terbaik? Renungkan Lek Min….saya 41 tahun, entah umur Lek Min, saya menyebutkan mas atau dik…
    @Nak Rutho,
    Saya mengikuti metode HT karena saya merasa bahwa metode itu mengikuti metode Rasulullah…yakni menghidupkan kembali Islam melalui ajaran tauhid yang benar, dengan tahap seperti yang pernah Rasulullah lakukan….sampai isnya Allah mencapai Khilafah, agar semua perintah dan larangan Allah dapat dilaksanakan. Siapa yang bilang saya mengabaikan hadist-hadist Rasulullah? (tentunya yang saheh atau hasan, bukan yang maudu)….tapi dalam masalah2 tertentu memang ada sedikit beda penafsiran atau pemahaman….fawta2 Saikh Taqiyudin keliru menurut sebagian orang dan sebagian yang lain tidak mengatakan seperti itu….Dalam konferensi Khilafah di Senayan dengan menghadirkan 100.000 ulama dan tokoh Islam, tidak ada yang mengatakan keliru…Jadi hargai keyakinan kami dan kami pun menghargai keyakinan Anda….Karena sekali lagi, polemik qodo qodar tidak menghasilkan sesuatu yang produktif…..Wallahu a’lam sishowab.

    • .tu apa namanya tidak mencela penguasa Quraisy secara terang2an?
      Ngawur ah, masak dakwah kepada Islam disebut mencela terang-terangan lagian contohnya penguasanya orang kafir (nggak baca haditsnya kah mas ?). Coba pikir kalau pemerintah mengijinkan riba kemudian ketika saya ditanya riba atau seorang ustadz dalam kajian ditanya hukum riba kemudian mengatakan bahwa riba haram padahal pemerintah “membolehkan karena dzolim” maka apakah kita disebut melawan pemerintah ? haihata haihata

      beda kalau anda kemudian meyebut “pemerintah begini dan begitu/menyebut-nyebut kesalahan karena telah membolehkan riba” ini namanya mencela penguasa

      Kalau pemerintah berbuat dzalim, bagaimana cara anda memberi nasihat? Bukankah dengan datang ramai-ramai tanpa kekerasan fisik merupakan jalan terbaik?
      itu menurut anda bukan menurut Rasulullah dan para ulama salaf. Kalau menurut Rasulullah dan banyak hadistnya tuh yang disebutkan komaHT maupun komentator lainnya jangan hanya pakai logika saja

      Dalam konferensi Khilafah di Senayan dengan menghadirkan 100.000 ulama dan tokoh Islam, tidak ada yang mengatakan keliru
      memang sudah dibacakan pendapat Taqiyuddin, atau anda sudah menanyakan satu-satu ke mereka pendapat taqiyuddin ?. Tapi ngeri juga ya 100 ribu “ulama dan tokoh islam”/bukan umat islam entah kebenarannya ulama mana yang ikut disana dan ulama mana yang “benar-benar mendukung” pendapat syaikh Taqi. Kalau mendukung khilafah sih pasti semua mendukung termasuk saya maupun komaHT

      Apakah dakwah panjenengan mendapat tantangan sebagai mana Rasul?
      Saya kira semua dakwah juga mendapat tantangan. Rasul mendapat tantangan dari kaum QUraisy kita tantangan lain.

      Saya mengikuti metode HT karena saya merasa bahwa metode itu mengikuti metode Rasulullah
      Yang Rasulullah lakukan pertama adalah dakwah kepada Tauhid (periode Makkah) bukan dakwah kepada khilafah. Artinya khilafah belum tegakpun dkawah tauhid tetap dilaksanakan. Jadi mungkin lain kali majalah2 HTI diisi dengan dkwah tauhid jangan cuma yang provokatif aja

      • @hasan & lek min …
        anda menggunakan hadits nabi yang sahih namun diarahkan untuk kemauan sendiri. ini namanya mlintir teriak mlintir
        (1) hadits tentang menasehati penguasa yang diam diam itu cuman satu dua biji saja, namun praktek sahabat sejak beliau SAW hidup hingga pemerintahan khulafaur Rasyidin – yang merupakan ijma sahabat – menunjukkan kebolehan menasehati penguasa secara terang terangan.
        (a) bahkan Rasulullah SAW diprotes keras (terang2an) oleh para sahabat khususnya Umar RA ketika menandatangani perjanjian Hudaibiyah
        (b) ketika Abu Bakar RA berpidato ketika pengangkatannya seseorang langsung mengancam akan membenarkannya dengan pedang
        (c) di muka umum Umar RA diprotes oleh para wanita atas rencana beliau yang hendak membatasi mahar, beliau juga diprotes dimuka umum oleh seseorang yang menanyakan baju beliau yang ukurannya lebih dari jatah yang dibagi2
        (d) sahabat Abu Dzar pada masa pemerintahan Utsman sangat rajin mendatangi istana Muawiyah dan teriak2 diluar untuk memberikan khabar tercelanya penimbun emas untuk menyindir Muawiyah RA.
        dan mmmmmuuuuuasssssiiiiiihhhhh banyak lagi !!!
        hendak dimanakan berita2 ini ? apakah para sahabat kalah pandai daripada Salafy cs sehingga lancang berani menasehati penguasa di muka umum ??
        (2) dalam masalah kemungkaran penguasa memang betul ada hadits yang memerintahkan ketaatan walaupun didzalimi, namun demikian ada hadits yang memerintahkan untuk menurunkan penguasa yang dzalim, yang fajir yang menyeleweng dari hukum Islam …. apa anda menerima sebagian dan menolak sebagian ??
        innalilahi wa inna ilaihi rojiuun .. astaghfirullah wa atubu ilaihi ….

      • @ Dnux :

        Hadits tersebut lebih jelas kedudukannya daripada cerita-cerita palsu anda tentang shahabat.
        Lihat contohnya ini betapa anda telah berani memfitnah Umar menuduh Umar memalsukan cerita atas Umar yang anda katakan Umar memprotes keras (terang-terangan) kepada Nabi atas isi perjanjian Hudaibiyah.
        Wahai saudaraku bertaubatlah pada Allah atas fitnah yang engkau timpakan pada shahabat Nabi yang mulia ini.

        Wahai kaum muslimin, jangan kalian tertipu, simaklah sirah Umar yang sebenarnya :

        Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian hudaibiyah.
        Ia lantas pergi menemui Abu Bakar,
        ”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?”
        ”Benar, wahai Umar!” jawab Abu Bakar. “Beliau adalah Rasulullah!”
        ”Bukankah kita ini kaum muslimin?”
        ”Ya, kita ini kaum muslimin.”jawab Abu Bakar
        ”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”
        ”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”jawab Abu Bakar
        ”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”
        Abu Bakar menghela napas sebentar.
        ”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”jawab Abu Bakar
        ”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar.

        Setelahnya Umar kemudian pergi menemui Rasulullah. Bagi Umar rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr utusan orang Quraisy, banyak merugikan kaum muslimin.
        Setelah menghadap Rasulullah Umar berkata :
        ”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.
        ”Benar,” jawab Rasulullah . ” Aku ini Rasulullah.”
        ”Bukankah kami ini kaum muslimin?”
        ”Ya, benar.”jawab Rasulullah
        ”Bukankah mereka itu musyrikin?”
        ”Ya, benar.”jawab Rasulullah
        ”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”
        Rasulullah terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda Rasulullah kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”
        Umar masih bertanya sekali lagi.
        ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”
        Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”
        Kemudian Umar terdiam dan tak bertanya lagi.

        Inilah Sirah yang benar wahai saudaraku, Umar tidaklah memprotes keras dan terang-terangan dimuka Umum, akan tetapi beliau menemui Rasulullah, maka bertaubatlah kepada Allah atas fitnah yang engkau lakukan atas Umar bin Khaththab radhiallahuanhu wahai saudaraku.

  256. @Lek Minku,
    Alhamdulillah, kalau sudah sepakat khilafah, ya mari kita berjuang bersama-sama sinergi. Pernahkan Rasulullah SAW mencela kaum Quraisy dengan dakwah secara terbuka? Yang saya baca di dalam shirah Nabi, pertama kali Rasulullah SAW pergi ke Bukit (lupa shofa apa marwa) lalu beliau berpidato di hadapan semua orang, yang mengajak Quraisy masuk Islam dan meninggalkan berhala, semua orang berkumpul, Abu Lahab marah, ia melempar Nabi dengan batu…turun surat Al-Lahab. Setiap musim Haji, Rasululullah ditemani Ali dan Zaid selalu memperkenalkan Islam kepada para kabilah, agar mereka masuk Islam dan meninggalkan berhala…tapi Abu Lahab selalu menyertai dan menyebutnya gila…jangan diikuti….tu apa namanya tidak mencela penguasa Quraisy secara terang2an? Kalau antum merasa dakwah sudah mengikuti Rasul, apakah panjengan sudah pernah mau dicelakai oleh Quraisy dan sudah pernah disuruh pergi dari rumah Penjenangan? Apakah dakwah panjenengan mendapat tantangan sebagai mana Rasul? Kalau pemerintah berbuat dzalim, bagaimana cara anda memberi nasihat? Bukankah dengan datang ramai-ramai tanpa kekerasan fisik merupakan jalan terbaik? Renungkan Lek Min….saya 41 tahun, entah umur Lek Min, saya menyebutkan mas atau dik…Memang, setiap harakah itu berjuang untuk ke arah penegakan syariah….PKS melalaui parlemen, antum melalui kelompok antum, dan kita saling menghargai….gitu saja Lek Min. Saya mau merampungkan novel saya seri kedua dulu….Wallahu a’lam bishowab.

  257. @Nar Utho
    Setiap orang boleh saja mengklaim dirinya paling sesuai dengan Sunah Rasul, karena itu semuanya menganggap sebagai ahlu sunah…sesuai alasan masing2. Tapi, saya merasa, bahwa saya mengikuti metode HT yang digagas Saikh Taqiyudin, karena metode ini ikut manhaj Rasul, dengan tahap2 sebagaimana Rasul lakukan, jadi pedomannya tentu Quran Sunah. Kalau antum merasa kami tidak i’tiba dengan Rasul, maka cobalah jadi daris dulu, dan tahu persis apa yang dilakukan…mengenai pendapat qadla dan qadar, baca sajalah bab Qada dan Qadar pada Buku Nizham Al Islam dan Syaksiyah Islamiyah karya Saikh Taqiyudin….baca sendiri dan telaah dengan teliti dan jernih, jangan tedensius…..Saya mau nulis novel dulu nich! Afwan.

    • Satu saja tidak perlu banyak-banyak, Apakah dalam sistem pemerintahan Rasulullah dan daulah khilafah khulafaur rasyidin para khalifah dipilih dengan sistem voting suara terbanyak seperti khilafah versi HT ???
      Inikah yang anda katakan mengikuti sunnah Nabi ?

  258. Panji Kelana @

    Memang seharusnya anda itu menulis Novel saja ,itu sudah pas! Novelis menulis novel.bukan berbicara masalah agama,karena berdah’wah tanpa ilmu itu kerusakan yang di timbulkan pada umat akan lebih banyak dari pada kebaikan yang akan diperoleh.
    dalam hal ini aku nasehatkan pada antum hendaklah lebih takut kepada Allah .

    Ya beginilah cara2 ahlul hawa untuk membenarkan kaidah yang di yakininya ,membuat kaidah dulu baru dicari2kan dalil2nya.diplintir, dipaksakan, dibuatnya supaya pas…
    mestinya tidak begitu akhi.mengumpulkan dulu semua dalil barulah menentukan istimbat hukum,bukan mencari dalil intuk membenarkan hukum.

    coba lihat perkataan antum ini:

    “Kalau pemerintah berbuat dzalim, bagaimana cara anda memberi nasihat? Bukankah dengan datang ramai-ramai tanpa kekerasan fisik merupakan jalan terbaik? Renungkan Lek Min….”

    lalu hadist Rasulullah ini akan di plintir gimana?
    “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim, dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

    dan hadis ini di kemanakan:

    “Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah b…erkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman,

  259. oya ini juga :

    “saya 41 tahun, entah umur Lek Min, saya menyebutkan mas atau dik…Memang, setiap harakah itu berjuang untuk ke arah penegakan syariah….PKS melalaui parlemen, antum melalui kelompok antum

    anda 41, masih muda itu, pantesan bersemangat sekali…
    saya jauuuh lebih tua dari antum karena itu saya lebih hati2 dalam semua perkara…

    saya tidak punya kelompok atau harakah!
    kelompok saya ya kelompoknya Rasulullah….
    beliulah pimpinanku,,,,,

  260. @Lek Minku,
    Matur nuwun sudah menyuruh saya nulis novel saja, doakan saya sedang menulis novel tetralogi di Malaysia, semoga saya sukses…bolehkah mendoakan saya, walaupun saya seimpatisan HT, kan sama2 Islam, dan Kamas Min itu sauadara saya. Tp, sy meluruskan mengenai penulis novel yang tidak boleh berdakwah, karena Ja’far bin Abu Thalib adalah penyair yang disuruh memimpin delegasi dakwah ke Habsyah….(Baca Sirah Nabawi), Abu Bakar pedagang boleh juga tuh berdakwah….Arat bin Shabab gurunya Umar malah tukang pandai besi…jadi izinkan aku untuk berdakwah ya Lek Min….malah saya seorang diri berdakwah di Sandakan Sabah…tapi bukan dakwah politik, alhamdulillah berdiri sebuah masjid namanya Raudatul Jannah, jemaahnya sudah 60-an…Saya juga sarankan, agar Pak Lik dalam kelompok (tentu kelompok Rasulullah) tapi ayatnya kan berbunyi “hendaklah ada sekelompok orang di antara kalian yang menyeru…” kalau mau pemain tunggal boleh juga…tp dalam masyarakat pun tetap dalam kelompok masyarakat…saya pun begitu, saya mantan ketua DKM Al-Mujahidin, saya Seksi Dakwah di Bahrul Ulum…jadi, ada di kelompok masyarakat dan ada juga di kelompok dakwah. Selamat bermain tunggal, Lek Min, maaf yang muda ini kalau terlalu bersemangat…Semoga kita tetap dalam ridho dan ampunan-Nya. Amin

  261. @ Hasan,
    Seruan khilafah itu adalah apa yang hendak dicapai…didengungkan untuk mewacanakan kembali bahwa lembaga khilafahlah satu2nya yang dapat melindungi atau menjaga pelaksanaan hukum2 Allah (Quran Hadis),
    pada pelaksaan dakwahnya yang ikut metode rasul, pertama membahas thariqul iman…Qadla Qada…kiadah fikriyah, dst….Saya memang di tempat terpencil gak bawa kitab….lagi pula lama harus buka2 buku, jadi saya mengingat apa yang saya pernah saya baca dan menjadi mainstrim pemikiran saya.
    Kalau Nabi Muhammad SAW tidak mencela orang Quraisy, maka beliau tidak akan diusir dan dimusuhi….bukankah beliau diberi al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi, dan ketika beliau mencela perbuatan Quraisy, baik dengan diam-diam maupun terang2an, maka beliau diusir maupun dibunuh…
    Saya mengatakan apakah panjengan (Lek Min) mendapat tantangan ketika berdakwah sebagaimana Rasulullah SAW mendapat tantangan? Karena Lek Min itu kan kelompok dakwah Rasulullah, biasanya secara alami orang yang berdakwah sesuai metode Rasulullah mendapat tantangan, sebagaimana HT di mana-mana mendapat tantangan pada awalnya, bukan saja teror tapi sampai penangkapan dan pembunuhan, seperti di Uzbek, Mesir, dll.
    Dakwah dengan mencela, bukan berarti menjelek-jelekkan pribadi, tetapi mencela sistem, dan memberikan alternatif solusi dari sistem…coba lihat deh, kalau ada masirah, apa yang disampaikan oleh para pembicara…yang diusung pun tulisan “Save Palestin”, “Stop Kekerasa”, bukan yang lain-lain.
    Dakwah itu ada dua sisi, pertama mengajak kepada yang ma’ruf, kedua mencegah yang mungkar….Ya kalau dakwah hanya poin satu, mari kita salat, mari kita puasa…tidak ada tantangan…tapi kalau kita mencela perbuatan mungkar, jangan judi, hentikan perzinahan, tutup Dolly, biasanya banyak tantangan dan lebih sulit….jadi yang dicela itu sistem atau kebijakan yang bertentangan dengan Quran….Dengan turun dan masirah, berarti jentel dan terlihat ada dukungan dari umat…tapi tertib dan tidak ada kekerasan…Lihat kalau HT demo, Pak Polisi sangat nyantai, bahkan ikut mendengarkan….Saat saya ikut masirah yang berbicara Kang Hary Moekty, malah Pak Polisi tersenyum-senyum….Begitu Sahabatku, Hasan.

    • Kalau Nabi Muhammad SAW tidak mencela orang Quraisy, maka beliau tidak akan diusir dan dimusuhi….bukankah beliau diberi al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi, dan ketika beliau mencela perbuatan Quraisy, baik dengan diam-diam maupun terang2an, maka beliau diusir maupun dibunuh…

      yang saya maksud anda mencontohkan celaan kepada penguasa dengan kritikan Rasulullah kepada orang kafir saat berdakwah sedangkan hadits untuk taat adalah selama dia muslim. itu yang menurut saya pendalilan antum nggak nyambung sama sekali. Atau anda juga bilang pak SBY kafir ya (saya pikir antum nggak sampe segitunya seperti saudara Mirshaa yang juga dari HTI) ?. Ingat lho Rasulullah bilang selama dia muslim/belum kafir

      membahas thariqul iman…Qadla Qada…kiadah fikriyah, dst….Saya memang di tempat terpencil gak bawa kitab
      lha ini baru bawakan Qadha dan Qadar saja sudah dianggap salah. belum masalah penerimaan hadits ahad, belum masalah pokok yang lain. Silakan lihat pendapat para Imam terdahulu juga bukan hanya syaikh Taqiyuddin. Oh ya sekalian kok saya belum pernah ya dari HTI kalau ke umum mendakwahkan “Tegakkan tauhid, membahasa Qdha dan Qadar”. apakah saya kelewatan berita ? kebetulan teman saya juga dapat “sms tausyiah” dari HTI tapi waktu tak tanya isinya provokasi aja “politik” bukan mengenai tauhid dan masalah pokok lainnya. Bagaimana ide saya kalau majalah2 HTI itu isinya diganti dengan materi tauhid dan juga keislaman lainnya “yang bener ya” sebagai awal dakwah daripada terus-menerus mencela pemerintah ?

      Lihat kalau HT demo, Pak Polisi sangat nyantai, bahkan ikut mendengarkan
      ditempat saya kerja saya sering lihat orang HTI demo. Kalimatnya “masyaAllah” terus terang kalau menghina “pemerintah” nggak tanggung-tanggung kalau mengata-ngatai dengan keras dan memang benar tidak ada kekerasan seperti antum sebut. Ini pengalaman dekat kantor saya nggak tahu kalau ditempat antum lebih tertib. Apa ini disebut yang makruf ? (saya ataupun teman-teman sekantor aja mesti tanda tanya tentang akhlak kalau seperti itu).

      Dakwah dengan mencela, bukan berarti menjelek-jelekkan pribadi,
      Terjadi dilapangan tidak seperti itu, langsung “menghina SBY”, langsung menghina “sebagian menterinya” setidaknya itu yang saya dengar dari deket kantor saya.

      malah Pak Polisi tersenyum-senyum
      Ya iyalah, selama tidak terjadi kekerasan memang biasanya polisi santai-santai aja.

      Dengan turun dan masirah, berarti jentel dan terlihat ada dukungan dari umat…tapi tertib dan tidak ada kekerasan
      Ini bukan masalah gentel2an lho atau mencari dukungan “massa”. Kalau memang Rasulullah memerintahkan untuk main “gentel” turun ke jalan kita pasti turun ke jalan. Sikap saya adalah bagaimana perintah Rasul . Rasul berkata : Naehatilah secara sembunyi2 ya kita taat, Rasul bilang bersabarlah ya kita taat.

  262. @ Lek Min,
    Ya beginilah cara2 ahlul hawa untuk membenarkan kaidah yang di yakininya ,membuat kaidah dulu baru dicari2kan dalil2nya.diplintir, dipaksakan, dibuatnya supaya pas…
    mestinya tidak begitu akhi.mengumpulkan dulu semua dalil barulah menentukan istimbat hukum,bukan mencari dalil intuk membenarkan hukum.

    Komentar: saya memang menanggapi apa2 yang disampaikan sahabat-sahabat, sehingga saya tidak mengumpulkan hadist2 dulu baru baca…dan isnya Allah, saya bukan ahli hawa nafsu…
    Saya juga senang membaca, kalau saya menggunakan hadist, maka saya akan meneliti, selain konteks, juga apa nyang melatarbelakangi…kadang kita menelan hadis pun mentah2, tidak dicari penyebabnya, mengapa turun hadis itu. Seperti hadis tentang niat, yang sebenarnya kan untuk memberi jawaban, atas pertanyaan, bagaimana orang yang hijrah karena wanita? Maka menjawab, semua tergantung niat…lalu berkembang penafsiran, semua harus pakai “nawaitu…”

    lalu hadist Rasulullah ini akan di plintir gimana?
    “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim, dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

    Saya tidak pernah main plintir hadist sendiri….hadist di atas kalau saya perhatikan, mestinya ada catatan : yakni penguasa yang bersistem Islam, mengingat saat itu Rasulullah Islam sudah berdaullah….dan sahabat itu dekat dengan penguasa atau penguasa itu kawannya baiknya…Nah kalau kita bagaimana mau berbicara diam2 dengan Pak SBY, berdua? Siapa yang mau menerima kita? Tapi, setahu saya HTI, selalu bersilaturahim dengan para penguasa….Lihat foto2 di majalah Al-Wa’i, bagaimana HT mengunjungi DPR, partai, dll. dalam rangka saling mengingatkan. Dalam masirah, bukan mencela kesalahan penguasa, tapi menganjurkan dan mengingatkan agar misalnya “Lindungi TKI” lalu ada solusi Khilafah sangat melindungi warga atau umatnya….”Save Palestine” kalau ada pengeboman atau mendatangi Dubes AS, dan meminta agar tidak menindas kaum muslimin….Itu jawaban yang saya tahu, semoga Maklum.

    • mestinya ada catatan : yakni penguasa yang bersistem Islam, mengingat saat itu Rasulullah Islam sudah berdaullah….dan sahabat itu dekat dengan penguasa atau penguasa itu kawannya baiknya…

      siapa yang memberi catatan karena disitu ada kata mesti ?. sedangkan saya tahu secara pasti Rasulullah memberikan syarat “selama dia Muslim” bukan selama pemerintahannya menggunakan sistemnya islam.

      “Al-’irbadh bin syariah rodiyallahu’anhu berkata “suatu hari setelah sholat subuh, rosulullah shollalahu ‘alaihi wassalam menasehati dengan satu nasehat yang begitu mendalam, hingga air mata kamipun mngalir dan hati-hati kamipun bergetar, kemudian berkatalah seseorang: “sungguh ini adalah nasehat orang yang mau berpisah, lalu apa yang akan engkau pesankan kepada kami wahai rosulullah shollalahu ‘alaihi wassalam? ” beliaupun bersabda “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, untuk mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyi (ethopia), karena sesungguhnya siapa diantara kalian yang nantinya masih hidup, dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin (para sahabat) yang terbimbing dan mendapat petunjuk, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian (pegang erat-erat jangan sampai lepas), dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini (bid’ah), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.”
      (HR. At – Tirmidzi no.2816 dan yang selainnya)

      Ingat dalam sistem islam budak tidak bisa menjadi pemimpin. Itu adalah ungkapan terhadap sesuatu yang tidak seharusnya (tidak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah red)

      Dan Imam Muslim dalam shahihnya dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibencinya, maka hendaklah dia bersabar, karena tidaklah seseorang keluar dari penguasa walapun sejengkal, melainkan dia mati seperti matinya kaum jahiliyyah.

      Imam Muslim mengeluarkan dalam shahihnya dari Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:Akan muncul setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan TIDAK MENGIKUTI SUNNAHKU,dan akan tegak diantara mereka orang- orang yang hatinya adalah HATI SYEITAN jasad manusia.”Aku bertanya, “apa yang akan aku lakukan wahai Rasulullah jika aku menemukan yang demikian.” Beliau menjawab: ”engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.”

      • (1) hadits tentang menasehati penguasa yang diam diam itu cuman satu dua biji saja, namun praktek sahabat sejak beliau SAW hidup hingga pemerintahan khulafaur Rasyidin – yang merupakan ijma sahabat – menunjukkan kebolehan menasehati penguasa secara terang terangan.
        (a) bahkan Rasulullah SAW diprotes keras (terang2an) oleh para sahabat khususnya Umar RA ketika menandatangani perjanjian Hudaibiyah
        (b) ketika Abu Bakar RA berpidato ketika pengangkatannya seseorang langsung mengancam akan membenarkannya dengan pedang
        (c) di muka umum Umar RA diprotes oleh para wanita atas rencana beliau yang hendak membatasi mahar, beliau juga diprotes dimuka umum oleh seseorang yang menanyakan baju beliau yang ukurannya lebih dari jatah yang dibagi2
        (d) sahabat Abu Dzar pada masa pemerintahan Utsman sangat rajin mendatangi istana Muawiyah dan teriak2 diluar untuk memberikan khabar tercelanya penimbun emas untuk menyindir Muawiyah RA.
        dan mmmmmuuuuuasssssiiiiiihhhhh banyak lagi !!!
        hendak dimanakan berita2 ini ? apakah para sahabat kalah pandai daripada Salafy cs sehingga lancang berani menasehati penguasa di muka umum ??
        (2) dalam masalah kemungkaran penguasa memang betul ada hadits yang memerintahkan ketaatan walaupun didzalimi, namun demikian ada hadits yang memerintahkan untuk menurunkan penguasa yang dzalim, yang fajir yang menyeleweng dari hukum Islam …. apa anda menerima sebagian dan menolak sebagian ??
        innalilahi wa inna ilaihi rojiuun .. astaghfirullah wa atubu ilaihi ….

      • @ Dnux :

        Hadits tersebut lebih jelas kedudukannya daripada cerita-cerita palsu anda tentang shahabat.
        Lihat contohnya ini betapa anda telah berani memfitnah Umar menuduh Umar memalsukan cerita atas Umar yang anda katakan Umar memprotes keras (terang-terangan) kepada Nabi atas isi perjanjian Hudaibiyah.
        Wahai saudaraku bertaubatlah pada Allah atas fitnah yang engkau timpakan pada shahabat Nabi yang mulia ini.

        Wahai kaum muslimin, jangan kalian tertipu, simaklah sirah Umar yang sebenarnya :

        Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian hudaibiyah.
        Ia lantas pergi menemui Abu Bakar,
        ”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?”
        ”Benar, wahai Umar!” jawab Abu Bakar. “Beliau adalah Rasulullah!”
        ”Bukankah kita ini kaum muslimin?”
        ”Ya, kita ini kaum muslimin.”jawab Abu Bakar
        ”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”
        ”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”jawab Abu Bakar
        ”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”
        Abu Bakar menghela napas sebentar.
        ”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”jawab Abu Bakar
        ”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar.

        Setelahnya Umar kemudian pergi menemui Rasulullah. Bagi Umar rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr utusan orang Quraisy, banyak merugikan kaum muslimin.
        Setelah menghadap Rasulullah Umar berkata :
        ”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.
        ”Benar,” jawab Rasulullah . ” Aku ini Rasulullah.”
        ”Bukankah kami ini kaum muslimin?”
        ”Ya, benar.”jawab Rasulullah
        ”Bukankah mereka itu musyrikin?”
        ”Ya, benar.”jawab Rasulullah
        ”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”
        Rasulullah terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda Rasulullah kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”
        Umar masih bertanya sekali lagi.
        ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”
        Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”
        Kemudian Umar terdiam dan tak bertanya lagi.

        Inilah Sirah yang benar wahai saudaraku, Umar tidaklah memprotes keras dan terang-terangan dimuka Umum, akan tetapi beliau menemui Rasulullah, maka bertaubatlah kepada Allah atas fitnah yang engkau lakukan atas Umar bin Khaththab radhiallahuanhu wahai saudaraku.

      • @pengelola
        anda sudah berdusta nuduh orang berdusta dan minta tobat pula. justru anda yang harus bertobat dari segala kedustaan menutup2i fakta dan memlintir dalil semaunya demi mempertahankan pendapat bahwa mengoreksi itu harus dengan diam diam saja.
        darimana anda bisa bilang itu Umar RA mendatangi Rasulullah sendirian ? padahal hadits itu di Bukhari dan Ahmad diriwayatkan Sahal dari perbincangannya dengan Sahabat Ali RA >>>

        Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Ishaq As Sulami] Telah menceritakan kepada kami [Ya’la] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Siyah] dari [Habib bin Abu Tsabit] dia berkata; Aku menemui [Abu Wa’il] untuk menanyakan sesuatu. Katanya; ketika itu kami di Shiffin, lantas seseorang berkata; Tidakkah kamu telah melihat orang-orang yang menyeru kepada kitabullah?. Maka Ali menjawab; ‘Ya.’ [Sahal bin Hunaif] berkata; Tolong koreksilah diri kalian, sungguh aku pernah melihat kami pada hari perjanjian Hudaibiyah, yang terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Musyrikin, kalaulah kita berpendapat untuk berperang maka tentu kita akan berperang, hingga Umar datang dan berkata; ‘Bukankah kita berada dalam kebenaran sedangkan mereka dalam kebatilan, bukankah orang-orang yang terbunuh dari kami berada di Surga, sedangkan orang-orang yang terbunuh dari mereka berada di Neraka? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; ‘Ya.’ Umar berkata; kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita dan kembali, padahal Allah belum memutuskan untuk kita. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wahai Ibnu Khaththab; Sesungguhnya aku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakanku. Maka Umar pun kembali dalam keadaan tidak puas dan tidak sabar, lalu ia menemui Abu Bakr seraya berkata; Wahai Abu Bakr, bukankah kita berada dalam kebenaran dan mereka dalam kebatilan, Abu Bakr menjawab; Wahai Ibnu Khatthab, sesunggunya ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakannya untuk selama-lamanya, maka turunlah surat Al Fath.

        >> jelas disini tindakan Umar RA itu diketahui oleh para Sahabat diantaranya adalah Ali RA, bukan diam diam …
        bertobatlah kamu wahai pengelola … !

      • @ dnux :

        Adanya periwayatan sudah pasti karena ada yang menyaksikan jadi memang kedatangan Umar disaksikan Ali, namun apakah Umar memprotes Nabi ? Umar tidak memprotes secara terang-terangan akan tetapi beliau hanya dengan bertanya saja pada Nabi hal ihwal keputusan perjanjian itu, bukannya memprotes secara terang-terangan.
        Selain itu apakah ini bisa dijadikan dalil memprotes di jalan-jalan dimana tidak ada penguasa disana dan yang ada adalah masyarakat umum.
        Umar tidak berteriak-teriak di jalan memprotes Nabi ya akhi, tapi Umar mendatangi Nabi langsung dihadapannya. Inilah yang disebut cara menasehati sulthan yang benar. Bukan dengan aksi protes terang-terangan di jalan-jalan di khalayak umum padahal tidak ada penguasa disana.
        Apakah pantas anda gunakan sikap Umar yang mulia ini sebagai pembenar aksi protes anda di jalan-jalan ? Bertaubatlah wahai akhi.
        Apakah pantas anda gunakan sikap Umar yang menasehti penguasa dengan menghadap langsung ini sebagai pembenar aksi protes anda di jalan-jalan ? Bertaubatlah wahai akhi.

      • haduh haduh …. dasar dzahiri tukang berkelit

        pertama, sebelumnya anda dengan sok tahunya mengatakan saya dengan menuduh saya menyampaikan berita palsu dan sudah saya copaskan dari sahih bukhari. masih berani mengatakan saya menyampaikan cerita palsu . “(pengelola) : Hadits tersebut lebih jelas kedudukannya daripada cerita-cerita palsu anda tentang shahabat.

        kedua, anda masih mengatakan Umar “bertanya” kepada Rasulullah diam diam dan sudah saya bantah bahwa ternyata tidak diam2 karena aktivitasi itu diketahui sahabat Ali RA. kalaulah diam2 tentu yang tau hanya baginda nabi dan Umar RA, namun ternyata hadits itu disampaikan oleh pihak ketiga yang tentu hadir di kesempatan “bertanya” yaitu Ali RA. ini namanya tidak diam diam !

        ketiga, perkataan Umar RA itu adalah protes dengan menggunakan bentuk halus yaitu pertanyaan. bukan sekedar bertanya ! coba baca lagi ” Umar berkata; kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita dan kembali, padahal Allah belum memutuskan untuk kita. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wahai Ibnu Khaththab; Sesungguhnya aku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakanku. Maka Umar pun kembali dalam keadaan tidak puas dan tidak sabar, lalu ia menemui Abu Bakr ….” HR Bukhari

        keempat, perkataan Umar RA ini bukan justifikasi masirah (pawai) tapi justifikasi untuk bolehnya menasehati secara terbuka. justifikasi masirah adalah pawainya Rasul di Ka;bah dg sahabat

        ! Anda sama sekali tidak paham dan mengatakan mantan HT … baru disebut mantan HT hanya mereka hizbiyin yang sudah memahami tsaqofah HT termasuk dalil2 justifikasi segala aktivitas HT. ! malulah pada diri sendiri. tobatlah dari segala kebohongan !!

      • @ dnux :

        Kalo definisi terang terangan yang anda maksudkan adalah dihadapan penguasa yang didampingi orang-orang kepercayaan (misal Ali) maka itu dalam pengertian saya tidak termasuk terang-terangan akan tetapi tetap sembunyi-sembunyi.
        Begitu pula penguasa saat ini pasti disekelilingnya ada orang-orang kepercayaan yang mendampingi, entah itu ajudan, sekretaris pribadi, atau menteri, dan itu masuk kategori tidak terang-terangan.
        Adapun pengertian terang-terangan adalah didepan khalayak masyarakat, misal di podium-podium atau di jalan-jalan.

        Adapun Rasulullah saat berda’wah menyeru keliling ka’bah bukanlah menyeru pada penguasa akan tetapi pada seluruh ummat yang ada disana.

      • Oh ya saya tidak mengatakan kedustaan antum itu pada riiwayatnya lho, tapi kedustaan antum itu pada tuduhan antum ke Umar yang antum katakan ia memprotes Nabi terang-terangan kemudian anda jadikan dalil memprotes pemerintah di muka publik baik di mimbar, di jalan, maupun buletin-buletin agama yang disebarkan ke publik.

        Kalo dari segi riwayat sirah memang ada umar menghadap Nabi dan bertanya tentang perjanjian hudaibiyah DAN sebelum anda tulis riwayat itu saya pun sudah menulisnya terlebih dulu, jadi bukan itu kedustaan anda, tapi kedustaan anda adalah mengatakan umar memprotes Nabi terang-terangan, padahal riwayat yang benar adalah Umar bertanya ke Nabi itupun langsung kehadapan Nabi yang didampingi sedikit shahabat kepercayaan saja.

  263. @Lek MInku,
    “Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah b…erkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman,

    Komentar: Untuk ini pun yang dimaksud pastilah penguasa dzalim, tapi bentuknya masih khalifah, biar dia dzalim, tp masih dibaiat secara Islam, mungkin ini model Muawiyah….Banyak ulama ketika itu yang mati oleh Muawiyah…karena Muawiyah menganjurkan setiap khtaib harus mencela Sayidina Ali RA…Ada kisah, seorang khatib mencela Muawiiyah, maka dia didepak dan dilempar sampai mati…Pencelaan terhadap Ali baru berhenti ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah….tp model pemerintahan sekarang kan lain, masih kufur sistem, jadi kita tidak menggunakan cara seperti itu… Dalam hadist ini saya tidak nggebayusah….Harap maklum, Kamas Min.

  264. @ Lek Min,
    Memang seharusnya anda itu menulis Novel saja ,itu sudah pas! Novelis menulis novel.bukan berbicara masalah agama,karena berdah’wah tanpa ilmu itu kerusakan yang di timbulkan pada umat akan lebih banyak dari pada kebaikan yang akan diperoleh.
    dalam hal ini aku nasehatkan pada antum hendaklah lebih takut kepada Allah .

    Komentar: Seharusnya Pak Mien pun lebih takut kepada Allah, karena menuduh orang berdakwah tanpa ilmu…kalau tanpa ilmu mana mungkin saya mendapat tugas berdakwah di Sabah Malaysia….Dan saya juga menyarankan, agar Pak Lik lebih takut kepada Allah, karena membiarkan kemungkaran di depan mata, dan hanya berdoa di dalam hati, bukankah itu selemah-lemah iman?
    Tambahan untuk cara mengoreksi yang santun:
    Allah berfirman “Taatlah kepada Allah, Taatlah kepada Rasul dan pemimpin di antara kamu”….Ulil Amri di antara kamu ialah pemimpin di antara kita, pemimpin Islam, kalau dalam pemerintahan dia adalah Khalifah yang dibaiat, bukan pemimpin negara bersistem barat yang tidak taat kepada Allah. Harap maklum deh.

  265. @ Hasan,
    Justru HT selalu berilaturahim dengan para pejabat negara karena mereka muslim secara personal, jadi saling berwasiat. Kalau menurut antum negara ini pakai sistem Islam atau bukan? Yang saya katakan adalah sistemnya, bukan orangnya. Setahu saya, (saya Simpatisan HT saja) HT juga berdakwah hanya menawarkan solusi bukan memaksa, kalau SBY mau jadi khalifah, Beliau yang diangkat, dan HT fungsinya sudah berubah. Setahu saya, selama saya ikut mashirah, hanya amar ma’ruf saja, dan saya pun hanya berteriak Allahu Akbar…
    Sekarang giliran Nak Hasan yang sabar ya, kalau kebetulan ada orang HT yang berdemo salah ucap…. Nak Hasan yang besar maafnya saja.
    Tentang Nasehat secara sembunyi, sudah dilakukan dengan bersilaturahmi, dan memberikan solusi dengan syariat, lihat foto2 di Al-Wa’i.
    Nah ini jawaban untuk masirah…
    Jawab:

    Masîrah secara harfiah berarti perjalanan, baik dengan diam maupun disertai dengan pembicaraan. Dalam kamus al-Mawrîd, disebutkan bahwa masîrah berarti march, atau long march; juga disamakan dengan demonstration—meski yang terakhir ini lebih tepat disebut dengan muzhâharah.[1]

    Dalam konotasi etimologis, memang ada perbedaan antara masîrah dan muzhâharah. Bagi kaum sosialis, muzhâharah (demonstrasi) itu dilakukan dengan disertai boikot, aksi pemogokan, kerusuhan, dan perusakan (teror). Targetnya agar tujuan revolusi mereka berhasil dilakukan.[2] Sedangkan masîrah tidak lebih dari medium untuk menyampaikan pendapat dan tuntutan, ataupun bantahan terhadap opini atau kebijakan yang dijalankan oleh para penguasa; bukan hanya pemerintah, tetapi semua kelompok yang memegang kekuasaan—bisa legislatif, eksekutif, yudikatif, partai yang sedang berkuasa, ataupun kelompok yang menjadi sandaran kekuasaan; seperti polisi dan militer. Pendapat, tuntutan, atau bantahan tersebut disampaikan sebagai bentuk seruan (dakwah) atau koreksi (muhâsabah); tanpa disertai dengan upaya-upaya yang justru bertentangan dengan misi dakwah dan muhâsabah itu sendiri—seperti aksi pemogokan, kerusuhan, dan teror.

    Karena itu, hukum asal masîrah itu sendiri mengikuti hukum uslûb yang status asalnya adalah mubah. Sebagaimana uslûb (cara) yang lain, masîrah sebagai salah satu uslûb juga bisa digunakan untuk melaksanakan kewajiban, seperti menyampaikan seruan kepada para penguasa yang zalim atau mengoreksi kebijakan mereka. Hal ini dalam rangka melaksanakan sabda Nabi saw.:

    «أَلاَ وَأَنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jihad yang paling baik adalah (menyatakan) pernyataan hak kepada penguasa yang zalim. (HR al-Hakim).

    Karena itu, statusnya sebagai uslûb yang mubah tetap tidak akan berubah menjadi wajib; sekalipun uslûb tersebut bisa digunakan untuk melaksanakan dan menyempurnakan suatu kewajiban.

    Sebagai uslûb yang memang mubah, masîrah tidak boleh diwarnai dengan perkara-perkara yang diharamkan, seperti aksi pemogokan, kerusuhan, dan teror; termasuk di dalamnya adalah pernyataan-pernyataan yang disampaikan pada saat masîrah. Karena itu, dalam hal ini harus diperhatikan tiga ketentuan sebagi berikut:

    1. Al-jur’ah bi al-haq, yakni lantang dan berani dalam menyuarakan kebenaran (Islam);

    2. Al-Hikmah fi al-Khithâb, yakni bijak dalam menyampaikan seruan (orasi);

    3. Husn al-Hadits, yakni baik dalam tutur bahasa.

    Mengenai boleh-tidaknya wanita melakukan masîrah, jelas hukumnya mubah:

    Pertama, dilihat dari aspek keikutsertaan mereka dalam long march, atau rombongan perjalanan bersama kaum laki-laki di tempat terbuka. Keikutsertaan mereka dalam hal ini diperbolehkan, baik dengan atau tanpa mahram. Dalilnya, pada saat hijrah ke Habasyah, selain kaum laki-laki juga terdapat 16 kaum wanita yang ikut dalam rombongan perjalanan tersebut.[3]

    Kedua, dilihat dari aspek orasi, pidato atau penyampaian pendapat di tempat terbuka, hukumnya juga mubah; dilihat dari sisi bahwa suara wanita jelas bukan merupakan aurat. Ini dibuktikan dengan tindakan para sahabat laki-laki yang biasa bertanya kepada ‘Aisyah, jika mereka tidak memahami persoalan yang mereka hadapi, termasuk tentang kehidupan Rasulullah saw.
    Tindakan muhâsabah semacam ini juga telah dilakukan oleh para sahabat wanita, seperti yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar ketika mengoreksi tindakan para penguasa Bani Umayah yang selalu menghina keluarga ‘Ali bin Abi Thalib di atas mimbar-mimbar masjid.[5]
    Dalil-dalil di atas dengan jelas membuktikan, bahwa masîrah (long march) sebagai sebuah uslûb (cara) untuk berdakwah dan menyampaikan pandangan hukum syariat atau protes terhadap pelanggaran hukum syariat jelas mubah. Kemubahan tersebut juga berlaku bukan hanya untuk kaum pria, tetapi juga untuk para wanita. Sebagaimana dalil-dalil dan alasan yang dikemukakan di atas. Wallâhu a‘lam. []

    • Hadits yang anda kutip itu bunyinya “inda sulthon” jadi maksudnya menasehatinya disisi sulthan, bukan di jalanan yang tidak ada sulthan disana.
      Mohon jangan sembarangan menafsirkan al Qur’an.
      Bertaubatlah wahai saudaraku.

      • ‘inda kok ditafsirkan disisi ….

        inda itu dzorof makan wa zaman, preposisi tempat dan waktu. maknanya juga macam2 alias musytarok yang bisa artinya di depan, di dalam, di hadapan. bisa juga artinya milik/lepunyaan.

        inda sulthon itu bukan artinay didepan atau disamping penguasa. bisa diartikan secara umum “kepada penguasaa”. jadi tidak harus berhadap2an face to face. selama mukhotob atau ghoib itu tahu kejadian secara langsung maupun tidak langsung maka itu termasuk ‘inda.

        bertobatlah kamu wahati pengelola. coba baca kamus muhith atau lisanul arab sebelum berani menerjemahkan sendiri …

      • Betul sekali ya akhi, saya khilaf dalam hal ini, karena inda bisa bermakna banyak hal, akan tetapi hadits tersebut membahas keutamaan menasehati pemerintah dimana kata inda dalam hadits tersebut dimaknai didepan atau dihadapan penguasa, sebab jika dimaknai ditempat lain makna hadits menjadi janggal dan tidak ada satupun ulama yang menafsirkan makna inda dalam hadits tersebut dengan menasehati di tempat yang tidak ada penguasa disana (di jalan-jalan).
        Mari kita simak kembali hadits tersebut :
        «أَلاَ وَأَنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»
        Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jihad yang paling baik adalah (menyatakan) pernyataan hak didepan penguasa yang zalim. (HR al-Hakim).
        Apakah mengatakan pernyataan hak dibelakang penguasa atau di tempat yang tidak didengar penguasa bisa disebut jihad yang utama ?
        Tentu tidak ya akhi.

      • “tidak ada satupun ulama yang menafsirkan makna inda dalam hadits tersebut dengan menasehati di tempat yang tidak ada penguasa disana (di jalan-jalan).” >>> ulama yang mana neh ? ulama salafy ?

        “indaLLah” inda disini merujuk ke pihak ghaib dalam halini adalah yaitu Allah”inda”. karenanya “inda” itu bermakna kepada. jadi perkataan itu bisa nun jauh di luar sana tapi masuk ketelinganya itu juga masuk kategori “inda”. si pemrintah bisa juga menyuruh tentara atau polisi untuk menangkap dan membunuh peserta masirah sbagaimna terjadi dibanyak negara

        jangan mengurangi makna “inda” yang merupakan kalimat musytarok.
        kecuali haditsnya berbunya “amama” baru maknanya eksklusif menjadi didepan dan tidak menutup kemungkinan lain lagi selain itu,

        masalah masirah / pawai / jalan jalan di tempat umum itu dalil yang dipakai HT adalah keluarnya Rasulullah SAW bersama sahabat dalam dua shaf dipimpin oleh Umar RA & Hamzah RA berkeliling ka;bah dan teriak teriak takbir dan tahlil. ini jelas disebutkan di Sirah Ibn Hisyam

        belajarlah sirah ya akhi …